Munas Hipakad, Menuju Anak Kolong Sejahtera

 Munas Hipakad, Menuju Anak Kolong Sejahtera

Ketua Hipakad Nanggroe Aceh Darussalam, M. Iqbal Piyeung bersama Sekjen PPAD, Mayjen TNI Purn Komaruddin Simanjuntak. (foto: egy m)

JAYAKARTA NEWS – Hipakad, Himpunan Putra-putri Angkatan Darat sejatinya bukan ormas kemarin sore. Ia memiliki sejarah panjang jika menilik tahun pencetusannya: 1963.

Hipakad kini tengah melakukan konsolidasi. Kamis siang 8 September 2022, para pengurus Hikapad “sowan orang tua”, dalam hal ini PPAD (Persatuan Purnawirawan TNI-AD). Mereka diterima Sekjen PPAD, Mayjen TNI Purn Dr (C) Komaruddin Simanjuntak, di Gedung PPAD, Matraman, Jakarta Timur.

“Saya menangkap aura semangat dari Hipakad untuk melangsungkan Musyawarah Nasional atau Munas. Sebelum Munas, mereka meminta restu PPAD. Di ajang Munas itulah, sesuai namanya, akan berlangsung musyawarah di rumah besar mereka, PPAD,” tambah Komar.

Audiensi Hipakad ke PPAD, jelang Munas Hipakad 20 September 2022. (foto: egy m)

Anak Kolong Sejahtera

Para pengurus yang hadir, terdiri atas Ketua PPAD berbagai provinsi. Termasuk Ketua Hipakad Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, H. Iqbal Piyeung. Selain Iqbal juga hadir pengurus Hipakad dari Kalimantan, dan daerah lain.

“Dan yang menggembirakan, semua menyatakan mendukung program utama PPAD. Utamanya program politik kesejahteraan,” ujar mantan Pangdam IX/Udayana itu.

Hal itu dibenarkan M. Iqbal Piyeung, dari Aceh. “Kebetulan saya juga Ketua Kadin Aceh. Tentu saja saya sangat mendukung program kesejahteraan yang dicanangkan. Negara ini masih sangat kekurangan pengusaha. Hipakad sejalan dengan program PPAD,” ujar Iqbal.

Menurut Iqbal, sejak deklarasi, Hipakad sudah punya motto yang paralel dengan program PPAD sekarang. “Motto kami adalah ‘menuju anak kolong sejahtera’. Jadi sangat cocok dengan program PPAD. Dan ada lagi kesamaan lain, Hipakad dan PPAD sama-sama tidak berpolitik praktis,” tambahnya.

Hipakad ke depan, utamanya pasca Munas 20 September 2022, juga diharapkan menjadi ormas yang aktif bergerak di bidang kesejahteraan. “Intinya, bagaimana membangun kesejahteran dalam tubuh TNI dan keluarganya, setelah itu baru masyarakat. Sukses dulu di keluarga besar TNI-AD, setelah itu baru ke luar. Hipakad harus bisa menjadi contoh bagi ormas lain,” tekadnya.

Iqbal meresapi betul hakikat “anak kolong”. Katanya, istilah anak kolong itu karena dulu, para prajurit tinggalnya di barak atau asrama. Satu keluarga anaknya bisa lebih lima, bahkan ada yang sepuluh.

Tempat tidur pun bertingkat-tingkat. Kalau masih tidak kebagian, gelar tikar. “Saking banyaknya anak, maka yang tidak kebagian dipan dan tikar, tidurnya di kolong. Jadilah istilah anak kolong,” kata Iqbal sambil tertawa.

Kembali ke topik kesejahteraan, Hikapad Aceh bahkan sudah mewujudkannya. “Kami telah menanam jagung di lahan seluas seribu hektare,” ujar Iqbal. Program tanam jagung itu adalah olah kerjasama antara Hipakad Aceh, Kadin, dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (*)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.