Connect with us

Kabar

Ketika Bangsa Tidak Lagi Tahu Siapa Musuhnya

Published

on

Oleh: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Cijantung, Sabtu 3 Januari 2026

Ada satu pertanyaan mendasar yang jarang diajukan secara jujur dalam kehidupan berbangsa hari ini: siapa sebenarnya musuh kita sekarang?

Kita rajin berdebat, sibuk menyalahkan keadaan, bahkan gemar mengutuk sejarah. Namun ketika ditanya siapa musuh bersama yang harus dihadapi, jawabannya sering kabur. Padahal, bangsa ini pernah memiliki kejelasan yang luar biasa tentang hal itu.

Dulu, musuh itu nyata. Penjajah asing hadir dengan kekerasan, senjata, dan penghisapan sumber daya. Tidak perlu penjelasan panjang. Rakyat tahu apa yang dipertaruhkan dan untuk apa nyawa diberikan.

Hari ini, situasinya berbeda. Tidak ada serdadu asing di jalanan. Tidak ada bendera penjajah berkibar. Tetapi justru di situlah persoalannya: penjajahan kini hadir dengan wajah yang jauh lebih halus.

Sukarno pernah mengingatkan, “Musuh yang paling berat bukan melawan penjajah, tetapi melawan bangsa sendiri.” Kalimat ini sering dikutip, tetapi jarang benar-benar direnungkan maknanya.

Ia bukan ungkapan emosional, melainkan peringatan strategis tentang arah kerusakan sebuah bangsa.

Pada masa revolusi fisik—Surabaya, Ambarawa, Medan Area—bangsa ini mampu bersatu karena musuhnya jelas. Tentara dan laskar rakyat bertempur. Tokoh agama menggerakkan keberanian moral. Rakyat kecil ikut berjuang dengan caranya masing-masing. Tidak ada yang bertanya apakah ia punya kewenangan atau jabatan. Semua merasa memiliki negeri ini.

Sekarang, musuh itu tidak lagi datang dari luar. Ia tumbuh dari dalam sistem kita sendiri. Bentuknya konkret dan bisa disebutkan: korupsi yang merusak dari pusat hingga daerah, penyalahgunaan kekuasaan, perusakan sumber daya alam yang dilegalkan, ekonomi ilegal yang dibiarkan, serta ketimpangan sosial yang dianggap biasa.

Yang membuatnya berbahaya bukan hanya skalanya, tetapi cara ia disamarkan. Semua tampak sah secara administratif. Ada izin, ada prosedur, ada tanda tangan. Namun di balik itu, negara dirugikan, alam dihancurkan, dan rakyat kecil menanggung akibatnya.

Pelaku kerusakan ini bukan rakyat miskin. Mereka justru sering menjadi korban pertama.

Pelakunya adalah mereka yang memiliki kewenangan, akses, dan pengetahuan, tetapi memilih menggunakan semuanya untuk kepentingan sempit.Korupsi tidak lahir dari ruang hampa. Ia hidup dari kekuasaan, uang, dan pembiaran.

Kita juga perlu jujur melihat dampaknya. Ketika hutan ditebang tanpa kendali dan tambang dibuka tanpa tanggung jawab, lalu banjir dan longsor datang, itu sering disebut sebagai bencana alam. Padahal banyak di antaranya adalah bencana kebijakan. Alam tidak tiba-tiba rusak. Ia dirusak oleh keputusan manusia.

Yang lebih mengkhawatirkan, di balik kerusakan hari ini sedang tumbuh kerusakan yang lebih sunyi: pembiasaan ketidakjujuran, normalisasi penyimpangan, dan generasi muda yang melihat praktik curang sebagai hal wajar. Jika ini dibiarkan, bangsa ini bukan hanya kehilangan kekayaan, tetapi juga kehilangan kompas moral

Lalu apa yang harus dilakukan?

Jika dulu bangsa ini bersatu melawan penjajah asing, hari ini bangsa ini harus bersatu melawan penjajahan dari dalam. Perjuangannya tidak lagi dengan senjata, tetapi dengan tanggung jawab. Bukan heroisme sesaat, melainkan konsistensi sehari-hari.

Eksekutif harus menjalankan amanat, bukan memperdagangkan kewenangan. Legislatif harus mengawasi, bukan ikut bertransaksi. Yudikatif harus menjaga keadilan, bukan mencari aman. Partai politik bertanggung jawab membina kader, bukan sekadar memenangkan kekuasaan. Tokoh agama, akademisi, media, dan keluarga masing-masing memegang peran penting dalam menjaga nilai dan keberanian moral.

Gotong royong hari ini bukan lagi mengangkat bambu runcing, tetapi menolak ikut membenarkan yang salah.

Bangsa ini dulu mampu bertahan karena tahu siapa musuhnya dan berani menghadapinya bersama-sama. Jika hari ini kita gagal menyebut musuh dengan jujur, maka kita sedang melemahkan diri sendiri.

Inilah konteks sesungguhnya dari peringatan Sukarno.
Bukan untuk menimbulkan kecurigaan, tetapi untuk membangunkan kesadaran.
Perjuangan belum berakhir. Ia hanya berpindah medan.

Continue Reading
Advertisement
1 Comment

1 Comment

  1. Agus Woro

    January 4, 2026 at 8:44 am

    Musuh kita skrg adalah musuh dalam selimut…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement