Entertainment
Para Perasuk ke FF Sundance
JAYAKARTA NEWS— Sebuah langkah baru Indonesia ke panggung dunia. Film produksi Rekata Studio berjudul ‘Para Perasuk’ (judul asingnya ‘Levitating’) akan mewakili RI dalam Festival Film independen Sundance, Amerika Serikat, awal 2026.
Film ini masuk 10 karya untuk kompetisi di World Cinema Dramatic Competition.
Sutradara Wregas Bhanutedja mengatakan, film cerita panjang ke tiga ini – setelah ‘Penyalin Cahaya’ dan ‘Budi Pekerti’ – bukan bergenre horor.
“Para Perasuk lebih ke film drama lokal,” kata Wregas Bhanutedja dalam acara kick off Para Perasuk di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Kamis (11/12).
Idenya tercetus ketika Wregas yang alumni SMA Kolese De Britto Jogjakarta ini kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
“Saya membayangkan manusia yang kerasukan di dua alam, realitas dan halusinasi,” ujarnya.

Di sebuah desa, ada tradisi kerasukan roh bersama. Ini jadi fenomena unik dan jadi pesta hiburan. Ada warga kerasukan roh Bulus, roh Kerbau, roh Kodok dan roh Semut.
“Ceritanya lokal tapi premisnya enggak biasa. Yah ada di realitas tapi saya masukkan unsur fiksi,” ungkap Wregas yang pernah menyabet award di FF Cannes kategori film pendek. Film karyanya ‘Prenjak’ berdurasi 12 menit berdasar kisah nyata di Jogja ihwal mengintip organ vital pria dan wanita dengan bayaran tertentu.
Para Perasuk dibintangi sederet pemeran terkenal yaitu Angga Yunanda, Bryan Domani, Chicco Kurniawan, Maudy Ayunda dan Anggun. Anggun yang dikenal sebagai biduanita dan jadi debut berakting di ranah film bioskop.
“Ini pengalamanku main film jadi bu guru Sri. Tapi saya ikut kerasukan. Saya diminta sutradara menciptakan 20 jenis mantra memanggil roh,” urai Anggun yang berwarganegara Jerman, Perancis dan Indonesia, tersenyum.
Lain lagi pengalaman Maudy Ayunda. Ia diharuskan menari roh hewan.
“Ya, saya harus totalitas. Saya jadi Laksmi, pelamun.Wanita desa yang suka rela dirasuki roh,” ucap Maudy.
Lalu Maudy belajar menari pada Siko Setyanto agar gerakan tarinya tak kaku.
“Lumayan sulit. Bayangkan. Laksmi berakting seolah-olah hilang kesadaran. Ini harus seimbang agar tak tabrakan dengan dialog yang saya ucapkan,” tutur Maudy.
Dan Bryan Domani di film ini wajib memukul perkusi tam tam atau tom tom guna memanggil roh.
“Belum dipukul saya sudah keberatan. Saya panggul di atas perut lalu saya gebuk itu tam tam. Irama dan biramanya harus beriring harmonis. Ditambah lagi saya juga di scene lain meniup seruling Jawa kayak tukang sihir dari India memanggil ular kobra,” cerita Bryan Domani terpingkal.
Satu hal pasti. Semua pemeran melakukannya dengan intens dan disiplin. Wregas merasakan kerasukan tak harus mata berbalik-balik dan kemerahan. Kerasukan hal wajar dan semacam pesta adat di desa yang menghibur.
“Saya apresiasi. Meski saya harus menurunkan ego demi meningkatkan kualitas foto dan penghematan bujet,” aku Wregas.
Maklum, saat syuting Wregas ingin 300 penari dan syuting di Studio. Tapi ini batal dan lokasi dipindah ke gudang tak terawat di Taman Siswa Jogjakarta.
Walhasil, Para Perasuk yang akan beredar di tahun 2026 di Tanah Air adalah sekeping wajah masa depan sinema Indonesia yang tumbuh dari cerita dan identitas sejarah bangsa sendiri.
Dan film bukan hanya sekedar produk industri tapi medan tempur ide, nilai dan masa depan kebudayaan.
Maju terus Wregas Bhanutedja ! (pik)
