“Separuh Napas” di Bundaran HI

 “Separuh Napas” di Bundaran HI

Letjen TNI Purn Doni Monardo (Dan Paspampres 2012-2014) menerima kenang-kenangan foto dari Dan Paspampres Marsda TNI Wahyu Hidayat. (Foto: Roso Daras)

Nostalgia Dua Komandan Paspampres

JAYAKARTA NEWS— Aula Soerjadi, Gedung PPAD Jl. Matraman Jakarta Timur menjadi saksi atas secuil sejarah Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Hari itu, Selasa (24/1/2023), Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo menerima silaturahmi Dan Paspampres, Marsekal Muda TNI Wahyu Hidayat Soedjatmiko, Wadan Paspampres Brigjen TNI (Mar) Oni Junianto, beserta jajaran.

Moment langka itu masih dalam suasana peringatan Hari Bhakti Paspampres ke-77. Paspampres terbentuk 3 Januari 1946. Bertepatan tanggal ‘hijrah’ Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, dari Jakarta ke Yogyakarta.

Marsda Wahyu adalah Dan Paspampres ke-27, yang menjabat sejak 26 Juni 2022. Sedangkan, Doni Monardo adalah Dan Paspampres ke-20 yang menjabat tahun 2012 – 2014. Siapa sangka, antara Doni Monardo, Wahyu Hidayat, dan Oni Junianto, terikat oleh selarik kisah yang unik.

“Mungkin ini yang disebut takdir. Wahyu dan Oni dulu pernah menjadi anggota saya di Paspampres. Tahun 2014, mereka saya beri tugas sebagai Komandan dan Wakil Komandan Satgas Presiden tahun 2014. Wahyu komandan, Oni wakil komandan. Siapa sangka, saat ini, atau sembilan tahun kemudian, mereka kembali berduet,” ujar Doni membuka story.

Kesentil Cukur

Kisah selanjutnya, dituturkan langsung oleh Marsda Wahyu. “Saya pertama kenal beliau tahun 2010. Saat itu pak Doni Dan Grup A, saya komandan detasemen 3. Tapi sebelum ditugaskan ke Paspampres, nama pak Doni sudah sangat terkenal. Terkenal keras…,” kata Wahyu, disusul tawa.

Setelah dekat, Wahyu mulai merasakan “keras”-nya Doni Monardo. “Awalnya memang kaget-kaget. Sentilan Doni pertama yang saya rasakan soal jenggot, karena lupa cukur. Wah, beliau orangnya perfect dan teliti sekali,” tambahnya.

Kini, semua kenangan itu terukir menjadi prasasti indah. “Banyak ilmu beliau yang ketika saya kembali ke satuan Paskhas AU, saya terapkan,” ujarnya.

Ketua Umum PPAD Letjen TNI Doni Monardo didampingi Sekjen Mayjen TNI Komaruddin Simanjuntak menerima audiensi Komandan Paspampres Marsda TNI Wahyu Hidayat bersama jajarannya. (Foto: Roso Daras)

Salah satu kenangan awal tugas di bawah komando Doni Monardo adalah soal Pembinaan Satuan (Binsat) Personil.

“Suatu ketika beliau mengajak kami berenang. Kami pikir yaaa main air biasa, nggak taunya disuruh renang lima-ratus meter…. Kesempatan lain, beliau mengajak kembali ke kolam renang. Kami sudah siap renang lima-ratus meter, tak taunya disuruh menyelam…,” papar Wahyu sambil tertawa-tawa.

Toh, Wahyu akhirnya menikmati irama tugas komandannya. Ia memuji kehebatan Doni yang tidak pernah menjadikan dirinya sebagai standar bagi anak buahnya. “Beliau tidak pernah perintah prajuritnya harus seperti dia. Yang penting olahraga,” katanya.

Teladan lain yang ia catat dan tiru adalah soal kesejahteraan prajurit. “Bukan semata-mata soal materi. Ambil contoh soal cuti. Dulu, tugas di Paspampres jangan mimpi cuti. Tapi beliau memberikan hak cuti kepada prajuritnya. Hanya saja, cuti harus diatur, tidak semau-maunya. Kecuali kalau acara teragenda seperti mau mantu atau nyunatin anak, itu bisa request. Saya merasakan, kebijakan itu sangat membahagiakan prajurit,” tutur pria kelahiran Jakarta, 16 September 1971 itu.

Setahun kemudian, Doni pindah tugas menjadi Danrem Surya Kencana, Bogor. Sementara Wahyu masih bertahan di Paspampres. Ia terbilang “mengakar” di satuan yang memiliki sesanti “Setia Waspada” itu. Tercatat, ia mengalami lima kepemimpinan Dan Paspampres, mulai dari Mayjen TNI Marciano Norman (2008-2010), Mayjen TNI Waris (2010-2011), Mayjen TNI Agus Sutomo (2011 – 2012), Mayjen TNI Doni Monardo (2012 – 2014), dan Mayjen TNI Andika Perkasa (2014-2016).

Syahdan, Wahyu sedia balik kandang ke Paskhas menjadi Asops. Itu tahun 2014. Tahun di mana Doni Monardo menjabat Komandan Paspampres, sementara Wahyu menjabat Komandan Grup A. Sebelum pindah, Doni Monardo memanggil dan memberi perintah, “Wahyu, kamu jangan pindah dulu. Saya kasih tugas Dan Satgas Presiden,” ujarnya, menirukan perintah komandannya.

Saat itu, masa transisi dari Presiden SBY ke Presiden Joko Widodo. Penugasan itulah yang menurutnya dinilai sebagai “jalan lurus” menuju karier selanjutnya, hingga akhirnya dipercaya menjadi Komandan Pasukan Baret Biru Muda, penjaga simbol negara.

Melukiskan penugasan itu, Wahyu menyebutnya sebagai tugas berat. Di satu sisi, ia harus menjalankan tugas dengan sempurna di lingkungan presiden terpilih yang baru.

Paham situasi yang dihadapi anak buahnya, sigap Doni mencarikan solusi. Atas bantuan teman, Wahyu dan anggota Satgas bisa tinggal di sebuah rumah di kawasan Menteng, tidak jauh dari rumah dinas Gubernur DKI Jakarta. Sebab, ketika itu, Joko Widodo masih tinggal di rumah dinas gubernur. “Dengan begitu, pergerakan kami menjadi lebih cepat, jika dibandingkan kami harus berangkat dari Tanah Abang II, markas Paspampres,” tambahnya.

Basah Keringat

Moment terpenting di pengujung tugas Wahyu sebagai Dan Satgas Presiden waktu itu adalah kirab usai prosesi pelantikan presiden di Gedung DPR-MPR RI Senayan menuju Istana Negara. Hari itu, Senin tanggal 20 Oktober 2014 pagi.

Acara pelantikan selesai pukul 11.00 WIB, dilanjutkan ramah-tamah dengan Duta Besar negara sahabat hingga pukul 12.00. Setelah itu, kirab pun dimulai. Agendanya, presiden dan wakil presiden meninggalkan Gedung DPR-MPR menuju bundaran HI. Dari bundaran HI, perjalanan ke istana dilanjutkan dengan kereta kuda.

Yang terjadi, tidak sesederhana itu. Massa sudah menyemut di sekitar Jembatan Semanggi. Iring-iringan mobil kepresidenan pun tak mampu membelah lautan manusia. Mobil kepresidenan berjalan lambat. Wahyu melompat turun dan berjaga di pintu kiri-kanan mobil RI-1. “Saya bersama Maruli Simanjuntak (sekarang Pangkostrad-red). Sementara pak Doni saya lihat juga turun dari mobil dan berjalan di belakang mobil presiden,” kenangnya.

Saat itu, ia perkirakan pukul 12.20. Matahari menyengat sejadi-jadinya. Sementara, Wahyu, Maruli, Doni Monardo, dan pasukan pengamanan presiden lain berbusana formil, lengkap dengan jas, dasi, dan sepatu pantofel.

Dengan balutan busana lengkap itu, keringat mulai bercucuran. Ia harus sigap menghalau tangan massa yang menerobos jendela mobil hendak menyalami tangan Presiden Jokowi. Di tengah suasana terik, berjalan kaki mendampingi laju lambat mobil kepresidenan dengan kewaspadaan penuh.

Terasa semakin berat, manakala situasi itu sama sekali di luar perhitungan. Sebab, scenario pengamanan berlapis telah disusun mulai dari bundaran HI ke Istana. “Jadi, dari Semanggi ke Bundaran HI sangat di luar perkiraan. Tenggorokan kering. Ludah terasa getir,” tutur Wahyu.

Beruntung, ajudan Presiden Jokowi yang pertama adalah teman satu angkatan Wahyu. Segera ia berinisiatif memberinya sebotol air mineral. “Jadilah satu botol minuman itu kami minum seteguk-seteguk berantai ke belakang. Mulai dari perwira, bintara, tamtama, pun minum dari botol yang sama. Yang penting bisa membasahi tenggorokan,” kata Wahyu pula.

Tiba di Bundaran HI, persoalan belum sepenuhnya selesai. Sebab, presiden turun dan naik kereta kuda yang salah. Jokowi dan Ibu Iriana naik kereta kuda Wapres. Paspampres kembali disibukkan dengan manuver pergantian kereta kuda.

“Saat itu sudah banyak pasukan Paspampres. Saya melipir ke pinggir. Eh… ketemu pak Doni. Dia bilang, ‘Wahyu, kamu jangan tinggalkan area’. Saya jawab, ‘sebentar komandan, ambil napas. Lha komandan kok di sini? Pak Doni tersenyum dan menjawab sama, ‘ambil napas sebentar’. Kami pun tertawa,” kenang Wahyu.

Singkat kalimat, iring-iringan kereta kuda dari Bundaran HI ke Istana Negara jauh lebih terkendali. Situasi pun kondusif. Acara berlanjut sore hingga malam, yakni tampil di acara Mata Najwa. Saat di acara Mata Najwa, Doni menelepon Wahyu, “Sehabis acara kamu langsung pulang, istirahat, besok sertijab.”

Wahyu pulang, dan esok harinya ia menyerahkan jabatan Dan Grup C Paspampres, dan bergeser ke jabatan barunya sebagai Asisten Operasi Dankorpaskhas (2014 – 2015).

Jaga Komunikasi

Tak lama kemudian, Doni Monardo pun sertijab Dan Paspampres kepada penggantinya Mayjen TNI Andika Perkasa. Selanjutnya, Doni mengemban tugas sebagai Danjen Kopassus. Sekalipun begitu, komunikasi antara Doni dan Wahyu tak pernah putus.

“Beliau orang pertama yang menelepon dan mengucapkan selamat ketika saya dilantik menjadi Dan Paspampres, 27 Juni 2022. Menjelang KTT G-20 di Bali beberapa waktu lalu, pak Doni juga telepon saya, memberi saran-arahan terkait pengamanan 43 kepala negara. Beliau sangat care dengan Paspampres,” ujarnya.

Dan Paspampres Marsda TNI Wahyu Hidayat menyerahkan cendera mata kepada Dan Paspampres 2012-2014, Letjen TNI Purn Doni Monardo. (Foto: Roso Daras)

Ia pun terkenang, saat di Paspampres dulu, ditugasi Doni Monardo untuk menanam ribuan pohon trembesi di sekitar bendungan Katulampa, Bogor. Juga area di dekat Jungle Land. “Kemarin saya lihat, pohonnya sudah tinggi-tinggi,” katanya, mantap.

Termasuk di lingkungan Markas Komando Paspampres di Jl. Tanah Abang II, Jakarta Pusat. “Banyak sekali pohon peninggalan beliau di sini. Dan semua anggota paham, jangan sekali-kali merusak pohon. Bahkan kalau mau nebang, seperti ada peraturan tak tertulis, harus minta izin dulu ke pak Doni,” katanya.

Kenangan Korea

Kesaksian Wadan Paspampres, Brigjen TNI (Mar) Oni Junianto tak kalah menarik. Ia ternyata sudah merasakan gemblengan Doni Monardo sejak tahun 2004, saat Doni menjabat Waasops Dan Paspampres (2004 – 2006). “Waktu itu beliau pangkat letkol saya kapten,” ujar Oni membuka kisah.

Saat itu, ia merasakan perubahan mendasar di tubuh Paspampres. Doni meletakkan dasar profesionalisme pada prajurit pengamanan presiden. Intensitas latihan ditingkatkan. Perlengkapan pun di-up-grade.

Tiba satu masa, Paspampres menyiapkan satu tim untuk mengikuti Pendidikan di Pasukan Khusus Korea Selatan, yang disebut Satuan 707. Semacam Satgultor (satuan penanggulangan teroris) kalau di Kopassus.

Jumlah pasukan Paspampres yang diberangkatkan ke Korea tercatat 15 orang. Doni Monardo paling senior. “Yang saya kagumi, beliau istilahnya tidak ‘mantul’ alias makan tulang, enak-enakan karena paling senior. Tidak. Pak Doni mengikuti semua tahapan latihan bersama kami. Betul-betul totalitas,” kenang lelaki kelahiran Pekalongan, Juni 1974 itu.

Sebelum latihan, Oni merasakan pelatih satuan 707 Korea sedikit under-estimated. Akan tetapi, Doni Monardo mengatakan, bahwa pasukan yang ia bawa berada pada level 8. Pelatih Korea sempat kaget dengan statement Doni yang diucapkan dengan sangat percaya diri.

Faktanya, semua prajurit Paspampres yang berlatih di sana, bisa mengikuti semua tahapan latihan. Latihan menembak, mampu. Kesamaptaan, tidak kalah. Fisik, prima. Sejak itu, pelatih Korea mulai percaya dan respek.

Istri Hamil Tua

Hal yang tak mungkin ia lupakan seumur hidup, adalah perhatian Doni Monardo terhadap hal-hal yang sangat pribadi dan bersifat humanis.

Tersebutlah, saat berangkat ke Korea, Oni meninggalkan istri yang sedang hamil anak pertama. Usia kandungan sudah lebih 8 bulan lebih. Artinya, bisa kapan saja istrinya melahirkan.

Brigjen TNI (Mar) Oni Junianto /foto: tangkap layar youtube Jenderal Andika Perkasa

Suatu hari Doni mendatangi Oni dan bertanya, “Oni, saya perhatikan kamu seperti ada beban. Ada apa? Bicara saja,” begitu Doni menyapa Oni. Awalnya Oni menutupi, dan menjawab semua baik-baik saja.

Untungnya Doni tidak percaya begitu saja. Setelah dicecar, barulah Oni menceritakan ihwal istrinya yang tengah hamil tua. Setelah tahu, Doni langsung meminjamkan telepon seluler, yang ketika itu masih relative langka. “Problemnya adalah tempat latihan kami sangat terpencil, sehingga harus bersusah payah mencari signal,” kenangnya.

Ia masih ingat betul pesan Doni Monardo. “Kamu harus telepon istrimu. Tenangkan dia. Lalu telepon keluarga, titipkan kepada mereka untuk ikut menjaga. Kamu harus tenang dan fokus.”

Yang tak pernah Oni bayangkan, ihwal kehamilan istrinya menjadi perhatian sehari-hari. Hampir setiap hari Doni meminjamkan telepon selulernya agar ia bisa menghubungi istri dan keluarganya di Jakarta.

Sekitar tiga minggu latihan di Korea, berhasil dilalui dengan baik. Rombongan Paspampres kembali ke Tanah Air. Tak lama setelah tiba di Indonesia, anak pertama Oni pun lahir. Komentar Doni Monardo ketika itu, “Rupanya anakmu memang menunggu kamu untuk lahir.”

Pelukan Doni

“Pak Doni terkenal keras, galak. Tapi sekeras dan segalak-galaknya pak Doni, bukan marah yang mengada-ada. Selalu ada dasar. Setelah marah, diberi tahu salahnya di mana dan bagaimana seharusnya. Beliau memberi solusi sekaligus keteladanan. Terus terang, pola kepemimpinan pak Doni yang sampai sekarang menjadi mindset saya,” katanya.

Selama berinteraksi dengan Doni Monardo, Oni mengaku tidak pernah dimarahi. Sampai suatu ketika, Oni sempat bertanya, “Kenapa komandan tidak pernah memarahi saya.” Doni tersenyum, dan menjawab, “Ya itu artinya saya tidak pernah menemukan kesalahan yang kamu perbuat.”

Banyak hal yang ia petik dari pola kepemimpinan Doni Monardo. Sama seperti halnya Wahyu Hidayat, Dan Paspampres yang berasal dari Paskhas, yang menerapkan kepemimpinan ala Doni Monardo di satuan elit TNI-AU. Oni pun demikian. Saat ia kembali ke satuan Marinir TNI-AL, ia pun mewariskan pola kepemimpinan ala Doni Monardo kepada para prajurit yang dipimpinnya.

Ia menekankan ihwal asas profesionalitas Doni Monardo, tanpa tendensi lain. Itu yang selalu Doni Monardo doktrinkan kepada pasukannya. “Tidak heran, jika personality beliau bisa diterima di semua kalangan. Beliau benar-benar professional, tanpa tendensi apa pun. Memberikan kemampuan terbaik di setiap penugasan. Itu saja,” kata Oni pula.

Oni juga menilai Doni Monardo sebagai sosok yang konsisten. Doktrin lain yang Oni dapat dari Doni Monardo adalah, “Jangan sekali-kali mengambil atau memotong hak anggota. Dalam memimpin dan memberi tugas, pertimbangkan keluarganya, perut jangan sampai kosong. Ketika satuan tugas bergerak di depan, yang di belakang harus menyiapkan dukungan, jangan santai,” ujar lulusan AAL 1995 itu.

Pelajaran Trembesi

Seperti halnya Wahyu dan kebanyakan orang tahu, maka Oni Junianto pun paham ihwal kegetolan Doni Monardo menanam pohon. “Ketika kembali ke Marinir, saya juga sempat meminta pohon trembesi untuk menghijaukan Bumi Marinir Cilandak,” katanya.

Sampai hari ini pun, Oni termasuk “ketularan” getol menanam pohon. Sampai-sampai di kampungnya, di Bogor, ia gerakkan masyarakat untuk menanam pohon dan sebisa mungkin tidak menebang pohon. “Pak lurah pun saya kasih bibit pohon,” kata Oni sambil tertawa.

Warisan Grup D

Di mana pun bertugas, Doni Monardo meninggalkan jejak yang harum. Warisan Doni Monardo di Paspampres bukan saja profesionalisme pasukan Paspampres, tetapi juga restrukturisasi Paspampres. Lahirnya Grup D, melengkapi tiga Grup yang ada sebelumnya, A (presiden), B (wakil presiden), dan C (tamu negara setingkat kepala negara).

Grup D Paspampres memiliki tugas melaksanakan pengamanan fisik jarak dekat terhadap mantan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya. “Beliau mengusulkan Grup D itu setelah melalui riset dan kajian mendalam. Termasuk mendatangi para narapidana teroris,” ujarnya.

Oni pun dipanggil Doni Monardo untuk urusan Grup D yang baru dibentuk itu. Dikatakan, anggota Grup D kurang bersemangat. Ada kesan “pasukan buangan”. Oni diminta secara khusus untuk membenahi mental pasukan Grup D. “Akhirnya, yang semula saya diplot menjadi Wadan Grup A, menjadi Wadan Grup D. Dan saya laksanakan tugas pak Doni sampai akhirnya pasukan Grup D kembali bersemangat dan tidak ada lagi stigma ‘buangan’,” katanya.*** egy/roso

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.