Pertempuran Malu di Feeder TransJakarta

 Pertempuran Malu di Feeder TransJakarta
Ruang khusus penumpang wanita di bus Trans Jakarta, dan space khusus bagi penyandang cacat. Foto” Roso Daras/Istimewa

SARANA transportasi kota yang termasuk favorit adalah bus TransJakarta. Terlebih, saat ini pemerintah sudah membangun jalur busway layang, yang khusus diperuntukkan bagi bus TJ (sebutan untuk TransJakarta).

Selalu, ada yang pertama bagi seseorang. Termasuk penulis, ketika untuk pertama kalinya mencoba memanfaatkan transportasi umum TJ dari Depok ke Blok M, Jakarta Selatan. Pemberhentian feeder TJ dari rumah adanya di dekat gerbang tol Cisalak. Jaraknya? Lupa menghitung, yang pasti tarifnya delapan-ribu rupiah naik ojek online.

Sekira 15 menit, datanglah bud feeder TJ warna biru, berhenti di pemberhentian tanpa halte. Budaya antre, untungnya agak mandarah daging, sehingga penulis pun mengikuti antrean masuk ke dalam bus. Tentu saja, dengan mengutamakan orang tua dan kaum perempuan. Dengan kesadaran itu, jadilah penulis menjadi penumpang paling belakang yang naik ke bus.

Memang sudah terbayang sebelumnya, bahwa bus itu tidak akan menyediakan banyak kursi, sebaliknya banyak menyediakan ruang untuk berdiri. Begitu naik, tampak di bagian belakang lumayan penuh penumpang berdiri. Nah, tak jauh dari pintu tengah bus, saya melihat ruang kosong. “Ah, orang sabar mendapat tempat yang longgar,” batinku.

Saya pun menuju sudut kosong dekat pintu tengah bus. Berdiri dengan leluasa, sambil menyandarkan tubuh di tiang-tiang besi yang nyaman. Bus melaju, memasuki tol Cijago, lalu nyambung ke tol Jagorawi, dan nantinya keluar di pintu tol UKI, kemudian melingkar ke halte Sutoyo BKN. Di situl harus turun, seperti jawaban petugas saat penulis tanya, “kalau mau ke Blok M, turun di mana?”

Kurang lebih sepertiga perjalanan, saya mulai mengalihkan perhatian ke sekeliling. Pelan sekali, kesadaran akan adanya keganjilan mulai menyergap perasaan. Ternyata bus itu secara tak langsung, terbelah dua, bagian depan untuk penumpang perempuan, dan bagian belakang untuk penumpang pria. Sedangkan tempat penulis berdiri, ternyata ada di bagian depan. OMG !

Makin sadar ihwal “kesalahan” itu setelah memperhatikan, penumpang yang duduk dan berdiri di area penulis berdiri, memanglah semua wanita. Tidak cukup sampai di situ masalah yang menimpa. Setelah merenung sejenak, perasaan ini jadi teringat kepada sejumlah sorot mata yang menatapku “aneh”, “janggal”, dan tatapan “tak biasa” lainnya, sejak penulis menepati ruang longgar yang nyaman itu.

Cukup lama untuk menyadari, mengapa sejumlah penumpang (umumnya pria) melempar tatapan aneh siang itu. Kalau persoalannya adalah ihwal berdiri di areal penumpang wanita, baiklah itu memang salah. Tapi sepertinya ada yang lain. Rasa bersalah saja tidak cukup menjawab tatapan-tatapan aneh mereka.

Jawaban itu baru didapat setelah melihat ke lantai bus. Oh my God! Di sana ada gambar kursi roda!!! Rupanya ada kesalahan ganda. Berdiri di areal wanita dan sekaligus berdiri di area yang diperuntukkan bagi penumpang difabel alias berkebutuhan khusus. Sungguh, rasa malu saja rasanya tidak cukup menenangkan perasaan. Separuh jarak tempuh, terlalui dengan perasaan gado-gado-salah-bumbu: asam, getir, pahit, dan sejenisnya.

Pilihannya adalah keluar dari tempat berdiri dan bergabung dengan penumpang pria. Tapi, bahkan untuk menggerakkan kaki dari tempat itu, rasanya berat sekali. Bahkan, perang batin antara “bertahan dengan rasa malu” dan “keluar dengan rasa malu” begitu hebatnya, dan belum ada yang kalah dan menang, ketika bus sampai di halte BAKN Cililitan. Buru-buru turun, dan menjauh sejauh mungkin. Kali ini, tradisi antrean terabaikan. Penulis serobot saja hak keluar-bus orang-orang itu, asalkan bisa segera menjauh dari kejadian yang memalukan itu. ***

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.