VAD, Sentul Rasa Ubud

Menikmati suasana “Ubud” di Vila Aman D’sini (VAD), Sentul. (foto-resti handini)

TEMPAT ini memang sedang ‘hot-hot’-nya dibicarakan baik di kalangan kawula muda untuk sekadar berfoto, bergaya. Maupun para ibu yang sering kumpul bersama teman untuk makan siang bersama maupun arisan.

Gerbang pintu masuk menggunakan kayu ukir khas Jawa, kita memasuki area vila dengan hamparan rumput luas. Kita pun digiring melalui jalan setapak di tepian dengan batu alam bronjol ke resto yang terbagi di beberapa tempat.

Adalah Villa Aman D’sini (VAD) yang  berlokasi di Sentul Selatan. Untuk mencapainya, bisa masuk ke komplek Sentul City, Desa Bojong Koneng, Kabupaten Bogor. Dengan jalan yang relatif sempit dan menanjak vila ini dapat kita tempuh dengan waktu 1-1,5 jam dari Jakarta.

Berada di atas lahan seluas 11.000 M2, dengan pemandangan Gunung Pancar, Gunung Salak, dan air terjun Curug Bidadari. Sungguh good view lengkap dengan lansekap indah berupa pepohonan, kolam renang, dengan eksterior berupa gubuk dan batuan alam.

Menurut pemiliknya, Abdul Syakur, tempat ini awalnya hanya penginapan yang disewakan untuk umum. Tetapi sejak 8 bulan lalu resto dari vila ini dibuka untuk umum. Animo masyarakat bagus, terutama memanfaatkan view-nya yang indah untuk berfoto. Mereka yang sering ke Bali mengatakan VAD ini seperti di Ubud, Bali. “Serasa di Ubud, meski demikian tetap tidak bisa menyamai dengan ambience di Ubud langsung,” ujar Elly yang bersuamikan orang Perancis ini.

“Lapangan rumput seluas 1.500 m2 sangat cocok digunakan berbagai kegiatan outdoor, seperti team building, gathering, outbond, termasuk B’day n Wedding garden party,” papar Abdul berpromosi.

Dijelaskan vilanya terdiri dari 4 kamar tidur dengan konsep bangunan kamar yang terpisah antara kamar yang satu dengan kamar lainnya. Reguler room dipatok harga  Rp2,5 juta termasuk sarapan untuk 3 orang. Suite room Rp 5 juta, dengan sarapan untuk 6 orang.

Restonya? Karena restonya merupakan bagian dari vila, menunya pun tidak sebanyak resto pada umumnya. Hanya ada beberapa main course, dessert dan  beverages khas Indonesia. Katakanlah paling banyak dipesan nasi timbel lengkap, pilihan ayam atau empal gepuk, lidah lada hitam, sop iga, karedok dan lainnya.

Keseluruhan makanan yang tersaji cukup enak, namun tidak istimewa. Demikian pula harganya di atas harga rata-rata untuk resto outdoor. “Namun hal itu tidak menjadi masalah mengingat pemandangannya oke, gak bisa kita dapat di Jakarta, ” ungkap Yeni pengunjung lainnya. ***

Vila Aman D’sini (VAD) Sentul, penyewaan vila berpemandangan pegunungan. (foto: resti handini)

Lebih Asyik Main di Pantai Pok Tunggal

Pantai Pok Tunggal, Gunungkidul, Yogyakarta.

PARANGTRITIS tentu bukan satu-satunya destinasi wisata bahari (pantai) jika kita berwisata ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Kabupaten Gunung Kidul, menawarkan pantai yang sangat molek: Pantai Pok Tunggal.

Apabila Anda ingin menikmati pemandangan pantai yang masih sangat natural,tentu Pantai Pok Tungal menjadi jawaban dan salah satu pilihan. Memang masih relatif “sepi” dibandingkan dengan Parangtritis,yang hingar bingar dengan pelbagai fasilitas wisatanya. Tetapi, pasti lebih mengasyikkan bermain pasir di pantai yang masih cukup sepi.

Pantai Pok Tunggal berlokasi di Desa Tepus, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul,DI Yogyakarta. Posisinya diapit  oleh Pantai Pulang Syawal –namanya lebih dikenal sebagai Pantai Indrayanti– dan Pantai Siung. Panoramanya indah, dengan  pasir putih yang terhampar dan dilengkapi dengan  perbukitan kapur (karst). Pada sisi timur dan barat pantai ini  terdapat tebing karang nan  menjulang. Wow.. banget, pemandangannya.

Sebagai tujuan wisata, Pantai Pok Tunggal termasuk destinasi anyar, karena baru dijelajahi para pelancong sekitar  Mei 2012. Jamak, kalau dibandingkan dengan pantai lain seperti Parangtritis, kebersihan di Pantai Pok Tunggal lebih enak dipandang mata. Tidak banyak sampah berserakan. Upps, Anda pun harus mendukung pantai ini tetap bersih apabila bertandang ke sana. Jika abai dan membuang sampah sembarangan, Anda akan didenda Rp10.000.

Nama Pok Tunggal, memang rada-rada aneh atau nyeleneh. Rupanya, julukan ini diberikan diambilkan dari pohon langka yang hingga kini masih tegak berdiri di sana yakni Pohon Duras atau Pok Tunggal. Selain unik dari penamaannya, pantai ini juga menghadirkan mata air tawar yang berasal dari aliran sungai bawah tanah yang disuguhkan kawasan karst. Air tawar tersebut menjadi sumber kehidupan bagi warga setempat.

Cobalah untuk nongkrong di bukit bagian barat atau timur, pemandangannya aduhai nian. Malah kalau di bukit timur, kita bisa menyaksikan  sejumlah  primata liar yang tengah bermain. Setelah memuaskan mata dengan kemolekan panorama dari atas bukit, Anda bisa berenang atau bermain pasir putih. s Pantainya cukup landai, sehingga aman jika kita berenang di tepian pantai.

Dengan keindahan yang menawan seperti itu, tidak mengherankan kalau kini Pantai Pok juga menjadi sasaran kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara. Tren kunjungan yang terus meningkat, memggugah pengelola pantai ini menyediakan fasilitas untuk istirahat dan mengudap. Tersedia warung dan gazebo untuk disewa. Anda perlu merogoh sekitar Rp 20.000 jika ingin rental gazebo maupun  payung yang berkapasitas  2-3  orang. Untuk yang berminat bermalam,ada pula disewakan tenda dome dengan harga  di kisaran Rp 60.000.

Pantai Pok Tunggal berjarak sekitar 70 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Untuk mencapainya, dapat  ditempuh kendaraan pribadi maupun rental. Butuh waktu kira-kira dua jam jika ditempuh dari kota Jogja. Jalannya cukup bagus,beraspal. Memang,satu kilometer jelang pantai,masih berupa jalan makadam (tanah berbatu). Mungkin ini yang bikin asyik, karena “memaksa” kita jalan sehat.

Rutenya bagaimana? Dari Kota Jogja mengarah ke Piyungan lantas ke Patuk,setelah itu ke Sambipitu lantas ke arah Hutan Bunder. Selanjutnya menuju ke  Gading lalu lanjut ke Logandeng diteruskan ke Siyono kemudian ke  Bundaran Tugu BPD. Dari situ mengarahlah ke Jl. Kyai Legi lalu  ke Jalan Lingkar Selatan, lanjut ke Jl. KRT Djojodiningrat kemudian ke Jl. Girisubo ke  Wonosari. Dari Wonosari silahkan arahkan kendaraan ke  Jl. Saptosari kemudian  Tepus dan lanjut ke  Pok Tunggal. Rute lain bisa menjadi alternatif, yakni dari  Yogyakarta menuju  Imogiri lanjut ke Panggang kemudian ke Jl. Saptosari  lanjut ke Tepus Arah lantas ke Pantai Baron. Ketika tiba di  pertigaan sebelum Pantai Baron, kita  ambil kiri, ke arah  Pantai Indrayanti. Kemudian dari  pertigaan  Pantai Indrayanti, kita belok kiri, terus ikuti  jalan aspal hingga sampai di  Pos Retribusi. Tidak jauh dari  pos tersebut Anda dapat melihat papan  penunjuk arah ke Pantai Pok Tunggal. Mudah bukan? Tinggal ikuti  saja petunjuknya,supaya tidak tersesat. Jika Anda sudah menemukan  jalan yang cor (tidak begitu lebar) atau  jalan batu,berarti Anda sudah sampai di kawasan Pantai Pok Tunggal.

Manarik bukan? Ayo berwisata ke Nusantara kita. Kunjungi dan kagumi keindahannya!!

 

 

Bungkul, Taman Senang dan Awet Muda

Taman Bungkul Surabaya, taman terbaik di dunia versi PBB.

KOTA Taman Pahlawan, julukan yang pantas disandangkan untuk kota Surabaya sekarang. Menyebut Kota Pahlawan, sekelebat orang akan mengingat sejarah pertempuran hebat arek-arek Suroboyo pada tanggal 10 November 1945, yang kemudian dijadikan Hari Pahlawan. Menyebut Surabaya Kota Taman, lebih dari sekadar sah, karena kota ini memiliki Taman Terbaik Dunia versi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Taman dimaksud adalah Taman Bungkul, yang terletak di jantung kota Surabaya, tepatnya di Jl Raya Darmo. Mengunjungi Surabaya, tidak adfol kalau tidak hang out di taman yang satu ini. Pagi, siang, sore, bahkan malam, taman seluas 900 meter persegi ini selalu saja ramai. Maklumlah, selain penataan taman yang sangat indah, taman ini juga dilengkapi aneka fasilitas rekreasi keluarga.

Lebih terasa lengkap, karena di sekeliling taman, tersedia aneka outlet makan dan minuman khas Jawa Timur. Sekadar menyebut salah satunya, adalah kedai rawon kalkulator. Nama yang unik. Meski sudah ada Rawon Depot Anda di Jl Walikota Mustajab dan Rawon Setan di Embong Malang, tapi rawon kalkulator di Taman Bungkul, tak boleh hilang dari catatan kuliner Anda.

Selain cita rasa yang di atas rata-rata, rawon kalkulator memiliki keunikan tersendiri. Jangan bayangkan kalkulator sebagai mesin hitung cepat. Artikan kalkulator sebagai si-penghitung. Ya, pelayan di kedai ini, akan menghampiri Anda seusai santap. Dengan gaya yang lucu dan atraktif, ia akan bertanya kepada pengunjung tentang menu apa saja yang disantap, lauk apa saya yang dicomot… lalu mulutnya komat-kamit. Dijamin dalam waktu kurang dari dua menit, si pelayan itu akan menyebutkan nominal yang harus Anda bayar.

Tidak ada bon atau nota? Jangan khawatir, Anda bisa minta ke kasir, lalu bolehlah iseng-iseng mencocokkan dengan hitungan sang kalkulator tadi. Sembilan-puluh-sembilan persen cocok. Satu persen, kadang meleset. “Saya pernah makan di sana, beberapa kali dengan menu yang sama, tapi hitungannya beda-beda… he…he….he…. Mungkin ‘batrenya’ habis, jadi kalkulatornya ngawur…,” ujar Aldi, seorang sopir taksi online, sambil tertawa.

Anggap saja, rawon kalkulator sebagai pelengkap jalan-jalan ke Taman Bungkul. Sebab, sejatinya, taman ini menyimpan sejarah tua, bahkan sangat tua. Jauh sebelum kota Soerabaia ini ada. Dari banyak literatur, titik di mana taman ini dibangun, dulunya adalah pertapaan Ki Bungkul. Ihwal julukannya, bisa beda-beda. Ada yang menyebut Ki Ageng Bungkul, Mbah Bungkul, ada pula yang menyebut Sunan Bungkul.

Tak jauh dari lokasi taman, terdapat komplek makam Mbah Bungkul. Tentu saja, komplek makam ini sudah ada sebelum taman dibangun. Jika sebelum ada taman, lokasi ini ramai diziarahi orang, sekarang, lebih ramai lagi. Apalagi di dalamnya terdapat sumur yang dibarengi mitos sebagai sumur buatan tangan Sunan Ampel dan Sunan Bungkul. Tidak sedikit peziarah yang membasuh muka, meminum, bahkan membawa pulang dengan kantong plastik atau botol minuman. “Katanya sih bisa bikin awet muda,” kata Yanuar, seorang peziarah.

Pantaslah kalau PBB menobatkan Taman Bungkul sebagai taman terbaik di dunia. Ia bahkan mengalahkan taman-taman lain di Surabaya, seperti Taman Dolog (Taman Pelangi), Taman Flora (Kebun Bibit), Taman Prestasi, Taman Biliton (Taman Lansia), dan Taman Undaan. Selain bikin hati senang, bisa bikin awet muda. Paling tidak, hati yang senang, membuat jiwa selalu muda. Bukankah begitu? ***

Akrobatik dan Mesra di Angkasa Maribaya

wisata bandung, tempat wisata bandung, wisata bandung alam,
selfi di latar pegunungan wisata Maribaya

HARUS diakui Bandung merupakan salah satu kota yang memiliki berbagai objek wisata menarik. Salah satunya  adalah The Lodge Maribaya. Dengan kondisi tanahnya yang berkontur alam, menjadikan kawasan wisata ini memiliki karakteristik daerah dengan suasana pegunungan yang tenang dan nyaman.

Apalagi lokasinya berada di lereng perbukitan Maribaya dengan ketinggian hampir 2.080 m dpl, menjadikan hawanya begitu sejuk dengan suhu berkisar 17- 25 derajat celsius. Pengunjung pun harus naik angkot khusus dari tempat parkir kendaraan pribadi menuju ke lokasi.

Sesungguhnya tempat wisata ini sudah ada sejak tahun 2006, tetapi waktu itu hanya sebagai tempat wisata kemah atau camping ground. Baru dibuka untuk umum dengan segala fasilitasnya pada awal tahun 2016.

Dengan membayar Rp15 ribu/per orang untuk hari kerja dan Rp 25 ribu akhir pekan, selain menikmati pemandangan indah, The Lodge Earth Bound Adventure Park (TLEBAP) ini dilengkapi berbagai wahana menarik yang bagi sebagian orang bisa memacu adrenalin Anda.

Tiga wahana tersebut adalah Zip Bike, dengan membayar Rp 20 ribu Anda bisa sejenak menjadi pemain sirkus handal naik sepeda di ketinggian. Dengan dipasangi tali pengaman, kemudian kita menaiki sepeda yang sudah dipasangi kabel. Anda pun difoto dari jarak jauh. Tentu saja nyali Anda diuji untuk sekian menit bersepeda di ketinggian.

Kedua Mountain Swing atau Sky Wing. Anda seolah-olah menaiki ayunan tinggi dengan pemandangan hutan pinus. Pada nyatanya Anda duduk diayun tali pengaman kemudian tiang diputar ke arah lembah supaya kedua kaki tidak menapak tanah atau alas kayu yang ada. Dan Anda pun akan terlihat terayun di gunung. Untuk berayun-ayun kita harus membayar Rp20 ribu per orang.

Masih ada beberapa wahana lagi, yang paling sederhana adalah Sky Tree. Tempat yang terbuat dari kayu di atas pohon, pengunjung harus menaiki tangga ke atas platform dengan diikat tali pengaman. Di sana Anda bisa bergaya sesuka hati. Banyak juga pasangan kekasih bermesraan di pohon kemudian difoto teman atau dengan jasa fotografer. Yang terakhir ini tentu saja Anda harus merogoh kocek lagi.

Selain atraksi di atas, di tempat ini juga menawarkan banyak spot cantik untuk berfoto. Tidak hanya itu, di area wisata ini ada The Pine Cafe, tempat santai sambil menikmati pemandangan hutan pinus. Anda pun dapat memesan camilan seperti kentang goreng, poffertjes, sosis, atau spaghetty dll. Dan tentu saja tersedia aneka minuman hangat. Bagi yang ingin makan lebih kenyang dapat mampir ke Dapur Hawu.***

Ada Marilyn Monroe di Museum Angkut

MUSEUM Angkut. Nama museum yang sekilas biasa-biasa saja. Faktanya, objek wisata yang terletak di Jl Terusan Sultan Agung Atas, Kota Wisata Batu, Jawa Timur itu, menjadi destinasi wisata favorit. Bisa jadi, karena setelah masuk museum, kita dibawa ke aneka zona yang menakjubkan.

Objek wisata yang termasuk grup Jatim Park itu, menyambut pengunjung dengan karakter robot Transformer dan Bumble Bee. Sangat mengesankan bagi pengunjung anak-anak. Jika anak-anak senang, maka orangtua mana yang tidak girang. Alhasil, tiket masuk Rp 90.000 di hari libur (Rp 60.000 di hari Senin – Kamis), menjadi tidak lagi terasa mahal.

Museum yang dibagi berdasa tema atau zonasi itu, menyajikan aneka jenis alat angkut, dari era purba hingga modern. Ruang pertama, berisi pesawat angkut, helikopter, aneka mobil tua, sepeda motor tua, sampai onthel klasik. Beberapa objek, asli, beberapa lainnya berbentuk miniatur.

Zona edukasi ada di lantai dua. Isinya, riwayat angkutan di Indonesia, dari masa ke masa. Di sudut lain, tampak kapal Titanic. Nah, zona selanjutnya, disebut Sunda Kelapa. Nama lain dari Jakarta tempo doeloe. Di zona ini, elemen angkut tertutup oleh dominasi VOC.

Nah, yang tak kalah menarik, adalah zona gangster world dan broad way street. Pengunjung dikenalkan dengan raja mafia Al Capone, suasana negeri Paman Sam dengan gedung-gedung pencakar langit yang kesohor, dan alat angkut pada zamannya. Di zona broad way street, terpampang sosok Marilyn Monroe. Entahlah, apakah Marilyn Monroe termasuk ragam alat angkut? He…he…he…..

Di museum yang sudah kesohor ke luar negeri ini, juga ditampilkan zona Eropa. Isinya, icon negara dan alat angkut negara tersebut, seperti Italia, Perancis, Jerman, Inggris, Spanyol, dan lain-lain. Bahkan, Istana Buckingham dengan Ratu Elizabeth tak ketinggalan. Beberapa jenis kendaraan yang terpajang, antara lain ada merek Austin, Mini Cooper, Roll Royce, Black Burn, Triumph, dll.

Kembali ke Amerika, terdapat zona kota judi Las Vegas dan Hollywood yang masyhur. Las Vegas digambarkan dengan aneka lampu warna-warni. Sementara di Hollywood kita bisa menyaksikan aneka jenis mobil yang digunakan pada film-film box office. Jadi, jangan heran kalau di sini, aneka jenis mobil James Bond juga tersedia.

Ada satu yang sangat menarik adalah wahana roket. Sayang, untuk bisa menikmati rasanya jadi astronaut, harus ikut antrean yang sangat-sangat panjang. Daripada berdiri pingsan, lebih baik ke Zona Apung, tempat aneka souvenir dan makanan tersedia. ***

Tamu Boraspati, Punya Resor dan Ombak Pribadi

JALAN sukses adakalanya terjal dan berliku. Kurang lebih itu yang dialami pengusaha Boraspati Travel, Medan, CHJ Gultom, ketika mengawali bisnisnya tahun 1989. Tidak ingin membentur tembok dengan beradu bisnis dengan pengusaha travel mapan lainnya, Gultom pun melirik Kepulauan Nias sebagai produk unggulan. Dan berhasil.

Jangan bayangkan Nias sekarang. Bayangkan Nias pada tahun 1989, ketika tidak ada jalanan mulus. Bahkan untuk menyusuri Nias Barat, harus melalui jalan mendaki, terjan menukik, berbelok, dan berbatu. Pendek kata, hanya “orang cari kerjaan” saja yang sudi mendatangi Nias.

Jalanan yang ada, hanya sepenggal-sepenggal. Itu pun jalan peninggalan penjajah Belanda dan Jepang. Kondisinya tak karuan. Jika datang hujan deras, posisi jalan mendadak bisa berubah. Demikian pula jembatan. Hari ini tegak, besok sudah miring karena lempeng tektonik yang elastis. Begitulah gambaran Nias ketika itu.

Baru pada tahun 1998, sembilan tahun kemudian sejak Gultom mendirikan Boraspati Travel, pembangunan infrastruktur Nias mulai menggeliat. Nah, sejak zaman Nias kusut-masut dan posak-pasai, Gultom sudah menjejakkan kaki bisnisnya di sana. Ia sudah berani “menjual” wisata Nias ke turis manca negara, sebagai sasaran segmen utama. Ia menjual dua spot surfing terbaik di dunia yang saat ini terkenal dengan sebutan The Point dan Indicator.

Pantai Lagundri di Teluk Nias Dalam, Nias Selatan, mengepung alunan ombak fantastis, laksana penggalan surga di bumi. Sepanjang sorot pandang ditebar, adalah teluk nan hijau, ombak bergulung-gulung, dan hamparan pasir luas. Gultom tahu persis, objek itu adalah komoditi yang layak jual.

Kepulauan Nias menjanjikan pantai yang ombaknya hampir tidak pernah berhenti sepanjang tahun. Karena potensi pesona ombak pantai itulah Kepulauan Nias lebih dikenal sebagai salah satu tujuan wisata surfing yang mendunia. Produk alam inilah yang dijual oleh Travel Boraspati, dengan tawaran private resort. Keterpencilan resort punya nilai jual tinggi karena tidak ada orang lain (privat).

Para tamu langganan Travel Boraspati tak jarang berkunjung lima sampai enam kali pulang-pergi ke Nias untuk surfing, dalam setahun. Biaya untuk sampai ke wilayah pantai tujuan berselancar, Travel Boraspati mengenakan tarif Rp.7 juta per malam/orang yang berlaku sejak 2008. Tarif sebesar itu untuk biaya antara lain, menginap di resort pulau kecil di tengah laut dan fasilitas transportasi angkutan udara dengan pesawat carteran.

“Akhirnya, pasar Boraspati lebih banyak turis manca negara kelas premium. Kami memang tidak bisa menjual lebih murah lagi, karena biaya carter pesawat saja seratus dua puluh juta, dengan kapasitas angkut delapan orang berikut papan selancar,” ujar Gultom, kepada Jayakartanews, beberapa waktu lalu.

Meski terbilang besar, tetapi biaya itu dinilai sepadan oleh para turis asing, karena mereka ditempatkan di resort terpencil. Bukan di Pantai Lagundri yang sekarang didominasi anak-anak muda. Dengan menempati resort terpencil, mereka tidak harus berebut ombak. Sebagai contoh, di Lagundri, satu ombak diperebutkan oleh 40 peselancar. Padahal, idealnya hanya untuk 20 peselancar. Di kalangan peselancar sudah ada kode etik, ketika seorang peselancar “mengambil” sebuah ombak, maka yang lain harus mengalah, dan menunggu ombak berikutnya.

Sementara, paket wisata surfing yang ditawarkan Boraspati sangat eksklusif. Seolah mereka punya ombak sendiri. Punya pantai sendiri. Tidak harus berebut dengan banyak peselancar. “Bayangkan, dengan tinggal di private resort, satu ombak paling hanya diperebutkan delapan sampai sepuluh peselancar. Jadi, waktu tunggu peselancar berikutnya tidak lama, apalagi ombak di Nias intensitasnya cukup sering,” ujar Gultom pula. ***

Majapahit Travel Fair ke-18, Sasar 16 Negara

GUNA menarik minat wisatawan mancanegara (Wisman) dan wisatawan nusantara (Wisnus), masing – masing daerah menggelar even andalan. Untuk wilayah Jawa Timur, akan menggelar even Majapahit Travel Fair ke-18, 13 – 16 April 2017 hasil kerja bareng Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, DPD ASITA Jatim dan PT Debindo Mitra Tama, dan didukung Kementerian Pariwisata.

Even akbar di Jatim bertema Adventure Tourism ini, serta didukung PT Garuda Indonesia, sebagai airlines partner ini manargetkan 120 buyers potensial dari 16 negara. Dari 120 buyers ini diharapkan menghasilkan total transaksi sebesar Rp 56 miliar atau meningkat 2,5 persen dibandingkan even sama tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Wisata Nusantara Esthy Reko Astuti mengapresiasi Majapahit Travel Fair 2017 yang memasuki tahun ke-9 ini. Dari tahun ke tahun, terjadi peningkatan total transaksi yang cukup signifikan. “Menurut catatan kami, baik buyers maupun nilai transaksi pada event MTF ini selalu meningkat. Ini artinya, paket-paket yang ditawarkan para seller kita menarik dan banyak diminati para buyers, sehingga meningkatkan inbound ke Indonesia,” tegasnya.

Esthy menambahkan, gelaran direct selling lewat kegiatan bursa dan pameran Majapahit Travel Fair 2017 ini merupakan bagian dari strategi BAS (Branding, Advertising dan Selling). Branding Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia dilakukan pemerintah, adevertising dilakukan pemerintah bersama industri pariwisata, sementara direct selling dilakukan langsung oleh pelaku bisnis pariwisata,” cetus Asthy lagi.

Sementara itu, Kadisbudpar Jatim H. Jarianto menyatakan, MTF 2017 ini menjadi sarana buat meningkatkan kunjungan, baik Wisman maupun Wisnus, serta menciptakan peluang bisnis, dan ajang promosi pariwisata di Jatim. “Untuk MTF 2017, kami memilih tema Adventure Tourism, dengan maksud untuk menaring minat generasi muda dan penggemar pariwisata petualangan mengekplorasi kekayaan alam Jatim,” papar H. Jarianto.

Para buyers yang telah menyatakan kesediannya hadir pada MTF 2017 ini, yakni Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, Kamboja, Vietnam, Jepang, Balanda, Italia, India, China, Hongkong, Bangladesh, Saudi Arabia. Untuk seller dalam negeri, terdiri 38 industri pariwisata Jatim, dan 28 industri di luar Jatim, yakni Jakarta, Bali, Jawa Barat, Banten, Yogyakarta, NTB dan Kepulauan Riau.

Pada MTF 2016 lalu, tercatat diikuti 120 buyers (80 buyers manca negara dan 20 buyers lokal, serta 80 seller domestik (45 seller Jatim dan 25 seller dari luar Jatim). Tercatat, hasilnya cukup signifikan, dengan total transaksi mencapai 54,8 miliar atau meningkat 8,24 persen dibandingkan MTF 2015 sebelumnya, dengan total transaksi Rp 50,60 miliar. ***

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

APAKAH Anda merasa jenuh dengan destinasi wisata akhir pekan yang itu-itu saja? Pergilah ke Curug Leuwi Hejo, di Desa Cibadak, Kec. Sukamakmur, Bogor. Nikmati sensasi keindahan tersembunyi di sana.

Seperti Curug atau air terjun lainnya di kawasan Jawa Barat, Curug Leuwi Hejo mendapatkan namanya dari ciri khas yang dimiliki oleh tempat tersebut. Warna airnya yang jernih kehijauan saat terkena sinar matahari menjadi inspirasi untuk menamakan Curug yang merupakan bagian dari Sungai Cileungsi ini.

Meskipun harus melalui beragam jenis jalanan, mulai dari jalan beraspal hingga berbatu, rute yang kami lalui dari wilayah Sentul ini menawarkan pemandangan indah berupa lansekap perbukitan dan area persawahan. Karena berada jauh dari keramaian dan kepadatan lalu- lintas jalan raya, kami pun dapat berhenti sejenak untuk menikmati udara segar sambil memeriksa peta digital dalam telepon genggam untuk memastikan tujuan sudah semakin dekat.

Sebelum sampai di lokasi area wisata yang sejatinya bernama Curug Bengkok, jangan lupa menyiapkan pecahan Rp 5.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp 15.000 bagi anda yang membawa kendaraan roda empat sebagai biaya retribusi kawasan wisata. Setelah memarkirkan kendaraan di area yang sudah disediakan, Anda harus berjalan kaki menuruni tangga-tangga bebatuan dan melewati beberapa kios pedagang makanan serta suvenir.

Untuk merasakan dinginnya air curug yang alirannya berbelok-belok ini, kami berjalan kaki sekitar 10 menit melalui sebuah jembatan kayu sebelum kembali bertemu sebuah pos dan dikenakan biaya lagi Rp. 5.000 per orang untuk masuk ke lokasi curug.

Salah satu kawan kami pun berkomentar, “Meski harus jalan kaki lagi dan bayar dua kali sebelum tiba di curug, airnya yang menyegarkan membuat kita semua lupa dengan hal tersebut”, ujar Ryan (23). Kami semua pun sepakat dengannya sambil menikmati beragam cemilan berupa gorengan dan kopi panas.

Sebagai salah satu tempat wisata alternatif tak jauh dari ibukota, sayangnya keindahan Curug Leuwi Hejo masih terganjal fasilitas pendukung yang saat ini membutuhkan perhatian lebih lanjut oleh pihak pengelola. Dengan memperbaiki akses, dijamin lokasi ini bakal menjadi destinasi wisata favorit. ***

Naik “Mpok Siti” Keliling Jakarta

MENCARI liburan murah bersama keluarga di Jakarta memang menjadi salah pilihan. Namun apa daya sulit mencari liburan murah. Akhirnya, pantai pun menjadi alternatif yang sudah melulu dilakukan. Bosam pastinya!

Namun, pernahkah Anda merasakan suasana baru berlibur murah keliling Jakarta dengan menggunakan bus wisata? Sepertinya, sudah saatnya Anda bersama keluarga merasakan alternatif berlibur dengan menggunakam bus yang nyaman, ber-AC, tak perlu harus berdiri seperti layaknya menumpang bus umum, dan tentunya sambil menikmati beragam destinasi wisata di Jakarta, dan yang paling utama yaitu gratis.

Bus City Tour Jakarta alias Mpok Siti ini memang mengadopsi bus wisata di luar negeri. Dan, Anda tak perlu jauh-jauh harus berkunjung ke luar negeri dulu hanya untuk merasakan nyamannya naik bus wisata.

Kalau mau naik busnya sangat gampang/ Ya,  Anda tinggal duduk manis di halte yang bertanda “City Tour”, dan tak perlu menunggu lama biasanya bus akan mampir di halte, dan tinggal naik tanpa perlu desak-desakan.

Rute yang ditempuh bus CityTour ini ada yaitu Hari Senin – Jumat (9 halte): Halte Bundaran (HI) Hotel Indonesia – Halte Museum Nasional – Halte Pecenongan – Halte Pasar Baru – Halte Masjid Istiqlal – Halte Monas 1 – Halte Monas 2 – Halte Balai Kota – Halte Sarinah.

Hari Sabtu – Minggu (5 halte): Halte Bundaran (HI) Hotel Indonesia – Halte Museum Nasional – Halte GKJ Sarinah – Halte Masjid Istiqlal (Monas 1), Halte Balai Kota (Monas 2). Pada hari minggu, City Tour Jakarta baru mulai perjalanan di jam 12.00 hingga 19.00, kalau di hari lain sudah dimulai jam 09.00 hingga 19.00. maklum karena hari minggu ada acara Car Free Day (CFD) di seputaran Thamrin – Sudirman.

Selain nyaman, Anda bisa memilih tempat dudulk sesuka hati. Namun, posisi terbaik tentu saja ada di dek bagian atas barisan paling depan, soalnya bisa dapat perspektif yang berbeda dibandingkan naik kendaraan sehari-hari.

Bulan Pebruari 2014, bis 2 tingkat ini resmi beroperasi setiap hari, dengan jam operasional pukul 09.00 – 19.00 pada hari Senin – Sabtu, serta pukul 12.00 – 19.00 pada hari Minggu. Tapi, sejak diberlakukan aturan kendaraan roda 2 dilarang masuk jalur protokol (termasuk Jl. M.H. Thamrin yang menjadi rute bis wisata) di hari kerja, Mpok Siti beralih fungsi menjadi feeder bagi para pengendara motor yang ingin menuju ke jalur protokol tersebut. Di akhir pekan, Mpok Siti kembali ke fungsi awalnya sebagai bis wisata. ***

Air Mancur Monas, Berjoget Lagi

MASIH terlintas dalam ingatan kenangan indah saat menyaksikan air mancur menari mengiringi datangnya senja dengan aneka warna lampu yang menghiasi Taman Momas. Kenangan yang tak mungkin terlupakan.

Jakarta memang sekitar tahun 1974-an pernah memiliki lokasi hiburan merakyat murah meriah. Senja hari, saat gelap mulai datang, ait itu mempertunjukkan keindahannya dengan meliak-;liuk bak penari di atas pentas dengan sinaran lampu warna-warni serta musik yang mendayu syahdu.

Saat itu pula sorot mata tua, muda, balita, terfokus ke sana. Ironisnya, tak hanya warga Jakarta yang menantikan pertunjukan spektakuler itu, tapi juga sekitar Jakarta, seperti Depok, dan lainnya sengaja menanti datangnya senja di taman Monas, hanya untuk menyaksikan aksi si ‘penari air’ ini.

Sayangnya,  si ‘penari air ini’ sempat “tertidur” panjang setelah mengalami kerusakan. Bahkan, perlahan ingatan penggemar hiburan merakyat  yang dibangun oleh Gubernur DKI Ali Sadikin ini mulai beralihj ke tempat lain, dan  air mancur menari Monas ini baru kembali diaktifkan oleh Gubernur DKI Sutiyoso dengan nama Air Mancur Pesona Monas pada tahun 2005.

Lagi-lagi aksinya tak berlangsung lama, kembali air mancur istirahat pamjang, bahkan lebih panjang dari sebelumnya lantaran biaya perbaikan dan perawatan yang mahal. Ya, rencana tinggal rencana, janji perbaikan di tahun lalu juga gagal terlaksana.

Memang, Taman Monas adalah sebuah taman kota yang tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru kota. Taman Monas pernah dinobatkan sebagai taman kota terbesar di Asia Tenggara. Taman ini memang didesain sebagai ruang terbuka hijau, dan ruang publik tempat masyarakat di lingkungannya dapat berinteraksi.

Kini, yang dinanti-nanti segera tiba. Sepertinya si ‘penari air’ akan kembali mempertunjukkan kegemulaiannya. Air mancur pesona atau air mancur menari di sisi barat Monumen Nasional (Monas), Gambir Jakarta Pusat yang telah lama rusak diperbaiki.

Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Monas, Sabdo Kurnianto mengatakan, perbaikan air mancur ini telah dimulai sejak dua pekan lalu. “Sejauh ini 38 dari 40 titik air mancur sudah diperbaiki,” katanya, Rabu (29/3).

Ya, perbaikan air mancur akan dilakukan secara bertahap. Termasuk perbaikan komponen lampu dan musik yang dahulu mengiringi air mancur ini. “Nanti akan diatur apakah air mancur ini dioperasikan tiap hari atau saat hari libur saja,” tandasnya. ***