‘Sastra dalam Musik’ di Pasar Seni Gembrong Baru

 ‘Sastra dalam Musik’ di Pasar Seni Gembrong Baru

Perupa yang juga penggiat sastra, Ireng Halimun, Koordinator Sastra Semesta, membuka acara Sastra Semesta #7 di roof top Pasar Seni Gembrong Baru, Cipinang, Jakarta Timur. (foto: monang sitohang)

JAYAKARTA NEWS – Hujan tidak menghalangi kegiatan Sastra Semesta #7 di Pasar Seni Gembrong Baru, Cipinang, Jakarta Timur, Sabtu (6/3/2021). Sempat break karena hujan setelah pembukaan sekitar pukul 15.00 WIB, lalu acara pun dilanjut setelah hujan reda kurang lebih satu jam kemudian.

Baru tampil tiga pembaca puisi serta dua musikalisasi puisi, hujan rintik-rintik kembali turun. Toh, semangat para sastrawan Jakarta peserta Sastra Semesta bergeming. Mereka menafsirkan hujan sebagai berkah dan restu alam semesta bagi kelangsungan acara yang terbilang langka, di ibukota ini.

Menilik sejarah “Sastra Semesta” bisa dibilang baru untuk ukuran aktivitas kesusastraan. Akan tetapi jika dilihat dari langkanya kegiatan apresiasi sastra di ibukota, maka acara yang sudah digelar tujuh kali ini, tidak bisa dikata muda.

Bermula dari gerak hati perupa yang juga penggemar sastra, Ireng Halimun, yang ingin membangun kantung-kantung seni budaya secara mandiri. Maka ia pun menggandeng Rd Nanoe Anka, pelatih teaternya saat di SMA.  Ireng menawarkan gagasan menggelar acara sastra di sebuah galeri di Jakarta Selatan. Sayang, negosiasi tidak menghasilkan titik temu dan tertundalah kegiatan itu.

Pada Juli 2019, Ireng menemui Ria Pasaman seorang rekan yang sempat mengoleksi karyanya. Kebetulan Ria memiliki Semesta’s Gallery and Lounge, maka ia ungkapkan keinginannya menggelar acara sastra di galeri tersebut. Ria pun menyetujui dan memfasilitasinya.

Alhasil, ditentukanlah acara sastra pada Minggu, 25 Agustus 2019. Sebagai rasa terima kasih, Ireng mencanangkan nama acaranya “Sastra Semesta” yang diambil dari nama galeri tersebut, di samping makna kata semesta sendiri begitu luas dan sangat cocok dengan konsep penciptaan kantung-kantung seni-budaya di berbagai tempat.

Dengan bermodalkan nyali dan silaturahmi, serta dibantu Rd Nanoe Anka, Dyah Kencono Puspito Dewi, dan Nina Suminar, Ireng bisa mengadakan acara Sastra Semesta #1 dengan sukses. Lalu bergabunglah beberapa peseni yang mau “kerja bakti”, seperti Toto Prawoto, Presetyohadi Prayitno, Ismail Lutan, Wahyu Toveng, Eki Thadan, dan Rizka Nurlita Andi. Alhasil tiga pergelaran Sastra Semesta—25 Agustus, 28 Oktober, dan 22 Desember 2019—terlaksana di galeri yang berlokasi di Lebak Bulus, Karang Tengah, Jakarta Selatan.

Ireng Halimin (kiri) Koordinator Sastra Semesta dan Halimah Munawir, penyair dan juga penulis, selaku pembina Sastra Semesta. Mereka mengapit tiga penari dari Unit Kegiatan Mahasiswa Sub Tari, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang membawakan tarian “ondel-ondel”. (foto: monang sitohang)

Tim pergelaran mengonsep acara Sastra Semesta sebagai pergelaran keliling, agar kegiatan seni-budaya menyentuh langsung masyarakat luas. Maka pergelaran Sastra Semesta #4 digelar di Bengkel Kreatif Hello Indonesia (BKHI) milik M Holis Satriawan, di Sawah Baru, Ciputat, Tangerang Selatan. Acara yang berlangsung Minggu, 23 Februari 2020 itu cukup artistik, meriah, dan hidmat. Di samping ada pertunjukan pantomim, musikalisasi puisi, dan diskusi dengan wakil wali kota, ada juga acara melukis langsung yang dilakukan para pelukis seperti yang dilakukan pula di acara Sastra Semesta sebelumnya.

Direncanakanlah acara Sastra Semesta #5 di Kota Tangerang pada 19 April 2020 dan Sastra Semesta #6 di Taman Budaya Benyamin Suaeb, Jakarta Timur pada 21 Juni 2020. Namun semua rencana itu harus terhenti lantaran merebaknya Pandemi Covid-19.

Di tengah situasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan disarankan untuk work from home, maka tim Sastra Semesta menggagas pembuatan media seni-budaya yang bernama Semesta Seni. Lagi-lagi, karena hanya bermodalkan nyali dan silaturahmi dan belum menemui investor, media tersebut hanya bisa dibuat dalam format PDF dan dibagikan cuma-cuma, sambil menerima sumbangan dari pembaca yang ingin berdonasi.

Pada akhir Juli 2020, Ireng yang juga tercatat sebagai anggota Perupa Jakarta Raya (Peruja) ikut serta dalam mengisi galeri Peruja. Ia pun berinisiatif menghubungi temannya saat di SMA, Rus Suharto yang kini sebagai Kasudin Parekraf Jakarta Timur. Komunikasi itu membuahkan Galeri Perupa Jakarta Raya di Pasar Seni Gembrong Baru diresmikan oleh Wali Kota Jakarta Timur Muhammad Anwar, pada Kamis, 6 Agustus 2020 lalu.

Pada akhir Juli itu pula Ireng berdiskusi dengan Karya Indah (Arya), yang mengoordinasi para pelukis, untuk bisa menggelar acara di sana. Lalu Ireng mengirim surat permohonan sponsor kepada pihak manajemen. Rupanya sang manajer Imanuel Prabowo begitu antusias dan menyambut hangat, akhirnya disepakatilah untuk menggelar acara Sastra Semesta #5 di lokasi tersebut. Lagi-lagi, Ireng pun memohon kepada Rus Suharto untuk membuka/ meresmikan acara Sastra Semesta #5 di Pasar Seni Gembrong Baru pada Minggu, 23 Agustus 2020.

Kerja sama antara tim pergelaran Sastra Semesta dan media Semesta Seni dengan pihak Pasar Seni Gembrong Baru – Cipinang memuaskan bagi kedua pihak. Sastra Semesta dan media Semesta Seni pun diberikan hak pakai satu kios di lantai bawah selama setahun, yang selanjutnya dipergunakan sebagai sekretariat dan kantor redaksi.

Tidak hanya itu, pergelaran Sastra Semesta #6 pun digelar pula di roof top Pasar Seni Gembrong Baru – Cipinang, pada Sabtu, 7 Novemver 2020, dengan tema “8erpui5i Rendra”, karena jika saja WS Rendra masih hidup saat itu, beliau berulang tahun yang ke-85.

Pergelaran yang keenam ini sebagai pergelaran yang monumental, upaya mengajak masyarakat merespek para pahlawan seni-budaya Indonesia, dan mentradisikan aktivitas kesenian sebagai cara yang santun dalam mencari perhatian dari pemerintah.

Acara yang sebagai perayaan ulang tahun Sang Burung Merak ini didukung para peseni yang punya andil besar dalam pelestarian dan pengembangan kebudayaan di Indonesia, seperti Radhar Panca Dahana yang tampil memberikan pre ciptum narasi pembuka; Maman S Mahayana meresmikan/ membuka acara sekaligus memberikan testimoninya; Jose Rizal Manua sebagai pembicara dalam diskusi sastra, yang  memaparkan tentang kenangan indah dalam bekerja sama dengan WS Rendra; dan peseni lain yang menunjukkan kebolehannya dalam membacakan dan menyanyikan karya-karya WS Rendra.

Selanjutnya, tim pergelaran Sastra Semesta dan media Semesta Seni pun mendapat perhatian dari penyair dan penulis, Halimah Munawir, ia bersedia menaungi kiprah Sastra Semesta dan Semesta Seni, baik dari segi legal formal maupun finansial. Imanuel Prabowo pun tetap mendukung dan tetap berada dalam barisan Sastra Semesta.

Formasi mereka per Maret 2021, adalah orang yang masih bertahan Ireng Halimun, Dyah Kencono Puspito Dewi, dan Wahyu Toveng, kini diperkuat dengan bergabungnya Ritmanto Saleh, Ossie Helmi, Theodora Hutadjulu, Tutut Adinegoro, dan ahli teknologi informatika, Nanang Susanto. Media Semesta Seni kini sudah bermigrasi dari fomat PDF ke format website, bahkan ke depannya akan dirancang dengan format mobile apps.

Tim sempat merencanakan akan menggelar Sastra Semesta #7 dengan tema ‘Jurnalistik dan Sastra’ (dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional, 9 Februari 2021) pada 6 Februari 2021, namun karena angka yang terpapar Covid-19 semakin meningkat, acara tersebut dibatalkan. Mereka tetap merencanakan acara tersebut, karena pada 9 Maret 2021 adalah Hari Musik Nasional, maka kami rancang acara Sastra Semesta #7 dengan tema ‘Sastra dalam Musik’ yang digelar pada Sabtu, 6 Maret 2021, di Pasar Seni Gembrong Baru – Cipinang, Jakarta Timur. Senada dengan itu tema media Semesta Seni No 11 – Maret 2021 yang sudah dalam format website itu bertema “Musik Bikin Asyik”.

Dalam acara Sastra Semesta #7 di Pasar Seni Gembrong Baru – Cipinang, tampil beberapa penyair, pemusik, dan penari, seperti Egi Fedly, Rini Ayahbi, Spartu, Prasetyohadi Prayitno, Putra Gara, Rita Jassin, Subtari Unit Kesenian Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, dan lain-lain. Di samping itu, mereka juga menggelar talk show menampilkan pembicara Sihar Ramses Simatupang dan Eddy Pramduane, kami ingin melihat sejauh mana kalimat-kalimat sastra dapat memperkaya lirik dan nuansa dalam seni musik.

Produksi pergelaran Sastra Semesta dan media Semesta Seni pun semakin mendapat perhatian publik se-Indonesia. (*/mon)

SIMAK JUGA LINK VIDEO KEGIATAN SASTRA SEMESTA #7 BERIKUT:

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *