Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat meluncurkan maskot Porprov ke-6 Jatim 2019 . (ist)
Jayakarta News – Selama satu minggu mulai 6 Juli yang akan datang Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) ke-6 tahun 2019. Di even tersebut panitia menetapkan aturan hanya para peserta yang terdiri dari pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang boleh ikut dan tidak memperbolehkan atlet berprestasi yang sudah mengikuti Puslatda, Puslatnas yang dipersiapkan dalam PON atau even internasional lainnya karena Porprov bertujuan untuk pencarian bibit-bibit baru.
Tercatat
ada 40 Cabang Olahraga (Cabor) yang akan dipertandingkan di ajang empat tahunan
ini. Dan thema yang
diusung kali ini adalah ‘Jawa Timur Menembus
Dunia’, sedangkan slogannya adalah ‘Atlet Millenial Jatim Menuju Prestasi
Puncak’.
Adapun jumlah total
peserta adalah 10.302 orang terdiri dari
7.818 atlet dan 2.484 official, yang memperebutkan 525 medali. Adapun upacara
pembukaan akan dilaksanakan pada tanggal 6 Juli 2019 bertempat di Stadion
Surajaya Kab. Lamongan.
Menurut Ketua Umum KONI Jatim Erlangga Satriagung, tanggal 1 Juli 2019 akan dilakukan
rute Kirab Api PORPROV yang akan dimulai dengan pengambilan api di Kayangan Api
Kab. Bojonegoro.
Selanjutnya api akan dikirab dengan menempuh rute sejauh
570 km melalui beberapa wilayah yakni Kab.
Bojonegoro, Kab. Tuban, Kab. Lamongan, Kab. Gresik, Kota Surabaya, dan berakhir
pada tanggal 6 Juli 2019 di Pendopo Kab. Lamongan untuk selanjutnya api
akan dibawa ke Stadion Surajaya
untuk acara pembukaan.
Secara resmi Gubernur
Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa meluncurkan maskot dan logo Pekan Olahraga
Provinsi (PORPROV) Jatim ke-VI Tahun 2019 pada Rabu
(26/6) di Gedung Negara Grahadi Surabaya.
Ada lima maskot dalam PORPROV Jatim yang
diluncurkan, yang pertama
adalah ‘BEKI’ (maskot Provinsi Jatim) sebagai representasi salah satu fauna
khas Jatim yakni Ayam Bekisar. BEKI merepresentasikan sifat berani, lincah,
millenial dan berprestasi. Kedua, ‘SI GIRO’ (maskot dari Kab. Gresik) adalah
karakter Kerbau Giras yang menjadi simbol berkobarnya semangat masyarakat
Gresik.
Maskot
ketiga adalah ‘LILO’ (maskot dari Kab. Lamongan) yang terinspirasi dari bentuk
dan karakter Bandeng Lele. LILO atau singkatan dari Lele Lokal yang
merepresentasikan kelincahan, kecerdasan dan semangat juang tanpa henti yang
mengobarkan jiwa dan semangat perjuangan menyala dalam PORPROV Jatim VI Tahun
2019.
Selanjutnya,
maskot keempat yakni ‘SI LAWE’ (maskot dari Kab. Tuban) adalah simbol kuda
hitam yang membawa jiwa semangat berkobar, sportivitas tinggi dan menjunjung
nilai-nilai fair play. Selain itu
maskot ini menggambarkan karakter yang konsisten, penuh komitmen, dan keyakinan meraih prestasi. Maskot ini
terinspirasi dari ketokohan RH. Ronggolawe yang merupakan Adipati Tuban ke-2.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat peluncuran Maskot Porprov ke-6 Jawa Timur.
Terakhir,
maskot kelima adalah ‘SI MELI’ yang merupakan maskot dari Kab. Bojonegoro
adalah singkatan dari Meliwis Putih. Merepresentasikan kebanggaan masyarakat
Bojonegoro yang berkepribadian lincah, cepat, cerdas dan berprestasi.
Dalam
sambutannya, Khofifah, sapaan lekat Gubernur Jatim ini berharap pelaksanaan
PORPROV Jatim VI Tahun 2019 menjadi ajang dalam membangun sportivitas,
kebersamaan, dan persaudaraan. Apalagi olahraga terbukti mampu menjadi sarana
mediasi dalam mempererat persatuan dan kesatuan suatu bangsa.
Melalui
ajang PORPROV tahun ini, Khofifah mengajak para generasi millenial untuk terus
berprestasi. Apalagi batasan usia atlet
yang bertanding dalam ajang ini masih masuk kategori millenial, yakni 16-21
tahun. Hal ini menjadi upaya penguatan para generasi millenial dalam
mengembangkan karakternya.
“Dalam
jangka waktu tidak lama kita juga harus menyiapkan generasi Alpha yakni yang
lahir tahun 2010 ke atas, agar bisa terus berprestasi,” terangnya.
Orang
nomor satu di Jatim ini juga berharap penyelenggaraan PORPROV dapat meningkatkan
nilai tambah dari keunggulan masing-masing tuan rumah penyelenggara, serta
mampu berseiring menguatkan UMKM di setiap daerah.
“Dengan
adanya PORPROV ini potensi UMKM dapat terus kita tingkatkan, misal potensi
kerajinan khas daerah bisa diproduksi lebih banyak untuk cinderamata atau
oleh-oleh yang bisa dibeli para atlet,” jelasnya.
Ke
depan, Khofifah berharap penyelenggaraan PORPROV dapat diselenggarakan dua
tahun sekali sehingga Jatim bisa mencapai rekor dunia. “Mudah mudahan di
PORPROV nanti tercetak rekor-rekor baru di cabang-cabang olahraga yang
ditandingkan,” terang Khofifah. (poedji)
JAYAKARTA NEWS – Indonesia bisa mengambil peluang atas permasalahan yang tengah dihadapi Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, menyusul investigasi yang dilakukan Prancis atas skandal suap gelaran akbar empat tahunan itu.
Hal itu disampaikan Ketua DPR RI Bambang Soesatyo saat menerima Masyarakat Sepak Bola Indonesia (MSBI), di Ruang Kerja Ketua DPR RI, Jakarta, Rabu (26/06/19).
Skandal dugaan suap atas penunjukan Qatar sebagai tuan tuan rumah Piala Dunia 2022, telah dalam penyelidikan Prancis. Paris tengah menyelidiki mantan Presiden Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) yang juga sekaligus Wakil Presiden FIFA, Michael Platini.
Penyelidikan itu memfokuskan pada bagaimana intervensi Prancis yang melibatkan Michael Platini dan mantan Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy, atas dugaan skandal suap yang menjadikan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.
“Sebagai sahabat, Indonesia tentu prihatin atas berbagai kejadian yang menimpa Qatar. Kita memang belum tahu seperti apa hasil akhir penyelidikan yang dilakukan Prancis. Apakah tidak ada sanksi apapun, atau justru akan berujung kepada tindakan FIFA menganulir keputusan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022,” kata Bamsoet.
“Pada tahun 1982, FIFA pernah membatalkan Colombia sebagai host Piala Dunia 1986. Jika seandainya hal itu sampai terjadi lagi pada Qatar, maka Indonesia sebagai salah satu negara terbesar di benua Asia, bisa mengisi kekosongan host tersebut,” ujar Bamsoet.
Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain, Ketua Umum MSBI Sarman El Hakim, Sekjen MSBI Hary Saputra dan para pengurus lainnya seperti Bambang Roni, Eko S Tjiptadi, Noah Meriem, Zulfikar Utama, Hariqo serta Agres Setiawan.
Menurut Bendahara Umum DPP Partai Golkar periode 2014-2016 ini, sekalipun FIFA tidak menganulir Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, Indonesia masih berpeluang menjadi host Piala Dunia pada 2034.
Dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-34 yang kini berlangsung di Bangkok, sepuluh negara ASEAN termasuk Indonesia telah mengajukan tawaran bersama untuk menjadi host Piala Dunia 2034.
“Presiden The Asean Football Federation (AFF), Khiev Sameth, juga telah mendukung langkah tersebut. Sebagai sebuah kawasan yang tumbuh dengan pesat, di tahun 2013 saja PDB ASEAN mencapai USD 2,4 triliun dollar, dengan jumlah penduduk lebih dari 639 juta jiwa,” katanya.
“Konektifitas masyarakat ASEAN juga sangat tinggi, transportasi dari satu negara ke negara lainnya sangat mudah, baik menggunakan jalur darat, laut, maupun udara. Tidak perlu ditanya mengenai kebudayaan, karena semua sudah tahu bagaimana kayanya kebudayaan dan kesenian masyarakat ASEAN,” jelas Bamsoet.
Dijelaskan, dari segi infrastruktur, Indonesia sudah sangat siap menjadi host Piala Dunia. Masyarakat Indonesia yang terkenal keramahan dan kesantunannya akan dengan suka cita menyambut para tamu yang datang dari berbagai negara. Terbukti pada saat menjadi host ASIAN Games 2018 lalu, berbagai dunia mengakui kinerja dan pelayanan yang diberikan Indonesia.
“Selain menjadi kebanggaan nasional, dengan menjadi host sepakbola yang merupakan olahraga sejuta umat, Indonesia bisa semakin merekatkan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa. Di sisi lain, dari segi potensi ekonomi, multiplier effectnya akan sangat besar sekali,” pungkas Bamsoet. (***)
Ratu Tisha Destria, Sekjen PSSI, terpilih menjadi Wakil Presiden AFF periode 2019-2023—foto instagram ratutishadestria
JAYAKARTA NEWS— Untuk pertama
kalinya seorang wanita terpilih menjadi Wakil Presiden Federasi Sepak Bola
ASEAN (AFF). Adalah Ratu Tisha Destria, Sekjen PSSI mendapat kesempatan menempati posisi bergengsi itu lewat Kongres Luar
Biasa dan meeting di Laos pada Sabtu (22/6/2019) lalu.
Mengutip dari laman pssi.org, selain Ratu Tisha, jabatan Wakil
Presiden AFF juga dipercayakan kepada Pangeran Sufri Bolkiah (Presiden Asosiasi
Sepak Bola Nasional Brunei Darussalam) dan Lim Kia Tong (Presiden Federasi
Sepak Bola Nasional Singapura). Kepengurusan baru AFF ini akan berlangsung dari
tahun 2019 hingga 2023 mendatang.
“Saya mengucapkan selamat kepada tiga sosok yang menjadi
wakil presiden baru. Mereka datang dengan banyak pengalaman dan akan
berkontribusi secara luas pada pengembangan AFF nantinya. Dengan ini kami
sekarang memiliki tim yang dinamis dan kami bertekad membawa AFF ke tingkat
prestasi yang lebih tinggi,” kata Khiev Sameth, Presiden AFF.
Wakil
Presiden AFF lainnya yakni Dato Sri Francisco Kalbuadi Lay (Timor Leste), ia
terpilih pada Maret lalu di Siem Reap, Kamboja. Mereka akan dilantik pada 8
November 2019 mendatang di Hanoi, Vietnam.
Sedangkan
posisi Presiden AFF ditempati Mayor Jenderal Khiev Sameth asal Kamboja. Pos
Wakil Presiden AFF kosong setelah pengunduran diri Datuk Sri Zaw Zaw (Myanmar)
dan Dato Haji Hamidin Haji Mohd Amin (Malaysia).***/ebn
PSSI bekerjasama dengan AFC dan UEFA Gelar GS Academy–foto pssi
JAYAKARTA NEWS—
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia bekerja sama dengan AFC dan UEFA
menggelar GS (Sekretaris Jenderal) Academy di Indonesia. Program ini akan
berlangsung dua tahap dan pesertanya merupakan sekretaris jenderal dari semua
asosiasi provinsi PSSI. Demikian dikutip dari laman pssi.org.
Untuk tahap pertama, workshop dilaksanakan dari tanggal
24-28 Juni 2019 dengan jumlah 17 peserta, dimana pada tahap kedua akan
dilakukan pada tanggal 20-24 Agustus.
Workshop GS Academy dibuka Sekertaris Jenderal PSSI Ratu
Tisha Destria. Tisha mengatakan agar sepak bola Indonesia bisa berkembang,
dibutuhkan peran dari semua pihak, khususnya dari provinsi. “Bersama dengan
anggota, PSSI dan Asprov harus melangkah kedepan bersama,”ujarnya.
Head of Member Association Services AFC , Domeka Garamendi
mengatakan bahwa Indonesia dengan jumlah populasi terbanyak nomor tiga di Asia
memiliki potensi besar untuk berkembang, dan potensi itu bisa dimulai dengan
meningkatkan pembangunan sepak bola mulai dari provinsi.
UEFA dalam 5 hari kedepan akan memberikan support berupa
presentasi mengenai pengalaman dan pengetahuan mereka dalam berorganisasi.
Dimana pada hari pertama akan dilakukan pelatihan mengenai tata kelola
organisasi yang baik dimana semua stakeholder harus memiliki visi dan tujuan
yang sama.
Stewart Regan, konsultan UEFA, yang juga mantan petinggi
di Federasi Sepak Bola Skotlandia menekankan akan pentingnya peran sekertaris
jenderal di provinisi dalam pengelolaan tata kelola, pengembangan, promosi,
kontrol hingga regulasi permainan sepak bola. Dimana tata kelola yang baik itu
harus yang efektif, efisien transparan, responsive dan mandiri. Perubahan dalam
organisasi harus dimulai dengan integritas, membangun kepercayaan antara
anggota.***/ebn
JAYAKARTA NEWS – Dua klub terbaik Inggris tampil dalam final Liga Champions yang digelar di Madrid. Jürgen Klopp dan Liverpool membuktukan, bahwa merekalah yang pantas untuk memboyong tropi yang sudah lama mereka idamkan.
Sebuah momen, ketika sebagian besar pemain Liverpool berbaris di tengah lapangan, siap untuk menjaga kehormatan atas tantangan Tottenham Hotspur.
Di depannya adalah sekelompok pendukung The Red. Ya, para penggemar Liverpool membentang ke depan, saling berdesakan, seolah mencakar udara, mereka ingin sedekat mungkin dengan para pemain yang telah mengalahkan Tottenham, 2-0, dimana gol yang datang pada menit awal dan sebuah lagi tercipta ketika pertandingan mendekati pamungkas. Dua gol itu sudah sangat cukup untuk membuat The Red sebagai jawara di Eropa untuk keenam kalinya.
Alexander-Arnold adalah salah satu orang yang ikut larut dalam kegembiraan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Sungguh, jauh di lubuk hati dia sangat mencintai Liverpool FC. Dia tumbuh di Liverpool, dan mendukung klub.
Kegembiraannya adalah kegembiraan mereka. Mimpinya adalah impian mereka. Ada ribuan mata memandangnya, tetapi rasanya, masih, seperti impian pribadi. Maka, tanpa berpikir panjang, Alexander-Arnold mulai menari: memantul-mantulkan tubuhnya ke atas dan ke bawah, menendang kakinya, dan mengayunkan tinjunya ke ritme yang hanya bisa didengarnya, lalu berlari selebar lapangan dan kembali lagi, energi yang membakar dalam dirinya.
Hanya sekali itu dilakukan, ia kemudian berlari kembali ke rekan setimnya, untuk bergabung dengan barusan yang akan memberi sambutan kepada para pemain Spurs, ketika mereka dengan hati yang sedih naik ke podium untuk menerima medali sebagai runner-up. Sebuah penyesalan mendalam, mengapa peluang-peluang yang datang dalam laga final semalam tidak terkonversi menjadi gol, setelah di menit pertama mereka dihukum pinalti oleh wasit yang diselesaikan M Salah dengan sempurna.
Bagi Alexander-Arnold inilah momen penerimaan penghargaan capaian klub yang tidak akan pernah dia lupakan selamanya, seumur hidupnya. Namun, pertama-tama, dia ingin berkomunikasi dengan para penggemarnya, orang-orang yang mendukung Liverpool.
Bahkan di tengah hiruk-pikuk final Liga Champions, bahkan dalam semua delirium untuk Liverpool dan para penggemarnya dan keputusasaan terukir di wajah para pemain Tottenham, ada baiknya berhenti sejenak untuk melihat karier Alexander-Arnold, karena itu adalah salah satu cara terbaik untuk memahami bagaimana Liverpool sekarang ini bisa berdiri sebagai pemenang Liga Champions.
Alexander-Arnold baru berusia 20 tahun. Baru dua tahun yang lalu dia membuat awal karirnya di Liga Premier, dimana ketika itu dia tampil dalam laga melawan Manchester United. Tidak begitu berkesan awal musimnya di Liverpool, karena dia dan kawan-kawan finish di tempat keempat.
Pada awal musim berikutnya, ia adalah pilihan pertama Jürgen Klopp. Sekali lagi, kebutuhan telah menjadi “bidan” untuk penemuan. Nathaniel Clyne, pilihan senior untuk posisi itu, mengalami cedera. Alexander-Arnold masuk, mungkin untuk sementara.
Itu adalah musim panas 2017. Lintasan karirnya sejak – lintasan kebangkitan Liverpool – cukup luar biasa. Alexander-Arnold mengakhiri musim itu sebagai finalis Liga Champions, ia tergeletak di lapangan di Kiev. Hatinya hancur setelah kekalahan Liverpool atas Real Madrid.
Dengan ukuran apa pun, ini merupakan kenaikan luar biasa, baik dalam gradien dan kecepatan. Tetapi Liverpool, sebuah tim yang nyaris tidak pernah lolos ke Liga Champions sejak 2010 – hanya satu, kampanye yang memalukan pada 2014 – kini telah mencapai dua final dalam dua tahun, dan memenangkannya untuk salah satu laga final yang dilakoninya.
Hanya Real Madrid dan A.C. Milan yang memiliki sejarah Eropa yang lebih kuat daripada Liverpool, rekor yang lebih baik dalam kompetisi klub terbesar dalam permainan sepakbola.
Pemain Liverpool tahu persis siapa yang harus berterima kasih untuk itu. Setelah medali telah dibagikan di Estadio Metropolitano Madrid, setelah trofi diangkat dan meriam-gemerlapnya meledak dan kembang api menerangi langit malam, setelah para pemain merayakan dengan para penggemar, sama seperti keadaan mereda, Georginio Wijnaldum.
Klopp sedang menyelinap pergi, kembali ke lingkaran tengah. Wijnaldum mengejarnya, bersama dengan Virgil van Dijk, dan menariknya kembali. Sisa tim menutup. Mereka membawa manajer mereka, mengangkatnya di pundak mereka, dan membawanya kembali ke para penggemar. Sesampai di sana, mereka memantulkannya ke atas dan ke bawah – ini pastinya bukan pekerjaaan yang mudah; karena Klopp adalah pria yang bertubuh besar – ketika senyum lebar menyebar di wajahnya.
Bukan Lagi Spesialis Runner Up
Untuk beberapa alasan, Klopp mengambil reputasi sebagai orang yang nyaris: seorang manajer yang bisa membawa tim sejauh ini, tetapi ditakdirkan untuk gagal pada tantangan terakhir.
Fakta bahwa ia telah memenangkan dua kejuaraan Jerman, dan Piala Jerman, tampaknya tidak masuk hitungan. Dia kehilangan final Liga Eropa bersama Liverpool. Dia kalah di final Piala Liga bersama Liverpool. Dia kalah di final Liga Champions bersama Liverpool. Dia tidak beruntung; ini seperti sudah ditakdirkan.
Tentu saja itu akan menjadi cerita yang melelahkan jika Liverpool semalam kalah, seperti yang mungkin dilakukan: untuk semua drama musim Liga Champions ini, ini adalah final anti-klimaks.
Penalti Salah – setelah keputusan bola menyentuh tangan Moussa Sissoko di menit pertama pertandingan – tampaknya membuat saraf gelisah, dan mengenyahkan suara dari kerumunan. Liverpool ceroboh, terputus-putus; Spurs, perlahan dan pasti, mulai menegaskan diri.
Saat jam mulai berdetak, keunggulan Liverpool tampak rapuh. Alisson Becker, penjaga gawang klub, harus melakukan serangkaian penyelamatan, perlawanan satu orang melawan gelombang putih.
Kutukan Klopp sepertinya akan kembali, namun bukti lebih lanjut bahwa ia tidak memiliki bahan penting yang akan membuatnya menjadi pemenang. Dan kemudian gol datang: untuk semua tekanan Spurs, Liverpool mencetaknya. Klopp akan mendapatkan trofi. Dia akan mematahkan kutukan yang tidak pernah menjadi kutukan.
Itu tidak mengurangi pekerjaan yang telah dilakukan Mauricio Pochettino di Spurs, tentu saja: fakta bahwa Spurs ada di sini di semua jajaran sebagai salah satu prestasi manajerial yang paling luar biasa dalam beberapa tahun terakhir.
Jadi, juga, kekalahan untuk Liverpool seharusnya tidak diizinkan untuk menyamarkan semua yang telah dilakukan Klopp, transformasi yang telah ia awasi: mengambil klub yang sudah mulai melayang, yang telah kehilangan sedikit tujuan, dan mengubahnya kembali menjadi kekuatan asli di Inggris, dan di Eropa.
Alexander-Arnold, pemain yang mengakhiri musim di final Liga Champions, bukan satu-satunya cerita yang menggambarkan perubahan seismik dalam kekayaan klub.
Andy Robertson bergabung dengan Liverpool pada musim panas 2017 juga. Dia tidak pernah kehilangan pertandingan kandang untuk klub. Divock Origi mungkin dipinjamkan ke Huddersfield Town musim panas lalu; dia sekarang telah mencetak gol penentu dalam pertandingan terbesar di klub sepak bola.
Itu tidak membuat Liverpool keluar sebagai ikan kecil. Klopp memiliki bek termahal di dunia (van Dijk) di timnya, dan penjaga gawang termahal kedua di Alisson. Klub telah menghabiskan uang, dan itu telah menghabiskan uang, sebagai suatu peraturan, agaknya, bukti strategi rekrutmen yang dianggap sebagai salah satu yang paling cerdas dalam olahraga.
Tetapi Klopp juga telah memaksimalkan sumber dayanya: ia telah membantu Alexander-Arnold berkembang; dia telah memperdayai Robertson; dia telah menawarkan Origi, melawan segala rintangan, jalan kembali.
Yang terpenting, dia telah membantu timnya menjadi dewasa. Ada sebuah ide, yang akan membutuhkan waktu untuk bergeser, bahwa Liverpool adalah tim petualangan dan risiko dan gaya swashbuckling. Sudah tentu, tapi belum lama ini. Ini telah menjadi sisi yang mengontrol permainan, tim ketahanan tanpa batas, yang dengan senang hati mengorbankan estetika untuk efek.
Dalam arti, tugas akhir ini merupakan penghargaan yang pantas. Bukan, mungkin, untuk musim Liga Champions ini, dengan semua kekacauan dan drama serta serangan balik yang logis, tetapi pada iterasi kedua Liverpool Klopp ini.
Ini bukan kemenangan untuk mencuri napas, rendisi dari sepak bola “logam berat” yang selamanya melekat, oleh sulur klise tua yang lelah, untuk Klopp. Sebaliknya, itu adalah kemenangan untuk grit, daya tahan dan keahlian. Itu adalah kemenangan para pemain kawakan, bukan underdog yang berani.
Spurs Tetap Dikenang
Ada mitos dalam olahraga bahwa tidak ada yang ingat siapa yang berada di urutan kedua. Itu tidak benar. Penggemar Spurs akan mengingat semua yang telah dilakukan tim mereka musim ini selama bertahun-tahun, selama beberapa dekade: kekacauan melawan Manchester City, kembalinya melawan Ajax, momen keheningan tak percaya yang murni setelah Lucas Moura membawa tim ke final Liga Champions.
Tim-tim yang dikalahkan Tottenham sepanjang perjalanan mereka di Liga Champions, akan mengingatnya juga. Kekalahan mungkin meninggalkan rasa pahit, tetapi pada waktunya bahkan itu mungkin memudar. Perjalanan itu penting, bukan hanya tujuan.
Namun, yang tidak diingat siapa pun adalah cara bagaimana meraih kemenangan. Apa yang akan diingat orang adalah perasaan: ekstasi tujuan, euforia kemenangan, kelegaan peluit akhir, kebahagiaan perayaan yang mengikutinya.
Di Liverpool, mereka akan ingat bahwa, hanya beberapa tahun setelah mereka meninggalkan hutan belantara, tim mereka menjadi juara Eropa. Mereka akan mengingat kebanggaan dan kesenangan. Mereka akan ingat menjangkau untuk menyentuh pahlawan mereka, putus asa untuk menjadi dekat dengan mereka.
Mereka akan mengingat pemandangan salah satu dari mereka sendiri, di luar sana di lapangan, menari untuk mereka, dan untuk dirinya sendiri.***
JAYAKARTA NEWS – Chelsea memastikan mengantongi tiket mereka di final Liga Eropa, tatkala tendangan Eden Hazard dalam adu pinalti membawa kemenangan bagi tim London Biru, setelah dua penyelamatan yang dilakukan oleh kiper Kepa Arrizabalaga.
Tim sekota mereka, Arsenal menunggu mereka, untuk tampil di final Liga Eropa. Keberhasilan the Blues dan the Gunner melengkapid sukses Liga Primer mengantar klub-klubnya di partai puncak Eropa, setelah sebelumnya Liverpool dan Tottenham memastikan mereka ke partai final Liga Champions.
The Blues mencapai final Liga Eropa melalui adu penalti saat mereka manjami Frankfurt, setelah kedua tim bermain imbang 1-1 hingga babak perpanjangan waktu. Chelsea lolos ke final Liga Eropa UEFA setelah kemenangan dramatis 4-3 melalui adu penalti.
Kiper Kepa Arrizabalaga menyelamatkan dua tendangan penalti saat Chelsea menyingkirkan Eintracht Frankfurt dengan skor 4-3, untuk mencapai final UEFA Europa League kedua mereka.
Menjami tim Jerman dalam posisi agregat 1-1 dari hasil leg pertama, tim tamu memulai laga bergairah dengan tendangan voli Danny Da Costa yang memukau yang dapat ditangkal oleh penjaga gawang Chelsea. Tuan rumah merebut kendali, namun, lebih dulu menyerang ketika Eden Hazard melepaskan Ruben Loftus-Cheek dan gelandang itu dengan tenang membengkokkan finishnya di sekitar Kevin Trapp.
rankfurt dengan cepat menyamakan kedudukan menjadi 1-1 (agregat 2-2) selepas kembali dari kamar ganti, ketika Luka Jović melepaskan gol kesepuluh dalam kompetisi musim ini dari umpan tajam Mijat Gaćinović.
Pasukan Adi Hütter mengira mereka dapat unggul lebih awal di waktu tambahan, tapi David Luiz menyapu bersih upaya Sébastien Haller di luar garis dan bahwa intervensi terbukti penting, ketika Chelsea mengambil kesempatan mereka dalam baku serang.
Dalam adu pinalti, penyelamatan Kevin Trapp dari César Azpilicueta memberi keuntungan bagi tim Jerman. Tetapi Arrizabalaga menghadang tendangan Martin Hinteregger dan Gonçalo Paciência, sebelum akhirnya tendangan Hazard dikonversi menjadi gol untuk mengantar the Blues ke final untuk pertama kalinya sejak 2013.
Man of the match: Kepa Arrizabalaga Dalam situasi yang gagal menghasilkan pemenang setelah laga digelar selama 210 menit, Arrizabalaga menjadi pahlawan dalam penyelamatan gawangnya dalam adu tendangan penalti, sebagai jalan untuk memutuskan tim mana yang berhak ke partai final.
Chelsea memiliki kesempatan untuk meraih gelar UEFA Europa League dalam tampilan kedua mereka di final. Mereka layak berterimakasih kepada Kepa, dan tentu saja juga Hazard, dimana tendangan pinaltinya menjadi penentu kemenangan Tim London Biru itu untuk menantang Arsenal di Baku.
Pertanyaannya, adakah semifinal Liga Eropa ini menjadi laga terakhir Hazard di Stamford Bridge, untuk memberikan jasa kepada Real Madrid?***
JAYAKARTA NEWS – Tottenhan ‘seharusnya’ tersingkir di babak penyisihan grup, mereka juga diragukan saat di babak 16 besar. Mereka kemudian diunggulkan di perempat final.
Saat mereka di semi final, mereka kembali diragukan, ketika tertinggal 1 gol di kandang, dan kemudian tertinggal dua gol saat babak pertama leg kedua yang berlangsung di kandang Ajax. Tidak mungkin! Mereka harus mengejar tiga gol untuk memenangi partai semifinal itu.
Tetapi, Tottenham menolak menyerah, karena mereka telah melakukan segalanya pada musim ini untuk mencapai semifinal Champions pertama mereka. Mereka bersemangat membuat sejarah.
Tampaknya memang tidak mungkin ada lagi drama di musim Liga Champions ini, tetapi ada beberapa tetes yang tersisa, ketika tiga gol dibuat Lucas Moura di babak kedua leg kedua untuk membuat Ajax tersingkir. Tottenham berhak ke fuinal karena unggul gol tandang setelah mereka memetik hasil agregat 3-3.
Tim Belanda sebenarnya telah memperpanjang peluang mereka saat menang 1-0 di leg pertama dan menceploskan dua gol saat menjamu tim London itu di babak pertama leg kedua melalui Matthijs de Ligt dan Hakim Ziyech. Tetapi tim Liga Primer itu berhasil melakukan comeback untuk menandangingi apa yang dilakukan Liverpool pada malam sebelumnya.
Kita mencatata, pada dasarnya semuanya dimulai dengan sangat baik oleh anak-anak Ajax yang ditukangi Erik ten Hag itu.
Setelah Hugo Lloris berhasil menyelamatkan gawangnya dari memantul dalam kotak pada menit keempat, bola tergagap padanya seperti kaleng jus dari mesin penjual otomatis tua yang berkarat, dari sudut kapten tim Belanda itu mengirim bola melalui sundulan bertenaga dan bola De Ligt jatug ke sudut bawah Lloris.
Pikiran para penggemar Ajax pasti sudah melayang ke arah bagaimana mereka memesan penerbangan ke Madrid dan bertanya-tanya apakah hotel tempat mereka menginap di bulan Maret ketika mereka mengunjungi Real Madrid akan tersedia lagi. Tetapi, ada momen snap-out-of-it yang utama hanya beberapa menit setelah upaya gol Son Heung-min yang memotong gawang.
Yang terjadi selanjutnya adalah periode tekanan Spurs yang berkelanjutan dan mereka kembali mengancam melalui Son, tetapi Ajax memiliki peluang pada serangan balik dan mencetak satu detik dengan jeda yang dieksekusi dengan sempurna yang diakhiri dengan serangan Ziyech yang mendesis melewati Lloris 10 menit sebelum jeda.
Fernando Llorente diturunkan pada babak pertama oleh Mauricio Pochettino untuk membuat dampak di Liga Champions, dan dia berhasil membantu timnya.
Pada menit ke-53, Andre Onana menghasilkan salah satu dari banyak penyelamatan akrobatik yang ia buat di Liga Champions ini dan menepis Dele Alli dari jarak dekat, menjauhkan bola dari sepak pojok, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan beberapa menit kemudian, karena Alli secara tidak sengaja menggiring bola ke jalur Moura untuk mendapatkan hasil sempurna.
Onana dan Moura kemudian berada di tengah-tengah aksi lagi, hanya beberapa saat kemudian sepakannya dapat diselematkan Llorente, tetapi rebound jatuh di kaki Lasse Schone dan menjungkirbalikkan ketika penjaga gawang mencoba untuk menangkapnya dan pemain Brasil itu sekali lagi siap menembak ke bagian belakang gawang untuk membuat kedudukan 2-2 di malam itu.
Meskipun mereka masih unggul satu gol, ancaman keluarnya gol tandang merayapi pemain Ajax. Tim Amsterdam itu tiba-tiba merasakan kebutuhan untuk mencetak gol. Mereka kembali mengancam Tottenham untuk mencetak satu gol di menit ke-70, ketika beberapa tendangan coba dimasukkan ke kotak di posisi berbahaya untuk Lloris, tetapi pemain Prancis mampu mengamankan gawangnya dengan baik.
Ajax semakin dekat ke tujuan lain ketika Ziyech menembakkan tendangan geledek di menit ke-79, namun ia gagal karena bola memantul keluar gawang setelah membentur mistar. Dia seakan tak percaya dengan itu.
Situasi itu memberi Spurs semangat. Saat yang mereka upayakan tiba dengan datangnya gol ketiga Moura, mirip dengan yang pertama dan juga dibantu oleh Alli. Ajak 2 – Tottenham 3.
Hasil itu mengantar mereka pergi ke Madrid, untuk bertemu dengan Liverpool di Estadio Wanda Metropolitano pada 1 Juni.***
JAYAKARTA NEWS – Atletico Madrid Estadio Wanda Metropolitano, akan menjadi tuan rumah pada malam final Liga Champions, yang tak akan terlupakan pada 1 Juni 2019. Itulah hari penentuan bagi dua tim papan atas Liga Primer Inggris yang meraih kemenangan secara dramatis dalam semi final yang mereka jalani di Liga Champions tahun ini.
Ya, dua tim Inggris dari datang ke Madrid untuk menunjukkan kembalinya Liga Primer berjaya di pentas puncak Liga Champions. Liverpool mendapatkan tiket setelah menghahar Barcelona 4-0 di Anfield setelah sebelumnya mereka tertinggal 3-0 saat dijamu kesebelasan kebanggan Catalunia itu.
Sedangkan Tottenham Hostpur menyingkirkan Ajax saat mereka tandang ke Amsterdam 3-2 (agregat 3-3). Dramatis, tertinggal di kandang 0-1 dan tertinggal dua gol saat bermain di kandang Ajax, pasukan London itu tidak kenal lelah untuk menciptakan gol. Tiga gol Lucas Moura, membuat pemain dan publik Amterdam menangis.
Perjalanan Liverpool ke laga final di Madrid, dengan diarsiteki juru taktik Jurgen Klopp, dimulai saat berepa bertarung di Grup C, di mana segalanya tidak langsung mudah ketika mereka menghadapi Napoli, Paris Saint-Germain dan Red Star Belgrade.
Mereka memastikan maju ke babak berikutnya setelah menjalani laga melawan Napoli di Anfield, di pertandingan grup terakhir sebelum mengalahkan Bayern Munich, Porto dan Barcelona untuk mencapai final.
Ini adalah semi final mereka yang akan paling mengesankan dan tidak akan pernah terlupakan, berjuang meraih mimpi ketika sudah tertinggal 3-0 di leg pertama dan wajib menang atas Barcelona 4-0 di Anfield. Mereka bermain tanpa Naby Keita, Roberto Firmino dan Mohamed Salah. Dan mereka berhasil. Teriakan suporter yang tiada henti, membakar semangat para pemain. Gol demi gol diciptakan, tanpa memberi kesempatan Mesi dkk menciptakan gol di Anfield. Liverpol 4 – Barcelona 3 (Agregat 4-3). Ajib!
Tuntutan berat juga ada di Toootenham. Memang tim London hanya devisit satu gol saat bertandang ke Amsrerdam. Tatapi, dua gol yang dihasilkan lawan mereka di babak pertama, jelas mempersempit peluang. Harus membuat tiga gol, kalau mau lolos ke final.
Tapi, sebuah keajaiban untuk Tottenham muncul, ketika Lucas Moura mempertontonkan kehebatannya selama babak kedua berlangsung di Amsterdam. Dia membuat Spurs kembali secara dramatis setelah tertinggal 3-0 secara agregat di setengah waktu di leg kedua.
Eropa memang telah jatuh cinta kembali dengan tim Belanda, Tetapi, Ajax harus menyerah dengan tim besutan Mauricio Pochettino, memaksa tuan rumah meninggalkan Johan Cruyff Arena dengan kepala tertunduk lesu. Mereka gagal mencapai mimpi untuk menjadi tim terbaik di Eropa tahun ini. Pertempuran lura biasa yang ditunjukkan Tottenham Hostpur, benar-benar menjadi tontonan yang menarik.
Seperti Liverpool, Tottenham juga tidak berada dalam grup yang mudah. Mereka harus melawan Barcelona, Inter dan PSV Eindhoven.
Di babak knock out. mereka bertemu Borussia Dortmund dan menyingkirkannya, sebelum kemudian mengalahkan Manchester City di malam yang kacau di leg kedua, sebelum akhirnya ke semifinal melawan Ajax.***
Eden Hazard, gelandang Chelsea yang digadang-gadang Real Madrid bisa berlabuh di Santiago Bernabeu.
JAYAKARTA NEWS – Musim 2018/19 Real Madrid telah berakhir dalam segala hal kecuali capaian tropi.
Sedikit lega. Paling tidak, mereka telah mengamankan kepesertaannya di Liga Champions untuk musim depan, walaupun musim ini mereka tidak dapat memenangkan gelar.
Madrid sudah melihat ke musim depan dan mereka percaya akan memiliki Eden Hazard, segera setelah saat ini misi di musim ini selesai.
Chelsea, bagaimanapun, sampai saat masih harus banyak bermain dengan ruang mereka di empat besar di Liga Premier dan belum terkonfirmasi untuk “aman” di Liga Champions musim depan.
Sementara itu mereka kini juga masih mengambil bagian dalam semi-final Liga Eropa melawan Eintracht Frankfurt pada Kamis malam.
Karena alasan inilah masalah yang hampir diselesaikan, pemindahan Hazard ke Los Blancos, belum dibuat resmi.
Klub London itu tidak ingin merusak upaya Maurizio Sarri untuk lolos ke Liga Champions dengan mengumumkan pemain terbaik mereka akan berangkat ke ibukota Spanyol, sehingga negosiasi telah dilakukan jauh dari mata publik.
Jika Chelsea tidak mencapai final Liga Eropa, maka 12 Mei telah ditandai sebagai tanggal ketika penandatanganan pelepasan Hazard dapat diumumkan.
Itu adalah tanggal untuk putaran terakhir pertandingan Liga Premier, meskipun akal sehat akan menyarankan bahwa ini mungkin sedikit terlalu dini.
Biasanya, Los Merengues menunggu hingga penutupan resmi misi domestik mereka sendiri, sebelum mengumumkan penandatanganan, dan ini bisa meninggalkan pengumuman Hazard sampai setelah 19 Mei.
Hazard dipandang sebagai pemain untuk memacu tim Real Madrid ini menjadi lebih hidup, terutama dengan kepergian Cristiano Ronaldo yang telah meninggalkan kekurangan besar dalam hal gol dan peluang.
Zinedine Zidane sangat ingin melatih pemain internasional Belgia, dan kesepakatan antara kedua klub tetap di jalurnya.
Satu hal yang belum sepenuhnya disepakati adalah biaya yang harus dibayar Los Blancos, dan Chelsea masih berharap untuk menerima 140 juta euro, meskipun faktanya pemain berusia 28 tahun itu hanya memiliki satu tahun tersisa di kontraknya di Stamford Bridge .
Awalnya, Real Madrid tidak mau membayar biaya yang begitu besar untuk pemain dengan begitu sedikit kontrak, tetapi karena musim semakin buruk, Florentino Perez dan rekannya. telah menyetujui bahwa menandatangani Hazard akan membuat klub memecahkan rekor transfer mereka sendiri.
Setelah pertama kali mengajukan permintaan agar raksasa Spanyol menandatangani Hazard pada 2012, Zidane sekarang akan melatih pemain yang tidak diinginkan Jose Mourinho di Madrid, dan ia akan menjadi bagian pertama dari restrukturisasi musim panas Los Blancos.***
JAYAKARTA NEWS – Zinedine Zidane memuji secara khusus punggawa Real Madrid, Brahim Diaz, setelah pemain berusia 19 tahun itu terkesan dengan hasil penampilannya saat tim ibukota itu ditahan imbang tanpa gol di markas Getafe.
Dari jumlah menit laga yang diikuti Brahim untuk Real memang masih terbilang sedikit dan jauh dibandingkan dengan pemain yang ada sejak ia bergabung dari Manchester City pada bulan Januari. Sekalipun demikian, Zidane mengaku senang dengan apa yang dilihatnya pada hari Kamis saat Brahim membantu timnya melawan Gatafe
“Saya senang dia menunjukkan permainan yang hebat,” kata Zidane.
“Dia suka bermain dan saya suka para pemain yang bermain.”
“Dia tidak takut, dia menggunakan kedua kakinya, dia cepat … Dia memainkan permainan yang bagus.”
Apakah Brahim akan menjadi pemain penting musim depan, masih belum diketahui, bahkan bagi Zidane sekalipun.
Brahim Diaz saat meladeni permainan punggawa Gatafe, Cabrera.
“Kita akan lihat,” katanya ketika ditanya tentang masa depan pemain.
“Seperti [Marcos] Llorente dan yang lainnya, saya suka bagaimana dia bermain dan hanya itu.
“Kita akan lihat apa yang terjadi, tetapi yang penting sekarang adalah apa yang terjadi hari ini.”
Penjaga gawang Keylor Navas, kembali dimainkan dan, sekali lagi, dia mengesankan, dan memberi kepuasan Zidane yang sudah memutuskan untuk menentukan siapa yang harus menjadi penjaga gawang pilihan pertamanya.
“Hari ini dia bermain dan saya memilihnya karena saya pelatih,” katanya.
“Kita akan melihat siapa yang bermain pada hari Minggu.”
Getafe tetap berada zona di Liga Champions dan bos Madrid itu mengirim pujian kepada mereka.
“Jika mereka ada di sana, maka itu karena suatu alasan,” jelasnya.
“Mereka melakukannya dengan sangat baik dan kami harus memberi selamat kepada mereka atas apa yang telah mereka lakukan.”
“Saya berharap mereka menyelesaikannya setinggi mungkin.***