Dikocok Pletok-pletok

 Dikocok Pletok-pletok

SETIDAKNYA Anda pasti pernah mendengar minuman “bir pletok”. Bahkan mungkin pernah merasakannya. Belakangan, minuman itu kembali nge-hit. Ini, antara lain, berkat kreativitas pengusaha jasa minuman dalam kemasan. Mereka mengemas resep bir pletok ke dalam botol, dan menyajikannya dalam gelas berisi es batu. Segaaarrr…..

Dahulu Itu…

Bir pletok tentu beda dengan bir non-alkohol. Sekalipun, keduanya memang sama-sama tidak mengandung alkohol, sebagaimana laiknya sebuah minuman bir. Bir pletok, terbuat dari aneka tanaman dan rempah, sedangkan bir kalengan non-alkohol, berbasis soda.

Suatu hari, sejarawan JJ Rizal berkata, meski disebut bir, namun ini adalah satu-satunya bir yang tidak mengandung alkohol. Minuman ini terbuat dari rempah-rempah seperti serai, kapulaga, cengkih, kayu manis dan diberi warna dengan serutan kayu secang. Efek buih, muncul karena dikocok-kocok. Nah, agar bisa lebih menyegarkan, diminum campur es batu.

Awalnya, campuran bir pletok dan es batu itu kemudian dimasukkan ke dalam ruas bambu dan diguncang-guncang sehingga menimbulkan suara pletak-pletok. Hasilnya adalah minuman dingin berbusa yang disebut bir pletok.

JJ Rizal, yang juga budayawan Betawi ini berkisah, pada masa penjajahan Belanda, tuan menir dan noni Belanda suka mengonsumsi bir. Nah masyarakat pribumi yang kebanyakan menjadi babu dan jongos, hanya bisa melongo melihat minuman berbuih. Demi melihat itu, muncul ide membuat bir tiruan. Maksud hati, hendak merasakan minuman mewah ‘wong londo’ dengan membuatnya sendiri maka. Itulah asal muasal lahirnya bir pletok. ***

admin Jayakarta