Menyantap ‘Ndas’ Manyung…

 Menyantap ‘Ndas’ Manyung…

BENTUK sajiannya, sekilas “nggilani”…. Tapi, jangan dilihat bentuk sajiannya, cicipi mulai dari kuah mangut, lantas ambil secuil dagingnya, selanjutnya biar lidah yang bicara….. Itulah cara jitu bagaimana menikmati masakan khas Pantura Jawa Tengah yang bernama mangut ndas ikan manyung. Ndas artinya kepala.

Dahulu itu….

Ndas ikan mangut tidak banyak dikonsumsi. Masyarakat hanya mengambil dagingnya yang tebal, lalu membuatnya menjadi ikan asin jambal roti. Ya, kalau Anda pernah dengar ikan asin jambal roti, sejatinya itu terbuat dari daging ikan manyung.

Ikan Manyung dikelompokan sebagai ikan demersal besar. Bentuk badan ikan ini memanjang, kepala picak (gepeng), bersungut tiga pasang (dua pasang pada rahang bawah dan satu pasang pada rahang atas). Ciri khusus ikan manyung adalah dimilikinya adipose fin, yaitu sirip tambahan berupa lemak yang terletak dibelakang sirip dorsal.

Ikan manyung bisa tumbuh hingga ukuran besar. Ikan ini sering tertangkap memiliki panjang 25 – 70 cm, namun ada yang mencapai panjang hingga 150 cm. Berat ikan manyung antara 19 kg sampai 50 kg. Nah, bayangkan, segede apa kepalanya. Bayangkan lagi, seperti apa bentuknya ketika disajikan di atas piring.

Yang menjadikan masakan ini khas, sejatinya pada aroma asap. Ya, sebelum diproses mangut, kepala manyung diasap terlebih dahulu. Menu makanan bersantan ini, banyak dijumpai di wilayah Pantura Jawa Tengah, khususnya di daerah Pati dan Rembang. Meski begitu, sejumlah restoran di Semarang dan kota-kota lain, ada juga yang menyajikannya.

Satu porsi kepala manyung, dibanderol Rp 41.000. Ini di rumah makan sekitar Juwana, Rembang. Jika Anda melintas Pantura Jawa Tengah, selepas Pati, maka di kiri jalan akan dijumpai banyak sekali warung makan kepala ikan manyung. Harga satu warung dan warung lain, tak jauh beda. ***

admin Jayakarta