Destinasi Eduwisata  Pembatik Cilik Pandak, Upaya YPA-MDR Melestarikan dan Mencintai Budaya Daerah

 Destinasi Eduwisata  Pembatik Cilik Pandak, Upaya YPA-MDR Melestarikan dan Mencintai Budaya Daerah

Pembatik Cilik Pandak saat Peluncuran Destinasi Eduwisata Pembatik Cilik Pandak (1/9/2022) (Foto: Istimewa)

JAYAKARTA NEWS – Kupu-kupu, bunga dan buah nan ranum di halaman rumah bisa menjadi inspirasi motif batik bagi para pembatik cilik . Pembatik Cilik? Ya, mereka adalah para siswa SD yang dilatih membatik sejak dini.

Bayangkan saja, jari-jari mungil mereka menari-nari melukiskan gambar, yang lahir dari inspirasi sendiri, di lembaran kertas yang kemudian berlanjut ke selembar kain. Ada kupu-kupu yang hinggap di bunga, atau kupu-kupu yang mendekati buah nan ranum. Juga bunga kembang sepatu di halaman belakang rumah.

Bukan hanya pemandangan di sekitar rumah. Tetapi pemandangan sepanjang jalan dari rumah menuju sekolah pun bisa dituangkan menjadi lukisan batik nan indah. Ada hamparan padi yang menguning, pohon bambu yang rimbun dan jajaran tanaman jagung yang dilewati sepanjang perjalanan. Semua tergambar indah menjadi karya batik tulis hasil para pembatik cilik. Mereka adalah Komunitas Pembatik Cilik yang terdiri dari siswa-siswi tingkat SD di Pandak, Bantul.

Para siswa yang tampil di acara Peluncuran Destinasi Eduwisata Pembatik Cilik Pandak menggambar motif Jogja Istimewa (Foto: Istimewa)

Oleh YPA-MDR

Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim (YPA-MDR) pada tahun 2021 yang mendirikan Komunitas Pembatik Cilik ini. Komunitas ini terdiri dari total 87 siswa-siswi berbakat, lintas sekolah binaan di dua area binaan provinsi D.I. Yogyakarta, yaitu area dan Desa Sejahtera Astra (DSA) Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul dan Kampung Berseri Astra (KBA) Gedangsari, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul.

“Saat ini, dari talenta dan kreativitas mereka telah diwujudkan sebanyak 97 karya kain batik tulis. Karya para pembatik cilik ini dapat diminati wisatawan domestik maupun nantinya wisatawan mancanegara dan siap bersaing di industri mode Indonesia dan Internasional,” ujar Ketua Pengurus YPA-MDR, Herawati Prasetyo saat meluncurkan  Destinasi Eduwisata Pembatik Cilik Pandak, Kamis (1/9/2022).

Mewujudkan Destinasi Eduwisata Pembatik Cilik ini, YPA-MDR berkolaborasi dengan Desa Sejahtera Astra (DSA) Gilangharjo, Kabupaten Bantul. “Destinasi Eduwisata Pembatik Cilik ini merupakan upaya untuk menciptakan keberlangsungan kecakapan hidup serta pelestarian budaya batik khas daerah,” ujar Herawati lagi.

Sumarni bersama para pembatik cilik dengan batik tulis karya masing-masing siswa (Foto: Istimewa)

Herawati menjelaskan, melalui Destinasi Eduwisata Pembatik Cilik Pandak ini diharapkan para siswa-siswi Komunitas Pembatik Cilik dapat menjadi calon penggerak muda dan menularkan kecintaan terhadap membatik secara lintas generasi. “Sehingga pada akhirnya dapat melestarikan batik dan juga dapat membantu potensi perkembangan industri pariwisata berbasis edukasi dan ekonomi kreatif,” katanya.

Mencintai Budaya dan Daerah

Untuk membatik, para siswa dibimbing agar bisa mempunyai ide sebagai motif yang akan dilukisnya. Ide ini lah yang menjadi tema dari motif yang ditentukan. Tema biasanya diambil dari lingkungan sehari-hari atau budaya yang ada. Ini juga untuk menimbulkan kecintaan siswa kepada budaya dan daerahnya.

Faeza Desna Sapitra Kelas 4 SDN Jigudan dengan karyanya batik tulis bermotif: Padi. Ide ini timbul karena Faeza sering melihat sawah saat ke sekolah (Foto: Istimewa)

“Misalnya Tema Jogja Istimewa. Kami sebagai pendamping  akan mengkomunikasikan kepada  para murid di Jogja Istimewa ada apa saja. Misalnya ada andong, ada malioboro, ada wayang, ada gunung merapi, ada keraton,” ujar Sumarni, S.Pd, pendamping para siswa-siswa pembatik cilik  kepada Jayakarta News, baru-baru ini.

Sehingga para siswa mempunyai ide sendiri apa yang ingin dilukisnya menjadi batik tulis karya mereka.  Untuk menyelesaikan satu helai batik tulis, diperlukan sekitar satu sampai dua minggu. “Kalau intensif dikerjakan, misalnya sehari mencanting selama 3-4 jam,  bisa selesai dalam satu sampai dua minggu. Tetapi dengan kegiatan para siswa, bisa lebih lama lagi,” kata Sumarni lagi.

Tema motif batik juga biasa dilihat dari keseharian anak-anak. Misalnya, kupu-kupu di halaman atau padi di sepanjang jalan menuju sekolah.  “Mereka belajar  menciptakan ide-ide atau motif-motif baru yang dapat ditemui sehari-hari.”

Alysya lailatul, kelas 4 SDN Jigudan, dengan karyanya batik tulis bermotif bunga sepatu karena di halaman belakang rumahnya banyak bunga sepatu (Foto: Istimewa)

Untuk siswa kelas 1 sampai kelas 3 biasanya mereka masih menciptakan pola-pola di kertas.  Barulah di kelas 4 sampai kelas 6 mereka sudah membuat pola di kain dan mencantingnya sendiri.

“YPA-MDR berupaya melakukan pemandirian Komunitas Pembatik Cilik melalui kolaborasi dengan perwakilan guru sekolah binaan, perangkat desa, karang taruna, pokdarwis, serta para pengrajin lokal dalam membentuk Tim Local Champion, yang bertujuan untuk menciptakan program yang berdampak dan berkelanjutan. Tim inilah yang akan mengembangkan program ini menjadi program wisata edukasi batik, yaitu Destinasi Eduwisata Pembatik Cilik.” tambah Herawati.

Sementara itu, Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara mengatakan, “Hal yang tepat YPA-MDR bermitra dengan Desa Gilangharjo sebagai Destinasi Eduwisata Pembatik Cilik karena Desa ini terus menunjukan tekad untuk maju dan berkarya berlandaskan “sawiji greget sengguh ora mingkuh” sebagai semangat khas Yogyakarta. Dengan adanya komunitas Pembatik Cilik sebagai aktor kreatif ini tentu menambah daya tarik dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Gilangharjo. Selain itu, penguasaan IPTEK juga penting dilakukan untuk kemajuan peradaban dan dapat mendukung gerakan kebudayaan di Jogja Gumregah.”

Sumarni dan para siswa dengan karya batik tulis bermotif Jogja Istimewa (Foto: Istimewa)

Dengan Komunita Pembatik Cilik  tentu saja diharapkan siswa tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga dapat terus mengasah kecakapan hidup serta kepercayaan diri yang dapat menjadi bekal bermanfaat untuk masa depan mereka dan warga sekitarnya.

Batik tulis karya pembatik cilik pun tidak kalah indahnya jika  bersaing di industri mode Indonesia dan Internasional.  Selamat! (Melva Tobing)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.