• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Friday, October 2, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

Pengaktifan Jalan Rel, Merajut Konektivitas dan Memacu Pertumbuhan

Pengaktifan Jalan Rel, Merajut Konektivitas dan Memacu Pertumbuhan

admin by admin
April 28, 2026
in Kolom
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Djoko Setijowarno                                            

Reaktivasi jalan rel adalah langkah strategis untuk menyeimbangkan kembali sistem transportasi, memastikan pemerataan akses, dan memicu perkembangan ekonomi berbasis kewilayahan.

Data dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (2026), total panjang jaringan perkeretaapian di Indonesia mencapai 9.178 kilometer. Angka ini terbagi menjadi dua komponen utama, yaitu 6.945 kilometer merupakan jalur aktif yang saat ini beroperasi untuk layanan kereta api, dan sisanya sepanjang 2.233 kilometer adalah jalur non-aktif yang sudah dibangun namun saat ini tidak bisa digunakan, sehingga perlu diaktifkan kembali.

Jaringan perkeretaapian di Pulau Sumatera, total panjang jalur aktifnya mencapai 1.871 kilometer. Sepanjang jalur tersebut, tersedia 146 stasiun sebagai fasilitas pendukung utama. Untuk menunjang mobilitas, angkutan publik ini mengoperasikan 7.032 unit sarana kereta api reguler. Perlintasan sebidang resmi (dijaga) 210 unit, resmi (tidak dijaga) 113 unit dan tidak resmi 507 unit.

Sementara jaringan perkeretaapian di Pulau Jawa, total panjang jalur aktif mencapai 4.921 kilometer. Jalur tersebut didukung oleh 473 stasiun yang tersebar luas dan siap melayani kebutuhan penumpang. Armada kereta api yang beroperasi terbagi menjadi dua kategori utama untuk menunjang mobilitas. Terdapat 5.923 unit sarana untuk layanan kereta api reguler. Ditambah dengan 88 unit sarana yang dikhususkan untuk operasional Kereta Api Cepat.

Guna mendukung keselamatan dan kelancaran perjalanan, perlintasan sebidang dikelola dengan rincian untuk perlintasan resmi dijaga 1.388 unit perlintasan diawasi oleh petugas. Resmi tidak dijaga 1.019 unit perlintasan resmi yang hanya mengandalkan rambu. Dan tidak resmi, terdapat 456 unit perlintasan yang beroperasi tanpa izin dan pengawasan resmi, menjadikannya titik rawan yang perlu penanganan lebih lanjut.

Selain sudah terbangun jaringan perkeretapian di Jawa dan Sumatera, infrastruktur perkeretaapian di Indonesia mulai dikembangkan di wilayah timur, meskipun masih dalam tahap awal. Di Pulau Sulawesi, jalur aktif yang telah beroperasi saat ini mencapai 109 kilometer, didukung oleh 10 stasiun dan dilayani oleh 7 unit kereta yang beroperasi. Sementara itu, di Papua, terdapat 26 kilometer jalur aktif perkeretaapian , namun jalur ini khusus digunakan untuk angkutan barang tambang dan belum melayani penumpang umum.

Koridor Reaktivasi       

Berdasarkan rencana dan program reaktivasi jalur kereta api di Pulau Jawa yang pernah dicanangkan oleh Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA), terdapat beberapa koridor yang menjadi fokus utama.

Reaktivasi ini bertujuan untuk menghidupkan kembali jalur lama yang non-aktif, terutama untuk mendukung pariwisata, logistik, dan angkutan penumpang regional. Beberapa jalur non aktif di Jawa, seperti Rangkasibitung – Saketi – Labuhan, Garut – Cikajang, Banjar – Pangandaran – Cijulang, Cianjur – Padalarang, Bandung – Ciwidey, Rancaekek – Tanjungsari, Jatibarang – Indramayu, Kedungjati – Tuntang, Purworejo – Kutoarjo, Purwokerto – Wonosobo, Semarang – Rembang, Yogyakarta – Magelang – Ambarawa, Demak – Wonosari – Blora. Pulau Madura, Babatan – Jombang, Madiun – Ponorogo.

Sementara jalur non aktif di Sumatera, seperti Sicincin-Padan Panjang, Padang Panjang-Bukittinngi-Payakumbuh-Limbangan, Padang Panjang-Solok-Sawahlunto.

Tujuan Reaktivasi

Tujuan reaktivasi jalan rel, pertama untuk meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas masyarakat. Memberikan alternatif moda transportasi yang aman, nyaman, dan terjangkau bagi masyarakat, khususnya di daerah yang konektivitasnya terbatas. Mengurangi ketergantungan pada transportasi jalan raya, yang sering kali macet dan memiliki dampak lingkungan lebih besar.

Kedua, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Mengaktifkan kembali pusat-pusat ekonomi di sepanjang jalur yang dilewati, termasuk stasiun dan kota-kota kecil. Memperkuat logistik nasional dan daerah dengan menyediakan moda angkutan barang yang efisien (mengalihkan pengangkutan barang dari truk di jalan raya ke kereta api). Menciptakan peluang usaha baru di sektor pariwisata, perdagangan, dan jasa di sekitar stasiun.

Ketiga, mengembangkan sektor pariwisata. Menghubungkan destinasi wisata yang sebelumnya sulit dijangkau, seperti jalur dengan pemandangan eksotis (contohnya Garut-Cibatu atau Banjar-Cijulang). Memberikan pengalaman nostalgia perjalanan kereta api bagi wisatawan.

Keempat, mengurangi beban jalan raya. Menurunkan volume kepadatan kendaraan di jalan raya seiring dengan beralihnya penumpang dan angkutan barang ke moda kereta api. Membantu mengurangi kerusakan jalan raya akibat beban angkutan berat (truk). Kereta api memiliki keunggulan di sisi ekonomi pada jarak menengah (750-1.500 km)

Kelima, memanfaatkan kembali aset negara. Memaksimalkan aset berupa jalur rel dan bangunan stasiun yang selama ini tidak terpakai atau terbengkalai. Mengembalikan fungsi lahan untuk kepentingan transportasi publik.

Keenam, mendukung pengembangan wilayah. Memperkuat integrasi antarmoda transportasi (misalnya menghubungkan jalur kereta ke bandara atau terminal bus). Memicu pertumbuhan kawasan di sekitar stasiun (konsep Transit-Oriented Development/TOD).

Melalui komitmen reaktivasi ini, kereta api bukan sekadar sisa sejarah yang berdebu, melainkan nadi yang kembali berdenyut untuk menggerakkan masa depan bangsa. Dengan menghidupkan kembali jalur-jalur yang sempat terputus, tidak hanya menyambungkan rel,akan  tetapi juga merajut kembali potensi ekonomi, sosial, dan pariwisata menuju konektivitas nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan. ***

Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)

Previous Post

Leluhur Bukan Kenangan

Next Post

Jernihkan Pikiran, Teguhkan Jiwa Bangsa

admin

admin

Next Post
Jernihkan Pikiran, Teguhkan Jiwa Bangsa

Jernihkan Pikiran, Teguhkan Jiwa Bangsa

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version