Berburu Penampakan Badak Jawa di Ujung Kulon

BERABAD-ABAD  yang lalu, badak Jawa (badak bercula satu) menjelajahi sebagian besar kawasan Asia selatan. Namun hari ini, mereka tinggal beberapa lusin saja. Untuk melihat mereka, kita bisa berwisata ke  Taman Nasional Ujung Kulon, di Banten, Indonesia.

Di Taman Nasional Ujung Kulon itulah kita  berkesempatan  bisa mencari badak yang kini dilindungi  tersebut, walaupun harus diakui, ini sangat sulit dan butuh keberuntungan yang sangat-sangat besar. Badak bercula satu adalah  hewan yang sangat langka di antara lima spesies badak yang ada di dunia, dia  masuk dalam daftar merah badan konservasi dunia (IUCN) yang dikategorikan  sangat terancam atau critically endangered.

Memang, tidak gampang  untuk menemukan badak bercula satu di hutan yang cukup lebat tersebut. Apalagi, jumlah mereka kini memang  sudah sedikit dibandingkan dengan luasan hutan lindung di Ujung Kulon tersebut.

Tahukah Anda bahwa badak memiliki  kemampan penciuman yang tajam atas  kehadiran manusia di sekitarnya? Kekuatan dalam mengendus kehadiran manusia ini  dapat dikatakan istimewa.  Dan, setelah mereka dapat  mendeteksi kehadiran  manusia, badak akan memutar telinganya, yang berfungsi seperti piring radar. Jika dia mencium dan mendengar Anda, walaupun penglihatannya kurang begitu bagus,   badak cenderung akan menyerang Anda. Untuk menyelamatkan diri, Anda harus memanjat pohon  yang kuat. Dia akan menyeruduk pohon, karena marah, untuk  mencoba menyerang hingga tiga kali. Kamarahannya kadang ditunjukkan dengan mengangkat jari-jarinya.

Mengunjungi Taman Nasional Ujung Kulon untuk melihat badak, Anda bisa mengajak petugas taman nasional tersebut untuk mendapinginya. Anda bersama rombongan bisa membuat kemah untuk istirahat atau base camp di Cicadas. Kawasan ini memang cukup terpencil, tapi justru mengasyikkan untuk benar-benar kembali ke alam.

Untuk mencapainya, bisa dilakukan dengan menaiki perahu, dimana   melewati pegunungan yang mengisolasi semenanjung ini. Perjalanannya  untuk melihat badak Jawa, mamalia besar yang paling langka di bumi ini, memang mengasyikkan. Kunjungan semacam ini telah difasilitasi oleh  koperasi ekowisata lokal yang didukung   oleh World Wildlife Fund (WWF), yang dimaksudkan  untuk memberi kesempatan kepada para pelancong biasa agar  bisa melihat herbivora yang baratnya bisa mencapai  sekitar 900 kg atau 2.000 pon ini di habitat aslinya.

Tentang Spesies Badak

Dari lima spesies badak —Jawa, Sumatera, India, Afrika putih, dan hitam Afrika— badak Jawa adalah yang posisinya paling terancam dari kepunahan. Meskipun mereka pernah berkeliaran dari Bengal hingga ke Indocina, binatang bertanduk tunggal ini sekarang jumlahnya kurang dari 70 ekor. Sekitar 50 atau 60 hidup terpojok di Ujung Kulon, dan kurang dari 10 di Taman Nasional Cat Tien di Vietnam selatan. Untuk dapat melihatnya, kita bisa   menghabiskan waktu berbulan-bulan dalam mencarinya, dan hasilnya bisa tanpa pernah dapat melihatnya. Badak bercula satu hingga kini, setahu kami, tidak ada usaha untuk menangkarkannya.

Ada beberapa macam spesies badak yang masih bertahan hidup hingga kini, yaitu:

  1. Badak Sumatera(Sumatran rhino) bercula dua atau Dicerorhinus sumatrensis. Terdapat di Pulau Sumatera (Indonesia) dan Kalimantan (Indonesia dan Malaysia).
  2. Badak Jawa (Javan rhino) bercula satu atau Rhinocerus sondaicus. Terdapat di Pulau Jawa (Indonesia) dan Vietnam
  3. Badak India (Indian rhino) bercula satu atau Rhinocerus unicornis. Tedapat di India dan Nepal.
  4. Badak HitamAfrika bercula cula (Black Rhino) atau Diceros bicormis. Terdapat di Kenya, Tanzania, Kamerun, Afrika Selatan, Namibia dan Zimbabwe.
  5. Badak Putih Afrika bercula dua (White Rhino) atau Cerathoterium simum. Terdapat di Kongo.

Adapun ciri-ciri dan sifat  Badak Jawa adalah:

  • Memiliki kulit yang sangat keras dan berguna untuk pertahanan diri
  • Memiliki panjang sekitar 3 meter dan mempunyai tinggi sekitar 1,7 meter
  • Memilik berat sekitat 2.300 kilogram
  • Memiliki cula sepanjang 20 centimeter

Badak bercula satu, selama berabad-abad badak ini telah menjadi  hiasan dalam cerita rakyat. Ketika Marco Polo melewati Jawa pada abad ke-13, dikatakan bahwa dia yakin hewan itu adalah unicorn hitam yang menjadi legenda Eropa. Hampir 500 tahun kemudian, badak sangat banyak jumlahnya,  sehingga pemerintah kolonial Belanda menganggapnya sebagai ancaman bagi perkebunan mereka Jawa.

Belanda dan Perannya dalam Pemusnahan Badak Jawa

Pemerintah kolonial kemudian  menawarkan hadiah untuk setiap siapa saja yang berhasil membunuh binatang bercula satu. Tapi pada awal 1900-an, perambahan yang dilakukan oleh manusia telah memakan korban bagi kelangsungan hidup badak Jawa. Ketika pada tahun 1967, dilakukan untuk kali pertamanyta  sensus, pemerintah memperkirakan badak bercula satu hanya ada 25 ekor  di Ujung Kulon. Kawanan itu memang tumbuh  dalam beberapa tahun ke depan, namun perkembangannya tetap konstan selama dua dekade terakhir. Ahli biologi menganggap badak bercula satu ini sebagai populasi yang rapuh, rentan terhadap penyakit dan kerusakan genetik.

Menurut seorang siswa sekolah binaan yang berada di kawasan itu, sangat  sulit untuk menemukan badak.  “Anda mungkin tidak akan menemukannya,” katanya. “Tak satu pun dari kita telah melihat badak.”  Jangan berharap untuk bernasib mujur.  Dikatakan, para badak  berdarah pemalu, sehingga selalu menghindar untuk bertemu dengan manusia. Apabila kepergok, mereke cenderung berusaha menyerang orang yang ditemuinya. Memang, jika Anda jalan-jalan ke hutan Taman Nasional Ujung Kulon ini, sebaiknya jangan terlalu berharap untuk bisa bertemu dengan badak bercula-satu, tetapi pastinya melihat keanekaragaman hayati yang ada di hutan itu, sunggung menyenangkan dan membuat hati kita tenang. Inilah karunia Tuhan yang tidak terkirakan atas kekayaan hutan yang ada di Indonesia. Jadi, melihat badak, cukup jadi motivasi saja, tetapi mengagumi kekayaan alam lainnya, pastinya tidak kalah mengesankan.

“Yeah, kalau begitu…. tepat,” dia menguap. “Katakanlah, apakah ini akan menjadi salah satu cerita di mana Anda menemukan badak itu benar-benar seperti di dalam diri kita semua?”

“Saya harap tidak,” ujar Jeff.

Lantas, percakapan mereka pun terpotong karena anak tadi  diajak untuk latihan paduan suara. Dalam perjalanan kembali ke gubukku, aku melewati selusin anak laki-laki desa yang meringkuk di sayap bangunan yang menunggu dengan mata terbelalak, karena penampilan anak-anak terse but pada malam itu.   Ternyata anak-anak itu melantunkan nyanyian lagu rohani Kristiani,  yang dinyanyikan dalam harmoni tiga bagian. Jangan membangun rumah Anda di atas pantai berpasir. . . Aku memikirkan badak yang memiliki  telinga yang tajam dan  pemalu itu. Badak-badak itu patut dikasihani.  Wajar kalau WWF bertahun-tahun mengabdikan komitmennya untuk menyelamatkan badak Jawa.

Seperti Sir Richard Burton

Jeff berkisah, dirinya  merasa seperti Sir Richard Burton, yang mencari sumber Sungai Nil. Dalam ekspedisi yang dilakukannya, Jeff didampingi  oleh tujuh pria,  semuanya warga pribumi. Ada kapten, orangnya tampak kasar, dimana dia  telah bekerja di pantai ini selama 22 tahun; Keponakannya, yang bertugas melayani sebagai pasangan pertama; Ada Mirza, pemandu Sunda yang bersama  anaknya; Seorang penjaga taman dengan seragam khaki; Seorang portir dari salah satu desa terdekat; Dan Putra, seorang remaja laki-laki kurus dari Jakarta, yang Jeff  temui sehari sebelumnya dan dia bersedia menemani saya saat diajak ikut. Ekspedisi yang dilakukan Jeff ini dilakukan pada musim kemarau. Langit tampak biru cerah, tak  berawan.

Sang kapten melihat sebuah kapal nelayan sendirian yang beroperasi secara ilegal di dalam batas taman. Dia berteriak,  seolah-olah kami adalah bajak laut yang bersiap bergulat. Mereka tidak terlihat senang.  Saya berharap dia menegur mereka, tapi malah menuntut bagian tangkapan pagi itu. Ranger rombongan ini, Dendin,  jelas merasa malu dengan pemerasan ini. Tapi dia lebih muda dari pada kapten, dan dia tidak dapat berkata  apa-apa. Kami pun kemudian pergi dengan seikat ikan perak.

Satu jam berlalu, Jeff  berempat menyeberang ke darat dan mulai berjalan ke darat. Cetakan badak, kotoran, dan bekas gigitan baru-baru ini terlihat di daerah ini. Dendin memimpin, menebas tanaman rotan berduri dan menorehkan takik pada batang pohon, hal ini untuk  dapat  menemukan jalan kembali. Ini adalah hutan hujan sekunder, tidak rawan dari pertumbuhan aslinya, karena  telah hancur pada tahun 1883 oleh letusan Gunung Krakatau yang lokasinya sekitar 30 mil lepas pantai. Bencana dahsyat terbesar abad ke-19 itu, Krakatau telah mengirim tsunami ke pedalaman, membunuh  36.000 orang dan meninggalkan kotoran di Samudera Hindia berupa   pohon-pohon tua dan mayat harimau.

Rombongan Jeff masuk ke dalam rawa terbuka yang luas, sehingga  membuat takut  dua kadal  raksasa, sepupu  Komodo yang terkenal di nusantara. Ini adalah tanah Jawa dari 1.000 tahun yang lalu, sebelum  tunduk pada dinasti Hindu, Islam, dan Belanda. Tampak pula  elang laut;  Ada monyet yang tampak mengacak-acak pinggiran hutan, juga kedengaran  raungan  burung owa  dari dalam hutan. Sementara ada juga sekelompok ternak liar yang berdiri di sebuah lubang air di rawa.

Di Afrika, sebanyak 100 badak dibunuh  setiap tahunnya untuk diambil tanduk mereka, yang digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok. Tapi perburuan di Ujung Kulon jarang terjadi. Para  konservasionis memang tidak pernah mengambil tindakan ekstrem yang diterapkan di taman nasional di  Zimbabwe, di mana tanduk digergaji dari badak hitam yang disembuhkan untuk menyelamatkan badak tersebut  dari pemburu.

Ternak liar banyak terdapat di Ujung Kulon dan bersaing dengan badak untuk makanan. Ternak ini, bersama dengan kehadiran manusia, dianggap sebagai alasan mengapa populasi badak belum bisa bangkit. Pejabat taman telah mempertimbangkan untuk memindahkan beberapa badak ke pulau lain, mungkin Sumatra, tapi mereka tidak yakin kawanan kecil seperti itu bisa bertahan untuk berpisah dari kelompoknya. Memang,  Sumatera kurang padat penduduknya dibanding Jawa, namun persoalannya perburuan badak lebih banyak ditemukan di sana.

Jeff dkk pada keesokan harinya  dapat berlabuh di sisi yang jauh dari semenanjung tersebut. Lalu mereka  masuk ke dalam  di kawasan  hutan hujan primer. Sepanjang hari Jeff mengaku  merasa kecewa.

Tapi, kekecewaan terbayarkan ketika menyaksikan  indahnya ragam hayati di hutan, seperti  pohon-pohon yang tinggi dengan batang yang mulus sampai 30 meteran sebelum cabang pertama muncul, juga ada pakis sarang burung walet raksasa, dan pohon anggur liana,  tanaman merambat setebal ular piton.  Di hutan, memang  tidak semua tanaman hidup harmonis. Ini adalah peperangan suku tanaman. Jadi,  kapan pun tanaman bisa saling “mencekik” yang lain dengan  “memotong” sinar matahari. Itu terjadi di hutan.

Beberapa jam berlalu, Jeff dkk tanda-tanda yang baik.  Sore harinya mereka  menemukan tanda-tanda  bekas seekor badak telah berkubang di dekat sungai dalam dan semak-semak bambu kuning. Porter —satu-satunya kelompok yang berasal dari hutan ini— lantas mencium lumpur dan menyatakan bahwa memang badak telah berkubang di sini, mungkin baru saja, mungkin baru  pagi ini.

Rombongan itu  memutuskan untuk beristirahat. Porter kemudian memotong beberapa daun raksasa dari telapak tangan dan mulai menempatkannya  di tanah. Di dekatnya, Dendin berlutut seakan berdoa, lalu membuka ritsleting dan kemudian  buang air kecil. Orang-orang lokal mengamati semacam etiket hutan: Tidak ada yang duduk langsung di lantai hutan, makan sambil berjalan, atau pipis berdiri, jika dilanggar  diyakini akan memanggil seekor harimau. Dan semua orang, terlepas dari status mereka di dunia luar, dianggap sama.

Kita pastinya berbau.  Ya, tak seorang pun dari rombongan  telah mandi dengan sabun atau sampo, dan kru Jeff  telah mengisap kretek, rokok kretek yang merupakan kesukaan  kebanyakan pria Indonesia.  Sore hari, yang tersisa dari rombongan  hanyalah  ramuan mie ramen, yang dapat dimakan serta  makanan kering. Makanan itu  terasa  tidak ada rasanya.

Setelah berjalan dengan susah payah lima jam lagi, rombongan Jeff sampailah di  base camp dan bisa tidur di hutan. Hujan di senja hari,   hujan yang turun di musim kering yang ganas. Meringkuk di bawah “atap” yang  bocor. Pemandu Jeff,  Mirza mengatakan  kepada Jeff, “Kita tidak dapat melindungi badak, kecuali jika kita melindungi hutan. Itu berarti penduduk lokal harus menemukan cara untuk menghasilkan uang, tanpa pergi jauh di dalam hutan untuk mencari kayu.” Eco-tourism, katanya, bisa jadi solusinya.

Kami Melepuh

Kaki Jeff  melepuh. Makhluk mungil telah mengklaim bagian anatomi yang berbeda: nyamuk tidak bersuara di telinga dan lengan, semut api memiliki gigitan tajam  di punggung kaki Jeff, kutu pasir telah menghancurkan kaki dan tulang keringnya.

Pada hari terakhir Jeff  di Ujung Kulon, rombongan itu  mendayung kano sampan menyusuri Sungai Cigenter, dimana badak kadang-kadang datang untuk diminum. Sungai itu hijau terang dan dilapisi daun palem. Mereka  mendengar percikan dan melihat seekor buaya kecil berenang menjauh. Mirza berbicara tentang ular yang mungkin dapat dilihat: python yang seperti  anacondanya Amazon, dan kobra yang mungkin saja meludahkan bisanya,  yang bisa membutakan korbannya dengan aliran ekspektoran di mata sebelum masuk untuk menggigit.

Setelah beberapa jam menyusuri sungai, dan akhirnya tidak bisa dilewati, rombongam itu pun keluar untuk jalan kaki. Jeff  berpura-pura tangguh,  tapi kakinya  dirasa sakit dan ruam, sehingga  membuat Jeff tidak nyaman saat bergerak. Sejauh ini, rombongan belum melihat  tanda-tanda hadirnya badak. Rombongan itu pun akhirnya menyerah dan  kembali ke sampan.

Dalam perjalanan keluar dari taman nasional itu, kapten rombongan   lagi-lagi berhenti untuk memeras para pencari ikan. Kali ini  korbannya  berbeda.  Mirza berkata, “Saat kita memanggil seseorang dengan menyebutnya berwajah wajah badak,  itu artinya  mereka adalah orang yang tidak tahu malu. Tapi sebenarnya, badak adalah makhluk yang paling malu dari semua makluk yang ada. Dia selalu bersembunyi . ”

“Perjalanan yang menyenangkan,” kata Jeff kepada Mirza.

“Ya,” katanya. “Tapi saya minta maaf, karena Anda tidak menemukan badak itu.”

“Tidak masalah,” kata Jeff. Bagaimanapun, badak itu benar-benar ada di dalam diri kita semua.

Untuk Anda yang tertarik dengan  tracking tours badak Jawa dapat menghubungi   Black Rhino Tours Jl Raya Carita, Labuan, Jawa Barat.***

Diolah dari kisah perjalanan Jeff Barrus.

8 Tips Urusan Uang Saat Bepergian Bersama Rombongan

Uang bisa menjadi masalah besar, saat Anda bepergian dalam kelompok, terutama jika Anda tidak memiliki jumlah budget pengeluaran yang sama dalam rombongan tersebut. Saat Anda bepergian bersama, dan semuanya berakhir dengan biaya lebih dari yang Anda harapkan, ini bisa menjadi penyebab ketegangan kelompok.

Itulah mengapa penting untuk dipersiapkan, untuk semuanya. Itulah pentingnya Anda untuk mendengarkan saran tentang penganggaran berikut ini, agar Anda bisa menikmati perjalanan dan pemandangan, daripada mengkhawatirkan rupiah atau dolar di dompet Anda, atau di teman Anda.

1.Tentang anggaran global sebelumnya

Kemungkinan Anda semua memiliki jumlah akses uang yang berbeda saat melakukan perjalanan bersama bersama kelompok Anda. Tentu saja ini situasi yang tidak benar-benar nyaman. Pada satu sisi Anda pergi sepanjang dengan mengkhawatirkan uang, namun pada saat yang sama Anda tidak bisa membiarkan orang untuk menahan Anda, jika Anda ingin menghabiskan waktu untuk melakukan sesuatu perjalanan.

Anda perlu memahami dan mengakui, bahwa Anda memiliki anggaran dan tujuan yang berbeda ketika harus bepergian dalam kelompok. Jika Anda memutuskan anggaran harian yang kasar, ini akan membantu setiap orang untuk merencanakan dan mengerjakan apa yang dapat dan tidak dapat mereka lakukan.

2.Perhatikan anggaran yang berbeda satu sama lain

Setelah Anda memutuskan anggaran, cobalah untuk menaatinya. Jangan ajak teman perjalanan Anda jika mereka taat pada rencana mereka dengan alasan keuangan. Biarkan mereka menjalaninya sesuai anggaran mereka sendiri dan melakukan sesuai keinginan mereka. Anda harus paham bahwa tidak semua orang ingin menghabiskan jumlah yang sama atau melakukan hal yang sama -hormati itu. Jangan menyebabkan ketegangan dalam kelompok, dan inilah pentingnya dengan memperhatikan teman Anda. Janganlah Anda tersinggung jika mereka melakukannya untuk Anda.

3. Buat catatan tertulis tentang hutang dan hutang Anda

Anda mungkin tidak terganggu dengan beberapa rupiah atau dolar yang harus dikeluarkan di sana-sini, tapi kemungkinan akan ada seseorang dalam kelompok Anda yang akan memperhatikan soal ini, termasuk menggunakan dana seseorang untuk kelompok.

Oleh kerana itu, hendaknya semua pengeluaran di luar budget dari seseorang untuk kelompok atau orang lain, dicatat secara tertulis, sehingga apa yang dihabiskan itu tercatat dengan baik dan semua orang merasa nyaman dan adil. Dalam perjalanan kelompok, biasanya akan ada seseorang dalam kelompok itu yang merasa telah membayar lebih banyak, maka inilah pentingnya catatan manual atau elektronik, yang akan membantu Anda untuk tetap mengikuti perkembangan masalah budget kelompok.

Aplikasi Splitwise  [ link Spilitwise untuk pengguna Android ] benar-benar dapat membantu Anda untuk urusan ini. Gunakan untuk mencatat pengeluaran semua orang dan mengaturnya agar setara secara elektronik di akhir perjalanan Anda besama-sama.

4. Relax dengan  punya buffer keuangan

Bila Anda bepergian dalam kelompok, sulit untuk menyimpan keuangan Anda. Berdasarkan pengalaman, Anda mungkin akan tergoda untuk minum dan makan lebih banyak, yang menyebabkan membengkaknya anggaran untuk makan atau minuman. Kami  sarankan hendaknya hal ini diperhatikan. Pastikan untuk memiliki sedikit pendukung  keuangan yang tersimpan tersendiri, sehingga Anda tidak kerepotan saat ada tagihan makan malam di restoran atau bar ketika harus membayar bagian yang Anda makan. Ini adil bukan, kalau Anda tidak membebani keuangan dalam grup Anda.

5.Jangan pelit

Jangan pelit, Anda akan merusak pengalaman indah untuk semua orang, termasuk diri Anda sendiri. Jika Anda memiliki anggaran yang ketat, beritahu teman Anda di awal dan cobalah untuk tidak menyebutkannya lagi sejak saat itu.

6. Menyimpan uang dalam satu kelompok

Sebagai sebuah kelompok, Anda dapat menghemat uang untuk segala jenis keperluan, mulai dari urusan transportasi untuk aktivitas hingga untuk keperluan akomodasi. Saat Anda melakukan riset mengenai rencana perjalanan bersama kelompok, carilah peluang untuk mendapatkan diskon perjalanan kelompok dan manfaatkan sebagian besar dari peluang diskon ini. Sedikit kompromi dari semua orang di sana-sini (misalnya dengan menikmati tidur di sofa di apartemen sewaan) bisa menghemat banyak.

7. Gunakan mobil  

Bepergian ke Eropa dengan berkelompok dengan menggunakan mobil, bisa menghemat banyak uang. Satu mobil bisa diisi sampai sembilan orang dengan Eurotunnel Le Shuttle. Itu sangtat berarti jika Anda tepat waktu dan semua bersepakat melakukan penghematan seperti ini, sehingga Anda bersama kelompok cukup menghabiskan beberapa pound. Dengan menggunakan mobil, berarti Anda tidak perlu mengeluarkan semua biaya bagasi yang seharusnya dileuarkan dalam perjalanan udara. Anda bisa mengemas semua yang Anda butuhkan di dalam mobil dan tidak perlu khawatir lagi.

Apalagi jika Anda memiliki mobil sendiri, hal ini dapat menghemat uang Anda untuk makanan dan akomodasi, karena Anda bisa membawa semua yang Anda butuhkan ke perkemahan, dan makan saat dalam perjalanan. Anda bahkan bisa membawa kompor berkemah!

8. Komunikasikan

Sebagai kelompok, Anda akan pergi ke sejumlah tujuan bersama agar menghemat uang. Misalnya, hostel, tidur di angkutan, atau di mobil. Dengan cara itu semua orang tahu apa yang bisa mereka biarkan sendiri.

Ingat bahwa beberapa rupiah atau euro yang harus dikeluarkan dalam jalan-jalan bersam dengan kelompok Anda, tidak berguna jika Anda harus kehilangan persahabatan Anda. Jadi, komunikasikan dengan adil jika Anda merasa itu tidak benar. Dan jika Anda benar-benar ingin mendapatkan beberapa potong brownies, dan bawa kelompok itu bersama-sama pada malam terakhir, simpanlah beberapa euro untuk sebotol minuman lokal. Inilah cara sempurna untuk mengakhiri perjalanan, dan itu sama sekali tidak memerlukan biaya.***

Maladewa Surga bagi Turis, dan Kegalauan atas Ancaman Radikalisme

Sebuah Masjid di Maladewa

MALE CITY merupakan Ibukota  Maladewa (Maldives) berada. Ibukota ini berada di Pulau Male, salah satu dari 200 pulau yang dihuni dari ribuan pulau atol di negeri kepulauan yang berada di Lautan Hindia tersebut. 

Male adalah pulau surga, sehingga menjadi destinasi kunjungan wisatawan asing. Pemandangannya memang eksotik, belum lagi dengan lautnya yang bersih nian. Di balik itu semua, ada hal kejadian mengagetkan, dengan terjadinya kasus pembunuhan pada April lalu. Setelah kasus pembunuhan seorang blogger liberal itu,  banyak orang mengkhawatirkan  bahwa Maladewa, sebuah negara kepulauan dengan penduduk Muslim, tidak siap untuk melawan ekstremisme. Bloger yang malang tersebut, tewas setelah  ditikam sampai mati oleh sejumlah  penyerang.

Pembunuhan terhadap  Yameen Rasheed, 29, memunculkan kekhawatiran akan kesiapan masyarakat Maladewa untuk melawan aksi radikalisme dan terorisme. Kasus tersebut membuat   kekhawatiran akan keselamatan para turis,  terutama  bagi turis asing. Pada pihak lain, turis ini pulalah yang menjadi tempat bergantung  perekonomian negeri kepulauan itu. Kasus pem bunuhan bloger tersebut bukanlah sebuah ancaman  kosong.

Pada musim panas lalu, pemerintah Maladewa memperkenalkan kebijakan negara pertama mengenai terorisme. Pemerintah  menyerukan peningkatan kesadaran keselamatan di tempat-tempat wisata, serta meningkatkan keamanan  di pelabuhan laut dan di bandar udara (bandara).

Pada  Januari 2017, Kementerian Agama Republik Maladewa mengeluarkan rekomendasi kebijakan yang mencakup ketentuan yang menginstruksikan perusahaan pariwisata agar  memberikan kepada  pengunjung peraturan tertulis tentang bagaimana mereka merperilaku di negara Muslim.

Namun langkah itu dikritik kalangan  kritikus, dengan mengatakan  bahwa prakarsa tersebut  bersifat kosmetik, cuma sedikit saja melakukan  standarisasi kebijakan keselamatan. Langkah itu juga baru dilakukan  setelah pemangku kepentingan internasional, mendesak pihak berwenang Maladewa untuk mengakui ancaman ekstremisme terhadap pengunjung.

Dalam pariwisata, pendekatan yang dilakukan oleh  Maladewa memang tidak lazim. Maladewa menyediakan  satu resor tunggal di satu pulau. Situasi itu membuat  seluruh pulau tanpa tim pengaman yang kuat.  Maladewa terdiri dari  sekitar 1.200 pulau di Samudera Hindia, mampu menampung  1,2 juta pengunjung pada tahun 2016 lalu, 30.000 di antaranya datang dari Amerika Serikat.

Negara kepulauan ini selama tiga dekade  di bawah pemerintahan otokratis mantan presiden, Maumoon Abdul Gayoom. Namun  setelah terjadi transisi menuju demokrasi pada  tahun 2008, tersedia  ruang lebih terbuka  untuk mengekspresikan religi yang lebih besar. Ideologi konservatif seperti Salafisme pun terpotong.

“Anda tidak bisa mengatakan bahwa semua Salafisme adalah Islam radikal,” kata Azra Naseem, seorang peneliti Maldivian tentang ekstremisme di Dublin City University. “Tapi salafi  adalah bentuk Islam yang benar-benar dibawa ke Maladewa dari Arab Saudi dan tempat-tempat lain. Sekarang, ini dilembagakan, karena semua orang di universitas, di Kementerian Islam, mereka semua menyebarkan bentuk Islam ini. Dalam hal itu, tentu saja, akan ada jihadis. ”

 

Seorang petugas keamanan di sebuah resort di Pulau Kandooma, Maladewa. (Photo: Adam Dean/dari The New York Times)

 

Selama bertahun-tahun, upaya untuk melaporkan adanya sel-sel radikal, telah ditentang  keras. Pada tahun 2014, seorang jurnalis Maldivian terkemuka yang menulis tentang sekularisme dan ekstremisme, Ahmed Rilwan Abdulla, diculik. Apa yang dilakukan bloger Yameen Rasheed  adalah bagian dari kampanye yang didedikasikan untuk menemukan  Mr. Abdulla, seorang teman dekat dan masih hilang.

Polisi mengungkapkan, pihaknya  telah menangkap tujuh tersangka pada bulan Mei dalam kasus pembunuhan Mr. Rasheed, termasuk dua orang yang ditangkap dalam rekaman CCTV di TKP. Tapi mereka yang dekat dengan Mr. Rasheed telah mengungkapkan sedikit harapan, bahwa kasus ini akan dipecahkan tanpa tekanan dari pihak luar Maladewa.

Bulan lalu, pengacara yang mewakili keluarga Mr. Rasheed mengeluhkan  ke Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang meminta dilakukannya penyelidikan independen dan internasional.

Serangan besar terakhir di mana orang asing terluka di sini terjadi hampir satu dekade yang lalu, ketika sekelompok militan meledakkan bom rakitan di taman umum di ibu kota, Malé, melukai belasan turis. Namun  terkadang, keamanan turis di Maladewa  dilanggar dengan cara lain.

Tahun lalu, dua resor dirampok oleh sekelompok penyusup bertopeng, dan petugas keamanan diikat. Perampokan di resort jarang terjadi. Namun Ismail Ali, juru bicara polisi, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan The Maldives Independent bahwa ketika hal itu terjadi, mereka  berada di dalam pekerjaan. Hal ini tidak lepas dari relatif sederhananya untuk mendapatkan akses ke sebagian besar pulau di Maladewa.

“Sebagian besar resor memiliki satu jalur akses resmi. Ada pos keamanan yang dipantau untuk memantau siapa yang datang dan keluar dari pulau itu, ” katanya. “Tapi seperti pulau lain, cukup mudah masuk dari sisi lain juga.”

Industri pariwisata sebagian besar tetap diproteksi dari target terorisme. Namun demikian,  banyak resor di Maladewa tidak dilengkapi untuk menangkal  serangan yang setara dengan yang terjadi di tempat-tempat seperti Tunisia dan Bali, Indonesia.

Seorang kepala keamanan dari sebuah resor di atol utara Maladewa mengatakan, resor di negara tersebut tidak dipersiapkan. Menurutnya, peraturan dan kebijakan dari pemerintah diperlukan untuk menangani masalah ini. Kepala keamanan tersebut minta namanya dirahasiakan,  karena takut ditangkap pihak keamanan pemerintah,  dimana ada  sejarah pemenjaraan terhadap warga  yang membahas isu-isu sensitif seperti ini.

Abeer Ismail, petugas informasi di Kementerian Pariwisata, mengatakan bahwa sejauh yang dia tahu, tidak ada masalah keamanan yang dikeluhkan  secara resmi oleh resor manapun. Pengetatan  langkah-langkah keamanan konon justru  dirasa menganggu kalangan pelanggan kelas atas.

Direktur Jenderal National Counter Terrorism Center (NCTC), Brigadir  Jenderal Zakariyya Mansoor, mengatakan sepakat bahwa penting  untuk mengidentifikasi solusi non-invasif dan memelihara lingkungan yang tenang sebagaimana diharapkan oleh wisatawan. NCTC merupakan sebuah lembaga  pemerintah yang baru dibentuk,  yang diadakan sebagai  upaya untuk meningkatkan kesiagaan keamanan.

Jenderal  Mansoor  mengatakan, Maladewa  siap menghadapi ancaman teroris, seraya menunjuk   kebijakan nasional mengenai terorisme dan serangkaian  simulasi reguler  yang menargetkan  fasilitas wisata.

 

“Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi setiap resor dalam hal keselamatan dan keamanan,” kata Jenderal Mansoor. Dan sejauh ini, “Pemilik resor dan operator resor sangat kooperatif dengan kita.”

Ibrahim Hussain Shihab, juru bicara presiden Maladewa, Abdulla Yameen, menulis dalam sebuah email bahwa pemerintah menanggung kerugian akibat masalah  keamanan yang dialami turis, termasuk pencurian. Menurutnya,  pasukan keamanan “telah dilatih lebih dari cukup.” Dengan demikian,   tidak ada kebutuhan mendesak penempatan untuk pasukan keamanan di resor untuk membawa senjata api.

Pijhak  keamanan dan pejabat pemerintah Maladewa mengatakan, sampai saat ini tidak ada bukti adanya rencana serangan di negara tersebut. Tapi Mohamed, mantan perwira polisi yang bekerja untuk  kontra terorisme di  Kepolisian Maladewa —yang minta namanya  hanya disebut dengan satu nama saja,  khawatir akan adanya tindakan hukum  dari pemerintah— mendesak pentingnya  kehati-hatian.

Dia memberi contoh, kasus  kegaduhan lokal mengenai diberhentikannya  seorang guru Maladewa karena mengenakan niqab di kelas.  Mantan perwira polisi tersebut mengatakan, perkembangan seperti ini dapat digunakan sebagai umpan, bukan hanya untuk radikalisasi tetapi juga untuk mengkonsolidasikan dukungan untuk serangan terhadap Maladewa.

Dia mengkhawatirkan apa yang akan terjadi, jika  jihad kembali ke negara tersebut manakala  tindakan pengamanan yang lebih besar tidak dilakukan di industri pariwisata. Para jihadis membenci pariwisata dan tidak peduli apakah itu ada atau tidak.[nyt]

Komodo Dulu, Satonda Kemudian

Gunung Satonda, yang dipercaya lebih tua dari Gunung Tambora. Air danaunya asin, padahal jauh dari laut.

MENIKMATI keindahan alam di berbagai daerah di bumi nusantara ini memang mengasyikian. Seperti Kabupaten Dompu. Dompu adalah ibukota kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat, persisnya berada di bagian tengah Pulau Sumbawa.

Dompu tidak hanya terkenal dengan Susu Kuda Liar dan Madu, tetapi juga banyak destinasi wisata alam yang indah. Salah satunya adalah Pulau Satonda di ujung barat Kabupaten Dompu atau di Desa Nangamiro.

Pulau Satonda merupakan daratan yang terbentuk oleh letusan gunung api dari dasar laut jutaan tahun lalu. Di daerah pesisirnya, terdapat  hamparan pasir putih  yang bersih dan mempesona. Di sini pas untuk snorkeling atau diving melihat ragam terumbu karang serta fauna dasar laut.

Di lautnya bisa dijumpai Labophyton sp, Nephtea sp, penyu sisik dan ikan-ikan hias. Dikarenakan keindahannya itu, Pulau Satonda ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam laut (TWAL) oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan pada tahun 1999.

Pesona lainnya, yaitu Gunung Satonda yang diyakini berumur lebih tua dari Gunung Tambora.  Ada danau Santonda yang memiliki kadar asin dan sampai sekarang masih menjadi misteri. Karena kalau memang airnya berasal dari laut, tapi jarak antara danau dan lautan sekitar tiga kilometer jauhnya.

Namun kisah terbentuknya danau tersebut adalah setelah letusan Gunung Tambora pada tahun 1815, ini yang paling banyak diyakini kebenarannya. Di sekitar danau terdapat beberapa pohon bernama Pohon Kalibuda atau Pohon Harapan. Dinamakan begitu karena menurut orang sekitar, pohon ini dipercaya memiliki daya magis yang tinggi.

Sayangnya, keindahan Pulau Satonda kurang begitu menarik minat wisatawan lokal, karena mayoritas yang mendatangi tempat ini adalah para turis manca negara yang berlibur ke Pulau Komodo dan melanjutkan perjalanan ke Satonda.

Untuk menuju Pulau Satonda, ada beberapa jalur alternatif, salah satunya memulai dari Sumbawa Besar ke Desa Nangamiro dengan jarak tempuh sekitar 8 jam atau dari Dompu dengan jarak tempuh sekitar 5 jam. Setelah sampai di pelabuhan Nangamiro, Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan perahu ke Pulau Satonda dengan jarak perjalanan sekitar 1 jam. ***

Pantai eksotik di Pulau Satonda, NTB.

Mutiara Carita Cottages Dukung “7 Wonderful”

Suasana cottages di Mutiara Carita, Jl Raya Carita, Labuan, Kab. Pandeglang, sangat rimbun dan teduh. Di lokasi ini juga tersedia kolam renang dan playground. Foto: didik mardiyanto

ZAMRUD katulistiwa, mahakarya sang pencipta ada di sini, di Indonesia. Wajar, para wisatawan manca negara berdatangan di bumi nusantara ini. Sayang, dunia seolah hanya tahu Bali. Padahal, selain Bali masih teramat banyak objek wisata yang menakjubkan di bumi kita.

Pemerintahan Jokowi – JK ingin membuat “Bali baru” dengan paket 10 destinasi pariwasata dengan target 20 juta wisman dan 275 juta wisatawan domestik di tahun 2019. Adapun di tahun 2017 telah ditetapkan 10 destinasi pariwisata, di antaranya: Tanjung Lesung, Danau Toba, Tanjung Kelayang, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo-Tengger-Semeru, Mandalika, Wakatobi, Labuan Bajo, dan Pulau Morotai.

Seperti halnya Bali di peta pariwisata dunia, seperti itu pula Tanjung Lesung di peta wisata Provinsi Banten. Di “Bumi Jawara” ini, sejatinya tersebar banyak potensi wisata lain, khususnya wisata pantai. Bukan saja indah pantainya, tetapi juga dilengkapi fasilitas cottages di bibir pantai.

Mutiara Carita Cottages, menawarkan aneka fasilitas bermain di laut. Laut berombak kecil, dengan terpaan semilir angin, sangat nyaman. Foto: didik m

Seperti yang baru-baru ini dikunjungi awak media Jayakarkatanews: Mutiara Carita, sebuah hotel & cottages bintang tiga, salah satu ikon wisata Banten. Mutiara Carita, terletak di Jalan Raya Carita Labuan, Kab. Pandeglang. Ia menjadi pendukung gerakan “7 Wonderful” Wisata Banten, yang dicanangkan Dinas Pariwisata Banten.

Demikian juga objek wisata lain, seperti Situs Sejarah Banten, Taman Nasional Ujung Kulon, Festival Cisadane, Masyarakat Adat Baduy & Cisungsang, Sawarna, Gunung Pulosari, Anyer, Tanjung Lesung, Carita dan Pulau Umang. Kesemuanya berada dalam posisi menawarkan kelebihan masing-masing demi memenuhi target Dinas Pariwisata Banten di tahun 2019, mendatangkan lebih 20 juta wisatawan.

Saat ini, akses ke sana relatif mudah. Dengan perjalanan mobil pribadi, dari Jakarta bisa langsung masuk jalan tol, keluar Cilegon Timur atau Serang Timur, dan sampai tujuan hanya memerlukan waktu 3- 4 jam. Bagi pengguna jasa angkutan umum, cukup dengan Rp45.000 sudah sampai di Mutiara Carita. Caranya, naik bus eksekutif dari Kampung Rambutan Jakarta tujuan Merak, turun di Cilegon biayanya Rp 20.000. Lanjut naik angkot ungu, menuju Simpang tarifnya hanya Rp 3.000. Untuk menuju Carita, naiki angkutan umum elf yang mangkal di masjid Agung. Perlu waktu sekitar 30 menit dengan membayar Rp 20.000, sampai ke Mutiara Carita.

Memasuki gerbang obyek wisata ini, kiri-kanan terlihat rimbun pohon bambu yang tertata rapi. Jalan bebatuan kecil, suara merdu batu yang terlindas ban mobil, benar-benar terasa suasana pedesaan alami. Dikelilingi pohon-pohon besar yang teduh, suasana cottages dan hotel terasa sangat berbeda dari suasana perkotaan yang bising. Ini adalah jaminan liburan yang nyaman.

Dilihat dari prasasti yang terketak di ruang pertemuan, gedung ini ditandatangani tahun 1991 oleh Menteri Pariwisata saat itu, Joop Ave. Servis yang ramah dan menu makanan yang komplet dan selalu siap disuguhkan, juga dilengkapi fasilitas kebugaran fisik dan permainan seperti tenis lapangan, badminton, footsal, volley, tenis meja, lapangan basket, kolam renang, jet sky, dan banana boat, membuat pengunjung  Mutiara Carita, dibuat betah tinggal berlama-lama di sini.

Di Mutiara Carita juga tersedia kolam renang dengan pancuran air yang menyenangkan bagi anak-anak. Foto: didik m

Manajemen yang rapi dengan dukungan 80 karyawan yang terdidik dan siap melayani, membuat Mutiara Carita banyak pengunjungnya. Dua ruang meeting yang mampu menampung 500 orang, adalah nilai jual, yang biasanya diperlukan untuk instansi atau komunitas melakukan rapat. “Untuk minggu ini sebelum puasa, hotel dan cottages telah full di-booking dan nanti setelah Idul Fitri juga sudah ada yang pesan untuk jumlah yang besar dari instansi,” jelas Budiono, Sales Manager Mutiara Carita Cottages.

Selain pemandangan laut dengan cekungan “mini teluk”, Mutiara Carita Cottage dengan luas tanah 11,5 Ha  berisi 180 kamar hotel dan cottage, dengan pemandangan cantik, pepohonan rimbun yang mampu menghilangkan rasa penat. Pengunjung yang peka akan matahari terobati dengan pepohonan yang asri. “Air tanah di sini rasanya tawar, bisa langsung diminum lho, dan sehat secara klinis, bersertifikat BPOM walaupun letaknya di pantai,” terang Erick, mengantarkan kami menuju salah satu cottages.

Bagi anda yang mengajak keluarga, jangan khawatir di tempat ini juga disediakan sarana rekreasi untuk anak-anak, seperti kolam renang dan taman bermain anak. Suite-suite ber-AC yang luas, memiliki teras dengan pemandangan taman, TV kabel/satelit dan ruang duduk juga tersedia. Kamar mandi dalamnya menawarkan shower. Restoran menyajikan masakan Indonesia. Mutiara Carita  memiliki 116 Kamar, yang terdiri dari 6 Unit Cottage 4 Kamar, 11 Unit Cottage 3 Kamar, 18 unit cottage 2 kamar, serta ada pula tipe hotel sebanyak 24 kamar.

Selanjutnya Jayakartanews berbincang dengan Budiono dan Uding Saprudin selaku Sales Manager dan Area Manajer dengan suguhan air kelapa alami, tentang bagaimana menghadirkan wisata yang lebih “greget” di Banten. “Kami sangat mendukung dan siap memfasilitasi agar potensi wisata dengan ‘7 Wonderful’ bisa tergarap dengan baik, tentunya melibatkan semua stakeholder yang terlibat di wisata Banten,” tegas Uding, dan para manajer lainnya.

Mereka berharap dengan gubernur baru, wisata Banten ditangani lebih profesional dan terintegrasi. Akses jalan menuju lokasi wisata lebih mudah dan murah. Promosi wisata lebih digalakkan dan kontinyu. Kegiatan di obyek wisata lebih terjadwal dengan baik. Perlu menggali potensi wisata dan mengedukasi masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan wisata. Dan terakhir perlu peningkatan kerjasama dengan semua sektor.

Menurut Erick Jonathan, Promotion Manager Mutiara, obyek wisata yang dekat, yang masih perawan adalah Curug Putri dan Curug Gendang letaknya sekitar 2 Km. Air terjun setinggi 7 meter ini, airnya sangat jernih dan dingin. Untuk melihat air terjun Curug Putri diperlukan keberanian, karena harus melawan arus sepanjang 50 meter. Tidak perlu takut, ada pemandu yang akan membantu sampai ke tempat. Suasana pegunungan dan pantai bisa didapatkan jika menginap di Mutiara Carita, tantang Erick kepada Jayakartanews. Tertantang?  Silakan coba. (adv)

Cheng Ho, Sang Laksamana Penjelajah

Kelenteng Tay Kak Sie dan patung gagah Laksamana Cheng Ho. Foto: Resti Handini

JIKA Anda berwisata ke Semarang, Anda layak mampir ke jalan Gang Lombok. Bukan utk membeli lumpia, tetapi Anda akan menjumpai kawanan Pecinan terbesar di Semarang. Bangunan utamanya adalah kelenteng tua, kelenteng Tay Kak Sie. Selain itu di bagian samping bangunan kelenteng terdapat replika kapal kayu besar.

Di depan kelentang terdapat patung berukuran besar terbuat dari batu yang cukup mencolok.Tentu timbul pertanyaan kenapa patung ini, dan apa hubungannya dengan kelenteng dan replika kapal kayu? Tentu ada sejarah di balik peletakan patung ini.

Patung perkasa itu adalah Laksamana Cheng Ho yang merupakan salah satu penjelajah dari China. Kehebatannya diakui dunia, sebagai penjelajah dengan armada kapal terbanyak dan memiliki kapal kayu terbesar, sepanjang sejarah dunia yang pernah tercacat.

Dia juga dikenal sebagai pemimpin yang arif dan bijaksana. Meski armadanya banyak, tidak pernah menjajah negara dimana armadanya merapat. Berbeda dengan penjelajah lain yang selalu ingin menjarah dan membuat kekacauan di tempat mereka mendarat. Dan yang tidak lazim, Cheng Ho merupakan muslim meski merupakan utusan Kaisar Cina pada Dinasti Ming.

Ceng Ho adalah muslim yang dilahirkan di Desa He Dai, Kabupaten Kunyang, Provinsi Yunan pada tahun 1371 M. Keluarganya bermarga Ma dari suku Hui yang mayoritas beragama Islam.

Di abad ke-15, Cheng Ho menjelajahi banyak wilayah Asia, termasuk ke Indonesia. Dia pun selalu melakukan hubungan diplomatik dengan negeri yang disinggahinya. Ketika tahun 1415 Cheg Ho berlabuh di Muara Jati (Cirebon) memberikan cenderamata kepada Sultan Cirebon. Salah satunya sebuah piring bertuliskan ayat Kursi. Hingga kini masih tersimpan di Kesepuhan Cirebon.

Beberapa catatan sejarah, laksamana mengunjungi kepulauan Indonesia sebanyak tujuh kali. Ketika ke Samudera Pasai, ia memberi lonceng raksasa “Cakra Donya” kepada Sultan Aceh, yang kini tersimpan di museum Banda Aceh. CH juga sempat berkunjung ke Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan raja Wikramawardana.

Dalam salah satu perjalanannya melalui Laut Jawa, orang kedua dalam armada Cheng Ho, Wang Jinghong, sakit keras. Wang akhirnya turun di pantai Simongan, Semarang dan menetap di sana. Salah satu bukti peninggalannya antara lain Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) serta patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong. Walau Cheng Ho beragama Islam, warga China non muslim tetap memujanya. Sosok Ceng Ho  sangat dihormati baik oleh orang Tionghoa maupun warga setempat.

Bahkan majalah Life menempatkan laksamana Cheng Ho sebagai orang terpenting ke 14 dalam milenium terakhir. Perjalanan Cheng Ho ini menghasilkan Peta Navigasi Cheng Ho yang mampu mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan. (berbagai sumber)***

Tjong A Fie, Legenda Tanah Melayu Deli

Gerbang masuk rumah Tjong A Fie salah satu cagar budaya kota Medan. Berkunjung ke rumah Tjong A Fie harus membayar Rp 35 ribu per orang untuk umum dan pelajar Rp 20 ribu dipandu guide. Foto: Monang Sitohang

TJONG A Fie yang bernama asli Tjong Fung Nam, kelahiran 1860 di Sungkow, Mexian Guangdong, Tiongkok. Ia dilahirkan dari kalangan keluarga sederhana, keturunan orang Hakka. Tjong A Fie memiliki enam saudara, yakni Tjong Chiok Chen, Tjong Yong Hian, Tjong Chiok Kiu, Tjong Chiok Pei, Tjong Chiok Chen dan Tjong Chiok Sien.

Pada tahun 1875, Tjong A Fie merantau ke Indonesia (masa itu bernama Hindia Belanda), tepatnya di wilayah Kesultanan Deli – Melayu Deli, sekarang lebih dikenal bernama Kota Medan. Kala itu Tjong A Fie masih berusia sekitar 15 tahun. Berbekal uang pas-pasan, anak keempat dari tujuh bersaudara itu, menyusul abangnya Tjong Yong Hian yang telah lima tahun lebih dahulu datang ke Tanah Deli.

Tanah Deli menjadi pilihan bagi keluarga Tjong A Fie untuk mengadu nasib, kemungkinan besar dikarenakan pada masa itu Tanah Deli sudah tersohor hampir ke seluruh belahan dunia sebagai salah satu penghasil tembakau terbesar yang memiliki cita rasa dan aroma berkualitas internasional. Dari zaman Hindia Belanda, sebagian besar wilayah Deli memang perkebunan tembakau.

Di masa itu, Tjong Yong Hian sudah menjadi Kapitan (pemimpin) bagi kalanganTionghoa di Tanah Deli –Medan. Karenanya, tidak sulit bagi Tjong A Fie untuk mendapatkan pekerjaan. Terbukti, tidak sampai hitungan tahun menginjakkan kaki di Tanah Deli, Tjong A Fie mulai bekerja di toko milik teman abangnya bernama Tjong Sui Fo.

Tidak betah bekerja di toko, berbagai pekerjaan lain pun dilakoninya. Mulai dari memegang buku, melayani pelanggan sampai menagih utang sekalipun dinikmati. Gambarannya, Tjong A Fie adalah seorang pekerja keras, ulet, tekun dan pintar bergaul dengan berbagai kalangan.

Dio salah seorang guide di rumah Tjong A Fie.

Bagi Tjong Yong Hian, sosok adiknya si Tjong A Fie itu punya talenta menggantikan posisinya sebagai pemimpin komunitas Tionghoa di Tanah Deli. Tepatnya 1911 atau setelah 30 tahun lebih Tjong Yong Hian menjadi Kapitan Tionghoa (Majoor der Chinezeen), posisi itu pun berganti kepada Tjong A Fie.

Sejak saat itu hingga sekarang, nama besar Tjong A Fie tak pernah pudar. Selain meninggalkan nama besar, Tjong A Fie juga punya peninggalan yang bernilai sejarah di Kota Medan, yakni bangunan rumah tinggal yang berdiri di atas tanah seluas 6.000 m2 dengan luas bangunan 4.000 meter2, terdiri dari 24 kamar, 40 ruangan dan 2 kamar mandi.

Rumah tinggal itu dibangun tahun 1895 dan selesai 1900, terletak di salah satu kawasan elite Kota Medan yang bernama Kesawan, persis di ujung Jalan Ahmad Yani atau dekat pusat Kota Medan di Tanah Lapang Merdeka, dan tidak jauh dari Istana Maimoon – Istana Kesultanan Deli, kurang lebih dua kilometer.

“Dilihat sisi sejarah dan budayanya, rumah peninggalan Tjong A Fie itu punya histori penting di Kota Medan. Sekarang dijadikan cagar budaya serta menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya,” jelas Dio, seorang guider di rumah peninggalan Tjong A Fie tersebut.

Semasa hidupnya, Tjong A Fie memiliki 11 anak dari tiga istri. Istri pertama Madam Lee berasal dari Cina punya seorang anak (diadopsi). Istri kedua Madam Chew berasal dari Penang, memiliki tiga anak kandung, dan istri ketiga Madam Lim Kei Yap berasal dari Binjai turunan Melayu-Cina-Singapura memiliki tujuh anak kandung.

Di dalam kehidupan sehari-hari, Tjong A Fie selalu menjalankan tradisi sebagaimana di negeri asal, seperti menghormati arwah-arwah nenek moyang, dan menjalankan ajaran-ajaran agama Budha, membangun rumah berdasarkan fengsui, memberikan edukasi kepada anak laki-laki tanpa batasan. Sementara edukasi untuk anak perempuan tidak begitu luas karena saat mau dinikahkan akan memakan banyak biaya.

Sebelum akhir hayat, Tjong A Fie berpesan, ”Bilamana meninggal dunia supaya dikebumikan di Medan.” Hal itu sebagai bukti ungkapan hati atas kecintaannya terhadap pribumi. Pada 4Februari 1921, Tjong A Fie meninggal dunia dalam usia 61 tahun, kabarnya terkena stroke, dan dimakamkan di Pulau Brayan, Kota Medan.

Setelah Tjong A Fie tiada, seluruh harta diurus anak-anaknya. Namun tak terduga, pada 1970 seluruh aset Tjong A Fie diambil alih oleh pemerintah untuk dinasionalisasikan. Antara lain minyak kelapa sawit PTP II Tanjung Morawa dan Tapanuli Selatan, Tembakau Deli Medan, Karet di Kabanjahe, Kopi dan Teh di Sidamanik-Pematang Siantar, Bank Kesawan dan Hotel Dharma Dheli (Hotel D’Bor).***

Rumah Tjong A Fie salah satu cagar budaya kota Medan. Foto: Monang Sitohang

Museum Mobil Klasik Mazda di Jerman, Satu-satunya di Eropa

SEBUAH museum otomotif untuk kendaraan pabrikan dari Jepang yang berada di luar Negeri Sakura, kini telah dibuka di Jerman, dengan memajang 45 model yang dipajang di galeri museum tersebu. Apabila Anda tengah jalan-jalan ke Eropa, dan apalagi Jerman, singgahlah ke museum ini untuk menyaksikan koleksi-koleksi Mazda yang aduhai…..

Tunggangan asal Jepang, Mazda kini bersiap-siap untuk merayakan  satu abad keberadaan dalam industri otomotif. Dengan menampilkan produk perusahaan yang bertarikh 1920, tentu akan sangat menarik ditonton koleksi di museum tersebut. Begitu pula merek yang dizoom, pastilah menarik.

 

Mazda R360 tahun 1960

 

Beberapa “keajaiban” kendaraan klasik tersebut,  kini menemukan   rumah barunya,  yang jauh dari rumah asalnya di Jepang. Hal ini hanya bisa terjadi berkat  dibukanya  sebuah museum baru di Augsburg, Jerman. Sebelumnya,  dealer lokal Auto Frey dan juga unit pabrik  mobil Jerman bergabung dalam usaha ini.

“Uniknya, museum Mazda ini adalah yang pertama ada di luar Jepang, dan ini  mewakili mimpi sekarang ini telah  menjadi kenyataan bagi keluarga Frey untuk berbagi dengan publik satu jenis koleksi Mazdas vintage dari seluruh dunia,” kata VP Eksekutif Mazda, Akira Marumoto.

 

 

Dengan usianya yang beberapa 2,5 tahun  lagi mencapai seabad, dengan 45 koleksi yang dipajang dan model-model itu terjual dengan baik di Eropa,  juga ada  contoh yang tidak pernah masuk ke benua Eropa.

Museum itu memamerkan  model-model pentinh, seperti Sport Cosmo 1967 atau 1969 Luce RX87, serta mobil rotari ikonik perusahaan, RX-7 1992. Model menarik lainnya termasuk R360 tahun 1960, ini mobil penumpang Mazda yang diproduksi massal pertama kali atau 616 yang merupakan mobil pertama yang secara resmi dijual di Jerman mulai tahun 1973.

Scientia Square Park, Nun di Serpong Sana

Main gate, Scientia Square Park, Serpong, Tangerang. Foto: Roso Daras

KONSEP taman yang lengkap. Sayang lokasinya tidak bisa dibilang dekat. Nama taman itu, Scientia Square Park (SQP), beralamat di Jl. Scientia Boulevard Gading Serpong, Tangerang. Tanpa panduan aplikasi map (peta) seperti Waze atau Google Map, dijamin akan kesasar. Setidaknya, “malu bertanya sesat di jalan”.

Untuk ukuran sebuah taman bermain, tiket masuk Rp 45.000 bisa dibilang so-so. Yang pasti, di SQP Serpong, Anda akan disuguhi aneka jenis wahana rekreasi yang lumayan menghibur. Dari fasilitas yang ada, tampak manajemen membidik pasar usia anak hingga lansia. Tak heran jika taman yang dibuka sejak pukul 06.00  – 22.00 (weekend tutup pukul 23.00), diramaikan pengunjung ragam usia, dari bocah hingga pria tua berkaki roda.

Tidak jauh dari pintu masuk, sudah disuguhi arena bermain anak (kids playground)… yaaa, usia toddler-lah. Ada wahana jungkat-jungkit, dan tali rambat dengan halang rintang sederhana. Tak jauh dari situ, tampak wall climbing dengan dasaran matras tebal nan empuk. Sepertinya, wahana ini masih untuk anak-anak dan teenager.

Tidak jauh dari situ, ada arena velocity skatepark. Lagi-lagi, arena ini juga bukan untuk para pro-skater. Tampak di satu sudut, sekelompok remaja dengan instruktur. Rupanya, mereka tergabung dalam satu kelas skateboard. Pesepatu roda juga tampak memanfaatkan arena ini.

Di belakangnya, terhampar padang rumput lumayan luas untuk sekadar duduk-duduk, atau membiarkan anak-anak kecil berlari-lari sambil bermain layang-layang yang disediakan satu konter minuman seharga Rp 25.000. Hanya berbatas jalan, tampak berpetak-petak sawah buatan dengan tanaman padi. Jam-jam tertentu, jika beruntung, kita juga bisa melihat kerbau di area itu.

Bersebalahan dengan “sawah” tampak arena twister junior, khusus bagi penghobi mobil remote control. Lebih ke dalam lagi, terdapat lorong menuju area horse riding. Tersedia dua kuda poni dan satu kuda tunggang, dengan harga koin Rp 15.000 untuk naik kuda dua putaran.

Bagi yang gemar berolahraga, tersedia juga lapangan futsal, pingpong, dan trampolin. Bagi yang sekadar ingin menikmati suasana taman, silakan leyeh-leyeh di garden balcony. Masih ada beberapa wahana lain yang cukup seru, dan tentunya… melelahkan. Overall, tempat ini sangat baik, khususnya bagi yang tinggal di sekitar Serpong. Itu artinya, untuk yang tinggal jauh dari Serpong, harus dengan niat yang kuat. ***

 

Tersedia juga arena naik kuda dua putaran. Foto kanan: lapangan terbuka untuk bermain layang-layang. Foto: Roso Daras

Menikmati Sore di Kebun Raya

Pohon tua. Kiri atas: Ficus Albipila (Miq) King. Tengah: Terminalia copelandii Elmier. Kanan atas: Komplek Makam Keramat. Kanan bawah: Home band Resto de Daunan. Foto-foto: Resti Handini

KEBUN Raya Bogor (KRB) adalah salah satu tujuan wisata favorit di Bogor. KRB yang memiliki 15 ribu jenis koleksi flora, sejatinya adalah Kebun Botani yang luasnya 87 Ha. Wilayah yang terletak di daratan tinggi di bawah Gunung Salak membuat kota  ini menjadi  tujuan wisata unggulan bagi warga dari kota besar sekitarnya.

Selain pepohonan rindang kita juga bisa menikmati indah dan eksotiknya sejumlah pohon yang sudah berusia lebih dari seratus tahun. Di KRB juga dapat mengunjungi Museum Zoologi, Taman Meksiko, Monumen Lady Raffles, Griya Anggrek, Herbarium Bogoriense, Guest House, Jembatan Gantung, Garden Shop, Perpustakaan, Laboraturium Kultur Jaringan dan lainnya. Selain untuk rekreasi, Bogor Botanical Garden bagi sebagian pengunjung, berguna sebagai sarana edukasi.

Tidak hanya itu, banyak wisatawan yang tidak mengetahui jika di KRB bagian tengah terdapat Kompleks Makom Keramat. Situs ini merupakan Makom Keluarga Kerajaan Pajajaran, Ratu Galuh Mangku Alam Prabu Siliwangi. Makam lainnya Mbah Jepra, mbah Baul, dan Solendang Galuh Pangkuan. Kompleks makan ini terlihat tarawat dengan baik meski berukuran kecil.

Kita mengitari KRB seluas itu jalan kaki sepertinya mustahil, bahkan dengan diselingi kendaraan roda empat atau dua pun kita harus memulai menjalaninya dari pintu gerbang KRB dibuka, pagi hari.

Anda ingin santai melepas lelah, dapat menikmati indahnya Taman Astrid sembari santai di kafe/resto de Daunan. Di sini bisa menikmati camilan dengan macam minuman panas, dingin dan aneka juice. Ingin mengisi perut Anda lebih padat tersedia aneka menu.

Sebut saja paket empal goreng, bebek goreng, paket gurame asam manis, sop pindang iga, karedok dan masih banyak lainnya. Es krim pun tersedia di resto yang dekor out door-nya berupa patung seukuran manusia yang terbuat dari perunggu. Suasana santai khas gaya petinggi zaman kolonial.

Kerucukan air mancur dengan desain taman yang indah membuat nyaman pengunjung menikmati sore dan tenggelamnya matahari di ufuk Barat. Suasana semakin relaks ketika pengunjung yang tidak seberapa banyak dihibur dengan lantunan penyanyi dari home band resto de Daunan. Selain lagu yang dibawakan, mereka pun melantunkan nyanyian atas permintaan pengunjung.

Jika waktu kunjungan KRB dari pukul 07.30 hingga pukul 17.30, resto ini buka hingga pukul 21.00. Sedangkan biaya untuk masuk ke KRB, pengunjung domestik dikenai biaya Rp 15 ribu/orang, wisatawan asing Rp 25 ribu/orang. Kendaraan roda empat dikenakan karcis masuk Rp 30 ribu, roda dua Rp 10 ribu.***