Penggubah “Gubahanku” Mangkat, Selamat Jalan Sang Penghibur

 Penggubah “Gubahanku” Mangkat, Selamat Jalan Sang Penghibur

(Alm) Gatot Soenjoto dan boneke Tongki. (ist)

Catatan Eddy Koko

BAGI yang berusia remaja di era 70-an, pasti mengenal atau minimal pernah mendengarkan lagu berjudul Gubahanku yang dinyanyikan Dedy Damhudi. Penciptanya adalah Gatot Soenjoto yang pagi ini pukul 04,30 WIB wafat dalam tidurnya. Gatot lebih dikenal dengan boneka Tongki-nya selain juga sebagai artis penyanyi dan pemusik.

Eddy Koko

Saya yang hidup di Kota Metro, kota kecil di provinsi Lampung, mengenal Gatot Soenjoto melalui TVRI dengan Boneka Tongki. Itu waktu sudah masuk medio tujuh puluhan. Lupa harinya tetapi acara Boneka Tongki, boneka yang bisa bicara ini, selalu ditunggu anak-anak bahkan orang tua. Televisi belum berwarna alias masih hitam putih. Sungguh menarik dan menghibur.

Bagaimana Gatot bertanya kepada Tonki dan boneka tersebut seketika menjawab dengan suara khas disertai gerakan mulut dari boneka tersebut. Seakan bicara. Itulah teknik ventriloquisme, seni berbicara tanpa menggerakkan bibir. Ventriloquisme sering juga disebut sebagai suara perut. Di Indonesia, salah satu pelaku yang cukup sukses adalah Ria Enes dengan boneka Susan.

Kembali ke Gatot. Sebelum terkenal sebagai aktor ventriloquisme melalui Boneka Tongki, lagu Gubahanku sudah lebih dahulu terkenal. Tetapi bukan sang pencipta Gatot Soenjoto yang terkenal, melainkan penyanyi Dedi Damhudi.

Waktu tidak banyak yang tahu bahwa Gatot Soenjoto juga seorang musisi. Lebih dikenal sebagai penghibur anak-anak. Lagu Gubahanku populer sebelum televisi banyak dimiliki masyarakat, hanya orang berada yang punya pesawat TV. Lagu Gubahanku seperti lainnya dikenal banyak orang melalui pesawat radio transistor.

Singkat cerita, tahun 1980 saya berangkat ke Jakarta untuk kuliah jurnalistik. Kemudian hari ketika menjadi wartawan saya berusaha mencari orang-orang terkenal yang pernah saya lihat di televisi saat di kampung. Saya mewawancarai mereka, tentu berkenalan dan sebagian menjadi akrab, kemudian menuliskannya di media koran.

Tiba suatu hari, saya pun berkenalan dengan Gatot Soenjoto. Kami ngobrol di rumahnya, kawasan Pondok Gede, Bekasi serta kadang bertemu di sejumlah tempat saat dia manggung. Saya menulis karir Gatot Soenjoto di Koran Jayakarta sebelum kemudian menulis lagi di Koran Suara Pembaruan tahun 2000-an. Menulis lagi karena Gatot Soenjoto menceritakan strategi menjalani krisis moneter yang melanda Indonesia dan dunia tahun 1997.

“Dalam kondisi tidak ada job manggung saya tetap tenang. Anak-anak saya kasih pengertian, diajak kerja sama menghadapi krisis dunia. Apa yang bisa saya kerjakan untuk hidup saya lakukan. Saya sempat membuat susu kedelai, dibantu anak-anakku, kemudian dijual,” begitu Gatot mengisahkan strateginya. Lolos. Terbukti anaknya sukses. Salah satunya Deva Permana, kini pemain dram yang berkarir di Australia.

Berbeda dengan ayahnya yang berada di jalur musik pop, Deva lebih memilih musik jazz dalam karir musiknya. Sebagai sesama penggemar musik jazz, saya pun berkenalan akrab dengan Deva Permana sejak sebelum dia ke Australia. Sering Deva menelepon untuk berbincang tentang dunia musik jazz walau berada di Australia sementara saya di Pamulang, Tangerang Selatan, tentu di Indonesia.

Lagu “Gubahanku”

Gatot Soenjoto adalah seniman serba bisa. Dia bisa menyanyi, bisa bermusik, bisa menghibur, bisa sulap, MC, piawai memainkan suara perut, menjadi guru, dan lainnya. Guru, terbukti anak-anaknya bisa mengikuti jejaknya walau tidak selengkap Gatot. Orang banyak melihat tidak semua orang tuanya pemusik tetapi anaknya juga mampu memainkan musik.

Tentu saya bertanya, ketika berbincang-bincang dengan Gatot Soenjoto, apa makna dari lagu Gubahanku? Gatot pun berkisah, ketika itu dia sudah pacaran dengan wanita yang kemudian menjadi ibunda dari Deva Permana dan adik-adiknya. Tiba-tiba tahun 1974 Gatot mendapat tawaran nyanyi di New York bersama Band Los Morenos di Restoran Indonesia Ramayana. Janji sehidup semati pun diucapkan kedua kekasih tersebut. Kerinduan di rantau, ingat selalu janji dengan sang kekasih yang jauh di Indonesia membuahkan syair dalam lagu Gubahanku.

Ku tuliskan lagu ini
Kupersembahkan padamu
Walau pun tiada indah
Syair lagu yang ku gubah

Ku ingatkan kepadamu
Akan janjimu padaku
Hanyalah satu pintaku
Jangan kau lupakan daku

Walau apa yang terjadi
Tabahkan hatimu selalu
Jangan sampai kau tergoda
Mulut manis yang berbisa

Setahun kita berpisah
Sewindu terasa sudah
Duhai gadis pujaanku
Cintaku hanya padamu

Walau apa yang terjadi
Tabahkan hatimu selalu…

Boneka Tongki

Tentu saya juga bertanya, bagaimana kisah Boneka Tongki? Sungguh membuat saya terperangah mendengarnya. Suatu hari, masih di New York, Gatot akan membuang sampah di tong sampah. Dia tertarik ada benda dalam tong sampah yang dipastikan dibuang tetangganya orang Amerika. Gatot mengamati, memegang, dan “akhirnya saya ambil,” ceritanya. Ternyata sebuah boneka yang sudah dianggap rusak karena sudah terurai.

Kisah kemudian, di waktu senggang, karena menyanyi hanya malam hari, Gatot pun merakit kembali potongan tubuh boneka yang dia temukan dalam tong tempo hari. Ketika tubuh boneka menyatu kembali, jadilah boneka tersebut teman “ngobrol” Gatot. Siapa nama boneka tersebut. “Setelah saya pikir-pikir, cari nama, saya kembali teringat boneka ini saya temukan di tong sampah. Maka saya beri nama Tong tambah huruf i, tambah k biar enak didengar. Jadilah Tongki.”

Gatot yang memang pernah tertarik dengan teknik suara perut (ventriloquism) kemudian mempelajari. Munculah dua sosok manusia dan boneka, Gatot Soenjoto dan Tongki, sering ngobrol di televisi. Dua tokoh ini sangat terkenal dan menghibur, bukan saja anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Gatot sangat piawai memainkan tangan untuk menggerakan bibir Tongki disertai suara perut sebagai suara Tongki. Penonton terhibur.

Mengapa Tongki tidak menyanyikan lagu Gubahanku? “Wah, kalau ngomong panjang, nyanyi gitu, pakai suara perut bisa semaput,“ katanya bergurau.

Gatot Soenjoto, seniman serba bisa yang baik hati dan tidak sombong itu telah tiada. Beliau wafat dalam tidur. Tuhan memanggil pulang dengan cara yang nyaman dan indah. Tidur dan terus tidur.

Selamat jalan sang penghibur. (*)

Untuk mengenang almarhum, saya tautkan link lagu “Gubahanku” yang dinyanyikan Dedy Damhudi.

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *