Obama Kecil Juga Belajar Makan Cabe Rawit

 Obama Kecil Juga Belajar Makan Cabe Rawit

BUKU Barack Obama (mantan Presiden Amerika), berjudul Dreams from My Father, pada bab kedua, yang di sadur secara bebas, menceritakan masa kecil Obama pada tahun 1967 sampai 1971 ketika tinggal di Jakarta. Setelah itu, dia tinggal bersama neneknya di Hawaii. Di bawah ini dikutip sebagian isi bab ini;

Saya (Obama) , dalam waktu kurang dari enam bulan, mempelajari bahasa, budaya, dan cerita legenda Indonesia. Saya berhasil sembuh dari cacar air dan campak, serta pukulan tongkat bambu guru-guruku.

Anak-anak petani, para pelayan, dan birokrat rendahan menjadi sahabat-sahabat saya. Bersama-sama, kami berlarian di jalanan pada pagi dan malam hari, melakukan pekerjaan serabutan, menangkap jangkrik, dan ‘ngadu’ layangan — yang kalah akan melihat layangannya putus dan terbawa angin dan ditempat lain ada anak-anak berjajar siap berebutan layangan putus itu.

Dengan Lolo (ayah tiri Obama), saya belajar bagaimana makan malam (dengan banyak nasi) mengigit sedikit cabe rawit hijau  dan makan diluar rumah. Saya diperkenalkan makanan daging anjing (berat), daging ular (makin berat), dan belalang pangang (garing).

Itulah yang terjadi, petualangan panjang, dari kehidupan anak laki-laki. Dalam surat-surat saya kepada kakek dan nenek, saya dengan terbuka menceritakan apa yang sudah terjadi, yakin bahwa paket, yang lebih beradab, coklat dan selai kacang pasti datang.

Tapi, sebenarnya, tidak semua peristiwa masuk kedalam surat-surat itu, ada hal-hal yang sangat sukar saya jelaskan. Saya tidak bercerita kepada kakek dan nenek tentang wajah seorang laki-laki yang berdiri di depan pintu rumah tanpa hidung, yang ada hanyalah lubang besar; suara berbisik yang dia keluarkan meminta makanan kepada ibu. Saya juga tidak menyebutkan, satu waktu teman saya bercerita, ketika istirahat sekolah, adik bayinya meninggal diambil dedemit (roh jahat) — sesaat terlihat kengerian dimata teman saya sebelum dia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dan memukul tangan saya dan sayapun mengejar dia.

Terlihat tatapan kosong para petani ketika hujan tidak turun, dengan bahu tertunduk mereka menyusuri petak sawah yang retak-retak dan kering, limbung setiap kali tanah remuk di jari-jari kaki telanjant mereka; terlihat keputus-asaan mereka ketika hujan turun terus-menerus selama sebulan tanpa henti dan sawah serta jalanan dibanjiri air setinggi pinggang saya dan banyak keluarga berusaha keras menyelamatkan kambing dan ayam mereka dari banjir.

Saya belajar bahwa dunia itu penuh kekerasan, tidak terduga, dan kadang-kadang kejam. Kakek dan nenek tidak tahu apa-apa dengan dunia seperti itu, saya putuskan tidak akan mengganggu mereka dengan pertanyaan yang tidak akan bisa mereka jawab. ***

Digiqole ad

Related post

1 Comment

  • Mantap nich Om Leo, kupas lagi seri berikutnya buku Barack Obama, siapa tahu nanti dia balik lagi ke Jakarta, terus mengisi rubrik tetap di ‘Jayakartanews.com? Sekali lagi mantap!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *