Pameran Seni Rupa Klangenan Sehati ‘73

JAYAKARTA NEWS – Kebersamaan saat kuliah, dimanifestasikan dalam bentuk Pameran Seni Rupa Bersama “Sehati ‘73”. Bisa dipahami, mengingat para peserta pameran adalah komunitas lulusan Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) “ASRI” Yogyakarta, tahun 1973.

Tema pameran pun paralel dengan situasi psikologis yang mereka alami, yakni “Klangenan”. Pameran digelar di Balai Budaya Jl. Gereja Theresia no,17 Jakarta Pusat, dan dibuka pada tanggal 29 Juli 2022 – Pukul 19,00 WIB, dan berakhir 6 Agustus 2022. Hadir para undangan, pemerhati, pecinta (kolektor) karya seni, tokoh seni dan budaya, dan para seniman.

Poppy Dharsono

Acara pembukaan diisi performance kolaborasi dari Dahayu Nusantara dilanjutkan sambutan wakil sehati73 Bambang Gro dan sambutan dari perupa Dik Doank. Sedangkan, acara pembukaan oleh Poppy Dharsono dan penyerahan lukisan tanda terima kasih dari Bowo Subekti kepada Poppy Dharsono, Sugiarto kepada Dik Doank dan Bambang Gro kepada Dahayu Nusantara, dilanjutkan sesi foto bersama.

Sekilas Sehati’73

Kebersamaan saat duduk di bangku kuliah Jurusan Seni Lukis di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia “ASRI” Yogyakarta tahun 1973, membuat mereka berkumpul kembali dalam jeda waktu 49 tahun. Menjelang akhir dekade 1970 mereka berpisah dan masing masing mempunyai kegiatan dan profesi yang berbeda namun masih dalam koridor “seni”.

Berkarya bersama adalah sebuah kerinduan. Akhirnya pada tahun 2015 mereka dipertemukan dan sepakat untuk mempererat persahabatan dengan kegiatan bersama khususnya seni lukis, dalam satu wadah yaitu pameran “ Klangenan”.

Panitia mengajak para alumni seangkatan 1973 dari jurusan seni Kriya dan Ilustrasi untuk turut berpartisipasi. Panitia pun berharap, pameran itu dapat berkesinambungan ke pameran-pameran berrikutnya dengan mengajak teman-teman alumni yang lain.

Aktivitas itu juga didedikasikan bagi upaya teman-teman seniman seangkatan yang memerlukan dukungan. (rr)

Indonesia Fashion Week 2020, Inspirasi dari Borneo

Indonesia Fashion Week 2020–foto ipik

JAYAKARTA NEWS— ‘Tales of the Equator : Treasure of the Magnificent Borneo’ menjadi tema pilihan Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dalam ajang fashion dan budaya terbesar di tanah air, yaitu Indonesia Fashion Week (IFW).

Dalam helatan ke 9 ini, budaya Kalimantan  (suku Dayak, Kutai dan Banjar) ke mata dunia melalui fashion. Ketua Umum APPMI dan Presiden IFW, Poppy Dharsono  memaparkan, budaya Kalimantan yang diangkat kali ini merupakan komitmen nyata APPMI demi kemajuan dan pengembangan promosi khasanah Indonesia.

Ketua Umum APPMI,Presiden IFW, Poppy Dharsono–foto ipik

“Borneo adalah wilayah yang memiliki budaya yang sangat beragam dan  seperti tak pernah habis untuk menjadi inspirasi di industri fashion,” kata Poppy. Borneo akan ditransformasikan dalam  karya-karya desainer ternama melalui sejumlah kategori fashion antara lain ready to wear, conventional, kontemporer hingga modest fashion.

Keragaman budaya di Kalimantan akan terus berkembang dan menarik jika disatukan dengan identitas modern. “Karena akan melahirkan karya-karya yang indah dan mengagumkan,” imbuh Poppy.

Selain itu, perlindungan budaya dan sejarah Indonesia diharapkan makin meningkat. Dan diharapkan juga bisa menggerakjan ekonomi secara berkesinambungan terutama untuk pengrajin. Gelaran IFW, ungkap Poppy, memang didesain sebagai arena pengembangan kualitas dan kuantitas dan sumber daya pelaku industri fashion. Seperti diketahui, IFW 2019 lalu berhasil mencatat 126.000 pengunjung dan mengantongi nilai transaksu Rp 89,1 Miliar dengan 480 peserta pameran. (pik).