eFishery Kian Tarik Minat Perusahaan Pembiayaan, HSBC Berikan Pinjaman Senilai IDR 487 Miliar

JAYAKARTA NEWS – Startup rantai pasok akuakultur eFishery, mengumumkan pinjaman baru sebesar $30 juta atau senilai Rp 487 miliar dari HSBC Indonesia untuk memperluas platformnya kepada lebih banyak petani ikan dan udang skala kecil.

PT Bank HSBC Indonesia (HSBC Indonesia) telah memberikan pinjaman “green and social loans” senilai $30 juta atau sekitar IDR 487 miliar kepada eFishery untuk mendukung kebutuhan modal kerja perusahaan. HSBC Indonesia juga dipercaya sebagai koordinator pembiayaan berkelanjutan untuk eFishery, dengan tujuan membantu perusahaan mengintegrasikan aspek ESG dalam operasi bisnisnya.

Pinjaman ini memungkinkan eFishery untuk memperluas produk eFeeder mereka. Teknologi ini disewakan kepada ratusan ribu petani ikan skala kecil dalam jaringan eFishery, memungkinkan mereka meningkatkan efisiensi pakan hingga 30% dan kapasitas produksi hingga 24%.

Untuk memperluas bisnis ekspor, eFishery merambah pasar Tiongkok dengan menjual hasil panen udang setelah sukses mengekspor ke AS. Selain itu, eFishery juga memperluas ekspor ikan nila ke kedua negara tersebut dan menargetkan negara lain seperti Singapura, Malaysia, Eropa, dan Timur Tengah.

Pendiri & CEO eFishery Gibran Huzaifah menyatakan bahwa pinjaman green and social loans dari HSBC Indonesia merupakan langkah penting dalam merevolusi industri akuakultur di Indonesia. “Pinjaman ini memungkinkan kami untuk memperluas armada eFeeder kami dan memberdayakan petani ikan dan udang skala kecil dengan teknologi dan sumber daya yang mereka butuhkan, sehingga mereka dapat lebih produktif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Managing Director Head of Wholesale Banking HSBC Indonesia Riko Tasmaya mengatakan, “Ini adalah bagian dari ambisi kami untuk mendukung pertumbuhan sektor ekonomi berbasis platform baru di Indonesia. Melalui green and social loans, HSBC Indonesia juga mendukung sektor akuakultur di negara ini dalam menerapkan praktik berkelanjutan di seluruh rantai pasoknya.”

Kemitraan Lembaga Keuangan

eFishery juga rajin membangun kemitraan dengan lembaga keuangan yang menyediakan layanan pembiayaan. Selain mendukung operasi bisnis, sebagian besar bentuknya adalah penyaluran pinjaman. Ini untuk mendukung layanan pembiayaan mitra melalui Kabayan (Kasih Pay Later) di aplikasi eFisheryFund.

Berdasarkan catatan, terdapat sejumlah kemitraan yang diumumkan kepada publik, termasuk:

MitraKategoriTahun Kemitraan
EXPERIENCESFintech Lending2020
AmarthaFintech Lending2023
Amar BankBank2024
BRIBank2020
CrowdoFintech Lending2021
DanamasFintech Lending2021
InvestreeFintech Lending2020
Kawan CicilFintech Lending2021
CoinWorksFintech Lending2023
KredivoMultifinance2021
OCBC NISPBank2022
QazwaFintech Lending2023

Terbaru pada April 2024, PT Bank Amar Indonesia Tbk (IDX: AMAR) mengumumkan kolaborasi strategis dengan eFishery untuk menyalurkan fasilitas kredit kepada UMKM akuakultur atau perikanan. Fasilitas kredit bersama ini berbentuk: pembiayaan tertutup atau pembiayaan ekosistem dengan nilai hingga IDR 100 miliar.

Prestasi Bisnis Positif

Kepercayaan para mitra keuangan ini tidak lepas dari kinerja bisnis eFishery. Menurut data yang disampaikan, sejak 2023 perusahaan telah menarik lebih dari 200 ribu petani ikan dan udang dengan 1,1 juta kolam aktif yang tersebar di 280 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia. Dinyatakan bahwa valuasi perusahaan mencapai $1,3 miliar, menjadikannya startup aquatech dengan valuasi terbesar di dunia.

Hingga 2022, perusahaan telah memfasilitasi transaksi penjualan ikan air tawar sebesar 1,1 triliun dan penjualan udang sebesar 1,12 triliun. Jika dinominalkan, ini setara dengan IDR 8 triliun total transaksi penjualan ikan dan udang, serta IDR 4 triliun total transaksi penjualan pakan ikan dan udang. Kontribusi terbesar berasal dari Jawa Barat dengan persentase hampir 40%.

Sementara itu, untuk ekspor, angka tersebut dikatakan mencapai 20 juta kilo per bulan untuk 10 komoditas di eFishery ke Amerika Serikat dan Tiongkok.

Solusi keuangannya, Kabayan, telah didukung oleh puluhan perusahaan keuangan, seperti Bank OCBC NISP, Amartha, Investree, dan Kredivo. Total dana yang disalurkan mencapai IDR 1,07 triliun untuk 24 ribu petani ikan dan udang. (hsbc/techinasia/da

Peakbridge Menutup Growth Fund II Senilai Rp 29,89 Triliun Fokus pada Potensi Disruptif AI

JAYAKARTA NEWS – Investor agrifoodtech, PeakBridge telah menutup Growth Fund II mereka dengan capaian senilai $187 juta atau setara dengan Rp 29,89 triliun (kurs $1 = 15.966,85). Hasil merupakan kolaborasi dengan Edmond de Rothschild Private Equity itu, meningkatkan total assets under management (AUM/ aset yang dikelola) mereka menjadi lebih dari $250 juta.

Dana ini menargetkan untuk startup tahap seri A dan B di AS, Eropa, dan Israel dalam lima kategori: inovasi bahan, teknologi protein alternatif, digitalisasi dan sistem pangan 4.0, nutrisi & kesehatan, dan sistem pertanian alternatif. Para investor termasuk Grupo Bimbo, Royal Cosun, dan Arancia; serta lembaga keuangan seperti Builder’s Initiative.

Perusahaan portofolio dalam Growth Fund II termasuk startup daging budidaya asal Australia, Vow; pembuat cokelat bebas kakao yang berbasis di Inggris, Win-Win; startup Austria, Kern Tec, yang mendaur ulang biji buah menjadi produk bernilai lebih tinggi; dan perusahaan nutrisi pribadi InsideTracker.

‘Teori investasi yang sangat disiplin’

Meskipun saat ini adalah waktu yang menantang untuk mengumpulkan dana, mitra umum pendiri Nadav Berger kepada AgFunderNews mengatakan, bahwa PeakBridge selalu sangat disiplin dalam teori investasinya. “Kami berinvestasi dalam teknologi B2B yang dapat diskalakan dan dilindungi.

Kami tidak pernah terjun dalam hype berbasis tanaman B2C, tetapi jika kami dapat berinvestasi dalam teknologi yang akan membuat alternatif daging dan susu lebih bersih, lebih enak, atau dengan tekstur yang lebih baik, di situlah kami ingin bermain.”

Peakbridge tetap fokus pada lima kategori ‘pilar’ yang disebutkan di atas, kata Berger, “Tetapi kami melihat pergeseran dalam proporsi di dalam lima pilar tersebut, dan yang menarik lebih banyak investasi adalah digitalisasi dan persimpangan AI dan makanan. Ya, ini sedang tren, tetapi ini sedang terjadi. Kami memiliki setidaknya enam perusahaan yang sangat didukung oleh AI sekarang.”

AI dalam makanan dan pertanian
Artificial Intelligence (AI) memiliki potensi untuk mengubah setiap aspek industri makanan, mulai dari meningkatkan efisiensi rantai pasokan hingga mempercepat proses R&D, kata Berger. Namun ini juga sejalan dengan model dan jadwal pendanaan VC, yang oleh beberapa komentator dianggap tidak cocok secara inheren dengan industri agrifood, yang berurusan dengan sistem biologis yang tidak dapat diprediksi, membutuhkan infrastruktur fisik dan jaringan distribusi yang mahal, serta beroperasi dalam lingkungan peraturan yang kompleks, tambahnya.

“Kita semua di ruang foodtech membutuhkan cerita sukses dan keluar yang dapat kita bagikan. Dan inilah mengapa penggalangan dana ini menggembirakan, karena bahkan dengan investor yang lebih berhati-hati dan kurang bersemangat tentang foodtech, mereka dapat melihat potensi [AI dalam makanan] dan mereka dapat melihat model investasi untuk dibandingkan dengan ini.

“Jadi jika perusahaan kami mencapai ARR [pendapatan berulang tahunan] X juta, maka ini dapat dibandingkan dengan perusahaan perangkat lunak di mana ada kelipatan yang dikenal dan diterima.”

Salah satu perusahaan portofolio bertenaga AI yang sangat menarik bagi PeakBridge adalah Tastewise, sebuah platform online yang membantu perusahaan makanan dan minuman dari PepsiCo hingga Nestlé menyisir data dari menu restoran dan pengiriman, resep online, dan posting media sosial.

Ini membantu klien mengembangkan wawasan yang dapat ditindaklanjuti tentang tren yang muncul dengan satu klik, dan menciptakan produk yang lebih sesuai dengan keinginan konsumen, klaim Berger, yang mencatat bahwa tingkat kegagalan produk CPG baru tetap sangat tinggi, sebagian karena alat penelitian pasar yang ada memberi tahu Anda apa yang ada di belakang, bukan bagaimana memenuhi kebutuhan konsumen di masa depan yang belum terpenuhi.

“Konsumen berubah lebih cepat daripada industri mengembangkan solusi baru, jadi Anda menginginkan wawasan waktu nyata itu,” katanya. “Tetapi AI juga memungkinkan kita untuk melihat dataset yang jauh lebih besar, bukan laporan berdasarkan apa yang dipikirkan oleh beberapa ratus orang. Kita berbicara tentang melihat miliaran titik data secara real time sepanjang waktu.”

‘Kami mencoba memahami titik nyeri di area tertentu dan mencari solusi’
Ditanya tentang exit, dia berkata: “Dalam setiap dari lima pilar yang kami miliki, kami mungkin menghadapi model exit yang berbeda. Jadi di ruang bahan, kami mencari solusi yang kami tahu akan dicari oleh pemain bahan besar.

“Misalnya, kami tahu kami harus menyelesaikan masalah pasokan vanila [permintaan vanila asli jauh melebihi pasokan], dan kami pikir Vanilla Vida [yang memiliki platform penanaman dalam ruangan untuk tanaman vanila dengan hasil vanilin yang secara signifikan lebih tinggi dan waktu pengeringan yang secara dramatis lebih singkat] sedang menangani titik nyeri dan memberikan solusi.”

Contoh lain adalah Win Win yang berbasis di Inggris, yang menggunakan carob dan barley untuk membuat alternatif cokelat yang mengatasi ketidaksesuaian antara penawaran dan permintaan kakao, kata Berger. “Ketika kami berinvestasi dua tahun lalu, kami tidak memiliki bola kristal, dan kami tidak pernah berpikir harga kakao akan naik 280%, tetapi kami dapat melihat bahwa ini adalah industri yang perlu diubah.”

Di ruang protein alternatif, dia berkata, “Ini adalah hal yang sama. Kami mencoba memahami titik nyeri di area tertentu dan mencari solusi. Kami berbicara dengan pabrik susu dan mereka mencari alternatif [untuk melengkapi bahan berbasis hewan mereka], jadi kami memiliki Imagindairy (protein whey) dan Standing Ovation (protein casein) dalam portofolio kami. Untuk alternatif daging, kami memahami bahwa tantangannya adalah tentang rasa dan tekstur, jadi kami berinvestasi di Mediterranean Food Lab [yang menggunakan fermentasi keadaan padat untuk menciptakan bahan rasa yang diklaim dapat mengubah pengalaman sensorik makan makanan berbasis tanaman].”

Perusahaan portofolio lain yang sangat menarik bagi PeakBridge adalah perusahaan nutrisi pribadi InsideTracker, yang mengintegrasikan data biomarker dari darah, DNA, pelacak aktivitas, dan informasi demografis yang dihasilkan pengguna untuk menciptakan rekomendasi berbasis ilmu pengetahuan guna mengoptimalkan kesehatan.

Meskipun retensi pelanggan bisa menjadi tantangan dengan penawaran nutrisi pribadi, InsideTracker telah membangun basis pelanggan yang kuat dan setia dengan sangat sedikit penurunan, kata Berger. Dan meskipun pengguna awal mungkin adalah orang-orang yang lebih makmur atau terlibat, keindahan teknologi ini adalah bahwa ia dapat diskalakan untuk menjangkau audiens yang lebih luas sehingga di masa depan mungkin dapat menggerakkan jarum pada kesehatan masyarakat, klaimnya.

Waktu yang Sempurna untuk Berinvestasi
Jadi di mana posisi kita dalam siklus penurunan saat ini, dan bagaimana lanskap investasi agrifoodtech berkembang sejak masa kejayaan tahun 2021 dan awal 2022?

Menurut Berger, investor non-spesialis yang masuk ke sektor-sektor seperti protein alternatif dan pertanian vertikal dan menaikkan valuasi hanya untuk merasa kecewa kini telah meninggalkan ruang tersebut, dan valuasi telah turun sesuai. “Jadi kami melihat investor umum ini yang mengira foodtech itu seksi membayar harga premium dan kemudian menyadari bahwa Anda perlu memproduksi dan menjual produk [fisik] dan berurusan dengan lingkungan peraturan yang kompleks [jika Anda ingin berhasil dalam industri agrifood].

“Kami sekarang melihat perusahaan-perusahaan baik kembali kepada kami yang kami lihat beberapa tahun lalu dengan sekitar 50% dari valuasi yang mereka minta saat itu. Tetapi jika Anda memiliki sarana, ini adalah waktu yang sempurna untuk berinvestasi karena kami kembali ke dunia normal di mana valuasi didasarkan pada kelipatan dan penjualan serta profitabilitas.”

Dia menambahkan: “Pada akhirnya, kami tetap positif karena foodtech akan terus ada karena masalah yang kami coba selesaikan belum hilang. Di Peakbridge, kami tidak lebih pintar dari siapa pun tetapi kami pikir kami benar-benar dapat menambah nilai [ke perusahaan portofolio] karena kami memiliki pengalaman manajemen langsung operasional selama beberapa dekade serta pengalaman dalam venture dan foodtech, ditambah kami memiliki mitra industri makanan strategis besar.” (agfundernews/sm)

In Ovo Raih Dana Segar untuk Cegah Pemusnahan Anak Ayam Pejantan

JAYAKARTA NEWS – Startup berbasis di Belanda, In Ovo mengembangkan solusi “tanpa pemusnahan anak ayam jantan” di industri poultry berhasil mengumpulkan “beberapa juta euro” dalam putaran pendanaan dari investor VisVires New Protein (VVNP) dan Evonik Venture Capital – modal ventura dari perusahaan kimia Jerman Evonik.

Sebuah umber dari VVNP yang berbasis di Singapura mengatakan, suntikan modal tersebut akan memungkinkan In Ovo untuk mempercepat adopsi industri mesin pembuat penetasan telurnya itu.

Dalam industri penetasan ayam, anak ayam jantan muda biasanya dilihat sebagai produk sampingan yang tidak diinginkan dari proses bertelur. Alasannya, mereka tidak dapat tumbuh menjadi lapisan telur sendiri, dan mereka umumnya berasal dari keturunan yang dianggap tidak menguntungkan atau diinginkan sebagai sumber daging.

Artinya, alih-alih membesarkan anakan ayam jantan untuk konsumsi daging, mereka biasantya disortir secara manual setelah menetas, lalu dibunuh dengan menggunakan metode seperti gas dan perendaman.

Menurut In Ovo dari Leiden University, hampir 6,5 miliar anak ayam dimusnahkan dengan cara ini setiap tahun. Ini adalah praktik yang dianggap kejam dan tidak etis oleh konsumen dan produsen. Beberapa pemerintah telah mengindikasikan bahwa mereka ingin menghentikan pemusnahan anak ayam jantan. Jerman dan Prancis berkomitmen untuk melarang praktik tersebut pada tahun 2022.

Saat melakukan penelitian di Universitas Leiden, salah satu pendiri In Ovo Wouter Bruins dan Wil Stutterheim menemukan biomarker seksualitas baru yang dapat digunakan untuk menentukan jenis kelamin embrio anak ayam jauh sebelum menetas.

Saat ini, sistem penulisan jenis startup (Ella), menggunakan metode pengambilan sampel otomatis untuk mengekstraksi sejumlah kecil cairan ketuban dari telur dengan membuat lubang kecil di cangkangnya yang kemudian ditutup kembali. Sampel fluida kemudian dianalisis dengan “spektrometer massa tercepat di dunia” untuk menemukan biomarker yang relevan.

Dengan cara ini, telur yang telah diidentifikasi jantan dapat dibuang sebelum embrio berkembang, sedangkan telur betina dierami dan ditetaskan. Dengan demikian tidak ada pembantaian anak ayam pejantan.

Kabarnya, pembenihan komersial yang berbasis di Belanda Het Anker telah menggunakan Ella sejak Desember 2020. Sedangkan dealer telur lain di Belanda, seperti G. Kwetters & Zn juga menggunakannya. Demikian pula Interovo Egg Group dan Gebr In Ovo mengungkapkan, Van Beek telah berjanji untuk merangkul teknologi tersebut.

Selain mendapatkan pendanaan terbaru, perusahaan rintisan ini mencapai tonggak sejarah dengan menetaskan 150.000 anak ayam pertamanya tanpa memerlukan satu pun anak ayam untuk dimusnahkan.

Tetapi “150.000 anak ayam hanyalah permulaan; perusahaan rintisan tersebut mengatakan dalam pernyataannya menyebutkan, bahwa tempat penetasan menggunakan sistem Ella yang ada dapat menetaskan 1 juta ayam bebas pemotongan setiap tahun.

“Dengan permintaan yang diperkirakan akan meningkat di tahun-tahun mendatang, In Ovo terus meningkatkan teknologinya dalam hal kecepatan, akurasi, dan hari uji. Dalam beberapa bulan dari sekarang, mesin Ella baru akan mampu memungkinkan penetasan 5 juta ayam. setiap tahun, dan In Ovo akan mulai meluncurkan teknologinya ke luar Belanda. “

Mengembangkan solusi yang dapat dengan mudah diintegrasikan ke dalam sistem produksi komersial yang ada sangatlah menantang. Hal ini terutama berlaku dalam industri komoditas di mana kecepatan, akurasi, dan keandalan adalah kuncinya, ” kata Matteo Vermerch, Pendiri dan Managing Partner di VVNP.

“Prestasi luar biasa In Ovo – puncak dari penelitian dan pengembangan selama bertahun-tahun – adalah pengiriman yang tepat waktu.”

Startup ini menyelesaikan putaran seri pertama “multi-juta euro” pada November 2018, dengan VVNP dan Evonik di antara investor yang berpartisipasi. (sm)

Klaim Hak Cipta, Apple Keok Lawan Startup Bug Security

JAYAKARTA NEWS –  Klaim Apple Inc. atas  pelanggaran hak cipta  terhadap perusahaan rintisan (startup ) Florida yang perangkat lunaknya membantu peneliti keamanan (security researchers) menemukan kerentanan dalam produk Apple termasuk iPhone, ditolak pengadilan Amerika Serikat.

Dalam perkara klaim hak cipta ini, hakim Distrik Florida, Rodney Smith, memutuskan mendukung penegasan Corellium LLC, bahwa  perangkat lunaknya yang meniru sistem operasi iOS yang berjalan pada iPhone dan iPad sama dengan “penggunaan wajar” karena bersifat “transformatif” dan membantu pengembang menemukan kelemahan keamanan.

Apple menuduh Corellium pada dasarnya mereplikasi iOS untuk membuat perangkat “virtual” yang dioperasikan iOS, yang “satu-satunya fungsi” adalah menjalankan salinan sistem yang tidak sah pada perangkat keras non-Apple.

Namun hakim  di Fort Lauderdale itu mengatakan Corellium “menambahkan sesuatu yang baru ke iOS” dengan membiarkan pengguna melihat dan menghentikan proses yang berjalan, mengambil snapshot langsung, dan melakukan operasi lainnya.

“Motivasi keuntungan Corellium tidak merusak pertahanan penggunaan wajarnya, terutama dengan mempertimbangkan keuntungan publik dari produk tersebut,” demikian  pertimbangan hakim Smith.

Hakim juga menolak argumen Apple bahwa startup Delray Beach bertindak dengan itikad buruk dengan menjual produknya tanpa pandang bulu, termasuk berpotensi ke peretas, dan dengan tidak mengharuskan pengguna melaporkan bug ke Apple.

Hakim  mengatakan bahwa argumen tersebut  sebagai  membingungkan.  Apple Inc. yang berbasis di Cupertino, California faktanya tidak memberlakukan persyaratan pelaporan di bawah Program Bug Bounty miliknya sendiri.

Sejauh ini Apple belum memberikan menanggapi atas permintaan komentar yang disampaikan Reutres.

Corellium membantah melakukan kesalahan. Justin Levine, salah satu pengacaranya, mengatakan dalam email bahwa keputusan tersebut membuat “temuan yang tepat sehubungan dengan penggunaan yang diperkenankan”.

Smith mengatakan Apple masih dapat mengajukan klaim hukum federal yang terpisah, bahwa Corellium mengelak dari tindakan keamanannya saat membuat perangkat lunaknya.

Corellium didirikan pada Agustus 2017. Menurut catatan pengadilan, Apple mencoba membeli Corellium mulai Januari 2018, tetapi pembicaraan terhenti pada musim panas. Apple menggugat Corellium pada Agustus 2019. Kasusnya adalah Apple Inc v. Corellium LLC, Pengadilan Distrik AS, Distrik Selatan Florida, No. 19-81160. [sm]

Tokotalk Dapat Suntikan $ 3,2 Juta

JAYAKARTA NEWS – Platform e-commerce Indonesia mendapatkan dana segar senilai $ 3,2 juta atau sekitar Rp 46,4 miliar yang direncanakan untuk meningkatkan pemasaran dan keamanan transaksi.

Tokotalk, platform e-commerce berbasis obrolan itu, meraih US $ 3,2 juta dari perusahaan modal ventura yang berbasis di AS, Altos Ventures.

Manajemen startup ini mengatakan, akan menggunakan modal segar itu untuk meningkatkan keamanan pembayaran dan alat pemasaran.

Didukung oleh startup teknologi Korea Selatan Codebrick, TokoTalk ditargetkan untuk memanfaatkan penjualan melalui platform media sosial seperti Instagram dan WhatsApp.

Sejak diluncurkan pada Maret 2018, perusahaan mengaku telah mendukung lebih dari 100.000 penjual online di platformnya. Tokotalk juga telah memfasilitasi transaksi senilai US $ 10 juta selama satu tahun.

Tokotalk juga melihat basis penggunanya tumbuh 35% setiap bulan selama enam bulan terakhir ini.

TokoTalk berharap dengan perbaikan yang akan dilakukannya, hal itu akan mendorong pertumbuhan transaksi, untuk mencapai target US $ 20 juta per bulan dalam pesanan.***

Startup: FishOn Permudah Nelayan Transaksi Hasil Tangkapan

JAYAKARTA NEWS – Jaman sudah berubah! Nelayan Indonesia, kini harus menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman yang banyak menuntut adanya pendekatan digitalisasi.  

Pemerintah pun  menyadari kemendesakan itu, sehingga melalui  Kementrian Koordinator  Bidang Kemaritiman, Rabu (10/4/2019) tekah  meluncurkan proyek percontohan Program 1 Juta Nelayan Berdaulat di Desa Ciwaru, Kabupaten Sukabumi.

Kemenko Kamaritiman dalam penjelasannya mengungkapkan, proyek percontohan ini adalah  tindak lanjut dari peluncuran Program 1 Juta Nelayan Berdaulat berbasis teknologi digital yang  dirilis  Menko Maritim Luhut Pandjaitan pada  Senin (8/4/2019) di Jakarta.

Mengutip data  UNDP tahun 2017, Luhut menjelaskan, potensi pendapatan kekayaan laut Indonesia  mencapai USD 2,5 triliun per tahun. “Kita baru mampu memanfaatkan sebesar 7 persennya saja, karena keterbatasan teknologi di bidang Maritim,” ujar  Luhut kepada  para nelayan  di Desa Ciwaru, Sukabumi.

Menurut Luhut, program 1 juta nelayan berdaulat yang dilaksanakan di Sukabumi ini, memberikan pelatihan kepada sekitar 1.000 orang yang terdiri dari nelayan. Mereka terdiri dari   ketua rukun nelayan tiap desa/kecamatan, pengurus/petugas koperasi nelayan, petugas TPI, pembina nelayan untuk memanfaatkan sebuah aplikasi digital.

Aplikasi tersebut dibuat oleh FishOn, sebuah perusahaan rintisan (startup) digital mitra Kemenko Bidang Kemaritiman.

Aplikasi berbasis android ini memiliki fitur informasi pencurian ikan, pengawetan ikan, penjualan ikan, komunikasi pencatatan hasil tangkapan ikan, panic button untuk permintaan bantuan dalam kondisi darurat, fitur pembayaran elektronik dan fitur belanja kebutuhan sehari hari.

Selain itu ada aplikasi penjualan dan manajemen gudang untuk koperasj nelayan, aplikasi lelang ikan online yang menghubungkan TPI, nelayan dan pedagang ikan, serta aplikasi website penjualan e-commerce ikan.

Tak hanya itu, FishOn juga mengembangkan device IoT untuk memberikan layanan internet murah ditengah laut, juga teknologi dari bahan alami yang membuat ikan tidak cepat membusuk dan tetap segar dalam 45 hari.

Menko Luhut mengatakan, dalam era digital dewasa ini, kekuatan informasi yang disampaikan secara cepat dan akurat menjadi sangat penting. “Oleh karena itu pengembangan ekonomi digital di berbagai sektor industri termasuk sektor kemaritiman menjadi sangat penting,” tambahnya.

Tentang program ini, pemerintah menargetkan jumlah peserta minimal 300.000 yang berasal dari 300 kabupaten/kota wilayah pesisir Indonesia hingga akhir tahun 2019. Sementara itu target utama program ini adalah nelayan.

“Kita akan bikin satu model dulu lalu jika sudah berjalan akan diduplikasikan di tempat-tempat yang lain,” jelas Luhut. Dia berharap kelangsungan program ini dapat dibantu oleh program CSR dari perusahaan-perusahaan besar selain Telkom, karena dampaknya akan menaikkan perekonomian para nelayan. “Tugas pemerintah disini adalah membantu apa yang bisa dibantu mempermudah kerja mereka seperti proses perizinan dll,” sambungnya.

Menko Luhut berharap dengan adanya aplikasi ini potensi laut Indonesia bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. “Selama ini kita hanya mengambil ikan tetapi tidak di manage, nah dengan adanya aplikasi ini kami harap para nelayan bisa mengambil ikan dengan maksimal dan mengelolanya dengan baik, Saya optimistis hal ini bisa membantu kita mengelola laut kita,” ujarnya.

Dengan program yang merupakan salah satu program unggulan Kemenko Bidang Kemaritiman ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan yang menurut data KKP tahun 2017 turut menyumbang 25% angka kemiskinan nasional.

Hadir dalam  acara peluncuran itu  Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum, Bupati Sukabumi Marwan Hamami, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi Usman Jaelani. Selain bertemu dengan warga nelayan di Desa Ciwaru, Menko Bidang Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan juga mengunjungi geopark Ciletuh dan TPI Palangpang.***

Startup Ini Sulap Mobil Super Jadul Siap Ngacir Berpetualang

JAYAKARTA NEWS – Penggemar mobil klasik barangakali sudah sangat mafhum dengan kerewelan klasik kendaraannya: lebih banyak waktu untuk mengoprek-opreknya ketimbang memanfaatkannya. Tapi, sebagai sebuah pembenaran tentang hobby kendaraan kuno tersebut, “justru itulah asyiknya.”

Untuk Anda penggemar mobil klasik, tetapi tidak ingin perjalanan advanture Anda tidak terganggu oleh mesin yang ngambek, kini sudah ada tawaran jalan keluar. Ini terutama untuk Anda yang bisa sedikit keluar dari pakem, bahwa mobil klasik itu ya harus ori luar dalam.

Untuk yang mau ori luar dalam, pada akhirnya akan kesulitan pada onderdil suku cadang. Tetapi permasalahan utama adalah kemunduran dari besi mesin utama sendiri karena persoalan waktu, yang secara natural itu memang terjadi. Penuaan!

Untuk Anda yang moderat, SUV jadul dan mobil petualangan gardan ganda Anda yang molek arsitekturnya itu, kini bisa dibantu dengan pendekatan teknologi baru, sehingga bisa diajak bertualang tanpa ngadat.

itu bagus – kecuali untuk semua bensin yang mengeluarkan limbah yang diperlukan untuk bahan bakar mereka pada perjalanan berkemah dan perjalanan indah melalui alam.

Kendaraan klasik seperti Land Rover Series 2a 1971, dpat kembali mengaspal nyaman dengan modiv elektrik.

Itulah yang dilakukan oleh sebuah startuo di Australia. Mulanya, perusahaan ini hanya memiliki modal Land Rover yang bernama Juniper. Mereka ingin mengkonversinya, untuk disewakan.

Untuk sebuah tour yang menantang, stratup ini menginginkan banyak kendaraan klasik yang bisa diubahnya menjadi clasic elektric cars.

Meraka pun melangkah mengumpulkan dana melalui kampanye di Indiegogo yang, secara mengejutkan banyak direspon warga net global dengan memberikan sumbangan lebih dari $ 10.000. Startup itu menargetkan dapat mengumpulkan $ 50.000 untuk menyediakan lebih banyak kendaraan yang mereba bisa ubah menjadi clasic electric cars.

Pembiayaan melalui fundraising itu diharapakan akan dapat memenuhi ambisi mereka untuk dapat menyediakan mobil klasik sewaan ke publik yang sudah tersedia setelah Juni mendatang untuk petualangan di Byron Bay, Blue Mountains, dan nge-drive dipantai lainnya yang indah di Australia. Untuk menyewa kendataan modif ini, cukup merogoh dompet $ 142.

Sebelum siapa pun dapat melakukan perjalanan dengan mobil listrik dengan apa yang oleh startup Jaunt disebut sebagai kendaraan “upcycled”, perusahaan ini harus memulainya dengan mobil pertama untuk dikonversi.

Proses konversi dimulai dengan melepas mesin, tangki bahan bakar, dan sistem pembuangan, dan kemudian memasukkan motor listrik, NetGain Hyper9 AC 100-kilowatt. Ada juga baterai, sistem pengisian, dan pengereman regeneratif yang masuk ke kendaraan lama tapi baru.

Bukan hanya kendaraan yang lebih tua dan usang yang dirombak dengan sentakan energi listrik. Pada bulan Februari, Porsche’s Macan SUV diumumkan sebagai kendaraan makeover listrik terbaru. E-Type Jaguar klasik akan kembali sebagai mobil sport elektrik.

Land Rover yang dikonversi oleh Jaunt hanyalah sebuah prototipe (yang belum selesai), tetapi itu akan memberi pengalaman bagi para pengemudinya untuk berpetualang menjelajahi Australia dengan mobil elektrik tapi klasik. ***

Swiss Bantu Startup Masuk Pasar Global

 

EKSPANSI startup ke pasar global diharapkan akan memperkuat brand Indonesia sebagai area industri kreatif dan digital untuk diekspor ke market internasional.

Ekspansi startup Indonesia ke pasar internasional juga diharapkan menjadi  salah satu skema untuk meningkatkan ekspor produk industri digital dan kratif di tanah air. Hal itu disampaikan Dirjen  Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementrian Perindustrian, Gati Wibawaningsih di Jakarta, Senin (11/2/2019).

“Kami berharap langkah ekspansi startup ke pasar internasional menjadi salah satu upaya peningkatan
ekspor produk industri digital dan kreatif, serta memperkuat brand Indonesia sebagai industri kreatif dan
digital,” kata Gati saat  pre-opening dan seminar Asian Entrepreneurship Training Program
(AETP) di Jakarta.

Pelatihan diisi oleh pembicara dari AETP, SwissCham, dan Estubizi Network. Mereka mengupas materi tentang
program, peran, dan pemberdayaan startup.

SwissChamp asosiasi perusahaan Swiss yang beroperasi di Indonesia, sehingga dengan mengikuti pelatihan ini, para pengusaha yang membangun startup dapat memperluas network.

Swiss-Indonesia Acceleration Startup Program ini dimaksudkan untuk mengakselerasi startup
di Indonesia, sehingga terbuka akses ekosistem startup antara Swiss dan Indonesia. Menariknya, program ini juga dilaksanakan secara  paralel di Swiss dan Indonesia dan waktunya pun berbarengan.  Tujuannya, melalui program ini peserta dari  Swiss dan Indonesia dapat berinteraksi.

Program ini  dilaksanakan  selama enam bulan dimulai pada April 2019. Pelatihan yang diberikan  berbasis simulasi, pembinaan tim individu, pencarian mitra, dan akses ke investor dan inkubator yang sesuai dengan  dengan usaha mereka, kata Gati.

Manajer Project Manager AETP Max Weber menilai, Indonesia punya banyak talenta kreatif dan inovatif, sehingga mereka layak mendapat dukungan untuk mengembangkan pasar dan jaringan ke tingkat
global lewat program ini.

“Startup di Indonesia perlu memahami bagaimana kebutuhan pasar di luar negeri, sehingga produk mereka bisa tembus pasar global,” tandas Weber. Dia yakin,  program ini dapat berjalan baik dan mampu meningkatkan kapasitas dan kapabiltas startup Indonesia.***

DISRUPTO 2018 Segera Digelar, 130 Pembicara Siap Tampil

DISRUPTO 2018 akan menjadi momentum yang mempertemukan pemerintah, venture capital, korporasi, institusi keuangan global, dan startups secara inklusif dalam rangka  memicu terciptanya kerjasama strategis dalam disrupsi perekonomian Indonesia melalui inovasi teknologi.

Menghadapi era disrupsi di berbagai sektor, WIR Group menggagas dan menggelar sebuah movement disrupsi yang bersifat inklusif DISRUPTO : The Movement to Disrupt & Transform The Nation pada 23-25 November 2018 mendatang di Plaza Indonesia Extension level 4, 5 dan 6.

Selain akan menyelenggarakan showcase technology, DISRUPTO yang tahun ini disponsori oleh Maybank Indonesia dan berkolaborasi dengan Plaza Indonesia sebagai shopping mall premium di Jakarta akan menjadi momen pemicu kerjasama antar pelaku ekonomi lokal maupun global demi mendukung perkembangan transformasi bisnis di Indonesia.

DISRUPTO juga akan diramaikan oleh lebih dari 130 pembicara, 200 lebih startups dengan berbagai latar belakang industri, 60 lebih exhibitors dan akan melibatkan lebih dari 500 volunteers. Gerakan DISRUPTO ini unik karena tidak hanya akan memaparkan disrupsi yang terjadi saat ini, namun juga disrupsi yang bisa terjadi di masa mendatang.

Bertujuan untuk merangkul pemerintah, startup dan para pelaku ekonomi dan teknologi global, perhelatan ini akan dihadiri oleh sejumlah lembaga Pemerintah Indonesia sebagai pembicara seperti, Moeldoko sebagai Kepala Staf Kepresidenan Indonesia, Rudiantara sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi Indonesia, dan Thomas Lembong sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Hadir juga untuk memberikan keynote speeches adalah CEO Plastic Energy Carlos Monreal, Presiden Direktur dan CEO Maybank Indonesia Taswin Zakaria, dan Vice President S&M Asia-Pacific Groupe Renault Guillaume Sicard.

Selain itu, institusi keuangan global seperti UBS, Julius Baer Group, Credit Suisse, serta venture capital seperti Kejora Ventures, Gobi Partners, Vertex Ventures, Saoraja Hub dan lainnya juga akan menghadiri acara ini untuk meninjau dan menangkap peluang dari lanskap startups di Indonesia.

Daniel Surya, CEO & Co-Founder WIR Group sekaligus penggagas DISRUPTO mengatakan, “Kegiatan movement disrupsi ini tidak hanya sebagai wadah yang mempertemukan berbagai pihak dan kegiatan panel diskusi semata, namun juga bertujuan untuk memicu terciptanya kerjasama strategis antar pelaku ekonomi dalam menghadapi transformasi bisnis di Indonesia.”

Sebagai salah satu bank swasta terkemuka di Indonesia, PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank) juga turut serta mendukung kegiatan DISRUPTO 2018 ini. Jenny Wiriyanto, Direktur Community Financial Services Maybank Indonesia mengatakan, “DISRUPTO merupakan ajang yang tepat bagi Maybank untuk memberikan dukungan di tengah maraknya pertumbuhan ekonomi kreatif dari berbagai bidang. Inovator untuk terus bertumbuh secara berkesinambungan memerlukan informasi, edukasi, investasi, serta kolaborasi.”

“Maybank berharap DISRUPTO yang merupakan ajang berkumpulnya para innovator, dapat memberikan akses berbagi, networking, sehingga tercipta sinergi berskala. Melalui program ini juga diharapkan terjadi sharing economy di antara startups dan perusahaan besar sehingga tercipta economic of scale yang lebih besar, bahkan berskala global. Peran kami dalam DISRUPTO sangat sesuai dengan misi kami, yaitu Humanising Financial Services dimana kami senantiasa tumbuh dan berada di komunitas.”

Berbagai topik mengenai disrupsi yang telah mentransformasi bisnis serta kehidupan manusia dan  perkembangan lanskap startup Indonesia akan dibahas pada acara ini. Acara ini akan terbagi dalam beberapa zona bagian seperti Future Tech Zone yang akan membahas bagaimana Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR) & Artificial Intelligence (AI) mendisrupsi berbagai aspek kehidupan, Green Tech Zone. Dalam Green Tech Zone akan dibahas bagaimana teknologi hijau sudah mulai mengubah kehidupan sehari-hari; antara lain dengan kendaraan tenaga listrik ramah lingkungan. Kemudian ada pula Startups Zone yang akan mempertemukan pelaku startups dengan para investor,

The Brand Zone yang akan menampilkan beberapa merek yang mengikuti perkembangan zaman, The Creative Product Zone yang akan menghadirkan produk-produk kreatif yang belum diproduksi massal dan The Digital Content Zone yang membicarakan bagaimana membuat konten digital berkualitas. Zona-zona tersebut akan tersebar di lantai 4, 5 & 6 Plaza Indonesia Extension. (pik)

 

 

Pemerintah Gendeng Blibli.com Tumbuhkan Startup

KEMENTRIAN  Perindustrian menggandeng  Blibli.com untuk menumbuhkan pelaku usaha rintisan digital (startup) di Indonesia.

Langkah itu sebagai  salah satu jawaban dalam mewujudkan target penciptaan wirausaha industri baru sebanyak 20.000 orang pada  2019.

“Kami berkomitmen terus mengembangkan industri kecil dan menengah (IKM) di dalam negeri. Nah, pelaku startup memiliki peran yang sangat penting terhadap perluasan pasarnya,” kata Direktur Jenderal IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta, Jumat (7/9).

Gati menjelaskan, IKM berpotensi besar dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Hal itu karena  IKM menjadi sektor mayoritas dari populasi industri di Indonesia dan 60 persen tenaga kerja industri berada di sektor IKM.

“Pemberdayaan IKM merupakan salah satu program prioritas nasional di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0,” tuturnya.

Dengan memanfaatkan teknologi digital, diyakini dapat memberi keuntungan bagi pendapatan pelaku usaha hingga naik 80 persen.

“Di tengah tren ekonomi digital yang berkembang pesat, IKM didorong aktif memasarkan produknya melalui perdagangan online,” ujar Gati. Oleh karena itu, Kemenperin telah menyiapkan platform digital melalui e-Smart IKM.

“Selain IKM membuka peluang untuk kesempatan kerja baru yang akan bertambah, juga menjadikan pelaku IKM lebih inovatif,” imbuhnya. Pelaku IKM kini bahkan dapat mengakses pasar global.

Itulah sebabnya  Kemenperin mendukung kegiatan Blibli.com yang menggelar  ajang kompetisi pencarian pengusaha kreatif muda  “The Big Start Indonesia (TBS)”.

Program  yang  diluncurkan sejak tahun 2016 ini, dengan misi menanamkan jiwa inovasi dan kreativitas melalui pemberian pengetahuan, pelatihan, modal, network, dan sumber daya yang dibutuhkan oleh pengusaha kreatif muda tersebut. TBS Season 3 tahun ini mampu merangkul sebanyak 15.000 pengusaha kreatif muda, yang kemudian dikurasi menjadi 20 finalis terbaik Indonesia.

Peserta yang berhasil lolos akan lanjut ke tahap karantina, di mana mereka dibekali ilmu mengenai pemasaran e-commerce, pemanfaatan media sosial, pengelolaan keuangan, pembayaran pajak, serta fasilitasi perlindungan hak kekayaan intelektual.

“Hingga akhirnya akan terpilih 4 finalis untuk maju ke grand final,” ungkap Gati. Penyelenggaraan TBS Season 3 akan semakin menarik dengan adanya Special Project di malam grand final serta roadshow di lima kota meliputi Bandung, Yogyakarta, Bali, Surabaya, dan Jakarta.***