Cita-cita Nuryati, Ingin Jualan Kopi

 Cita-cita Nuryati, Ingin Jualan Kopi
Suryati, pemulung asal Pandeglang, yang bercita-cita alih profesi menjadi penjual kopi. Sayang, modal tak kunjung kumpul.

LANGIT terasa begitu pendek di benak Nuryati, warga Kampung Kabayan Citis, Kelurahan Kabayan, Pandeglang, Banten. Karenanya, ia tidak melambungkan cita-citanya setinggi langit. Setelah 25 tahun melakoni profesi sebagai pemulung barang bekas atau kerompongan, ia kini bercita-cita alih profesi menjadi penjual kopi.

Nur, panggilan akrabnya, bukannya tidak bersyukur. Profesi yang sudah digelutinya sekian lama, cukup buat membantu suami menghidupi ketiga anaknya. “Lelah… ingin jualan kopi saja di alun-alun Pandeglang. Sepertinya tidak repot dan tiap malam ramai,” ujar Nur kepada Jayakartanews.

Saat ini, ia sedang menghimpun modal, sekadar bisa merintis kembali usaha lama berjualan kopi. “Iyaaa, sebelum jadi pemulung, saya juga pernah jualan kopi. Dulu tempat mangkal saya di depan pos polisi. Tapi karena banyak yang utang dan tidak bayar, akhirnya modal habis. Bangkrut. Jadi kalau nanti saya bisa buka usaha kopi, saya tidak mau lagi ada yang utang,” ujar Suryati, serius.

Untuk sebuah tekad beralih profesi, dari pemngut sampah menjadi penyeduh kopi, Sur butuh dana sekitar Rp 2,5 juta. Tabungannya masih jauh dari angka itu. Terlebih saat ini, kerja pemulungnya semakin berat, karena ia harus melakukannya sendiri. “Dulu kan bareng suami. Sekarang suami sedang sakit, jadi saya mulung sendiri. Hasilnya paling-paling hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, boro-boro ditabung,” katanya, prihatin.

Tekadnya sudah bulat. Ia tidak akan terus-menerus menjadi pemulung. “Biar pemulung, yang penting halal,” katanya.

Sistem kerja Suryati adalah, setiap hari keluar rumah mencari barang rongsok dan barang apa saja yang bisa dijual, kemudian dibawa pulang, tidak langsung dibawa ke pengepul barang rongsokan. Seminggu sekali, barulah ia secara khusus membawa hasil memulung ke pengepul. “Rata-rata hasil memulung seminggu dihargai sekitar seratus lima puluh ribu,” tutur Sur.

Kini, laksana menggantang asa, Suryati terus dan terus bekerja menjadi pemulung. Ia harus menafkahi keluarga, lantaran suami sedang sakit. Meski begitu, tekat beralih profesi menjadi penjual kopi begitu kuat. “Allah Maha Kaya…. Jika Allah berkehendak, insya Allah terkabul. Jalan rezeki kan bisa dari mana saja. Dari hasil kerja ataupun pemberian dermawan,” ujar Sur, pasrah. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *