Film ‘Cinta Pertama, Kedua, dan Ketiga’ – Keluarga yang Reflektif dan Hangat

 Film ‘Cinta Pertama, Kedua, dan Ketiga’ – Keluarga yang Reflektif dan Hangat

Adegan film ”Cinta Pertama, Kedua, dan Ketiga’ (foto Starvision)

JAYAKARTA NEWS – Apa dan bagaimana keluarga yang harmonis? Bagaimana keluarga bisa terbentuk dalam keadaan tak ideal. Di masa pandemi yang masih mengamuk dan kita disarankan untuk ‘wfh’ – malah lebih banyak yang ‘wfe’ alias ‘work from everywhere – , apa bisa menciptakan sebuah keluarga yang utuh, solid dan harmonis?

Wanita  sutradara Gina S. Noer lewat film barunya bertajuk ‘Cinta Pertama, Kedua, dan Ketiga’ memotret sebuah keluarga yang reflektif dan menghangatkan hati penonton. “Film ini adalah surat cinta untuk banyak keluarga yang selalu berusaha mencari bentuk terbaik dalam keadaan tersulit pun. Di masa pandemi,” kata Gina S. Noer yang sukses membuat film ‘Dua Garis Biru’ menggaet 2,5 juta penonton.

Kisah dua keluarga dengan orang tua  tunggal, anak yang mulai mendewasa di era sandwich generation, dan yang menjadi sibuk mengurus orang tuanya yang sakit alzeimer. Mereka bersua di masa pandemi tetapi tetap bisa ‘lincah berdansa’ di kursus dansa yang sesungguhnya dan juga ‘lihai badonci’ di kehidupan guna menemukan cinta, humor dan harapan yang sebenarnya.

Kepiawaian Gina S. Noer tak perlu diragukan lagi dalam menuturkan kisah reflektif namun tetap renyah  dan  enak ditonton oleh seluruh keluarga. Jujur, karya kedua Gina S. Noer ini mengajak kita untuk bercermin tentang nilai-nilai cinta yang penuturannya sangat indah tapi pesannya sungguh bernas.

Film yang pertama diproduksi pada masa awal pandemi 2020 ini mengetengahkan kisah Raja (Angga Yunanda) dan Asia (Putri Marino). Keduanya mewakili anak yang beranjak dewasa dengan beban tanggung jawab mengurus orang tuanya. Dewa (Slamet Rahardjo Djarot), bapak Raja yang keras kepala, sama seperti anaknya. Raja semakin menjauh karena Dewa menganggap tak memikirkan masa depannya.

Ada lagi kisah Linda (Ira Wibowo) dan puterinya, Asia (Putri Marino) yang saling setia. Linda merasa jadi beban untuk Asia. Di sisi lain, Asia sudah siap mengabdi untuk ibunya. Ini kisah Dewa dan Linda yang jatuh cinta. Raja senang, tapi Asia tidak. Dan keduanya malah jatuh cinta. Ini kisah dua keluarga yang belajar bahwa saat mencintai harus ‘berdansa’ dengan hidup agar bersama bisa menemukan harapan.

Dengan penataan sinematografi oleh Roy Lolang yang seindah warna aslinya serta penataan artistik di tangan Dita Gambiro nan apik dan jernih ikut menunjang nilai lebih film ini. Tak boleh lupa, juga penataan musik oleh Anggi Novalga dan Salman Aristo nan lembut melankolis pas mewarnai dan memperelok karya garapan terbaru Gina S.Noer.

Dalam hal skenario yang ditulis Gina S. Noer, menambah punten, sehingga gerak dan improvisasi para tokohnya boleh dipujikan. Akting Slamet Rahardjo Djarot dan Putri Marino di sini nyaris tak terkalahkan dan tetap di puncak.

Kali ini, seni peran Angga Yunanda dibanding film-film sebelumnya, benar-benar naik kelas. Proficiat untuk Gina S. Noer yang merupakan sineas wanita Indonesia yang berbakat dan layak diperhitungkan.

Walakin, ‘Cinta Pertama, Kedua, dan Ketiga’ adalah sebuah film yang layak ditonton dan layak difestivalkan serta tepat menjadi film penutup Jogja Asia Film Festival (JAFF) Netpac yang dihelat di Jogjakarta, 4 Desember 2021 lalu. Perayaan ini menjadi pemicu semangat di keadaan yang sedang genting tapi penting. (pik)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *