Lesbumi NU Jakarta Gelar Halal Bihalal dan Evaluasi Kinerja Pengurus

JAYAKARTA NEWS – Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) kembali menunjukkan eksistensinya sebagai organisasi kebudayaan Nahdlatul Ulama (NU) Jakarta. Dalam rangka mempererat silaturahmi dan memperkuat kerja sama antar pengurus, Lesbumi mengadakan rapat halal bihalal yang berlangsung di Sekretariat Lesbumi NU Jakarta, tepatnya di Sanggar De Batavia, Jl. Nurul Iman No.52, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Kamis (24/4/2025).

Acara ini dihadiri oleh berbagai anggota Lesbumi, yang terdiri dari pelaku seni budaya,pekerja film, sastrawan, serta ulama yang memiliki latar belakang seni yang kaya. Dalam kesempatan ini, Ketua Lesbumi NU Jakarta, H. Ahmad Yusuf, memanfaatkan momen untuk melakukan evaluasi kinerja pengurus dan mempersiapkan rangkaian acara Milad Lesbumi yang ke-65.

Di antara yang hadir, Dr. Otong Surasman, MA, telah ditunjuk untuk mengisi posisi sekretaris Lesbumi NU Jakarta di masa mendatang. Selain itu, Ramdhani Hasbullah, yang lebih dikenal dengan nama panggung Qubil AJ, memberikan masukan berharga terkait program-program Lesbumi ke depan.

Salah satu pengurus, Masdjo Arifin, menyampaikan harapannya agar Lesbumi dapat mandiri dan berkolaborasi dalam menciptakan berbagai program, tanpa harus selalu bergantung pada dana dari PWNU Jakarta. Hal ini menunjukkan semangat kolaboratif Lesbumi dalam menjalankan misi kebudayaan dan seni di tengah masyarakat.

Rapat halal bihalal ini bukan hanya sekedar ajang berkumpul, tetapi juga merupakan langkah strategis untuk memperkuat jaringan dan sinergi antar anggota Lesbumi, demi kemajuan seni dan budaya yang berlandaskan nilai-nilai keislaman. Dengan semangat baru dan evaluasi yang konstruktif, Lesbumi NU Jakarta berkomitmen untuk terus berkarya dan berkontribusi dalam dunia seni dan budaya Indonesia.(Agus Oyenk)

Purnawirawan TNI-Polri Bersatu pasca Pemilu

JAYAKARTA NEWS – Acara halal bilhalal TNI-Polri, Pepabri, dan LVRI hari ini (Selasa 2/5) di Balai Sudirman Jakarta, menjadi momentum penting. Inilah momen kebersamaan para purnawirawan TNI dan Polri, pasca Pemilu 2024.

“Kita baru saja melewati dua peristiwa besar, yaitu Ramadhan ke Idul Fitri, dan Pemilu 2024,” ujar Letjen TNI Purn HBL Mantiri, Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (2022 – 2027).

Perbedaan sikap dan pilihan selama masa kampanye, pemilihan, hingga penetapan pemenang adalah hal yang wajar. Termasuk keberadaan purnawirawan di tim inti pemenangan. Semua bekerja untuk menang. “Semua bermental pejuang. Ketika Pemilu usai, saatnya kita kembali bersatu agar ke depan Indonesia meraih sukses. Sukses menuju Indonesia emas 2024,” ujar Mantiri yang mantan Kasum ABRI itu.

Ketua LVRI, Letjen TNI Purn HBL Mantiri. (foto: PPAD)
Letjen TNI Purn Bambang Darmono, dari FOKO Purnawirawan TNI-Polri, penggagas halal bihalal purnawirawan TNI-Polri, Pepabri, dan LVRI. (foto: PPAD)

Mantiri yang abituren AMN tahun 1962 itu kemudian memberi penekanan pada kata sukses dalam bahasa Inggris: SUCCESS. “Huruf S yang pertama adalah Spiritual. Agar sukses, maka setiap insan manusia harus menjalin hubunguan spiritual, hubungan vertical dengan Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya.

Huruf “U”, kata Mantiri, adalah “Unselfish”. Jangan mau menangnya sendiri. Jika kita ingin dihargai, maka kita harus menghargai orang lain.  “Sedangkan huruf C yang pertama adalah cooperative. Harus bersikap toleran, bekerjasama, dan saling menghormati,” tutur mantan Dubes RI di Singapura itu.

Huruf “C” yang kedua adalah “Courage” atau keberanian. Ia menyitir keberanian Bung Karno sebagai founding father ketika memimpin bangsanya untuk merdeka. Sikap berani karena benar, adalah sikap seorang ksatria yang melekat pada setiap insan prajurit TNI-Polri.

Berikutnya E, atau establish dalam maka harus mampu membangun kekuatan dengan belajar dari pengalaman. Baik pengalaman di negara kita sendiri, maupun pengalaman negara lain. “Ambil yang baik, dan buang yang kurang baik,” tegas HBL Mantiri.

Huruf “S” yang terakhir adalah Sacrificial, atau pengorbanan. Bahwa kunci sukses kita ke depan adalah mau berkorban. Tidak saja berkorban tenaga dan pikiran, bahkan harta, bila perlu nyawa. “Sifat dan semangat rela berkorban ini sangat dibutuhkan untuk kesuksesan NKRI ke depan,” katanya.

Mayjen TNI Purn A. Yani, memberikan ceramah “Hikmah Halal Bihalal”. (Foto: PPAD)

Hikmah Lebaran

Acara yang diprakarsai Foko (Forum Komunikasi) Purnawirawan TNI-Polri itu, dihadiri sejumlah senior. Di antaranya, Jenderal TNI Purn Try Sutrisno, Mayjen TNI Purn Saiful Sulun, Letjen TNI Purn HBL. Mantiri – Ketum LVRI, Waketum 1 PPAD, Letjen TNI Purn Dr. Trilegionosuko SIP, MAP,  Waketum 2 PPAD, Letjen TNI Purn A.M. Putranto, Ketum PPAL diwakili Ketua Bid Kum. Laksda TNI Purn. Anwar Saadi, SH. MH, Ketum PPAU diwakili oleh Waketum PPAU Marsdya Tni Purn Wieko Sofyan, Ketum PP Polri Jenderal Pol Purn Drs.Bambang Hendarso Danuri. M M, Sekjen FOKO Letjen TNI Purn Bambang Darmono, mantan KASAD Jenderal TNI Purn Mulyono, Jenderal TNI Purn Agustadi Purnomo Sasongko, serta sederet purnawirawan lainnya.

Sebelum pidato HBL Mantiri, hadirin mendapat ceramah “Hikmah Lebaran” dari Mayjen TNI Purn A. Yani. Ceramah kemudian ditutup dengan doa bersama.

Komentar Keren

Letnan Jenderal Purn Andi Geerhan Lantara, AKABRI 1978 yang hadir sebagai peserta halal bilhalal memuji kerja kompak panitia yang menginisiasi acara tersebut dan dihadiri lebih 700 peserta.

Mantan Irjen TNI itu, merasa bangga sekaligus terharu bisa bertemu dengan kawan kawan seangkatannya, juga para senior dan yuniornya. “Komentar saya satu kata, KEREN,” kata Geerhan bersemangat sambil mengangkat dua jempolnya.

Di pengujung acara, hadirin bercengkerama, diiringi alunan musik band Kartika dari Direktorat Ajudan Jenderal TNI Angkatan Darat (Ajenad). Panitia menghadirkan hidangan ketupat tahu Magelang, sebagai pengobat rindu makanan khas semasa penggemblengan di Lembah Tidar. Usai ramah tamah, hadirin kembali berkumpul untuk menyanyikan lagu Bagimu Negeri, dan diakhiri acara salam-salaman. (*)

HBH Paguyuban Pasar Minggu Legenda Bersama Gus Rofi’i

JAYAKARTA NEWS – Paguyuban Pasar Minggu Legenda gelar acara Silaturahmi dan Halal Bihalal. Acara berlangsung di Balai Rakyat kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (9/06/2023). Tema yang diusung adalah “Satukan Hati Dan Eratkan Silaturahmi”. Kegiatan halal bihalal berlangsung meriah dan khikmad.

“Kegiatan ini bertujuan mempererat tali persaudaraan. Di samping, membangun hubungan yang harmonis. Baik antara warga Pasar Minggu maupun warga Indonesia,” ujar Raja Simanjuntak, SH, Ketua Umum DPP PPML kepada wartawan.

“Kami berkomitmen terus menjaga silaturahmi dan kerukunan antar seluruh elemen masyarakat. Kita juga bergerak dalam berbagai kegiatan sosial, tidak hanya di wilayah Pasar Minggu namun juga di seluruh Indonesia,” ujar Raja.

Mereka juga mengundang Gus Rofi’i, seorang tokoh nasional yang memiliki kepedulian tinggi. “Gus Rofi’i  ini tokoh nasional yang kita miliki karena itu kami undang ke acara halal bihalal ini,” papar Raja.

Di tempat yang sama, Gus Rofi’i, didaulat untuk memberikan tausiyah. Kepada awak media menyampaikan apresiasinya atas kegiatan yang diadakan oleh Paguyuban Pasar Minggu Legenda ini.

“Ini kegiatan yang sangat keren, luar biasa. Saya tadi sudah sampaikan kepada Kabarhakam pak Fadil Imran, mantan Kapolda Metro Jaya. Intinya, acara yang digagas mantan camat Pasar Minggu pak Sotar Harahap dan pak Raja ini sangat positif. Menjaga Indonesia itu salah satunya ya dengan kegiatan seperti ini,” ujarnya.

Dari kiri: Raja, SH, Ketua Paguyuban Pasar Minggu Legenda, Gus Rofi’i Ketum BKN, dan Sotar Harahap, mantan camat Pasar Minggu. (ist)

Radikal Mental

Persatuan bisa terjalin melalui kegiatan berkumpul, guyub, hadrohan, wayangan, dangdutan. Itulah seninya Indonesia. Karenanya, kata Gus Rofi’i, kalau ada kelompok radikal di sini pasti mental. Kalau di luar negeri tidak ada kegiatan seperti ini. Berkumpul, menikmati seni, tetap menjalin silaturahmi walaupun kita berbeda.

“Saya misalnya, mungkin datang dari keluarga pedagang kaki lima. Akan tetapi kalau sudah bicara Indonesia, nasab tidak lagi penting. Ingat, kita diciptakan Allah SWT berbeda suku, agama, tapi tetap berbaur dalam kebersamaan. Inilah Indonesia. Luar biasa. Saya muslim, bang Raja non muslim, bang Raja dari Medan tapi bisa jadi ketua organisasi di Pasar Minggu, tidak masalah. Begitupun dalam pemilihan presiden nanti, boleh berbeda pilihan. Tidak harus dari Jawa atau bagaimana, tapi bebas sesuai pilihan rakyat,” tegasnya.

Tadi pembina juga menyampaikan, di tahun politik kita tetap harus menjaga situasi tetap kondusif. Kita jaga NKRI minimal dari lingkungan sekitar kita,” tandasnya.

Sementara itu, Sotar Harahap, Dewan Pembina Paguyuban Pasar Minggu Legenda yang mantan camat Pasar Minggu tahun 2004 – 2008 menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran Gus Rofi’i dari Kediri. Ke depan PPML harus semakin aktif. Terutama dalam membantu Pemerintah Daerah dalam pembangunan di wilayah Jakarta Selatan dan juga secara nasional.

“Pengalaman saya sebagai camat, sejak dulu warga di Pasar Minggu ini luar biasa. Mereka guyub, memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungannya. Sukses dan terima kasih atas kerjasama semua pihak, semoga acara seperti ini bisa diselenggarakan secara rutin,” pungkasnya.

Kegiatan halal bihalal Paguyuban Pasar Minggu Legenda ini dihadiri oleh lebih dari 500 anggota dan berbagai unsur masyarakat. Acara semakin meriah dengan kehadiran dan penampilan artis ibukota seperti Olivia Noer, Tiara Marlen & Ade Nurul. (Gus)

“Kemesraan” Mengakhiri Sore Indah itu

Peserta reuni SMPN 86 angkatan 1984 berfoto bersama. Foto: Agus S

KENANGAN 34 tahun lalu, seolah baru terjadi kemarin. Lembaran-lembaran yang lucu, malu, sedih, gembira pun tersibak satu demi satu. Ada kalanya, si penutur adalah pelaku kejadian itu. Begitulah yang terjadi, saat alumni SMP Negeri 86 Jakarta angkatan 1984 berhalal bi halal, Minggu (29/7) di Hotel Kristal, Jl. Terogong Raya, Cilandak Barat, Jakarta Selatan.

Sebanyak 105 alumni hadir mengikuti acara HBH sekaligus ajang temu kangen. Hadir pula perwakilan para guru yang pada 1984 mengajar para siswa yang kini menjadi alumni. Sejumlah guru yang hadir di antaranya Teguh Setiabudi, Sudarmadi, Misirah, Zul Abrar, Purnomo, Laksmi, dan Siti Rokayah.

Foto bersama acara halal bihalal dan temu kangan alumni SMPN 86 angkatan 1984. Foto: Agus S

Acara dimulai pukul 13.00 dengan pembacaan doa, dilanjutkan sambutan Doni Bucek selaku Ketua Panitia. Dalam sambutannya Doni menyampaikan ucapan terima kasih kepada para alumni dan juga donatur hingga terlaksana acara ini,

Sementara itu, salah sorang guru, Purnomo ketika menyampaikan kesan dan pesan, bertutur, “Kami para guru mohon dimaafkan bila dalam membimbing ada ucapan, sikap,laku, perbuatan yang kurang berkenan. Kami senantiasa mendoakan para alumni sukses dalam  berkarier.”

Sementara, David Pardamean Napitupulu, Ketua Alumni SMPN 86 angkatan 1884 mengatakan, “Acara HBH ini untuk menyambung tali silaturahmi sesama alumni, semoga di tahun depan akan lebih banyak alumni yang datang.”

Musik organ tunggal makin memeriahkan acara. Satu per satu para alumni menyanyikan lagu andalannya sambil berjoget. Di penghujung acara pukujl 17.00 para alumni bergandengan tangan sambil menyayikan lagu Kemesraan. ***

Doni Bucek Ketua Panitia HBH (kiri) dan David Pardamean Ketua alumni 86/84. Foto: Agus S

Panitia HBH dan Temu Kangen SMPN 86 angkatan 1984. Foto: Agus S

 

Pertemuan Bersejarah di Gedung Societet

Foto bersama halal bihalal Teater Alam Yogyakarta. Setelah tiga puluh tahun tak bersua. Foto: Ronny AN

BANYAK peristiwa akbar melahirkan orang besar. Demikian pula, banyak gedung bersejarah mencatat peristiwa bersejarah. Hari Minggu 24 Juni 2018, gedung Societet Yogyakarta mencatat sebuah peristiwa langka pada sebuah kelompok teater. Tak kurang dari 60 orang yang pernah nyantrik di Teater Alam, berkumpul setelah lebih dari 30 tahun tidak bersua.

Angka 30 tahun barangkali terlalu dramatis. Sebab, beberapa di antaranya, terutama yang ada di Kota Gudeg, masih acap bersua barang sekali-dua. Bahkan, dalam jumlah yang lebih kecil lagi, tetap intens bertemu dan masih produktif berkarya. Selebihnya, lebih dari 80 persen memang benar-benar tak pernah bersua setelah lebih dari tiga dasawarsa. Ada yang dua dasawarsa, ada yang satu dasawarsa, ada yang hitungan bulan, dan minggu.

Alhasil, pertemuan yang dikemas dalam bungkus halal bihalal itu patutlah dicatat sebagai satu peristiwa bersejarah di dunia teater Indonesia. Jika Anda keberatan dengan kata “Indonesia”, baiklah kita ganti dengan “bersejarah untuk komunitas teater Yogyakarta”. Kalau ada yang ngeyel dan menolak skala itu, baiklah kita sebut saja sebagai peristiwa bersejarah untuk keluarga besar Teater Alam Yogyakarta. Jika ini pun masih ada yang protes…, “bacok wae…”, mengutip guyonan Agus Leylor, salah satu anggota Teater Alam yang masih aktif berteater sekaligus dosen ISI Yogyakarta.

Udik Supriyanta dan Sugeng Iwak Bandeng, menmandu jalannya acara dengan ruuarr biassaaa…. Foto: Nana Azmita Azwar

Dua anggota Teater Alam yang menjadi MC, Udik Supriyanta dan Sugeng Iwak Bandeng memandu jalannya pertemuan dengan 99 persen bagus. “Mestinya 100 persen, tapi karena mereka lupa satu tugas, jadi yaaa… 99 persenlah…,” ujar “provokator” pertemuan, Anastasia Sri Hestutiningsih seraya menambahkan, “janjine arep ngenalke yang hadir satu per satu. Karena ini kan pertemuan lintas angkatan dari angkatan 70-an sampai 90-an, tapi Udik dan Sugeng lupa. Jangan-jangan nek pentas teater mereka suka lali dialog… he… he… he….”

Tapi Anas tetap memuji kerja Udik dan Sugeng IB sebagai ruarrr biasa….. Laksana melodi tembang kenangan, satu per satu butir acara dirangkai menjadi melodi mengesankan. Ada doa yang dibawakan R. Bambang Nursinggih lewat mocopat. Lalu Anas berbicara mewakili anggota Teater Alam yang hadir maupun yang tidak hadir, lewat teks narasi yang puitis. Begini bunyinya:

AKU TEATER ALAM

Malam tadi ragaku tak hendak tidur

Mataku menerawang

Jauh ke masa belakang

Aku datang kepadamu dengan langkah tidak percaya diri

 

Belum selangkah kakiku masuk ke gerbangmu

Kudengar teriakan keras

Ulang!! Gitu aja gak bisa!!!

Salah lagi kulempar sendal kau!!!

Langkahku terhenti sejenak

Rasa tidak percaya diriku semakin kuat

Aku bukan siapa meskipun ingin menjadi siapa

Aku gamang

Mungkin bukan hanya sendal yang terlempar untukku kelak

Tapi seisi rumah akan menimpaku

 

Seorang perempuan cantik berkulit putih

Menurutku gizinya cukup terpenuhi saat itu

Karena terlihat tubuhnya padat berisi

Senyum ramahnya merekah

Menyambut  dan membawaku  melangkah masuk

 

Keraguanku menjadi cair

Aku mulai masuk dalam kehidupan kebersamaan bersamamu

Sejalan dengan waktu aku memahami

Suara keras adalah bagian dari pembelajaran

Aku yang bukan siapa mulai berani mengatakan aku siapa

 

Hari ini aku harus mengingat kembali

Kehidupan bersamamu dalam suka dan suka sekali

Kedukaan hanya karena kami harus berjuang keras

Menempa diri untuk menjadi sekarang

 

Terimakasih teater alam

Terimakasih bang Azwar, mas Ratmo, dan para pejuang Teater Alam

Terimakasih mbak Titik Azwar (alm).

Keramahanmu, ketulusanmu melayani kami

Pengabdianmu untuk keluarga dan kesenian

Semoga membawamu ke alam keabadian surgawi yang bahagia dan mulia

 

Hari ini

Kami datang karena kami punya kerinduan

Pada keluarga yang kami cintai

Keluarga besar Teater Alam

Pasti banyak kesalahan yang selama ini masih terpendam

Di mana maaf belum sempat terucap

 

Pada bulan yang suci ini

Dari lubuk hati yang tulus

Perkenankan kami memohon maaf lahir dan batin

atas segala kesalahan kami

Kepada sesepuh dan para pejuang Teater Alam

Bukakan pintu maaf kepada kami

Nyuwun pangestu

agar api semangat Teater Alam

tetap menyala di hati sanubari kami

 

Terima kasih

Salam kekeluargaan dan kebersamaan yang abadi

Keluarga besar Teater Alam

anas, 24 juni 2018

Anastasia Sri Hestutiningsih membacatakan pidatonya yang puitis, mewakili anggota Teater Alam seluruh angkatan. Foto: Nana Asmita Azwar

Selesai Anas berbiciara, Udik dan Sugeng melanjutkan acara. Kali ini, mereka berganti-gantian membacakan nama-nama dulur Teater Alam yang sudah meninggal dunia. Yang tercatat, ada 30. Doa terbaik buat mereka: Yoko, Yoyok Aryo Ini, Yoyok Coa Ong, Niki Kosasih, Hendra Cipta, Bani IW, Bambang Darto, Gatot, Deded E Murad, Titiek Azwar AN, Nanok, Noor WA, Niesby Sabakingkin, Wahid alias Kak We Es, Cholila Ibrahim, Nining Gege HA, Susi, Ramidi, Abdul Qadir, Agus Joli, Ragil Suwarna Pragolopati, Amry Yahya, Hartono Djumino SH, Moorti Poernomo, Agus Subagyo PMN, Sundrek Godean, Darto Guru, Budi Centhol, Memek Jambu, Alex Suprapto Yudho, dan Ganti Winarno.

Kisah belum lagi usai…

Azwar AN, pepunden para kadang Teater Alam tidak saja diminta berbicara, tetapi juga didaulat untuk memimpin prep. Ini untuk mengingatkan kembali kepada masa-masa saat masih berlatih teater dulu. Sebelum latihan, didahului dengan prep atau preparation.

Masih dengan nada dan gaya bicara seperti dulu, Azwar AN pun memimpin prep. “Duduk serileks mungkin…. Yang mau bersila silakan, yang mau slonjor silakan… rileks…,” kata Bang Azwar memulai “ritual” prep.

Udik Supriyanta dan Sugeng IB, sedang (pura-pura) prep. Foto: Nana Azmita Azwar

Setelah itu, barulah Bang Azwar meminta peserta memejamkan mata pelan-pelan…. Melambungkan imajinasi, dan mengatur pernapasan. Dulu, saat-saat prep, selalu diiringi alunan musik Ludwig van Beethoven. Sayang, siang itu panitia tidak memutar Beetvoven dan menggantinya dengan instrumen easy listening. Tidak mengapa…. (Bersambung)