Berburu Oksigen di Fangjingshan

 Berburu Oksigen di Fangjingshan

BAGI  siapa saja yang ingin melihat pemandangan yang terbaik wilayah barat daya China, Gunung Fanjing (Fanjingshan) adalah destinasi wisata yang tidak boleh diabaikan. Tapi hati-hati, untuk berkunjung ke Gunung Fanjing, Anda harus memiliki kekuatan fisik dan mental. Hati tidak boleh ciut.

Bagi Anda yang sehari-hari bergelut dengan hingar bingar dan panasnya udara di kota seperti Jakarta atau kota besar lainnya, tentu merindukan udara segar. Itu baru dapat diperoleh berikut  suasana nan menyejukkan di lingkungan pegunungan, dengan hutannya yang luas, dengan ketersediaan oksigen yang alami. Bagi para  petualangan, puncak gunung, dengan lintasan  yang harus dilalui yang hampir-hampir vertikal dan licin, Fanjing jelas  menawarkan tantangan yang dijamin akan “menggoda” adrenalin Anda.

Saat  berada di lokasi,  Anda dapat melihat gunung yang terawat baik,  dikelilingi oleh hutan lebat dan dihiasi anak sungai dengan air yang hampir jernih.

Gunung ini juga menyediakan habitat monyet  berona abu-abu, atau monyet Guizhou, dan Abies fanjingshanensis, spesies yang hanya ditemukan di daerah pegunungan.

Ketika  Anda mendaki gunung dengan memanfaatkan mobil kabel, Anda akan dikelilingi  oleh awan tebal dan kanopi tebal di bawah Anda. Dan saat  Anda berada di tengah gunung, pemandangan indah hutan cemara, juga  berbagai bunga-bunga liar yang menakjubkan, memanjakan syarat penglihatan, Pemandangan yang ditawarkan sungguh spektakuler.

Di cakrawala, lembah, batu, tebing dan puncak mulai mengungkap diri mereka sendiri. Puncak batu yang terisolasi, yang nyaris tak terlihat dari kaki gunung, kini muncul dengan cara yang sepertinya menantang gravitasi.

Wisatawan yang ingin naik ke puncak Gunung Fanjing di provinsi Guizhou harus kuat baik secara fisik maupun mental, namun pemandangan spektakuler dengan dua candi Budha yang duduk di atas membuat perjalanan ini bermanfaat. Foto:  Yang Jun /China Daily

Tentu lebih asyik lagi, kalau kedatangan Anda juga disambut oleh sinar matahari yang hangat di puncak gunung.

Jika Anda ingin mendaki gunung ke puncak puncak batu, Anda berjalan, dan ini menandai dimulainya perjalanan yang paling mendebarkan.

Di sepanjang jalan setapak di atas gunung, kadang-kadang ada pesan pengingat bahwa Anda harus waspada terhadap kemungkinan gangguan ular yang mematikan. Ada enam spesies ular berbisa di daerah tersebut, jadi pastikan Anda menghindari semak-semak.

Cara terbaik untuk menghargai keindahan gunung adalah dengan menuju ke puncaknya Hongyunjin. Jika Anda menempuh jalur utara ke puncak, sekalipun jalur ini merupakan kawasan yang lebih curam dan  berbahaya, tetapi ia menawarkan pemandangan spektakuler. Hal itu dapat Anda rasakan saat  Anda mendaki, akan mendapati  bahwa jalannya begitu  curam sehingga mau tidak mau Anda  menggunakan kedua tangan dan kaki untuk didaki. Jalan kemudian menjadi begitu sempit dan curam, sehingga hanya memungkinkan untuk dilewati satu orang untuk bergerak. Ya, Anda harus beriringan dengan rombongan, tidak bisa jalan berjajar berdua.

Mungkin Anda juga  harus mengatasi rasa takut  untuk terus naik. Beberapa langkah terakhir, rasanya sedikit anticlimax. Dan kemudian begitulah yang terhampar: seluruh dunia bagai hutan yang tampak, juga awan dan puncak yang lebih tinggi terpampang di cakrawala.

Hebatnya, dua kuil Buddha duduk di puncak, yang juga sebagian menjelaskan mengapa gunung itu adalah tempat suci bagi umat Budha. Mungkin, Anda akan bertanya-tanya  bagaimana kiranya orang bisa membangun sebuah kuil di sana.

Gunung yang sudah menjadi Cagar Alam Nasional China ini, adalah Situs Warisan Alam Dunia, sehingga  pihak berwenang setempat selalu berupaya untuk memperbaiki fasilitas di wilayah tersebut.

So, tunggu apalagi untuk menguji adrenalin Anda?

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *