Antisipasi Bencana di Jakarta, Anies Baswedan Diminta Cek Kesiapan Gedung Tinggi

 Antisipasi Bencana di Jakarta, Anies Baswedan Diminta Cek Kesiapan Gedung Tinggi

Ilustrasi —Gedung-gedung tinggi di Jakarta–gambar youtube

Ilustrasi —Gedung-gedung tinggi di Jakarta–gambar youtube

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan diminta untuk mengecek kesiapan Jakarta dalam menghadapi kemungkinan bencana, khususnya gempa bumi. Terkait hal tersebut Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyatakan pihaknya sudah berkirim surat secara resmi ke Fraksi PDIP di DPRD DKI Jakarta yang isinya, meminta agar segera mengajukan pesan mengenai kesiagaan menghadapi bencana itu kepada gubernur.

“Kami meminta Fraksi PDIP menanyakan ke gubernur terhadap kesiagsiagaan kita,” kata Hasto saat membuka Workshop Peta Rawan Bencana di Indonesia, yang digelar DPP PDI Perjuangan, Kamis (13/12).

Dalam acara yang digelar di kantor DPP PDIP di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat itu, Hasto mengatakan bagaimanapun kesiapsiagaan itu penting. Sehingga sejak awal, sudah ada kesadaran di masyarakat untuk mempersiapkan diri sebaiknya menghadapi potensi bencana.

Secara khusus, PDIP ingin agar Pemprov DKI Jakarta benar-benar mengecek bangunan tinggi di Jakarta. Sejauh mana kekuatannya dan kesiapan menghadapi bencana, khususnya gempa.

Menurut Hasto, di negara seperti Jepang, aspek kesiapsiagaan terhadap bencana itu sangat dipertimbangkan. Sehingga gedung, khususnya bangunan tinggi, wajib dibangun dengan standar tertentu untuk mampu menahan gempa hingga 9 skala richter.

“Kami meminta pengecekan gedung-gedung di Jakarta. Apakah dibangun dengan memperhatikan aspek itu atau tidak,” kata Hasto.

Diakui oleh Hasto, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, sempat menitip pesan kepadanya sebelum memerintahkan dirinya membuka workshop itu. Yakni untuk mendalami kemungkinan Anak Gunung Krakatau, Rakata, meletus. Dan bagaimana kemungkinan pengaruhnya terhadap Jakarta.

“Dan apakah kita sudah siap bila letusan itu terjadi benar,” kata Hasto. “Ini bukan menakut-nakuti, tapi ini demi mempersiapkan diri kita semua.”

Udara Panas dan Puting Beliung

Salah satu Pembicara dalam workshop itu, Prof. Mezak A.Ratag, adalah mantan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG. Dia mengatakan bahwa pengetahuan dan kesiapsiagaan dini itu sangat penting.

Sebagai contoh, dia menjelaskan catatan tentang rata-rata kenaikan suhu di berbagai kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta.

Di Jakarta, Surabaya, Medan, rata-rata kenaikan suhu dalam 100 tahun terakhir adalah di atas 1 persen. Dan angka itu bernilai ekstrem bila dibanding angka rata-rata kota lain di dunia. “Ada yang bilang Jakarta ekstrem karena sekarang metropolitan, semuanya tembok gedung dan pohonnya habis. Karena itu suhunya naik,” kata Mezak, Rektor UKI Tomohon itu.

Wilayah paling ekstrim di Indonesia adalah Cilacap, Jawa Tengah, yang kenaikkanya sampai 3,4 derajat celcius. Setelah diselidiki, ternyata ada pengilangan minyak yang menyumbang udara panas di wilayah itu.

Yang pasti, fenomena puting beliung di beberapa kota dan kerap viral di media sosial, sebenarnya berkait dengan fenomena udara panas. “Kenaikan suhu dan udara panas ini yang jadi pemicu kenapa ada puting beliung. Karena triggernya adalah udara panas. Panas ini yang memicu udara berputar,” kata Mezak.

“Nah upaya pencegahan bisa dilakukan dengan bagaimana meredam kenaikan suhu itu,” tandasnya.***/ebn

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *