“Oidipus” Wafat (Lagi)

In Memoriam: Gege Hang Andhika

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Suasana duka menyelimuti jagat teater Yogyakarta, dan nasional. Aktor senior Teater Alam, Gege Hang Andhika meninggal dunia, Kamis (Legi), 7 September 2023 pukul 19.40 WIB, dalam usia 74 tahun.

Terbersit di benak saya, “Oidipus” wafat (lagi). Gege sangat identik dengan tokoh Oidipus. Sejumlah repertoar Teater Alam yang mementaskan drama Yunani karya Sophokles itu (hampir) selalu menempatkan sosok Gege sebagai pemeran Oidipus. Tak heran jika tokoh Oidipus begitu lekat dengan almarhum.

Ia sosok yang humble dan mudah bergaul. Sebagai senior, Gege terkadang bahkan tidak menyadari senioritasnya. Ia bisa lekas akrab dengan siapa pun, termasuk para juniornya di komunitas Teater Alam.

Menarik garis waktu lebih ke belakang. Melihat sosok Gege, seketika teringat suaranya yang serak-serak-seksi, ditambah wajahnya yang tampan membuat Gege bak primadona Teater Alam. Status biologis sebagai adik kandung Titiek Azwar, istri Azwar AN pendiri Teater Alam, adalah salah satu faktor mengapa Gege ikut tertarik terjun ke dunia teater.

Gege Hang Andhika. (foto: bambang wartoyo)

Bengkel Teater

Sejak tahun 1971 ia bahkan sudah diajak kakak ipar, Azwar AN masuk Bengkel Teater pimpinan W.S. Rendra. Di Bengkel Teater itulah ia mulai belajar teater. Pengalaman pertamanya pentas bersama Bengkel Teater adalah “Mini Kata” yang disutradarai Rendra.

“Mastodon dan Burung Kondor”, salah satu karya drama fenomenal Rendra, dipentaskan pertama kali di Yogya tahun 1973. Gege ikut pula dalam pementasan itu.

Lalu ia juga terlibat pementasan “Kisah Perjuangan Suku Naga. Sebuah naskah drama bernuansa kritik terhadap pemerintah (Orde Baru) oleh Rendra.

“Pentas terakhir saya bersama Bengkel Teater adalah lakon ‘Pangeran Hunberg’, Desember 1975. Saat itu bang Azwar sudah keluar dari Bengkel Teater, dan mendirikan Teater Alam,” ujarnya suatu hari.

Benar. Azwar keluar dari Bengkel Teater akhir 1971, dan mendirikan Teater Alam awal 1972. “Saya bertahan di Bengkel Teater sampai tahun 1976. Tahun itu Rendra memutuskan hijrah ke Jakarta. Saya memutuskan bertahan di Yogya,” kata Gege.

Keputusannya tidak ikut hijrah ke Jakarta bersama Rendra dan Bengkel Teater-nya, disusul langkah ringannya menuju markas Teater Alam di Jl Sawojajar, Yogyakarta.

“Antara Bengkel Teater dan Teater Alam, tidak jauh berbeda. Cara melatih Bang Azwar sama kerasnya dengan Rendra. Disiplin adalah hal utama yang beliau tanamkan,” kata Gege ketika mengenang Azwar.

Di Teater Alam, ketika itu, sudah bercokol nama-nama seperti Meritz Hindra, Yoyok Aryo dan Ganti Winarno. Sejumlah nama lain, di antaranya Yoyok Aryo, Hendra Cipta, Abdul Kadir, dan Ramidi Rogojampi. Lebih junior dari mereka, ada Bambang Darto, Kunthil, Saif Bakham, Nanok Haryono, Kuswadi, Wahyu, dan lain-lain.

Banyak repertoar besar yang diproduksi Teater Alam, banyak pula peran besar yang jatuh ke pundak Gege. Tahun 1978 misalnya, ia terlibat pementasan “Hamlet” (William Shakespeare). Ia pula yang berperan sebagai Hamlet.

Foto kenangan tahun 2020, sebelum pementasan Oidipus. Dari kiri: Meritz Hindra, Roso Daras, Azwar AN, dan Gege Hang Andhika. (foto: Teater Alam)

Disangka Edan

Tahun yang sama, Teater Alam juga mementaskan karya Shakespeare yang lain, yang berjudul “Machbet”. Lagi-lagi, Gege pula yang berperan sebagai tokoh Machbet, seorang prajurit hebat Skotlandia yang menjadi raja setelah membunuh raja sebelumnya, Duncan.

“Saya banyak mendapat peran utama, termasuk di lakon Oidipus,” kata Gege. Beberapa kali Teater Alam melakonkan Oidipus, salah satunya penciptaan rekor tahun 1999 saat Teater Alam mementaskan Trilogi Oidipus: Oidipus Rex, Oidipus di Colonus, dan Oidipus Antigone. “Itu pentas teater terpanjang yang pernah ada,” kata Gege, dengan mata menerawang.

Gege tak bisa melupakan kenangangan pentas marathon dari pukul 20.00 hingga 05.00 subuh. Termasuk kenangan terindah sekaligus terlucu saat ia menemani Nining, istri tercintanya belanja ke pasar Beringharjo. Selagi istrinya berbelanja, Gege berada di belakangnya dengan mulut komat-kamit menghafal dialog.

Seorang pedagang, sambil meladeni Nining, tak kuasa melempar tanya, “Bu, maaf, suaminya ‘gini’ ya?” kata si pedagang sambil menyilangkan jari telunjuknya di depan jidat. “Miring”, maksudnya.

Mendapat pertanyaan seperti itu, Nining spontan tertawa ngakak, alih-alih marah. Dengan sabar, Nining pun menjelaskan, “Oh, dia sedang menghafal naskah drama. Sebentar lagi mau pentas di Purna Budaya, dan dia aktor utamanya. Kalau besok pas pentas, njenengan nonton yaaaa….”

Gege Hang Andhika, dalam peran Oidipus. (foto: Teater Alam)

“Aja Mendem”

Sebagai orang “titer”, Gege termasuk “alim”. Biarpun banyak temannya akrab dengan minum-minuman keras dan mabuk-mabukan, Gege nyaris tidak pernah. “Saya lebih senang merokok dan ngomong jorok, dibanding mabok,” kata Gege sambil terkekeh, suatu hari.

Usut-punya-usut, Gege memegang betul nasihat kakak iparnya, Azwar AN. “Gege! Kamu harus rajin, jujur, displin, dan aja mendem! Kalau kamu suka mabuk, jangankan di Jakarta, di Yogya saja tidak bakal laku (sebagai aktor),” begitu nasihat mendiang Azwar.

Terbukti, Gege berhasil melakoni dunia seni peran, termasuk merambah dunia film dan sinetron dengan baik. Bahkan, hari-hari akhir, ia aktif juga di KFT (Karyawan Film dan Televisi).

Hingga akhir hayatnya, Gege tidak pernah jauh dari Teater Alam. Bahkan tahun 2020, di usia yang sudah menginjak kepala 7, ia masih prima memerankan Oidipus pada pentas 18 Januari 2020 di Taman Budaya Yogyakarta.

Pada kegiatan-kegiatan tahunan Teater Alam, Gege pun turut serta menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran, dan semangat untuk membersamai para juniornya. Pada pentas Teater Alam terakhir, Opera Ikan Asin (OIA), 15 Agustus 2023 lalu, Gege sempat hadir di TBY, meski tidak bisa bertahan lama, karena kondisi fisiknya yang mulai lemah.

Innalihahi wa inna ilaihi roji’un, lelaki bernama lengkap Andhika Sugirman Irsyad itu pun wafat pada usia 74 tahun, Kamis (legi) 7 September 2023 pukul 19.40. Malam itu, jenazah disemayamkan di Rumah Duka Panembahan PB 2/110, sebelum esok harinya, Jumat (8/9/2023), dimakamkan di Taman Makam Pakuncen, usai shalat Jumat.

Almarhum meninggalkan anak dan menantu, Febri Maulana Budiwan, Muhammad Reza Setiawan & Luthfiana Irmasari, Novita Dyah Wulandari & Oki Pralambang. Serta cucu-cucu: Ibrahim Muflih S, Lakeisha A.S., M. Naladipa V.P., dan M. Narendra V.P. (*)

Catatan Kenangan
Roso Daras
Jurnalis, Anggota Teater Alam

“Opera Ikan Asin” Racikan Teater Alam

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Teater Alam Yogyakarta kembali berkarya. Tanggal 15 Agustus 2023, kelompok teater besutan alm Azwar AN itu akan menampilkan “Opera Ikan Asin”, arahan sutradara kawakan, Puntung CM Pudjadi.

Naskah drama yang satu ini memang istimewa. Bahkan memiliki nashab panjang, Asalnya adalah naskah berjudul Die Dreigroschenoper atau dalam bahasa Inggris The Threepenny Opera, karya Bertolt Brecht.

Berthold Brecht (10 Februari 1898 – 14 Agustus 1956) adalah penyair dan penulis naskah drama Jerman. Pada saat Hitler berkuasa, Brecht melakukan perlawanan menentang ideologi Nazi. Karena diawasi Gestapo (polisi negara), ia melarikan diri ke Amerika Serikat. Pada akhir Perang Dunia II, Brecht kembali ke Jerman sampai akhir hayatnya.

Die Dreigroschenoper atau The Threepenny Opera pertama kali dipentaskan di Theater am Schiffbauerdam, Berlin 31 Agustus 1928, diiringi gubahan musik Kurt Weill. Kurt Julian Weill (2 Maret 1900 – 3 April 1950) merupakan komponis berkebangsaan Jerman. Dia dilahirkan di Dessau, meninggal di New York City, dan merupakan komposer kampiun untuk dunia panggung.

Beruntung ada N Riantiarno. Pentolan Teater Koma Jakarta yang kemudian menyadur naskah Brecht dan memberinya judul “Opera Ikan Asin”, lalu mementaskannya pada tahun 1983. Naskah yang sama, dipentaskan lagi tahun 1999. Terakhir, Teater Koma menyuguhkannya kembali Maret 2017 bertepatan peringatan 40 Tahun Teater Koma.

Nano mengubah latar peristiwa dari London abad 19 menjadi Batavia abad 20, pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Kisahnya berpusat pada Mekhit alias Mat Piso, Raja Bandit Batavia yang justru dijadikan pahlawan oleh masyarakat.

Kenapa Brecht menulis cerita berlatar belakang London, Inggris? Sebab, Brecht pun mendaur ulang cerita itu dari lakon yang lebih lawas berjudul The Beggar’s Opera karya John Gay sekira tahun 1728 di London.

Meski begitu, keseluruhan tema sama, yaitu kritik sosial terhadap golongan kapitalis, yang naskahnya mendapat penyesuaian latar waktu dan tempat sesuai zaman. “Maka, saya pun mengadaptasinya kembali dengan latar belakang kota Yogyakarta tempo dulu,” ujar Puntung, sang sutradara.

Opera Ikan Asin bercerita tentang Si Raja Bandit Batavia, Mekhit alias Mat Piso yang menikahi Poli Picum tanpa restu ayahnya, Natasasmita Picum, juragan pengemis se-Yogyakarta. Picum mengancam Kartamarma, asisten kepala Polisi yang juga sahabat Mekhit, bahwa para pengemisnya akan mengacaukan upacara penobatan Gubernur Jenderal yang baru. Terpaksa Mekhit ditangkap, dia akan digantung tepat saat upacara penobatan, tapi saat tali menjerat leher, datang surat keputusan dari Gubernur Jenderal yang isinya membebaskan Mat Piso dari segara tuduhan.

Sebuah lakon tentang era yang penuh ketidakjelasan. Raja Bandit dijadikan pahlawan oleh masyarakat. Para petinggi hukum bersahabat dengan para penjahat kakap, sogok-menyogok menjadi budaya Bahkan hukum pun bisa disandera oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan pribadi. Sebuah zaman dimana titah penguasa bisa memutar balik keputusan pengadilan.

Aktor kawakan Meritz Hindra tengah berlatih “Opera Ikan Asin”, yang akan pentas di TBY Yogyakarta, 15 Agustus 2023. (foto: teater alam)

Terus Berkarya

Pementasan kali ini, melibatkan sekitar 70 pemain. Beberapa nama besar aktor teater Alam turun gunung. Mereka antara lain Meritz Hindra, Hadjar Pamadhi, Anastasia, Jack Sofian, Eddy Subroto, dan lain-lain. Dalam penyutradaan, Puntung dibantu dua astrada: Ronny AN dan Bambang KSR.

Pimpinan Produksi, Erna Azmita AN mengatakan, sejak bangkit dari tidur panjangnya di tahun 2018, Teater Alam tidak pernah berhenti berkarya. Tahun 2018, memperingati usia ke-47, Teater Alam mementaskan “Montserrat” (8/12/2018) dengan sutradara Puntung CM Pudjadi. Selain pementasan, juga peluncuran buku Trilogi Teater Alam setebal (total) 900 halaman racikan Roso Daras dan Prof Yudiaryani.

Tahun 2019, Teater Alam bekerjasama dengan ISI Yogyakarta mementaskan “Pusaran” (“A Streetcar Named Desire”), dengan sutradara Prof Yudiaryani.

Tahun 2020, Teater Alam kembali mementaskan karya Sophocles “Oedipus Rex” dengan sutradara Azwar AN dan Meritz Hindra.

“Tahun 2021, tepatnya 27 Desember 2021, Azwar AN, pendiri Teater Alam, wafat,” ujar Nana, panggilan akrab putra kedua Azwar AN, yang kini memegang estafet sebagai Ketua Perkumpulan Teater Alam itu.

Tahun 2022, bertepatan 50 tahun Teater Alam, sebuah kepanitiaan di bawah pimpinan Prof Yudiaryani, menggelar lima karya dengan tagline “Karya Emas, Kerja Keras, Loyalitas”. Acara yang dihelat Oktober dan November 2022 itu antara lain Pementasan Fragmen, Workshop, Seminar, Pameran, dan Kuliner. (rr)

Erna “Nana” Azmita AN, pimpinan produksi Opera Ikan Asin. (foto: ist)

Tiga Fragmen Drama di Satu Panggung Teater Alam

JAYAKARTA NEWS – Tiga fragmen drama menutup rangkaian ulang tahun ke-50 Teater Alam, Yogyakarta. Panggung Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (17/11) malam menampilkan fragmen “Pusaran” (Streetcar Named Desire) karya Tennessee Williams, Oedipus (Sophocles), dan Montserrat (Emmanuel Robles).

Di luar tiga fragmen tersebut, panggung TBY juga menjadi ajang praktik pentas peserta Workshop Teater. Mereka menampilkan karya “Bondol”.

Disaksikan Yani Saptohudoyo, pematung Yusman, seniman, budayawan Yogyakarta dan masyarakat umum lainnya, sajian tiga fragmen tadi mendapat applaus meriah hadirin.

Fragmen Pusaran menampilkan permainan apik dari Ninit, Alexa, dan Vikii dengan penata busana Erlina Panca. Sutradara Prof Dr Yudiaryani, MA menggarapnya dengan segar. Drama semi-musikal ini pernah dimainkan Teater Alam berkolaborasi dengagn ISI Yogyakarta di Concert Hall Gedung Taman Budaya, Senin – Selasa, 22 – 23 Juli 2019.

Lalu Oedipus. Malam itu, tokoh Oedipus diperankan Eko Pamulihono. Nomor ini terbilang “lekat” dengan Teater Alam. Lakon ini sudah beberapa kali dimainkan.

Di tahun 1981, dipentaskan di Gedung Grha Dirgantara Yogyakarta dalam acara Syawalan PWI-SPS Yogyakarta, 24 Agustus. Tahun yang sama diusung ke Pasar Seni Jaya Ancol, pada 27-28 Agustus, dan pada 15 September dimainkan di Gedung Purnabudaya. Sutradara dari pertunjukan tersebut adalah Tertib Suratmo.

Lantas pada tahun 1986, lakon ini dipentaskan di beberapa kota dalam muhibah ke Malaysia, dengan sutradara Azwar AN. Tahun 1991, Oedipus juga dimainkan di Lampung.

Pada tahun 1999, Teater Alam secara mengejutkan mementaskan trilogi Oedipus dalam satu malam, yang berdurasi 10,5 jam di Purnabudaya, dengan sutradara Azwar AN. Pementasan terakhir Sabtu, 18 Januari 2020 di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta.

Ronny AN dan Meritz Hindra dalam fragmen “Montserrat”. (foto: rakhmat s)

Meritz Jadi Azwar

Fragmen ketiga, Montserrat, digarap apik oleh sutradara Meritz Hindra. Dibuka dengan penampilan Meritz yang uring-uringan karena para cantrik Teater Alam belum juga datang latihan. Datang Azis yang langsung disuruh menyapu tempat latihan. Muncul Dinar Saka, Jamilan, Ronny AN.

Menirukan gaya mendiang Azwar AN, aktor kawakan Meritz menyuruh para cantriknya untuk latihan Montserrat. Saat Ronny sudah duduk di kursi sebagai Montserrat, Dinar menyerukan “camera on” sambil berlari meninggalkan stage. Panggung black-out, lalu lighting menyala.

Meritz sebagai Kolonel Isquierdo. Berdialog dengan Kapten Zuazola (Jamilan) dan Kapten Antonanzas (Azis). Saat Isquerdo (Meritz) membujuk Montserrat (Ronny) untuk membuka rahasia persembunyian  Simon Bolivar, tiba-tiba saja Ronny lupa dialog dan minta bantuan Dinar Saka (astrada) untuk melihat contekan dialog dalam naskah. Fragmen Montserrat menjadi “gerr” dengan garapan ala latihan.

Fragmen “Pusaran”. (foto: rakhmat s)

Pak Bondol

Sajian terakhir adalah pentas teater hasil wokrshop tanggal 9 Oktober 2022. Tiga senior Teater Alam menjadi mentor pada workshop tersebut. Meritz Hindra memberi materi keaktoran, Puntung CM Pudjadi memberi materi penyutradaraan, dan Wahyana Giri MC memberi materi penulisan naskah teater.

Para peserta terdiri atas siswa-siswa dari sekolah-sekolah yang ada di kota Yogyakarta. Malam itu, mereka menampilkan drama pendek berjudul “Bondol”.

Dikisahkan, Pak Bondol, adalah seorang tukang tambal ban yang sedang bersantai di teras rumah. Mendadak ia disuruh istrinya ke pasar untuk membeli beras. Pak Bondol pun pergi ke pasar naik sepeda. Ia bersepeda dengan ugal-ugalan, sehingga mengganggu emak-emak di pinggir jalan, dan puncaknya menabrak seorang pedagang sayur dan membuat sayur sayur itu jatuh berceceran. Konflik pun terbangun antara penjual sayur dan Pak Bondol. Sebuah kisah komik yang menarik.

Sajian menarik ketiga fragmen dan satu lakon drama pendek tadi, menjadi lebih apik dengan penataan musik oleh Dr Memet Chairul Slamet. Pentolan kelompok musik etnik-kontemporer Gangsadewa ini pula yang selama ini menata musik pada tiga pementasan Teater Alam terakhir: Montserrat, Pusaran, dan Oedipus.

Selain itu, Bambang Nursinggih senior Teater Alam yang lain, setia menggawangi urusan kostum dan make up pemain. Pesannya selalu kepada para aktor-aktris adalah, “Setelah make up, dilarang merokok!”

Azwar AN Award

Pada malam puncak peringatan HUT ke-50 Teater Alam, juga dilangsungkan penganugerahan “Azwar AN Award” kepada empat tokoh Teater Alam yang memiliki loyalitas serta dedikasi dan jasa besar bagi kelangsungan hidup Teater Alam.

Award pertama, diberikan kepada Bambang Darto. Ia adalah Anggota teater Alam yang telah menunjukkan loyalitas dedikasi dan kerja keras mengembangkan Teater Alam hinggga akhir hayatnya.

Award kedua diberikan kepada Yono Gandem. Dia adalah anggota Teater Alam yang menunjukkan loyalitas tanpa batas. Di samping jasanya menjadi Ketua Teater Alam selama 25 tahun tanpa cela. Jejaknya bahkan diikuti oleh beberapa putranya yang menjadi anggota Teater Alam, mengikuti jejak sang ayah.

Award ketiga diberikan kepada Tertib Suratmo. Ia adalah salah satu pelatih, sutradara, sekaligus artistic Teater Alam yang memiliki loyalitas sangat besar. Bukan saya loyalitas persahabatan dengan Azwar AN, tetapi juga Teater Alam sebagai sebuah lembaga.

Dan award keempat, diberikan kepada Prof. Drs .H. Amri Yahya. Tokoh Lukis batik yang merupakan sahahabat Azwar AN sekaligus sahahabat Teater Alam. Amri Yahya merupakan salah satu Pembina dan Pengarah Teater Alam semasa hidupnya. Penghargaan diterimakan oleh Adwi Prasetyo putra Amri Yahya.

Azwar Tersenyum

Ketua Panitia Pelaksana HUT Teater Alam ke-50, Prof Dr Yudiaryani, MA dalam pidato di awal menyampaikan terima kasihnya kepada Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Paniradya Kaistimewan Yogyakarta, Museum Sonobudoyo, Taman Budaya Yogyakarta, dan para pihak yang telah memungkinkan acara berlangsung dengan baik.

“Arwah bang Azwar AN di atas sana, tersenyum melihat kiprah dan tekad kita melanjutkan semangatnya dalam melestarikan teater,” ujar Guru Besar Teater ISI Yogyakarta, itu.

Sementara itu, Ketua Komunitas Teater Alam, Erna Azmita, AN juga menyampaikan terima kasih yang sama. Sebelum menutup secara resmi rangkaian acara Ulang Tahun Emas Teater Alam, Nana –panggilan akrabnya—mengajak semua anggota Teater Alam tetap menunjung tinggi pesan mendiang papah Azwar, “Hidup-hidupilah teater, jangan mencari hidup dari teater.” (rr)

“Ritus Patembayan”, Catatan Sang Kurator

Dr. Hadjar Pamadhi, M.A., Hons

Patembayan (gesselchaft) adalah ikatan lahir sekelompok orang dengan kesamaan pikir, rasa perilaku yang bersifat kerukunan dan berjangka waktu yang pendek. Ritus Patembayan adalah kerukunan para seniman, budayawan sepaham berpameran mengusung momentum peringatan setahun meninggalnya Azwar AN.

Ritus Patembayan sebagai tajuk pameran memeringati satu tahun meninggalnya seniman sekaligus budayawan Azwar AN. Ritus adalah upacara peribadatan yang biasanya dilakukan dengan kontemplasi menurunkan ‘arwah’ melalui prosesi. Dalam beberapa kerukunan tradisi seperti ancestor resurrection dimana terjadi proses imajinasi dengan menghasilkan kinase atau fosfotransferase. Pundi-pundi dan doa dilantunkan secara khidmat seperti orang Jawa menyairkan dalam asmaradana.

lngsun amiwiti muji,
anebut namaning Sukma,
kang murah ing donya mangke,
ingkang asih ing akherat,
kang pinuji datan pegat,
angganjar kawelas ayun,|
|angapura wong kang dosa.

Doa dan persembahan untuk Azwar AN direposisi menjadi pameran bersama; dimana karya dipersembahkan sebagai deretan pengucapan doa. Permohonan, pencandraan, pengenangan kepada almarhum dalam bentuk pameran. Pundi-pundi, salawat, doa atau pun cengkerama batin terlahirkan dalam bentuk pameran.

Maka, pameran seni rupa yang dilakukan oleh para seniman, komunitas serta budayawan berhimpun untuk mengenang jasa. Ritus dengan doa dan persembahan direpresentasikan melalui simbol-simbol rupa. Para seniman mencoba mengekspresikan symbol ritualnya berupa karya seni rupa: patung, puisi dan karya lukis. ‘Azwar AN’ dibaca sebagai objek material maupun formal dengan simpulan hasil symbol visual.

Sesuai dengan gayanya masing-masing seniman berusaha merepresentasikan dengan gaya dan teknik yang khas. Sosok Azwar dibaca melalui pengembaraan batin sehingga menghadirkan imaji yang bervariasi. Tujuan utamanya adalah yang mengekspresikan hubungan antara manusia dengan Tuhan bentuk permohonan suci, syukur pujian agar ‘arwah’ Azwar AN diterima Allah dan semangatnya ditularkan kepada generasi berikutnya. Tindakan sakral yang disimbolkan dengan bentuk dan warna ini mampu memberi kekuatan kepada generasi penerusnya.

Karya emas adalah sesuatu yang paling berharga layaknya harga suatu karya seni yang mempunyai nilai intrinksik (estetika) penuh makna. John Cusack menjelaskan bahwa sesungguhnya Art is Spiritual karena proses rahasia seorang seniman dengan kontemplasi mencari sesuatu yang ‘aneh’. Seniman adalah satu dari patembayan rasa seni dari sekumpulan kerukunan sosial (associational society), sebuah kolegialitas yang kuat. Mereka membaca bersama sosok Azwar AN sebagai objek patemabayan dengan rerasan kuat atas karya, dan dedikasinya. Objektivikasi mereka terhadap Azwar karena dianggap masih hidup, seperti kata bijak menyebutkan Ars vita Longa yang berarti Seni itu masih hidup walau penciptanya sudah tiada. Pameran Ritus Patembayan Seni ini termotivasi oleh profil Azwar AN, sebagai karya representasional, maupun nonrepresentasional.

Para patembayan ini mengobjektivikasi pikiran, rasa serta karya drama, puisi Azwar AN sebagai objek material maupun formalnya. Di situlah hadir karya yang variatif mulai dari gerakan membaca batin Azwar AN bentuk serta merasakan dampak kehidupan bagi para seniman yang sedang berpameran ini memberi suasana yang lain. Patembayan seniman merupakan kerja keras dari sahabat, murid dengan ber-gendu rasa.

Seratus perupa/seniman ini hampir bercirikan khas sebagai karya patembayan dengan menyajikan arwah Azwar sebagai ritual the ancestor resurrection. Para seniman menggabungkan gagasan objektivikasi terhadap Azwar dan menguatkan ide gagasannya munculkan symbol-symbol visual yang aneh. Itulah Marc Chagall mengatakan: If I create from the heart, nearly everything works; if from the head, almost nothing.

Merujuk kepada kolegialitas, penyatuan pikir, kebersamaan para seniman menyatakan Azwar AN sebagai tokoh sentral ide penciptaan karya seni. Serangkaian karya yang mewujud dalam representasi karya seni ini menatap Azwar AN divisualkan dalam kegiatan, pertunjukan, pameran.

Patembayan tersebut sebagai tampilan karya seni pertunjukan, sederetan seniman senior diundang sebagai tanggapan atas Azwar AN sebagai sosok, Mami Kartika, Soenarto PR, Soeharto PR, Amri Yahya, Widayat, Saeful Adnan seangkatan dan segerombol kolega yang hidup bersama dan membersamai. Mereka dipajang sebagai dukungan moral serta loyalitasnya memahami kehidupan dan hidupnya Azwar. Patembayan rasa (Gemeinschaft of mind) ini didukung seratus lebih para perupa Yogyakarta dan berbagai kota lain.

Karya-karyanya dapat dikelompokkan menjadi 5 bagian penting: (1) mengobjektivikasikan pikiran Azwar ke dalam karya realis, (2) menjadikan karya realis – sosial, (3) kontemplasi kehidupan seni Azwar, (4) memvisualisasikan kehidupan tokoh karya drama/teater Azwar, (5) mengimajinasikan Azwar dalam berbagai corak serta gayanya. Konstelasi doa – pikiran – pengembaraan batin – imajinasi kontemplasi- dan ekspresi mewujud dalam pameran Ritus Patembayan.

  • 1. Mengobjektivikasikan pikiran Azwar ke dalam karya realis, DN Koestolo, Picuk Asmara, Eddy Subroto, Irma PR, Momi Budut, TM art, Raden Raharjo, R.Kirman, Ida Fitrijah (alm.), Nanang Wijaya, Edi Dwiyantoro, Cholidun, Soegian Noor, Liek Suyanto, Djoko Sardjono, Ikhman mr, Evrie Irmasari, Lian M Margareta, Joan Miroe, Tarman, Joko Sud, Suzan, Didit Slenthem, Agus Purwanto (klowor),
  • 2. Menjadikan karya realis – sosial: Alie, : Ninik Purwanti, Rosalia Ratih, Kawit Tristanto, Adhik Kristiantoro, Yosi Ch., Ifat Futuh, Sumiyati Herman, Heru Purwanto, Beda Sudiman, Achmad Dardiri, Eko Bendhol, Siswanti, Raka Wanena, Ikhwan Sugianto, Awaludin, Budiyonaf, Lully Tutus, Eni Setyaningsih, Takdir Pengarep, Muji Harjo, Alberta Fitri, Barlin Srikaton, Pauluswid, Sulardi Wiyana, Yosef Banyu, Nur Fuad, Yaya Maria.
  • 3. Kontemplasi kehidupan seni Azwar: Otok Bima, Wuri Hantoro, Heru “Londo” Uthantoro, Tales Ireng, Sukri Budi Dharma a.k.
  • 4. Memvisualisasikan kehidupan tokoh karya drama/teater Azwar AN: Jedink Alexander, Didiet njedit, Seplawan, Sigit Handari, Rakhmat S.
  • 5. Mengimajinasikan Azwar AN dalam berbagai corak serta gayanya: Abdul Khalid, Catur Hengki Koesworo, Susyanto Mulyo, Ashari, Adam Aliamin, Adam Aliamin, Achmad Masih, Liek Sugi, Slamet Jumiarto, Ki Mujar Sangkerta, Sentot T Raharjo, I Gedhe Putra Udiyana, Sentot Widodo, Sri Pramono, Trie Gombloh, Muji Chino, R Hendrawan, Sukoco Hayat, Ampun Sutrisno, S.Hikmah, Irwan Sukendra, Watie Respati, Suhardi, Niluh Sudarti, Berlianingtyas A.D., Daliya.

Beberapa karya patung hadir dengan ujud yang variatif, seperti ornamentik, deformasi tubuh, imajinasi ritual maupun gubahan realisme diimajinasikan oleh Yamiek S, sedangkan Lutse Lambert Daniel Morin mengangkat objek formal ‘logika’ manusia. Freddie S Widodo mendistorsi tubuh manusia melalui ringkasa wajah dan kaki secara realis. Nugroho Hoho mengangkat dimensi ruang alternatif, Arifin Lancor mengangkat deformasi tubuh manusia, B’Djo Ludiro mengangkat realisme sosial.

Suatu perhelatan besar Ritus Patembayan ini memberi konotasi sempurna, bahwa karya seni adalah hasil kontemplasi melalui pengembaraan batin seorang seniman. Tatkala pikiran dan perasaan digunakan untuk menerawang objek yang sama menghasilkan karya seni yang bervariasi. Seni menjadi semacam perluasan pikiran dan perasaan yang berisikan ritus-ritus seni yang tersusun dari kinase-kinase keindahan. Selamat berpameran, sukses menggapai ‘arwah seni’ Azwar AN. (*)

Sleman, 1 November 2022

Dr. Hadjar Pamadhi, M.A., Hons

Kurator

Karya Emas Teater Alam

JAAKARTA NEWS – Menginjak usia emas, 50 tahun, bagi sebuah kelompok teater adalah prestasi besar. Menjadi lebih dramatis, justru usia itu dijelang dengan wafatnya sang pendiri: Azwar AN pada hari Senin, 27 Desember 2021. Dunia teater Tanah Air berduka.

“Sejarah teater modern di Tanah Air menggoreskan catatan, banyak kelompok teater tak lagi eksis ketika patronnya wafat. Kami menganggap itu bukan takdir, melainkan fenomena yang harus ditepis,” ujar Prof Hj Yudiaryani, MA, Ketua Panitia Peringatan 50 Tahun Teater Alam.

Prof Hj Yudiaryani, MA

Dalam siaran persnya, Prof Yudi bahkan mengutip salah satu wasiat mendiang Azwar AN. “Hidup-hidupilah teater, jangan pernah berpikir hidup dari teater”. Seperti diketahui, Teater Alam, didirikan Azwar AN pada 4 Januari 1972 di Yogyakarta. Itu terjadi seminggu setelah Azwar meninggalkan Bengkel Teater yang ia dirikan bersama Rendra.

Lima Karya

Memperingati 50 Tahun Teater Alam, Yudi menyebutkan lima aktivitas budaya yang sedia digelar. Keseluruhan kegiatan berlangsung dalam bentang waktu antara Oktober – November 2022. Pusat kegiatan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Satu di antaranya, seminar teater, berlangsung di Museum Sono Budoyo, Yogyakarta. Lima kegiatan yang dimaksud adalah: Opening, Workshop, Publishing, Exhibition, dan Seminar.

Keseluruhan rangkaian kegiatan akan dimulai dengan acara pembukaan (Opening) pada tanggal 12 Oktober 2022 di halaman Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Acara dimulai pukul 12.45 WIB sampai selesai. Dalam kesempatan itu, akan ditampilkan pementasan Jathilan (Sekar Saraswati). Atraksi lain berupa Flashmob 1000 Sapu, dan Paduan Suara Gelora Bahana Patra (Ki Priyo Dwiarso, dkk). Acara ditutup dengan Pisungsung Donga (Bambang Nursinggih, dkk).

Sementara, workshop akan diisi beragam disiplin seni pertunjukan, mulai dari penulisan naskah, keaktoran, dan penyutradaraan. Sementara bidang publishing, antara lain menggarap penerbitan buku “50 Tahun Teater Alam Berkarya” dan “Antologi Puisi”.

Divisi Exhibition tak kalah menarik. Selain menampilkan pameran seni rupa (lukis, patung, instalasi), juga akan memamerkan kostum-kostum pilihan. Kostum yang pernah dipentaskan pada sejumlah repertoar Teater Alam sejak 1972. “Yang seru adalah event kuliner. Selain menyajikan aneka kuliner khas, juga tersedia pojok ‘seribu lotek’,” ujar Yudi. Ini mengingatkan pada “lotek Yu Ti”, menu sehari-hari cantrik Teater Alam ketika berrmarkas di Jl Sawojajar 25, Yogyakarta.

Kegiatan kelima adalah seminar teater. Tema seminar yang diangkat adalah “Reposisi Teater di Era Disrupsi”. “Sebuah tema yang sangat aktual. Kami tengah menunggu konfirmasi keynote speaker Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid,” tambahnya.

Terkait belum berakhirnya pandemi Covid-19, panitia peringatan 50 Tahun Teater Alam menerapkan protokol kesehatan, sesuai arahan Satgas Covid-19 Provinsi DI Yogyakarta. “Sejumlah kegiatan, selain dilaksanakan secara luring, juga daring. Selain itu, live streaming melalui YouTube,” ujar Yudiaryani. (rr)

“Banjir Azwar AN” oleh Perupa Yogya

JAYAKARTA NEWS – Lebih 100 pelukis lintas aliran dan lintas generasi, membanjiri halaman Taman Budaya Yogyakarta, 31 Maret 2022 siang hingga sore ini. Mereka turut serta dalam hajat “100 Mantra Teater Alam untuk Azwar AN”. Acara yang didedikasikan untuk mengenang 100 hari wafatnya tokoh teater Yogyakarta itu.

“Semula kami hanya menargetkan 60 peserta. Secara kebetulan, ada yang mensponsori pengadaan 60 kanvas. Tapi ternyata antusiasme teman-teman pelukis Yogya begitu luar biasa, sehingga akhirnya kami tidak lagi membatasi. Kami mengapresiasi semangat teman-teman dalam memperingati 100 hari wafatnya guru kami, Azwar AN,” ujar Chamit Arang, koordinator event.

Hingga kemarin, 30 Maret 2022, sudah terdaftar 113 pelukis yang menyatakan ikut serta dalam kegiatan melukis on the spot, dengan tema lukisan “Sosok Bang Azwar AN”. “Sangat mungkin, jumlah peserta akan bertambah,” ujar Chamit.

Berikut ini adalah nama-nama pelukis terlibat dalam kegiatan melukis bersama “Sosok Bang Azwar AN”.

1. Ikhman Mudzakir
2. Barlin Srikaton
3. Mujiono
4. Dab Herry
5. Otok Bima Sidarta
6. Probo Wulandari
7. Beda Sudirman
8. Jedink Alexander
9. Yosefh Banyu
10. Noni Pratiwi
11. Tales Suparman
12. Joan Mirroe
13. Djumadi TVRI
14. Raden Raharjo
15. Retno Anjawati
16. Susyanto Mulyo
17. Rosalia Ratih
18. Picuk Siwi Asmara
19. Dn. Koestolo
20. Irma PR
21. Yaya Maria
22. Ratih Alsaira
23. Totok Buchori
24. Yusman
25. Tarman
26. Joko Wasis
27. Klowor Agus
28. Ledek Sukadi
29. Agung Manggis
30. Sulardi Wiyana
31. Liek Suyanto
32. Tertib Suratmo
33. Eddy Subroto
34. Tatang MP
35. Nonodiono W
36. Giri MC
37. Lukman
38. Wibowo
39. B’djo Ludiro
40. Ki Mujar Sangkerta
41. Sunardan Sadu
42. Ifat utuh
43. Anggiring Anggi
44. Yudi Sulistyo
45. Rizqi Zakki
46. Yamiek
47. Irwan Sukendra
48. Slamet Jumiarto
49. Nur Azizah
50. Boedex
51. Hajar Pamadhi
52. Sukoco Hayat DP
53. Watie Respatie
54. Bay Djuri
55. Djoko Sardjono
56. Kel. IKAISO
57. Kel. IKAISO
58. Kel. IKAISO
59. Kel. IKAISO
60. Kel. IKAISO
61. Ratnaning Wijayani
62. Joseph Wiyono
63. Nanang Widjaya
64. Teguh Eswe
65. Nuri Isnaeni
66. Daliya
67. Berlianingtyas AD
68. Wasis Subroto
69. Faisal Budiharso
70. Bowo Sru
71. Dewantara
72. Bambang Joni
73. Dgam Haryo
74. Ganung
75. Ashari
76. Herlina Tojo
77. Alfi Ardyanto
78. Idho
79. Sigit Sepur
80. Raka Wanena|
81. Njedit
82. Pak Yoyok
83. Tri Wahyono
84. Niluh Sudarti
85. Risdiyanto
86. Muhammad Shodiq
87. Endang Apriyanto
88. Sri Siswanti
89. Justina
90. Petrus
91. Edi Maesar
92. Kristina Koe
93. Padang Arofah
94. Risan Hadi
95. R Kirman
96. Anna
97. Agus Nuryanto
98. Noor Rakhmawati (Inung)
99. Andi Santa Jaya
100. Achmad Masih
101. Dodot
102. Sitopati
103. Agus Katro
104. Lio GV
105. Budi Utomo (Momi)
106. Maman Rahman
107. Edi Dwiyantoro
108. Biyan Subiyanto
109. Yoyok Suryo
110. Kartika Yunianto
111. Eli Petrus
112. Nadia Iskandar
113. Yulikodo

Para pelukis Yogyakarta umumnya mengenal Azwar AN dengan sangat baik. Kekerabatan serta kedekatannya dengan maestro pelukis batik Amri Yahya, menjadikan Azwar seniman teater yang juga dekat dengan dunia seni lukis. Pada tanggal 5 Desember 1979, Azwar AN turut membidani lahirnya Paguyuban Kartunis Yogyakarta (PAKYO). (roso daras)

Azwar AN Tersenyum di Atas Sana

JAYAKARTA NEWS – Bak ketiban sampur saat keluarga besar Teater Alam menunjuknya menjadi Pimpinan Produksi acara “100 Mantra Teater Alam untuk Azwar AN”. “Semula saya bayangkan ini acara sederhana untuk memperingati 100 hari wafatnya bang Azwar AN, tokoh teater sekaligus pendiri Teater Alam,” kata Nano Asmorodono di Yogyakarta, baru-baru ini.

Alhasil, sebagai Pimpro, Nano sempat merasakan tekanan yang hebat demi mengamati proses produksi yang kemudian makin besar dan kian akbar. “Magnet bang Azwar memang luar biasa. Jika bukan karena keterbatasan waktu, tentu akan lebih banyak lagi seniman yang ingin terlibat. Saya memaknai sebagai sebuah apresiasi sekaligus penghargaan kepada almarhum,” tambah Nano.

Nano sendiri mengaku sebagai “murid ragil” Azwar AN. Sebab, setelahnya, ia tidak melihat ada rekrutmen anggota baru. “Artinya, banyak senior lain di Teater Alam yang tentunya lebih kapabel menjadi pimpro. Tapi ibarat sampur, memang bisa jatuh ke siapa saja. Saya terima tugas ini dengan penuh rasa takzim, semoga bisa memberi yang terbaik untuk guru, sahabat, sekaligus bapakku, Azwar AN,” tambah Nano, yang selama ini banyak menggeluti seni budaya tradisi.

Ihwal persinggungannya dengan Teater Alam, Nano mengisahkan saat ia keliling DIY, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Barat mengikuti kethoprak tobong atau kethoprak keliling. Sepulang dari tour kethoprak tobong, Nano memutuskan bergabung ke Teater Alam. “Di Teater Alam saya digembleng sehingga mendapat banyak sekali pelajaran. Bukan saja dalam berteater dan berkesenian tetapi juga dalam melakoni kehidupan,” ujarnya.

Cara Azwar AN melatih cantrik-cantriknya juga tak luput dari perhatian Nano. “Disiplin, itu kata kuncinya. Implementasinya menjadi terlihat galak dan keras. Tapi muaranya adalah disiplin. Itu yang saya catat,” kata Nano.

Nano Asmorodono, Pimpinan Produksi “100 Mantra Teater Alam untuk Azwar AN”.

Upaya Azwar mendisiplinkan anggotanya, juga cukup unik. Setiap kesalahan, harus dibayar dengan melakoni hukuman. Ada yang disuruh menyapu, tidak hanya menyapu halaman rumah Azwar, tetapi menyapu lapangan tempat latihan. Kali lain, ada yang dihukum berlari keliling kampung, bahkan ada yang dihukum memanjat pohon, atau dihinggapi sendal terbang,” kenang Nano, sambil tertawa.

Pelajaran disiplin disertai hukuman-hukuman khas Azwar, kelak akan disadari sebagai sebuah pelajaran bagaimana kita menghargai waktu, menghargai orang lain, dan memahami pentingnya kerja sama.

Toh Nano juga menangkap sisi humanisme seorang Azwar yang sangat tinggi. Ia dinilai sebagai sosok pengayom bagi anak didiknya. Termasuk mengulurkan tangannya kepada anak didik yang kurang beruntung secara ekonomi. “Beliau tak ragu membantu, meski saya sendiri tahu kondisi ekonomi bang Azwar juga tidak berlebihan,” katanya seraya menambahkan, “saya kira semua cantriknya sepaham, dalam hal tertentu, hubungan dengan beliau pastilah serasa anak dan bapak.”

Dalam perjalanannya, Nano juga mengikuti perjalanan berkesenian Azwar AN, termasuk saat aktif menjadi Ketua PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia) DIY. “Kebetulan waktu itu saya juga sebagai pengurus PARFI,” tambanya.

Di mata Nano, Azwar AN juga seorang seniman yang menaruh apresiasi tinggi terhadap seni tradisi. Antara lain dengan mengelola pertunjukan sendratari Ramayana di Purawisata. “Beliau juga mendorong saya menekuni seni tradisi. Bahkan meminta saya membentuk kethoprak untuk dikirim ke Festival Istiqlal di Jakarta. Saya kemudian mendirikan kethoprak Alam Budaya,” tutur Nano.

Kini, melalui “100 Mantra Teater Alam untuk Azwar AN” ia berharap para seniman Yogyakarta bersama anggota Teater Alam menampilkan performance secara maksimal. Ia berkepentingan untuk itu. “Kepentingan untuk membuat Bang Azwar tersenyum di atas sana,” pungkas Nano Asmorodono. (roso daras)

Wayang Milehnium dalam Instalasi Bambu Ki Mujar

“100 Mantra Teater Alam untuk Azwar AN”

***

JAYAKARTA NEWS – Acara “100 Mantra Teater Alam untuk Azwar AN”, bakal menjadi puncak budaya Yogyakarta tahun 2022. Sekitar 200 seniman lintas disiplin Yogya bakal ambil bagian pada moment yang digelar Kamis, 31 Maret 2022 di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta.

Satu di antara penampil adalah Ki Mujar Sangkerta. Ia dikenal sebagai budayawan dan seniman khususnya seni kriya dan perupa, kelahiran Jember yang berdomisili di Yogyakarta. Ki Mujar dan tim memberi aksen penting dalam gelar doa dan budaya tersebut, yakni melalui kreasi wayang milehnium wae mendiang Azwar AN dan Titiek Azwar, serta pengerjaan property seni instalasi 3 dimensi dari bambu tuk sebagai setting panggung acara “100 Mantra Teater Alam untuk Azwar AN”.

“Kami dedikaskan tenaga, waktu, dan pikiran demi tokoh panutan teater Yogyakarta, Azwar AN,” ujar Ki Mujar, ditemui di halaman Sicoetet, Yogyakarta saat tengah menggarap property seni instalasi 3 dimensi dari bambu tuk. Ia menambahkan, “untuk wayang milehnium wae dengan tokoh datuk Azwar AN dan istri tercinta Titiek Azwar, sudah selesai, bahkan sudah digunakan dalam latihan rutin.”

Wayang milehnium wae karakter Azwar AN dan Titiek Azwar. (foto: Teater Alam)

Ia menambahkan, wayang milehnium ia buat dari bahan plat logam aluminium dengan ukuran raksasa (100 x 200 cm). Ukuran yang besar, menjadikan wayang milehnium wae Azwar – Titiek kelihatan gagah, anggun, dan semakin hidup jika digetar-getarkan. “Ketika digetar-getarkan akan menimbulkan suara bunyi menggelegar seperti guntur. Pas dengan karakter datuk Azwar AN yang keras, lantang disiplin penuh daya pukau yang luar biasa,” ujar Ki Mujar.

Konsep pengerjaan wayang milehnium wae Azwar AN – Titiek, kata Ki Mujar, sederhana saja. Ia meniru foto-foto yang tersebar di internet. “Saya pilih karakter atau style Bang Azwar yang selalu mengenakan topi pet putih. Untuk kostumnya, saya modifikasi dengan kostum etnik Jawa Modern. Sedangkan tokoh mbak Titiek, saya pilih foto almarhumah yang paling cantik waktu beliau mengenakan kostum kebaya dengan renda yang unik, bersanggul besar khas Jawa. Kelihatan lebih anggun,” kata pendiri Institut Sangkerta Indonesia Yogyakarta itu.

Teknis pengerjaan wayang milehnium Azwar AN – Titiek, diakui Ki Mujar, tidak terlalu rumit. Selain ia terbiasa mengerjakan wayang milehnium wae dengan berbagai karakter, tokoh yang dibikin wayang pun sangat familiar. “Artinya, kalau bicara tingkat kesulitan, justru terletak pada kepopuleran tokoh Azwar AN dan Titiek Azwar. Tantangannya, karakter Azwar dan Titiek harus muncul dan mudah ditangkap khalayak,” ujar Ki Mujar.

Memulai penggarapan, Ki Mujar terlebih dahulu menggambar desain wajah foto tokoh di media logam aluminium. Setelah selesai, ia pertebal dengan cat ekspres. Setelah cat kering, lalu ditunging sisi pinggirnya. “Terakhir, pemberian gapit bambu untuk pegangan dan untuk menggerak-gerakkan wayang,” ujar Ki Mujar.

Pada pertunjukan memperingati 100 hari wafatnya almarhum Azwar AN, tanggal 31 Maret 2022 nanti, wayang milehnium wae hanya sebagai simbol atas keberadaan Azwar dan Titiek di tengah-tengah keluarga dan anak-cucu yang hadir. Mengartikan bahwa Azwar – Titiek senantiasa hadir dalam kehidupan keluarga tercinta. “Wayang karakter Azwar AN dan Gunungan dipegang oleh kedua cucu almarhum,” kata Ki Mujar.

Lalu, wayang milehnium wae Azwar-Titiek kembali muncul saat Emha Ainun Najib selesai memberi orasi kesan dan pesan tentang Azwar AN. Keseluruhan acara akan ditutup dengan adegan gerak visual gunungan yang diperagakan oleh Ki Mujar Sangkerta sendiri, diikuti wayang karakter Azwar AN – Titiek yang diperagakan oleh A’Syam Chandra dan Mai Intan Aprillia Banyu Langit. “Peragaan wayang akan menampilkan kesan gembira di tengah para hadirin,” kata Mujar.

Nah beralih ke posisi Ki Mujar sebagai tim artistik acara tanggal 31 Maret 2022. Ki Mujar dkk akan menampilkan set property yang unik, yakni seni instalasi 3 dimensi bambu tuk. Bentuk seni instalasi 3 dimensi bambu menurutnya, merupakan pilihan yang fleksibel dan ramah lingkungan serta selaras dengan nuansa Teater Alam yang alami.

Instalasi 3 dimensi bambu tuk sebagai bagian dari konsep setting panggung “100 Mantra Teater Alam untuk Azwar AN”, Kamis (31/3/2022) di Societet, Komplek Taman Budaya Yogyakarta (TBY). (foto: Teater Alam)

Dengan berbagai desain bentuk geometri (bulat, kerucut, persegi), Ki Mujar dkk bisa mengeksplorasi lebih leluasa bambu-bambu yang sudah dibelah menjadi beberapa bagian untuk mempermudah proses pembentukannya. “Dengan kelenturan bilah bambu yang masih basah, tim artistik dapat menciptakan berbagai bentuk tiga dimensi yang imajinatif, naif, dan sangat plastis penggarapannya,” ujar lelaki yang juga memiliki nama lain Mujar Mahasiswantoro.

Mujar mengaku sangat menikmati proses kreatif tanpa batas dalam berkarya. Kerangka-kerangka bambu tadi oleh Ki Mujar dkk sengaja dibiarkan telanjang, tanpa balutan kertas semen atau kertas koran, atau kertas-kertas lain. “Justru tujuannya agar karakter kerangka bambu menjadi lebih eksotik untuk dinikmati,” pungkas Ki Mujar.

Ditanya ihwal interaksinya dengan almarhum Azwar AN, Ku Mujar menjawab, sosok Azwar adalah sosok yang banyak menginspirasi kehidupannya. Sejak ia masih kuliah di STSRI “Asri” Gampingan, Yogyakarta (sekarang ISI Yogyakarta), Mujar sering menyaksikan Azwar AN melatih cantrik-cantrik Teater Alam di pendopo Timbul Busono. Kebetulan lokasinya di sebelah timur kampus STSRI “Asri” Gampingan (sekarang menjadi Jogja National Museum/JNM).

Ki Mujar tekun mengerjakan instalasi 3 dimensi bambu. (foto: Teater Alam)

“Jadi, dari dulu saya tahu, bagaimana beliau sangat disiplin dan keras dalam melatih dan mendidik cantrik-cantrik Teater Alam. Saya terkesan sekali dengtan suaranya yang sangat lantang dan tegas. Beliau juga sangat detail dalam melihat kesalahan. Sedikit saja ia melihat ada kesalahan, keluarlah kata-kata khas beliau…,” ujar Ki Mujar sambil tertawa.

Interaksi makin intens dengan Azwar AN saat Ki Mujar kost di sebelah rumah Amri Yaya, seorang maestro pelukis batik yang memiliki kekerabatan dekat dengan Azwar AN. Setiap Amri Yahya mengadakan pengajian keluarga, Azwar AN selalu hadir. “Kebetulan saya yang selalu menjadi penata dekor di pendopo Amri Yahya,” katanya.

Di kediaman Amri Yahya, Gampingan itu pula, Ki Mujar dan Azwar AN sering berdiskusi sambil bersenda-gurau. Di sela obrolan dan canda, Azwar acap menyelipkan nasihat, antara lain, jika ingin menjadi seorang seniman sukses, tekuni dengan sungguh-sungguh, jangan cepat menyerah atau mengeluh.

“Almarhum juga pernah berpesan kepada saya, hadapi setiap kesulitan yang ada di depanmu. Sebab, di balik kesulitan pasti ada mutiara hukmah di dalamnya,” kata Mujar, lulusan Kriya Logam STSRI “Asri” Yogyakarta itu.

Pesan lain, adalah agar ia senantiasa menjadi orang yang memberi manfaat bagi orang-orang dan kehidupan di sekitar. “Semua nasihat beliau, kemudian menjadi spirit sekaligus energi untuk melangkah maju dalam mengarungi kehidupan berkesenian dengan riang gembira dan semangat,” kata Ki Mujar Sangkerta. (roso daras)

Emha dan Sitoresmi Warnai “100 Mantra Teater Alam untuk Azwar AN”

JAYAKARTA NEWS – Jika hajat peringatan 100 hari wafatnya seniman teater Yogyakarta, Azwar AN menjadi hajat akbar, lebih karena almarhum memang seniman besar. Karena itu pula, seniman-seniman besar kota Yogya turut ambil bagian dalam acara bertajuk “100 Mantra Teater Alam untuk Azwar AN”.

Kegiatan yang berlangsung Kamis, 31 Maret 2022 di Societet, Komplek Taman Budaya Yogyakarta (TBY) itu, akan diwarnai penampilan Emha Ainun Nadjib, Hj. Sitoresmi Prabuningrat, Prof Dr Hj.Yudiaryani, MA, dan ratusan seniman lain. “Sungguh di luar dugaan, antusiasme para seniman Yogya dalam ‘nyengkuyung’ hajatan 100 hari papa. Atas nama pribadi dan Teater Alam, kami menghaturkan banyak terima kasih,” ujar Erna Azmita AN, putri kedua Azwar AN yang juga Ketua Perkumpulan Teater Alam Yogyakarta.

Selain dukungan para seniman, Nana, panggilan akrabnya, juga berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang mendukung kegiatan ini melalui Dinas Kebudayaan DIY. Tak terkecuali, ia juga berterima kasih kepada semua pihak yang tidak bisa ia sebut satu persatu, dalam mendukung dan membantu hingga terselenggaranya acara ini.

Erna Azmita AN

“Ibarat patah satu tumbuh seribu, kami berharap spirit almarhum tidak saja menyemangati anggota Teater Alam dalam berkarya, tetapi juga para seniman lain. Saya kira, papa tidak hanya milik Teater Alam, tetapi milik Yogyakarta dan Indonesia,” tambahnya.

Acara “100 Mantra Teater Alam untuk Azwar AN” dikemas dalam delapan sajian kreatif para seniman Yogyakarta dalam kesan spektakuler dan sakral. Yang pertama adalah “Melukis Bersama Azwar AN”. Kegiatan ini akan diikuti kurang lebih 100 pelukis Yogyakarta. Mereka akan melukis bersama dengan satu tema “Azwar AN” di area sekitar Taman Budaya Yogyakarta, siang hingga sore hari tanggal 31 Maret 2022. Kegiatan ini dikoordinir oleh Chamit Arang Baru dan Tatang Maruto Paksi.

Yang kedua, “Mantra Doa” oleh Bambang Nursinggih, anggota Teater Alam yang juga Ketua Sanggar Sekar Pangawikan dan Ketua GPMB DIY (Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca). Seniman yang juga penulis geguritan (puisi bahasa Jawa) ini bersama Sekar Pangawikan memiliki jejak karya yang sangat panjang. Ciri khas “umbul donga” melalui tutur bahasa Jawa yang ritmis dan puitis, membuat siapa pun yang mendengar larut dalam suasana khidmat.

“Mantra doa dan rangkaian acara lain, diselenggarakan malam harinya pada 31 Maret 2022,” ujar Nana.

Rentetan acara selanjutnya adalah pentas monolog “Azwar AN Manusia Teater” yang dibawakan “AN Family” (keluarga Azwar AN). Naskah monolog ditulis Roso Daras, anggota Teater Alam yang menekuni dunia tulis menulis sebagai jurnalis dan penulis buku. “Mas Daras juga yang menginisiasi penerbitan buku Trilogi Teater Alam, sehingga kami memiliki setidaknya catatan mengenai sejarah Teater Alam dan profil papa Azwar,” kata Nana.

Sajian keempat adalah pentas pantomim oleh Reza dan Renny AN, putri bungsi Azwar AN. “Karena setiap hari melihat om-om dan tante-tante, mas-mas dan mbak-mbak latihan teater, mau tidak mau kami putra-putri Azwar AN juga ikut-ikutan berteater, meski tidak sedalam papa dan mama. Nah, adik saya, Renny kebetulan menyukai pantomim,” tambahnya.

Selanjutnya, ada penampilan kelompok musik Samya. Iringan musik Samya akan mewarnai hampir keseluruhan pertunjukan malam itu. Dalam formasi tampak para pemusik Jojo Sae, Ki Mujar Sangkerta, B’djo Ludiro, B. Raya, Iwan Nabe, Ibnu, dan Saronto.

Tari dan Puisi juga akan menjadi suguhan para seniman Yogya memperingati 100 Hari Wafatnya Azwar AN. Di sajian tari, akan dibawakan Anter Dance. Sedangkan, untuk pembaca puisi, akan tampil para seniman Yogya. Sekadar menyebut nama, antara lain Evi Idawati, Oka Swastika Mahendra, Luwi Darto, Nonodiono W, Dr. Drs. Nur Iswantara, M.Hum, Jedink Alexander, dan masih banyak lainnya.

Dua aktor gaek Teater Alam, Gege Hang Andhika dan Yono Gandem juga akan tampil dalam “Dramatic Reading”. Mereka selalu mendapat casting penting dalam banyak repertoar Teater Alam. Keduanya memiliki karakter vokal yang kuat.

“Last but not least, juga ada penampilan wayang milehnium wae Ki Mujar Sangkerta. Dalam penampilannya, Ki Mujar mengajak serta Syam Chandra dan Mai Intan Aprillia untuk ikut memainkan wayang-wayang milehnium,” kata Nana.

Special performance malam nanti, juga menampilkan dosen musik, pimpinan Kelompok Musik Etnik Kontemporer Gang Sadewa, Dr Memet Chairul Slamet, serta pemain biola Panji Karno. Masih ada lagi sajian musik Shin, Arya, Aksal, dan Dimas serta penampilan Sasana Vokalia yang menampilkan 25 penyanyi cilik bersama Bunda Miftah.

“Keseluruhan acara dikomandani Nano Asmorodono sebagai Pimpro, dibantu mbak Annastasia sebagai Sekretaris dan mbak Elizabeth Naning Kartaatmaja sebagai Bendahara,” ujar Nana pula. (roso daras)

Hari-hari “Menggempur” Rendra

Azwar AN, Manusia Teater (3)

___

Tokoh teater Indonesia, Azwar AN wafat Senin dinihari (27/12/2021) pukul 01.40 di kediamannya, Wirokerten, Yogyakarta. Untuk mengenang sosok Azwar AN, Jayakarta News menurunkan serial tulisan autobiografi Azwar AN yang dikutip dari Buku Trilogi Teater Alam (Penyunting: Roso Daras, Prof Yudiaryani, Bambang JP – 2018).

___

JAYAKARTA NEWS – Inilah bagian yang bolehlah aku sebut sebagai tonggak. Tonggak hidup yang kebetulan bersamaan dengan kepulangan WS Rendra dari Amerika Serikat.

Saya ingat, tahunnya 1967. Aku mendengar, dia dramawan hebat. Sepulang dari Amerika Serikat, tentu membawa ilmu baru tentang teater modern. Singkatnya, saat itu aku melihat, Rendra adalah “dewa teater” Indonesia. Tokoh yang lain, bukan saja tidak ada inovasi, tetapi kurang gereget. Sedangkan aku, sangat geregetan untuk mendapatkan ilmu teater modern terbaru dari Paman Sam.

Aku datangi Rendra. Aku ajak dia bermain teater. Tapi dingin. Lebih dingin dari es kurasa. Baiklah, aku alihkan saja pembicaraan dengan hal-hal lain. Ia menanggapi, tetapi tidak terlalu antusias.

Esok harinya, aku datangi lagi. Rendra tetap diam.

Lusa aku datangi lagi, Rendra bergeming.

Hari setelah lusa aku pun datang lagi, Rendra tak beringsut.

Aku makin penasaran. Buatku, ini hanya soal waktu. Ya, soal waktu, kapan Rendra mau buka mulut. Kapan Rendra mau ngomong teater.

Sementara menunggu, aku telan alasan gosip yang mengatakan, sekembali dari Amerika, Rendra dilarang berteater oleh Sunarti, istrinya. Jika itu alasannya, ah… ini benar-benar soal waktu. Sebab, belum tentu Mbak Narti melarang. Siapa tahu Rendra yang menjanjikan tidak akan berteater lagi sekembali dari Amerika.

Sementara menunggu, aku telan juga rencana cengeng Rendra yang mengatakan hendak beralih dari teater ke melukis. Kali lain, mau menulis dongeng. Aku bahkan tidak menganggap penting ketika Rendra mulai melukis atau menulis. Sesekali bahkan aku ledek dan aku cela. Pendeknya, aku runtuhkan keputusan berhenti berteaternya.

Hampir tidak ada satu hari pun yang aku tidak datang ke rumah Rendra. Tiap hari. Aku bahkan tidak peduli kalau Rendra kesal atau bosan, muak sekalipun. Sepanjang hari-hari mengunjungi Rendra, aku “serang” terus keputusan dia. Aku “gempur” terus pertahanan dia.

Sesekali dengan serangan bernada memelas….

Sesekali menyerang dengan memohon….

Kali lain menyerang dengan mencela. Pokoknya semua jurus aku pakai. Percuma jadi orang pendek, pikirku……

Klimaks penantian pun tiba. Bodohnya, aku tidak mencatat hari, tanggal, bahkan jam, menit, dan detiknya. Tidak aku catat kata demi kata, saat untuk pertama kalinya sejak pulang dari Amerika, Rendra berbicara soal teater!

Hatiku bungah bukan kepalang. Antara percaya dan tidak. Ini soal memenangkan perang bung! Perang melawan keputusan seorang Rendra yang hendak beralih menjadi pelukis, melawan tekad kuat untuk mengurungkan keputusan itu. Bukan hanya mengurungkan, tetapi agar mau kembali berteater.

Inilah titik penting, di mana Rendra mau berteater. Antusias aku menanggapi omongannya (soal teater). Aku sudah siap menerima ilmu. Siap disuruh mengerjakan apa saja, sepanjang itu akan menambah pengetahuanku tentang teater paling mutakhir.

Ngglethek… orang Yogya bilang…. Ia hanya mengeluarkan semua piringan hitam yang ia bawa dari Amerika. Semua musik klasik dari para composer dunia. Sebut sajalah siapa yang ada di benak Anda, aku pastikan ada. Johan Sebastian Bach? Ada. Ludwig van Bethoven? Apalagi itu. Wolfgang Amadeus Mozart? Ada. Haydn, Bhrams, Schumann, Wagner…. Ada semua!

Lantas? Ia putar piringan hitam-piringan hitam itu. Pelan ia berkata, “Dengarkan dan hayati setiap alunan nada. Resapi. Masukkan ke pikiranmu.”

Itulah yang ia sebut sebagai metode berlatif teater secara modern. Secara lebih berkualitas. Esensinya, memberi tafsir atas berbagai macam imajinasi. “Coba, ikuti musik itu dengan gerakan,” kata Rendra.

Aku bingung. “Gerak! Iya…. Gerak! Gerakkan tubuhmu, tanganmu, kakimu, kepalamu…. Gerak! Ikuti musik itu,” kata Rendra.

Azwar AN dan Rendra, awal-awal pembentukan Bengkel Teater. (dok Teater Alam)

Mulailah aku bergerak. Awalnya aku pejamkan mata. Dengan mendisfungsikan salah satu indra, maka indra yang lain akan lebih tajam. Dengan mematikan fungsi melihat, aku harap fungsi pendengar lebih peka. Ditambah, tanpa melihat objek apa pun di sekitar, jadi lebih mudah fokus dan konsentrasi.

Di luar dugaan, Rendra senang dengan gerakanku. Kelak kami menyebutnya gerak indah. Makin suka dia dengan gerakanku, makin banyak ia menjejalkan alunan-alunan musik ke telingaku. Makin semangat dia memintaku mengeksplorasi gerakan.

Sesekali, aku seling dengan bercanda. Aku lakukan gerakan-gerakan lucu. Rendra tertawa terpingkal-pingkal. Bukan sekali-dua ia meminta aku mengulang gerakan-gerakan yang mengilik-ilik saraf tawanya.

Itulah keseluruhan proses awal lahirnya Bengkel Teater. Ya, kami berdua, aku dan Rendra mencapai kesepakatan mendirikan teater. Namanya Bengkel Teater. Filosofi nya ya seperti bengkel, untuk me-repair, mereparasi. Bedanya, yang hendak kami perbaiki adalah mental, jiwa, sense of creativity, kepribadian, yang bermuara menjadi manusia yang lebih berguna.

Di awal berdirinya, Bengkel Teater beranggotakan orang-orang yang sebelumnya sudah berteater. Jadi kebesaran Bengkel Teater dapat dikatakan tidak luput dari peran anggotanya yang sudah matang berteater di Yogyakarta. Hanya ada beberapa nama kala itu yang benar-benar bukan dari teater, melainkan dari SMKI dan SMSR, yakni Adhi Kurdhi, Tertib Suratmo, dan Untung Basuki.

Itu pun harus mengikuti proses magang latihan di Bengkel Teater kurang lebih enam bulan. Selama enam bulan, didiamkan saja sama Rendra. Hebatnya, meski enam bulan tidak disapa, mereka tidak pernah absen melihat latihan Bengkel Teater. Hal tersebut juga sebagai ujian kesetiaan dan mental orang-orang yang akan bergabung dengan Bengkel Teater.

Setelah sekian lama berproses, pentas pertama Bengkel Teater terjadi tahun 1968 lewat pementasan “Teater Mini Kata” Bip Bop. Peristiwa ini kemudian menuai banyak tanggapan, pro dan kontra. Ada yang bilang Rendra lebih pantas menjadi penghuni bangsal rehabilitasi rumah sakit jiwa.

Menarik pula komentar Fuad Hasan (yang kelak menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI) di  Kompas, Juni 1968: “Rendra ingin mendramatisasikan penghayatan konflik pada manusia di abad modern ini tanpa elaborasi intelektual yang sadar; ia telah berhasil mengonstantir konflik yang khas dalam abad modern ini yaitu individuasi versus massifi kasi, atau lebih mendesak lagi humanisasi versus dehumanisasi.”

Bengkel Teater lalu mementaskan Menunggu Godot yang juga baru pertama kalinya dipentaskan di Indonesia. Naskah karya Samuel Beckett itu diterjemahan Bakdi Soemanto lalu disunting oleh Rendra. Dalam proses ini pula Rendra mengajarkan metode membaca naskah (reading) yang berbeda dengan tradisi sebelumnya.

Semua aktor sebelum membaca naskah diminta membaca karya-karya sastra, baik puisi, cerpen, novel, untuk memperhalus irama, intonasi, dan rasa yang datang dari jiwa dalam metode yang diistilahkan sebagai “cara membaca” naskah drama. Ketika proses membaca dianggap belum selesai, janggan harap akan ada pementasan. Itulah mengapa pertunjukan Bengkel Teater selalu ditunggu-tunggu, antara lain karena proses yang sangat lama. Demikian seterusnya hingga pementasan-pementasan Oidipus Rex, Hamlet, Machbet, Qasidah al Barzanji, Modom-Modom, Menunggu Godot, dan Dunia Azwar.

Di paruh era 1970-an, setelah mendapat komentar dari Asrul Sani yang melihat pementasan Machbet dari Bengkel Teater yang hanya berkostum kain sarung sebagai pentas urakan, Rendra kemudian membuat pertemuan seniman se-Jawa di Parangtritis dengan menamakan acara tersebut “Pesta Kaum Urakan”, pada tahun 1971. Sebuah gerakan yang dianggap menyimpang saat itu, mengingat Yogyakarta selama ini dikenal sebagai zona kultural dan memiliki sopan santun tinggi, ternyata ada kelompok anak muda yang menyebut dirinya “kaum urakan”.

Dalam perkemahan itu selain melakukan pelatihan teater, kaum urakan melakukan interaksi dengan penduduk setempat. Sesungguhnya dari sini bisa dibaca, proses kreatif dalam teater tak hanya berujung pada sebuah pentas pertunjukan belaka, namun juga dalam kehidupan sehari-hari dengan masyarakat.

Satu hal dasar berteater yang diajarkan Bengkel adalah “Mini Kata”. Dalam permainan ini, sang aktor diuji bisa atau tidak berakting tanpa kata-kata sebagai dialog, namun puisi. Latihan kekompakan sebuah tim juga diajarkan melalui metode ini, yakni koor. Dengan koor kebersamaan dan kekompakan setiap aktor diuji.

Sesungguhnya “Mini Kata” adalah metode latihan teater, namun kemudian oleh Rendra dipanggungkan sebagai sebuah pertunjukan. Akhir tahun 1971, aku pamit dari Bengkel Teater setelah pementasan Dunia Azwar. Dua minggu kemudian saya mendirikan Teater Alam, tepatnya pada 4 Januari 1972.

Alasanku keluar dari Bengkel Teater dan mendirikan Teater Alam ialah di Yogyakarta terkesan hanya ada satu kelompok teater, yakni Bengkel Teater. Kelompok-kelompok yang sudah ada sebelumnya bubar dan anggota-anggotanya bergabung di Bengkel Teater. Itu kuanggap peristiwa yang tidak sehat dalam dunia teater. Untuk jangka panjang, tidak akan menguntungkan dunia perteateran di Yogyakarta. ***