Menanti Pidato Yudiaryani

Prof Dr Hj Yudiaryani, MA, tokoh perempuan teater Yogyakarta sekaligus Guru Besar Teater ISI Yogyakarta. (foto: Bambang Wartoyo)

Sebagian teman memanggilnya Yudi. Ayahnya memanggil Ninik. Nama lengkapnya Yudiaryani. Jika ditulis komplet menjadi Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, MA.

Mengisi ulang tahun ke-47 Teater Alam Yogyakarta (4 Januari 2019), Prof Yudi yang juga anggota Teater Alam, akan menyampaikan Pidato Kebudayaan berdurasi antara satu sampai satu-setengah jam. Judul yang tercantum di undangan, ”Melacak Jejak Sumber Kreativitas Seni, Membangun Nilai-nilai Kebangsaan Indonesia”.

Tak pelak, Yudi menjadi sosok wanita teater yang cukup unik. Ia berteater di kampus, lalu menjajal kehidupan sanggar di Teater Alam. Jadilah Yudiaryani tidak saja mendapat didikan teater secara akademik, tetapi juga mendapat gemblengan ala sanggar.

Tonggak Yudiaryadi sebagai ”wanita teater” tercatat usai menamatkan pendidikan Strata 1 Sastra Perancis UGM. Minat yang besar pada teater, mendorong Yudi melanjutkan pendidikan Strata 2 (MA) di Theatre and Film  Studies, University of New South Wales/UNSW, Sydney, Australia.

Meniti karier sebagai dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, ia pun mengajar teater. Tidak saja mengajar, Yudi aktif berteater bersama mahasiswa ISI. Yudi bahkan pernah mendirikan kelompok seni (termasuk teater) bersama Daru Maheldaswara (jurnalis, anggota Teater Alam) dan Memet Chairul Slamet (kelompok musik etnik Gangsadewa). Hingga kini, ia tercatat sebagai Pimpinan dan Sutradara Artistik Lembaga Teater Perempuan (LTP) Yogyakarta.

Bergabung ke Teater Alam memenuhi ajakan Azwar AN, tahun 1988. Padahal, waktu itu, Yudi tengah aktif dalam diskusi Galatama Teater yang digagas Umar Kayam. Sebuah terobosan guna menyikapi kehidupan teater di Yogya yang mulai kurang darah. ”Setelah saya bergabung ke Teater Alam, tidak lagi terlibat di Galatama Teater,” ujar wanita kelahiran Jakarta, 30 Juni 1956 itu.

Bersama Teater Alam, Yudi terlibat di pementasan Caligula (Albert Camus) tahun 1988. Tak kurang dari 40 orang anggota Teater Alam terlibat dalam pementasan itu. Di antara mereka, ada nama-nama senior seperti Meritz Hindra, Moortri Purnomo, Kahar, dan Gunadi Puspowijoyo.

Yudiaryani dan Gunadi Puspowijoyo dalam lakon Caligula yang dipentaskan Teater Alam tahun 1988. (dok. Teater Alam)

Yudi ”Ninik” makin serius menggeluti teater, saat mengambil program doktor (Strata 3) Seni Pertunjukan dan Ilmu Budaya UGM. Berkat intensitas pengabdian di dunia pendidikan teater pula, ia kini menjadi Guru Besar Teater di ISI Yogyakarta.

Menjabat Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, Yudi juga masih mengajar di Jurusan Teater, di samping mengajar, menjadi penguji dan pembimbing Program Penciptaan dan Pengkajian Pascasarjana ISI Yogyakarta, ISBI Bandung, ISI Surakarta, dan Pascasarjana UGM.

Ultah Teater Alam

Peringatan ulang tahun Teater Alam ke-47, sedia digelar Kamis, 3 Januari 2019 di Societet, Taman Budaya Yogyakarta pukul 19.00. Selain pemotongan tumpeng oleh pendiri sekaligus guru Teater Alam, Azwar AN juga akan dilakukan seremoni peluncuran buku ”Trilogi Teater Alam”.

”Rangkaian acara pembukaan itu dilakukan di ruang depan Societet. Setelah itu, hadirin masuk ke ruang dalam untuk mendengarkan pidato kebudayaan dari Prof Yudiaryani,” ujar Edo Nurcahyo, Pimpro acara, seraya menambahkan, ”teman-teman masih mengerucutkan gagasan format acara.”

Ada banyak materi acara yang siap disajikan menandai acara bersejarah malam itu. Aktor pantomim kawakan, Jemek Supardi dikabarkan siap tampil. Bahkan pentolan kelompok musik Gangsadewa, Memet Chairul Slamet disebut-sebut akan mempercantik jalannya acara dengan penataan musik yang ciamik.

Selain mereka, anggota Teater Alam Nono Diono dan Bambang Bujel dikabarkan sudah siap meluncurkan lagu khusus Teater Alam. ”Benar. Banyak materi acara yang siap ditampilkan. Ada yang siap membaca puisi, monolog, dan lain-lain. Kita lihat sajalah nanti tanggal 3 Januari,” ujar Edo. (rr)

Teater Alam dalam Kemasan Trilogi Buku

Azwar AN saat masih berakting, beberapa tahun lalu. (foto: dok Teater Alam)

Mencatatkan sejarah, tidak akan cukup hanya dalam satu kemasan buku. Terlebih, sejarah dari sebuah kelompok teater tertua di Yogyakarta dengan tokoh pendirinya Azwar AN. Karenanya, menyongsong ulang tahun ke-47, 4 Januari 2019, Teater Alam bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi DI Yogyakarta akan membukukan Azwar AN dan Teater Alam dalam format trilogi buku (tiga buku dalam satu kemasan).

Buku ke-1 akan memotret sosok Azwar AN. Ia mendirikan Teater Alam 4 Januari 1972, setelah beberapa hari sebelumnya, tepatnya akhir tahun 1971 berselisih pendapat hebat dengan WS Rendra, jelang pementasan Bengkel Teater. Hebatnya, kedua sahabat itu, Rendra dan Azwar tetap saling respek satu sama lain. Rendra begitu sayang Azwar, sampai-sampai menuliskan naskah khusus “Dunia Azwar”.

Sebaliknya, Azwar begitu memuja Rendra. Seperti dalam peringatan tujuh hari wafatnya Rendra beberapa tahun lalu, spontanitas ia mengajak beberapa anak didiknya untuk memainkan mini kata Bip Bop karya Rendra. Ia bertelanjang dada bersama pemain mini kata lain, dan menyemarakkan acara peringatan tujuh hari kepergian Rendra. Masih banyak kisah Azwar AN yang sangat menarik, yang tertuang dalam buku ke-1.

Memperingati tujuh hari meninggalnya Rendra beberapa tahun lalu, Azwar AN spontan mengajak beberapa anggota Teater Alam memainkan drama mini kata Bip Bop karya Rendra. (foto: dok Teater Alam)

Buku ke-2 tentang Sejarah Teater Alam (Teater Alam di Panggung Zaman). Sejak didirikan tahun 1972, kelompok teater yang awalnya bermarkas di Jl Sawojajar 25 Yogyakarta itu, telah melahirkan banyak manusia sukses. Sukses di bidang keaktoran, maupun sukses di bidang-bidang yang lain. Siapa sangka, Azwar AN harus berjuang cukup lama untuk menghadapi kritik tak kunjung usai. Kritik yang awalnya menyebutkan bahwa Azwar (dan Teater Alam) belum bisa lepas dari gaya Bengkel Teater Rendra.

Azwar tak habisi pikir. Bagaimana ia dikritik sebagai pengikut gaya Rendra, sementara ia dan Rendra bersama-sama mendirikan Bengkel Teater? Tapi teaterawan gaek yang kini sudah berusia lebih 80 tahun itu, tidak pernah memusingkan kritik dan pendapat orang. Suatu hari ia mengatakan, “Tugas seniman adalah berkarya. Setelah karya dipersembahkan ke audiens, ya sudah. Diterima atau tidak, itu hak audiens. Tugas seniman, terus berkarya.” Buku ini juga menyajikan sisi-sisi lain seorang Azwar yang belum banyak diketahui masyarakat.

Adapun buku ketiga adalah’’Testimoni tentang Azwar AN dan Teater Alam’’. Di sini, mewadahi puluhan testimoni terpilih, baik dari para tokoh di luar Teater Alam, maupun dari para anggota Teater Alam. Baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak aktif. Sahabat Azwar seperti Ashadi Siregar, Idham Samawi, Sitoresmi Prabuningrat, Jose Rizal Manua, Butet Kertarejasa dan lain-lain menulis untuk buku ke-3.

Sedangkan pemberi kesaksian lain adalah para anggota Teater Alam. Kesaksian mereka begitu warna-warni. Ada yang terkesan karena empat bulan pertama masuk sanggar hanya disuruh menyapu lantai, menyiram tanaman, dan berbicara dengan bunga-bunga. Ada yang terkesan dengan tipikal Azwar yang kalau sedang latihan begitu meledak-ledak. Tidak hanya makian, terkadang sandal jepit ikut melayang. Masih banyak kesan-kesa menarik yang mereka tuturkan.

Satu hal yang menjadi benang merah dari kesemuanya adalah, bahwa akhirnya muncul satu kesadaran, nyantrik di Teater Alam ternyata tidak hanya belajar akting, tidak hanya belajar tentang teater, tetapi belajar tentang hakikat kehidupan. Bahkana ada satu penulis yang mengatakan, “Teater Alam adalah Universitas Kehidupan”.

Buku ditulis oleh tim yang berjumlah belasan orang, terdiri atas para penulis, pewawancara, periset naskah, hingga petugas transkrip. Beberapa nama penulis antara lain Bambang J Prasetya, Daru Maheldaswara, Gde Mahesa, Wahyana Giri, Nur Iswantara, Bambang Wartoyo, Odi S, Latief, dll. Sedangkan yang bertindak sebagai kurator naskah sekaligus penyunting adalah Roso Daras dan Yudiaryani.

Roso Daras adalah jurnalis yang kemudian menekuni dunia penulisan dan penerbitan buku. Daras adalah anggota Teater Alam angkatan tahun 80-an. Sedangkan, Yudiaryani, saat ini adalah guru besar teater sekaligus Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Yudi bergabung dengan Teater Alam tahun 1988. (rr)

Azwar AN “Si Slentem”

Azwar AN dan penulis.

SEBAGAI teatrawan, nama Azwar AN berada pada jajaran atas sekelas Rendra. Keduanya sama-sama mendirikan Bengkel Teater yang legendaris itu. Bahwa kemudian di tahun 1972 Azwar AN memutuskan hengkang dari Bengkel Teater, dan mendirikan Teater Alam, adalah sebuah hikayat yang panjang.

Jauh sebelum mendirikan Bengkel Teater, Azwar pada usia 17 tahun sudah meneguhkan sikapnya sebagai orang teater. Ia membuat naskah dan mementaskannya di Lampung, sekitar tahun 60-an. Tak lama kemudian, ia menuju kota Yogyakarta untuk lebih menggali dan mengembangkan bakatnya berteater.

Sejak itulah, Azwar lebih Yogya dari orang Yogya. Sekalipun logat bicaranya tetap kental logat Sumatera, tapi Azwar bukannya tidak menguasai bahasa Jawa. Letak uniknya justru tampak ketika ia ngomong Jawa. Di kuping, bukan logat aneh yang terdengar, tetapi logat khas-lucu, dan orang (Yogya) memakluminya dengan sangat.

Azwar AN saat menghadiri acara Pesatu.

Penulis tidak menyaksikan semua peran yang dimainkannya di atas panggung teater. Alasannya sederhana: Beda umur! Tapi dari sepenggal kala penulis bersamanya di Teater Alam, sosok Azwar AN ini mengingatkan pada karakter Slentem pada naskah drama realis karya Danarto (alm): Obrok Owok-owok, Ebrek Ewek-ewek.

Tokoh Slentem yang mewakili kaum proletar, seorang tukang sapu di Pasar Beringharjo. Bukan tokoh utama dalam lakon itu, tetapi Slentem adalah suh, pengikat cerita. Tokoh-tokoh seperti Tomi, Profesor, Sumirah juragan batik, dan Kusningtyas terlibat konfllik yang dibangun dengan apik oleh Danarto. Soal-soal sepele, dibalut cinta segitiga Tomi – Sumirah – Kusningyas yang putri profesor, diikat oleh narasi dominan seorang Slentem.

Bagaimana Slentem kemudian menjelma menjadi tokoh tritagonis, tokoh yang menyatukan peran antagonis dan protagonis. Lebih dari itu, Slentem juga menjelma menjadi supranatural-absurd ketika tokoh lain menua menanti ajal, Slentem seperti bisa menghentikan putaran waktu.

Narasi panjang tentang penggalan kisah Obrok Owok-owok, Ebrek Ewek-ewek itu, hanya untuk menggambarkan bagaimana Azwar AN memainkan peran Slentem dengan sempurna. Kebiasaan buruk “lupa dialog”, seperti dipahami benar oleh Danarto ketika membuat setting cerita, sehingga naskahnya menyediakan ruang improvisasi yang maha-luas bagi Azwar Slentem.

Begitulah tokoh Azwar AN sebagai “empu” teater Yogyakarta. Ketika anak-didiknya menjadi teatrawan besar seperti Meritz Hindra, Tetet Srie WD, Puntung CM Pudjadi, Gege Hang Andika, Liek Suyanto, dan masih banyak lainnya, Azwar memandangnya dengan senyum bangga. Ketika murid-muridnya berambut putih, toh Azwar tidak juga uzur. Setidaknya, semua anak didiknya masih memanggilnya “bang”, “Bang Azwar”. Bagi murid berlidah Jawa, tetap dengan panggilan “mas Azwar”. Tidak ada yang memanggilnya “pak”, apalagi “kakek”……

Azwar AN (tengah), main film.

Dalam beberapa kali bertandang dan berbincang dengan Azwar AN di Wirokerten, Banguntapan – Bantul, tempat ia bermukim, tidak ada yang benar-benar berbeda dengan belasan bahkan puluhan tahun lalu. Kalau toh ada yang beda, stamina yang sudah turun karena usia. Atas saran medis pula, ia harus mengatur pola istirahat.

Selebihnya, tetap gayeng. Tutur katanya tertata, vokalnya masih prima, dan joke-joke segar selalu meluncur dari mulutnya. Ia menyambut setiap muridnya dengan gembira. Tak lupa, ia akan mengenakan topi bareta ciri khasnya. Sesekali keluar kalimat nostalgia, sesekali wejangan, kali lain guyon.

Yang pasti, Azwar adalah seniman teater yang cerdas. Ia fasih diajak bicara soal seni dan budaya, bahkan nyambung jika diajak bicara politik. Pendek kata, topik apa pun akan ia ladeni, sepanjang kopi dan rokok tetap tersedia.

Sebagai aktivis Laskar Ampera Aris Margono yang bermarkas di Alun-alun Utara Yogyakarta tahun 60-an, Azwar sejatinya tak pernah melepaskan perhatiannya pada isu-isu kebangsaan. Terhadap hal-hal yang dianggapnya prinsip, pantang ia bergeming. Azwar bicara hitam adalah hitam, putih adalah putih. Jika kemudian ia masuk dalam pusaran pro-kontra, dianggapnya wajar.

Azwar AN bersama Titiek, dan tiga anaknya: Nanna, Renny, Ronny.

Sayang keluarga

Dalam kehidupan berkeluarga, tak ada yang menyangkal, ia sangat menyayangi keluarga. Istri dan tiga putra-putrinya adalah segala-galanya bagi Azwar. Ia menikahi Titiek Soeharti 5 Juli 1965. Darinya, Azwar dikaruniai tiga anak: Rony, Nana, Renny. Mereka besar dalam didikan penuh sisiplin, budaya Timur, dan tentu saja kasih sayang berimpah.

Sejak muda, Azwar gigih bekerja. Sesekali meninggalkan istri dan anak-anaknya untuk kerja sebagai aktor maupun sutradara film di Ibukota. Beberapa film besutan Azwar AN umumnya film bergenre komedi, seperti “Kejamnya Ibu Tiri tak Sekejam Ibukota”, “Tiga Cewek Indian”, “Tante Sun”, dan beberapa lagi.

Pada saat tawaran film sepi, yang dilakukan adalah menjadi pengisi suara (dubber) di PFN. Selain itu ia juga sering menjadi sarasumber untuk seminar atau ceramah kebudayaan. Hidup dan aktivitasnya, tak pernah jauh dari berkesenian.

Hingga usia memasuki 70 tahun, Azwar AN masih berkarya dengan membuat program talk show di sebuah TV lokal. Tak kenal lelah, tak kenal menyerah, dalam segala hal. Termasuk ketika istrinya dalam keadaan sakit (dan akhirnya wafat), sekian lamanya Azwar menemani, memotivasi dengan setia.

Menulis kehidupan Azwar, seperti menulis sosok Slentem. Merakyat, cerdas, sentral, dan tak lekang dimakan usia. Ia adalah legenda hidup. ***

—————

Gde Mahesa

Penulis adalah “cantrik” Teater Alam sejak tahun 1976/1977. Pernah aktif di Desa Seni Taman Mini Indonesia Indah, berkelanjutan di dunia layar kaca, jurnalis, juga dubber. Menjelajah dunia entertainment bersama Deddy Corbuzier. Mendirikan Pentagram Management yang melahirkan Romy Rafael, Demian, Oge Arthemus, dll. Profesi sebagai creative program dijalani hingga sekarang. Penulis juga aktif di beberapa Ormas. Salah satu karya buku motivasi “Tatah” dengan penerbit BIP telah diluncurkan. Selain itu, Gde Mahesa sekarang menulis di Jayakartanews.

Kangen Bentakan dan Lemparan Sandal

Azwar AN, “pepunden para kadang” Teater Alam. Foto: Nana Amita Azwar

AZWAR AN adalah TEATER itu sendiri. Di Teater Alam, namanya melekat abadi. Sebab, setelah hengkang dari Bengkel Teater yang ia dirikan bersama Rendra, hampir seluruh hidup dan kehidupannya, ia curahkan untuk Teater Alam. Di usianya yang 81 tahun, Azwar ditemani tiga anaknya, Ronny, Nana, dan Renny hadir di Gedung Societet Yogyakarta, Minggu (24/6) menghadiri halal bihalal keluarga besar Teater Alam.

Lelaki kelahiran Palembang, 6 Agustus 1937 itu memiliki torehan sejarah berteater yang sangat panjang. Bahkan bisa jadi yang terpanjang. Berteater sejak usia 17 tahun, dan tidak lama kemudian sudah menghasilkan sejumlah pertunjukan yang sebagian besar dipentaskan di Tanjung Karang, Lampung. Di antara karyanya, Pemetik Lada, Ayahku Pulang, dan Terima Kasih, Pujaanku. Dari Tanjung Karang, ia hijrah ke Yogyakarta awal tahun 60-an.

Itu hanya sekelumit kisah Azwar dari catatan perjalanan berteater yang panjang. Penantar itu sekaligus menempatkan sosok Azwar sebagai pemeran utama tulisan ini. Bagian kedua dari tiga tulisan tentang halal bihalal Teater Alam yang bersejarah.

Kehadiran Azwar siang itu membuat tak kurang dari 60 eksponen Teater Alam berkesempatan melepas rindu. Beberapa di antaranya malah kangen dipisuhi (dimaki, seperti saat-saat latihan teater dulu). Bisa jadi, ada juga yang kangen dilempar sandal….

Selain Bang Azwar, sejumlah senior juga hadir. Di antaranya Meritz Hindra, murid pertama Teater Alam. Lalu hadir juga Tertib Suratmo, teman Azwar di Bengkel Teater yang kemudian juga bergabung ke Teater Alam. Ada juga yang datang khusus dari Jakarta, Tetet Srie Wd.

Di deretan senior Teater Alam lain, tampak Gege Hang Andhika, Liek Suyanto, Yono Gandhem, Puntung CM Pudjadi. Tak kurang dari Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, Prof Dr Yudiaryani, MA hadir, sebagai salah satu eksponen Teater Alam.

Duduk lesehan dari kiri: Agung, Budi AA, Gege Hang Andika, Liek Suyanto, dan Gde Mahesa. Duduk di kursi: Meritz Hindra dan Azwar AN. Foto: Nana Azmita Azwar
Dari kiri: R. Bambang Nursinggih, Tetet Srie Dw, Agus Leylor, dan Meritz Hindra. Foto: Nana Azmita Azwar
Azwar AN, Gde Mahesa, dan Tertib Suratmo. Foto: Nana Azmita Azwar

Pembawa acara, Udik Supryanta dan Sugeng Iwak Bandeng menggilir para senior untuk membabar kata, mengumbar rasa. Azwar AN tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagia bisa bertemu puluhan orang yang pernah di-pisuhi-nya dulu. Azwar AN tak bisa menutupi rasa rindu bertemu dengan orang-orang yang pernah ia lempar sandal saat latihan teater dulu. “Ayo… jangan hanya berkumpul dan berkumpul, tapi mari berteater untuk Yogyakarta,” katanya.

Tampak benar, kerinduan Bang Azwar untuk kembali berteater bersama teman-temannya, bersama anak buahnya yang dulu dididiknya di sanggar Teater Alam. “Saya tahu, Tetet keliling dunia membawa nama Teater Alam. Tapi yang ia bawa tari. Saya juga tahu Daras menjadi wartawan dan tetap membawa nama Teater Alam. Sekarang, mari kita kembali berteater. Bikin karya, bikin pementasan dengan kualitas terbaik. Tunjukkan kita cinta teater dan cinta Yogyakarta,” ujarnya antusias.

Setali tiga uang, mas Ratmo, begitu Tertib Suratmo akrab disapa, pun tergugah dengan ajakan bang Azwar. “Jika perlu, saya dan bang Azwar siap tampil,” ujarnya, disusul tepuk tangan meriah hadirin.

Prof Dr Yudiaryani, MA. Foto: Nana

Mas Ratmo juga mengomentari apa yang disampaikan Prof Yudiaryani sebelumnya. Menurut Prof Yudi, kita harus optimis dunia teater akan terus berkembang, selagi ada anak muda. Sebab, anak-anak muda banyak yang suka teater. Sayang, tambahnya, “Kalau dulu latihan bisa enam jam bahkan delapan jam sehari, anak-anak sekarang latihannya hanya tahan satu jam.”

Soal cara bang Azwar mendidik cantrik-cantriknya yang, juga sempat disinggung Prof Yudi. Ia bahkan sempat mempraktekkannya. “Saya bentak, dan bila perlu saya lempar sandal… sampai-sampai ada rekan dosen yang keberatan. Saya katakan, ya harus begitu kalau ingin mencetak lulusan fakultas seni pertunjukan yang mandiri dan tahan banting,” kata Yudiaryani.

Tak lupa, Prof Yudi juga mengapresasi rekan-rekan Teater Alam yang masih produktif berkarya, seperti Puntung CM Pudjadi, Meritz Hindra, Liek Suyanto, dan lain-lain. Ia pun termasuk yang mendukung dan menyambut baik ajakan Bang Azwar untuk kembali membuat pementasan lintas generasi.

Meritz Hindra sebagai senior terakhir yang diberi mic oleh Udik untuk bicara tiga menit, tercatat hanya menggunakan dua menit saja. Intinya, dia menyambut tantangan Bang Azwar untuk membuat pementasan. “Tahun 2019 kita buat pementasan kolosal,” tekadnya.

Oh ya… sebelumnya, Tetet Srie Wd yang juga diberi kesempatan bicara sempat diwanti-wanti oleh Udik, “Ojo nangiiiissss…..” Mas Tetet, begitu para juiornya memanggil, memang berhati lembut. Mudah tersentuh, dan tak kuasa menahan air mata jika menyangkut sesuatu yang mengoyak emosi jiwa.

Tak urung, ketika ia menceritakan bagaimana mendapat gemblengan Teater Alam, kemudian mengembangkan seni tari sampai akhirnya bisa menyabet sejumlah prestasi tingkat dunia di berbagai negara, sesekali ia harus jeda bicara untuk mengatur napas. Rasa haru yang membuncah demi mengingat masa lalunya di Teater Alam, membuat tenggorokan tersekat… dan air mata meleleh.

Refleksi Teater Alam

Purwadmadi Atmadipurwa. Foto: Nana

Dalam kesempatan itu, panitia “dadakan” juga mengundang “orang luar”, penyair, novelis dan jurnalis senior Yogyakarta, Purwadmadi Atmadipurwa untuk menyampaikan refleksi terhadap kiprah Teater Alam. Dalam paparan tiga lembar, Purwadmadi memposisikan diri laksana manusia dengan mata rabun yang mengintip dari lubang kecil, terhadap dunia teater, khususnya Teater Alam.

Mungkin maksudnya, mencoba tidak ingin melukai siapa pun ketika paparannya dianggap, atau setidaknya ada yang menganggap tidak pas, bahkan keliru. Sebagai penyair, bahasanya mengalir, berombak, kadang tenang dan kadang beriak. Isinya pun bukan tong kosong yang nyaring bunyinya.

Ia bahkan membawa Teater Alam tidak semata dalam konteks dunia teater di Yogyakarta dan Indonesia, bahkan hingga ke tradisi Mataram. Sebuah intipan mata rabun, yang sejatinya sebuah penerawangan tajam, jernih, dan dalam. Di antara tiga hal hasil intipan Purwadmadi, justru di point ketiga yang boleh dikata kontekstual sekaligus visioner.

Ia berbicara mengenai keniscayaan dunia digital. Ia berbicara tentang effort orang datang ke gedung kesenian, membeli tiket, lalu menikmati pertunjukan teater sebagai sebuah kemewahan. Sementara di sisi lain, kehidupan kekinian telah ada di genggaman (gadget). Karena itu, “memindahkan” panggung teater ke dalam “genggaman” (gadget) seyogianya menjadi sebuah keniscayaan.

Purwadmadi benar. Apa yang dia sampaikan, bukan saja tantangan dan keniscayaan yang harus dihadapi Teater Alam, tetapi juga dunia teater pada umumnya. Itu jika menghendaki teater tidak hidup dalam kuburan zaman now. ***

Gallery Halal Bihalal Teater Alam

Gde Mahesa, Azwar AN, Puntung CM Pudjadi. Foto: Nana Azmiwa Azwar
Ada yang menjuluki foto ini “para pendekar Teater Alam”. Di antara mereka tampak Yono Gandhem (tengah bertopi), Tetet Srie Dw, Puntung CM Pudjadi, Meritz Hindra, dan lain-lain. Foto: Nana Azmita Azwar
Azwar AN sedang membubukan tanda tangan di atas kanvas, sementara Agus Leylor menunggu giliran di belakangnya. Foto: Nana Azmita Azwar
Agung (sepatu besi), Tertib Suratmo, Yono Gandhem. Foto: Nana Azmita Azwar
Nano, Puntung, Bambang JP, Ndaru Maheldaswara. Foto: Nanan Azmita Azwar
Tampak wajah: Hendy, Mimin, Yuni. Foto: Nana Azmita Azwar
Roso Daras dan Bambang Nursinggih. Foto: Nana Azmita Azwar

Pertemuan Bersejarah di Gedung Societet

Foto bersama halal bihalal Teater Alam Yogyakarta. Setelah tiga puluh tahun tak bersua. Foto: Ronny AN

BANYAK peristiwa akbar melahirkan orang besar. Demikian pula, banyak gedung bersejarah mencatat peristiwa bersejarah. Hari Minggu 24 Juni 2018, gedung Societet Yogyakarta mencatat sebuah peristiwa langka pada sebuah kelompok teater. Tak kurang dari 60 orang yang pernah nyantrik di Teater Alam, berkumpul setelah lebih dari 30 tahun tidak bersua.

Angka 30 tahun barangkali terlalu dramatis. Sebab, beberapa di antaranya, terutama yang ada di Kota Gudeg, masih acap bersua barang sekali-dua. Bahkan, dalam jumlah yang lebih kecil lagi, tetap intens bertemu dan masih produktif berkarya. Selebihnya, lebih dari 80 persen memang benar-benar tak pernah bersua setelah lebih dari tiga dasawarsa. Ada yang dua dasawarsa, ada yang satu dasawarsa, ada yang hitungan bulan, dan minggu.

Alhasil, pertemuan yang dikemas dalam bungkus halal bihalal itu patutlah dicatat sebagai satu peristiwa bersejarah di dunia teater Indonesia. Jika Anda keberatan dengan kata “Indonesia”, baiklah kita ganti dengan “bersejarah untuk komunitas teater Yogyakarta”. Kalau ada yang ngeyel dan menolak skala itu, baiklah kita sebut saja sebagai peristiwa bersejarah untuk keluarga besar Teater Alam Yogyakarta. Jika ini pun masih ada yang protes…, “bacok wae…”, mengutip guyonan Agus Leylor, salah satu anggota Teater Alam yang masih aktif berteater sekaligus dosen ISI Yogyakarta.

Udik Supriyanta dan Sugeng Iwak Bandeng, menmandu jalannya acara dengan ruuarr biassaaa…. Foto: Nana Azmita Azwar

Dua anggota Teater Alam yang menjadi MC, Udik Supriyanta dan Sugeng Iwak Bandeng memandu jalannya pertemuan dengan 99 persen bagus. “Mestinya 100 persen, tapi karena mereka lupa satu tugas, jadi yaaa… 99 persenlah…,” ujar “provokator” pertemuan, Anastasia Sri Hestutiningsih seraya menambahkan, “janjine arep ngenalke yang hadir satu per satu. Karena ini kan pertemuan lintas angkatan dari angkatan 70-an sampai 90-an, tapi Udik dan Sugeng lupa. Jangan-jangan nek pentas teater mereka suka lali dialog… he… he… he….”

Tapi Anas tetap memuji kerja Udik dan Sugeng IB sebagai ruarrr biasa….. Laksana melodi tembang kenangan, satu per satu butir acara dirangkai menjadi melodi mengesankan. Ada doa yang dibawakan R. Bambang Nursinggih lewat mocopat. Lalu Anas berbicara mewakili anggota Teater Alam yang hadir maupun yang tidak hadir, lewat teks narasi yang puitis. Begini bunyinya:

AKU TEATER ALAM

Malam tadi ragaku tak hendak tidur

Mataku menerawang

Jauh ke masa belakang

Aku datang kepadamu dengan langkah tidak percaya diri

 

Belum selangkah kakiku masuk ke gerbangmu

Kudengar teriakan keras

Ulang!! Gitu aja gak bisa!!!

Salah lagi kulempar sendal kau!!!

Langkahku terhenti sejenak

Rasa tidak percaya diriku semakin kuat

Aku bukan siapa meskipun ingin menjadi siapa

Aku gamang

Mungkin bukan hanya sendal yang terlempar untukku kelak

Tapi seisi rumah akan menimpaku

 

Seorang perempuan cantik berkulit putih

Menurutku gizinya cukup terpenuhi saat itu

Karena terlihat tubuhnya padat berisi

Senyum ramahnya merekah

Menyambut  dan membawaku  melangkah masuk

 

Keraguanku menjadi cair

Aku mulai masuk dalam kehidupan kebersamaan bersamamu

Sejalan dengan waktu aku memahami

Suara keras adalah bagian dari pembelajaran

Aku yang bukan siapa mulai berani mengatakan aku siapa

 

Hari ini aku harus mengingat kembali

Kehidupan bersamamu dalam suka dan suka sekali

Kedukaan hanya karena kami harus berjuang keras

Menempa diri untuk menjadi sekarang

 

Terimakasih teater alam

Terimakasih bang Azwar, mas Ratmo, dan para pejuang Teater Alam

Terimakasih mbak Titik Azwar (alm).

Keramahanmu, ketulusanmu melayani kami

Pengabdianmu untuk keluarga dan kesenian

Semoga membawamu ke alam keabadian surgawi yang bahagia dan mulia

 

Hari ini

Kami datang karena kami punya kerinduan

Pada keluarga yang kami cintai

Keluarga besar Teater Alam

Pasti banyak kesalahan yang selama ini masih terpendam

Di mana maaf belum sempat terucap

 

Pada bulan yang suci ini

Dari lubuk hati yang tulus

Perkenankan kami memohon maaf lahir dan batin

atas segala kesalahan kami

Kepada sesepuh dan para pejuang Teater Alam

Bukakan pintu maaf kepada kami

Nyuwun pangestu

agar api semangat Teater Alam

tetap menyala di hati sanubari kami

 

Terima kasih

Salam kekeluargaan dan kebersamaan yang abadi

Keluarga besar Teater Alam

anas, 24 juni 2018

Anastasia Sri Hestutiningsih membacatakan pidatonya yang puitis, mewakili anggota Teater Alam seluruh angkatan. Foto: Nana Asmita Azwar

Selesai Anas berbiciara, Udik dan Sugeng melanjutkan acara. Kali ini, mereka berganti-gantian membacakan nama-nama dulur Teater Alam yang sudah meninggal dunia. Yang tercatat, ada 30. Doa terbaik buat mereka: Yoko, Yoyok Aryo Ini, Yoyok Coa Ong, Niki Kosasih, Hendra Cipta, Bani IW, Bambang Darto, Gatot, Deded E Murad, Titiek Azwar AN, Nanok, Noor WA, Niesby Sabakingkin, Wahid alias Kak We Es, Cholila Ibrahim, Nining Gege HA, Susi, Ramidi, Abdul Qadir, Agus Joli, Ragil Suwarna Pragolopati, Amry Yahya, Hartono Djumino SH, Moorti Poernomo, Agus Subagyo PMN, Sundrek Godean, Darto Guru, Budi Centhol, Memek Jambu, Alex Suprapto Yudho, dan Ganti Winarno.

Kisah belum lagi usai…

Azwar AN, pepunden para kadang Teater Alam tidak saja diminta berbicara, tetapi juga didaulat untuk memimpin prep. Ini untuk mengingatkan kembali kepada masa-masa saat masih berlatih teater dulu. Sebelum latihan, didahului dengan prep atau preparation.

Masih dengan nada dan gaya bicara seperti dulu, Azwar AN pun memimpin prep. “Duduk serileks mungkin…. Yang mau bersila silakan, yang mau slonjor silakan… rileks…,” kata Bang Azwar memulai “ritual” prep.

Udik Supriyanta dan Sugeng IB, sedang (pura-pura) prep. Foto: Nana Azmita Azwar

Setelah itu, barulah Bang Azwar meminta peserta memejamkan mata pelan-pelan…. Melambungkan imajinasi, dan mengatur pernapasan. Dulu, saat-saat prep, selalu diiringi alunan musik Ludwig van Beethoven. Sayang, siang itu panitia tidak memutar Beetvoven dan menggantinya dengan instrumen easy listening. Tidak mengapa…. (Bersambung)

“Kangen-kangenan Karo Bang Azwar AN”

Azwar AN (duduk tengah mengenakan topi), Tertib Suratmo dan eksponen Teater Alam yang hadir dalam acara “Kangen-kangenan Karo Bang Azwar AN”, Minggu, 13 Mei 2018 di kediaman sekaligus sanggar Teater Alam, Wirokerten, Yogyakarta. Foto: Ronny AN

TENDA biru terpasang di dapan rumah seniman teater dan sineas serba bisa, Azwar AN di Jl. Sawo 1 nomor 6, Wirokerten Indah, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Hajat apa gerangan yang tengah digelar lelaki kelahiran Palembang, 6 Agustus 1937 itu?

Rupanya bukan Azwar yang punya nazar, tetapi para cantrik Teater Alam yang spontanitas menggalang hajat. Berawal dari pembuatan WAG (whatsapp group) oleh Jeng Anas, terlemparlah gagasan kumpul-kumpul. Gayung bersambut. Tanggal pertama, hanya terdaftar tak kurang dari 10 orang. Batal. Tanggal kedua pun ditetapkan. Lebih 10 orang menyatakan siap hadir.

Sadar tidak mungkin ada kesepakatan bulat tentang “Hari H”, maka diputuskanlah tanggal 13 Mei, harinya Minggu. Yang bisa hadir diminta hadir, yang berhalangan hadir dimaklumi semaklum-maklumnya. Cekak kalimat, srag-sreg, srag-sreg… urusan konsumsi selesai, cetak banner beres, cetak kaos rampung.

Begitulah. Minggu pagi, tak kurang dari 20 eksponen Teater Alam pun berkumpul. Bang Azwar, begitu ia biasa disapa, bahagia bukan kepalang. Dalam usia yang ke-81, secara fisik Azwar tampak  sehat. Hanya saja, daya ingatnya memang mulai menurun.

Ketika didaulat berbicara, terasa benar luapan emosinya. Rasa bahagia yang membuncah, ucapan banyak terima kasih dalam nada bergetar, dan nyaris menjatuhkan air mata. Beruntung, celetukan dari orang per orang, segera mencairkan suasana. “Saya harap, kalian melanjutkan Teater Alam. Sekali-kali, berkumpullah, bikin pementasan. Kumpulkan dan libatkan teman-teman yang kini tersebar di mana-mana,” harap ayah tiga orang anak itu.

Dua sekawan: Tertib Suratmo dan Azwar AN. Foto: Ronny AN

Tokoh senior lain yang hadir adalah Tertib Suratmo (78). Sahabat Azwar AN sejak di Bengkel Teater itu, begitu antusias menghadiri acara yang diberi tagline “Kangen-kangenan Karo Bang Azwar AN”. Udik Supriyanta, generasi bontot Teater Alam, yang ‘kedapuk’ menjemput Suratmo, mengisahkan dengan gaya jenakanya. “Waktu saya datang, beliau sedang nyungging wayang. Lalu saya ceritakan tentang pertemuan ini… wah… beliau langsung mengemasi wayang dan alat tatahnya, ganti baju, dan segera mengajak berangkat ke Wirokerten ini,” kata Udik, yang siang itu memandu jalannya acara.

Benar. Teater Alam sudah melahirkan banyak seniman teater, tidak sedikit juga yang kemudian merambah bidang lain. Hari itu, selain hadir anggota Teater Alam yang masih bergiat di dunia teater di Kota Gudeg, hadir juga murid-murid Azwar yang secara khusus datang dari luar kota Yogya.

Meritz Hindra dan Azwar AN. Foto: Ronny AN

Usai Bang Azwar dan Mas Ratmo meluapkan rasa bahagianya, Udik segera menggilir peserta temu kangen untuk berbicara. Meritz Hindra, pendiri sekaligus angkatan pertama Teater Alam, langsung antusias menyambut harapan Azwar untuk “pentas reuni Teater Alam”. Seniman berambut gondrong yang sudah malang-melintang di dunia teater, film, dan seni rupa itu, juga menyegarkan suasana dengan ungkapan kenangan masa lalu.

“Saya gak habis pikir sama anak-anak teater Alam. Datang didiamkan berhari-hari, berminggu-minggu, tapi balik lagi. Latihan salah dilempar sandal, balik lagi. Disuruh lari-lari di tengah hujan, balik lagi. Di-munyuk-munyuk-kan (munyuk = monyet), tetap saja balik lagi….,” ujar lelaki kelahiran Solo, 22 April 1949 itu, disambut gerrr yang hadirin.

Gege Hang Andhika, giliran bicara. Senior teater Alam yang juga adik ipar Azwar AN ini dikenal easy going dan jenaka. Lelaki berperawakan tinggi berkulit putih belum lagi habis bicara, ketika ada yang nyeletuk “klinthing….”. Klinthing adalah suara logam yang jatuh ke lantai. Apa pasal celetukan itu membuat semua hadirin tertawa?

Syahdan, ketika Gege memerankan Oidipus dalam lakon Oidupus Rex (Oidipus Sang Raja) karya Sophocles, ia lupa dialog dan terucap kata “klinthing”. Kata “klinthing” jelas tidak ada dalam naskah. Apa boleh buat, Gege memang lupa, dan “lupa dialog” sudah menjadi “nama tengah” Gege, alias biasa. Hebatnya, sebagai aktor kawakan, Gege bisa dengan mudah berimprovisasi, dan tidak merusak keseluruhan repertoar. “Itulah hebatnya anak-anak Teater Alam. Semua jago improvisasi,” kata Gege.

Gege Hang Andhika, sebagai Oidipus dalam Oidipus Rex karya Sophocles. Foto: Ist/Ronny AN

Jam menunjuk pukul 12.00 ketika acara kangen-kangenan baru setengah jalan. Anas dan Naning yang melihat wajah-wajah lapar, mencoba nge-break dan menawarkan makan siang, sebelum dilanjutkan. Seperti belum puas tergelak-gelak mendengar teman menceritakan pengalaman masa lalu yang kocak di Teater Alam, maka semua sepakat, acara dilanjut saja.

“Kangen-kangenan Karo Bang Azwar AN” pun berlanjut. Mereka yang datang dari luar Yogya, seperti dari Jakarta, Solo, dan lain-lain, juga berkesempatan menyampaikan rasa senangnya bisa bertemu kembali setelah lebih dari 30 tahun tidak bersua. Seperti dulu, setiap ada yang berbicara kurang jelas, atau kurang terdengar, spontan keluar teriakan, “Vokaaaal… vokaaaaalllll….” Menirukan teriakan Bang Azwar dulu kalau melihat pemainnya bicara kurang keras.

Ikut larut dalam keharuan membahagiakan yang disampaikan Azwar AN dan Tertib Soeratmo. Foto: Ronny AN

Makan siang tak tertolak, ketika perut makin lapar, dan sepertinya semua sudah bicara. Meski kebanyakan yang hadir awalnya bertekad, “Pokoknya gak mau ngomong program atau gagasan… maunya ger-geran saja….”, tak urung ngomong ide dan rencana juga. Meritz Hindra, Daru Maheldaswara dan yang aktif di Yogyakarta, seperti Puntung CM Pudjadi (yang kebetulan tidak hadir) diminta menyiapkan naskah dan memproduksi pentas reuni Teater Alam.

Sampai bubar acara ketika matahari sudah tergelincir ke barat, sekelompok kecil hadirin yang tersisa masih asyik membicarakan rencana itu. Meritz Hindra memandu jalannya diskusi ringan, membahas rencana produksi secara umum. “Segera setelah dapat naskah dari Daras, kita ketemuan untuk bedah naskah, adaptasi naskah dan rencana produksi lebih lanjut,” ujar Meritz menunjuk Roso Daras yang tinggal di Jakarta untuk men-copy dan mengirim naskah drama “Ketika Bumi tak Beredar” karya Frans Rahardjo ke markas Teater Alam. ***

Setelah Bang Azwar tanda tangan di banner acara, disusul Tertib Soeratmo, Metiz Hindra, Gege Hang Andhika, dan lain-lain. Foto: Ronny AN
Bang Azwar, Bambang Nursinggih, Udik Supriyanta, Anas, Gege di Kangen-Kangenan Karo Bang Azwar. Foto: Ronny AN