Gelombang Sejarah di Pojok Utara Malioboro

 Gelombang Sejarah di Pojok Utara Malioboro

HOTEL di pojok utara Jalan Malioboro Yogyakarta itu, kini bernama Grand Inna. Sejatinya, hotel ini memiliki sejarah panjang. Ia bahkan pernah menjadi kantor kabinet, ketika Presiden Sukarno memindahkan ibukota negara dari Jakarta ke Yogyakarta, tahun 1946. Tak kurang dari Panglima Sudirman pernah berkantor di sini selama dua bulan.

Mengunjungi dan menginap di Hotel Grand Inna, tak ubahnya melarutkan diri dalam suasana sejarah masa lalu. Hotel tua tetapi terawat dengan sangat baik itu, terbilang murah untuk kategori hotel bintang empat dan berada di pusat kota Yogyakarta. Posisinya kurang lebih ada di tengah-tengah antara Tugu dan Keraton Yogyakarta. Dan, segelas wedang uwuh, menjadi welcome drink yang hangat.

Ke mana pun pandangan mata dilayangkan, kental pemandangan klasik. Tergambar dari lukisan besar di ruang lobby bagian atas. Sepeda onthel dipajang di sebuah sudut tak jauh dari counter resepsionis. Foto-foto tua berjejer adalah pemandangan berikutnya.

Di balik tembok resepsionis, tertata apik satu set gamelan. Nun di dinding sebelah barat, terpajang wayang kulit satu set, seolah siap dimainkan pak dalang. Di sebelahnya, sebuah baby piano bertengger anggun. Setiap malam, mulai pukul 19.00, seorang pianis pria melantunkan nada-nada ritmis.

Sejenak duduk di sofa memandang ke arah barat, terbayang betapa kokoh bangunan ini. Catatan sejarah di dinding menyebut, hotel ini dibangun tahun 1908. Tiga tahun baru selesai, dan dioperasikan tahun 1911 oleh pengusaha Belanda, tentunya. “Nama lahir” hotel ini adalah “Grand Hotel The Jogja”. Tahun 1938, dilakukan penambahan sayap bangunan utara dan selatan.

Jepang masuk, Belanda kabur. Hotel ini pun dikuasai Jepang dan diganti nama menjadi Hotel Asahi. Seumur jagung saja, karena pada tahun 1945, Indonesia merdeka dan menghapus nama Asahi dan mengganti dengan nama Hotel Merdeka. Sebuah euforia kemerdekaan pada zamannya.

Sempat sebentar menjadi kantor kabinet, hingga kemudian difungsikan kembali sebagai hotel. Tahun 1950, pemerintah mengganti nama hotel Merdeka menjadi Hotel Garuda. Baru di Orde Baru, tepatnya 1975, hotel ini diubah status menjadi Badan Usaha Milik Negara dan berganti nama menjadi Natour Garuda.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX, sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, terpatri dalam sebuah prasasti tahun 1984. Itulah momentum yang menandai pengembangan Natour Garuda menjadi 120 kamar dengan meninggikan bangunan tengah menjadi tujuh lantai.

Pada tahun 1991, dilakukan renovasi dan pengembangan kembali menjadi 240 kamar, dan diresmikan Sri Paduka Paku Alam VIII, pada 29 Juni 1991. Yang menarik, terdapat 2 kamar istimewa di sini: kamar 911 dan 912. Ini terkait sejarah MBO (Markas Besar Oemoem) Tentara Keamanan Rakyat pimpinan Panglima Besar Jenderal Soedirman di Natour Garuda ketika itu. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *