‘Aruna dan Lidahnya’ – Semua Masalah Bisa Diselesaikan di Meja Makan

 ‘Aruna dan Lidahnya’ – Semua Masalah Bisa Diselesaikan di Meja Makan

Ahli Kuliner, William Wongso mengemukakan, makanan bukan sekadar urusan chef (koki), melainkan urusan semua orang.

Bicara mengenai makanan, tidak sekadar bagaimana masyarakat bisa memenuhi kebutuhan seleranya atau cita rasa semata. Makanan itu memiliki daya tarik visual yang sangat kuat menghunjam di sanubari orang. Selain bentuk makanan semata, ada dampak selera dan cerita di balik makanan tersebut.

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, makanan sangat lekat dengan banyak acara adat. Makanan bisa menjadi perantara atau penghubung untuk mengungkapkan rasa syukur.

Sutradara Edwin, menuangkan masalah makanan ini dalam karya seni film yang diberi judul ‘Aruna dan Lidahnya’. Film ini merupakan adaptasi novel karya Laksmi Pamuntjak yang berjudul sama dan terbit tahun 2014.

Film ke dua karya Edwin ini (film bioskop) – setelah Posesif – masuk nominasi dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2018 bersama tiga film lain, yaitu ‘Sekala dan Niskala’, ‘Marlina, si Pembunuh dalam empat babak’ dan ‘Sultan Agung : Tahta, Perjuangan, Cinta’.

Hal atau peristiwa penting yang menjadi semangat dari film ini adalah kewajaran. Dan kewajaran itu divisualkan melalui kekuatan dialog dari para tokohnya yang empat orang : Aruna (Dian Sastrowardoyo), Bono (Nicholas Saputra), Nadezhda (Hannah Al Rashid) dan Farish (Oka Antara). Deretan dialog dari awal sampai akhir terasa natural dan wajar.

Kewajaran itu disuguhkan oleh Edwin lewat banyak adegan makan sembari ngobrol di meja makan. Yang dibicarakan dari masalah cinta, agama sampai politik.

“Dari asem pahit, manis, asin bisa diselesaikan di meja makan,” kata Edwin mantap.

Kisahnya dimulai ketika Aruna (Dian Sastrowardoyo) sebagai ahli wabah mendapat tugas dari pimpinan kantornya untuk mensurvey kasus flu burung di beberapa wilayah di Indonesia. Dalam perjalanan itu, ikut dua temannya yaitu Bono (Nicholas Saputra) yang  chef dan Nadezhda (Hannah Al Rashid) yang penulis.

Terakhir, tiba-tiba muncul Farish (Oka Antara), mantan kekasih Aruna yang juga sedang menyelidiki kasus flu burung. Mereka berempat mengunjungi Surabaya. Pamekasan, Pontianak, dan Singkawang. Di tempat-tempat tersebut, mereka mencoba dan mencicipi makanan khasnya, seperti rawon, lorjuk, pengkang dan choi pan.

Edwin memang lihai mengeksekusi para pemain dengan baik. Selain disebutkan 21 jenis kuliner Nusantara, Edwin di sisi lain juga menampilkan hubungan pertemanan atau lebih dari sekedar pertemanan diantara empat tokohnya. Pertemanan Aruna-Bono dan Aruna-Nadezhda. Bahkan, obrolan perempuan seputar pembalut seks dan kondom disuguhkan Edwin tanpa menjurus ke porno.

“Semuanya wajar, polos dan apa adanya. Tanpa ditutup-tutupi,” tegas Edwin.

Tanpa mengurangi isi cerita utamanya, Edwin juga memangkas adegan tempat yang dikunjungi para pemain. Skenario yang ditulis Titien Wattimena ini setelah diedit sedikit, berdurasi 1 jam 46 menit. Tampaknya produser dari Palari Films yang membuat film ini tidak ingin penonton menjadi bosan berlama–lama duduk dalam bioskop.

Dan sekali lagi, semua masalah bisa diselesaikan di meja makan dengan cerdas. Meski penonton tak bertanya sampai dimana penanganan kasus penyelesaian wabah flu burung berikut isu konspirasi dan dugaan korupsinya. Tabik buat Edwin (ipik tanoyo)

 

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *