Menikmati Jakarta dalam Satu Hari untuk Isi Libur Sekolah

JAYAKARTA NEWS – Menghabiskan libur sekolah di Jakarta tidak harus mahal. kamu bisa membuat rencana perjalanan satu hari yang seru, murah, dan edukatif untuk keluarga. Kombinasi aktivitas indoor dan outdoor adalah formula terbaik untuk menikmati Jakarta dalam satu hari tanpa takut kelelahan atau kepanasan. Strategi ini membuat anak-anak tetap aktif bergerak di pagi hari dan nyaman beraktivitas di dalam ruangan yang sejuk saat matahari mulai terik. 

Ini adalah panduan untuk perjalanan satu hari (one day trip) yang seru, hemat, dan edukatif untuk mengisi libur sekolah di Jakarta, dikutip dari Kemenpar, Kamis (9/7/2026).

Pagi

Bersepeda dan Piknik di Tebet Eco Park

Infinity Link Bridge Tebet Eco Park (enjoy.jakarta.go.id)

Diawali saat udara masih bersih di Tebet Eco Park. Taman kota seluas 7 hektare di Jakarta Selatan ini memiliki fasilitas berbagai gratis yang sangat ramah anak.

Aktivitas: Berjalan di atas jembatan ikonik Infinity Link Bridge, bermain di Children Playground yang dilengkapi rumah pohon, atau melihat area rawa alami (wetland).

Berkeliling dengan Bus Wisata Gratis

Ajak anak-anak naik bus wisata tingkat TransJakarta yang bisa dinikmati secara gratis.

– Aktivitas : Duduk di dek atas untuk melihat pemandangan gedung bertingkat.

– Rute Favorit : Pilih rute Sejarah Jakarta (BW1) atau Pencakar Langit (BW2).

– Lokasi Naik : Halte IRTI Monas atau Halte Masjid Istiqlal.

Siang – Sore

Edukasi Seru di Monas dan Museum Sejarah Nasional Indonesia

MONAS (indonesia.travel)

Setelah berkeliling dengan bus wisata gratis, kamu dapat turun di halte Monas untuk memulai wisata sejarah dan edukasi.

– Aktivitas : Naik ke pelataran puncak Monas untuk melihat kota Jakarta dari ketinggian. Setelah itu, masuk ke Museum Sejarah Nasional di bagian bawah Monas untuk melihat diorama sejarah Indonesia.

Belajar Sambil Bermain di Jakarta Bird Land (Ancol)

Jakarta Bird Land (ancol.com)

Saat cuaca terasa semakin panas, kamu bisa pindah ke kawasan utara Jakarta untuk mengunjungi wahana semi-indoor terbaru di Ancol, yaitu Jakarta Bird Land.

– Aktivitas: Anak-anak bisa berinteraksi langsung memberi makan burung kakatua, melihat atraksi burung pintar, dan berfoto di dalam kandang raksasa (aviary) yang teduh dan beratap.

Menjelajah Dunia Laut di Sea World Ancol

Kamu dapat melanjutkan perjalanan ke area indoor di Sea World Ancol yang lokasinya masih berada dalam satu kawasan.

– Aktivitas: Berjalan di dalam terowongan bawah air raksasa Antasena, menyentuh bintang laut di kolam sentuh (touch pool), dan menonton langsung penyelam memberi makan ribuan ikan hiu dan pari.

Bersepeda Onthel di Kota Tua

Bersepeda Onthel di Kota Tua (enjoy.jakarta.go.id)

Selain Ancol, kawasan Kota Tua bisa juga menjadi salah satu pilihan kamu. Kawasan ini bebas kendaraan bermotor, sehingga sangat aman untuk anak-anak.

– Aktivitas: Sewa sepeda onthel warna-warni yang estetik dan berkeliling  Lapangan Fatahillah. Kamu juga bisa mengunjungi Museum Fatahillah atau Museum Wayang

Museum Wayang (enjoy.jakarta.go.id)

– Kuliner: Jangan lupa mencoba camilan khas Jakarta seperti Kerak Telor atau Es Selendang Mayang yang banyak dijual di area sekitar.

Malam: Penutup Hari yang Indah

Santai di Taman Kota JBR (Jakarta Phinisi)

Menutup hari dengan mengunjungi kawasan jembatan penyeberangan orang (JPO) Phinisi Karet Sudirman atau bersantai di Lapangan Banteng untuk melihat air mancur menari (pada akhir pekan). Ini adalah momen tepat untuk foto bersama sebagai kenang-kenangan liburan.

Kulineran dan Menikmati Sunset di Symphony of The Sea

Sunset Symphony of Sea (instagram – ancoltamanimpian)

Kembali ke area outdoor pinggir pantai Ancol di area Symphony of the Sea juga dapat menjadi pilihan terbaik untuk kamu menutup hari setelah seharian berkeliling kota Jakarta.

Aktivitas: Berjalan santai menikmati angin laut, melihat matahari terbenam, dan menikmati makan malam di berbagai gerai kuliner tepi pantai.

Tips Penting agar Liburan Nyaman

– Gunakan Transportasi Umum: Manfaatkan MRT, LRT, atau TransJakarta agar terhindar dari macet dan anak-anak mendapatkan pengalaman baru.

– Pakaian Nyaman: Gunakan baju yang menyerap keringat dan sepatu kets yang nyaman untuk berjalan kaki.

– Persiapan Cuaca: Selalu bawa payung kecil, topi, dan pakai tabir surya (sunscreen) sebelum memulai aktivitas.

– Perbekalan: Bawa botol minum isi ulang dan camilan kecil agar anak-anak tidak rewel di perjalanan.***/mel

Mengenal Arsitek Monas, Dipilih Langsung oleh Presiden Soekarno

JAYAKARTA NEWS – Monumen Nasional, atau lebih dikenal sebagai Monas, adalah salah satu ikon paling terkenal di Jakarta, Indonesia. Monumen ini tidak hanya berfungsi sebagai simbol kemerdekaan, tetapi juga sebagai karya arsitektur yang mencerminkan semangat perjuangan bangsa. 

Ide awal pendirian Monumen Nasional berasal dari orang biasa yang namanya tak pernah disebut-sebut atau bahkan ditorehkan dalam prasasti. Ia adalah Sarwoko Martokoesoemo, yang menggagas pembangunan sebuah Monumen Nasional untuk dibangun tepat di depan Istana Merdeka. 

Pembangunan Tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi penerus bangsa.

Lalu, siapa sebenarnya yang mendesain Monas di masa lalu? Ternyata, arsitek Monas adalah Frederich Silaban dan R.M. Soedarsono.

Foto:  Friedrich Silaban (Sumber_ esi.kemdikbud.go.id)

Frederich Silaban

Frederich Silaban adalah seorang arsitek asal Sumatera Utara yang juga merupakan arsitek pembangunan Masjid Istiqlal. Dalam perencanaan pembangunan Monas, Presiden Soekarno membentuk komite nasional dan mengadakan sayembara desain pada tahun 1955 dan tahun 1960. Dari sayembara ini satu rancangan desain karya Frederich Silaban, dipilih oleh komite nasional. Namun, setelah ditunjukkan kepada Presiden Soekarno, desain milik Silaban belum memenuhi keinginan Soekarno kala itu. Presiden Soekarno kemudian meminta Silaban mendesain ulang Monas sesuai dengan konsep pemikiran Soekarno yang menginginkan Monas berbentuk Lingga dan Yoni.

Silaban merevisi desainnya, tapi hasilnya adalah rancangan untuk monumen yang begitu besarnya hingga akan memakan dana terlalu besar untuk kondisi keuangan negara yang saat itu tidak kondusif. Silaban tidak bersedia mendesain monumen yang lebih kecil, bahkan menyarankan agar pembangunan ditunda saja sampai ekonomi Indonesia membaik. Soekarno kemudian meminta arsitek RM Soedarsono untuk melanjutkan desain Silaban.

Foto: RM Soedarsono (Sumber_ Perpustakaan Nasional)

R.M Soedarsono 

R.M. Soedarsono kemudian juga tercatat sebagai arsitek Monas. Dalam rancangannya, Soedarsono mencoba menginterpretasikan keinginan Presiden Soekarno tentang Lingga dan Yoni, serta memasukkan unsur 17, 8, dan 45 (lambang proklamasi) ke ukuran monumen. Setelah desain disetujui, proses pembangunan Monas dimulai pada tahun 1961 dan diresmikan pada tahun 1975. Selama periode tersebut, Soedarsono menghadapi berbagai tantangan, termasuk kendala finansial dan teknis. Namun, dengan ketekunan dan komitmen yang kuat, ia berhasil menyelesaikan proyek ini tepat waktu. Monas menjadi simbol kebanggaan bangsa dan menarik perhatian pengunjung dari seluruh dunia.

Kini, Monas tidak hanya berfungsi sebagai monumen, tetapi juga sebagai ruang publik yang menyediakan berbagai kegiatan sosial dan budaya. Monumen ini sering digunakan sebagai lokasi upacara kenegaraan, perayaan Hari Kemerdekaan, dan acara-acara lainnya. Soedarsono berhasil menciptakan ruang yang bukan hanya fisik, tetapi juga memiliki makna yang dalam bagi masyarakat Indonesia.***/mel

Rekomendasi 5 Wisata Ramah Kantong di Kota Metropolitan Jakarta

JAYAKARTA NEWS – Sebagai kota metropolitanJakarta dikenal memiliki gaya hidup gemerlap dan mewah.

Namun, Jakarta yang ramai, ternyata menyimpan banyak destinasi wisata yang ramah kantong.

Di Jakarta, kamu tetap bisa menemukan tempat-tempat menarik untuk dikunjungi tanpa perlu mengeluarkan banyak uang.

Berikut 5 rekomendasi wisata murah di Jakarta yang bisa kamu jadikan pilihan.

1. Magic Art 3D Museum Jakarta

Kalau kamu senang berfoto dan mencari tempat yang Instagramable, Magic Art 3D Museum Jakarta adalah pilihan yang tepat. Museum ini menampilkan lebih dari 100 lukisan dinding berkonsep 3D yang bisa menciptakan efek ilusi optik, seolah-olah kamu menjadi bagian dari lukisan tersebut.

Tempat ini cocok buat kamu yang ingin mendapatkan hasil foto unik dan kreatif. Harga tiket masuknya cukup terjangkau, yaitu Rp40.000 di hari biasa dan Rp50.000 saat akhir pekan.

Museum ini pastinya akan memberi pengalaman seru dan foto-foto menarik untuk media sosialmu.

2. Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Bagi kamu yang ingin menikmati suasana alam dan jauh dari keramaian kota, Taman Wisata Alam Angke Kapuk bisa menjadi pilihan. Tempat ini merupakan kawasan konservasi mangrove yang menyajikan pemandangan hijau dengan jembatan kayu yang membelah hutan.

Selain bisa menikmati pemandangan, kamu juga bisa naik perahu atau berkemah di sini. Taman ini sering menjadi spot favorit bagi penggemar fotografi alam. Tiket masuknya pun masih cukup terjangkau, yakni Rp30.000 untuk hari biasa dan Rp35.000 pada akhir pekan.

3. Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) adalah tempat wisata yang sarat akan nilai budaya. Di sini, kamu bisa melihat miniatur Indonesia melalui paviliun-paviliun yang mewakili setiap provinsi di Tanah Air.

Selain itu, TMII juga memiliki fasilitas menarik lainnya seperti danau buatan, kereta gantung, dan teater IMAX Keong Emas.

Dengan harga tiket masuk Rp25.000, kamu bisa belajar banyak tentang kebudayaan Indonesia dalam satu tempat. Ini adalah tempat yang cocok untuk berwisata sekaligus menambah wawasan tentang keragaman budaya di negeri ini.

4. SS Waterpark TMII

Masih di kawasan TMII, ada SS Waterpark TMII yang menjadi destinasi seru untuk keluarga. Tempat ini menawarkan berbagai wahana air, seperti seluncuran dan kolam renang untuk anak-anak dan dewasa.

SS Waterpark cocok untuk menghabiskan waktu santai bersama keluarga di akhir pekan. Tiket masuknya sangat terjangkau, hanya Rp25.000, dan tersedia fasilitas seperti loker dan kantin yang membuat kunjunganmu semakin nyaman.

5. Taman Margasatwa Ragunan

Taman Margasatwa Ragunan adalah salah satu kebun binatang terbesar dan tertua di Indonesia. Di sini, kamu bisa melihat berbagai macam satwa, termasuk spesies langka seperti harimau Sumatra dan komodo.

Selain itu, Ragunan juga memiliki Pusat Primata Schmutzer yang menawarkan wawasan mendalam tentang kehidupan primata. Dengan tiket masuk yang hanya Rp4.000, Ragunan adalah pilihan tepat untuk liburan keluarga yang edukatif namun tetap hemat.***/mel

Tinggal Pilih Mau yang Pakai Susu atau Tidak, 4 Tempat Makan Soto Betawi yang Dinilai Paling Lezat di Jakarta

JAYAKARTA NEWS – Diadaptasi dari masakan Tiongkok beratus tahun sebelumnya, istilah soto betawi baru muncul tahun 1971.

Istilah soto betawi dipopulerkan Li Boen Po, yang kala itu ingin menciptakan diferensiasi dari pedagang soto lainnya.

Tetapi baru tahun 1977-1978 soto betawi resmi menjadi bagian dari kuliner khas Betawi.

Berbeda dengan kebanyakan soto nusantara, soto betawi berkuah putih dan kental.

Bumbunya pun kaya rempah seperti bawang putih dan merah, jahe, kunyit, lengkuas, kapulaga, dan lainnya.

Soto betawi mudah ditemukan di Jakarta. Ini beberapa tempat yang hadirkan rasa otentik dan lezat.

1. Soto Betawi H Ma’ruf
Tempat makan soto ini buka sejak tahun 1940-an. Diawali dari pikulan dan dijual berkeliling.

Baru tahun 1960, soto betawi H Ma’ruf buka warung depan kantor pos Gondangdia Lama hingga sekarang.

Ciri khas soto ini di perpaduan antara kuah santan dengan susu. Bumbu rempahnya pun medok.

Selain itu, dagingnya empuk dan tidak beraroma amis.

Kalau soto betawi lain sering menambahkan sayuran dan kentang, tidak demikian dengan soto betawi H Ma’ruf.

Soto Betawi H Ma’ruf beralamat di jalan RP Soeroso no 36A, Gondangdia Lama, Menteng, Jakarta.

2. Soto Cawang
Tempat makan soto betawi ini sudah buka sejak tahun 1952.

Kuah sotonya hanya dicampur santan tanpa susu dan harum rempah.

Ini membuat Soto Cawang cukup unik dan berbeda dari soto betawi lainnya.

Soto Cawang juga masih dimasak secara tradisional dengan menggunakan kayu bakar.

Untuk isinya, tersedia daging, paru, kikil, sampai tulang muda. Satu porsi dihargai Rp45.000.

Soto Cawang beralamat di jalan Mayor Jendral Sutoyo no 3, Cawang, Jakarta Timur.

3. Soto Betawi H Husein
Soto betawi yang tidak kalah populer adalah Soto Betawi H Husein.

Sudah buka sejak 1988, racikannya tidak pernah berubah, masih dengan resep lama.

Kuah soto betawi di sini warnanya sangat putih campuran antara susu dan santan.

Pembeli bisa memilih sendiri isiannya.

Bisa daging saja atau ditambah jeroan, seperti babat, usus dan paru.

Soto Betawi H Husein beralamat di jalan Padang Panjang no 6B-6C, Manggarai,Jakarta Selatan.

4. Soto Betawi Sambung Nikmat
Bagi yang tinggal di Kebayoran Lama tentu sudah kenal dengan Soto Betawi Sambung Nikmat.

Tempat ini sudah buka sejak tahun 1972.

Soto Betawi di sini kuahnya hanya menggunakan santan dengan tekstur yang kental.

Potongan dagingnya pun tebal dan jeroannya lengkap. Ada paru, babat, usus dan kikil.

Soto Betawi Sambung Nikmati berlokasi di jalan Ciputat Raya no 2, Pondok Indah, Jakarta Selatan.***/mel

Habiskan Libur di Akhir Pekan dengan Glamping Bersama Pasangan dan Keluarga di Sekitar Jakarta

JAYAKARTA NEWS – Akhir pekan tiba. Saatnya merefreshing diri dan mengoptimalkan kebersamaan bersama keluarga.

Salah satu cara menyenangkan menghabiskan akhir pekan bersama keluarga bisa dengan pergi glamping.

Tidak hanya dekat dengan keluarga, glamping juga memungkinkan orang dekat dengan alam.

Untuk liburan keluarga, glamping sangat praktis, karena tenda, tempat tidur, dan makanan sudah tersedia.

Untuk urusan kamar mandi pun sangat praktis karena tersedia kamar mandi komunal.

Di sekitaran Jakarta ada sejumlah tempat glamping yang lengkap dengan beragam fasilitas.

1. Agrowisata Gunung Mas
Tempat glamping ini berlokasi di perkebunan teh Gunung Mas, Bogor. Dari Jakarta ke sini sekitar 2 jam saja.

Fasilitasnya cukup lengkap mulai dari tenda, tempat tidur, hingga kursi bersantai.

Kelebihan lainnya, tersedia beragam aktivitas yang cocok untuk seluruh anggota keluarga.

Seperti trekking, wahana Tea Bridge, offroad dengan ATV, berkuda.

Tersedia pula kolam renang dengan pemandangan cantik.

Kawasan Agrowisata Gunung Mas beralamat di jalan Raya Puncak Gadog Km 8, Tugu Selatan, Cisarua.

2. Forrester Glamping Co
Masih di Bogor, Forrester Glaming Co lokasinya di Megamendung. Jaraknya sekitar 2 jam dari Jakarta.

Penginapan di Forrester Glamping Co dilengkapi dengan api unggun dan perlengkapan barberque.

Glamping di sini bisa puas menikmati keindahan Gunung Salak atau memandangi hamparan sawah.

Selain menginap, ada sejumlah aktivitas seru, seperti trekking ke Curug Cibulao dan Curug Orok.

Bagian dalam tenda di Kalasenja Family Camping. (ayoglamping.com)

3. Kalasenja Family Camping
Lokasi glamping Kalasenja Family Camping berada di Cimahi, dekat Bandung.

Pemandangan gunung Tangkuban Perahu dan perbukitan asri jadi kelebihan glamping di sini.

Ada dua konsep glamping yang ditawarkan di Kalasenja Family Camping.

Yaitu, konsep mewah dengan tenda luas yang ditujukan untuk keluarga atau kelompok.

Dan konsep tenda kemah dengan ukuran lebih kecil yang cocok untuk pasangan.

Usung nama Family Camping tentu saja tersedia fasilitas untuk anak-anak, seperti arena bermain dan kolam renang.

4. Herman Lantang Camp
Glamping yang berlokasi di kawasan Taman Nasional Halimun Salak ini dimiliki Herman Lantang.

Herman Lantang merupakan sosok yang terkenal di dunia para pecinta alam.

Selain tenda dan perlengkapan menginap, Herman Lantang Camp juga menyiapkan api unggun dan BBQ

Di dekat tempat berkemah ada tiga air terjun yaitu Curug Nangka, Curug Daun dan Curug Kawung.

5. Legok Kondang Lodge
Lokasinya boleh di Ciwidey, Bandung, tapi Legok Kondang Lodge hadirkan nuansa Ubud.

Di sini tersedia berbagai jenis penginapan. Mulai untuk couple yang romantis sampai dengan keluarga.

Namanya memang glamping tapi penginapannya bukanlah tenda, melainkan pondok-pondok kecil.

Setiap pondok hadir dengan fasilitas kolam renang. Terasa begitu mewah.***/mel

5 Lokasi Fungsional yang Bisa Menjadi Tempat Istirahat Sejenak dan Swafoto di Kawasan Dukuh Atas, Jakarta

JAYAKARTA NEWS – Dibandingkan 10 tahun lalu, begitu banyak perubahan yang terjadi di kawasan Dukuh Atas, Jakarta.

Di Dukuh Atas kini bisa didapati halte transit TransJakarta, stasiun kereta, halte MRT, dan LRT.

Tidak hanya itu, kawasan Dukuh Atas pun menjadi oase jiwa di tengah deru kesibukan.

Inilah tempat karyawan sekitarnya mengambil jeda sebelum perjalanan pulang dan tempat rekreasi warga Jakarta.

1. Taman Dukuh Atas
Taman Dukuh Atas merupakan ruang terbuka dekat Halte Transjakarta Dukuh Atas 1 dan Stasiun LRT Dukuh Atas.

Taman kecil ini cozy dan asri. Ada bangku, tangga yang aesthetic, areal skateboard, dan area sepeda.

Di siang hari karyawan kantor sekitar sering makan atau duduk santai di sini.

Sementara sore hingga malam dipenuhi remaja yang bermain skateboard atau bersantai.

2. Jembatan penghubung Multiguna KRL dan LRT
Di kawasan Dukuh Atas, satu fasilitas yang baru selesai adalah Jembatan Penghubung Multiguna KRL dan LRT.

Jalur jembatan ini sangat bersih. Tersedia kios-kios makanan dan bangku untuk duduk.

Dari tempat ini bisa melihat pemandangan jalan Sudirman dari ketinggian.

Selain jadi penghubung dua lokasi, jembatan ini sering jadi spot foto karena sangat estetik.

Terowongan Kendal setelah diubah fungsi menjadi area pejalan kaki, akses transit antarmoda di kawasan ini menjadi lebih nyaman. (PT MRT Jakarta/Irwan Citrajaya)

3. Terowongan Kendal
Terowongan ini menghubungkan antara Stasiun KRL Sudirman dengan Stasiun BNI City.

Dulunya terowongan ini bisa dilewati kendaraan bermotor, sekarang hanya boleh untuk pejalan kaki.

Terowongan sangat instagramable karena dindingnya dihias mural warna-warni.

Mural ini hasil karya seniman Jerman, Snyder, dan Darbotz tahun 2019.

4. Riverside Walk Stasiun BNI City
Riverside Walk Stasiun BNI City sangat cantik di saat matahai terbenam.

Lokasinya tepat di pinggir Stasiun BNI City dan di pinggir Sungai Ciliwung.

Dulu sempat terlihat kumuh tapi sekarang sudah berubah sebagai ruang publik yang cantik dan bersih.

Anda bisa berjalan di sini sambil menikmati pemandangan gedung pencakar langit di Jalan Sudirman.

5. Jalan Blora
Jalan Blora lokasinya dekat dengan Terowongan Kendal. Pedestariannya sudah dibuat rapi dan cantik.

Setiap sore banyak pedagang kaki lima yang diijinkan berjualan di sini.

Menu yang ditawarkan sangat beragam. Mulai dari yang ringan seperti gorengan dan aneka roti.

Ada juga bubur ayam sunda, gado-gado, pecel lele dan dimsum Arsyif yang terkenal itu.***/mel

Hadirkan Cita Rasa Kaya Rempah, Ini Rekomendasi Tempat Makan Nasi Goreng Kambing di Jakarta

JAYAKARTA NEWS – Di antara nasi goreng lain, nasi goreng kambing punya rasa dan kelezatan yang khas.

Ini tidak lepas dari penggunaan beragam rempah untuk meracik sepiring nasi goreng kambing.

Selain melezatkan, penggunaan rempah ini juga penting untuk menghilangkan prengus di nasi goreng kambing.

Tidak perlu repot masak sendiri, di Jakarta banyak pedagang nasi goreng kambing yang terkenal lezat. Dilansir dari laman BUMN, Kamis (11/7), ini beberapa tempat nasi goreng kambing di Jakarta.

Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih
Nasi goreng yang berlokasi di jalan Kebon Sirih ini sudah buka sejak tahun 1958.

Di sini nasi goreng kambing dibuat dalam porsi besar sekaligus di satu wajan yang sangat besar.

Sepiring Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih dihidangkan dengan emping dan acar kubis.

Lokasinya di jalan Kebon Sirih, RT 3/RW 2 Raya, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.

NGK Babeh
Ciri khas nasi goreng ini di penggunaan terasi, cabai, lada, kecap, bumbu penyedap lain, ditambah santan dan minyak samin.

Selain menu andalan nasi goreng kambing, NGK Babeh menjual menu lain berbahan dasar kambing.

Seperti, sate kambing dan sop kambing.

NGK Babeh ada di jalan Pedurenan Mesjid Raya no 1. RT6/RW 7 Kuningan, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Nasi Goreng Kebuli Apjay
Nama Apjay, singkatan Apotek Jaya, diberikan karena lokasinya di dekat Apotek Jaya.

Racikan nasi goreng di sini dikenal memiliki bumbu mirip nasi kebuli.

Pembeli bisa memesan dengan tambahan telur dadar atau telur ceplok dari telur ayam atau bebek.

Nasi Goreng Kebuli Apjay berada di jalan Panglima Polim IX, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Nasi Goreng Rempah Mafia
Tempat ini belum selegendaris nasi goreng lainnya tapi soal rasa dan kelezatan bisa diadu.

Punya banyak cabang, di Jakarta, ini bisa ditemukan di daerah Tebet, Jakarta Selatan.

Dari banyak pilihan, yang paling jadi favorit di Nasi Goreng Rempah Mafia adalah nasi goreng kambing.

Nasi Goreng Rempah Mafia berlokasi di jalan Tebet Raya no 27D, Tebet Timur, Jakarta Selatan.

Kambing Babeh Dolof
Tidak hanya nasi goreng kambing, tempat makan Kambing Babeh Dolof sediakan berbagai menu kambing lainnya.

Yang jadi favorit tentu saja nasi goreng kambingnya.

Daging kambingnya dibumbui dengan bumbu rempah yang meresap.

Lokasinya di Area The Green, jalan Pejaten Barat Raya no 71, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.***/mel

Keberlanjutan Mesin Ekonomi Jadi Tantangan Jakarta pasca-Ibukota

JAYAKARTA NEWS— Usai disahkan oleh DPR RI, Undang-Undang Daerah Khusus Jakarta (UU DKJ) akan mengamanatkan pembangunan kawasan aglomerasi sebagai penunjang Jakarta menuju kota perekonomian global. Namun begitu, pengembangan ‘mesin-mesin ekonomi’ menjadi tantangan tersendiri bagi Jakarta dalam mewujudkan misi tersebut.

Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna mengatakan membangun kawasan aglomerasi yang kuat membutuhkan lebih dari sekadar infrastruktur fisik. Salah satu komponen krusial, yakni harus memiliki data dan fakta yang kuat sebagai landasan bagi pengembangan ekonomi yang berkelanjutan.

“Jakarta, sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Indonesia, harus membangun keberlanjutan engine ekonominya agar mampu menghadapi tantangan masa depan,” ujar Yayat dalam dialog FMB9 dengan tema UU DKJ: Masa Depan Jakarta Pasca Ibukota, Senin (22/4/2024).

Dalam konteks pengembangan Jakarta, penting untuk memperlakukan kota dan wilayah sekitarnya sebagai satu kesatuan yang utuh, bukan hanya sebagai entitas terpisah. Hal ini diperlukan untuk menciptakan ekosistem wilayah dan ekonomi yang saling mendukung satu sama lain.

“Tanpa adanya kerjasama antara Jakarta dan kota-kota sekitarnya, akan sulit untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Yayat juga menambahkan, penting bagi Jakarta untuk mengetahui tantangan dalam mempersiapkan engine ekonominya. Menurut Yayat, kota-kota yang gagal melakukan persiapan tersebut akan mengalami kerapuhan dalam daya dukung pertumbuhan ekonominya.

“Salah satu isu besar yang harus dihadapi adalah menentukan arah pembangunan ekonomi Jakarta. Apa yang sebenarnya ingin kita bangun dengan ekonomi Jakarta? Apa kekuatan yang dapat membuat Jakarta tampil di panggung dunia?” tanyanya.

Meskipun Jakarta tidak memiliki sumber daya alam seperti timah dan nikel maupun sawit sebagai penghasil uang, Jakarta memiliki kekuatan dalam bentuk “ruang” dan sumber daya manusia yang berpotensi besar. Namun, Data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dari tahun 2021-2023 menunjukkan bahwa Jakarta masih sangat bergantung pada sektor perdagangan eceran dan layanan transportasi, terutama pada penjualan dan reparasi mobil maupun motor.

Selain itu, lanjut Yayat, berdasarkan data yang dia miliki, kekuatan utama Jakarta terletak pada sektor jasa keuangan, asuransi, dan aktivitas perusahaan. Hal ini menjadi lebih menarik karena ini membuat Jakarta tidak bergantung pada kota-kota sekitarnya dalam sektor-sektor ini.

Yayat melihat, misi tersebut bukan tanpa tantangan. Menurutnya, ada kekhawatiran bahwa sektor perdagangan besar yang memonopoli sektor ritel dapat menghambat pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

“Terdapat dua korporat besar yang mendominasi perkampungan ritel di Jakarta, sehingga dapat menimbulkan ketidaksetaraan ekonomi di antara penduduknya,” paparnya

Tantangan lainnya adalah kemacetan yang sudah menjadi penyakit akut berpuluh tahun. Masalah kemacetan ini juga harus menjadi perhatian serius yang tidak akan terselesaikan dengan hanya mengubah status Jakarta.
“Perlu adanya solusi yang komprehensif dan kolaboratif antara Jakarta dan kota-kota sekitarnya untuk mengatasi tantangan ini,” jelasnya.

Oleh karena itu, Yayat menggarisbawahi bahwa membangun kawasan aglomerasi membutuhkan komitmen kuat dari semua pihak terkait, baik pemerintah, sektor swasta, maupun masyarakat secara keseluruhan.

“Dengan memanfaatkan potensi dan kekuatan yang dimiliki Jakarta dan kota-kota sekitarnya secara optimal, DKJ dan Kawasan Aglomerasi nantinya dapat menjadi kawasan perkotaan yang tidak hanya tangguh secara ekonomi tetapi juga berkelanjutan dan inklusif bagi seluruh penduduknya,” harapnya.***/lkw

5 Lokasi di Jakarta yang Direkomendasikan untuk Bersepeda di Akhir Pekan

JAYAKARTA NEWS – Akhir pekan waktu tepat untuk berolahraga, karena waktu yang jauh lebih luang dibandingkan hari kerja.

Selain jogging, olahraga yang banyak dilakukan di akhir pekan adalah bersepeda.

Olahraga ini mudah, cepat membakar kalori, dan bisa dilakukan siapa saja baik orang dewasa dan anak-anak.

Untuk kenyamanan bersepeda, pilih lokasi yang tidak hanya luas tapi juga aman. Berikut rekomendasinya.

GBK
Komplek olahraga terbesar di Indonesia ini tempat yang tepat untuk berolahraga sepeda.

Bagi yang baru memulai olahraga sepeda, GBK pun sangat menguntungkan.

Tempat ini tidak dilewati kendaraan umum sehingga tidak perlu takut terserempet.

Yang perlu diperhatikan selama bersepeda di GBK adalah banyaknya orang yang melakukan aktivitas lain.

Misalnya jogging, roller skate atau jalan kaki. Hati-hati agar tidak menabrak mereka.

Taman Mini Indonesia Indah
Bila ingin berolahraga sekaligus belajar kebudayaan Indonesia, bisa ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Tempat ini terbuka bagi pesepeda. Setelah direvitalisasi, TMII pun menyediakan jalur khusus sepeda.

Areal TMII yang luas membuat pesepeda akan puas berkeliling.

Bila sudah lelah, Anda bisa beristirahat di danau atau di taman bunga yang ada di sini.

TMII sudah buka dari jam 06.00 – 18.00 WIB setiap harinya. Tiket masuk Rp20.000.

Kota Tua
Bagi yang ingin bersepeda sambil menikmati suasana jadul, wajib datang ke Kota Tua.

Kawasan ini pun sudah dibuat sangat nyaman dengan jalur pejalan kaki dan pesepeda.

Bila datang pagi hari belum banyak wisatawan sehingga bisa bebas berkeliling.

Anda bisa bersepeda di depan Taman Fatahilah, melewati Museum Bank Mandiri, Museum Wayang sampai Stasiun Kereta Api Kota.

Taman Margasatwa Ragunan
Taman Margasatwa Ragunan salah satu tempat yang nyaman untuk bersepeda di kawasan Selatan.

Tempat ini selain memiliki jogging track juga memiliki jalur untuk pesepeda.

Di pagi hari terbilang sepi dari pengunjung sehingga pesepeda bisa bebas berkeliling taman.

Bila beruntung, sambil bersepeda bisa melihat hewan-hewan di kandang yang baru bangun tidur.

Pantai Indah Kapuk 2
Pantai Indah Kapuk 2 memiliki jalur pesepeda juga. Jalurnya pun cukup nyaman dan aman.

Tidak sedikit pesepeda yang ke sini sempatkan berswafoto di jembatan dengan pemandangan laut di kiri dan kanannya.

Tidak boleh sembarang, orang hanya boleh berfoto di sini di jam-jam tertentu saja.

Untuk pagi hari hanya bisa dari jam 06.00-09.00 dan sore hari jam 16.00–17.30 WIB.

Pesepeda juga bisa menelusuri kawasan PIK 2 sambil menikmati aneka kuliner di sana.***/mel

Rencana Besar Bukan Mercu Suar

Oleh Sumarno *)

Memindahkan ibukota negara dari Jakarta ke Kalimantan Timur adalah sebuah rencana besar. Sudah selayaknya, gagasan besar harus didukung segenap bangsa Indonesia. Sebagai kewajian moral, rakyat pun harus mewujudkan dukungannya dalam bentuk pengawalan. Memberi kontribusi masukan yang konstruktif, adalah salah satu bentuk dukungan konkret.

Secara historis, rencana pemindahan ibukota Jakarta sudah lama digagas dan diwacanakan Presiden Indonesia sebelumnya. Setidaknya Presiden Sukarno pernah menyarankan agar ibukota pindah ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng) namun tidak kesampaian karena pada tahun 1960-an Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games.

Kemudian Presiden Soeharto pernah mewacanakan ibukota bergeser ke Jonggol namun tidak kesampaian karena keburu lengser keperabon oleh gelombang aksi reformasi yang dilakukan berbagai elemen masyarakat. Oleh karenanya, pemindahan ibukota yang disampaikan Presiden Joko Widodo dalam pidato kenegaraan di depan anggota MPR/DPR RI, Jumat (16/8/2019), patut kiranya dijadikan concern bersama.

Keputusan itu telah dipertegas Senin (26/8) di Istana Presiden, Jakarta Pusat. Keputusan yang merupakan implementasi nyata dari apa yang sudah diwacanakan presiden-presiden Indonesia sebelumnya. Dengan t

elah ditetapkannya Kalimantan Timur oleh presiden Joko Widodo, wacana dan pro kontra terkait rencana pemindahan ibukota seyogianya harus diakhiri dan digantikan dengan dukungan positif dan fokus ke berbagai persiapan dan kesiapan serta aksi nyata dari seluruh elemen dan komponen bangsa untuk mewujudkan perpindahan ibukota negara dan pusat pemerintahan tersebut.

Secara konstitusional, pengumuman pemindahan ibukota dan pusat pemerintahan Republik Indonesia tidak bertentangan dengan konstitusi UUD 1945. Sebab, presiden mempunyai kedudukan sebagai Kepala Negara dan pemerintahan dan pemegang kekuasaan tertinggi atas angkatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara serta dipilih langsung oleh masyarakat/rakyat melalui Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019.

Meskipun demikian, akan lebih legitimate dan tidak mengesankan sikap otoriter, sentralistik atau personalized manakala mendapat persetujuan DPR sebagai representasi rakyat Indonesia. Lebih sempurna lagi jika telah tersedia naskah akademik dan peraturan perundangan pendukung. Tujuannya agar ibukota negara baru yang terwujud nanti memiliki kekuatan dan kepastian hukum yang kokoh dan tidak bisa digoyahkan. Di samping, akan menjamin tetap dilanjutkan oleh siapa pun presiden Indonesia pasca kepemimpinan Joko Widodo jilid kedua berakhir 2024.

Secara konsepsional, pemerintah tentu memiliki visi, misi, rencana besar (grand design), peta jalan (road map), cetak biru (blue print) yang sudah disusun dan diterbitkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) maupun oleh lembaga-lembaga riset berbagai perguruan tinggi. Mengingat kompleksitas masalah dan di tengah situasi perekonomian bangsa dewasa ini yang masih memperihatinkan, pemerintah perlu membuka ruang, peluang, bahkan wadah kepada publik seluas-luasnya untuk mengkritisi, memberikan masukan dan saran agar pemindahan ibukota negara benar-benar sesuai yang diharapkan.

Sikap eksklusif terkait informasi mengenai pemindahan ibukota bisa menimbulkan kesan adanya agenda tersembunyi (hidden agenda) dan kepentingan segelintir elite yang tidak terkait dengan kepentingan orang banyak. Dalam konteks ini, Presiden Joko Widodo diharapkan tidak lengah dan terjebak situasi yang akhirnya mementahkan rencana pemindahan ibukota negara.

Tinjauan Ekonomi

Adapun dari kacamata ekonomi, pemindahan ibukota dan pusat pemerintahan dari Jakarta ke Kaltim mempunyai alasan atau argumen logis, valid, obyektif,  dan empirik. Di antarannya, akibat pertumbuhan urbanisasi yang sangat tinggi, konsentrasi penduduk yang demikian padat, kemacetan lalu lintas, ancaman banjir, krisis ketersediaan air, potensi gempa dan sebagainya bertumpuk di Jakarta. Dan yang tidak kalah penting, terjadinya ketimpangan ekonomi antara Pulau Jawa khususnya Jakarta dengan luar Jawa. Indikatornya, kontribusi ekonomi Pulau Jawa terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Regional 58,49 persen dan share PDRB Jabodebatek terhadap PDB Nasional sebanyak 20,85 persen.

Hal itu saja sudah cukup kuat serta menjadi alasan yang tak bisa ditawar ihwal pindahnya ibukota negara. Pindah ibukota negara akan menjawab secara efektif dan konkrit problem kesenjangan ekonomi dalam waktu yang relatif lebih pendek dan bisa diperkirakan kemungkinan realisasinya.

Dari sisi kesiapan sumber daya manusia (SDM), pemerintah pusat dan pemerintah Provinsi Kaltim harus bergerak cepat dan tanggap. Mengingat, desain pembangunan ibukota negara baru tersebut demikian canggih (smart city), jelas membutuhkan ketersediaan SDM yang memiliki profesionalisme dan kompetensi tinggi.

Dengan asumsi tenaga-tenaga profesional dan kompeten belum sepenuhnya mampu disediakan dari masyarakat setempat (Kaltim), maka perlu ada manajemen dan strategi khusus mengatasi masalah ini. Jikapun pada akhirnya banyak melakukan “impor” tenaga kerja atau bahkan ‘bedol desa’ khususnya dari Jakarta dan Pulau Jawa untuk ditempatkan di Kaltim, harus dirancang matang. Tujuannya, agar tidak menjadikan masyarakat Kaltim teralienasi atau termarginalisasi. Tujuan lain, agar menekan kecemburuan sosial yang dapat memicu konflik bernuansa SARA di kemudian hari.

Pemindahan ibukota dan pusat pemerintahan sekaligus atau hanya pusat pemerintahannya sudah banyak dilakukan negara-negara lain. Nyaris tidak ada catatan gagal. Untuk itu, pemerintah harus belajar dari negara-negara tersebut.

Momentum pindah ibukota negara harus bisa menjadi momentum yang iconic bagi catatan sejarah republik ini ke depan. Karenanya, harus bisa membuat rakyat bangga. Presiden harus pandai menangkap momentum ini untuk nation and character building. Wujud konkritnya melalui kerangka nation and state building dalam bentuk monumental building, museum and cultural exhibition area dan menjadi smart atau intelligent city yang diukung kemajuan teknologi digital.

Dari kacamata makro, momentum lain dari pemindahan ibukota negara ini adalah lahirnya kebijakan pembangunan nasional menengah dan jangka panjang. Kebijakan yang benar-benar merangsang percepatan pembangunan daerah. Model Kawasan Berikat Nusantara, dan otonomi daerah patut dikembangkan. Dengan cara demikian, diharapkan pembangunan nasional yang sejahtera, makmur, adil dan merata dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan dapat terwujud.

Pada saat bersamaan, harus diantisipasi dan dicegah, jangan sampai pemindahan ibukota negara mengakibatkan pembangunan di luar Kaltim justru terganggu, terbengkalai, atau stagnasi. Jika itu terjadi, maka “kekeliruan” sentralisasi akan terulang, kesenjangan tetap menganga.

Di luar semua catatan tersebut, masih ada satu catatan yang bersifat ‘sayang-dibuang’. Catatan dimaksud, adalah persoalan-persoalan transisi. Pemindahan ibukota negara harus gradual, baik dalam hal penyiapan infrastruktur, maupun mental dan habbit masyarakatnya.

Hubungan “yang baru dan yang jadi mantan”, tak bisa dikirikan. Betapa pun, mayoritas yang akan menduduki pos-pos penting di pemerintahan pusat, adalah sebagian besar mereka yang sudah habbit sebagai warga Jakarta dengan segala karakteristiknya. Itu artinya, Jakarta sebagai “mantan ibukota negara” harus ikut mengantar kepada “ibukota negara yang baru”. Bila perlu bahkan sebelum proses berlangsung, didahului dengan penandatanganan semacam MoU Sister City antara Jakarta dan Penajam Paser Utara – Kutai Kartanegara.

Selain itu, berbagai dampak yang kemungkinan muncul di Kaltim misalnya: pembabatan hutan untuk industri atau perumahan, merajalelanya pembelian lahan oleh swasta atau mafia tanah atau rusaknya eko sistem, harus mendapat perhatian sejak dini. Termasuk maraknya kriminalitas, dan hal-hal lain yang lazim muncul dari tumbuhnya kota besar. Ini semua harus diantisipasi melalui langkah pencegahan.

Selamat datang ibukota negara yang baru. Selamat datang kemakmuran. Ide besar untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara besar, niscaya bukan proyek mercu suar. (*)

*) Sumarno, Periset di CONCERN Consultancy & Research