Ketika Rano tak Legowo

 Ketika Rano tak Legowo

SEDIKITNYA tiga lembaga survei tingkat nasional, dalam quick count Pilkada Banten, mengunggulkan pasangan nomor urut satu, Wahidin Halim – Andika, atas pasangan nomor urut dua, Rano Karno – Embay. Bukan hanya itu, berdasar hasil real-count di KPUD Provinsi Banten, hasil ruvei itu tidak berbeda, dengan menempatkan Wahidin – Andika unggul tipis atas Rano – Embay.

Itu satu hal. Hal kedua adalah, adanya komitmen kampanye damai, serta statemen “siap menang dan siap kalah” yang diucapkan kedua pasangan sebelum memulai putaran kampanye dulu.

Apa yang terjadi kemudian, Rano Karno tidak legowo. Bukannya menenangkan massa pendukung dengan statemen yang adem, sebaliknya justru menyerang KPUD dan melemparkan tuduhan adanya kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan masif. “Menjadi aneh, karena yang incumbent itu pak Rano, bukan calon yang kami dukung,” ujar Ramdan Alamsyah, kuasa hukum Wahidin Halim, di Tangerang, baru-baru ini.

Ramdan menambahkan, tudingan kecuragnan pilgub yang terstruktur, sistematis dan masif, justru seperti menepuk air di dulang. Seperti orang menunjuk dengan telunjuk, sementara empat jari lain mengarah kepada dirinya. “Tuduhan itu bagi kami adalah fitnah yang keji dan menunjukkan bahwa pasangan ini tidak komit terhadap pernyataan yang pernah dibuat bersama yakni siap menang dan siap kalah,” ujar Ramdan.

Menurut Ramdan, opini kecurangan ini dibangun, diduga kuat sebagai upaya pembentukan opini menyesatkan dan menimbulkan keresahan di masyarakat Banten. Hal itu mengajarkan warga Banten tidak dewasa, tak legowo dan tidak berjiwa besar mengakui kemenangan kandidat lain. “Kami mengimbau agar masyarakat Banten tidak terpancing dengan isu tidak baik tersebut,” ucapnya seraya menambahkan, “juga kami minta timses pak Rano dan pak Embay dewasa dan legowo menerima kekalahan. Mari bangun Banten sama-sama, jangan memecah-belah rakyat.” ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *