Seni Beladiri Ewa Wuna yang Memikat

 Seni Beladiri Ewa Wuna yang Memikat

SALAH satu seni, budaya yang dimiliki Suku Muna yang menempati Pulau Muna di Sulawesi Tenggara adalah Seni Beladiri Ewa Wuna. Ewa dalam bahasa Muna berarti silat. Daerah di bawah administrasi Kabupaten Muna ini memiliki seni beladiri silat dengan teknik yang khas, lebih dikenal masyarakat lokal dengan sebutan Ewa Wuna.

Silat tradisional khas masyarakat Suku Wuna ini memadukan antara gerakan seni dan bela diri. Dalam prakteknya, Ewa Wuna dapat menggunakan senjata, berupa keris, parang, tombak ataupun hanya tangan kosong.

Silat ini merupakan bagian dari seni tari yang dikembangkan. Dipentaskan sebagai tari penyambutan yang dimainkan oleh 6 orang terdiri dari dua orang pemain badik dan tiga orang penari bermain parang, tombak dan bendera.

Permainan ini diiringi oleh musik Rambi Wuna. Seluruh pemain berusaha menyerang akan tetapi terhalang oleh seorang pemain Petombi (pemegang bendera) sehingga seluruh pemain terhindar dari bahaya.

Menurut kisah Ewa Wuna pertama kali dikembangkan oleh Baginda Lakilaponto, Raja Muna sekaligus Sultan Butun Pertama. Dialah yang menciptakan, menyebarkan ilmu tersebut.

Raja Lakilaponto menyebarkan seni beladiri Tinda Lalo yang merupakan dasar dari ilmu silat Ewa Muna, dari Jazirah Sulawesi, Jawa, Sumatera. Dengan keberanian dan keperkasaannya, beliau menyebarkan dan mengajarkan seni bela diri miliknya ke seantero Asia.

Masyarakat senantiasa memelihara seni beladiri silat Ewa Wuna dengan mendirikan perguruan-perguruan silat secara swadaya. Di beberapa daerah kecamatan, bahkan masih diajarkan secara turun temurun dan senantiasa dipentaskan pada acara adat seperti Acara Aqiqah maupun Acara Pernikahan. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *