Connect with us

Kabar

Ketika “Sastra Indonesia” dan “Sastra Jawa” Meluncur Bersama

Published

on

Yupi (penulis dari Magelang), dan poster kegiatan.

Cerpen, novel, dan puisi masuk dalam ragam “sastra Indonesia”. Sedangkan, Sastra Jawa meliputi cerkak (cerpen) dan geguritan (puisi).

Kedua jenis sastra ini akan meluncur bersama di momentum Sastra Bulan Purnama edisi ke-173, Sabtu (14/2/2026). Pada hari itu, empat buku akan diluncurkan bersamaan. Pertama, buku geguritan “Pandongaku Tumeka Biyung” karya Komunitas Melati Rinonce.

Kedua, kumpulan cerkak “Saka Papan Wingit Nganti Nalika Nunggu Terange Udan”, juga merupakan karya Komunitas Melati Rinonce.

Ketiga, buku geguritan “Kluwung Ing Langit Prambanan” . Keempat, kumpulan cerpan berjudul “Ketika Musim Mangga Berbunga”. Buku ketiga dan keempat merupakan karya Sriyanti S. Sastroprayitno.

Peluncuran keempat buku, seperti bulan-bulan sebelumnya, berlangsung di Museum Sandi, Kotabaru, Yogyakarta, pukul 15.30 WIB sampai selesai. Panitia memberi tajuk acara “Melati Rinonce Ruwahan Sastra di Bulan Purnama”.

Dari 60 orang anggota Komunitas Melati Rinonce, 39 di antaranya menulis dalam 4 buku yang diluncurkan. Uniknya, mereka tinggal di kota yang berbeda-beda. Misalnya, Anny Rochmayanti (Gunung Kidul), Asih Istie (Wonosobo), Awesti Tunggo Ari (Yogyakarta), Nury Ebs (Kediri), dan Dhiyah Endarwati (Kendal).

Nama-nama lain, ada Christina Sri Purwanti (Yogyakarta), Ekapti Lenda Aneta (Surabaya), Emi Sudarwati (Bojonegoro), Endang Wahyuningsih (Yogyakarta), dan Ety Wuryani yang tinggal di Timur Tengah, tepatnya di Kuwait.

Anggota komunitas lain yang turut andil menulis, adalah Eyang Nani (Purbalingga), Ika Zardy Saliha (Kulonprogo), Lidya (Semarang), Ngatinah (Sleman), Ninuk Retno Raras (Sleman), Novi Indrastuti (Yogya), dan Nyai Dewi Bardal Dersonolo (Kulonprogo) yang dikenal sebagai pegiat budaya Jawa.

Nama-nama lain adalah, Ruruaksa (Sukoharjo), Nurrohmah Puji Astuti (Nganjuk), Prapti Ciprut (Banyumas), Rini Tri Puspoharsini (Salatiga), Saras Septy Latifah (Bantul), Setyaningtyas Adi (Magelang), Sri Asih (Pasuruan), Sriyanti SSP (Semarang), Sudinem (Bantul), Sulis Bambang (Semarang), dan Suprihatin (Bantul).

Sriyanti “Yanti” Sastroprayitno dan Sulis Bambang. (ist)

Berikutnya, ada Suratmini (Salatiga), Teguh Purwantari (Kulonprogo), Tentrem Lestari (Magelang), Tin Agus D (Pacitan), Tino Jooshe (Sidoarjo), Umi Rokhayani (Ngawi), Ummi Azzura Wijana (Magelang), Widharningsih (Semarang), Windu Setyaningsih (Purbalingga), Yupi (Magelang), dan Yustina Sri Warsiki (Yogya).

Ons Untoro, Koordinator Sastra Bulan Purnama (SBP) menyampaikan, bahwa SBP terbuka terhadap karya sastra yang ditulis menggunakan bahasa lokal, dan bukan hanya Bahasa Jawa. Di Jawa, masih banyak ditemukan penulis sastra yang menulis geguritan dan cerkak, karena itu perlu diberi ruang.

“Dalam kata lain, sastra Indonesia dan sastra Jawa mendapat tempat yang sama di Sastra Bulan Purnama,” ujar Ons Untoro.

Sementara, Sriyanti Sastroprayitno menyebutkan, Melati Rinonce berdiri tanggal 5 Februari 2022, sehingga pada tahun ini ulang tahun ke-4. Moment bahagia itu diperingati dengan menerbitkan buku Melati Rinonce#5. Selama 4 tahun ini, Melati Rinonce  sudah menerbitkan 11 buku sastra.

Melati Rinonce diprakarsai oleh empat penulis: Ninuk Retno Raras, Windu Setyaningsih, Endang Wahyuningsih dan Sriyanti S. Sastroprayitno (yang kemudian menjadi koordinator). “Menginjak tahun kelima ini, anggotanya kurang lebih 60-an orang,” kata Sriyanti Sastroprayitno. (*)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement