Penting, Digitalisasi Pengelolaan Energi IKM Nasional untuk Pemulihan Bisnis Pascapandemi

JAYAKARTA NEWS – Schneider Electric, perusahaan global dalam transformasi digital di pengelolaan energi dan otomasi, mengingatkan perlunya industri kecil menengah (IKM) nasional melakukan perencanaan pengelolaan energi yang lebih strategis dan berkelanjutan untuk mengambil peluang besar dalam percepatan pemulihan bisnis pasca pandemi. Hal ini dimungkinkan dengan penerapan teknologi digital dan otomasi, serta mengubah cara dan pola pikir dalam pengelolaan bisnisnya.

“Pengelolaan energi menjadi salah satu area kritis dimana resikonya cukup tinggi dan area bisnis yang harus dioptimalkan oleh IKM agar dapat kompetitif dan berkelanjutan. Di era margin yang semakin ketat dan peningkatan daya saing, mengembangkan rencana pengelolaan energi memungkinkan IKM untuk memangkas biaya operasional, meningkatkan efisiensi, dan memastikan kelangsungan bisnis dalam lanskap energi yang terus berubah,” kata Hedi Santoso, Business Vice President Industrial Automation Schneider Electric Indonesia & Timor Leste dalamm siaran pers di Jakarta, Rabu (3/3) 

Hedi menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan energi dapat membantu perusahaan menganalisa konsumsi energinya, dan mengambil keputusan berdasarkan data real-time untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya energi hingga 50 persen. Digitalisasi memungkinkan perusahaan memiliki kemampuan analisa prediktif berbasis data atas kemungkinan terjadinya gangguan serta melakukan tindakan preventif sebelum terjadi kegagalan yang dapat merugikan perusahaan, sehingga menciptakan lingkungan operasional yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Sebagai sektor mayoritas yang mendominasi dari jumlah populasi industri manufaktur di Indonesia, IKM memiliki peran signifikan dalam mendorong percepatan sektor manufaktur nasional pascapandemi. Sektor manufaktur merupakan salah satu sektor andalan Indonesia dan menjadi sektor prioritas dalam revolusi industri 4.0 yang diharapkan mengantarkan Indonesia menjadi 10 besar kekuatan ekonomi dunia berdasarkan PDB pada tahun 2030 mendatang. Oleh karena itu, kesuksesan program Making Indonesia 4.0 dan percepatan pemulihan ekonomi tidak dapat terlepas dari peran IKM nasional.

Pemerintah melalui Ditjen IKMA telah melakukan berbagai upaya dalam mendukung pengembangan sektor IKM nasional antara lain pembinaan dan peningkatan kemampuan sentra IKM, pengembangan produk IKM, penumbuhan wirausaha baru IKM, restrukturisasi mesin dan peralatan IKM, serta e-Smart IKM. Dalam masa pandemi, pemerintah juga telah memberikan berbagai stimulus untuk membantu sektor IKM bertahan mengingat sektor ini cukup terdampak signifikan.  Tentunya berbagai program dan stimulus ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pelaku IKM nasional dengan tidak hanya berorientasi pada pemulihan bisnis jangka pendek namun juga jangka panjang. Hal ini agar sektor IKM nasional dapat kompetitif menghadapi persaingan industri global masa depan yang semakin menekankan pada prinsip-prinsip keberlanjutan.

Pandemi mengingatkan  bahwa krisis dapat terjadi kapan saja bahkan ketika ekonomi dalam kondisi stabil. Pergerakan bisnis terhambat, banyak sektor industri terpukul dan tidak sedikit yang harus menelan kepahitan. Namun begitu, banyak juga pelaku industri yang dapat bertahan di masa krisis ini. Mereka adalah perusahaan yang telah memulai transformasi digital.

Belajar dari pandemi covid-19, kemampuan perusahaan untuk dapat mengelola operasionalnya secara lebih efisien dan dapat tetap produktif di tengah pembatasan interaksi sosial menjadi faktor penting dan menentukan tingkat ketahanan bisnisnya. Efisiensi operasional dalam hal ini adalah bagaimana perusahaan menjalankan kegiatan bisnisnya melalui pengelolaan sumber daya yang cerdas untuk menghasilkan produktivitas yang lebih baik dan dapat mengurangi beban operasional. Salah satu beban operasional yang berkontribusi cukup signifikan terhadap biaya produksi adalah biaya energi dengan kisaran antara 20-30 persen.

Kurangi Dampak Lingkungan

Kesadaran konsumen akan korelasi antara pilihan produk yang dikonsumsi dengan konstribusinya terhadap dampak lingkungan terus meningkat. Gerakan mengurangi penggunaan kantong plastik, menggunakan produk daur ulang, menghemat penggunaan listrik dan air sedikit demi sedikit mulai menjadi kebiasaan baru. Konsumen di negara yang sudah lebih maju bahkan telah meminta brand produk yang dikonsumsinya untuk secara transparan mengaudit kegiatan operasionalnya berdasarkan prinsip-prinsip keberlanjutan termasuk salah satunya penurunan emisi gas rumah kaca dengan pengelolaan energi yang lebih baik dan pemanfaatan energi terbarukan.

Konsumsi energi listrik diperkirakan akan meningkat signifikan dalam dua dekade ke depan yang diakibatkan oleh pertumbuhan populasi masyarakat yang diprediksi mencapai 8,5 miliar orang pada 2030, dan produksi energi listrik akan bertumbuh lebih dari 70 persen dalam 20 tahun ke depan yang dipicu oleh urbanisasi dan standar hidup yang tinggi. Tuntutan konsumen masa depan terhadap keberlanjutan lingkungan ini akan menciptakan standar baru di industri dan menjadi alarm untuk segera mengambil langkah perubahan dalam pengelolaan kegiatan bisnisnya. Sektor IKM nasional harus jeli dalam mengantisipasi tantangan masa depan ini terutama agar dapat lebih kompetitif dalam menggarap pasar global.

Pemerintah Indonesia tahun lalu meningkatkan target Nationally Determined Contribution (NDC) untuk penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen melalui pendanaan APBN/APB serta 41 persen dengan bantuan internasional pada 2030, sebagai aksi lanjutan dari komitmen global dalam pertemuan G20 di Pittsburgh tahun 2009 lalu. Pemerintah Indonesia juga menyatakan komitmennya untuk menggunakan energi terbarukan yang ditargetkan mencapai 23% dari total penggunaan energi pada 2030 dan 31% pada 2050.

Dalam mencapai penurunan emisi ini, pemerintah berfokus pada 5 (lima) sektor yaitu sektor energi, industri, kehutanan, pertanian dan limbah. Di sektor industri sendiri terdapat 3 sumber emisi gas rumah kaca yang menjadi perhatian, yaitu penggunaan energi sekitar 40%, dan sisanya berasal dari teknologi proses dan limbah yang dihasilkan industri.

Pengelolaan energi berbasis teknologi digital menjadi agenda utama para pemimpin dunia untuk menciptakan hubungan yang lebih berkelanjutan antara konsumsi energi dan pertumbuhan bisnis. Cepat atau lambat, mau tidak mau, sektor industri termasuk IKM nasional harus beralih dari pengelolaan konvensional dan membuat rencana pengelolaan energi yang lebih strategis.

“Sekarang adalah waktunya bagi IKM nasional yang ingin memperkuat keunggulan kompetitif mereka, meningkatkan profitabilitas mereka, memenuhi ekspektasi pemerintah dan konsumen masa depan, serta memastikan kelangsungan bisnis mereka, untuk membuat rencana pengelolaan energi secara lebih strategis. Di Schneider Electric, kami menyaksikan langsung bagaimana klien kami dari sektor IKM dapat bertahan di masa pandemi dengan semakin produktif dan efisien melalui pemanfaatan solusi digital kami yang terbuka dan dapat diskalakan,” tutup Hedi. (Ernaningtyas)

Pemprov Jatim Luncurkan MJK Tahun 2020

Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak memberikan presntasi kepada sejumlah pelaku usaha. (foto istimewa)

JAYAKARTA NEWS – Seluruh pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM), Strat Up dan para Generasi Milenial di Jawa Timur diharapkan untuk bisa memanfaatkan program Milenial Job Center (MJC) yang akan diluncurkan oleh Pemerintah Provinsi Jatim pada 2020 mendatang.

Apa manfaat MJC ? Pelaku usaha dapat menjawab berbagai kendala yang mereka hadapi. Seperti soal pemasaran atau promosi lewat media sosial, mencari market, packaging produk, memasang iklan produk di google ads atau facebook ads, serta pembuatan website.

Untuk mengatasi kendala itu, Pemprov Jatim menghadirkan MJC dengan menyediakan ekosistem dunia kerja dan dunia usaha di era industri 4.0. Program tersebut akan menjembatani antara pencari kerja atau penyedia jasa (talent) dengan client, serta dibimbing oleh mentor berpengalaman.

MJC sendiri rencananya akan dihadirkan di lima Bakorwil (Badan Koordinasi Wilayah) di Jatim yang meliputi, Madiun, Malang, Jember, Bojonegoro, dan Pamekasan. Para talent dapat memanfaatkan program tersebut untuk pengembangan kompetensi yang menekankan pada On The Job Learning.

Menurut Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak saat menghadiri Seminar dan Sosialisasi “Startup” tech for 4 Industry yang diselenggarakan di Gedung Co Working Space, Jl. Pacar Surabaya, Rabu (4/9) sore, bahwa dalam mengembangkan bisnis di era industri 4.0, para pelaku IKM terkadang mengalami berbagai kendala.

Kendala tersebut diantaranya soal pemasaran atau promosi lewat media sosial, mencari market, packaging produk, memasang iklan produk di google ads atau facebook ads, pembuatan website, serta yang lainnya. Termasuk kendala dalam hal menemukan jasa orang atau perusahaan yang bisa mengerjakannya.

Diharapkan, melalui program tersebut dapat menjawab berbagai kendala yang mereka hadapi. Seperti soal pemasaran atau promosi lewat media sosial, mencari market, packaging produk, memasang iklan produk di google ads atau facebook ads, serta pembuatan website.  

Sementara disisi lain para pelaku startup, serta generasi milenial yang berminat dan mampu mengerjakan kendala-kendala tersebut, justru kebingungan untuk mencari client. Sebab, biasanya para client menginginkan orang atau perusahaan yang sudah berpengalaman.

Pria yang pernah menjadi Bupati Kab. Trenggalek ini mencontohkan, beberapa mentor tersebut adalah GoJek, Gapura Digital, Amazon Web Service, dan Google. Para mentor ini akan membimbing talent dalam mengerjakan proyek hingga mampu mandiri.

“Para talent, baik personal, atau startup, akan diberikan sebuah pekerjaan temporer, seperti proyek atau tugas berbayar dari client dunia usaha, contohnya IKM,” katanya.

Kehadiran MJC diharapkan ikut memacu tumbuhnya Start Up di Jatim yang sampai saat ini jumlahnya sudah mencapai 1.407 dari berbagai macam usaha.

Manfaat bagi talent, akan mendapat pengalaman mengerjakan proyek, sehingga bermanfaat untuk curriculum vitæ (CV) mereka. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya proyek, tentu mereka akan semakin ahli dan pendapatannya pun juga semakin besar.

“Sementara bagi client, seperti IKM, mereka bisa memilih talent sesuai budget yang dimiliki, mulai yang nol pengalaman, sampai yang sudah berpengalaman,” katanya.

Atas berbagai manfaat tersebut, Wagub Emil mengajak pelaku IKM, Startup, dan Generasi Milenial untuk memanfaatkan dan menyukseskan MJC yang direncanakan resmi diluncurkan pada 2020 mendatang.

Wagub Emil optimis, hadirnya MJC ini selain mampu mendorong tumbuhnya Start Up, juga semakin mendorong meningkatnya sektor industri di Jatim, yang berkontribusi besar terhadap perekonomian Jatim.

Berdasarkan data BPS, dari total keseluruhan PDRB semester I-2019 yang mencapai Rp. 1.147,22 Triliun (ADHB), sebanyak 29,76 % disumbangkan oleh sektor industri.

Sementara itu, berdasarkan data Disperindag Jatim, jumlah industri kecil di Jatim per triwulan II Tahun 2019 mencapai 793.819 unit usaha yang mempekerjakan 1.838.762 pekerja (57,95% dari total seluruh tenaga kerja di Jatim).

Pada periode yang sama, jumlah industri menengah di Jatim mencapai 22.637 unit usaha dengan 972.372 pekerja (30,45% dari total tenaga kerja di Jatim).

Hadir dalam kesempatan ini, para pelaku Start Up dan IKM di Jatim, serta para perwakilan kampus dan sekolah. (poedji)

Pemerintah Gendeng Blibli.com Tumbuhkan Startup

KEMENTRIAN  Perindustrian menggandeng  Blibli.com untuk menumbuhkan pelaku usaha rintisan digital (startup) di Indonesia.

Langkah itu sebagai  salah satu jawaban dalam mewujudkan target penciptaan wirausaha industri baru sebanyak 20.000 orang pada  2019.

“Kami berkomitmen terus mengembangkan industri kecil dan menengah (IKM) di dalam negeri. Nah, pelaku startup memiliki peran yang sangat penting terhadap perluasan pasarnya,” kata Direktur Jenderal IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta, Jumat (7/9).

Gati menjelaskan, IKM berpotensi besar dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Hal itu karena  IKM menjadi sektor mayoritas dari populasi industri di Indonesia dan 60 persen tenaga kerja industri berada di sektor IKM.

“Pemberdayaan IKM merupakan salah satu program prioritas nasional di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0,” tuturnya.

Dengan memanfaatkan teknologi digital, diyakini dapat memberi keuntungan bagi pendapatan pelaku usaha hingga naik 80 persen.

“Di tengah tren ekonomi digital yang berkembang pesat, IKM didorong aktif memasarkan produknya melalui perdagangan online,” ujar Gati. Oleh karena itu, Kemenperin telah menyiapkan platform digital melalui e-Smart IKM.

“Selain IKM membuka peluang untuk kesempatan kerja baru yang akan bertambah, juga menjadikan pelaku IKM lebih inovatif,” imbuhnya. Pelaku IKM kini bahkan dapat mengakses pasar global.

Itulah sebabnya  Kemenperin mendukung kegiatan Blibli.com yang menggelar  ajang kompetisi pencarian pengusaha kreatif muda  “The Big Start Indonesia (TBS)”.

Program  yang  diluncurkan sejak tahun 2016 ini, dengan misi menanamkan jiwa inovasi dan kreativitas melalui pemberian pengetahuan, pelatihan, modal, network, dan sumber daya yang dibutuhkan oleh pengusaha kreatif muda tersebut. TBS Season 3 tahun ini mampu merangkul sebanyak 15.000 pengusaha kreatif muda, yang kemudian dikurasi menjadi 20 finalis terbaik Indonesia.

Peserta yang berhasil lolos akan lanjut ke tahap karantina, di mana mereka dibekali ilmu mengenai pemasaran e-commerce, pemanfaatan media sosial, pengelolaan keuangan, pembayaran pajak, serta fasilitasi perlindungan hak kekayaan intelektual.

“Hingga akhirnya akan terpilih 4 finalis untuk maju ke grand final,” ungkap Gati. Penyelenggaraan TBS Season 3 akan semakin menarik dengan adanya Special Project di malam grand final serta roadshow di lima kota meliputi Bandung, Yogyakarta, Bali, Surabaya, dan Jakarta.***

Sektor Logam Dominasi 70 Persen Transaksi Online

PELAKU industri kecil dan menengah (IKM) nasional terus didorong agar dapat memanfaatkan fasilitas promosi online melalui platform yang dibuat oleh Kementerian Perindustrian, yang dinamakan e-Smart IKM. Hingga tahun 2017, program ini menghasilkan total nilai penjualan lebih dari Rp236 juta dengan kontribusi terbesar dari transaksi IKM logam yang mencapai 70 persen.  “IKM logam merupakan salah satu sektor yang potensial dari delapan sektor e-Smart IKM lainnya, seperti IKM makanan dan minuman, perhiasan, herbal, kosmetik, fesyen, kerajinan, furnitur, dan sektor kreatif,” kata Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih, di Jakarta, baru – baru ini.

Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih

Berdasarkan data e-Smart IKM yang dihimpun Kemenperin, terdapat salah satu IKM yang memiliki angka penjualan fantastis hingga 1.740 transaksi yang telah dilakukan. IKM tersebut adalah Linda Variasi milik Poniman (43), warga Pasuruan, Jawa Timur yang membuka toko onlinenya melalui Bukalapak.com.

Menurut Gati, Linda Variasi termasuk dalam IKM logam yang memproduksi berbagai komponen untuk otomotif, khususnya produk variasi dan onderdil kendaraan roda dua. “Poniman menawarkan sebanyak 71 macam produk dengan harga mulai dari Rp40 ribu sampai Rp110 ribu per produk,” ungkapnya.

Linda Variasi juga tergolong IKM yang cukup sukses berjualan di Bukalapak. Dia berhasil mendapatkan label pelapak terbaik dengan jumlah transaksi 15-30 pesanan per hari. “Sebelumnya, saya hanya mampu menjual lima produk setiap harinya dan hanya dijual di daerah lokal Jawa Timur dan Jawa Tengah,” ujar Poniman.

Saat ini, Poniman mengaku setiap bulan rata-rata mampu menjual sebanyak 450 produk kepada para pelanggannya yang berasal dari Sabang sampai Merauke. “Sekarang saya juga sudah punya pelanggan tetap di Maumere dan Papua,” imbuhnya.

Menurut ceritanya, Poniman melanjutkan bisnis keluarga di sektor IKM logam pengolahan dengan mesin industri rumahan sejak tahun 2015. Hingga kini, usahanya telah menyerap tenaga kerja 10 orang, di mana tiga orangnya bekerja di bagian pengemasan produk. “Dalam produksinya, kami menggunakan bahan baku lokal yang biasa dibeli di toko material di Pasuruan,” tuturnya.

Poniman termasuk salah satu peserta workshop e-Smart IKM di Sidoarjo pada September 2017. Dalam waktu delapan bulan berjualan online setelah mengikuti lokakarya tersebut, dia berhasil menjadi peserta e-Smart IKM yang dinilai sukses berjualan melalui marketplace. “Setelah saya belajar berjualan online dari program e-Smart IKM, saya langsung diajari tips dan trik tentang cara berjualan online yang bagus. Dalam waktu dua minggu saja sudah terlihat produk saya sudah banyak laku terjual di online,” paparnya.

Selain untuk memperluas akses pasar, program e-Smart IKM ini pun menjadi sistem database karena menampilkan profil, sentra, dan produk IKM sehingga bisa sebagai bahan analisa untuk melakukan pembinaan ke depannya. Selain itu dapat mengetahui data bahan baku IKM serta mesin dan peralatan atau teknologi yang dibutuhkan IKM.

Sejak diluncurkan pada Januari 2017 lalu, workshop e-Smart IKM telah diikuti sebanyak 1.730 peserta. Tahun ini, kegiatan tersebut dapat menggandeng 4.000 IKM di seluruh Indonesia dan 12.000 produk IKM masuk dalam marketplace. Program e-Smart IKM ini telah menjalin kerja sama dengan beberapa marketplace dalam negeri, antara lain Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Blibli, dan Shopee. ***