Startup Ini Sulap Mobil Super Jadul Siap Ngacir Berpetualang

JAYAKARTA NEWS – Penggemar mobil klasik barangakali sudah sangat mafhum dengan kerewelan klasik kendaraannya: lebih banyak waktu untuk mengoprek-opreknya ketimbang memanfaatkannya. Tapi, sebagai sebuah pembenaran tentang hobby kendaraan kuno tersebut, “justru itulah asyiknya.”

Untuk Anda penggemar mobil klasik, tetapi tidak ingin perjalanan advanture Anda tidak terganggu oleh mesin yang ngambek, kini sudah ada tawaran jalan keluar. Ini terutama untuk Anda yang bisa sedikit keluar dari pakem, bahwa mobil klasik itu ya harus ori luar dalam.

Untuk yang mau ori luar dalam, pada akhirnya akan kesulitan pada onderdil suku cadang. Tetapi permasalahan utama adalah kemunduran dari besi mesin utama sendiri karena persoalan waktu, yang secara natural itu memang terjadi. Penuaan!

Untuk Anda yang moderat, SUV jadul dan mobil petualangan gardan ganda Anda yang molek arsitekturnya itu, kini bisa dibantu dengan pendekatan teknologi baru, sehingga bisa diajak bertualang tanpa ngadat.

itu bagus – kecuali untuk semua bensin yang mengeluarkan limbah yang diperlukan untuk bahan bakar mereka pada perjalanan berkemah dan perjalanan indah melalui alam.

Kendaraan klasik seperti Land Rover Series 2a 1971, dpat kembali mengaspal nyaman dengan modiv elektrik.

Itulah yang dilakukan oleh sebuah startuo di Australia. Mulanya, perusahaan ini hanya memiliki modal Land Rover yang bernama Juniper. Mereka ingin mengkonversinya, untuk disewakan.

Untuk sebuah tour yang menantang, stratup ini menginginkan banyak kendaraan klasik yang bisa diubahnya menjadi clasic elektric cars.

Meraka pun melangkah mengumpulkan dana melalui kampanye di Indiegogo yang, secara mengejutkan banyak direspon warga net global dengan memberikan sumbangan lebih dari $ 10.000. Startup itu menargetkan dapat mengumpulkan $ 50.000 untuk menyediakan lebih banyak kendaraan yang mereba bisa ubah menjadi clasic electric cars.

Pembiayaan melalui fundraising itu diharapakan akan dapat memenuhi ambisi mereka untuk dapat menyediakan mobil klasik sewaan ke publik yang sudah tersedia setelah Juni mendatang untuk petualangan di Byron Bay, Blue Mountains, dan nge-drive dipantai lainnya yang indah di Australia. Untuk menyewa kendataan modif ini, cukup merogoh dompet $ 142.

Sebelum siapa pun dapat melakukan perjalanan dengan mobil listrik dengan apa yang oleh startup Jaunt disebut sebagai kendaraan “upcycled”, perusahaan ini harus memulainya dengan mobil pertama untuk dikonversi.

Proses konversi dimulai dengan melepas mesin, tangki bahan bakar, dan sistem pembuangan, dan kemudian memasukkan motor listrik, NetGain Hyper9 AC 100-kilowatt. Ada juga baterai, sistem pengisian, dan pengereman regeneratif yang masuk ke kendaraan lama tapi baru.

Bukan hanya kendaraan yang lebih tua dan usang yang dirombak dengan sentakan energi listrik. Pada bulan Februari, Porsche’s Macan SUV diumumkan sebagai kendaraan makeover listrik terbaru. E-Type Jaguar klasik akan kembali sebagai mobil sport elektrik.

Land Rover yang dikonversi oleh Jaunt hanyalah sebuah prototipe (yang belum selesai), tetapi itu akan memberi pengalaman bagi para pengemudinya untuk berpetualang menjelajahi Australia dengan mobil elektrik tapi klasik. ***

Petualangan Nan Menegangkan

TERSEBUTLAH Apooi, nama sebuah perkampungan, yang dihuni oleh para binatang yang hidup berdampingan saling menyayangi satu sama lainnya. Tinggal di sana antara lain keluarga singa,  banteng, jerapah, kuda, kucing, anjing dan ada juga koala. Pokoknya, hampir semua jenis binatang liar yang ada di hutan raya, ada di kampung Apooi.

Suatu ketika, keluarga singa Eben, bersama ayah dan ibunya, jalan-jalan ke hutam alam liar. Eben yang sudah mulai besar, diperkenalkan oleh ayah-ibunya ke hutan yang dihuni oleh binatang-binatang buas. Setelah melihat hutan belantara, Eben baru menyadari betala di rimba raya kehidupannya sangat keras, amat berbahaya kalau pergi sendiri tanpada didampingi orang tua.

Putra Koala mendengar cerita teman-temannya, kalau Eben bersama kedua orang tuanya baru saja jalan-jalan ke hutan. Putra pun menceritakan  petualangan Eben tersebut kepada Yanda  Koala. “Pasti asyik ya, kalau kita bisa jalan-jalan ke hutan raya. Kapan Yanda, kita bisa berpetualang?,” kata Putra merajuk kepada ayahnya.

Ayah Koala menasihati, bahwa tamasya ke hutan raya sangat berbahaya bagi keluarga Koala. Sambutan dan sikap hewan-hewan liar di hutan, pasti berbeda saat mereka melihat keluarga Singa dibandingkan dengan keluarga Koala. “Jangan nak, berbahaya. Kita sudah cukup nyaman hidup di perkampungan ini. Semua warga saling menghormati dan menyangi. Di alam raya, siapa yang lemah akan menjadi mangsa mereka yang kuat,” kata Yanda Koala.

Koala tidak puas dengan jawaban ayahnya. Saat malam tengah berbaring hendak tidur, dia memikirkan bagaimana caranya bisa jalan-jalan ke hutan raya. Tiba-tiba Putra Koala punya ide, itu diam-diam berangkat sendiri pada waktu menjelang subuh, saat kedua orang tuanya masih tidur lelap.

Benar, rencana itu pun dilakukan. Diam-diam dia menyelinap dan pergi ke arah hutan raya seperti didapat informasinya dari cerita kawan-kawannya. Singkat kata, sampailah dia di hutan raya. Saat setelah tengah hari, Putra sudah merasa kelelahan di hutan. Dia pun memutuskan untuk pulang. Tapi, dia lupa menandai sepanjang titik penting dalam rute perjalannya  waktu masuk hutan, sehingga kebingungan harus mengarah ke mana. Putra pun menangis, menyesali apa yang dia lakukan, tidak mau mendengar nasibat orang tuannya.

Putra tambah ketakutan lagi ketika ada Singa yang datang dan siap-siap menerkamnya. “Oooo…ada anak koala, lumayan dari pagi saya belum makan. Kamu pantas buat sarapan saya,” kata singa hutan sambil menunjukkan gigi dan kukunya yang tajam. Putra Koala takut sekali, sehingga kakinya gemetaran dan tidak kuat untuk melarikan diri. Saking takutnya, Putra sampai terkencing-kencing. Celananya basah.

Tiba-tiba tubuhnya diguncang-guncang. “Bangun Putra, ada apa. Kami mimpi buruk ya? Kamu pasti lupa berdoa tadi malam waktu mau tidur.” Rupanya, Mama Koala membangunkan Putra yang berminpi buruk.

“Maafin Putra ya Ma,” katanya. Dia kemudian menceritakan petualangan yang dialami dalam mimpinya, setelah sebelum tidur semalam dia berencana akan ke hutan raya sendirian secara diam-diam.

“Untunglah itu hanya mimpi,” kata Yanda Koala. “Kalau kamu benar-benar ke hutan raya sendiri, bukan tidak mungkin situasi buruk seperti itu terjadi,” timpal Yanda lagi. Putra Koala bersyukur, ia tidak jadi melakukan rencana untuk berpetualang sendirian ke hutan raya dengan mengabaikan nasihat orang tuanya. ***