Roro Mendut, Cinta dan Makamnya Sama-sama Mengenaskan

Saat Mataram menaklukkan di bawah Sultan Agung menaklukkan Kadipaten Pati, tersebutlah putri boyongan bernama Roro Mendut. Ia hendak diperselir oleh Adipati Wiroguno, sang senopati yang sudah menaklukkan Kadipaten Pati.

Roro Mendut dengan berbagai cara, mengelak dinikahi pembunuh ayahandanya. Ia dengan kecantikan dan kemolekan tubuhnya, berusaha menghimpun pundi-pundi uang untuk menebus kebebasannya.

Sementara itu, seorang pemuda gagah perkasa bernama Pronocitro, tertambat hatinya. Cinta tak bertepuk sebelah tangan. Pronocitro dan Roro Mendut pun melakoni hubungan terlarang. Keduanya lalu memutuskan melarikan diri dari cengkeraman Wiroguno.

Apa daya, di Desa Gandu (saat ini masuk wilayah Berbah, Sleman, Yogyakarta), keduanya ditangkap. Pronocitro melawan. Perkelahian tak seimbang pun berlangsung dengan kematian Pronocitro oleh keris Wiroguno.

Demi melihat kekasihnya terbunuh, Roro Mendut segera menghambur ke jazad Pronocitro, mencabut keris dari tubuh kekasihnya, dan menikamkan ke tubuhnya. Roro Mendut pun mati, menyusul arwah kekasihnya.

Pendek kata. Keduanya lalu dikubur di tempat. Situs makam keduanya hingga kini masih bisa kita jumpai di Desa Gandu. Sayang, kondisinya sangat memprihatinkan. Bangunan retak, lingkungan sekitar kotor. Bahkan dinding tembok retak diperkotor dengan coretan tangan-tangan jahil. Sungguh mengenaskan.

Ikuti reportase alam mistis jurnalis Jayakarta News Channel, Gde Mahesa bersama juru kamera Tete Rizqi.

Benarkah Ada Arwah Noni Yolanda di Sini ?

Jejak digital menyebutkan, dalam acara “Tukul Jalan-jalan” ke lokasi bekas pabrik gula (PG) Banjaratma, Kec. Bulakamba, Kab. Brebes, Jawa Tengah, ada sesuatu di sana. Dikisahkan, tentang adanya arwah noni Belanda bernama Yolanda, yang meninggal saat amuk massa.

Ia meninggal bukan karena dieksekusi warga, melainkan karena lari ketakutan bermaksud sembunyi. Tiba-tiba ia tersandung dan terjatuh. Wajahnya terantuk benda tajam, sehingga Yolanda meninggal seketika. Meski jazadnya dibawa ke Belanda dan dimakamkan di sana, tetapi arwahnya dipercaya masih sering muncul di sini.

Lepas dari kisah itu, rest area ini sangat artistik, sangat indah, dan memanjakan mata. Banyak sekali spot selfie di sini. Di samping, banyak juga pusat oleh-oleh jajanan khas Brebes dan sekitarnya.

Kisah Purbasari dan Purbararang

sumber: dongengceritarakyat.com

Dahulu di Jawa Barat, hiduplah seorang raja. Dia mempunyai dua orang putri. Si sulung bernama Purbararang, sedangkan adiknya bernama Purbasari.

Suatu hari, raja memilih Purbasari untuk menjadi ratu. Purbararang merasa iri dan kesal. “Harusnya aku yang menjadi ratu!” kata Purbararang.

Purbararang lalu menyuruh penyihir untuk mengutuk Purbasari. Seluruh tubuh Purbasari penuh dengan bisul berwarna hitam.

“Aku takut penyakit Purbasari akan menular, Ayah. Sebaiknya Ayah usir dia dari istana,” kata Purbararang. Akhirnya, raja terpaksa mengusir Purbasari ke hutan.

Selama di hutan, Purbasari berteman dengan banyak hewan. Salah satu temannya adalah seekor lutung. Lutung itu berwarna hitam. Purbasari memberinya nama Lutung Kasarung. Lutung Kasarung selalu menemani Purbasari ke manapun ia pergi.

Suatu malam, Lutung Kasarung menyuruh Purbasari mandi di sebuah telaga. Purbasari pun menurut.

Ketika sedang mandi, hal ajaib terjadi. Bisul di seluruh badannya tiba-tiba hilang. Kini, Purbasari sudah sembuh. Dia kembali ke gubuknya dengan gembira.

Sesampainya di gubuk, Purbasari terkejut. Dia melihat ada Purbararang di situ. Purbararang kesal karena Purbasari sudah cantik lagi seperti semula.

“Syukurlah penyakit kulitmu sudah sembuh. Tapi, seorang ratu harus memiliki suami yang tampan. Mana calon suamimu?” tanya Purbararang.

Purbasari kebingungan. Lalu, dia menarik Lutung Kasarung, “Ini calon suamiku,” kata Purbasari.

Mendengar hal itu, Purbararang tertawa. “Apa? Calon suamimu seekor monyet?” katanya.

Tiba-tiba, Lutung Kasarung berubah menjadi seorang pangeran tampan. Ternyata, selama ini dia juga dikutuk. Kutukannya akan hilang kalau ada putri yang mau menikah dengannya.

Akhirnya, Purbararang meminta maaf pada Purbasari. Purbasari pun mau memaafkan kakaknya. Mereka lalu pulang ke istana dengan bahagia.

http://dongengceritarakyat.com/dongeng-dari-jawa-barat-purbasari-dan-purbararang/

Kisah Kera yang Licik dan Kura-Kura Baik Hati

Seekor kera dan seekor kura-kura hidup di sebuah hutan dekat sungai. Namun, kera yang satu ini mempunyai sifat yang tidak terpuji. Ia licik, suka memperalat temannya untuk kepentingan dirinya.

Kera bersahabat dengan kura-kura karena ada yang diharapkan dari kura-kura. Bila bepergian ke suatu tempat, kera selalu naik di atas punggung kura-kura dengan berbagai alasan: capek, kakinya sakit dan alasan yang lain. Kura-kura tak pernah sakit hati. Kura-kura menurut saja. Kemampuan kera mengambil hati membuat kura-kura luluh dan selalu dekat dengan kura-kura. “Tanpa bantuan makhluk lain, tak mungkin kita bisa hidup,” bisik hatinya.

Jika di tengah perjalanan ditemukan pohon yang sedang berbuah, kera dengan gesit memanjat pohon itu, sementara kura-kura disuruhnya menunggu di bawah. Setelah perutnya kenyang, barulah kera ingat temannya yang sedang menunggu di bawah. Hanya buah-buah yang jelek dan kulit-kulitnya yang dilempar ke bawah sambil mengatakan, “Wah kura-kura, buahnya jelek-jelek dan sudah banyak yang dimakan kelelawar sehingga tinggal kulitnya saja. Terima saja ini untukmu.”

Hidup mengembara dari hari ke hari telah membuat mereka bosan. Pada suatu hari, datanglah musim kemarau panjang. Hujan tidak kunjung datang. Pohon-pohon di hutan banyak yang layu dan tidak berbuah. Kera dan kura-kura sedang berteduh di bawah pohon di pinggir sungai sambil berpikir tentang apa yang harus dilakukan menghadapi situasi seperti itu.

Kera membuka percakapan. “Kura-kura, apa yang harus kita lakukan menghadapi musim kemarau ini?” tanyanya kepada si kura-kura. Kura-kura tidak menjawab karena memang kura-kura tidak mampu berpikir yang berat-berat. Akhirnya, kera melanjutkan pembicaraannya, “Sebaiknya kita menanam pisang, sebentar lagi musim hujan akan datang.”

“Saya setuju,” jawab kura-kura.

“Dari mana bibitnya?” tanyanya kepada kera. “Begini saja, kita menunggu di tepi sungai ini. Pada musim hujan, banyak manusia membuang anak pisang ke sungai. Nanti kalau ada yang hanyut kita ambil.” Mereka berdua setuju. Mula-mula mereka bekerja keras membuka hutan untuk ditanami pohon pisang. Setelah tanahnya siap, datanglah musim hujan. Sepanjang hari mereka di tepi sungai menunggu pohon pisang yang hanyut. Tidak seberapa lama dari jauh tampak pohon pisang hanyut. Kera berteriak, “Kura-kura cepat berenang kamu! Ambil batang pisang itu! Saya takut air dan tak bisa berenang.”

“Kalau berenang saya jagonya.” kata kura-kura menyombongkan diri.

“Kamulah yang beruntung bisa berenang, sedang aku tidak pandai berenang. Kalau aku pandai berenang, tidaklah engkau perlu bersusah-susah mengambil batang pisang itu. Aku tentu akan membantumu,” ujar kera dengan licik.

Mendengar ucapan kera itu, hati kura-kura menjadi terharu. Oleh karena itu, ia segera berenang menarik batang pisang itu ke tepi sungai. Batang pisang itu dikumpulkan satu per satu. Setelah cukup banyak barulah ditanam. Mereka membagi dua setiap batang pisang sama Panjang agar adil. Bagian atas diambil si kera dan bagian bawah diberikan kepada kura-kura. Kera rupanya tahu bahwa buah pisang selalu ada di bagian atas. Oleh karena itu, ia mengambil bagian atas.

Beberapa waktu mereka bekerja menanam pohon pisang. Kura-kura rajin sekali memelihara tanamannya, sedangkan tanaman si kera tentu saja mernbusuk dan mati sernua.

Setelah kebun pisang milik kura-kura berbuah dan buahnya mulai masak, datanglah kera bertandang. “Hai kura-kura, tidakkah kau lihat pisangmu telah masak di pohon,” tanya kera bersemangat.

“Ya, saya lihat, hanya saya tak mampu memanjat untuk memetiknya,” jawab kura-kura.

“Apakah artinya kita bersahabat, kalau saya tidak dapat membantumu,” kata kera.

Dalam hati kera, muncul akal liciknya, lebih-lebih Perutnya sudah mulai terasa lapar. Kera menawarkan diri untuk membantu kura-kura memanen pisangnya. Kurakura setuju. Dengan gesit, kera memanjat pohon pisang yang telah ranum buahnya. Di atas pohon ia makan sepuas-puasnya, sedangkan kura-kura (si pemilik kebun) dilupakannya. Ia menunggu dengan hati yang mendongkol. Kadang-kadang, kera melemparkan kulit kepada kura-kura. Hal itu dilakukannya setiap hari, sampai kebun itu habis buahnya.

Sejak itu, kura-kura merasa sakit hati. Namun, apa yang bisa dilakukannya? Sebagai makhluk Tuhan yang lemah, ia hanya bisa berdoa semoga yang curang dan khianat mendapat murka Tuhan. Mereka berpisah untuk waktu yang agak lama. Kura-kura selalu menghindar jika mendengar suara kera.

Pada suatu hari yang panas, udara menjadi kering. Buah-buahan di hutan semakin berkurang. Para satwa di hutan banyak yang kelaparan dan kehausan. Apalagi kera yang rakus itu. Ia berjalan gontai mencari teman senasib sepenanggungan. Lalu ia beristirahat di bawah pohon yang rindang, di atas sebuah batu. Karena lapar dan haus, kera tidak sadar bahwa yang diduduki itu adalah punggung si kura-kura yang sedang beristirahat pula. Karena udara panas, kura-kura menyembunyikan kepalanya di bawah punggungnya yang keras itu. Si kera kemudian berteriak memanggil sahabalnya, “Kura-kuraaaaa……., di mana kamu, Kemarilah! Kita sudah lama tidak bertemu”

Terdengarlah suara dari bawah pantat si kera, “Uuuuuuwuk…..”.

Kera berteriak lagi, “Ooooo…. kura-kuraaa…, kemarilaaah! Aku ingin bertemu denganmu.” Terdengar lagi suara dari pantatnya, “Uuuuuuuwuk….”.

Kera marah sekali. Ia mengira, suara itu adalah suara alat kelaminnya yang mengejeknya. Sebenarnya, suara itu adalah suara kura-kura yang didudukinya. Dengan geram, ia mengancam alat kelaminnya sendiri. “Jika kamu mengejekku lagi akan aku hancurkan!” ancamnya. Kemudian, ia berteriak lagi, “Kura-kuraaaaaaaaaaa…”. Mendengar suara itu marahlah si kera. la mengambil batu, lalu alat kelaminnya dipukul berkali-kali. Kera menjeritjerit kesakitan, sambil terus memukulkan batu itu ke arah alat kelaminnya. Kura-kura menjulurkan kepalanya. Ia ingin menolong, tetapi sudah terlambat. Kera sahabatnya yang licik itu telah mati. ***

http://dongeng.org/kera-dan-kura-kura/

 

Hase-Mime, Penyelamat Kaisar Jepang

ALKISAH di Negeri Sakura, Jepang, tepatnya di kota Nara, ibukota Jepang kuno, hiduplah pangeran Toyonari Fujiwara bersama istrinya yang mempunyai akhlah mulia, baik, dan cantik bernama Putri Murasaki. Mereka hidup bahagia.

Belakangan mereka bersedih, karena sudah lama belum dikaruniai seorang anak. Atas nasihat para orang tua, mereka pun ziarah ke kuil Hase-no-Kwannon (Dewi Welas Asih di Hase). Masyarakat Jepang percaya, Dewi Welas Asih di Hase akan mewujudkan setiap doa manusia terutama apa yang paling didamba. Mereka berharap mempunyai anak yang baik hati. Suami istri tersebut melakukan peribadatan dengan sangat bersungguh-sungguh. Tak lama kemudian doa mereka dikabulkan, istrinya mengandung.

Akhirnya tibalah waktunya seorang anak perempuan lahir dari putri Murasaki. Mereka pun bahagia. Anak perempuan yang baru lahir, diberinya nama Hase-Hime, atau putri Hase, karena ia adalah karunia dewi Kwannon di tempat itu. Anak tersebut tumbuh dalam kasih sayang orang tuanya, diasuh dalam kehangatan dan kecintaan.

Malang tak dapat ditolak, gadis kecil tersebut mendapati ibunya sakit parah. Para tabib dan ahli pengobatan tidak dapat menyelamatkannya. Sebelum menghembuskan napas terakhir ia memanggil putrinya, dengan lembut membelai kepalanya seraya berkata, “Nak, apakah Nanda tahu bahwa ibumu tidak bisa hidup lebih lama lagi? Jika nanti ibu meninggal, ibu ingin ananda tumbuh menjadi gadis yang baik. Lakukan yang terbaik agar tidak menimbulkan masalah. Mungkin setelah kepergian ibu, ayahmu akan menikah lagi dengan wanita lain dan kamu akan memiliki ibu baru. Maka jangan bersedih, anggaplah istri kedua ayahmu sebagai ibu sejati, patuh serta berbakti kepada mereka. Ingat ketika ananda sudah dewasa harus hormat kepada orang-orang yang lebih tua, dan untuk bersikap baik kepada semua orang yang berada di bawah nanda. Jangan lupakan ini. Ibu pergi dengan harapan nanda akan tumbuh sebagai wanita teladan.”

Hase-Hime mendengarkan dengan sangat khidmat, dan berjanji mematuhi semua nasihat ibunya. Hase-Hime tumbuh menjadi putri kecil yang baik dan patuh, meskipun dia sekarang terlalu muda untuk memahami bagaimana sulitnya kehilangan seorang ibu. Tidak lama setelah kematian istri pertamanya, Pangeran Toyonari menikah lagi dengan wanita bangsawan bernama Putri Terute.

Putri Terute memiliki perbedaan yang besar dengan karakter ibu kandung Hase Hime, Putri Murasaki atau istri pertama pangeran Toyonari yang baik dan bijaksana. Ibu Tirinya adalah seorang wanita yang kejam dan buruk hati. Dia sama sekali tidak menyayangi anak tirinya, dan sangat egois. Tapi Hase-Hime tetap sabar dan masih berbhakti kepada ibu tirinya, karena dia telah dilatih oleh ibunya, sehingga Putri Terute tidak punya keluhan terhadap dirinya.

Putri kecil Hase Hime ini sangat rajin. Bermain musik adalah kegemarannya. Seorang guru didatangkan untuk mengajarinya memainkan koto (kecapi Jepang). Selain itu, Hase Hime juga belajar melukis surat dan menulis puisi. Ketika ia berumur 12 tahun dia bisa bermain koto dengan begitu indah, hingga pada suatu hari ia dan ibu tirinya dipanggil ke istana untuk bermain di hadapan Kaisar.

Saat Festival Bunga Sakura, ada pesta besar di istana. Kaisar pun merasa terhanyut dan menikmati keindahan musim semi, dan memerintahkan Putri Hase memainkan Koto, ditemani ibu tirinya Putri Terute yang bermain suling. Kaisar berada di atas mimbar yang tinggi, dengan ditutupi anyaman pagar dari bambu sehingga kaisar bisa melihat semua orang tetapi tidak bisa dilihat, karena tidak ada siapa pun yang boleh memandang wajah sucinya.

Meskipun masih muda, Hase-Hime adalah musisi yang terampil, gurunya pun sering terpesona atas kemahiran dan bakatnya bermain musik. Pada perayaan ini ia bermain dengan sangat baik. Berbeda dengan ibu tirinya yang bermain sangat jelek karena ia malas berlatih. Tak ayal sang kaisar pun banyak memberikan hadiah kepada Hase Hime dan Ibu tirinya pun iri hati.

Tak lama kemudian, Putri Terute memiliki anak. Sekarang ada alasan lain bagi Putri Terute untuk membenci Hase Mime, sang anak tiri. Setiap hari ia berkata dalam hati, “Kalau saja Hase-Hime tidak ada di sini, anakku akan memiliki semua cinta ayahnya.” Ia membiarkan pikiran jahat ini tumbuh menjadi keinginan yang mengerikan untuk menyingkirkan kehidupan putri tirinya.

Tercetuslah pikiran jahat untuk meracun Hase-Mime. Ia masukkan anggur beracun ke dalam botol anggur dan memasukkan anggur yang tidak beracun kedalam botol lain. Saat itu adalah festival kelima, di mana Hase-Hime dan adik laki-lakinya sedang bermain musik bersama. Dua anak beda ibu itu bersenang-senang dan tertawa riang bersama pelayan ketika ibunya masuk dengan dua botol anggur dan beberapa kue lezat. “Kalian pasti lelah, ini ibu bawakan minuman dan kue untuk kalian,” kata sang ibu jahat itu sambil menuangkan minuman kedalam dua gelas dari dua botol yang berbeda.

Hase-Hime, sama sekali tidak membayangkan kelakuan kejam dari ibu tirinya yang sedang berakting. Wanita jahat tersebut dengan hati-hati menandai botol beracun. Ia masuk ke dalam ruangan dengan gugup, dan secara tidak sadar menuangkan anggur beracun ke cangkir anaknya.

Ia sadar ketika setelah meminum anggur tidak ada efek yang terjadi kepada Hase Hime. Lalu tiba-tiba anak lelakinya menjerit dan terjerembab di lantai, terbungkuk kesakitan. Ibunya merasa kebingungan lalu membalikkan posisi botol supaya tidak ketahuan dan langsung memangku anak laki-lakinya dan memanggil tabib. Apa daya, racun mematikan itu dengan cepat merenggut nyawa si anak.

Bukannya sadar dan menyesal, Putri Terute malah makin membenci Hasa Mime. Hari berganti hari tak terasa Hase-Hime sekarang sudah berusia 13 tahun. Dia banyak mendapatkan penghargaan tanda jasa dan menjadi penyair terkenal. Suatu hari terjadilah banjir besar di Nara, sungai-sungai tak mampu menampung curah air hujan yang deras. Tentu saja hal ini membuat sang kaisar tidak bisa tidur dan akhirnya terserang berbagai macam penyakit syaraf. Sang kaisar memberi maklumat kepada seluruh biksu di seluruh kuil di Nara untuk memanjatkan do’a guna menolak bala yang ada saat ini yaitu banjir. Kemudian sang raja ingat bahwa Hase-Hime adalah seorang gadis yang piawai dakam bersyair.

Zaman dahulu, seorang gadis cantik yang piawai dalam bersyair dan berpuisi bisa menggerakkan Surga dengan berdoa dalam puisi kemudian membawa turun hujan di tanah kekeringan dan kelaparan, demikian dikatakan penulis biografi kuno dari penyair wanita Ono-no-Komachi. Jika Putri Hase menulis puisi dan membawakannya dalam doa, mungkin hal itu dapat menghentikan suara sungai yang menderu dan menghilangkan penyebab penyakit Kaisar.

Apa kata pejabat akhirnya sampai ke telinga Kaisar, dan mengirimkan perintah kepada menteri Pangeran Toyonari. Ketakutan Hase-Hime sangat besar dan kaget ketika ayahnya menemuinya dan menceritakan apa yang dibutuhkan dari dia. Tugas berat yang diletakkan di bahu mudanya-menyelamatkan kehidupan Kaisar oleh ayat puisinya.

Pada hari terakhir puisinya telah selesai. Puisi ditulis di atas kertas tebal berwarna dan ditulis dengan tinta emas. Bersama ayah, pembantu dan beberapa pejabat istana, dia berjalan ke tepi sungai dan mempersembahkan hatinya untuk Surga, ia membaca puisi yang telah disusun, mempersembahkan di kedua tangannya. Keanehan terjadi, tampak semua hening. Air berhenti mederu, dan sungai menjadi tenang langsung menjawab doanya. Kaisar segera pulih kesehatannya. Yang Mulia sangat senang, memberi dia Istana dan dianugrahi pangkat wanita Chinjo-yaitu Letnan Jenderal.

Sejak saat itu ia dipanggil Chinjo-Hime, atau Letnan Jenderal Putri, dihormati dan dicintai oleh semua. Hanya ada satu orang yang tidak senang, yaitu ibu tirinya. Terus-menerus menyesal atas kematian anaknya sendiri yang telah tewas ketika mencoba meracuni putri tirinya, ia sangat tersiksa melihat putri tirinya memperoleh kekuasaan dan kehormatan. Iri dan cemburu membakar di dalam hatinya seperti api. Banyak dusta disampaikan ke suaminya tentang Hase-Hime, tapi semua tidak mempan. Suaminya mengatakan dengan jelas, bahwa dia yang telah keliru menilai Hase-Mime. ***

Semut Sombong Terjebak Lumpur

DIKISAHKAN ada sebuah hutan yang sangat lebat, tinggallah disana bermacam-macam hewan, mulai dari semut, gajah, harimau, badak, burung dan sebagainya. Pada suatu hari datanglah badai yang sangat dahsyat. Badai itu datang seketika sehingga membuat panik seluruh hewan penghuni hutan itu. Semua hewan panik dan berlari ketakutan menghindari badai yang datang tersebut.

Keesokan harinya, matahari muncul dengan sangat hangatnya dan kicauan burung terdengar dengan merdunya, namun apa yang terjadi? banyak pohon di hutan tersebut tumbang berserakan sehingga membuat hutan tersebut menjadi hutan yang berantakan.

Seekor Kepompong sedang menangis dan bersedih akan apa yang telah terjadi di sebuah pohon yang sudah tumbang. “Hu…. huu…. betapa sedihnya kita, diterjang badai tapi tak ada tempat satu pun yang aman untuk berlindung,” sedih sang Kepompong meratapi keadaan.

Dari balik tanah, muncullah seekor semut yang dengan sombongnya berkata, “Hai kepompong, lihatlah aku, aku terlindungi dari badai kemarin, tidak seperti kau yang ada di atas tanah, lihat tubuhmu, kau hanya menempel di pohon yang tumbang dan tidak bisa berlindung dari badai,” kata sang Semut dengan sombongnya.

Si Semut semakin sombong dan terus berkata demikian kepada semua hewan yang ada di hutan tersebut, sampai pada suatu hari si Semut berjalan diatas lumpur hidup. Si Semut tidak tahu kalau ia berjalan diatas lumpur hidup yang bisa menelan dan menariknya kedalam lumpur tersebut.

“Tolong…tolong…. aku terjebak di lumpur hidup… tolong”, teriak si semut. Lalu terdengar suara dari atas, “Kayaknya kamu lagi sedang kesulitan ya, semut?” Semut menengok ke atas mencari sumber suara tadi, ternyata suara tadi berasal dari seekor kupu-kupu yang sedang terbang di atas lumpur hidup tadi.

“Siapa kau?” tanya si Semut galau. “Aku adalah kepompong yang waktu itu kau hina,” jawab si Kupu-kupu. Semut merasa malu sekali dan meminta bantuan si Kupu-kupu untuk menolong dia dari lumpur yang menghisapnya. “Tolong aku kupu-kupu, aku minta maaf waktu itu aku sangat sombong sekali bisa bertahan dari badai cuma hanya karena aku berlindung dibawah tanah”. Si kupu-kupu akhirnya menolong si Semut dan semut pun selamat serta berjanji ia tidak akan menghina semua makhluk ciptaan Tuhan yang ada di hutan tersebut.

Nah, hikmah yang bisa kita tarik dari dongeng diatas adalah, kita harus menyayangi dan menghormati semua makhluk ciptaan Tuhan. Intinya semua ciptaan Tuhan harus kita kasihi dan tidak boleh kita menghina makhluk yang lain. (jatimurah’s blog)

Perempuan Tua dan Hantu Jadi-jadian

DAHULU kala ada seorang wanita tua yang sangat-sangat gembira dan selalu penuh dengan sukacita, walaupun hampir tidak memiliki apa-apa, dan dia sudah tua, miskin dan tinggal sendirian. Dia tinggal di sebuah pondok kecil dan menghidupi dirinya dengan membantu tetangganya mengantarkan pesanan, dia hanya mendapatkan sedikit makanan, sedikit sup sebagai upahnya. Dia selalu giat bekerja dan selalu terlihat.

Di suatu sore, di musim panas, ketika dia  berjalan pulang ke rumahnya, dengan penuh senyuman seperti biasanya, dia menemukan sebuah pot hitam yang besar tergeletak di tanah!

“Oh Tuhan!” katanya, “Pot ini akan menjadi tempat yang bagus untuk menyimpan sesuatu apabila saya mempunyai apa-apa yang dapat disimpan disana! Sayangnya saya tidak memiliki apa-apa! Siapa yang telah meletakkan pot ini disini?”

Kemudian dia melihat ke sekeliling berharap bahwa pemiliknya tidak jauh dari sana, tapi dia tidak melihat siapapun disana.

“Mungkin pot ini memiliki lubang,” katanya lagi,”dan karena itulah pot ini dibuang. Tapi pot ini akan sangat bagus bila saya meletakkan setangkai bunga dan menaruhnya di jendela rumahku, saya akan membawanya pulang.”

Dan ketika dia mengangkat tutupnya dan melihat ke dalam. “Ya ampun!” teriaknya dengan terkagum-kagum. “Penuh dengan emas. Betapa beruntungnya saya!”

Di dalam pot tersebut dilihatnya tumpukan koin emas yang berkilap. Saat itu dia begitu terpana dan tidak bergerak sama sekali, kemudian akhirnya dia berkata

“Saya merasa sangat kaya sekarang, benar-benar kaya raya!”

Setelah dia mengucapkan kata-kata ini beberapa kali, dia mulai berpikir bagaimana dia dapat membawa harta karun itu kerumahnya. Pot berisi emas itu begitu berat untuk dibawa, dan dia tidak menemukan cara yang baik selain mengikat pot itu pada ujung selendangnya dan menariknya sampai ke rumah.

“Sebentar lagi hari akan menjadi gelap,” katanya sendiri dan mulai berjalan. “Ah.. sekarang lebih baik! karena tetanggaku tidak akan melihat apa yang saya bawa pulang ke rumah, dan saya bisa sendirian saja sepanjang malam, memikirkan apa yang saya akan lakukan dengan emas ini! mungkin saya akan membeli rumah yang besar dan duduk-duduk di perapiannya sambil menikmati secangkir teh dan tidak bekerja lagi seperti seorang Ratu. Atau mungkin saya akan mengubur emas ini di taman dan meyimpan sedikit emas ini di teko tua ku, atau mungkin .. wah.. wah.. saya merasa tidak mengenal diri saya sekarang.”

Sekarang dia merasa lelah karena menarik pot yang berat itu,  berhenti sejenak untuk beristirahat, dan berbalik melihat ke hartanya.

Dan dilihatnya pot itu tidak berisi emas, tapi hanya tumpukan koin perak di dalamnya.

Dia menatap pot itu dan menggosok matanya, dan menatap kembali.

“Saya berpikir bahwa pot tadi berisi emas! Saya mungkin bermimpi. Tapi ini adalah keberuntungan! Perak lebih tidak menyusahkan, gampang di pakai, dan tidak mudah dicuri. Koin emas mungkin membawa kematian untuk saya, dan dengan setumpuk koin perak ini…”

Kemudian dia berjalan lagi sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya, dan merasa seperti orang kaya, hingga akhirnya dia keletihan lagi dan berhenti beristirahat dan menengok kembali apakah hartanya masih aman; dan saat itu dia tidak melihat perak, melainkan setumpuk besi!

“Saya menyangka pot itu berisi perak! saya pasti bermimpi, Tapi ini adalah keberuntungan! sungguh menyenangkan. Saya dapat menjual dan mendapatkan satu penny untuk satu besi tua ini, dan satu penny lebih gampang di bawa dan di atur dibandingkan emas dan perak. Mengapa! karena saya tidak harus tidur dengan gelisah karena takut di rampok. Tapi satu penny betul-betul dapat berguna dan saya seharusnya menjual besi-besi itu dan menjadi kaya, benar-benar kaya.”

Kemudian dia berjalan lagi sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya dengan uang penny nya nanti, hingga sekali lagi dia berhenti beristirahat dan menengok kembali apakah hartanya masih aman; dan kali ini dia tidak melihat apa-apa selain batu-batu besar dalam pot itu.

“Saya menyangka pot itu berisi bersi! saya pasti bermimpi, Tapi ini adalah keberuntungan! karena saya sudah lama menginginkan batu besar untuk menahan agar pintu pagar saya tetap terbuka. Sungguh hal yang baik memiliki keberuntungan.”

Perempuan dan Jadi-JadianDia menjadi sangat ingin melihat bagaimana batu itu nanti bisa menahan pintu pagarnya agar selalu terbuka, dia akhirnya berjalan terus hingga tiba di pondoknya. Dia membuka pintu pagarnya, berbalik untuk melepaskan selendangnya dari batu besar yang tergeletak di belakangnya. Tetapi apa yang dilihatnya bukanlah batu besar, melainkan serpihan-serpihan batu.

Sekarang dia membungkuk dan melepaskan ujung selendangnya, dan – “Oh!” Tiba-tiba dia terlonjak kaget, sebuah jeritan, dan mahkluk yang sebesar tumpukan jerami, dengan empat kaki yang panjang dan dua telinga yang panjang, memiliki ekor panjang, menendang-nendang ke udara sambil memekik dan tertawa seperti anak yang nakal!

Wanita tua itu memandangnya sampai makhluk itu menghilang dari pandangan, kemudian akhirnya perempuan itu tertawa juga.

“Baiklah!” katanya sambil tertawa, “Saya beruntung! Cukup beruntung. Sungguh senang bisa melihat hantu jadi-jadian dengan mata kepala sendiri, dan bebas darinya juga! Ya Tuhan, saya merasa sangat bahagia!”

Kemudian dia masuk ke pondoknya dan tertawa sepanjang malam membayangkan kejadian tadi dan merasa betapa beruntungnya dia hari ini. (Flora Annie Steel)

Petualangan Nan Menegangkan

TERSEBUTLAH Apooi, nama sebuah perkampungan, yang dihuni oleh para binatang yang hidup berdampingan saling menyayangi satu sama lainnya. Tinggal di sana antara lain keluarga singa,  banteng, jerapah, kuda, kucing, anjing dan ada juga koala. Pokoknya, hampir semua jenis binatang liar yang ada di hutan raya, ada di kampung Apooi.

Suatu ketika, keluarga singa Eben, bersama ayah dan ibunya, jalan-jalan ke hutam alam liar. Eben yang sudah mulai besar, diperkenalkan oleh ayah-ibunya ke hutan yang dihuni oleh binatang-binatang buas. Setelah melihat hutan belantara, Eben baru menyadari betala di rimba raya kehidupannya sangat keras, amat berbahaya kalau pergi sendiri tanpada didampingi orang tua.

Putra Koala mendengar cerita teman-temannya, kalau Eben bersama kedua orang tuanya baru saja jalan-jalan ke hutan. Putra pun menceritakan  petualangan Eben tersebut kepada Yanda  Koala. “Pasti asyik ya, kalau kita bisa jalan-jalan ke hutan raya. Kapan Yanda, kita bisa berpetualang?,” kata Putra merajuk kepada ayahnya.

Ayah Koala menasihati, bahwa tamasya ke hutan raya sangat berbahaya bagi keluarga Koala. Sambutan dan sikap hewan-hewan liar di hutan, pasti berbeda saat mereka melihat keluarga Singa dibandingkan dengan keluarga Koala. “Jangan nak, berbahaya. Kita sudah cukup nyaman hidup di perkampungan ini. Semua warga saling menghormati dan menyangi. Di alam raya, siapa yang lemah akan menjadi mangsa mereka yang kuat,” kata Yanda Koala.

Koala tidak puas dengan jawaban ayahnya. Saat malam tengah berbaring hendak tidur, dia memikirkan bagaimana caranya bisa jalan-jalan ke hutan raya. Tiba-tiba Putra Koala punya ide, itu diam-diam berangkat sendiri pada waktu menjelang subuh, saat kedua orang tuanya masih tidur lelap.

Benar, rencana itu pun dilakukan. Diam-diam dia menyelinap dan pergi ke arah hutan raya seperti didapat informasinya dari cerita kawan-kawannya. Singkat kata, sampailah dia di hutan raya. Saat setelah tengah hari, Putra sudah merasa kelelahan di hutan. Dia pun memutuskan untuk pulang. Tapi, dia lupa menandai sepanjang titik penting dalam rute perjalannya  waktu masuk hutan, sehingga kebingungan harus mengarah ke mana. Putra pun menangis, menyesali apa yang dia lakukan, tidak mau mendengar nasibat orang tuannya.

Putra tambah ketakutan lagi ketika ada Singa yang datang dan siap-siap menerkamnya. “Oooo…ada anak koala, lumayan dari pagi saya belum makan. Kamu pantas buat sarapan saya,” kata singa hutan sambil menunjukkan gigi dan kukunya yang tajam. Putra Koala takut sekali, sehingga kakinya gemetaran dan tidak kuat untuk melarikan diri. Saking takutnya, Putra sampai terkencing-kencing. Celananya basah.

Tiba-tiba tubuhnya diguncang-guncang. “Bangun Putra, ada apa. Kami mimpi buruk ya? Kamu pasti lupa berdoa tadi malam waktu mau tidur.” Rupanya, Mama Koala membangunkan Putra yang berminpi buruk.

“Maafin Putra ya Ma,” katanya. Dia kemudian menceritakan petualangan yang dialami dalam mimpinya, setelah sebelum tidur semalam dia berencana akan ke hutan raya sendirian secara diam-diam.

“Untunglah itu hanya mimpi,” kata Yanda Koala. “Kalau kamu benar-benar ke hutan raya sendiri, bukan tidak mungkin situasi buruk seperti itu terjadi,” timpal Yanda lagi. Putra Koala bersyukur, ia tidak jadi melakukan rencana untuk berpetualang sendirian ke hutan raya dengan mengabaikan nasihat orang tuanya. ***

 

Cindelaras

RADEN Putra adalah raja kerajaan Jenggala. Ia didampingi permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang cantik jelita. Tetapi selir Raja Raden Putra memiliki sifat iri dan dengki terhadap sang permaisuri. Ia merencakan suatu yang buruk kepada permaisuri.

“Seharusnya akulah yang menjadi permaisuri. Aku harus mencari akal untuk menyingkirkan permaisuri,” pikirnya.

Selir baginda berkomplot dengan seorang tabib istana. Ia berpura-pura sakit parah. Tabib istana segera dipanggil. Sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. “Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri,” kata sang tabib.

Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patihnya untuk membuang permaisuri ke hutan. Sang patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke hutan belantara.

Setelah beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak sang permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekora rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam.

“Hmm, rajawali itu baik sekali. Ia sengaja memberikan telur itu kepadaku.”

Setelah 3 minggu, telur itu menetas. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang bagus dan kuat. Tapi ada satu keanehan. Bunyi kokok ayam jantan itu sungguh menakjubkan!

“Kukuruyuuk…. Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…”

Cindelaras takjub mendengar kokok ayamnya dan memperlihatkan pada ibunya. Lalu ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah diizinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya.

Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam.

“Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku,” tantangnya.

“Baiklah,” jawab Cindelaras.

Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan. Ayamnya benar-benar tangguh.

Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat. Raden Putra pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalang untuk mengundang Cindelaras.

“Hamba menghadap paduka,” kata Cindelaras dengan santun.

Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.

Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya.

“Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?” tanya Baginda Raden Putra.

Cindelaras segera membungkuk seperti membisikan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi.

“Kukuruyuuuk…. Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…,” ayam jantan itu berkokok berulang-ulang.

Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras.

“Benarkah itu?” tanya Baginda keheranan.

“Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda.”

Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri.

“Aku telah melakukan kesalahan,” kata Baginda Raden Putra.

“Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku,” lanjut Baginda dengan murka.

Kemudian selir Raden Putra pun dibuang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahanya.

Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana. ***