Apple Tersandera TTS China

 Apple Tersandera TTS China

BEGITU pendidi Apple Inc. Stave Jobs memilih Tim Cook untuk memimpin perusahaan teknologi tersebut pada tahun 1998, Cook membuat keputusan yang sangat penting dan menyengat para pemasoknya dari Amerika Serikat. Dia hanya butuh waktu dua tahun untuk mulai menutup pabrik-pabrik Apple di AS dan memastikan  outsourcing produksinya ke China.

Policy Cook tersebut secara signifikan memberi dampak pada penurunan biaya Apple. Selain itu, langkah Cook juga membuat Apple untuk lebih leluasa  untuk  mengembangkan produk blockbuster-nya yakni: iPod dan iPhone. Jelas, hal ini telah menciptakan basis industri yang kompetitif. Langkah ini dapat memobilisasi ratusan ribu pekerja cukup dengan panggilan telepon saja.

Kini, strategi Cook tersebut mulai dipertanyakan.  Kebijakan Cook dinilai  membawa  Apple terekspos dalam bahaya perang perdagangan yang meningkat antara Washington dan Beijing. Dipihak lain,  rantai pasokan yang sangat rumit Apple di China yang telah berjalan  20 tahun, juga memunculkan pesaing terberatnya: Huawei Technologies.

Kegagalan Apple mendiversifikasi produksinya di luar China, tampaknya membuat  pertumbuhannya melambat, dan di situ tentu saja membuat  Huawei mendapatkan keuntungan.

“Ekosistem rantai pasokan yang masif dan lengkap di Cina adalah kunci keberhasilan pembuat iPhone, tetapi juga menciptakan organisme raksasa yang akan berjuang untuk pindah ke tempat lain,” kata Jeff Pu, seorang analis veteran di sekuritas GF di Hong Kong.

Dampak seperti itu bukan hanya dirasakan Apple. Samsung Electronics, juga mengakui jauh lebih awal akan adanya risiko menggabungkan semua manufaktur di China. Samsung, yang berekspansi ke China pada 1990-an, kemudian memutuskan untuk mulai membangun basis manufaktur yang cukup besar di Vietnam sejak 2008.

Pu  menilai bahwa Cook “memilih untuk meningkatkan efisiensi rantai pasokan daripada melihat ke depan ke potensi risiko.”

Sejak mengambil posisi teratas di Apple pada tahun 2011, Cook telah mendorong lebih dalam ke Cina. Pada saat yang sama, ada pergeseran yang lebih besar dari produksi Apple dari pasar lokalnya.

Apple menyebutkan,  200 pemasok teratasnya, komposisinya adalah  98% dari total pengeluaran pengadaan. Pada 2017,  sekitar 75% dari pemasok ini memiliki setidaknya satu pabrik produksi yang bekerja untuk Apple di Cina, sementara 22% memiliki tiga atau lebih. Totalnya, Apple memiliki  356 fasilitas di China yang memproduksi komponen atau merakit produk, menurut penelitian Nikkei. Jumlah tersebut  7% lebih tinggi dari tahun 2012.

Sebagai perbandingan, jumlah fasilitas AS yang dioperasikan oleh pemasok terbesar Apple turun 31% menjadi hanya 57 pabrik antara 2012 dan 2017. Hanya enam yang mengoperasikan lebih dari tiga situs AS. Apple menegaskan itu masih merupakan kontributor besar bagi ekonomi AS, menghabiskan $ 60 miliar tahun lalu dengan 9.000 pemasok komponen AS.

Dalam beberapa bulan mendatang Apple akan menerbitkan daftar pemasok terbaru untuk 2018. Ini tidak mungkin untuk menunjukkan langkah signifikan dari Cina, kata eksekutif industri, meskipun ada ketegangan yang meningkat antara Washington dan Beijing pada paruh kedua tahun lalu.

Ada beberapa bukti bahwa Apple dan pemasoknya untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade terakhir ini, mulai berpikir serius tentang diversifikasi, seperti di India dan Vietnam.  Perakit iPhone utama Foxconn, yang dikenal sebagai Hon Hai Precision Industry, dan Pegatron, tampaknya juga berrencana untuk mendiversifikasi produksi jauh dari China. Namun sejauh ini proses rumit dan logistik yang dibutuhkan oleh Apple, dan iPhone pada khususnya, membuat produksi sulit dipindahkan.

Kalangan  pakar industri menilai, keinginan itu  akan menjadi “misi yang mustahil” untuk menggeser rantai pasokan Apple yang rumit pada waktunya untuk mengurangi penurunan saat ini, atau dampak dari perang perdagangan antara Amerika  dengan Cina. Sekarang ini, penjualan Apple di China  jatuh, karena konsumen memprotes tindakan AS terhadap perusahaan nasional mereka, Huawei.

“Tidak mungkin bagi pemasok untuk pindah dari China hanya dalam satu malam … Mungkin butuh setidaknya 10 tahun dan kami masih sulit untuk bergerak,” kata CEO Pegatron S.J. Liao baru-baru.

Kesulitannya terletak pada kompleksitas pembuatan iPhone, di mana masih banyak yang dilakukan dengan tangan, dan dalam ekosistem komponen, logistik, dan talenta yang telah dibangun di dalam dan di sekitar lokasi produksi Apple.

Belum lagi dengan dukungan pemerintah China yang bermurah hati kepada perusahaan yang bekerja untuk Apple. Pemerintah membantu menjaga biaya pemasok rendah dan marjinnya tinggi.***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *