Slamet Rahardjo: Syukuri Kekurangan’

 Slamet Rahardjo: Syukuri Kekurangan’

JAYAKARTA NEWS – Aktor Slamet Rahardjo yang tahun ini genap berusia 70 tahun mengemukakan, bahwa manusia yang memiliki fisik yang normal harus mensyukuri kekurangan yang ada.

“Kalau kita enggak bersyukur atas kekurangan diri kita, berarti kita menggugat Tuhan yang telah menciptakan manusia,” kata Slamet dalam diskusi publik bertajuk ‘Peluang Kerja bagi Disabilitas di Industri Perfilman’ di Perpustakaan Kementeriam Pendidikan dan Kebudayaan RI, belum lama ini.

Dalam diskusi tersebut, Slamet memang menjadi ‘gong’-nya. Dia menekankan kalau kita enggak mensyukuri kekurangan, berarti kita enggak tahu kelebihan kita. “Dan kita enggak tahu berterima kasih,” ujar Slamet yang bermain apik dalam film ‘Cinta Pertama’ bersama Christine Hakim.

Ihwal peluang kerja bagi kaum disabilitas di bidang perfilman, Slamet mengawali dengan ‘apa itu film’. “Film bukan semata-mata fisik, tapi ide, gagasan,” ungkap aktor yang menyabet piala Citra yang berperan sebagai Teuku Umar dalam film ‘Tjoet Nyak Dhien’ garapan adiknya, sutradara Eros Djarot.

“Film sebenarnya adalah Kehidupan. Kalau film diartikan bioskop, itu hal kecil. Maka, bagi teman-teman saya yang kurang panca indranya dan tuna daksa (kurang organ tubuhnya), jangan sedih dan jangan khawatir. Film bukan semata-mata peluang menjadi aktor atau pemain, harus cantik dan ganteng atau harus lengkap organ tubuhnya. Bagi kaum disabilitas, bisa menjadi sutradara atau penulis skenario. Peluang kerja di dunia film masih luas,” paparnya.

Yang penting, ia menambahkan, pesan atau ide apa yang ingin disampaikan. “Dan yang terpenting adalah naluri kepekaan. Atau disebut Rasa. Jujur, banyak sineas teman-teman saya yang normal hasil karya filmnya jelek dan pesannya enggak sampai ke kita. Tapi saya melihat karya seorang teman saya yang disabilitas, meski film pendek, waduh… ini dahsyat sekali dan gagasannya sampai. Kenapa bisa begitu ? Karena film yang dibuat berdasarkan rasa, naluri,” urai Slamet yang pernah menyutradarai film drama melankolis berjudul ‘Seputih Hatinya Semerah Bibirnya’.

Aktor senior ini memberikan contoh ada seorang aktris cantik dari Hollywood yang tuna wicara, tapi amboi…dia bermain bagus dan aktingnya keluar dari rasa. Dan si aktris tersebut berhasil merebut Oscar. Orang asing ternyata bisa menghargai sebuah karya yang bagus dam seni peran yang bermutu daripada di Indonesia.

Bagaimana di kita, di sini, Indonesia ? “Apakah para produser kita sudah cukup memberi peluang kerja bagi kaum disabilitas yang lihai menulis skenario bermutu atau menjadi sutradara yang bagus ? Memang saya
pernah melihat beberapa pembisik dialog film bagi para penyandang tuna netra dan bisu tuli dalam sebuah pemutaran film khusus bagi kaum disabilitas. Tapi apakah jumlahnya sudah sebanding dengan para sineas yang normal dan awas matanya,” sergap Slamet.

Diakuinya, memang orang normal dan ‘orang normal’ ada bedanya. Banyak sineas bikin film tapi mutunya jeblok termasuk jeblok di pasaran dan tidak ditonton masyarakat. ‘Tapi lihatlah di LP Cipinang, penghuninya dikatakan ‘enggak normal’ tapi mereka merasakan normal dan mereka yang di penjara melihat orang normal diluar penjara malah disebut orang cacat dan enggak normal,” kata Slamet lagi.

Lalu, apakah pendidikan kita ada yang salah ? Saat ini, ternyata ‘pembenaran’ dan ‘kenyataan’ ada sisi perbedaan yang hakiki.

“Kaum seniman enggak ada yang bohong. Mereka lihai menangkap inti sari kehidupan. Dan kita semua, termasuk penyandang disabilitas, bisa berprestasi dan menghasilkan suatu karya yang baik dan berguna di industri perfilman,” tandas Slamet Rahardjo dalam diskusi yang difasilitasi oleh Pusat Pengembangan Perfilman Kementeriam Pendidikan dan Kebudayaan dan Cinta Film.Indonesia.

Selain Slamet Rahardjo, sebelumnya yang bicara adalah Budi Sumarno (pendiri Inklusi Film Indonesia), Gufron Sakaril (Ketua PPDI/Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia, mantan Humas Indosiar), dan Fani Efrita (talent acquisition) dan moderator Didang Prajasasmita. (pik)

,

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *