Gulali, Ogah Punah

 Gulali, Ogah Punah

KANG Dede, begitu lelaki ini akrab disapa, telah membuat para manula  tertawa ceria mengenang masa kecil ketika gemar jajan aneka makanan di warung. Hanya dengan uang beberapa ratus rupiah mereka sudah bisa membeli beberapa makanan dan mainan. “Ha…ha…ha…ini makanan masih ada aja,” ujar seorang bapak sambil menunjuk gulali kacang yang dipajang di stand ‘Sunda Unik’.

Aneka jajanan tempo dulu.

“Salah satu misi kami ketika memulai bisnis ini adalah melestarikan jajanan unik tempo dulu agar tidak punah oleh jajanan impor. Kepada generasi muda kita ingin memperkenalkan bahwa nenek moyang kita telah menciptakan aneka makanan unik. Kita ingin generasi muda kita tahu hal itu dan bisa menikmatinya,” ungkap Kang Dede yang bernama lengkap Dede L. Wiratmadinata.

Sebagaimana kita tahu, jajanan warung yang populer pada era 70 hingga 90-an ini, begitu digemari. Sebut saja, gulali kacang, permen kayu, angleng, keremes arum manis, sagon, permen telur cicak, dll.

Namun seiring waktu, perlahan jajanan itu hilang satu persatu bahkan kini sangat langka. Kalaupun ada yang menjual biasanya di toko-tokok jajanan oleh-oleh, tapi itu pun hanya beberapa jenis.

“Sayangnya, setelah kita telusuri ke berbagai tempat yang dulunya memproduksi, kebanyakan sudah tidak tidak produksi lagi. Usaha itu, yang banyak di antaranya adalah bisnis rumahan, sudah banyak yang mati,” ungkap Kang Dede yang mengaku berburu makanan jadul sampai ke Jawa Tengah.

Jangan lupa, katanya, makanan Jepang yang banyak dikonsumsi oleh orang kita sebenarnya adalah makanan-makanan tradisional mereka. “Itu makanan tradisional mereka tapi kita menganggapnya modern. Jadi kalau mereka (Jepang) bisa melestarikan makanan tradisionalnya bahkan ekspor, kenapa kita tidak? Kita pun harus begitu, melestarikan makanan khas Indonesia, memelihara jajajan tempo dulu karya nenek moyang,” katanya bersemangat. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *