Pesan Purnawirawan TNI-AD pada HUT TNI ke-80

Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD) dan keluarga besar, mengucapkan dirgahayu Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke-80, tanggal 5 Oktober 2025. Pesan intinya tetap: Jaga Kedaulatan NKRI, Rawat Persatuan, Kawal Masa Depan Bangsa.

“Delapan dekade bukan waktu singkat, melainkan sebuah perjalanan panjang penuh perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian tanpa batas bagi bangsa dan negara. Mengalami pasang dan surut dan dinamika yang kompleks, tetapi TNI insya Allah makin kokoh,” ujar Plt Ketua Umum PPAD, Mayjen TNI (Purn) Dr Komaruddin Simantuntak, dalam keterangan persnya di Jakarta, hari ini.

Komar menambahkan, awal pembentukannya pada 5 Oktober 1945, disebut Tentara Keamanan Rakyat, hingga menjadi institusi yang kokoh dan kuat serta PRIMA (profesional, integratif, adaptif, dan modern). TNI telah membuktikan dirinya sebagai garda terdepan dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Diakui Komar, perjalanan TNI bukan tanpa tantangan. Melalui berbagai dinamika nasional maupun global, mulai dari perang kemerdekaan, pemberontakan, hingga tugas-tugas perdamaian dunia. Dalam semua situasi dan kondisi, TNI selalu hadir sebagai pelindung bangsa yang siap berkorban demi keutuhan dan persatuan NKRI.

Transformasi Modernisasi

Mantan Pangdam Udayana itu menegaskan, bahwa transformasi dan modernisasi adalah kata kunci dalam menjaga relevansi TNI terhadap perubahan zaman. “Ke depan, TNI tidak hanya harus mengandalkan kekuatan fisik dan persenjataan, tetapi juga kecanggihan teknologi, kecerdasan strategis, dan profesionalisme yang tinggi,” tutur pria berkumis tebal itu.

Para prajurit TNI adalah simbol dedikasi dan pengabdian yang patut dibanggakan. Semangat juang, disiplin, dan loyalitas yang tertanam dalam setiap sanubari anggota TNI merupakan fondasi utama dalam mempertahankan kedaulatan dan menjaga keutuhan bangsa.

Komar berpesan, di era globalisasi dan teknologi informasi yang bergerak sangat cepat, TNI dituntut terus bertransformasi, adaptif terhadap perubahan, serta inovatif dalam menghadapi berbagai ancaman baru. “Mulai dari ancaman konvensional hingga non-konvensional, seperti terorisme, cyber attack, dan konflik asimetris,” tegas Komaruddin Simanjuntak.

Visi Panglima TNI

Plt Ketua Umum PPAD itu menyitir visi dan misi Panglima TNI, yang menegaskan komitmen untuk menjadikan TNI sebagai institusi profesional, inovatif, adaptif, dan modern. Profesional dalam penguasaan tugas dan keahlian, inovatif dalam pengembangan teknologi dan strategi pertahanan, adaptif dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis, dan modern dalam hal alat utama sistem senjata dan kemampuan operasional.

“Visi Panglima TNI ini menjadi landasan kuat dalam pembangunan TNI ke depan agar semakin siap dan tangguh menjaga kedaulatan NKRI di tengah kompleksitas tantangan global,” tegasnya.

TNI masa kini dan masa depan haruslah menjadi institusi yang tidak hanya tangguh secara militer, tetapi juga peka terhadap konteks sosial dan politik nasional serta internasional. Kesiapan fisik harus disandingkan dengan kecanggihan intelektual, moralitas yang tinggi, serta keterbukaan terhadap perubahan.

Kekuatan TNI yang sejati adalah kombinasi antara kemahiran bertempur dan kecerdasan adaptasi, sehingga mampu menjaga perdamaian sekaligus membela kepentingan bangsa dengan penuh kehormatan.

Dalam semangat Hari Ulang Tahun ke-80 ini, Komar mengajak kita semua, terutama para prajurit TNI, terus menanamkan nilai-nilai luhur dan budaya pengabdian, disiplin, dan profesionalisme. Jadikan setiap tantangan sebagai peluang untuk belajar dan berkembang. “Teruslah berinovasi dan bertransformasi agar TNI semakin kuat, modern, dan dicintai rakyat. Itu yang penting,” tuturnya seraya menambahkan, “sebagai prajurit yang sudah purna saya ingin menyampaikan beberapa harapan terhadap TNI ke depan.”

Tiga Harapan

Sejumlah harapan Komar di antaranya, pertama, teruslah menjadi pilar utama pertahanan negara yang kuat dan profesional, fokus dalam tugas sesuai undang undang TNI dan hindari terlibat dalam politik praktis, demi menjaga netralitas dan kehormatan TNI.

Kedua, teruslah menjaga dan meningkatkan budaya berlatih berkelanjutan guna tetap terjaganya profesionalisme, beradaptasi dengan alutsista yang modern dan menjadikan TNI yang adaptif terhadap perkembangan zaman serta tetap berperan sebagai penjamin demokrasi dan kedaulatan rakyat.

Ketiga, selalu menyiapkan kekuatan TNI menjadi pilar pembangunan nasional yang mampu menghadapi beragam ancaman, baik konvensional maupun non-konvensional, serta aktif dalam operasi kemanusiaan dan menjaga stabilitas nasional,mampu menjalankan fungsinya secara optimal dalam menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan bangsa dari berbagai ancaman

Pada akhir pernyataannya, Plt Ketua Umum PPAD Komaruddin Simanjuntak mengingatkan kembali pesan para pejuang kemerdekaan. Intinya, jadilah tentara rakyat yang membela kepentingan bangsa, memegang teguh intgritas, profesional dan loyal kepada negara serta selalu ingat sejarah merebut kemerdekaan telah banyak pengorbanan jiwa, harta, dan pertumpahan darah.

“Dirgahayu TNI ke-80 semoga tetap jaya. Saya meyakini TNI akan terus berkembang menjadi institusi yang profesional, inovatif, adaptif, dan modern yang tidak hanya siap berperang, tetapi juga mampu menjaga perdamaian, membangun bangsa, dan melindungi segenap anak bangsa dari segala ancaman….Prima. Prima, Prima, Luar Biasa,” pungkas Komar penuh semangat. (*)

“Pertina Menyala” dari Kaltara

JAYAKARTA NEWS – Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Tinju Amatir Nasional (PP Pertina), Mayjen TNI Purn Dr Komaruddin Simanjuntak, mengukuhkan sekaligus melantik Ketua Pertina Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) dengan segenap pengurus Pertina Kaltara masa bakti 2024 – 2028.

Dalam kesempatan itu, hadir Forkopimda Kaltara, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Utara (Kaltara), H. Muhammad Nasir, Sekum KONI Kaltara, dan para ketua Pengda Kabupaten/Kota. Tampak pula hadir Denpom VI/3 Bulungan, Pomdam VI/Mulawarman, serta tokoh masyarakat lain.

Acara pengukuhan didahului berbagai rangkaian kegiatan. Di antaranya persiapan, dilanjutkan acara pokok berupa penandatanganan Surat Keputusan (SK), penyerahan pataka Pertina Kaltara dari Ketum PP Peritna Pusat dan diterima Ketua Pengurus Provinsi Kaltara, Ma’at, disaksikan pengurus lain.

Komaruddin Simanjutak dalam sambutan meyampaikan rasa terima kasih kepada Pemprov Kaltara atas kesiapannya menyambut dan melaksankaan acara pengukuhan pengurus Pertina Provinsi. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Ketua Umum KONI dan jajaran, atas sambutannya kepada PP Pertina Pusat dan rombongan.

“Izinkan saya memberi apresisi setinggi-tingginya atas dukungan luar biasa dari KONI kepada cabang olahraga tinju di Kaltara,” ujar jenderal berkumis tebal itu.

Ketum PP Pertina Dr Komaruddin Simanjuntak (kanan) menyerahkan Pataka Pertina kepada Ketua Pertina Provinsi Kalimantan Utara, Ma’at. (foto: Pertina)

Ketua Umum PP Pertina yang akan memasuki masa kepemimpinan periode kedua tersebut, menyampaikan selamat dan sukses kepada Ma’at selaku Ketua Pengprov Pertina Kaltara serta segenap pengurus atas amanat yang dipercayakan rakyat Kaltara melalui mekanisme Musprov yang dihadiri pengurus Pertina, beberapa bulan lalu.

Ketum Pertina, Mayjen TNI Purn Komaruddin Simanjuntak yang saat ini menjabat Plt Ketua Umum PPAD (Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat) itu tak lupa menyampaikan terima kasih kepada pengurus Pertina lama atas pengabdian luar biasa. Ia berharap semangat dan dedikasi kepengurusan lama dapat ditindaklanjuti dan ditingkatkan oleh pengurus baru.

“Sekaligus sebagai Ketum PP Pertina saya meminta maaf jika ada yang kurang berkenan selama berinteraksi dan bersama membangun Pertina,” tambah Komar.

Dari kiri ke kanan: Ketua Pertina Provinsi Kalimantan Utara, Ma’at, Ketua PP Pertina Mayjen TNI Purn Dr Komaruddin Simanjuntak, Ketua KONI Provinsi Kalimantan Utara, H. Muhammad Nasir. (foto: Pertina)

Kolaborasi Pertina

Mantan Pangdam IX/Udayana (2017 – 2018) itu juga menyoroti tentang potensi tinju Kalimantan Utara. Sebuah potensi besar, yang jika mendapat perhatian serius, berpeluang menyumbangkan altlet potensial guna menyabet medali emas pada PON 2028.

“Untuk itu diperlukan kolaborasi pentahelix. Libatkan unsur pemerintah daerah, organisasi Pertina, pihak swasta, akademisi, pengusaha, dan media. Jangan lupa kembangkan sport science, dalam hal ini boxing science agar lahir atlet-atlet tinju amatir yang mampu mencetak prestasi membanggakan,” tutur Komar.

Komaruddin pun menekankan pentingnya pembinaan usia dini. Ketersediaan bibit petinju yang cukup, akan melahirkan tingkat kompetisi yang ketat, untuk melahirkan atlet berprestasi.

“Para stakeholder tinju amatir di mana pun berada, harus senantiasa memperhatian aspek pembinaan, di samping penyusunan metode latihan mutakhir. Kita harus melihat sejarah pembinaan tinju sejak era 80-an hingga sekarang. Amati, cermati, dan sempurnakan untuk hasil yang maksimal,” tandasnya.

Ia memberi contoh, pembinaan atlet tinju amatir tahun 80-an, cenderung lebih bergantung pada pengalaman dan metode tradisional. Fokus latihan pada kekuatan fisik dan teknik dasar.

Tahun 2000-an, mulai ada pola pembinaan yang lebih terstruktur dan ilmiah. “Saat itu kita sudah mulai mengenal boxing technology, psikologi olahraga, serta perhatian terhadap nutrisi atlet dan aspek recovery atau pemulihan.

Pelantikan Pengurus Pertina Provinsi Klaimantan Utara oleh Ketum PP Pertina, Dr Komaruddin Simanjuntak. (foto: Pertina)
Suasana pelantikan Pengurus Pertina Provinsi Kalimantan Utara. (foto: Pertina)

Boxing Technology

Diakui, pembinaan dan pengembangan tinju amatir nasional masih menghadapi berbagai tantangan. Akan tetapi, harus diakui adanya perkembangan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

“Tantangan terbesar antara lain keterbatasan fasilitas, pendanaan, dan dukungan mental bagi atlet. Tapi dengan dukungan yang lebih terorganisir serta kebijakan pemerintah yang mendukung, kita optimis prospek tinju amatir ke depan sangat cerah,” ujarnya, antusias.

Sebagai Ketum PP Pertina, Komaruddin Simanjuntak telah meningkatkan kualitas organisasi, kualitas program. Di antaranya penggunaan dan pendekatan secacra teknologi.

“Karena itu, Pertina Kaltara dan segenap pengurus Pertina di seluruh provinsi harus bahu-membahu bersama PP Pertina dalam mencetak atlet tinju berprestasi. Merekalah yang akan didorong untuk mendulang medali pada ajang SEA Games, Asian Games, bahkan Olimpiade.

Komar menekankan pentingnya pendekatan “science & technology” dalam proses perekrutan atlet tinju. Kembangkan pola seleksi dan pencarian bakat secara efektif. “Jangan melulu mengandalkan pencarian atlet berbakat hanya dari kompetisi atau turnamen,” tegasnya.

Turnamen tinju hanya salah satu sarana pencarian bakat petinju berbakat. Tetapi harus ditambah pendekatan yang lebih scientific. Gunakan data, tes fisik, tes psikologi (mental), gizi, dan lain-lain. “Gabungkan talent scouting secara manual dan berbasis instink, tambahkan juga aspek yang lebih ilmiah.

Pemanfaatan teknologi dan inovasi dalam pembinaan tinju juga harus mendapat perhatian. Pengurus sebaiknya mengadopsi teknologi yang mendukung analisis kinerja atlet. Misalnya, penggunaan alat ukur kekuatan pukulan, kecepatan, dan strategi bertanding.

Jika diperlukan, gunakan analisis video untuk memperbaiki teknik, meningkatkan efektivitas pembinaan dan melaksanakan pendidikan dan pelatihan. Selain itu, faktor pelatih tak kalah penting. “Pelatih juga harus berbasis teknologi terbaru agar mampu melacak kemajuan atlet. Pelatih tinju harus dilengkapi perangkat pelacak kinerja atlet, video analisis, dan pelatihan berbasis simulasi.

Ketua Umum PP Pertina, Mayjen TNI Purn Dr Komaaruddin Simanjuntak. (foto: Pertina)

“Ular Makan Linggis”

Untuk itu semua, Komar bertekad konsisten dengan gaya kepempinan yang dikenal keras dan tegas. Ia sendiri menyebutnya “ular makan linggis/kayu laut”. Artinya, Ketum PP Pertina yang satu ini dikenal banyak akal, dan acap berpikir di luar nalar. Sesekali, prinsipnya “PDUB” atau “pukul dulu urusan belakangan”.

Yang ia maksud, tidaklah berkonotasi negatif. “Saya bukan tipe orang yang ketika diberi amanah lalu tepuk jidat dan berseru ‘mati aku’. Melainkan akan berusaha melaksankaan sebaik-baiknya, mencarikan jalan keluar, mencarikan solusi. Jadi pemimpin tidak boleh pengecut, jangan mengedepankan rasa takut alih-alih bertindak,” tegasnya.

Ketum PP Pertina yang juga Plt Ketum PPAD (Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat), Mayjen TNI Purn Dr Komaruddin Simanjuntak. (foto: PPAD)

Jangan Mati Berkali-kali

Seorang pemimpin yang baik, ibarat pejuang pemberani. Tidak banyak bicara tetapi terus berpikir dan berbuat yang terbaik. “Pemimpin itu tidak suka ‘mati pura-pura’. Kalau mati ya mati beneran. Karena itu saya tekankan kepada pengurus Pertina agar apa pun kendala yang akan dihadapi, pikirkan dan carikan solusi dengan memanfaatkan peluang serta melihat situasi dan kondisi masing-masing daerah,” papar Komar.

Salah satu handicap pengembangan cabor tinju amatir adalah persoalan pendanaan dan sponsorship. Padahal, pengembangan tinju memerlukan dana yang cukup besar. “Sebab, mencetak atlet tinju berkualitas internasional harus melalui pembinaan berkelanjutan. Di samping, memperbanyak pengalaman jam tanding baik di dalam maupun di luar negeri,” ujarnya.

Karena itulah, pengurus perlu mengembangkan strategi pencarian dana baik melalui anggaran pemerintah, sponsor swasta, ataupun penggalangan dana masyarakat. Tanpa dana memadai, fasilitas pelatihan, transportasi atlet, dan keikutsertaan dalam kompetisi internasional akan terkendala.

Ke depan, sistem pembinaan tinju amatir harus mampu melahirkan atlet-atlet bermental kuat untuk menghadapi tekanan kompetisi dan tantangan lain. Misalnya, pemusatan latihan yang fokus pada ketahanan mental, pengelolaan stres, terutama saat menghadapi dan melaksanakan kompetisi dengan tekanan dan ekspektasi besar.

“Karenanya, pengurus Pertina wilayah harus memanfaatkan potensi yang ada di wilayahnya. Jalinlah kerjasama mutual dengan pihak perguruan tinggi, misalnya sarjana-sarjana olahraga, psikolog, ahli sport science, dan lain-lain.

Potensi lain di daerah adalah bibit atlet tinju itu sendiri. Terlebih jika di suatu daerah sudah berdiri klub-klub tinju lokal. Lakukan kerjasama, libatkan pemerintah dan swasta, serta elemen masyarakat lain. “Untuk itulah pengurus harus inovatif, jeli, dan kreatif,” tambah Komar.

Arahan Ketum PP Pertina, Mayjen TNI Purn Dr Komaruddin Simanjuntak. (foto: Pertina)

Cryotherapy

Aspek lain yang tak luput dari perhatian Ketum PP Pertina Komaruddin Simanjuntak adalah tentang nutrisi dan pemulihan. Atlet tinju sangat perlu nutrisi, diet seimbang dan asupan gizi memadai, guna mendukung performa. “Sekali lagi, upayakan kerjasma dengan para pihak untuk menghadirkan fasilitas nutrisi dan penyediaan fasilitas pemulihan seperti cryotherapy atau terapi panas.”

Peran komunitas dan masyarakat juga tak kalah penting. Serap masukan dari masayarakat atau komunitas terkait pengembangan cabor tinju amatir ke depan. Bila perlu libatkan partisipasi masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan kesadaran hidup sehat, menjaga fisik dengan baik, dan memberi saluran bagi yang berpotensi sebagai atlet tinju.

Di bidang manajemen, Ketum Pertina Komaruddin menyebut adanya kendala yang mempengaruhi efektivitas pengelolaan dan pembinaan atlet. Ihwal kendala, Komar kembali mengulang persoalan manajemen, pendanaan, infrastruktur, hingga budaya olahraga (tinju) itu sendiri.

Termasuk persoalan pengembangan SDM, di samping faktor pengelolaan politik internal yang sejatinya bisa membantu mewujudkan organisasi Pertina yang lebih efektif dan berprestatsi.

Untuk itu, kepada pengurus Pertina Kaltara, Ketum Komar berharap segera menyusun rencana aksi, dan laksanakan janji pengurus yang sudah diucapkan di hadapan Ketum Pertina pusat,. “Susun program jangka pendek, menengah dan program jangka panjang. Selamat bertugas, semoga sukses. PERTINA MENYALA !!!” pekik Komar menutup sambutan. (*)

SIMAK VIDEO SUASANA PELANTIKAN DAN WAWANCARA BERSAMA KETUM PP PERTINA, DR KOMARUDDIN SIMANJUNTAK

Inalum dan PPAD Bangun Kerjasama untuk Bidang Ekonomi dan Konservasi Alam

JAYAKARTA NEWS – Satu lagi, langkah kongkrit Persatuan Purnawirawan TNI-AD (PPAD) terwujud di hari Jumat berkah, 16 Desember 2022. Bertempat di Kantor PT Inalum di Jakarta, Gedung Energy SCBD, berlangsung penandatanganan  Memorandum of Understanding (MoU) antara PPAD dan PT Inalum (Persero).

Penandatangan MoU dilakukan oleh Direktur Operasi dan Portofolio PT Inalum, Danny Praditya dan Sekjen PP PPAD, Mayjen TNI Purn. Dr. (C) Komaruddin Sumanjuntak. Kedua pihak bermaksud membangun kerjasama untuk bidang pengembangan ekonomi melalui sektor pertanian. Salah satunya adalah pendayagunaan lahan Inalum dengan melibatkan unsur pemberdayaan Purnawirawan TNI-AD dan masyarakat sekitar.

Melalui MoU ini pula PT Inalum dan PPAD dapat berkolaborasi dalam mendukung program konservasi ekosistem Danau Toba yang telah digagas oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara  setelah terbitnya Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2021 tentang Penyelamatan Danau Prioritas Nasional.

“Potensi masing-masing pihak nantinya dapat disinergikan atau dikerjasamakan,” ujar Danny Praditya. Ia juga mengatakan, PT Inalum yang beroperasi di Sumatera Utara dalam melakukan produksi untuk peleburan aluminium tentunya membutuhkan dukungan para pihak, termasuk juga PPAD.

Foto bersama jajaran PT Inalum (Persero) dan PP PPAD. (foto: PPAD)

Sementara Sekjen PPAD Komaruddin menambahkan, “Program bersama PT Inalum ini akan melibatkan para pengurus PPAD Provinsi Sumatera Utara. Ada sekitar 1.900 anggota PPAD di kabupaten/kota di Sumatera Utara” katanya. Dalam sambutannya, Komaruddin menyampaikan bahwa kerjasama dan seluruh aktivitas nantinya tetap megikuti pada peraturan dan ketentuan yang berlaku, baik di Inalum maupun di pemerintahan daerah.

PPAD akan diharapkan dapat membantu PT Inalum untuk pemberdayaan dan pendidikan masyarakat serta juga untuk para purnawirawan TNI AD. “Yang tak kalah penting, pembuatan program kelestarian lingkungan. Saya sangat memberi apresiasi kepada para purnawirawan TNI AD, walaupun sudah pensiun tetapi tetap mencurahkan pikiran dan tenaganya kepada masyarakat” ujar Danny Praditya.

MoU antara PT Inalum dan PPAD diharapkan sudah bisa diturunkan dalam kegiatan kerjasama akhir tahun ini. Dalam pelaksanaannya, akan banyak melibatkan purnawirawan TNI-AD yang ada di Sumatera Utara, kalangan profesional, pemerintah daerah, akademisi, pemerhati dan tentunya  masyarakat sekitar.

Dalam kesempatan penandatangan MoU, hadir Rainaldy Harahap – SEVP Operasi & Produksi PT Inalum. Sementara Sekjen Komaruddin didampingi antara lain oleh Letkol Cpm. Purn. Ari Banarto-Bidang Hukum PPAD, dan Een Irawan Putra-Bidang Ekonomi PPAD. (*)

Munas Hipakad, Menuju Anak Kolong Sejahtera

JAYAKARTA NEWS – Hipakad, Himpunan Putra-putri Angkatan Darat sejatinya bukan ormas kemarin sore. Ia memiliki sejarah panjang jika menilik tahun pencetusannya: 1963.

Hipakad kini tengah melakukan konsolidasi. Kamis siang 8 September 2022, para pengurus Hikapad “sowan orang tua”, dalam hal ini PPAD (Persatuan Purnawirawan TNI-AD). Mereka diterima Sekjen PPAD, Mayjen TNI Purn Dr (C) Komaruddin Simanjuntak, di Gedung PPAD, Matraman, Jakarta Timur.

“Saya menangkap aura semangat dari Hipakad untuk melangsungkan Musyawarah Nasional atau Munas. Sebelum Munas, mereka meminta restu PPAD. Di ajang Munas itulah, sesuai namanya, akan berlangsung musyawarah di rumah besar mereka, PPAD,” tambah Komar.

Audiensi Hipakad ke PPAD, jelang Munas Hipakad 20 September 2022. (foto: egy m)

Anak Kolong Sejahtera

Para pengurus yang hadir, terdiri atas Ketua PPAD berbagai provinsi. Termasuk Ketua Hipakad Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, H. Iqbal Piyeung. Selain Iqbal juga hadir pengurus Hipakad dari Kalimantan, dan daerah lain.

“Dan yang menggembirakan, semua menyatakan mendukung program utama PPAD. Utamanya program politik kesejahteraan,” ujar mantan Pangdam IX/Udayana itu.

Hal itu dibenarkan M. Iqbal Piyeung, dari Aceh. “Kebetulan saya juga Ketua Kadin Aceh. Tentu saja saya sangat mendukung program kesejahteraan yang dicanangkan. Negara ini masih sangat kekurangan pengusaha. Hipakad sejalan dengan program PPAD,” ujar Iqbal.

Menurut Iqbal, sejak deklarasi, Hipakad sudah punya motto yang paralel dengan program PPAD sekarang. “Motto kami adalah ‘menuju anak kolong sejahtera’. Jadi sangat cocok dengan program PPAD. Dan ada lagi kesamaan lain, Hipakad dan PPAD sama-sama tidak berpolitik praktis,” tambahnya.

Hipakad ke depan, utamanya pasca Munas 20 September 2022, juga diharapkan menjadi ormas yang aktif bergerak di bidang kesejahteraan. “Intinya, bagaimana membangun kesejahteran dalam tubuh TNI dan keluarganya, setelah itu baru masyarakat. Sukses dulu di keluarga besar TNI-AD, setelah itu baru ke luar. Hipakad harus bisa menjadi contoh bagi ormas lain,” tekadnya.

Iqbal meresapi betul hakikat “anak kolong”. Katanya, istilah anak kolong itu karena dulu, para prajurit tinggalnya di barak atau asrama. Satu keluarga anaknya bisa lebih lima, bahkan ada yang sepuluh.

Tempat tidur pun bertingkat-tingkat. Kalau masih tidak kebagian, gelar tikar. “Saking banyaknya anak, maka yang tidak kebagian dipan dan tikar, tidurnya di kolong. Jadilah istilah anak kolong,” kata Iqbal sambil tertawa.

Kembali ke topik kesejahteraan, Hikapad Aceh bahkan sudah mewujudkannya. “Kami telah menanam jagung di lahan seluas seribu hektare,” ujar Iqbal. Program tanam jagung itu adalah olah kerjasama antara Hipakad Aceh, Kadin, dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (*)

Indonesia Tuan Rumah Kejuaraan Tinju Amatir Dunia 2022

JAYAKARTA NEWS – Di bawah komando Ketua Umum PB Pertina, Mayjen TNI Purn Komaruddin Simanjuntak, tinju amatir Indonesia mulai berbicara di tingkat dunia. Seiring dengan kerja keras mengukir prestasi, ada prestasi besar lain yang berhasil ditorehkan.

Bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah Kejuaraan Tinju Amatir Dunia tahun 2022. Penunjukan Indonesia sebagai penyelenggara Kejuaraan Tinju Amatir Dunia tahun 2022 itu setelah memenangkan bidding yang berlangsung di Istanbul Turki.

Ketum Umum Pengurus Besar Persatuan Tinju Amatir Nasional (PB.Pertina) Mayjen TNI (Purn) Komarudin Simanjuntak ikut menghadiri bidding tersebut. Seperti diketahui dalam bidding tersebut diikuti oleh 37 negara.

Boy Pohan, satu-satunya wasit tinju Indonesia berlisensi IBA menyebutkan bahwa terpilihnya Indonesia sebagai penyelenggara Kejuaraan Tinju Amatir Dunia 2022 adalah sejarah. “Selama Republik Indonesia berdiri baru pertama kali Indonesia ditunjuk sebagai penyelengara. Kepercayaan dunia Internasional kepada Indonesia dibuktikan dengan Indonesia mengalahkan 37 negara lainya yang ikut bidding,” kata Boy Pohan.

Bagi Pertina ini merupakan kehormatan sekaligus tantangan untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia mampu menjadi penyelenggara event tinju kelas dunia dengan sukses baik sebagai penyelenggara maupun dalam pencapaian prestasi. (pr)

Kejanggalan Mukernas Pertina Dilaporkan ke KONI Pusat

JAYAKARTA NEWS – Tidak puas dengan hasil Mukernas Pertina, 17 pengurus provinsi Pertina membuat laporan evaluasi dan mengirimkannya ke Ketua Umum KONI Pusat, Marciano Norman. Sedikitnya ada tujuh catatan penting yang menjadi laporan.

Pertama, pelaksanaan Mukernas diselenggarakan secara virtual (zoom), Kamis (12/11/2020). Kedua, admin (host) zoom meeting dalam kegiatan Mukernas, dikendalikan sepenuhnya oleh PP Pertina.

Point ketiga menyebutkan, jalannya Mukernas via zoom tidak netral dalam memberikan kesempatan berbicara kepada para peserta. Dilanjutkan point keempat, bahwa dalam menampung aspirasi dari tiap-tiap daerah, berlangsung tidak demokratis. Pengusus Pengprov Pertina daerah yang dianggap sebagai kubu yang berseberangan dengan calon ketua umum petahana, dalam hal ini Johny Asadoma, tidak diberi kesempatan berbicara secara leluasa.

Yang kelima, dalam perjalanan musyawarah untuk mengambil keputusan tidak dapat ditempuh dengan musyawarah untuk mufakat, sehingga untuk mengambil keputusan dilaksanakan dengan cara voting. Yang keenam, dan ini tak kalah krusial, bahwa dalam pelaksanaan voting, ada beberapa hal yang dianggap sangat janggal dan tidak adil.

Di antaranya, Lampung yang terang-terangan tidak menentukan/menetapkan abstain, tetapi dimasukkan untuk mendukung Johny Asadoma. Maluku datang dengan dua peserta yang masing-masing menyatakan ada surat mandat, tetapi pihak Johny Asadoma hanya mengakomodir peserta yang mendukung Johny Asadoma. Patut diduga, surat mandat yang dibawa Yance menggunakan tanda tangan palsu.

Point berikutnya, pada saat perbandingan suara 17 : 16, di mana pihak Johny Asadoma hanya didukung 16 suara, Johny Asadoma atas nama PP Pertina mengatakan bahwa suara PP Pertina diberikan kepada dirinya, sehingga suara menjadi 17 : 17.

Saat posisi 17 : 17, untuk mendapatkan keputusan pelaksanaan waktu dan tempat Munas ditetapkan sendiri oleh Johny Asadoma secara sepihak, yaiktu Munas ditetapkan setelah Pilkada serentak serta tempat pelaksanaannya di Labuan Bajo (NTT). Sedangkan pihak yang lain berkeinginan Munas digelar sebelum Pilkada serentak, dengan pertimbangan bahwa pasca Pilkada serentak dimungkinkan situasi politik tidak kondusif. Selain itu, pelaksanaan Munas pasca Pilkada juga dinilai sangat mengganggu anggota yang beragama Nasrani melaksanakan perayaan Natal. Sedangkan, tempat pelaksanaan di Labuan Bajo, secara ekonomis membabani peserta, dibandingkan jika Munas digelar di salah satu tempat di Jabodetabek.

Butir ketujuh melaporkan, mengacu kepada poin-poin tersebut di atas, para pengurus Pengprov Pertina Daerah berharap Ketua Umum KONI Pusat pada saat pelaksanaan Munas nanti KONI Pusat dapat memantau dan mengawasi jalannya Munas, sehingga hasil yang dicapai betul-betul sesuai dengan kenyataan yang dihadapi.

Demikian surat yang disampaikan kepada KONI Pusat terkait Mukernas PP Pertina yang berlangsung tidak sebagaimana mestinya. Surat ini dikirim atas nama 17 Pengprov Pertina. Masing-masing Pengprov Pertina Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat,             Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan,    Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Maluku Utara. Surat ditandatangani Syarkawi, Abi Raihan, dan I Made Subagiadnya. (mon)

Mukernas Pertina Amburadul, Sosok Komaruddin Simanjuntak Menguat

JAYAKARTA NEWS – Demi mendapat sorotan tajam berbagai pihak, serta otokritik dari tubuh Pertina sendiri, maka Kamis (12/11/2020) PP Pertina menggelar Mukernas (Musyawarah Kerja Nasional). Mukernas digelar secara virtual.

Apa lacur, ketidaksiapan panitia menggelar Mukernas, berakibat makin deras kritikan dan sorotan terhadap kinerja PP Pertina 2016 – 2020. “Acara molor hingga dua jam menunjukkan ketidaksiapan panitia. Ditambah, kepemimpinan sidang yang terkesan diktatoris dan tidak demokratis, karena mikropon peserta dimatikan, sehingga tidak memungkinkan peserta Mukernas menyampaikan pendapat,” ujar Syarkawi Yuzan, Sekretaris Pengprov Pertina Aceh, kepada Jayakarta News.

Kesan senada tidak hanya datang dari Sarkawi, tetapi dari para pengurus Pengprov Pertina lain. Mereka di antaranya Adam Taka Simanjuntak (Sekretaris Pengprov Pertina Sulawesi Selatan), Ramli Ramlan (Sekretaris Pengprov Pertina Kalimantan Barat), dan banyak pengurus daerah lain yang merasa kecewa dengan Mukernas kemarin.

Semula, peserta Mukernas masih berharap ada dialog konstruktif antara pengurus daerah dengan PP Pertina. Terlebih, persoalan organisasi dinilai semakin carut-marut. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, dikhawatirkan pengurus KONI Pusat akan mengambil alih PP Pertina. “Kalau itu terjadi, sangat memalukan,” tambah Syarkawi Yuzan. Apa daya, yang terjadi pada Mukernas justru jauh panggang dari api harapan peserta.

Tanda-tanda ketidakprofesionalan pengurus pusat Pertina dalam mengelola dan menjalankan roda organisasi tampak dari banyak aspek. Pertama, tidak adanya harmonisasi program antara PP dengan Pengprov. Ini dinilai aneh, mengingat Pertina berkewajiban membina pengurus-pengurus daerah. “Tapi praktiknya, mereka menjalankan semau sendiri,” tambah Ramli Ramlan, dari Kalimantan Barat.

Yang kedua, tidak adanya prestasi menonjol. Bahkan dalam ajang Asian Games 2018, di mana Indonesia bertindak sebagai tuan rumah, target satu emas pun tidak tercapai. “Banyak potensi petinju amatir di daerah dipandang sebelah mata oleh PP Pertina. Mereka menentukan atlet yang dimajukan atas dasar kedekatan. Jadilah, petinju yang berlaga hanya itu-itu saja,” tambahnya.

Ketiga, pelanggaran berbagai ketentuan baku organisasi yang sudah diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. “Salah satu contoh ya Munas yang molor. Dalam Mukernas di Cisarua, Bogor Desember 2019 ditetapkan Munas diselenggarakan bulan Agustus 2020 di satu daerah di Jabotabek. Tapi nyatanya hingga hari ini belum juga diselenggarakan,” tambahnya.

Para peserta Mukernas yang kecewa dengan kepemimpinan Ketua Umum PP Pertina Johny Asadoma, mendesak PP Pertina segera menggelar Munas, demi kebaikan organisasi ke depan. Bukan hanya itu, mereka juga mempertanyakan sikap Johny Asadoma.

Semula, sempat diapresiasi sejumlah pengurus, saat dirinya menyatakan tidak akan mencalonkan diri lagi di Munas 2020, yang salah satu agendanya memilih Ketua Umum PP Pertina periode 2020 – 2024. Tetapi, belakangan dikabarkan Johny akan berusaha mempertahankan jabatannya.

“Akan lebih elegan kalau beliau mundur. Tugas di Mabes Polri tentu akan menjadi kendala untuk bisa aktif dan fokus membenahi organisasi. Sementara, tantangan ke depan sangat besar. Jika beliau merelakan estafet kepemimpinan kepada tokoh lain yang lebih mampu mendongkrak prestasi dan mengelola organisasi, harusnya beliau legowo. Dengan begitu, image-nya akan positif,” tambah Syarkawi.

Komaruddin Simanjuntak, calon kuat Ketua Umum PP Pertina 2020-2024.

“Bersatu Hati” Dukung Komaruddin

Meski begitu, kalau toh Johny Asadoma tetap ngotot maju dalam Munas, para pengurus Pengprov Pertina memprediksi tidak akan berhasil. Sebab, kepercayaan pemegang hak suara sudah luntur kepadanya. Bahkan, saat ini tak kurang dari 23 Pengurus Pengprov Pertina se-Indonesia, sudah menyatukan kebulatan tekad untuk mengusung sosok Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak sebagai Ketua Umum PP Pertina 2020 – 2024.

Ke-23 suara sudah bulat mengarah ke Komaruddin Simanjuntak. Kekompakan mereka bahkan diikat dalam satu slogan kebersamaan bertagar “Pengprov Pertina Bersatu Hati”.

“Benar, kami sudah bersatu hati mengusung Komaruddin Simanjuntak menjadi Ketua Umum PP Pertina. Kami juga sudah sering bersilaturahmi dengan beliau. Sosoknya luar biasa. Bukan saja matang, tetapi juga smart dan akomodatif terhadap masukan orang lain. Tipe pemimpin seperti ini yang dibutuhkan Pertina. Beliau juga sangat nasionalis. Dalam banyak kesempatan, selalu mengetengahkan keinginan yang kuat melihat bendera merah putih berkibar di pucuk bendera kejuaraan. Lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang dalam berbagai kejuaraan. Tidak saja di tingkat ASEAN, tetapi Asia bahkan dunia. Beliau punya keyakinan kuat, karena Indonesia pernah berjaya di ajang tinju amatir,” papar Syarkawi. (mon)

Pertina, Menimang Johny dan Komar

Catatan Bambang Dwi, Wartawan Olahraga

Bambang Dwi

Tahun 2020 mestinya menjadi tahun penentuan bagi Pengurus Pusat Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PB Pertina). Sebab, tahun ini pula, di bulan Mei 2020, kepengurusan periode 2016 – 2020 berakhir. Celakanya, hingga hari ini, Munas PP Pertina belum juga tergelar.

Rencana Munas yang diundur menjadi bulan Agustus, atas “restu” KONI Pusat, nyatanya tak juga terwujud, dengan dalih pandemi Covid-19. Dalam konsultasi lanjutan, PP Pertina di bawah pimpinan Ketua Umum Irjen Pol Johanis “Johny” Asadoma sempat meminta “tambahan masa kepengurusan”, tetapi oleh KONI ditolak, dan diminta segera menggelar Munas.

Dalam kalimat yang lebih spesifik, Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman meminta PP Pertina melangsungkan Munas sebelum Pilkada Serentak Desember 2020. Per tulisan ini dibuat, belum ada rilis resmi dari PP Pertina ihwal hajat besar empat tahunan tersebut.

Esensi Musyawarah Nasional bagi sebuah organisasi cabang olahraga, hakikatnya tidak melulu pada persoalan suksesi ketua umum. Ajang Munas harus bisa menjadi ajang koordinasi sekaligus konsolidasi organisasi. Saat menuju pemilihan ketua umum, akan tersaring calon-calon yang kapabel sekaligus kredibel.

Kapabel dalam pengertian memiliki skills atau kecakapan sebagai pemimpin organisasi cabang olahraga tinju amatir. Kredibel, dalam arti memiliki rekam jejak yang baik.

Yang terekam di media massa hingga hari ini adalah, persoalan Munas yang tak kunjung ada titik terang. Jika ini berlarut-larut, ada dua kemungkinan yang bakal menimpa PP Pertina. Pertama, KONI meminta PP Pertina menggelar Munas Luar Biasa (Munaslub), atau mengambil-alih kepengurusan 2020-2024.

Dua opsi itu sama-sama memiliki implikasi negatif. Setidaknya, itu menandakan ada yang “macet” dalam organisasi tersebut. Ada yang “tidak beres” dalam organisasi tersebut. Jika itu terjadi, maka ini akan menjadi preseden bagi PP Pertina.

Minim Prestasi

Dari tahun ke tahun, tinju amatir makin tenggelam, jika tak mau disebut terpuruk. Nyaris tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan. Bukan untuk dibanggakan oleh pengurus, tetapi membuat bangga bangsa Indonesia. Hal itu mengingat, tinju amatir Indonesia pernah memiliki prestasi gemilang pada periode lalu.

Sekadar membuka catatan lama, kita pernah memiliki sederet nama besar di ring tinju amatir. Dekade 80-90-an kita memiliki Amstrong MS. Era yang sama pula lahir nama-nama Adrianus Taroreh dan Nico Thomas.

Syamsul Anwar

Mundur ke tahun 70-an, kita punya nama besar Syamsul Anwar. Meski tidak pernah menyabet gelar juara Asia, tetapi kemenangannya atas petunju Amerika Serikat Thomas Hearns tahn 1976 di Kejuaraan Piala Presiden di Jakarta, adalah sebuah prestasi besar. Di kemudian hari, Thomas Hearns menjadi salah satu petinju legendaris dunia.

Kita juga tidak boleh melupakan nama Wiem Gommies. Petinju kelahiran Ambon 31 Desember 1945 itu, banyak mendulang medali di ajang multievent. Misal, meraih edali emas tinju kelas menengah Asian Games VI Bangkok tahun 1970.

Disusul kemudian meraih medali emas kelas menengah di Kejuaraan Tinju Asia di Teheran tahun 1971. Lalu prestasi yang sama, meraih medali emas kelas menengah pada Turnamen Internasional Tinju Piala Presiden tahun 1976. Dua tahun berikutnya, ia masih berkibar. Masing-masing menyabet medali emas kelas menengah Sea Games IX Kuala Lumpur tahun 1977 dan medali emas kelas menengah Asian Games VIII Bangkok tahun 1978.

Sekilas ke belakang, kita juga pernah memiliki legenda tinju amatir lain seperti Frans van Bronkhorst atau lebih dikenal Frans VB. Ia adalah juara tinju asia tahun tahun 70-an (amatir), dan salah satu petinju yang tembus ajang Olimpiade Montreal tahun 1976. Saat itu, sejumlah petinju yang kemudian menjadi legenda dunia, turut serta. Mereka antara lain Sugar Ray Leonard (medali emas kelas welter ringan), Michael Spinks (medali emas kelas menengah), Leon Spinks (medali emas kelas berat ringan), dan lain-lain.

Nama yang tak asing lainnya adalah Pino Bahari, peraih medali emas kelas menengah Asian Games 1990 di Beijing, dan Ferry Moniaga, juara Asia 1980 dan peringkat 5 Olimpiade Munich 1972.

Lantas, jika kita menyebut nama Ellyas Pical, Chris John, dan Daud Jordan, mereka semua berangkat dari ring amatir. Seperti pernah diungkapkan Syamsul Anwar, petinju terbaik dilahirkan dari ring tinju amatir. Syamsul berdalih, kalau ada kesalahan sekecil apa pun seperti teknik memukul tidak benar, pasti diperingatkan wasit, atau pertandingan dihentikan. Contohnya memukul dengan teknik pukul seperti menampar, pasti diperingatkan, karena teknik pukulan harus benar, yakni dengan buku-buku jari.

Sudah cukup lama tinju amatir Indonesia terpuruk. Jika harus ada yang bertanggung jawab, maka yang bertanggung jawab adalah pengurus. Sementara, kendali kepengurusan organisasi tinju amatir yang bisa membuat maju-mundurnya prestasi, ada di tangan ketua umum.

Catatan digital masih terekam dengan sangat baik. Saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018, adalah momentum terbaik untuk unjuk prestasi. Sayang, saat itu, Ketua Umum Johny Asadoma hanya menargetkan “satu medali emas”.

Sunan Agung Amoragam

Waktu itu, petinju Sunan Agung Amoragam mendapat kerpercayaan pengurus bersama sembilan petinju lain (total 10 petinju), untuk membela panji merah-putih. Toh, dari sepuluh petinju yang diturunkan dengan target “hanya” satu medali emas, gagal pula dipenuhi.

Petinju andalan Sunan Agung Amoragam, kalah di babak semifinal sehingga hanya mendapat medali perunggu kelas bantam. Dalam pertandingan semifinal di Hall C, JIexpo Kemayoran, Jakarta, Jumat, 31 Agustus 2018, Sunan dikalahkan petinju Uzbekistan, Mirzazizbek Mirzakhalilov dengan skor telak 5-0.

Perlu Pemimpin Tangguh

Suka-tidak-suka, mau-tidak-mau, PP Pertina harus berbenah. Jika melihat kegagalan demi kegagalan, itu artinya perlu ada koreksi total. Mulai dari manajemen yang transparan, penyediaan sarana dan prasarana, pembinaan usia dini, dan sport science.

Empat pilar itu mutlak harus dibenahi. Sebab, itulah tools yang harus dijalankan oleh siapa pun Ketua Umum PP Pertina mendatang. Tanpa manajemen yang transparan, yang terjadi seperti sekarang. Banyak pengurus provinsi (Pengprov) Pertina yang sudah terang-terangan menyatakan kekecewaannya dengan kepemimpinan Johny Asadoma, yang antara lain, dinilai tidak pernah turun ke bawah dan kurang mengakomodir suara pengprov.

Yang lebih ironis, terbeber di media, statemen dari pengurus daerah yang menyoal ketidakprofesionalan Pertina dalam menyeleksi petinju dari bawah hingga ke jenjang pelatnas. Hingga akhirnya, terseleksilah petinju yang itu-itu saja. Sekalipun, sudah terbukti tidak pernah mendulang prestasi.

Menjadi lebih ironis, manakala gagal di semifinal, petinju Sunan Agung Amoragam berdalih, “Mau gimana lagi karena kurangnya jam terbang,” kata Sunan seperti dilansir www.tempo.co.id.

Jika benar alasan Sunan Agung, pertanyaannya menjadi, “kemana aja selama ini?” Sebuah alasan yang langsung-tak-langsung sebenarnya justru mengkritik Pertina itu sendiri. Mengkritik Pertina yang tidak memberi kesempatan bertanding kepada para petinjunya. Itu, jika dalih Sunan Agung benar.

Bisa dipastikan, jika tidak ditangani secara sungguh-sungguh, tinju amatir bisa KO. Benar, knock out oleh kemajuan tinju amatir negara-negara lain.

Nah, melihat perkembangan PP Pertina di pengujung periode kepemimpinannya, muncul dua sosok calon ketua umum. Setidaknya, itu yang terekam di internal Pertina, baik di pengurus pusat maupun di pengurus provinsi. Kedua calon itu masing-masing calon incumbent, Irjen Pol Johny Asadoma dan Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak.

Awalnya, terbersit kabar Johny Asadoma enggan dicalonkan kembali. Tetapi belakangan muncul niat untuk dipilih kembali menjadi Ketua Umum PP Pertina 2020 – 2024. Sosok Johny Asadoma, harus diakui sebagai salah satu tokoh yang peduli terhadap cabang tinju amatir.

Persoalannya, syarat “peduli” saja tidak cukup. Sebab, dibutuhkan kerja total. PP Pertina bukan organisasi yang sudah bisa dibilang running well. Rendahnya prestasi tinju amatir, adalah persoalan besar bagi siapa pun yang mengemban jabatan ketua umum. Persoalan besar tidak bisa diselesaikan dengan langkah kecil, apalagi dengan kerja “part time”.

Dikatakan part time, karena sebagai pejabat Polri, tentu saja Johny Asadoma memiliki tugas pokok dan fungsi utama sebagai bhayangkara negara. Itu artinya, dia harus membagi pikiran dan tenaga, antara tugas utama di Polri dan tugas yang juga sentral di PP Pertina. Sanggupkah? Jika sanggup, pertanyaan selanjutnya, mampukah?

Parameter kesanggupan bisa diukur dari dedikasi dan komitmen selama empat tahun memimpin PP Pertina 2016 – 2020. Dari hati terdalam, para pengurus pusat maupun pengurus provinsi Pertina tentu memiliki penilaian atas dedikasi dan komitmennya selama ini.

Ihwal kemampuan? Parameternya juga sederhana: administratif dan prestasi. Secara administratif, bisa merangkul semua kekuatan Pengprov dan mensinergikan menjadi satu kekuatan besar mencetak petinju berprestasi. Sudahkah dilakukan? Jawabnya terpulang kepada para pemilik hak suara atas hitam-putih, dan maju-mundurnya organisasi.

Sedangkan di bidang prestasi, parameternya juga tidak terlalu rumit, yakni prestasi. Apa saja prestasi tinju amatir di kancah ASEAN, Asia, dan internasional selama empat tahun terakhir? Jika benar jawabnya adalah “tidak ada”, maka secara sederhana bisa disimpulkan Johny Asadoma tidak memiliki kemampuan mendongkrak prestasi tinju amatir nasional.

Tentu Johny punya argumen dan pertanggungjawaban atas kinerja administratif dan prestasi pada forum Munas nanti. Diterima atau tidaknya pertanggungjawaban Johny, lazimnya akan berbuah pada hasil perolehan suara (mandat) Pengprov saat dilakukan agenda pemilihan Ketua Umum PP Pertina 2020 – 2024. Dengan catatan, rivalitas menuju kursi Ketua Umum, dilaksanakan secara jujur, terbuka, jauh dari aksi-aksi tak terpuji seperti “jual-beli” suara. Sebab, praktik jual-beli suara adalah praktik yang tidak ksatria. Bertentangan dengan filosofi olahraga tinju itu sendiri.

Komaruddin Simanjuntak saal bersilaturahmi dengan para pengurus Pengprov Pertina.

Sosok kedua adalah Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak. Dalam kontestasi “melawan” petahana, ia tentu saja nothing to lose. Setidaknya, ia tidak terbebani penilaian kinerja selama empat tahun terakhir. Komaruddin menjadi sosok yang bisa hadir membawa solusi bagi PP Pertina.

Itu artinya, jika solusi atas berbagai persoalan Pertina bisa ia tawarkan dan diterima, maka jalan menuju kursi Ketua Umum PP Pertina, relatif mulus.

Komaruddin bukanlah seorang (mantan) petinju, tetapi ia dikenal menaruh perhatian besar terhadap cabang olahraga yang pernah menjadi cabor favorit negeri ini. Jika disoal kapasitas pribadi terkait tugas administratif, harusnya ia orang yang cakap. Jabatan sebagai Panglima Kodam Udayana yang pernah disandang, adalah jabatan kompleks yang menuntut kecakapan tinggi di bidang tata laksana organisasi.

Lebih dari segalanya, Komaruddin Simanjutak adalah sosok yang haus prestasi. Karenanya, dalam salah satu media, ia menyebutkan prestasi sebagai target utama jika diberi mandat memimpin PP Pertina. Ia rindu melihat merah putih berkibar, rindu mendengar kumandang lagu kebangsaan Indonesia Raya di ajang olahraga multievent, baik tingkat ASEAN, Asia, maupun dunia.

Itu artinya, semua prasyarat yang dibutuhkan demi lahirnya prestasi, akan ia penuhi. Lahirnya prestasi bukan hanya semata pemenuhan sarana dan prasarana, lebih dari itu adalah jalinan kerja sama yang erat dengan para pengurus daerah. Dia menyadari, bahwa prestasi tidak tercetak secara instan, melainkan melalui sebuah proses.

Meski begitu, Komaruddin memaknai kalimat di atas dengan interpretasi yang benar. Bahwa pada dasarnya tidak ada yang instan di dunia tinju amatir. Sebab, seorang atlet yang menggeluti cabang yang satu ini, tentunya sudah melakukan latihan rutin di sasana masing-masing daerah. Karenanya, yang dibutuhkan adalah meningkatkan frekuensi latih tanding dalam grafik yang meningkat drastis.

Kesempatan bertanding di luar kandang, harus dibuka selebar-lebarnya, dalam frekuensi yang sesering mungkin. Tekad Komaruddin ini paralel dengan prasyarat mencetak juara di cabang tinju amatir.

Tahun 80-an, misalnya, tercatat ada kurang lebih 25 turnamen tinju amatir di provinsi maupun nasional. Katakanlah, setiap petinju diikutkan dalam 15 turnamen saja, sama artinya dengan setiap bulan bertanding. Jika ia mencapai babak final, itu artinya sudah melakukan sedikitnya 30 kali pertandingan. Itu sangat bagus untuk mengasah naluri bertinju.

Untuk bisa menembus ajang olimpiade, dibutuhkan sedikitnya 200 kali pertandingan. Sebaliknya, jika setiap tahun hanya mengikuti satu-dua turnamen, bagaimana mungkin petinju amatir Indonesia akan maju?

Pada titik ini, Komaruddin Simanjuntak adalah sosok yang tepat. Itu dengan catatan, stakeholder olahraga nasional, khususnya cabang tinju amatir, menghendaki cabang tinju amatir Indonesia kembali berjaya seperti era 70-80-an. (*)

PP Pertina Limbung, Komaruddin Simanjuntak Tempat Bergantung

Jayakarta News – Nasib tinju amatir nasional limbung. Organisasi PP Pertina (Pengurus Pusat Persatuan Tinju Amatir Indonesia) seperti tanpa arah. Kepengurusan periode 2016 – 2020, yang semestinya berakhir Mei 2020, hingga hari ini belum menggelar Munas.

“Kami, Pengurus Provinsi (Pengprov) Pertina berbagai provinsi prihatin sekaligus gusar akan masa depan tinju amatir nasional,” ujar Drs Ramli Ramlan, Sekretaris Pengprov Pertina Kalimantan Barat (Kalbar).

Kepada Jayakarta News, Ramli menilai Ketua Umum PP Pertina saat ini, Irjen Pol Brigjen Pol Joahannis “Jhony” Asadoma sudah kehilangan legitimasinya di mata sebagian besar pengurus Pengprov Pertina. Bukan hanya faktor ketidakmampuan menjalankan roda organisasi secara profesional, tetapi juga dinilai gagal menunjukkan prestasi.

“Selama empat tahun terakhir, prestasi tinju amatir Indonesia menurun. Boleh dikata, tidak ada prestasi di tingkat ASEAN, Asia, apalagi internasional. Fakta bicara begitu,” tambahnya.

Tokoh olahraga Kalbar itu menambahkan, syarat suksesnya kepemimpinan organisasi olahraga sebenarnya tidak terlalu sulit. Yang utama, adalah kepemimpinan yang mengayomi pengurus daerah. Dalam hal ini, agar Pertina maju, pengurus PP Pertina harusnya mengayomi Pengprov Pertina se-Indonesia. Tidak pilih-pilih, tidak pilah-pilah. Semua harus diakomodir,” tandasnya.

Keluhan tidak saja datang dari Pengprov Pertina Kalbar. Ramli bahkan mendengar keluhan senada dari banyak pengurus daerah yang lain. Selama empat tahun memimpin PP Pertina, Jhony Asadoma yang sehari-hari menjabat Kadiv Hubungan Internasional Polri itu dinilai sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah turun ke daerah. “Bagaimana mau mengetahui potensi petinju amatir daerah kalau beliau tidak pernah berkunjung ke daerah-daerah,” kata Ramli.

Akibat lebih lanjut, keputusan menentukan alet yang dipersiapkan masuk Pelatnas, bukan berdasar pantauan prestasi dari bawah, tetapi pendekatannya karena faktor kesukaan dan kedekatan. “Makanya prestasi tidak berkembang. Prestasi datang dari proses, mulai dari pembinaan sasana, cabang, Pengprov, baru diangkat ke tingkat nasional,” ujar Ramli seraya menambahkan, “mohon maaf sekali harus saya katakan, bahwa yang dikirim atletnya ya itu-itu saja.”

Ramli menyayangkan, Ketum PP Pertina Jhony Asadoma tidak tahu, atau menutup mata terhadap prestasi atlet-atlet tinju amatir di Batam, Kepulauan Riau. Di sana, ujar Ramli, ada sasana yang secara rutin membangun kerjasama sparring partner dengan petinju negara-negara tetangga seperti Singapura, Vietnam, Thailand, dan lain-lain. “Tapi karena tidak ada kedekatan, ada unsur tidak suka, jadinya tidak dilihat,” sesal Ramli.

Munas Tidak Jelas

Drs Ramli Ramlan (Pengprov Pertina Kalbar) juga mengupas persoalan Munas yang dinilai tidak jelas. Bukti ketidakprofesionalan pengurus pusat adalah pada tindakan mengabaikan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Pertina 19 Desember 2019 di Hotel Seruni, Puncak, Bogor – Jawa Barat. Salah satu keputusan Mukernas adalah penetapan Munas PP Pertina dilangsungkan tanggal 2 – 3 Mei 2020 di salah satu daerah di Jabodetabek. Selain menetapkan tanggal Munas, Mukernas juga melahirkan sejumlah keputusan penting terkait Kejurnas, Piala Presiden, dan lain-lain.

Akan tetapi dengan berbagai dalih, pengurus pusat melobi KONI Pusat sehingga berhasil mendapatkan surat perpanjangan masa jabatan sampai Desember 2020. Oleh pengurus pusat, tanpa mekanisme Rapat PB Pertina, secara sepihak Ketua Umum Jhony Asadoma mengubah tanggal Munas menjadi tanggal 5 – 6 Agustus 2020. “Sudah begitu, toh pada tanggal yang dia tetapkan sepihak, ternyata Munas tidak juga terselenggara,” ujar Ramli.

Lagi-lagi, PP Pertina 2016-2020 menghadap Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, meminta perpanjangan masa jabatan (lagi). Ketua Umum KONI Pusat tidak meladeni permintaan itu, tetapi justru meminta PB Pertina segera menggelar Munas sebelum pelaksanaan Pilkada serentak Desember 2020.

PP Pertina sempat mengajukan dalih pandemi Covid-19. Ini menjadi ironis, karena sebelumnya mereka sendiri sudah menetapkan bulan Agustus 2020. Bukan hanya itu. PP Pertina ternyata menyelenggarakan kegiatan penyegaran wasit dan hakim bersama Kemenpora. Seperti lupa akan dalih pandemi, PP Pertina justru menggelar acara itu secara tatap muka.

“Bahkan hari ini, 9 November 2020, PP Pertina mengundang pengurus untuk membahas tempat Munas. Padahal, hasil Mukernas sudah jelas, tanggal dan tempat Munas di Jabodetabek. Sungguh, sudah terlalu banyak peraturan organisasi yang dilanggar. AD-ART diacak-acak,” kata Ramli.

Toh, Ramli atas nama Pengprov Pertina Kalimantan Barat mentolerir pengurus dalam arti untuk tujuan penyelenggaraan Munas 2020. “Takutnya, kalau Munas gagal dilaksanakan tahun 2020, secara otomatis, dengan berakhirnya masa kepengurusan periode 2016 – 2020, KONI yang akan mengambil alih. Kalau ini sampai terjadi, benar-benar memalukan. Belum pernah dalam sejarah PP Pertina gagal menggelar Munas hingga kepengurusan diambil-alih KONI,” katanya pula.

Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak

Calon Ketum Ideal

Berbicara sosok Ketum yang sekarang, Ramli Ramlan sepertinya sudah patah arang. Ia dan sebagian besar Pengprov Pertina di seluruh Indonesia hanya menginginkan perubahan di tubuh PP Pertina. Untuk itu diperlukan pemimpin baru yang bisa mengembalikan kejayaan tinju amatir nasional. “Yang bisa mengibarkan merah putih, yang bisa mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya di ajang-ajang kejuaraan baik ASEAN, Asia, maupun dunia,” tegasnya.

Saat disinggung calon yang ia gadang-gadang bisa menggantikan Ketua Umum yang sekarang, tanpa ragu ia menggantungkan pada nama Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak. Mantan Pangdam Udayana itu bukan mantan petinju, tetapi mengerti sekaligus mencintai olahraga tinju. Di luar unsur itu, Komaruddin Simanjuntak adalah sosok yang dinilai kapabel sebagai organisastoris dan administratur yang teruji.

Ramli mengaku sudah pernah berbicara intensif dengan Komaruddin. Di mata Ramli, ia sosok yang simpel, to the point, dan pragmatis. Acuannya hanya satu, yakni prestasi. Apa pun yang diperlukan pengurus daerah untuk melahirkan petinju-petinju berprestrasi, akan ia dukung.

“Semua yang diperlukan untuk tujuan prestasi, akan disiapkan. Concern beliau sama seperti kebanyakan kami pengurus daerah, yakni merah putih berkibar, Indonesia Raya berkumandang di berbagai ajang kejuaraan,” tambahnya.

Ramli mengaku bukan latah dan ikut-ikutan jika ia melirik kandidat Ketum PP Pertina Komaruddin Simanjuntak. Terlebih, sudah ada sedikitnya 23 Pengprov Pertina se-Indonesia yang mewacanakan nama yang sama.

“Bukan ikut-ikutan, tapi kami sudah berdialog intensif. Kami ini orang-orang tinju dan orang-orang organisasi. Kami punya feel yang sama. Jadi tidak heran jika kemudian banyak yang berpendapat sama, mendukung Komaruddin Simanjuntak untuk menakhodai PP Pertina 2020 – 2024,” tandas Ramli Ramlan. (bd)

Komaruddin Siap Pimpin Pertina dengan “Boxing Science”

Jayakarta News – Dengan tagline “Bersatu Hati”, Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak siap memimpin PB Pertina masa bakti 2020 – 2024, melalui ajang kongres dalam waktu dekat. “Setidaknya sudah ada dukungan 23 dari 34 Pengda Pertina se-Indonesia,” ujar Komaruddin, kepada Jayakarta News di Jakarta, hari ini (28/9/2020).

Sejumlah Pengda Pertina lain masih melakukan penjajagan untuk bergabung dalam tim “Bersatu Hati”. “Sedangksn sisanya masih mendukung calon lain, dengan berbagai alasan. Saya bisa memahami. Beliau (calon lain) adalah junior saya. Kongres harus berlangsung baik, kondusif, transparan, dan ksatria. Tegakkan sikap ksatria dalam dunia tinju, baik di atas ring maupun di luar ring. Ini penting,” ujar jenderal berkumis tebal itu.

Komar juga mendapat support dari sedikitnya 28 jenderal TNI (AD, AL, AU) yang terdiri dari letting 1984, 1985, dan 1986 yang baru mengakhiri pengabdiannya di TNI. “Meski sudah mengakhiri tugas kedinasan, tetapi masih ingin berbuat untuk negara. Semboyan kami soldier never die, they just fade away,” ujar KS, sapaan inisial Komaruddin Simanjuntak.

Para pendukung KS menamakan diri kelompok “Bersatu Hati”. “Mayoritas suara hati di Pertina sama, yakni sama-sama menginginkan perubahan ke arah kemajuan. Yang sudah baik kita pertahankan, yang belum maksimal, kita maksimalkan. Pertina harus berpijak pada rel yang benar,” ujarnya.

Silaturahmi “Bersatu Hati”, para pengurus Pengprov Pertina dengan Calon Ketua Umum PB Pertina, Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak. (ist)

KS sudah melakukan SWOT analysis terhadap Pertina pada umumnya, dan tinju amatir pada khususnya. Jawaban kunci atas persoalan organisasi adalah mengaktualisasikan program. “Ingat, roda zaman begerak cepat. Cabang tinju juga mengalami kemajuan dengan segala tantangan. Tidak bisa menjalankan organisasi secara konvensional. Harus out of the box,” ujarnya.

Untuk prestasi, Komar akan memberi tekanan (heavy) pada sport science dalam hal ini boxing science. “Hanya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi serta ilmu pengetahuan, kita bisa mendongkrak prestasi secara terukur. Dukungan sains olahraga tinju, tidak hanya untuk atlet tetapi juga unsur pelatih,” tegas Komar.

Sedangan untuk sustainability (keberlanjutan), Komar menekankan pada aspek pembinaan usia dini. Ada banyak program untuk itu. bisa melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, atau dengan inovasi  membentuk “perkampungan tinju” di seluruh Tanah Air. Bisa pula dengan semangat “satu desa satu sasana”. “Kita lihat nanti kondisi riil di tubuh PB Pertina. Seberapa dalam pedal gas mampu diinjak,” ujar Komar sambil tertawa.

Mayjen TNI Isack Markus, pendamping yang mendapat tugas dari KS/Bersatu Hati dengan ketua bidang bin pers Pengda Pertina Papua Beni Maniani yang masuk kubu Bersatu Hati.

Sport Science (Boxing Science) dan pembinaan usia dini (youth program), adalah dua hal mendasar yang mutlak harus mendapat perhatian serius Pertina ke depan. Sedangkan dua hal lagi, adalah manajemen yang akuntabel serta adanya sarana dan prasarana memadai.

“Kita ingin transparansi. Jangan ada dusta di antara kita. PB dan Pengda harus bahu-membahu, kerja sama meraih target yang kita canaangkan bersama. Setiap daerah memiliki karakteristik berbeda dengan daerah lain. Penanganan pun harus spesifik,” papar KS.

Point yang hendak disampaikan KS adalah “modernisasi organisasi”. Dengan begitu, akan lahir program kerja yang juga modern. “Modern dalam arti kontekstual atau sesuai dengan perkembangan dunia tinju amatir di dunia,” katanya.

Komar ingin, tinju kembali menjadi olahraga favorit ketiga di Indonesia, setelah sepakbola dan bulutangkis. “Melalui kerja total dan program yang sistematis, kita bisa,” tekadnya

Tanpa kerja keras tidak mungkin, karena posisi kita sudah tertinggal dibanding negara lain. Tanpa program modern juga sulit karena itu bertentangan dengan putaran zaman. “Kita akan tergilas kalau tidak paralel dengan kemajuan,” pungkas Komaruddin Simanjuntak. (roso d)