Jiwa Bhayangkara “Do The Best in Everything”

 Jiwa Bhayangkara “Do The Best in Everything”

Iptu Christin Malahayati Simanjuntak, Kapolsek Medan Tuntungan. (foto: monang sitohang)

Iptu Christin Malayahati Simanjuntak

JAYAKARTA NEWS – Humble, supel dan ceria terlihat dari karakter Kapolsek Medan Tuntungan, Iptu Christin Malahayati Simanjuntak, SS di saat awak media Jayakarta Newes berkesempatan berbincang-bincang di ruang kerjanya di Polsek Tuntungan, Kota Medan beberapa waktu lalu.

Iptu Christin lahir 40 tahun lalu di rumah sakit Malahayati Medan, tepat di tahun baru 1 Januari 1982, anak dari G. Simanjuntak dan Siti Nurbaya Sianturi. Sejak kecil Iptu Christin sudah berccita-cita menjadi polisi. Di benaknya, menjadi anggota Polri itu gagah, apalagi untuk seorang perempuan. Sebuah profesi yang beda.

Jiwa “bhayangkara” pada diri Christin, kiranya tiupan doa orang tua yang dipatrikan ke dalam namanya: Christin Malahayati Simanjuntak. Malahayati adalah perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Nama lengkapnya Keumalahayati.

Pada tahun 1585–1604, Malahayati memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV. Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid) berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda tanggal 11 September 1599 sekaligus membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal. Dia mendapat gelar Laksamana untuk keberaniannya ini, sehingga ia kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati.

Nah, kembali ke sosok Christin Malahayati. Cita-citanya menjadi bhayangkara negara terwujud saat ia diterima menjadi anggota Polri tahun 2004. Awalnya ia mendaftar di Polres Binjai, lalu mengikuti tahap demi tahap akhirnya lulus. “Puji Tuhan, sekali mencoba saya lulus. Kemudian mengikuti sekolah Polwan Bintara di Ciputat Jakarta Selatan, dan tamat di 2005 pertengahan,” ujar Kapolsek Tuntungan yang fasih berbahasa Inggris itu.

Setelah lulus menjadi Bintara Polwan Christin ditugaskan pertama kali di Polres Tanah Karo, Sumatera Utara di bagian Bagops (bagian operasional) sebagai unsur dan pembantu di bawah Kapolres. Kemudian seiring waktu dipindahkan di fungsi-fungsi lain.

“Jadi selama bertugas di Polres Tanah Karo fungsi yang paling lama saya emban itu sebagai penyidik pembantu di Reserse khususnya Unit Pelindungan Perempuan dan Anak (UPPA), hampir empat  tahun. Saya juga pernah menjabat sebagai staf pribadi Kapolres Tanah Karo untuk 3 Kapolres,” tambah Iptu Chirsitin yang memiliki hobby membaca.

Dua-belas tahun bertugas di Polres Tanah Karo (2005 – 2017) ia mengikuti sekolah Inspektur Sekolah Polisi (ISP) di Sukabumi, Jawa Barat 2017. “Tahun 2016 juga ikut, tapi tidak berhasil, dan baru tahun 2017 saya lulus dan menjadi perwira,” ujarnya.

Suaminya, juga anggota Polri bernama Aiptu (Ajun Inspektur Polisi Satu) Rolas Sitanggang, dan bertugas di unit Samsat Polres Tanah Karo. Ia juga pernah menjadi ajudan untuk tiga Kapolres Tanah Karo. Mereka dikaruniai satu putri bernama Carlin Fausta Andriana Sitanggang, sekarang umur 8 tahun kelas 3 SD di Antonius I di Jalan Sriwijaya, Medan.

Iptu Christin Malahayati Simanjuntak bersama suami dan anak semata wayangnya. (foto: dokpri)

Tekan Level Covid

Ada satu kenangan, saat ia beroleh penghargaan. Saat ia sudah perwira dan berdinas di Binmas Polda Sumut sebagai PS Paur Simbilat Satpam, atau Perwira Urusan Pembinaan Pelatihan Satpam di bawah Direktorat Binmas Polda. Suatu saat ia mendapat tugas dari Kapolda Sumut Irjen Pol Drs RZ Panca Putra Simanjuntak, selama dua minggu BKO ke Polres Pematang Siantar bersama satu peleton Polwan yang berjumlah sekitar 15 orang. Christin menjadi perwira pendamping.

Dua minggu di Polres Pematang Siantar, mereka berkolaborasi dengan personel Polres setempat serta stakeholder lain, dalam rangka membantu menurunkan status Pematang Siantar dari Level 4 menjadi Level 2, daerah dengan paparan Covid-19 tertinggi. Christin dan tim bekerja keras. Tiap hari turun ke pasar tradisional atau pajak horas, ke terminal, dan permukiman-permukiman padat hingga ke rumah sakit dan tempat kerumunan lain.

Kegiatan sosialiasi 3M itu dilakukan menggunakan kendaraan operasional keliling yang disiapkan Polda. “Tugas kami membagi-bagikan masker. Saya memakai pengeras suara, masuk ke kerumunan orang dan melakukan imbauan-imbauan agar masyarakat mentaati protokol kesehatan,” ujarnya.

Kerja keras itu berbuah hasil. Dalam waktu dua minggu, angka paparan covid-19 di Pematang Siantar menurun drastis, hingga statistik paparan bisa turun ke level 2. Di lapangan, Christin juga melihat mulai ada kesadaran masyarakat. Terbukti, mereka tidak lagi berkerumun. “Ternyata kinerja kami dipantau unsur pimpinan, dan dinilai berhasil sehingga mendapat penghargaan,” kata Christin senang.

Penghargaan langsung diproses oleh Direktur Binmas ke Kepala Biro SDM Polda Sumut, hingga akhirnya berbuah jabatan. “Tapi bukan berarti langsung dapat jabatan Kapolsek. Sebab, untuk menjabat Kapolsek juga harus melalui assessment khusus. Saat assessment ada 10 calon, dan saya ranking dua dan menjadi satu-satunya dari unsur Polwan,” ujarnya bangga.

Setelah melalui jalan panjang, akhirnya Christin dipercaya menjabat Kapolsek Medan Tuntungan semasa Kapolda Irjen Pol Drs R.Z. Panca Putra Simanjuntak.

Christin beroleh penghargaan kembali dari grup pewarta Polrestabes Medan, seizin Kapolrestabes Medan atas prestasi capaian vaksinasi lansia 100 persen. Dua kali beroleh penghargaan, dan kesemuanya berkait erat dengan jasa besarnya di bidang penanganan pengendalian Covid-19.

Mundur ke belakang, ke tahun 2019, Christin juga punya kisah menarik saat mengikuti lomba MC berbahasa Inggris dalam rangka HUT Polwan ke-71. Lomba berlangsung di seluruh jajaran Polri, termasuk Polda Sumut. “Di Sumut, yang ikut enam peserta. Puji Tuhan, saya juara satu. Jurinya dosen-dosen komunikasi, dosen bahasa Inggris, dan public speaking yang rata-rata bergelar master dan doktor,” katanya.

Christin lalu diberangkatkan ke Jakarta mengikuti lomba MC berbahasa Inggris tingkat Mabes Polri (nasional) yang diikuti 41 peserta dari seluruh Indonesia. Jurinya dari Mabes Polri, dan dihadiri Kasat Polwan se-Indonesia. Pada tahap pertama, Christin lolos ke 10 besar. Saat seleksi menjadi tiga besar, Christin gugur. “Cukup memuaskan, sebab saya satu-satunya peserta tanpa teks,” katanya.

Cukup beralasan jika Christin pandai berbahasa Inggris. Alumni Universitas Methodist Indonesia, Medan itu, sejak remaja sudah mendalami bahasa Inggris. Bahkan sejak lulus SMA, Christin sudah mengajar bahasa Inggris di tujuh lembaga kursus bahasa Inggris yang berbeda mulai dari Binjai sampai Medan. “Dari kegiatan mengajar itulah saya bisa membayar uang kuliah,” katanya.

Tak hanya itu. Christin juga ternyata mahir olah vokal. Itu pun dimanfaatkannya untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan menyanyi di grup-grup band lokal yang sering diundang di acara-cara pernikahan dan acara-acara perkantoran. “Untuk urusan nyanyi, saya pernah pentas di kantor walikota Binjau, kantor kejaksaan, bahkan sampai ke Aceh,” tambahnya.

Dalam meniti karier di Polri, ia termotivasi oleh satu sosok Polwan senior bernama Brigjen Pol Purn Hj. Rumiah Kartoredjo, S.Pd. Ia adalah sosok Polwan yang bisa memimpin. Terbukti, dalam bentang karier, Jenderal Polwan Rumiah pernah menjabat Kapolsek, Kapolres, hingga Kapolda. “Beliau sangat menginspirasi, sekaligus menjadi motivasi bagi saya, dan tentu bagi Polwan-polwan yang lain. Bagaimana kita maksimal melakukan tugas-tugas menjaga Kamtibmas,” ujarnya.

Sosok lain yang ia kagumi adalah para motivator, baik motivator visual maupun motivator buku. Di antaranya Mario Teguh, Merry Riana, dan lain-lain.

Kapolsek Medan Tuntungan, Iptu. Christin Malahayati Simanjuntak, SS bersama putri semata wayangnya, Charlene Fausta Androanna Sitanggang. (foto: dokpri)

Polsek Tuntungan

Ihwal Polsek Tuntungan, disebutkan sebagai Polsek yang relatif baru. Berdiri April 2021 sebagai Polsek Type D Prarural yang bisa diduduki oleh perwira berpangkat Ipda senior. Dan saat Christin mejabat, naik pangkat Iptu. Ia memimpin 33 perseonel. Wilayah binaannya terdiri atas 9 kelurahan.

“Kami tidak memandang type Polsek, melainkan fokus pada tugas-tugas pokok serta kegiatan-kegiatan apa yang kita munculkan untuk pelayanan terbaik kepada masyarakat,” tuturnya.

Hal utama yang ia lakukan adalah menjalin komunikasi dengan jajaran pers, agar semua kegiatannya terekspos ke publik. “Sebab, sinergi dengan media adalah program mulai dari Mabes Polri hingga ke tingkat Polsek,” katanya.

Karena itulah, selama menjalankan program Vaksinasi Presisi, pihaknya gencar mengkomunikasikan kepada masyarakat melalui jalur media. Termasuk upaya-upaya yang dilakukan Christin dalam menggenjot target maksimal pencapaian target vaksinasi. “Saya menyentuh para lurah dan kepala-kepala lingkungan. Langsung tatap muka dan melakukan sosialisasi,” tambahnya.

Selain itu, Christin juga mengunjungi para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda dan unsur-unsur masyarakat lain. Di samping, tentu saja berkolaborasi dengan Koramil dan Kecamatan.

Di luar urusan vaksinasi presisi, Kapolsek Christin juga menaruh perhatian terhadap daerah-daerah binaan yang terbilang rawan kejahatan. “Di beberapa kelurahan yang memiliki angka kejahatan tinggi, saya rutin turun menjumpai lurah dan tokoh masyarakat. Intinya, bagaimana mengedepankan upaya preventif atau pencegahan terjadinya kejahatan,” ujar Christin pula.

Ditambahkan, jenis kejahatan terbanyak di wilayah Tuntungan adalah pencurian kendaraan bermotor (curanmor), pencurian kabel, dan penganiayaan. “Pendekatan yang kami lakukan adalah pendekatan humanis. Kami menyentuh sisi-sisi kemanusiaan untuk menekan angka kriminalitas,” tegasnya.

Ditanya ihwal cara, ia menyebut contoh saat anggotanya turun ke tengah masyarakat menggunakan pengeras suara. Melalui kendaraan dinas, mereka berhenti di depan pasar, kantor bank, apotek, dan keramaian lain, lalu mengimbau agar masyarakat menjaga dan mengamankan kendaraan bermotornya. “Dari beberapa kasus kejadian dan hasil analisa berdasar TKP, kejadian curanmor acap terjadi di lokasi yang tidak ada tukang parkirnya, seperti di minimarket, apotek, dan parkiran umum,” papar Christin.

Tak Kenal Lelah

Selain sosialisasi, Chrisin juga mengumpulkan para Bhabinkamtibmas dan diminta seminggu tiga kali wajib melakukan penyuluhan di area tempat ia bertugas. “Para Bhabinkamtibmas dan anggota yang lain saya selalu menekankan supaya tidak kenal lelah. Jika ingin sukses menekan angka kriminalitas, maka kita harus bekerja tak kenal lelah,” katanya.

Salah satu keberhasilan yang pernah ditorehkan saat menggelar operasi Nataru, jelang Natal dan Tahun Baru, akhir 2021 yang lalu. Semua pihak turun dan berkolaborasi. Tampak dari unsur kecamatan, unsur Koramil, para lurah dan kepala lingkungan, hingga anggota Satgas Covid.

Salah satu operasi yang digelar adalah operasi penyakit masyarakat. Sasarannya adalah hotel-hotel melati, untuk menjaring pelanggaran susila. Saat itu, terjaring 14 pasangan bukan suami istri. Mereka lalu diberi pembinaan di Polsek Tuntungan.

Kegiatan lain adalah program penyuluhan anti narkoba serta percepatan vaksinasi di kantor Kecamatan Medan Tuntungan. “Kami undang para kepala sekolah, orang tua, kepala lingkungan, dan tomoh masyarakat, termasuk ibu-ibu PKK,” katanya.

Kapolsek Christin berpesan kepada setiap diri kita sebagai warga negara, agar bisa menjadi polisi bagi dirinya sendiri. Contoh kecil, beri pengaman ekstra pada sepeda motor atau kendaraan bermotor kita. Atau, patuhi prokes untuk dan atas nama kesehatan pribadi dan orang-orang sekitar kita.

Motto hidupnya “do the best in everything” yang artinya lakukan yang terbaik dalam segala hal. Penjabaran lebih lanjut, lakukan semua tugas dengan segenap kemampuan, dengan sebaik-baiknya. Semua yang sudah kita upayakan dengan kerja keras dan dedikasi terbaik, akan bermuara pada hasil yang baik. “Motto itu bahkan saya tulis di buku harian. Sebab, zaman saya SMA belum ada HP,” kata Christin sambil tertawa.

Motto hidupnya terinspirasi oleh Albert Einstein yang antara lain mengatakan, “berilah nilai pada prosesnya, bukan pada hasilnya”.

Dari Mario Teguh Golden Ways ia mencatat inspirasi untuk membangun pikiran-pikiran positif agar menjadi pribadi yang juga positif. Dengan begitu, kita bisa menjadi pelayan masyarakat yang baik dan lebih bermanfaat. (monang sitohang)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.