Sekolah Dulu, Drama Kemudian

Azwar AN, Manusia Teater (2)

___

Tokoh teater Indonesia, Azwar AN wafat Senin dinihari (27/12/2021) pukul 01.40 di kediamannya, Wirokerten, Yogyakarta. Untuk mengenang sosok Azwar AN, Jayakarta News menurunkan serial tulisan autobiografi Azwar AN yang dikutip dari Buku Trilogi Teater Alam (Penyunting: Roso Daras, Prof Yudiaryani, Bambang JP – 2018).

___

JAYAKARTA NEWS – Bahwa aku sudah bermain teater di Tanjung Karang, benar. Bahwa aku sesekali juga tampil melawak secara profesional, tidak salah. Bahwa aku juga main perkusi di band Alunan Nada, itu juga fakta. Tapi kalau dikatakan aku ke Yogyakarta untuk seni, apalagi fokus ke teater, seratus persen keliru.

Memang, guru menyarankan aku melanjutkan sekolah ke Yogya. Tapi kalau aku terjemahkan, saran itu ibarat sekali dayung dua pulau terlampuai. Yogya, yang utama adalah kota pelajar. Juga kota budaya. Itu artinya, Yogya adalah kota penentuan terbaik.

Jika akhirnya memilih fokus ke pendidikan non seni, Yogya menyediakan banyak pilihan sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Sebaliknya, jika mau ke seni, aku sudah berada di kota yang benar. Karena itu, selepas SMP Negeri I Tanjung Karang tahun 1962, tujuan utamaku ke Yogya. Tapi sungguh belum ada keputusan bulat. Ingat, usiaku baru belasan tahun. Maka yang ada di benakku adalah melanjutkan ke sekolah tingkat atas. Itu yang utama.

Jadilah aku siswa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Bukan sekolah menengah musik, misalnya. Bukan juga sekolah kejuruan seni yang lain. Aku memilih SMA, karena memang masih berpikir kuliah. Kuliah apa? Nantilah dipikir sambil menyelesaikan SMA.

Memang, darah seni tak bisa hilang. Hasrat berkesenian tidak mungkin padam. Jadi, ketika sekolah sudah tertata, teman sudah punya, mulailah aku mencari informasi seputar teater di Yogya.

Tibalah aku ke markas Teater Muslim, pimpinan Mohammad Diponegoro. Makin betah saja aku dengan kota ini. Sekolah lancar, berkesenian pun tersalur. Bahkan, jauh lebih kondusif. Tidak lagi berpikir untuk berkelahi, atau main geng-gengan.

Selagi nyantrik di Teater Muslim, aku coba-coba mendirikan sanggar, Sanggar Sriwijaya. Nama yang memuliakan daerah kelahiran. Itu terjadi tahun 1964. Makin banyak bergaul dengan seniman teater kota Yogya, makin dangkal saja rasanya. Makin cetek rasanya ilmu berteaterku. Maka, muncul keinginan menimba ilmu formal teater. Kebetulan ada Asdrafi (Akademi Seni Drama dan Film). Di situ aku belajar teater dari guru-guru yang lebih baik.

Sejauh itu, tidak ada masalah dengan keseharianku di Yogya. Entah kalau perantau lain, tapi aku praktis tidak pernah mengalami persoalan. Mungkin karena aku berani, suka melucu, dan pintar cari uang.

Sampai lulus SMA, ada perasaan bimbang, antara menekuni seni atau menekuni ilmu serius. Jadilah aku mengikuti tes masuk Universitas Gadjah Mada Fakultas Ekonomi. Pengennya belajar akuntansi. Aku diterima, dan sempat kuliah. Kampus FE UGM waktu itu di Pagelaran Keraton Yogyakarta.

Hijrah Asdrafi

Jangan tanya soal hitung-menghitung sama orang berdarah Padang. Saya jagonya. Jadi sebenarnya kuliah akuntansi bukan hal sulit. Persoalannya, porsi kuliah dengan berteater nyaris sama besar. Lama-lama, saya berpikir tentang betapa bertolak belakangnya, dunia ekonomi dengan dunia seni drama. Sungguh, saya perlu bertafakur, merenung lama untuk memikirkan persoalan itu. Pilihannya memang kurang menguntungkan.

Bisa saja kuliah di UGM dan Asdrafi. Dengan demikian, bisa menggondol gelar Sarjana Ekonomi, dan siap memasuki pasar kerja pasca kuliah. Di sisi lain, tidak meninggalkan teater yang makin asyik.

Otak yang sekepal ini sunguh harus berkelahi menentukan pilihan yang sangat sulit. Bertahan kuliah di FE UGM, atau menekuni teater dan pindah Asdrafi. Membenturkan keduanya, hanya menambah berat kepala. Segelas-dua-gelas kopi, tidak cukup meredakan persoalan.

Persoalan baru tampak titik terang, manakala berhitung soal biaya. Kuliah di dua perguruan tinggi, tentu memerlukan biaya lebih banyak, dibanding kalau hanya kuliah di satu tempat. Jalan keluar lebih lebar, ketika aku merasakan geliat teater makin hari makin hangat.

Pendek kalimat, aku hijrah dari UGM ke Asdrafi yang berkampus di bilangan Sompilan, Ngasem. Astaga. Aku harus memekik. Antara marah, kesal, sekaligus sedih dan prihatin. Kondisi Asdrafi ternyata sangat memprihatinkan. Dibilang kampus, tapi lebih mirip gedung mangkrak. Sudah mangkrak, tak terawat pula.

Mangkrak, tak terawat, sepi pun! Tidak ada sama sekali kegiatan yang aku bayangkan, di mana di setiap sudut kampus tampak mahasiswa berlatih akting, berlatih vokal, berlatih gerak, berlatih apa saja yang terkait drama dan film. Aku melihat aura kematian Asdrafi, ditandai dengan gejala lesu darah akut.

Tapi entah mengapa, aku menikmati berada di kampus Asdrafi. Sepertinya memang aku dilahirkan untuk berada di situ. Karenanya, melihat kondisi memprihatinkan itu justru memacu untuk berbuat. Aku ingin menunjukkan bahwa Asdrafi eksis.

Aku melihat Asdrafi sebagai kampus yang tidak maju dan tidak punya sarana memadai. Mahasiswa ikut lesu, tak bergairah. Ini yang aku tentang. Aku justru terpacu lebih giat mencari uang untuk bisa mendanai aktivitas demi meramaikan kampus.

O ya, untuk tambahan penghasilan, sesekali aku menerima undangan melawak. Teman melawakku Suhud, Hermansyah, dan Dadang yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Orang-orang Sinting.

Semua uang yang aku dapat, sebagian besar aku gunakan untuk berteater. Di Asdrafi aku sudah punya Teater Sriwijaya. Kemudian aku dirikan lagi kelompok Teater Antasari. Sejumlah drama kami mainkan, antara lain Tuan Kondektur, Penggali Intan. Itu kami mainkan bersama Teater Ikasdrafi.

Nomor lain kami pentaskan lakon Mr. X, Jebakan Maut, Pantomim, dan Lawan Catur bersama Teater Sriwijaya. Bersama Teater Antasari, terlahir repertoar Alam Roh Kalimantan, Pangeran Antasari, Tuan Abdullah.

Tidak hanya itu. Bersama Teater PWI Yogyakarta, saya juga mementaskan Badai Asmara, dan Nao Tungga Magek Jabang. Sementara, aku juga tetap bergabung dengan Teater Muslim dan Teater Mahasiswa Islam (HMI) yang kemudian membawa saya keliling pulau Jawa. Amak Baldjun, Chaerul Umam, Syu’bah Asa merupakan nama-nama penggerak teater di Yogyakarta kala itu.

Dengan semua kegiatan tadi, Asdrafi lebih “berdarah”, lebih ada gaungnya. Lebih ada aktivitas di dalam kampus. Tak pelak, aku pun merasa at-home, bahkan home sweet home. Hidup dari panggung ke panggung telah membuat matang bukan saja sebagai pemain watak, tetapi juga sebagai sutradara, bahkan pelawak. Benar. Melawak jadi lebih banyak bahan. ***

Si Bengal Berdarah Tonil

Azwar AN, Manusia Teater (1)

Tokoh teater Indonesia, Azwar AN wafat Senin dinihari (27/12/2021) pukul 01.40 di kediamannya, Wirokerten, Yogyakarta. Untuk mengenang sosok Azwar AN, Jayakarta News menurunkan serial tulisan autobiografi Azwar AN yang dikutip dari Buku Trilogi Teater Alam (Penyunting: Roso Daras, Prof Yudiaryani, Bambang JP – 2018).

___

JAYAKARTA NEWS – Menurut orang tua, aku lahir disambut kokok ayam jago di pagi hari. Belakangan aku baru tahu, bayi yang lahir saat fajar menyingsing, konon sudah memiliki garis tangan tegas. Artinya, takdir hidup saya sudah ditentukan.

Jika akurat, maka tanggal lahirku 6 Agustus 1940. Maklumlah, orang dulu, terkadang abai dengan tanggal kelahiran anak. Kalaupun dicatat, bukan di kertas, tapi di tiang kayu menggunakan kapur. Jadi kalau pindahan rumah, atau kalau sudah lama, catatan itu bisa hilang. Setidaknya, selama ini orangorang terdekatku selalu mengucapkan selamat ulang tahun di tanggal itu.

Tempat kelahiranku Palembang, tapi, darah nenek moyangku dari Nagari Talu, Pasaman, Sumatera Barat. Ya, darah Minang. Bagi kami, merantau itu hal biasa. Demikian pula ayahku, Anwar Gelar Radjo Marah (alm) dan ibuku, Siti Aminah (alm).

Pada waktu itu, ayahku hanya sekolah HIS (Hollandsch-Inlandsche School), sekolah setingkat SD di zaman Belanda. Setidaknya, cukuplah untuk bekal berdagang kecil-kecilan. Cukup juga sebagai bekal merantau ke Tanjung Karang, Lampung.

Kedua orang tua Azwar AN: Anwar Gelar Radjo Marah (alm) dan Siti Aminah (alm). (foto: dok Teater Alam)

Nakal

Masih kata orang tua, kecilku dulu benar-benar bengal. Nakal. Badung. Aku akui. Entah turun dari mana, tapi yang kuingat, aku ini memang bocah nekad. Meski badan kecil, tapi kalau di luar rumah aku berani malak tukang dagang makanan. Tapi, yaaa…. Sebatas malak makanan.

Kenakalan lain, berkelahi. Rasanya, masa kecil tidak ada beban. Berkelahi itu jadi kudapan seharihari. Kalau gak berkelahi, badan pegal. Tapi ini cerita sungguh, hampir setiap berkelahi, selalu menang.

Tahu kenapa? Aku seperti dianugerahi tahan menerima rasa sakit. Jadi, walaupun lawan lebih besar tubuhnya, aku sama sekali tidak gentar. Gara-gara itu, satu-satu anak yang aku taklukkan kemudian jadi pengikut. Aku disegani, setengah ditakuti.

Meski begitu, di rumah, aku sungguh anak yang baik. Anak patuh. Bahkan kukira, ayah-ibuku tidak tahu kelakuanku di luar rumah. Kalau toh tahu, kukira tidak akan percaya. Kalau toh tahu dan percaya, entah bisa berbuat apa, karena ibuku melahirkan hampir tiap tahun. Sebagai anak pertama, aku punya adik kecil tiap tahun. Dan kelak, aku menjadi sulung dari sembilan bersaudara.

Menginjak usia sekitar 10 tahun, kira-kira setingkat kelas 5 SD, ayah sakit lumayan lama. Aku harus mengambil alih tugas ayah mencari nafkah. Pulang sekolah, berdagang. Kalau ayah jualan kelontong, maka aku memilih jualan telur ke warung-warung di Kampung Sawah, Tanjung Karang Timur. Dulu kampung, sekarang masuk Kota Bandar Lampung.

Aku pindah ke Kampung Sawah sejak umur tiga tahun dalam suasana agresi Jepang ke Indonesia. Daerah itu aku kenal betul. Jadi, tidak sulit buatku untuk menjajakan telur. Teringat pesan guru ngaji, jodoh-maut-rezeki Tuhan yang mengatur, kukira sudah kusadari sedari kecil. Selama ayah sakit, dapur ibu tidak sekalipun tidak ngebul.

Jualanku selalu habis. Bahkan dari hasil berjualan, selain bisa untuk makan, masih ada sisa untuk menambah jenis dagangan. Lalu, aku pergi ke toko obat. Aku borong obat-obatan yang sering dipakai orang bepergian, seperti minyak ayu putih, aspirin, dan balsam. Aku jualan obat-obatan di terminal Bandar Lampuung. Entah karena kasihan melihat anak kecil jualan, atau memang karena mereka memerlukan, yang pasti minyak kayu putih, aspirin, balsam laris.

Tidak sampai setahun, aku sudah bisa membuatkan warung semi permanen untuk berjualan kelontong. Bukan main senangnya ayah dan ibu ketika itu. Ketika persoalan “mencari nafkah” kembali ditangani ayah, aku kembali ke duniaku: Bermain dan berkelahi. Terkadang, berkelahi untuk sesuatu yang tidak jelas. Misalnya ada teman datang, mengadukan habis dipukuli anak kampung lain, maka segera aku datangi anak itu, dan aku selesaikan dengan berkelahi.

Aku masih ingat, ketika itu aku sudah punya geng. Namanya Crossboy Kampung Sawah. Selain bermain dan berkelahi, aku juga mulai main orkes kampung. Nadanya irama Melayu, mirip-mirip gambus. Di grup itu, aku main perkusi, atau kendang.

Dari orkes kampung, aku diajak bergabung di band Alunan Nada. Di Lampung, band itu cukup terkenal bahkan sering menerima job tanggapan, di kediaman-kediaman saudagar, atau instansi militer.

Jadi umur belum 12 tahun, aku sudah pintar cari duit. Makanya, bisa membantu orang tua mengongkosi sekolah (ketika itu) dua adik, Azimar AN dan Edward AN atau biasa dipanggil Buyung.

Pencinta Tonil

Balik ke soal takdir. Sungguh sulit dipercaya, jika melihat garis hidupku kini. Ternyata aku lahir dari keluarga pencinta sandiwara yang dulu disebut tonil. Istilah teater pertama saya dengar dari tetangga asal Bandung yang tinggal di depan rumah. Ia bercerita tentang teater yang berkembang di Jawa. Aku pun penasaran dan semakin tertarik mendalaminya.

Di masa Sekolah Rakyat kelas 5 tahun 1954 di Lampung aku sudah mendirikan kelompok tonil. Tapi aku tidak pakai nama tonil atau sandiwara. Aku sudah kasih nama teater, Teater Raden Intan. Tahun 1954 inilah debut awal aku memasuki dunia teater.

Naik kelas 6 SR mulai menyutradarai pementasan, merangkap publikasi, pemain, tukang dekor, dengan pemain empat orang, dan sukses menyedot perhatian penonton dengan naskah Pemetik Lada.

Sukses itu dilanjutkan dengan mementaskan naskah Ayahku Pulang, Terima Kasih Pujaanku yang sebagian digelar di Tanjung Karang. Justru pengalaman awal inilah yang membuat aku terus melangkahkan kaki ke dalam dunia seni peran dan teater.

Di SMP aku pentas teater beberapa kali, meski tanpa pembimbing. Pak Mul, guru Bahasa Indonesia di sekolah lantas menyarankan aku hijrah ke Yogyakarta dan memperdalam ilmu dengan belajar teater di Asdrafi.

Pada tahun 1958 aku pun melanjutkan sekolah di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Melompati kelas 3 dengan masuk ke Asdrafi meski tetap sekolah SMA. Kusno Sujarwadi, Harimawan, Abudurrahman Nasution adalah nama-nama guru teaterku di Yogyakarta. Asdrafi pula yang mempertemukanku dengan Putu Wijaya dan Amak Baldjum, yang juga belajar bersama di Asdrafi.

Sejujurnya, pilihan keluar dari Lampung memang sudah terpatri sejak SD. Pikiranku sederhana, kalau bertahan di Kampung Sawah, kehidupanku tidak akan jauh dari berkelahi, dagang, main band. Bagaimana mau mengejar mimpi yang lebih tinggi?

Karenanya, lelepas SLTP aku bulat tekad merantau ke Yogyakarta untuk belajar. Tidak terlalu masalah dengan uang saku dan bekal ke Yogya. Bukankah di depan aku sudah ceritakan soal rezeki yang mengalir begitu lancar ke kantongku?

Guruku di Sekolah Rakyat VIII Tanjung Karang adalah yang pertama menyebut nama kota Yogya, sebagai kota yang ia sarankan tempatku melanjutkan sekolah. Alasan guru waktu itu, Yogya adalah kota seni dan budaya. Pusat budaya Indonesia. Sedangkan aku sejak kecil sudah menampakkan bakat dan minat pada seni. Ditambah, aktivitas berkesenianku sejak kecil, tidak satu pun yang dilarang orang tua.

Untuk urusan seni, orang tuaku sangat lunak. Mungkin karena mereka juga pecinta seni. Maka, kalau anak-anak lain sulit untuk bisa keluar rumah malam hari menonton tonil, bioskop, atau musik, maka tidak demikian dengan ayah-ibuku. Mereka tidak melarang apalagi memarahi kalau aku izin nonton gambar hidup.

Aktivitas berkesenian berlanjut hingga ke SMP. Lulus SMP Negeri 1 Tanjung Karang tahun 1962, aku terngiang saran guru SD dan juga guru SMP. Yogyakarta. Ke Yogya aku menuju. ***

Azwar AN Terima Anugerah Kebudayaan Kemendikbud

Azwar AN, tokoh sekaligus legenda hidup teater Indonesia yang tinggal di Yogyakarta, tahun ini menerima Anugerah Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Anugerah itu pantas disandang oleh pendiri Bengkel Teater bersama Rendra, serta pendiri Teater Alam. Hampir 2/3 hidupnya didedikasikan untuk teater.

Azwar AN Terima Anugerah Kebudayaan Nasional 2020

Seniman teater Indonesia yang bermukim di Yogyakarta, Azwar AN, hari ini (7/12/2020) menerima Anugerah Kebudayaan Nasional 2020 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Selain Azwar AN, dua penerima anugerah yang sama tahun ini dari Yogyakarta adalah “Yu Beruk” Yustiningsih dan Pemerintah Daerah Kota Yogyakarta.

Anugerah diberikan oleh Direktur Sejarah Kemendikbud, Triana Wulandari, mewakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Azwar AN Terima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2020

JAYAKARTA NEWS – Tokoh teater Yogyakarta, Azwar AN mendapatkan Anugerah Kebudayaan Indonesia untuk Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2020. Azwar mendapatkan anugerah pemerintah kategoro Pelopor, Pencipta, dan Pembaharu.

Selain Azwar AN ada dua lagi yang menerima anugerah serupa, masing-masing Sumisih Yuningsih atau yang akrab dipanggil Yu Beruk kategori Pelestari, dan Pemerintah Daerah Kota Yogyakarta.

Pemberian anugerah yang sedianya dilangsungkan di Kantor Kemendikbud Jakarta, diubah ke daerah masing-masing, Senin (7/12/2020).

Pemberian Anugerah Kebudayaan Indonesia dari DIY ini menjadi bagian dari tindaklanjut Pengusulan Nominasi Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia yang dilakukan Pemda DIY melalui Dinas Kebudayaan DIY pada bulan Mei 2020. Ada sekitar 25 orang yang diusulkan untuk mendapatkan Anugerah Kebudayaan ini.

Kegiatan pengusulan nominasi Anugerah Kebudayaan Indonesia ini merupakan upaya konsistensi Pemerintah Daerah melalui Dinas Kebudayaan DIY memberikan apresiasi dan dukungan kepada para seniman dan Budayan Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal itu terkait peningkatan peran serata seniman dan budayawan dalam hal pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka mewakili wajah Yogyakarta dalam memperkenalkan khasanah kebudayaan DIY kepada seluruh Indonesia.

Azwar AN (kedua dari kiri) berfoto bersama usai menerima Anugerah Kebudayaan Nasional 2020 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. (foto: Teater Alam)

Azwar AN

Lelaki kelahiran Palembang 6 AGUSTUS 1937 ini adalah sulung dari enam bersaudara. Ayahnya bernama Anwar Glr. Radjo Mara (alm), adalah pedagang kecil lulusan HIS. Ibunya adalah Siti Aminah, masih aktif mengurus Asrama Putri Aisyiyah di Tanjung Karang, Lampung.

Sebagaimana biasa orang tua, pasti mengharapkan anak-anaknya untuk memiliki pendidikan yang tinggi. Demikian juga Azwar didorong untuk tetap sekolah, meskipun waktu itu sedang dalam keadaan perang kemerdekaan. Perjalanan pendidikan Azwar banyak dihambat oleh peristiwa peperangan, sehingga di Taman Kanak-Kanak ditempuhnya dalam waktu yang relatif panjang, melebihi tahun yang ditentukan. Hal ini disebabkan oleh kegiatan Azwar dalam membantu ayahnya di medan pertempuran, dengan menjadi kurir surat. Setelah peperangan reda, barulah Azwar bisa melanjutkan sekolah dengan lancar, walaupun usianya sudah melebihi rekan-rekannya di kelas.

Di sekolah Rakyat VIII Tanjung Karang, gurunya pernah menganjurkan Azwar untuk melanjutkan sekolah ke Yogyakarta. Guru tersebut melihat Azwar lebih menyukai bidang seni, dibanding mata pelajaran lainnya. Hal ini disebabkan karena sejak kecil Azwar memang menyukai kesenian Tonil dan gambar hidup. Keluarganya pun juga mendukung kegemaran Azwar, dengan memberikan kebebasan keluar malam menonton pertunjukan seni.

Setelah lulus SMP Negeri I Tanjung Karang tahun 1962, Azwar mengikuti saran gurunya melanjutkan studi. Di Yogyakarta Azwar masuk SMA Muhammadiyah II, sambil belajar teater di Teater Muslim pimpinan M. Diponegoro. Selain belajar teater, Azwar mencoba membina Sanggar Sriwijaya yang didirikannya pada tahun 1964. Karena dirasa pengetahuannya tentang teater kurang, kemudian Azwar kuliah di Akademi Seni Drama dan Film (ASDRAFI). Di lembaga pendidikan inilah Azwar menimba pengetahuan teater secara praktis dan teori.

Di Yogyakarta, Azwar tidak saja menemukan dunia seni yang didambakan sejak kecil, tetapi juga mendapat pendamping hidupnya, Di Yogya, Azwar bertemu dengan Titiek Suharti, gadis kelahiran Teluk Betung, tanggal 11 April 1947, yang kemudian dinikahinya pada tahun 1965. Dari pernikahannya itu, Azwar dikaruniai tiga orang anak: Azkamiyanto Ronny AN, SE, Ir. Erna Azmita AN, dan Erni Aznita AN.

Tak lama setelah menikah, Azwar bersama-sama dengan WS. Rendra mendirikan Bengkel Teater. Di kelompok inilah Azwar belajar teater secara total, sekaligus memupuk semangat berkeseniannya. Pagi sampai sore, bahkan terkadang sampai malam, Azwar di Bengkel Teater Rendra terus latihan teater.

Di Bengkel Teater, segala aktivitas dilakukan Azwar dengan tanpa beban, baik pentas keliling maupun latihan rutin. Pada tahun 1971, Azwar mengundurkan diri dari Bengkel Teater, oleh karena persoalan pribadi dengan Rendra. Setahun kemudian Azwar mendirikan Teater Alam sekaligus sebagai pelatihnya. Dengan Teater Alam yang didirikannya pada tahun 1972 inilah, Azwar menelorkan karya-karya teater. Ia juga melahirkan Arisan Teater Yogyakarta tahun 1074.

Karya pentas Teater antar lain: Di Atas Langit Ada Langit, Si Bachil, Ketika Bumi Tak Beredar, Obrok Owok Owok Ebrek Ewek Ewek, Enam Watak Mencari Pengarang, Bung Jendral, Machbet, Hamlet, Promethius, Oidipus Rex, Odipus Dicolonus, Langit Hitam, Qazidah Al Barzanji, Caligula, Dokter Kalera, Kresna Dutha, Dunia Azwar, Karya karya Minikata Rendra, Tahanan, Montserrat, Pusaran, dan lain-lain.

Karya film Azwar AN antara lain: Cintaku di Kampus Biru (Sutradara), Tiga Cewek Indian (sutradara), Gara Gara Janda Kaya (sutradara), Kejamnya Ibu Tiri Tak Sekejam Ibukota (sutradara), Koboi Sutra Ungu (Astrada), Sisa Geodal (Sutradara), Tante Sundari (sutradaa).

Ia juga main dalam sejumlah film layar lebar, antara lain: Susuk Nyo Roro Kidup (1993). Si Kabayan dan Anak Jin (1993), Djago (1990), Hidup Semakin Panas (1989), Sunan Kalijaga dan Syech Siti Djenar (1985), Tergoda Rayuan (1984), Kenikmatan (1984), Cinta Semalam (1983), Jaka Tingkiar (1983), Arya Penangsang (1983), Banteng Mataram (1983), Loro Jonggrang (1983), Bayang-bayang Kelabu (1979). Janur Kuning (1979), Koboi Cengeng (1974), Ateng Mata Keranjang (1975), dan lain-lain.

Sejumlah penghargan pernah diterima Azwar AN. Antara lain Penghargaan Seni Bidang Teater dari Pemerntah Yogyakarta 1986, Penghargan Man of Year dalam Bidang Pariwisata dari PWI Jawa Tengah (2003), Penghargaan Tokoh Teater dari Federasi Teater Indonesia (2016).

Kiprah lainnya, Pernah menjabat Ketua PARFI Yogyakarta (1980 -2005), Ketua Seni Pertunjukan dan Festival Kesenian Yogyakarta dari FKY I – FKY VI, Ketua I Pertunjukan dalam MTQ di Yogyakarta, Mengelola Pergelaran Tari Ramayana di Purawisata (1994 – 2000), Mengelola Taman Wisata Gabusan (2002 – 2007), mendirikan production house Binuang Sakti Film, dan lain-lain.

Sumisih Yuningsih alias Yu Beruk.

Sumisih Yuningsih (Yu Beruk)

Kehadiran Sumisih Yuningsih di panggung pertunjukan tradisional patut diperhitungkan. Kematangannya beraksi di atas panggung membuatnya memiliki karier yang panjang. Pengalaman pentas di tobong ketoprak berkeliling dari kota satu ke kota lainnya adalah sebuah “ sekolah” dan “ kawah candradimuka” baginya.

Kemampuan menejerial sebagai pemimpin ketoprak kelilingan juga menjadi kelebihan Yuningsih sebagai seorang seniwati tradisional. Kisah perkawinannya yang penuh liku-liku dan dramatis, menjadi episode kehidupan yang mendewasakannya. Keadaanlah yang menempa kepribadian Yuningsih menjadi wanita yang tegar, penuh daya juang, dan mampu menyelesaikan persoalan dengan arif.

Bermodalkan kemampuannya menari, nembang, melawak dan juga akting, membuat  Yuningsih tetap eksis hingga sekarang. Ia adalah seniwati tradisional yang mampu beradaptasi dengan kemajuan jaman. Jiwa kewanitaannya, keibuannya menjadi kekuatan luar biasa untuk mendorong dirinya tetap tegar dan perkasa mengarungi kehidupan, dan memecahkan rintangan yang menghalangi hidupnya.

Nama Yuningsih semakin dikenal masyarakat karena perannya dalam acara TVRI Yogyakarta yang tayang secara regular setiap Minggu sore , dan nama perannya dalam acara itu Yu Beruk atau Mbokdhe Beruk.  Karakter peran yang dibangun dalam acara yang bertajuk Obrolan Angkring, sosok Yu Beruk itu lugu, lucu, ceplas ceplos nan menggemaskan membuat penonton tergelak melihat aktingnya.

Akhirnya nama peran itu melekat pada dirinya, dan awam tidak mengetahui nama aslinya. Kemampuannya melebar dan semakin lengkap dengan ketrampilan rias pengantin, semakin mengukuhkan sosok Yuningsih adalah seniwati multitalen. Berbagai aktivitas seni dia jalani, dari bermain ketoprak, wayang orang, dagelan, lawakan , sandiwara, monolog, iklan layanan masyarakat, sinetron, sampai berperan dalam layar lebar.

Perempuan kelahiran tahun 1953 ini, putra dari Padmodiharjo  dan Aminem. Masyarakat mengenalnya melalui berbagai acara di televisi, baik lokal maupun nasional  antara lain ;Pasar Rakyat ( Program acara Televisi Pendidikan), Obrolan Angkring (TVRI Yogyakarta), Mbangun Desa (TVRI Yogyakarta), sinetron Panggung Sandiwara (SCTV), Sinetron Bunda (RCTI), sinetron Jomblo dll. Secara berkala sejak  lima tahun lalu tampil bersama beberapa artis , Komedian dan penyanyi di Jakarta dengan tajuk acara Indonesia Kita, acara itu diprakarsai oleh Butet Kertarejasa.

Kemampuannya beradaptasi di berbagai jenis seni pertunjukan menjadi kekuatannya, sehingga sampai hari ini masih tetap eksis. Berpikir positif dan  bersikap optimis membuat Yuningsih menjadi perempuan yang kuat perkasa dalam melalui aneka peristiwa dalam hidupnya, juga penyakit yang menimpanya atas izin Tuhan “ kabur” pergi menjauh darinya karena besar semangatnya untuk terus berkarya dan  menjadi survivor. Salam tegar kokoh Yu Beruk! (*/rr)

Video Anugerah Kebudayaan Nasional 2020:

https://youtu.be/l-Z_zUIIWgg

Malam ini, Aktor Tua Unjuk Gigi

Pentas “Oedipus Rex” Teater Alam

Jayakarta News – Malam ini, Sabtu (18/1/2020), Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta bakal diramaikan oleh pementasan “Oedipus Rex” oleh Teater Alam. Pementasan memperingati 48 tahun Teater Alam itu, sengaja mengangkat naskah Yunani klasik, karya Sophocles terjemahan WS Rendra.

Karya drama tragedi terbaik yang dicipta tahun 400 Sebelum Masehi ini, bukan naskah baru bagi Teater Alam. Sudah empat atau lima kali, Teater Alam mementaskan lakon Oedipus. Terakhir, tahun 1998 bahkan membuat rekor pementasan Trilogi Sophocles, dalam pementasan berdurasi 10,5 jam. Tiga naskah dimainkan sekaligus, Oedipus Rex, Oedipus di Colonus, dan Antigone.

“Sudah lebih dua-puluh-tahun lakon ini tidak dimainkan. Ini naskah bagus. Penggemar teater yang sudah lanjut, tentu ingin bernostalgia dengan Oedipus. Buat pecinta teater dari generasi muda, harus tahu lakon ini,” ujar Azwar AN, pendiri Teater Alam, yang dalam pementasan ini “turun gunung” bertindak selaku sutradara, dibantu asisten sutradara Meritz Hindra.

Apa boleh buat, dalam usia ke-48, Teater Alam praktis menyisakan aktor-aktor andalan yang rata-rata sudah lanjut usia. Aktor Gege Hang Andhika yang memerankan Oedipus, setidaknya sudah memasuki 71 tahun. Lebih tua setahun dari Meritz Hindra yang selain sebagai Astrada juga memegang peran Teirisias sang peramal.

Sutradara Oedipus tahun 80-an, Tertib Soeratmo yang kini sudah berusia sekitar 80 tahun, nanti malam juga tampil, memerankan tokoh Pendeta. Jebolan Bengkel Teater ini, tahun 80-an menyutradarai Oedipus Rex dengan konsep penyutradaraan yang kental garapan gerak indah melalui dua pasukan koor (stasima). Ketika itu, Gege pula yang berperan sebagai Oedipus.

Tak pelak, pentas Oedipus Rex nanti malam adalah pentas aktor-aktor tua unjuk gigi. Seberapa prima fisik para aktor tua dalam akting dan berdialog, seberapa hidup lakon Oedipus tersampaikan ke audiens, patut kita saksikan.

“Saya terbang khusus dari Makassar untuk nonton Oedipus Rex Teater Alam. Satu acara saya cancel, dan memilih nonton Oedipus,” ujar seorang wanita dari Makassar, yang ternyata pengurus Dewan Kesenian Makassar, Sulawesi Selatan.

Ketika ditanya, apa yang membuat ia tertarik? “Jujur, saya tertarik justru karena yang main aktor-aktor senior. Ini sangat menarik. Saya kira banyak pecinta dan pengamat teater menyoroti penampilan Teater Alam ini,” tambahnya. (rr)

Dialog Oedipus (Gege Hang Andhika) dan Creon (Daning Hudoyo) dalam gladi resik tadi malam. (foto: erna azmita an)

Azwar AN “Turun Gunung”

Jayakarta News – Kembalinya maestro teater Indonesia, Azwar AN menyutradarai Oedipus Rex, Sabtu, 11 Januari 2020 pukul 19.30 di Taman Budaya Yogyakarta, adalah satu catatan sejarah tersendiri. Yang pasti, ia melampaui pencapaian rekan sekaligus gurunya, Rendra. Setidaknya dari sisi kesempatan berkiprah di dunia teater.

Rendra yang kelahiran Solo tahun 1935, wafat tahun 2009 dalam usia 74 tahun. Setelah pementasan “Panembahan Reso” tahun 1996, Rendra praktis tidak begitu aktif berteater. Bengkel Teater yang sudah diboyong dari Yogya ke Depok, Jawa Barat, juga tidak terlalu produktif.

Akan tetapi, bicara Oedipus Rex tidak mungkin lepas dari sosok “Si Burung Merak”. Selain sebagai penerjemah, bersama Bengkel Teater (yang ketika itu masih bermarkas di Yogyakarta), Rendra setidaknya dua kali mementaskan Oedipus di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Pertama tahun 1962, dalam latar belakang dan warna pementasan yang kental aroma Yunani Kuno. Tujuh tahun kemudian, 1969, sepulang dari Amerika Serikat, Rendra bersama Bengkel Teater kembali memainkan Oedipus Rex yang disempurnakan.

Para pengamat menulis, pementasan Oedipus oleh Bengkel Teater tahun 1969 sebagai penyempurnaan bentuk pementasan sebelumnya. Tahun 1969, Rendra makin berani bereksperimen. Saat itu, ia banyak memasukkan unsur gerak tari Bali.

Sebagai anggota Bengkel Teater, tentu saja Azwar AN terlibat dalam pementasan tersebut. Tak heran, jika Azwar begitu lekat dengan lakon Oedipus. Bisa jadi, pilihan naskah Oedipus, didedikasikan bagi penghargaan terhadap Rendra, senior sekaligus sahabatnya.

Pentas Oedipus Rex oleh Teater Alam, bakal dilangsungkan 18 Januari 2020 di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta mulai pukul 19.30 WIB. Pementasan ini menandai 48 tahun usia Teater Alam.

Jika Anda penyaksi sejarah perjalanan Teater Alam, maka Anda berkesempatan membandingkan dengan pentas Oedipus dua dasawarsa lalu (terakhir memainkan Trilogi Sophocles tahun 1989). Jika Anda belum lahir –atau masik kecil—dua puluh tahun lalu, maka beruntung, bisa menyaksikan sebuah naskah klasik yang dimainkan oleh salah satu kelompok teater tertua di Yogyakarta.

Selain disutradari sendiri oleh Azwar AN, pementasan ini juga didukung para aktor kawakan Teater Alam, seperti Tertib Soeratmo, Meritz Hindra (yang merangkap sebagai Asisten Sutradara), Gege Hang Andhika, Jemek Supardi, Anastasia SH, dan lain-lain.

Sinopsis

Lakon “Oedipus Sang Raja” adalah lakon tragedi-romantik yang mengisahkan perjalanan hidup Oedipus dalam mengalami kejayaan dan keruntuhannya.

Pada saat itu Thebes dilanda huru-hara. Wabah, kelaparan, serta kemandulan menyerang negeri itu. Rakyat menderita. Dalam penderitaannya itu rakyat mengalami kegoncangan-kegoncangan batin juga kepercayaannya terhadap raja Oedipus. Tiada kepastian dalam diri rakyat.

Konon kesengsaraan yang menimpa kerajaan Thebes adalah akibat kemurkaan dewa karena pembunuh raja Laius belum dihukum. Semua orang termasuk Oedipus meraba-raba dan mencari siapakah sebenarnya pembunuh Raja Laius.

Dalam keadaan demikian datanglah pendeta Teirisias. Sekali lagi Pendeta Teirisias memperingatkan Oedipus akan ramalan-ramalan yang sudah dijatuhkan dewa-dewa kepadanya. Oedipus berang, dan menuduh Pendeta Teresias telah membuat ramalan-ramalan palsu yang tak berdasar, atas kehendak dari Creon, putra mahkota kerajaan Thebes, saudara putri Yocasta.

Pertentangan-pertentangan di dalam istana makin memuncak. Creon yang dituduh hendak merebut singgasana kerajaan telah diusir oleh Oedipus dari istana, tetapi telah dibela oleh Yocasta.

Suasana semakin memuncak, orang terus mencari-cari siapakah sesungguhnya pembunuh raja Laius. Dan pada saat itu, Oedipus mulai mengalami kegoncangan-kegoncangan batin. Teringatlah ia akan ramalan-ramalan Dewa Apollo yang dijatuhkan terhadap dirinya, bahwa ia kelak akan mengawini ibu kandungnya dan membunuh ayahnya sendiri.

Teringat pulalah ia bagaimana ia berusaha menghindarkan diri dari segala ramalan dewa mengenai dirinya, dengan jalan meninggalkan kerajaan Korinthe.

Pada akhir cerita diketahuinyalah seluruh rahasia, yang menyelubungi selama ini. Dialah sesungguhnya yang telah membunuh Raja Laius, ayahnya sendiri, yaitu orangtua yang dijumpainya dalam perjalanan melarikan diri dari Korinthe. Oedipus sendirilah yang mengawini ibu kandungnya yaitu Ratu Yocasta, janda dari orangtua yang dibunuhnya dalam perjalanan.

Adapun Oedipus sendiri sesungguhnya anak laki-laki yang telah dibuang oleh Yocasta ke kaki gunung Kitahron, tetapi ditemukan dan dipelihara oleh seorang gembala yang kasihan melihat bayi tak berdosa itu. Bayi itu kemudian diberikannya keada seorang gembala lain di Korinthe yang menjadi abdi raja Laius yang kemudian diakuinya sebagai anak sendiri oleh Sang Raja.

Setelah rahasia terbuka, tahulah Yocasta bahwa Oedipus adalah anaknya sendiri. Yocasta kemudian mengakhiri hidupnya dengan tangannya sendiri. Oedipus membuat dirinya menjadi buta dengan menusukkan jarum berkali-kali ke kedua belah matanya, takut dan ngeri melihat akibat dari ramalan yang menimpa dirinya. Creon kemudian datang, bukan untuk membalaskan dendam kepada Oedipus, tetapi minta agar Oedipus tetap tinggal di istana. Tetapi Oedipus menghendaki agar dirinya dibuang. Sebelum pergi Oedipus memohon satu permintaan kepada Creon yang kemudian diluluskan, yaitu bertemu anaknya, hasil perkawinan dengan ibu kandungnya, Yocasta. (rr)

Oedipus Rex, Tandai Kebangkitan Teater Alam

Jayakarta News – Teater Alam Yogyakarta, tengah memasuki era kebangkitan. Di saat banyak teater seusia rontok dan tidak lagi berproduksi, Teater Alam seperti tak lekang dimakan usia. Kelompok teater yang didirikan Azwar AN, 4 Januari 1972 itu, pada Sabtu, 18 Januari 2020 sedia mementaskan “Oedipus Rex” (Sophocles), di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta.

Menyimak perjalanan Teater Alam, tampak mengalami pasang surut. Setelah “tidur panjang” di era tahun 2000-an, ia bangkit dua tahun lalu. Dipicu kegiatan halal-bihalal tahun Juni 2018, para anggota yang tersebar di banyak kota dan banyak bidang pengabdian, seperti terpacu untuk membangkit-bangkitkan almamaternya.

Adalah Puntung CM Pudjadi yang mendapat sampur menyutradarai teman-temannya dalam lakon Montserrat (Emmanuel Robles). Pentas menandai 47 Teater Alam ini tergelar 8 Desember 2018 di Taman Budaya Yogyakarta, dan berhasil menyedot animo masyarakat yang luar biasa. Inilah pentas kebangkitan Teater Alam.

Belum reda gaung Montserrat, Teater Alam meluncurkan buku (soft launching) “Trilogi Teater Alam”, di Amphi  Theater TBY, 23 Desember 2918. Tiga buku itu berjudul “Azwar AN, Manusia Teater” (Buku 1), “Teater Alam di Panggung Zaman” (Buku 2), dan “Potret Teater Alam, Warna-warni Testimoni” (Buku 3).

Dua minggu kemudian, tepatnya 3 Januari 2019, acara potong tumpeng memperingati Ultah Teater Alam ke-47, kian bermakna dengan dua agenda yang menyertai. Pertama, grand launching buku Trilogi Teater Alam, dan kedua, Pidato Kebudayaan anggota Teater Alam yang menjadi satu-satunya profesor teater, Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, MA.

Saat itu, Prof Yudi masih menjabat Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Yogyakarta. Ia membawakan pidato kerbudayaan berjudul ”Melacak Jejak Sumber Kreativitas Seni, Membangun Nilai-nilai Kebangsaan Indonesia”.

Acara yang berlangsung di Gedung Societet, TBY itu sangat menarik, dan mendapat apresiasi banyak pihak. Kolaborasi pidato Prof Yudi yang dibawakan secara teaterikal, ditingkah iringan musik etnik oleh Dr Memet Chairul Slamet, makin sempurna dengan set panggung, tata cahaya, dan permainan special effect.

Tidak berhenti di situ. Teater Alam terus bergerak dan berkarya.

Dalam salah satu ajang kumpul-kumpul di kediaman Azwar AN, terbetiklah wacana mempersiapkan pementasan selanjutnya. Spontan, Azwar menunjuk Prof Yudiaryani yang untuk memilih naskah, sekaligus menyutradarai.

“Ninik”, panggilan kecil Prof Yudi, menjatuhkan pilihan pada naskah klasik karya Tennessee Williams bertajuk ‘A Streetcar Named Desire’ yang telah diterjemahkan oleh Toto Sudarto Bachtiar dalam judul ‘Pusaran’. Berkolaborasi dengan para mahasiswa binaannya di Jurusan Teater ISI Yogyakarta, pentas Pusaran pun digelar dua hari, 22 – 23 Juli 2019 di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta.

Sebuah pentas kolaborasi yang unik. Aktor kawakan seperti Meritz Hindra, Daning Hudoyo, Gola Bustaman, Dinar Saka, Gege Hang Andhika (Teater Alam), beradu akting dengan para mahasiswa Teater ISI. Rangkaian proses produksi “Pusaran” tak pelak menjadi sebuah role-model pentas kolaborasi antara seniman sanggar dan seniman akademisi. Sekali lagi, Teater Alam melakukan terobosan yang menjadi catatan penting dalam perjalanan sejarahnya.

Tak pelak, “Pusaran” adalah titik singgah dari dua lakon lain yang dipentaskan dalam dua tahun terakhir: Montserrat dan Oedipus Rex. Sadar-tidak-sadar, ketiga lakon yang sudah dan yang akan dipentaskan, semua naskah “impor”.

Oedipus Rex

Sabtu tanggal 18 Januari 2020 mendatang, kembali Teater Alam mementaskan naskah klasik karya Sophocles, Oedipus Rex. Patron Teater Alam, Azwar AN, “turun gunung” menyutradarai naskah drama tragedi Yunani terbaik sepanjang masa.

Pementasan kali ini didukung para aktor kawakan Teater Alam, seperti Tertib Soeratmo, Meritz Hindra, Gege Hang Andhika, Daning Hudoyo, Annastasia SH, dan lain-lain. Dr Memet Chairul Slamet kembali didapuk meracik penataan musik pementasan monumental tersebut.

Sinopsis

Lakon “Oedipus Sang Raja” adalah lakon tragedi-romantik yang mengisahkan perjalanan hidup Oedipus dalam mengalami kejayaan dan keruntuhannya.

Pada saat itu Thebes dilanda huru-hara. Wabah, kelaparan, serta kemandulan menyerang negeri itu. Rakyat menderita. Dalam penderitaannya itu rakyat mengalami kegoncangan-kegoncangan batin juga kepercayaannya terhadap raja Oedipus. Tiada kepastian dalam diri rakyat.

Konon kesengsaraan yang menimpa kerajaan Thebes adalah akibat kemurkaan dewa karena pembunuh raja Laius belum dihukum. Semua orang termasuk Oedipus meraba-raba dan mencari siapakah sebenarnya pembunuh Raja Laius.

Dalam keadaan demikian datanglah pendeta Teirisias. Sekali lagi Pendeta Teirisias memperingatkan Oedipus akan ramalan-ramalan yang sudah dijatuhkan dewa-dewa kepadanya. Oedipus berang, dan menuduh Pendeta Teresias telah membuat ramalan-ramalan palsu yang tak berdasar, atas kehendak dari Creon, putra mahkota kerajaan Thebes, saudara putri Yocasta.

Pertentangan-pertentangan di dalam istana makin memuncak. Creon yang dituduh hendak merebut singgasana kerajaan telah diusir oleh Oedipus dari istana, tetapi telah dibela oleh Yocasta.

Suasana semakin memuncak, orang terus mencari-cari siapakah sesungguhnya pembunuh raja Laius. Dan pada saat itu, Oedipus mulai mengalami kegoncangan-kegoncangan batin. Teringatlah ia akan ramalan-ramalan Dewa Apollo yang dijatuhkan terhadap dirinya, bahwa ia kelak akan mengawini ibu kandungnya dan membunuh ayahnya sendiri.

Teringat pulalah ia bagaimana ia berusaha menghindarkan diri dari segala ramalan dewa mengenai dirinya, dengan jalan meninggalkan kerajaan Korinthe.

Pada akhir cerita diketahuinyalah seluruh rahasia, yang menyelubungi selama ini. Dialah sesungguhnya yang telah membunuh Raja Laius, ayahnya sendiri, yaitu orangtua yang dijumpainya dalam perjalanan melarikan diri dari Korinthe. Oedipus sendirilah yang mengawini ibu kandungnya yaitu Ratu Yocasta, janda dari orangtua yang dibunuhnya dalam perjalanan.

Adapun Oedipus sendiri sesungguhnya anak laki-laki yang telah dibuang oleh Yocasta ke kaki gunung Kitahron, tetapi ditemukan dan dipelihara oleh seorang gembala yang kasihan melihat bayi tak berdosa itu. Bayi itu kemudian diberikannya keada seorang gembala lain di Korinthe yang menjadi abdi raja Laius yang kemudian diakuinya sebagai anak sendiri oleh Sang Raja.

Setelah rahasia terbuka, tahulah Yocasta bahwa Oedipus adalah anaknya sendiri. Yocasta kemudian mengakhiri hidupnya dengan tangannya sendiri. Oedipus membuat dirinya menjadi buta dengan menusukkan jarum berkali-kali ke kedua belah matanya, takut dan ngeri melihat akibat dari ramalan yang menimpa dirinya.

Creon kemudian datang, bukan untuk membalaskan dendam kepada Oedipus, tetapi minta agar Oedipus tetap tinggal di istana. Tetapi Oedipus menghendaki agar dirinya dibuang. Sebelum pergi Oedipus memohon satu permintaan kepada Creon yang kemudian diluluskan, yaitu bertemu anaknya, hasil perkawinan dengan ibu kandungnya, Yocasta. (rr)

Dari Montserrat ke Oedipus, Singgah di Pusaran

Jayakarta News – Tak hanya menolak lupa, apalagi mati, Teater Alam bahkan menolak berhenti berkarya. Kelompok teater yang didirikan Azwar AN Januari 1972, tak pelak menjadi salah satu teater tertua di Yogya, yang masih aktif hingga hari ini.

Sejak beberapa bulan terakhir, sanggar teater di Wirokerten, Kotagede, Yogyakarta, itu mulai ingar-bingar oleh suasana latihan. Benar, mereka tengah mempersiapkan pementasan terbaru: Oedipus Rex (Oedipus Sang Raja).

Naskah klasik karya Sophocles yang diterjemahkan oleh Rendra itu, bukan sekali-dua dipentaskan Teater Alam. Mengapa naskah itu lagi yang menjadi pilihan? “Dibilang sering, memang relatif sering. Tetapi sejak pementasan terakhir tahun 90-an, sudah lebih dua dasawarsa jedanya. Banyak yang rindu kami memainkan Oedipus,” ujar pimpinan Teater Alam, Azwar AN, yang dalam pentas kali ini bertindak selaku sutradara.

Inikah pentas “romantisme masa lalu”? Bisa jadi begitu.

Lihat saja, Azwar AN sang sutradara kini sudah menjejak usia ke-87 (kelahiran Palembang, 6 Agustus 1932). Toh, semangatnya masih luar biasa. Sedangkan di deretan pemain? Bisa dikata sudah banyak mengantongi bilangan usia.

Ada Meritz Hindra, anak murid Azwar angkatan pertama Teater Alam, yang selain bermain sebagai Teirisias, juga melapis Azwar sebagai Asisten Sutradara bersama seniornya, Tertib Soeratmo. Ya, Tertib Soeratmo bahkan masih ikut bermain sebagai Pendeta.

Siapa pemeran Oedipus? Gege Hang Andhika. Hampir semua lakon Oedipus yang dipentaskan Teater Alam, Gege-lah sang Oedipus. Termasuk, saat Tertib Soeratmo tahun 80-an menyutradarai Teater Alam memainkan Oedipus Rex.

Anda tahu? Tertib Soeratmo tahun ini sudah menginjak usia ke-78.

Sementara, Meritz Hindra menginjak usia ke-70 (kelahiran Surakarta 22 April 1949), dan Gege Hang Andhika kurang lebih seumuran Meritz. Di luar nama-nama di atas, para pendukung lain juga tak bisa dibilang muda.

Sebut saja Daning Hudoyo, aktof gaek Teater Alam yang memerankan Creon. Lalu Anastasia Sri Hestutiningsih, pemeran Yocasta. Pemain pantomim Jemek Supardi, pun berpartisipasi dalam pementasan mendatang. Ia memegang peran Pendeta, bersama pemeran pendeta lain: Bustaman Dalhar, Lukman Usdianto, dan Tertib Soeratmo.

Deretan pemain lain, tampak aktor Teater Alam angkatan 80-an, Eddy Subroto, disusul nama-nama seperti Aziz, Syam Chandra, Hisyam A. Fachri Hamka, dan Eko Pam.

“Sejauh ini, kami masih baik-baik saja. Latihan tiga kali seminggu. Sesekali ada latihan tambahan. Dan Bang Azwar tekun mengamati kami berlatih di belakang rumah. Tapi tidak segalak dulu, he… he… he…,” ujar Bustaman, yang dalam pementasan ini juga berperan sebagai Pimpinan Produksi bersama Anastasia.

“Kangen-kangenan Karo Bang Azwar AN” Mei 2018 menandai kebangkitan Teater Alam pasca “tidur panjang”. (foto: dok. Teater Alam)

Era Kebangkitan

Teater Alam tengah memasuki era kebangkitan. Di saat banyak teater seusia rontok dan tidak lagi berproduksi, Teater Alam seperti tak lekang dimakan usia. Memang, ada fase “tidur panjang” yang dialami Teater Alam, yakni di kisaran tahun 2000-an.

Namun dalam dua tahun terakhir, Teater Alam seperti bangkit dari tidur panjang. Dipicu kegiatan “Kangen-kangenan Karo Bang Azwar” Mei 2018, para anggota yang tersebar di banyak kota dan banyak bidang pengabdian, seperti terpacu untuk membangkit-bangkitkan almamaternya.

Adalah Puntung CM Pudjadi yang mendapat sampur menyutradarai teman-temannya dalam lakon Montserrat (karya Emmanuel Robles). Pentas ini tergelar 8 Desember 2018 di Taman Budaya Yogyakarta, dan berhasil menyedot animo masyarakat yang luar biasa. Inilah pentas tonggak kebangkitan Teater Alam.

Belum reda gaung Montserrat, Teater Alam meluncurkan buku (soft launching) “Trilogi Teater Alam”, di Amphi Theater TBY, 23 Desember 2018. Tiga buku setebal total sekitar 900 halaman itu berjudul “Azwar AN, Manusia Teater” (Buku 1), “Teater Alam di Panggung Zaman” (Buku 2), dan “Potret Teater Alam, Warna-warni Testimoni” (Buku 3).

Pementasan Montserrat yang disutradarai Puntung CM Pudjadi. (foto: dok Teater Alam)
Soft Launching buku Trilogi Teater Alam, bersama tim penulis dari kiri: Bambang JP, Roso Daras, dan Prof Yudiaryani. (foto: dok Teater Alam)
Pidato kebudayaan Prof Dr Hj Yudiaryani, MA menandai peringatan ulang tahun Teater Alam ke-47, di Sicietet, Taman Budaya Yogyakarta. (foto: dok Teater Alam)

Dua minggu kemudian, tepatnya 3 Januari 2019, acara potong tumpeng memperingati Ultah Teater Alam ke-47, kian bermakna dengan dua agenda yang menyertai. Pertama, grand launching buku Trilogi Teater Alam, dan kedua, Pidato Kebudayaan oleh anggota Teater Alam yang juga satu-satunya profesor teater di Indonesia, Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, MA.

Saat itu, Prof Yudi masih menjabat Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Yogyakarta. Ia membawakan pidato kerbudayaan berjudul ”Melacak Jejak Sumber Kreativitas Seni, Membangun Nilai-nilai Kebangsaan Indonesia”.

Acara yang berlangsung di Gedung Societet, TBY itu sangat menarik, dan mendapat apresiasi banyak pihak. Kolaborasi pidato Prof Yudi yang dibawakan secara teaterikal, ditingkah iringan musik etnik oleh Dr Memet Chairul Slamet, makin sempurna dengan set panggung, tata cahaya, dan permainan special effect.

Tidak berhenti di situ. Teater Alam terus bergerak dan berkarya.

Dalam salah satu ajang kumpul-kumpul di kediaman Azwar AN, terbetiklah wacana mempersiapkan pementasan selanjutnya. Spontan, Azwar menunjuk Prof Yudiaryani yang kebetulan hadir, untuk memilih naskah, sekaligus menyutradarai.

Aktor-aktor senior Teater Alam dalam “Pusaran”. Dari kiri: Daning Hudoyo (Steve), Dinar Saka (Pablo), Gola Bustaman (Mitch), dan Meritz Hindra (Stanley). (foto: ikhsan bastian)

“Ninik”, panggilan kecil Prof Yudi, menjatuhkan pilihan pada naskah klasik karya Tennessee Williams bertajuk ‘A Streetcar Named Desire’ yang telah diterjemahkan oleh Toto Sudarto Bachtiar dalam judul ‘Pusaran’. Berkolaborasi dengan para mahasiswa binaannya di Jurusan Teater ISI Yogyakarta, pentas Pusaran pun digelar dua hari, 22 – 23 Juli 2019 di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta.

Sebuah pentas kolaborasi yang unik. Aktor kawakan seperti Meritz Hindra, Daning Hudoyo, Gola Bustaman, Dinar Saka, Gege Hang Andhika (Teater Alam), beradu akting dengan para mahasiswa Teater ISI. Rangkaian proses produksi “Pusaran” tak pelak menjadi sebuah role-model pentas kolaborasi antara seniman sanggar dan seniman akademisi. Sekali lagi, Teater Alam melakukan terobosan yang menjadi catatan penting dalam perjalanan sejarahnya.

Tak pelak, “Pusaran” adalah titik singgah dari dua lakon lain yang dipentaskan dalam dua tahun terakhir: Montserrat dan Oedipus Rex. Sadar-tidak-sadar, ketiga lakon yang sudah dan yang akan dipentaskan, semua naskah “impor”.

Azwar AN dan Tertib Soeratmo (duduk), bersama para pendukung Oedipus Rex 2020. (foto: dok teater alam)

Azwar AN Berkarya

Kembalinya maestro teater Indonesia, Azwar AN menyutradarai Oedipus Rex, adalah satu catatan sejarah tersendiri. Yang pasti, ia melampaui pencapaian rekan sekaligus gurunya, Rendra. Setidaknya dari sisi kesempatan berkiprah di dunia teater.

Rendra yang kelahiran Solo tahun 1935, wafat tahun 2009 dalam usia 74 tahun. Setelah pementasan “Panembahan Reso” tahun 1996, Rendra praktis tidak begitu aktif berteater. Bengkel Teater yang kemudian diboyong dari Yogya ke Depok, Jawa Barat, juga tidak terlalu produktif.

Akan tetapi, bicara Oedipus Rex tidak mungkin lepas dari sosok “Si Burung Merak”. Selain sebagai penerjemah, bersama Bengkel Teater (yang ketika itu masih bermarkas di Yogyakarta), Rendra setidaknya dua kali mementaskan Oedipus di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Pertama tahun 1962, dalam latar belakang dan warna pementasan yang kental aroma Yunani Kuno. Tujuh tahun kemudian, 1969, sepulang dari Amerika Serikat, Rendra bersama Bengkel Teater kembali memainkan Oedipus Rex yang disempurnakan.

Para pengamat menulis, pementasan Oedipus oleh Bengkel Teater tahun 1969 sebagai penyempurnaan bentuk pementasan sebelumnya. Tahun 1969, Rendra makin berani bereksperimen atas nama teater modern Indonesia. Saat itu, ia banyak memasukkan unsur gerak tari Bali.

Sebagai anggota Bengkel Teater, tentu saja Azwar AN terlibat dalam pementasan tersebut. Tak heran, jika Azwar begitu lekat dengan lakon Oedipus. Bisa jadi, pilihan naskah pementasan Teater Alam kali ini, didedikasikan bagi Rendra, senior sekaligus sahabatnya.

Pentas Oedipus Rex oleh Teater Alam, bakal dilangsungkan 18 Januari 2020 di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta. Pementasan ini akan menandai 48 tahun usia Teater Alam.

Jika Anda penyaksi sejarah perjalanan Teater Alam, maka Anda berkesempatan membandingkan dengan pentas Oedipus dua dasawarsa lalu. Jika Anda belum lahir –atau masik kecil—dua puluh tahun lalu, maka beruntung, bisa menyaksikan sebuah naskah klasik yang dimainkan oleh salah satu kelompok teater tertua di Yogyakarta.

Adu akting dua aktor gaek: Gege Hang Andhika (Oedipus) dan Meritz Hindra (Teirisias). (foto: dok teater alam)

Sinopsis

Lakon “Oedipus Sang Raja” adalah lakon tragedi-romantik yang mengisahkan perjalanan hidup Oedipus dalam mengalami kejayaan dan keruntuhannya.

Pada saat itu Thebes dilanda huru-hara. Wabah, kelaparan, serta kemandulan menyerang negeri itu. Rakyat menderita. Dalam penderitaannya itu rakyat mengalami kegoncangan-kegoncangan batin juga kepercayaannya terhadap raja Oedipus. Tiada kepastian dalam diri rakyat.

Konon kesengsaraan yang menimpa kerajaan Thebes adalah akibat kemurkaan dewa karena pembunuh raja Laius belum dihukum. Semua orang termasuk Oedipus meraba-raba dan mencari siapakah sebenarnya pembunuh Raja Laius.

Dalam keadaan demikian datanglah pendeta Teirisias. Sekali lagi Pendeta Teirisias memperingatkan Oedipus akan ramalan-ramalan yang sudah dijatuhkan dewa-dewa kepadanya. Oedipus menjadi sangat berang, dan menuduh Pendeta Teresias telah membuat ramalan-ramalan palsu yang tak berdasar, atas kehendak dari Creon, putra mahkota kerajaan Thebes, saudara putri Yocasta.

Dalam kegoncangannya menerima kebenaran-kebenaran yang dibentangkan oleh Teresias yang dianggapnya sebagai kebohongan besar, Oedipus membela dirinya dengan menunjukkan jasa-jasanya terhadap Thebes dan seluruh rakyat, dalam usahanya mengusir Sphinx, makhluk ajaib yang telah menimbulkan kegoncangan Thebes.

Pertentangan-pertentangan di dalam istana makin memuncak. Creon yang dituduh hendak merebut singgasana kerajaan telah diusir oleh Oedipus dari istana, tetapi telah dibela oleh Yocasta.

Suasana semakin memuncak, orang terus mencari-cari siapakah sesungguhnya pembunuh raja Laius. Dan pada saat itu, Oedipus mulai mengalami kegoncangan-kegoncangan batin. Teringatlah ia akan ramalan-ramalan Dewa Apollo yang dijatuhkan terhadap dirinya, bahwa ia kelak akan mengawini ibu kandungnya dan membunuh ayahnya sendiri.

Teringat pulalah ia bagaimana ia berusaha menghindarkan diri dari segala ramalan dewa mengenai dirinya, dengan jalan meninggalkan kerajaan Korinthe.

Pada akhir cerita diketahuinyalah seluruh rahasia, yang menyelubungi selama ini. Dialah sesungguhnya yang telah membunuh Raja Laius, ayahnya sendiri, yaitu orangtua yang dijumpainya dalam perjalanan melarikan diri dari Korinthe. Oedipus sendirilah yang mengawini ibu kandungnya yaitu Ratu Yocasta, janda dari orangtua yang dibunuhnya dalam perjalanan.

Adapun Oedipus sendiri sesungguhnya anak laki-laki yang telah dibuang oleh Yocasta ke kaki gunung Kitahron, tetapi ditemukan dan dipelihara oleh seorang gembala yang kasihan melihat bayi tak berdosa itu. Bayi itu kemudian diberikannya keada seorang gembala lain di Korinthe yang menjadi abdi raja Laius yang kemudian diakuinya sebagai anak sendiri oleh Sang Raja.

Setelah rahasia terbuka, tahulah Yocasta bahwa Oedipus adalah anaknya sendiri yang dulu dibuangnya. Yocasta kemudian mengakhiri hidupnya dengan tangannya sendiri. Oedipus membuat dirinya menjadi buta dengan menusukkan jarum berkali-kali ke kedua belah matanya, takut dan ngeri melihat akibat dari ramalan yang menimpa dirinya.

Creon kemudian datang, bukan untuk membalaskan dendamnya kepada Oedipus, tetapi minta agar Oedipus tetap tinggal di istana. Tetapi Oedipus menghendaki agar dirinya dibuang keluar dari istana. Sebelum pergi Oedipus memohon satu permintaan kepada Creon yang kemudian diluluskan, yaitu bertemu dengan anaknya, hasil perkawinan dengan ibu kandungnya, Yocasta. (roso daras)

Sisyphus, Penentang Dewa yang Kreatif

Prof. Dr. Yudiaryani, MA, Guru Besar Teater ISI Yogyakarta, anggota Teater Alam yang akan menyampaikan Pidato Kebudayaan, Kamis (3/1/2019) malam di Societet, Taman Budaya Yogyakarta. Ia menukil legenda Sisyphus mengangkat batu sebagai inspirasi kreativitas manusia. (foto: Bambang Wartoyo/greece.greekreporter.com)

Jika Bung Karno memainkan tonil di Ende (1934-1938) dan di Bengkulu (1938-1942), sungguh bukan sebuah sejarah teater kuno. Anda tahu? Sejarah teater sejatinya sudah terbentang 2,5 abad lamanya. Benar…. 2.500 tahun!

Jejak itu mulai samar terlihat pada teater Yunani dan Romawi. Bahkan kita dapat melacak sumber sejarahnya di Mesir dan Babylonia, Syria dan Syprus, Thrakis dan Creta. Sejarah panjang pembentukan teater dan drama terbentang dari masa lalu melalui magi dan mitos yang penuh ketidakpastian, kabur dan samar, tetapi menggetarkan.

Kisah menarik itu akan dibawakan Guru Besar Teater ISI Yogyakarta, Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, MA, pada malam puncak acara peringatan Ulang Tahun Teater Alam ke-47, Kamis 3 Januari 2019, di Gedung Societet – Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Masih banyak narasi menarik yang dikemas dalam pidato kebudayaan berjudul “Melacak Jejak Sumber Kreativitas Seni, Membangun Nilai-Nilai Kebangsaan Indonesia”.

Esensi kreativitas bahkan digambarkan secara ekstrem melalui legenda (atau mitos?) raja Yunani bernama Sisyphus. Ada yang menyebut Sisifos. Ia raja bengal, kriminal, amoral, bahkan gemar menentang dan menantang dewa untuk menghukumnya. Pada hari penghukuman, Sisyphus harus mendorong batu besar ke puncak gunung. Saat batu hampir mencapai puncak, Dewa menjatuhkannya lagi.

Sisyphus mengejar ke bawah, dan mendorongnya lagi ke puncak. Ketika pucuk semakin dekat, Dewa kembali “bercanda”, dan menggelindingkan batu itu kembali ke lembah. Sisyphus mengejar lagi, menaikkannya lagi, diturunkan lagi, dikejar lagi, dinaikkan lagi…. Sisyphus tidak juga merasa terhukum. Ia menikmati peluh yang bercucur, darah yang berlumur, dahaga yang menggelegak, lapar yang melilit. Sisyphus terus mencari cara dan berusaha menaikkan batu itu ke puncak gunung.

Menurut Prof Yudiaryani, legenda Sisyphus itu menyiratkan pesan perlawanan dan siasat. Itulah yang disebut kreativitas. Sebuah legenda kongkret dan fakta imajinatif menjadi penguat bagi manusia untuk cerdas menyempurnakan hidupnya menuju cahaya.

Singkatnya, ia mengemukakan lima peristiwa penting yang menunjukkan bagaimana sumber-sumber kreativitas seniman terekam melalui magi dan upacara teater primitif, karya cipta seni, rasa kebangsaan, ketahanan global, dan bonus demografi menjadi “ruang hidup” bergejolak, yang memberi sumbangan penting bagi terciptanya nilai-nilai kebangsaan Indonesia.

(Teks lengkap PIDATO KEBUDAYAAN, “MELACAK JEJAK SUMBER KREATIVITAS SENI, MEMBANGUN NILAI-NILAI KEBANGSAAN INDONESIA” Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, M.A. bisa diakses di www.jayakartanews.com edisi Kamis, 3 Januari 2019 pukul 19.30 WIB).

Teks Pidato Kebudayaan sepanjang 23 halaman itu, akan dibacakan dengan iringan musik Memet Chaerul Slamet, pentolan kelompok musik etnik-kontemporer Gang Sadewa Yogyakarta. Bahkan aktor pantomim Jemek Supardi akan melengkapi Pidato Kebudayaan Yudiaryani, Kamis malam nanti (3/1/2019) menjadi beda dari pidato kebudayaan pada umumnya.

Dari kiri: Azwar AN, pendiri sekaligus guru besar Teater Alam Yogyakarta, Prof Dr Yudiaryani MA (pidato kebudayaan), Memet Chaerul Saleh (penata musik), dan Jemek Supardi (pantomim). (foto: Bambang Wartoyo)

 

Peluncuran Buku

Sebelum acara Pidato Kebudayaan, didahului peluncuran buku Trilogi Teater Alam dan pemotongan tumpeng serta doa syukur para anggota Teater Alam atas semua barokah yang telah diberikan Tuhan kepada Azwar AN, pendiri dan guru besar Teater Alam. Menurut Ketua Penyelenggara, Edo Nurcahyo, prosesi perayaan Ulang Tahun Teater Alam ke-47 kali ini, meliputi tiga kegiatan berurutan.

Agenda Pertama, Sabtu 8 Desember 2018 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta pementasan Montserrat (Emmanuel Robles) yang disutradarai Puntung CM Pudjadi. Kegiatan Kedua, penyusunan buku Trilogi Teater Alam dengan penyunting Roso Daras dan Yudiaryani dan telah didiskusikan dalam bedah buku, Minggu 23 Desember 2018 di Amphi Teater TBY. Buku Trilogi Teater Alam diharapkan dapat menjadi proses literasi bagi khalayak, khususnya para meminat seni budaya dan seni teater.

Agenda ketiga, puncak acara perayaan Ulang Tahun Teater Alam ke-47, diselenggarakan Pidato Kebudayaan oleh anggota Teater Alam yang juga Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Yogyakarta, Guru Besar Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, MA.

Menurut Bambang Jepe, ketua tim kreatif Ultah Teater Alam ke-47, peringatan ulang tahun Teater Alam tahun ini, diharapkan memberi perspektif persoalan Kebudayaan dan Peradaban yang tengah berlangsung. Di titik inilah Teater Alam sebagai sanggar yang telah bertahan 47 tahun, ingin memberi sentuhan. Tidak saja dengan pementasan teater untuk mengasah kreativitas penciptaan, tetapi juga menerbitkan buku sebagai bagian integral proses literasi untuk mengembangkan pengetahuan tertulis dalam sejarah perjalanannya. Di samping, untuk memacu langkah maju menapaki masa depan yang lebih baik. (rr)

Adegan Kolonel Izquierdo (Meritz Hindra) menembak Montserrat (Daning Hudoyo), pada pementasan Montserrat (karya Emmanuel Robles), 23 Desember 2018. (foto: rakhmat supriyono)

 

Trilogi Teater Alam: Azwar AN Manusia Teater (Buku 1), Teater Alam di Panggung Zaman (Buku 2), Potret Teater Alam, Warna-warni Testimoni (Buku 3).

 

Penyerahan buku kepada Dinas Kebudayaan Provinsi DIY sebagai pendukung rangkaian kegiatan Ultah Teater Alam ke-47, diterima oleh Drs Danang Sujarwa (kanan). Berturut-turut ke kiri: Prof Yudiaryani, Bambang JP, Roso Daras, dan Edo Nurcahyo (pimpinan produksi rangkaian acara Ultah Teater Alam ke-47). Foto: Bambang Wartoyo