Feature
Makan-makan di Rumah Egy Massadiah
Sebuah undangan masuk ke WA di hari Jumat (16/1/2026), agar esok harinya, Sabtu (17/1/2026) mampir ke rumahnya, pagi jam 09.00 – 11.00 – jika ada kesempatan. Saya menduga undangan untuk syukuran, pengajian, berbagi dengan anak yatim, peresmian pesantren atau semacamnya. Lantaran yang mengundang adalah jurnalis era 1990-an, Egy Massadiah – sahabat lama – yang beberapa waktu terakhir hanya terhubung ke WA – saya penuhi dengan senang hati.
“Dimas datang paling awal,” katanya, di rumah setinggi empat lantai, dengan luas tanah 800 meter itu, yang gaya arsitek terbuka di kawasan Sawangan, Kota Depok. Saya dijemput stafnya di pinggir jalan, karena mobil online, yang saya tumpangi salah masuk ke gang sebelah. Dia sedang menggoreng risol di dapurnya, ketika masuk rumahnya. “Pakai sepatunya, ini rumah bukan masjid,” katanya.
“Saya biasa ngumpulin teman-teman menyambut tahun baru. Tapi karena tahun baru saya tengok anak, jadi baru sempat sekarang ini,” katanya. Anak tunggalnya kuliah di London, dan malam tahun baru dia menghabiskan di sana dalam cuaca merosot di titik nol. “Dingin sekali,” katanya. Dengan istrinya dia sudah berpisah, sehingga di rumah besar kini menjomblo – setidaknya pengetahuan saya sejuh itu – selama ini.
“Kita makan-makan saja, teman teman WI, Teater Mandiri, IKJ nanti pada datang. Teman jurnalis lain juga,” katanya. WI adalah tabloid “Wanita Indonesia”, dimana dia pernah bekerja di sana, dan di sana saya berkenalan.

Meja ruang makan sudah terhidang berbagai hidangan khas Sulawesi Selatan, lantaran tuan tumahnya orang Bugis. “Ada kiriman dan sebagian saya masak sendiri,” katanya. Ada Buras, Sokko Mandoti, Barongko, Coto Makasar, selain ayam panggang, perkedel jagung, udang goreng, ikan mas bakar, lalapan, dll. Kopi teh juga hadir, tamu dipersilakan mengaduk sendiri.
Egy Massadiah adalah jurnalis era 1990-an yang rajin menjaga silaturahmi. Dia mantan anak teater yang luntang-lantung di Jakarta, menghabiskan malam-malam dengan perut lapar dan capek – sehabis latihan. Mengikuti jejak seniornya, Putu Wijaya, menulis di media untuk bertahan hidup, lalu bergabung ke tabloid Wanita Indonesia (awal terbit 1989), menjadi orang dekat Tutut Suharto.
Lama tak kontak, saya sempat mendengar dia menjadi staf ahli Kantor Wakil Presiden, mendampingi HM Jusuf Kalla, bersahabat dengan Letjen Purn Doni Monardo (alm), yang membawanya ke BNPB dan kemudian jadi komisaris BUMN. Kami jumpa lagi di acara Putu Wijaya di ruang HB Jassin – TIM, tahun lalu. Sejak itu pertemanan lama nyambung lagi.
“Sebenarnya saya sempat masuk KSP. Saya mundur per 1 Desember 2025 lalu,” katanya. KSP adalah Kantor Staf Presiden yang kini dipimpin M. Qodari. Sekarang Egy dapat tugas baru, sebagai Tenaga Ahli Utama Menteri pada Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia. Acara makan-makan siang kemarin itu merupakan bagian dari syukuran juga.
“Dulu saya mendatangi warga di lokasi bencana, sekarang saya mendampingi teman-teman TKI yang bermasalah, kena musibah juga di luar negeri,” tuturnya. Kerja lapangan sangat disukainya, karena memberikan manfaat langsung dan bisa dilihat hasilnya.
“Sejauh ikut agency yang benar, ikut prosesur resmi, TKI terjamin keselamatannya. Yang bermasalah seperti di Kamboja itu, karena di luar jalur resmi,” katanya. “Untuk TKI, negara hadir,” tegasnya, setengah promosi.
Egy Massadiah merupakan jurnalis yang melenting tinggi masuk orbit kekuasaan dan tidak turun-turun. Berhubung dia sahabat saya, dan dia tak melupakan teman teman lama – dua, tiga kali ngajak ngafe – saya mendoakan agar dia tetap di atas sana.

Satu per satu teman lama berdatangan. Kejutan datang ketika Sylvana Herman, artis film dan sinetron era 1990an, anggota Teater Mandiri, muncul berhijab. “Terima kasih Ano mau datang,” Egy menyambut gembira. Keduanya cipika cipiki.
“Aku pernah main ke rumahmu di Kampung Bali,” saya menembaknya. “Ya, Allah kita ketemu di sini,” sambutnya riang. Saya menanyakan kabar Ita Purnamasari sahabatnya di grup “Tiga Dara”. Ano langsung menghubungkan dengan Hp-nya. “Senang bisa ngobrol lagi,” kata Ita di seberang sana. “Saya dan Ano mau ke Surabaya besok,” kata istri komposer Dwiki Darmawan itu.
Tamu lain berdatangan menyusul. Ada Bejo Sulaktono, sutradara dan pengajar IKJ, Sinyo Rudi Pulingala, aktor IKJ asal Toli Toli, Elvira Herman, kakak Sylvana Herman. Belakangan muncul wajah familiar, aktor Arswedy Nasution, yang kini berganti nama menjadi Arswendy Bening Swara. Kenapa ganti nama? ”Habis, kata teman teman nama marga susah dijual,” jawab aktor senior yang sedang laris ini, agak berseloroh.
“Dia teman saya di teater, teman zaman luntang-lantung,” kata Egy mengenang masa lalunya. “Dari dulu, Egy suka masak memasak,” sambut Arswedy menimpali, sembari mencicipi satu per satu di meja.

Kejutan lain di rumah Egy Massadiah adalah bertemu dengan Roso Daras, jurnalis “Jawa Pos” dan koran “Jayakarta” yang banyak mengulas kehidupan Bung Karno. Pernah ke Tokyo juga menyambangi kediaman Ibu Dewi Sukarno. “Saya orang Kebumen,” katanya. Lha, ternyata “tanggane dewek” – tetangga sendiri. Saya bilang padanya, saya orang Banyumas. Obrolan makin ‘gayeng’.
Karena dia memahami Bung Karno luar dalam, kuat risetnya, dan banyak menulis buku juga tentang Bung Karno, maka saya mengkonfirmasi ucapan almarhum Permadi, SH. “Megawati itu anak biologis Bung Karno, bukan anak ideologis Bung Karno. Apa pendapat sampean?” tanya saya.
“Betul, saya sepikiran dengan Pak Permadi SH,” katanya. Dia mengungkapkan, dengan membawa buku-buku karyanya, dia pernah bertemu Mendagri Tjahjo Kumolo (saat menjabat Menteri Dalam Negeri) dan menjumpai anak anak Bung Karno saat hendak mendirikan Yayasan Aku dan Sukarno. Kurang lebih ia mendapat sinyal begini, “kalau mau dapat dukungan (termasuk finansial) gabung saja dengan Yayasan Bung Karno, milik keluarga atau bernaung di bawah organ partai. “Saya menolak, saya independen, saya tidak mau masuk partai,” katanya tegas.
Kembali ke ruangan, Egy menyatakan, makanan di meja boleh dibungkus, karena rumah itu rumah singgah dan yang menjaga rumah hanya satu orang. Dia membawa plastik pembungkusnya dari dapur. Ibu ibu yang hadir pun sigap memindahkan hidangan di meja dan membungkus hidangan spesial yang ada. Termasyuk Sylvana Herman.
“Di mana mana kita ketemu ‘Kolombus’, Kelompok Ibu-Ibu Suka membungkus,” seorang tamu teriak. Kami semua ketawa ngakak. (Dimas Supriyanto)

Bedjo Soelaktono
January 21, 2026 at 10:03 am
Sebuah kebiasaan yang baik, cermin adab nusantara’ yang guyub…