Panti Bina Daksa Bahagia Menjadi PSRSOD HIV

 Panti Bina Daksa Bahagia Menjadi PSRSOD HIV
Kepala UPT PSRSOD HIV, Drs. Jhon Elfil Sitompul bersama Pekerja Sosial Pertama, Winner Goldstar Simanungkalit dan lainnya dilapangan Merdeka, Medan. Foto : Monang Sitohang

Kepala UPT Panti PSRSOD HIV (Panti Sosial Rehabilitasi Orang Dengan HIV) Drs Jhon Elfil Sitompul mengatakan, dari informasi Direktur Rehabilitasi Tuna dan Korban Penjualan Orang (KPO) Dr Sonny W. Manalu, beberapa panti lagi akan dialihfungsikan menjadi PSRSOD HIV. Alasannya, di Indonesia cukup besar orang yang terjangkit HIV (Human Immunodeficiency Virus), di antaranya di Provinsi Sumatera Utara, angkanya mencapi sekitar 3.300 orang yang terjangkit HIV.

Hal itu menjadi bagian dasar pemikiran bahwa Panti Sosial Bina Daksa Bahagia Medan, menjadi salah satu panti yang dialihfungsikan menjadi PSRSOD HIV. Sebelumnya Panti Sosial Bina Daksa menangani cacat tubuh, keterbatasan diri (disabilitas). Namun berdasarkan UU No. 23 Tahun 2014, mengamanatkan Kementerian Sosial berperan serta menangani masalah-masalah narkoba dan HIV.

Di Indonesia, keberadaan PSRSOD HIV yang langsung dibawah naungan Kementerian Sosial ada tiga panti, pertama Panti Sosial Bina Daksa Bahagia di Medan/Sumatera Utara, kedua Panti Sosial Bina Lara Kronis Wasana di Ternate yang sebelumnya memberikan pelayanan bagi penderita kusta, dan ketiga Panti Sosial ODHA (Panti Sosial Orang Dengan HIV dan Aids) di Sukabumi, Jawa Barat.

“Jadi Panti Bina Daksa Bahagia Medan, yang di jalan William Iskandar No. 377 Sumatera Utara adalah salah satu panti yang dialihfungsikan menjadi PSRSOD HIV. Perubahan itu telah diberlakukan sejak 2017 sesuai Peraturan Menteri Sosial tahun 2016,” papar Jhon Sitompul saat Hari Anti Narkotika International di Lapangan Merdeka Medan, Kamis (20/7).

Untuk 2017, PSRSOD HIV hanya menangani 50 orang saja, dan itu pun hanya 2 angkatan per enam bulan. Panti tersebut baru berjalan tiga bulan, sehingga jumlahnya hanya 12 orang, terdiri dari 11 laki-laki dan 1 perempuan.

Penderita HIV di panti sudah diberi pelatihan seperti keterampilan komputer, fotografer, nantinya akan dibuat salon dan  mental, agama dan sosial. Setelah para penghuni panti selesai direhabilitasi, pihak panti akan memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp. 3 juta per orang.

Pada Juli 2017 ini, seharusnya para penderita rehabilitasi sudah menerima bantuan uang tersebut, dan selanjutnya Desember 2017 akan disalurkan lagi. Rencananya pihak panti mencari 38 lagi korban HIV agar jumlahnya mencapai 50 orang sesuai kesiapan dana yang telah dianggarkan. Sementara di tahun 2018, rencananya PSRSOD HIV akan menambah anggaran untuk pembiayaan 80 orang, dan masing-masing 40 orang per enam bulan.

PSRSOD HIV Medan tidak menangani penderita AIDS, sebab di panti itu bukan untuk mengobati tetapi merehabilitasi penderita HIV. Untuk mengetahui gejala penderita AIDS atau HIV, pertandanya di dalam sel-sel darah putih setiap orang terdapat CD4. Melalui pertanda CD4 inilah penderita bisa dilihat ketahan tubuhnya. Contoh, penderita HIV CD4-nya 500, berarti ketahanan tubuhnya masih sehat. Tetapi kalau sudah terkena AIDS, CD4-nya dibawah 100, mengidap TBC dan Hepatitis.

Harapan Jhon Sitompul terhadap penderita HIV di mana pun berada, penderita HIV harus berada di satu komunitas Yayasan Lembaga Kesehatan Sosial (YLKS) sehingga mempermudah Kementerian Sosial melalui Unit Pelaksana Teknis-nya (UPT-nya) untuk mengontrol keberadaan mereka yang mau dididik. Dan para penderita HIV calon penghuni panti sosial yang akan direhabilitasi sebaiknya memiliki BPJS dan sudah terdaftar di puskesmas sesuai domisili.

Untuk menkoordinir kegiatan yang bersifat sosial tersebut, Kemensos memiliki koordinator di Medan, yakni Yayasan Medan Plus, Galatea, Yayasan HKBP di Tobasa (Toba Samosir) dan Kabupaten Karo. Karena yayasan lembaga kesehatan sosial itu dibina dan dibantu oleh Kemensos. YLKS diharapkan sebagai terompet untuk memberikan informasi dan kreativitasnya kepada Kemensos.

Jhon Sitompul mengimbau para penderita HIV agar tidak perlu takut dan merasa dikucilkan. Tetapi yang perlu diketahui adalah pencegahan dini agar terhindar HIV, yakni hindari jarum suntik dan jarum tumpul. Kalau menggunakan jarum suntik yang berulang-ulang rentan penularan HIV. Sedangkan jarum tumpul maksudnya, jangan sembarangan berhubungan seksual dan/atau gonta-ganti pasangan.***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *