Mengejar Impian Liburan Akhir Tahun di GOTF

 

LIBURAN akhir tahun memang momentum yang sangat dinanti-nantikan banyak orang. Beragam persiapan pun dilakukan untuk mewujudkan impian berlibur bersama keluarga atau orang terkasih. Bahkan, tak jarang persiapan dilakukan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan.

Bagi Anda yang belum mendapatkan tiket, jangan berkecil hati. Anda bahkan dapat dikatakan  beruntung jika sampai sekarang ini  belum mendapatkan tiket atau bahkan refenresi destinasi wisata mana yang akan dipilih. Anda masih memiliki  waktu untuk mencari beragam paket wisata dan perjalanan murah untuk mengisi libur akhir tahun Anda.

Memahami kebutuhan para konsumennya di akhir tahun, maskapai penerbangan Garuda Indonesia, kembali menggelar Garuda Indonesia Online Travel Fair (GOTF) untuk gelombang ketiga tahun ini. Gelombang ketiga ini digelar dalam dua tahap, yaitu tahap pertama untuk First Class dan Business Class dan tahap kedua untuk semua kelas.

Tahap kedua, yaitu untuk semua kelas, dimulai hari ini, Jumat (24/11) dan berakhir pada Kamis (30/11). Pada pelaksanaan GOTF ini, Garuda Indonesia menggandeng HSBC Indonesia sebagai mitra bank mereka.

Direktur Marketing & IT Garuda Indonesia Nina Sulistyowati berharap ada kenaikan transaksi pada GOTF ketiga tahun ini tersebut. Menurut dia, GOTF digelar sebagai salah satu bentuk dukungan Garuda Indonesia untuk mencapai target kunjungan wisata.

“Selama pelaksanaan GOTF, pelanggan tidak hanya diberi pilihan terbang dari Garuda, tapi juga kemudahan pilihan hotel dan alat perlengkapan traveling,” ungkap Nina dalam konferensi pers beberapa waktu lalu.

GOTF menawarkan banyak keuntungan bagi para pelancong yang ingin menjelajahi Indonesia dan sejumlah destinasi luar negeri dengan harga dan diskon yang menarik. GOTF ini juga digelar menjelang liburan sekolah dan liburan akhir tahun.

Tak kurang dari 66 destinasi domestik dan 20 destinasi luar negeri ditawarkan dalam GOTF kali ini. Di antara itu, ada 6 destinasi yang menjadi unggulan, yaitu Belitung, Denpasar, Yogyakarta, Labuan Bajo, Sorong dan Manado.

Sementara itu, lewat kerja sama ini, HSBC Indonesia juga akan membantu promosi pariwisata Indonesia di kantor-kantor mereka yang tersebar di banyak negara di dunia. Transaksi GOTF mudah dilakukan dimana saja dengan dukungan ini.

“Industri pariwisata adalah salah satu pendorong ekonomi sebuah negara. Kami ingin melakukan bagian kami untuk mendorong kedatangan turis ke Indonesia dan kami bisa menghubungkan Indonesia dengan dunia,” ujar Direktur Retail Banking and Wealth Management PT Bank HSBC Indonesia Blake Hellam.

Menurut Staf Khusus Menteri Bidang Infrastruktur Pariwisata Kementerian Pariwisata, Judi Rifajantoro, kehadiran GOTF ini membangkitkan keinginan orang-orang untuk terbang dengan Garuda. Program ini sejalan dengan program strategis digital tourism yang dicanangkan Kementerian Pariwisata karena saat ini teknologi digital telah menjadi bagian gaya hidup masyarakat.

“Tren wisatawan dunia kini mulai beralih ke dunia platform karena dirasa lebih mudah, cepat dan personal. Data menunjukkan bahwa 70% search dan share dilakukan di media online. Ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku industri pariwisata untuk memenuhi kebutuhan ini. Pelaksanaan GOTF merupakan langkah yang tepat untuk menjadi salah satu solusi untuk memenuhi tuntutan masyarakat di era digitalisasi ini,” tutur dia.

GOTF tahap 3 ini menawarkan berbagai tiket perjalanan domestik maupun internasional dengan harga yang menarik. Mereka yang tertarik bisa membuka microsite GOTF, situs resmi Garuda Indonesia ataupun melalui Mobile App Garuda Indonesia.

Di Sini, Serasa Mandi Bersama Tujuh Bidadari

Pemandian Air Panas Bayanan yang terletak di tengah hutan karet, di Kkabupaten Sragen, Jawa Tengah.

ADA begitu banyak lokasi pemandian air panas di Tanah Air, tetapi pemandian air hangat Bayanan di Sragen, Jawa Tengah, menjanjikan sensasi yang lain. Mengapa? Mandi air hangat di lokasi yang berjarak sekitar 17 km ke arah tenggara Kota Sragen ini, serasa menikmati percintaan Rama dan Sinta dalam epik Ramayana. Atau, seraya mandi bersama tujuh bidadari ala dongeng Joko Tarub.

Lokasi pemandian air hangat yang dulunya bernama “Hyang Tirto Nirmolo” ini persis di tengah hutan karet. Karenanya, Pemkab Sragen, Jawa Tengah merekomendasikan lokasi wisata ini untuk tidak saja dikunjungi, tetapi juga dinikmati. Dengan membayar tiket retribusi Rp 10.000, pengunjung bisa mereguk khasiat air panas Bayanan.

Sumber air panas Bayanan ini bersumber dari alam yang keluar dari perut bumi yang terletak sekitar dua meter di atas sungai yang berada di sebelah tempat pemandian. Menurut cerita, pemandian air hangat Bayanan ini dulu acap dipakai tetiras para saudagar kaya Belanda. Tahun 1808 bahkan Tuan Praul dan kawan-kawan sudah berendam di sini.

Setelah Belanda enyah, pemandian ini di ambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 1978 mulai direnovasi, dan satu tahun kemudian diresmikan sebagai  obyek wisata di bawah pengelolaan pemerintah Kabupaten Sragen.

Air yang keluar dari Pemandian air panas ini dipercaya dapat menyembuhkan bermacam-macam penyakit dari yang ilmiah sampai yang mitos. Misal, khasiat menyembuhkan rematik, gatal-gatal dan penyakit kulit lainnya. Manfaat “katanya”, seperti menurunkan kadar kolesterol, memulihkan kebugaran tubuh, hingga yang sulit dinalar, yakni konon bisa membuat awet muda dan dapat meningkatkan vitalitas. Entahlah.

Yang pasti, suasana khas pedesaan yang dikelilingi kebun karet dan perbukitan, menambah sensasi tersendiri. Bahkan, pengunjung bisa melakukan kegiatan tracking dan camping di hutan karet yang terletak tidak jauh dari tempat pemandian ini.

Tak heran jika musim libur, termasuk hari besar Lebaran dan tahun baru, tempat ini sangat ramai. Lebih meriah lagi dengan inisiatif ororita pengelola yang menghadirkan pentas seni budaya seperti musik dangdut dan campursari. Salah satu artis yang sering tampil di acara ini adalah Didik Kempot.

Untuk menuju ke tempat pemandian ini tidaklah sulit, gunakan saja aplikasi Google Map atau Waze. Dijamin sampai tujuan.

Sedangkan bagi yang hendak mengkhususkan diri ke sana menggunakan kereta api, tidak masalah. Belilah tiket kereta api di stasiun Pasar Senen dengan tujuan Sragen. Jika berangkat sore atau malam, maka pagi hari sudah sampai stasiun Sragen.

Tidak usah terprovokasi tawaran ojek, langsung saja jalan kaki ke “Pasar Bunder” yang letaknya di sebelah stasiun. Dari Pasar Bunder lalu naik angkot menuju pemandian air hangat Bayanan dengan tarif sepuluh ribu rupiah sampai ke Pemandian Bayanan. ***

 

GWK Bali Akan Jadi Ikon Baru Dunia

BAGI sebagian besar masyarakat Indonesia pasti pernah berkung ke Bali. Pertanyaannya, selain pantai, apa yang Anda asosiasikan dengan Bali? Ada Great Bali sebagai destinasi pariwisata kelas duni tak pernah habis dalam menciptakan atraksi baru. Atraksi terbaru yang segera terwujud yakni Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK), yang saat ini pembangunannya dilanjutkan kembali, diperkirakan selesai Agustus 2018 mendatang, bertepatan dengan HUT RU ke-73.

Bahkan, GWK yang memiliki tinggi 120 meter ini, melebihi patung Liberty di News York, yang hanya setinggi 93 meter, akan  menjadi ikon baru dunia. Pembangunan GWK sempat tertunda selama 20 tahun ini kini pembangunannya dipercepat, dengan menghadirkan ratusa pekerja, ahli kontruksi, serta para seniman yang didatangkan dari Studio Nyoman Nuarta (NuArt Studio) di kawasan Setra Duta, Sarijadi Bandung, Jawa Barat. Sebagaimana diketahui, Nyoman Nuarta yakni penggagas proyek GWK yang menempati lahan seluas 240 hektar di bukit tandus Desa Unggasan, Jalan Uwatu, Kecamatan Kuta Selatan, Badung yang pembangunananya dimulai sejak 1997 silam.

Meski pembangunannya belum selesai, namun saat ini GWK menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan. Kenapa banyak diminati, karena tidak jauh dari GWK dekat dengan obyek wisata pantai, antara lain, Dreamland, Pandawa, Balangan, Padang-padang, Suluban, Uluwatu, Jimbaran, dll.

Wisatawan baik lokal maupun asing yang berkungjung ke GWK bisa menyaksikan pementasans seni tari Bali dan aneka hiburan dari pagi hingga malam. Saat ini, GWK memiliki fasilitas, antara lain, berupa restaurant (Jendela Bali dan The Berandas), Amphitheatre, Street Theatre, Wisnu Plasa, Exhibition Hall, Lotus Pond, Indraloka Garden, butik dan toko souvenir. ***

Anda Dibayar Jika Mau Tinggal di Desa Indah di Swiss

Jika anda ingin tinggal di desa pegunungan, yang indah, sudah saatnya anda mempertimbangkan tawaran dari Swiss ini. Desa Albinen, dekat Leukerbad di provinsi Valais, akan menawarkan uang bagi orang yang bersedia tinggal di desa itu selama sedikitnya 10 tahun.

Warga baru ini akan dibayar sekitar 335 juta bagi dewasa dan sekitar 130 juta bagi anak-anak setiap tahun. Sebabnya, penduduk keluar dari desa dalam jumlah besar dalam beberapa tahun terakhir, hingga mereka mencoba cara ini. Desa ini tergolong mungil, jika kita bandingkan dengan desa di Indonesia, dan hanya punya 240 orang penduduk, ditambah kehilangan banyak penduduk juga mempengaruhi perekonomian desa.

Kebanyakan anak-anak muda keluar dari desa — terutama keluarga muda. Menurut kantor berita Swiss, ATS, sekolah setempat terpaksa ditutup setelah tiga keluarga muda keluar dari desa — pasalanya sudah tidak ada murid yang diajar.

Bukan karena desanya sudah tidak bisa ditinggali —- sebaliknya. Desanya indah, bersih, bahkan ada permandian air panas yang bagus. Namun, tentu saja, lowongan kerja tidak banyak dan subsidi dari desa juga masih kurang untuk ukuran Swiss ya. Tapi ada kota, yang berjarak dekat dengan desa, dimana anda bisa memperoleh pekerjaan. Atau lebih baik lagi, jika anda mempunyai pekerjaan yang bisa dikerjakan lewat internet, sehingga anda bisa bekerja dari rumah indah anda di desa kecil ini.

Namun ada beberapa syarat jika anda ingin tinggal di sana. Selain setuju untuk tinggal paling sedikit selama 10 tahun, anda harus berusia dibawah 45 tahun. Rumah di desa tersebut haruslah jadi rumah permanen dan nilai minimumnya sebesar 200.000 francs atau 2.620.800.000 rupiah — mahal juga. Jika anda meninggalkan desa sebelum 10 tahun maka anda harus membayar kembali investasi mereka.

10 Tahun berada ditengah-tengah keindahan Swiss mungkin bagus juga.

Sumber: travelandleisure.com

Sisi Lain Danau Toba: Indah yang Bikin Marah

Danau Toba, indah dari jauh, sampai dari dekat. Inilah sisi lain Danau Toba yang perlu mendapat perhatian pemerintah dan masyarakatnya. Foto: Banjar Sitanggang

TIDAK perlu jauh ke Sumatera Utara untuk membuktikan keindahan Danau Toba. Silakan googling, cari foto-foto tentang danau Toba. Anak kecil pun akan mengatakan, “amboooi… indahnya….” Sastrawan bahkan akan melukiskannya sebagai “kepingan surga”.

Objek wisata yang ditetapkan pemerintah sebagai salah satu Destinasi Wisata Dunia. Sayangnya, pencangangan itu tidak diikuti dengan semangat memperbaiki diri, baik dari pemerintah daerah maupun masyarakat di sekitar Danau Toba itu sendiri.

Kabar terakhir, memang sudah ada bus Damri yang melayani penumpang dari Bandara Silangit ke Danau Toba. Tapi kalau kita lewat dari Tele menuju Danau Toba maka Anda akan berpikir, bagaimana daerah wisata maju kalau jalannya banyak yang rusak.

Sedangkan, jika mengambil rute dari Parapat, kita disuguhi pemandangan yang justru memprihatinkan. Spontan kita akan mempertanyakan apa manfaat Dana Desa jika ternyata masih begitu banyak desa yang memprihatinkan kondisinya. Sebagai contoh, kondisi tahun 2013 dan 2017 terlihat sama saja. Keramba ikan yang merusak habitat ikan dan juga tak sedap dipandang, masih bercokol di Toba. Sarana jalan dan fasilitas transportasi massal juga sangat buruk. Jauh dari kelayakan destinasi wisata kelas dunia.

Antre menyeberang ke Pulua Samosir. Masih dipalak pula. Foto: Banjar S

Pemandangan yang kumuh, kotor masih menjadi bagian yang belum bisa lekang dari danau dan dermaga di Danau Toba. Orang yang datang dan berkeinginan  menikmati  air yang bening  dan biru itu, justru akan disuguhi permukaan danau penuh sampah.

Di daerah Tomok misalnya, fasilitas kapal penyebrangan yang menjadi urat nadi penyeberagan manusia ke Pulau Samosir, terlihat masih sangat amatiran. Pelayannya jauh dari ramah laiknya insan jasa. Manajemen waktu juga amburadul, bahkan SOP naik dan turunnya penumpang serta barang ke kapal pun tampak sangat semrawut. Untuk menyeberang ke Pulau Samosir, butuh waktu sangat lama, di samping kapasitas kapal penyeberangan yang tidak memadai. Tak heran jika antrean menjadi sangat panjang.

Hal ini  menjadikan pemandangan yang sangat mengganggu, terlebih karena areal parkir di dermaga tidak tersedia cukup. Anda bisa bayangkan, seperti apa kondisinya manakala musim liburan. Antrean panjang kendaraan, masih diperparah dengan ulah oknum yang mengambil keuntungan dengan memungut “biaya antre” sebesar Rp 10.000 per kendaraan.

Perilaku “aji mumpung” oleh masyarakat wisata di sekitar Dana Toba juga sangat mengganggu. Bahkan penjual makanan pun tidak jarang “memukul” pengunjung dengan menaikkan harga jual dagangannya hingga 400 persen dari harga normal. Bukan hanya makanan dan minuman, tetapi juga souvenir atau buah tangan, yang ditawarkan dengan harga selangit, seolah pengunjung tidak kenal harga. Ditambah cara menjajakannya yang “memaksa” cenderung kasar.

Satu kesimpulan yang bisa dicatat dari pengalaman di atas…. Danau Toba memang indah, tetapi dalam banyak hal bikin emosi tumpah. Apa jadinya jika kesan yang sama melekat pada turis lokal lain? Apa jadinya jika perasaan seperti itu menyergap perasaan para turis yang datang dari manca negara? ***

Suweg Raksasa, Mekar di Kebun Raya

Bagaikan antagonis bunga indah nan unik dipagi dan siang hari, sedangkan malam hari baunya menyengat kuat menusuk hidung. Foto: istimewa/ Yoke Sinyal

KEBUN Raya Bogor (KRB) adalah salah satu tujuan favorit di Bogor. KRB yang memiliki lebih kurang 15 ribu jenis flora, sejatinya adalah Kebun Botani yang luasnya 87 Ha. Dari jumlah flora yang ribuan itu salah satunya yang terbilang istimewa di KRB adalah Amorphophallus titanum Becc. Lebih familiar disebut Bunga Bangkai (BB), juga disebut Suweg Raksasa atau Titan Arum.

Menurut Didik Widiatmoko dari LIPI, Amorphophallus titanum ini mekar pada hari Sabtu sore (4/11) di KRB. Diutarakannya bahwa spesimen BB yang sedang mekar ini ditumbuhkan dalam pot dan ini berbeda dengan specimen-spesimen lain yang langsung ditanam dalam tanah di KRB. Spesimen dalam pot ini berasal dari Lampung, hasil kerjasama eksplorasi dengan Kebun Raya Liwa Lampung Barat. Pada umumnya BB mekar ini akan bertahan sekitar 3-4 hari.

Anda mengunjungi KRB hari Senin ini atau besok Selasa, jika masih beruntung masih berkesempatan menikmati indah dan uniknya bunga Amorphophallus titanum/BB. Ini kesempatan langka, yang bisa kita nikmati langsung dan terjadi sekali setiap 5-10 tahun. Bunga raksasa di KRB ini memiliki ketinggian berkisar 2 meter dengan diameter hampir 1 meter. Tanaman yang merupakan tumbuhan dari suku talas talasan (Araceae) hampir tidak ada yang dibudidayakan dan waktu mekarnya tidak terduga serta langka.

Amorphopallus titanum ditemukan tahun 1878 oleh Botanis asal Italia bernama Odoardo Beccari di pulau Sumatera, Indonesia. Tidak heran jika di Sumatera lebih banyak kita jumpai tanaman bunga Raksasa yang mekar. Bulan September lalu seperti dilaporkan BBC Ind, Amorphophallus giga mekar di Cagar Alam Bukit Bungkuk, Riau. BB tersebut mekar mencapai 4,3 meter. Masih di lingkungan cagar alam tersebut mekar pula BB setinggi 3,1 meter. Keedua BB itu ditemukan dua karyawan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pekanbaru.

Masih di bulan yang sama seperti tertulis di Liputan6. mekar pula BB di Desa Bukit Melenteng, Riau. Sedangkan 2 bulan sebelumnya sebuah BB mekar setinggi 3 meter di Provinsi Bengkulu.

Bagaimana morphologisnya? Tanaman ini memiliki batang tebal berwarna kuning kehijauan. Di bagian tengahnya pangkal tangkainya disebut spadix (gagang) yang bisa tumbuh tinggi hingga 2 meter. Dikelilingi lapisan berbentuk jubah dengan tekstur daun berkerut yang disebut spathe. Terletak di bagian dasar spandix kita dapati beberapa ratus bunga betina berukuran kecil tumbuh di lingkaran bawah. Lapisan melingkar ribuan serbuk sari yang kecil. Selama mekar spathe membuka dan memperlihatkan lapisan dalamnya berwarna merah tua dan bau busuk pun memenuhi udara.

Baunya persis seperti apa?… Sulit diungkap dengan kata kata. Karena merupakan gabungan dari aneka bau tidak sedap. Analis kimia  mengungkap bahwa aroma itu memiliki senyawa Asam sovaleric (keju, keringat), bawang putih, indole (feses) dan ikan /daging busuk. Silakan Anda membayangkan aroma apa yang akan tercipta. Aroma itu akan muncul menjelang malam dan semakin intensif pada malam hari dan secara bertahap memudar menjelang pagi. ***

Gardu Pandang,Manjakan Pelancong di Hutan Pinus Dusun Grenden

SEJAK  pagi hari masyarakat Dusun Grenden, Desa Pogalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang bersuka-cita. Mereka berkumpul di hutan pinus di lereng Gunung Merbabu, untuk menyambut para tamu yang akan datang.

Hari ini, Kamis, 2 November 2017 memang layak disyukuri oleh warga Dusun Grenden. Sebab, sejumlah pejabat penting berkumpul di dusun itu, untuk meresmikan dan membuka destinasi wisata baru, yaitu Wisata Alam di zona tradisional Dusun Grenden. Ada kepala desa Pogalan, Kapolres serta Danramil Pakis, Camat Pakis, Kepala SPTN Wilayah II Krogowanan, Kepala SPTN Wilayah I Kopeng, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Kepala Bappeda dan Litbangda Kabupaten Magelang, Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Magelang, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang, Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Yogyakarta, dan Kepala Balai KSDA Jawa Tengah.

Nurochim (kanan) memasang patok batas pengembangan wisata alam zona tradisional bersama Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu Ir. Edy Sutiyarto. (Foto: Laksmi Wuryaningtyas)

Kehadiran para pejabat itu memberi tanda bahwa tak lama lagi warga dusun Grenden akan meningkat kesejahteraannya. Mereka selama ini mengandalkan hidup dari bertani tanaman sayuran. Ada kol, sawi, wortel, kentang, cuciwis, daun onclang (daun bawang) dan lainnya.

Dengan dibukanya dusun itu menjadi daerah tujuan wisata, maka ada banyak peluang baru untuk menambah penghasilan. Setidaknya, di lokasi wisata hutan pinus sekarang sudah berdiri 12 lapak warung makan. Ada juga tiga rumah yang dijadikan homestay. “Satu rumah harga sewanya Rp300.000 per hari. Itu sudah termasuk makan pagi untuk seluruh anggota keluarga yang menginap di sini,” ujar Nurochim (31) Ketua Penggiat Wisata Alam Grenden.

Menurut Nurochim, wisata alam Grenden sebetulnya sudah dibuka untuk umum sejak 10 Juli 2016. Selain hutan pinus dan pemandangannya yang elok, di dusun Grenden juga ada Tebing Batu Rembesan yang terbentuk secara alami dan selalu basah oleh kabut. Udara yang dingin juga mengundang wisatawan untuk datang.

Berada pada ketinggian 1600 meter di atas permukaan laut (mdpl), Dusun Grenden memang menyimpan sejuta pesona. Dengan para penggiat wisata, masyarakat bergotong royong membangun desanya menjadi daerah tujuan wisata. Mereka melengkapinya dengan berbagai obyek yang menarik seperti rumah kurcaci, gardu pandang dari bambu, gazebo sederhana untuk istirahat pengunjung, serta rumah pohon. Ada juga ayunan langit kekinian yang bisa memicu adrenalin penggunanya.

Khusus hari Kamis ini, masyarakat Dusun Grenden sengaja tak memungut biaya bagi pengunjung. Namun, hari lain, pengunjung harus membeli tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang. Selain gratis, pengunjung juga dipersilahkan membawa pulang sayuran segar sebagai oleh oleh dari Grenden. *

Terpikat Pesona Danau Toba

Gunung Pusuk Buhit di malam hari dilihat dari Desa Janji Martahan, Kecamatan Harian Boho, Kabupaten Samosir. Foto Monang Sitohang

TOBA, danau dengan lebar 30 Km dan panjang 100 Km, merupakan salah satu danau terdalam di dunia dengan kedalaman 505 meter. Sama dengan kedalaman Danau Sarez di Tajikistan (505 m),  Danau Matano di Sulawesi Selatan (590 m), dan Danau Crater di Pegunungan Cascade, Amerika Serikat (593 m).

Danau yang terbentuk dari letusan supervolcano (gunung berapi super), diperkirakan terbentuk 73 – 75 ribu tahun silam. Setelah letusan, terbentuk kaldera berisi air dan kemudian dikenal sebagai Danau Toba.

Posisi Danau Toba yang dikelilingi pegunungan, sebelumnya hanya diapit dua kabupaten, yakni Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Simalungun. Setelah pemekaran wilayah, kini Danu Toba diapit tujuh kabupaten, yaitu Kabupaten Simalungun, Karo, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi, Toba Samosir, dan Kabupaten Samosir.

Berbicara destinasi wisata, pemerintah pusat telah menetapkan Danau Toba sebagai salah satu dari sepuluh tujuan wisata utama nusantara. Danau ini bisa dicapai dari dua cara. Pertama, dari timur melalui Kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai/Tebing Tinggi, Kota Pematang Siantar menuju Prapat). Cara kedua, dari sebelah barat melalui Kabupaten Deli Serdang, Kaban Jahe, Sidikalang/Dairi menuju Pangururan di Kabupaten Samosir. Dari Bandara Kualanamu, lebih efisien melalui jalan Timur. Waktu tempuh perjalanan, sekitar lima sampai enam.

Jalan terjal berliku, kadang menanjak, lalu menghunjam turun, adalah salah satu ciri khas sebelum tiba di bibir danau. Pemandangan indah di kiri dan kanan jalan, bisa jadi sarana efektif untuk menenangkan hati dan pikiran akibat jalan berliku yang bagi beberapa orang, acap membuat pusing dan stres karena rasa takut. “Ngeri-ngeri sedap, orang bilang….”

Kekhasan wisata alam Danau Toba, selain “terkurung” bukit/pengunungan, dihiasi lembah hijau, ngarai dan sungai yang menambah indah ukiran panoramanya. Di tengah permukaan danau terdapat Pulau Samosir, juga tujuh kabupaten yang mengapit, masing-masing memiliki ragam warna objek wisata nan ramah. Artinya, sebelum menginjakkan kaki persis di tepi Danau Toba, para wisatawan bisa singgah menikmati berbagai objek wisata lain di tujuh kabupaten sekitarnya.

Di Kabupaten Karo contohnya, tujuan wisata Gundaling, Tongging dan Gunung Sebanyak sangat layak untuk disinggahi. Kabupaten Dairi, memiliki objek wisata Air Terjun Pandaroh dan panorama Puncak Sidiangkat. Di Humbang Hasundutan juga ada Air Terjun Sampuran Pollung dan wisata Sipinsur-nya. Sedangkan objek wisata andalan Simalungun, Danau Toba di wilayah Prapat, Bukit Indah Simarjarunjung, dan Pemandian Aek Manigor.

Sementara Kabupaten Toba Samosir dikenal dengan Long Beach di Ajibata dan Pantai Lumban Silintong, Balige. Kabupaten Tapanuli Utara yang dahulu induk pecahan tiga kabupaten, memiliki destinasi wisata Air Soda dan Pulo Sibundong. Tak ketinggalan, Kabupaten Samosir pun punya objek wisata Air Panas Belerang (hot spring) di Kecamatan Pangururan, Pucuk Buhit (puncak gunung tertinggi di Kabupaten Samosir), Bukit Holbung (lokasi camping) dan Air Terjun Efrata di Kecamtan Harian Boho.

“Sekali berkunjung, kurang puas, apalagi cuma satu hari,”cerita sejumlah wisatawan. Beda orang berbeda rasa dan sudut pandangnya. Vilia Oktavia Marbun (20) gadis remaja berdarah Batak, kelahiran Kota Medan, saat pertama kali diajak orang tuanya bertamasya ke Toba, mulutnya diam, matanya menatap lekat-lekat pemandangan yang begitu mengagumkan.

Sejak itu, gadis cantik yang masih duduk di bangku kuliah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara ini, ketagihan mengunjungi Danau Toba sekaligus berkunjung ke kampung halaman ayahnya di Kabupaten Humbang Hasundutan. Hampir sebagian destinasi wisata di sekitar Danau Toba, satu per satu didatangi.

Ungkapan rasa ia tuang dalam lirik lagu, “Tao Toba” yang merupakan salah satu judul lagu yang akan dilantunkan Vilia sebagai lagu pengiring saat Festival Danau Toba akhir 2017 nanti. “Semoga lantunan lagu indah itu bisa saya nyanyikan dengan baik di festival nanti,” harap si bungu dari tiga bersaudara.

Lagu itu, kental nuansa asmara muda-mudi, dengan muatan pesan agar rasa cinta terhadap Danau Toba yang begitu indah, harus dilakukan dengan menjaga dan merawatnya. Tak lupa, lagu juga berisi ajakan kepada orang-orang untuk berkunjung ke Danau Toba nan indah permai.

Nama Danau Toba tersebar ke seluruh jagat raya, melekat nilai objek wisata berkelas dunia, namun realita kunjungan wisata masih belum memuaskan. Selama ini Danau Toba seakan dibiarkan begitu saja. Baru setelah 67 tahun Indonesia merdeka, mulai terlihat kepedulian pemerintah mengangkat dan memaksimalkan potensi objek wisata Danau Toba dan sekitarnya.

Satu langkah maju terbukti, Pesta Danau Toba berubah paket menjadi Festival Danau Toba. Pada 2013, istilah Festival Danau Toba pertama kali digunakan saat penyelenggaraan festival di Kabupaten Samosir. Dahulu, Pesta Danau Toba merupakan jenis pesta rakyat-ritual tahunan yang berubah dan berkembang mengikuti peradaban di zamannya.

Menurut Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Sumatera Utara, Drs. Elisa Julianus Marbun, MSi  perubahan kata Pesta menjadi Festival merupakan inisiatif Kementerian Pariwisata RI yang bertujuan meningkatkan kualitas penyelenggaraan event. Ide itu kemudian disambut baik oleh Pemprov Sumatera Utara dan Pemerintah Kabupaten/Kota khususnya yang berada di Kawasan Danau Toba.

Festival Danau Toba (FDT) 2017, akan diselenggarakan di Kabupaten Humbang Hasundutan, persisnya di Desa Sipinsur. Namun untuk beberapa jenis perlombaan seperti lomba lari, renang, vocal group, paduan suara, ucok dan butet Geopark Toba, seruling, dragon boat dan renang berlangsung di beberapa lokasi berbeda.

Lanjut Elisa, penentuan tuan rumah festival merupakan hasil kesepakatan antara Kementerian Pariwisata, Pemprov Sumatera Utara dan Pemerintah Kabupaten kawasan Danau Toba. Tuan rumah pelaksanaan festival secara bergiliran dari tujuh kabupaten. Hingga 2016, sudah empat kabupaten menjadi tuan rumah, Samosir, Toba Samosir, Karo dan Tapanuli Utara. Tahun 2017 ini, tuan rumah Humbang Hasundutan, untuk 2018 tuan rumah antara Dairi atau Simalungun.

Topik atau tema festival Danau Toba nanti, masih mengangkat Geopark Kaldera Toba sebagai topik utama. Di samping itu, Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan berencana menyandingkan topik Geopark dengan Kopi (istilah “kopi ateng” sudah cukup dikenal sebagai kopi khas Humbang Hasundutan. ***

Wisata Rumah Pohon Papangbon Bogor

Rumah pohon di Bogor.

BAGI Anda yang menyukai wisata alam bebas, sepertinya Bogor bisa menjadi tujuan. Apalagi, saat ini Bogor yang berjuluk ‘Kota Hujan’ ini memiliki wisata rumah pohon yang cukup menantang.

Terlebih bagi Anda yang gemar foto selfie. Di Bogor muncul spot baru yang bernama  Wisata Pabangbon. Rumah pohon dengan panorama cantik dan hijau perkebunan pinus.

Saat hari libur atau  akhir pekan, banyak orang berkunjung ke  Desa Pabangbon, Kecamatan Leuwiliang yang  lokasinya lumayan jauh dari  pusat kota Bogor.

Di sana pengunjung  dari atas gardu pandang yang dibuat  pada pohon yang cukup besar ini dapat melihat pemandangan dan menikmati  semilir angin  yang sejuk  dari hijaunya perbukitan.

Tiket masuk ke kawasan wisata ini terbilang cukup murah, hanya Rp5.000 saja. Pengunjung dapat menikmati  area yang masih asri ini, dengan pemandangan hutan pinus.

Bagi yang ingin berfoto di atas rumah pohon harus sabar antre menunggu  giliran kalau  pengunjung sedang ramai. Untuk ke sini dari pusat Kota Bogor mengarah ke Leuwiliang yang jaraknya  sekitar 25 kilometer atau bisa tempuh sekitar 1,5 jam.

Dari  Jakarta atau Depok dapat melewati jalur Parung kemudian melalui Atang Senjaya, lalu menempuh jalur yang sama hingga sampai ke Leuwiliang.  Ketika sampai pertigaan Karacak sebelum Pasar Leuwiliang, ambil rute ke kiri, jalan terus hingga terdapat jalan bercabang dan belok ke kanan di mana terdapat tulisan  SMP 4 Leuwiliang atau menuju Desa Pabangbon.

Rute yang mengarah ke daerah yang dikenal dengan Gunung Benteng ini didominasi tanjakan yang terjal tapi sudah beraspal baik. So, tunggu apalagi? ***

Wisata ke Bogor Sambil Bikin Sket

SUDAH punya rencana berlibur dalam waktu dekat ini? Sepertinya ‘kota hujan’ Bogor bisa mwenjadi tujuan Anda berlibur bersama keluarga atau orang terkasih.  The 101 Hotel & Resort bersama PHM Hospitality dan Komunitas Sketchwalker akan menyelenggarakan 101 Travel Sketch yang diadakan pada tanggal 28-29 Oktober di Kota Bogor.

Sebanyak 300 peserta diperkirakan akan melakukan perjalanan wisata di kota Bogor, lalu membuat sket pada setiap lokasi wisata yang dijumpai. Kegiatan ini bertujuan mempromosikan destinasi wisata kota Bogor, sekaligus dituangkan dalam bentuk sket.

Di Bogor banyak terdapat tempat menarik seperti bangunan-bangunan tua berarsitektur Belanda di sekitar  Jalan Suryakencana, Kebun Raya Bogor, Pecinan dan Pulo Geulis.

Yang menarik adalah Pulo Geulis yang lokasinya tidak jauh dari Tugu Kujang dan Kebun Raya Bogor. Pulau di tengah-tengah Kota Bogor tersebut menyimpan sejarah penyebaran berbagai agama di tanah sunda. Di dalam pulau seluas 3.5 hektar ini, ada sebuah bangunan bersejarah berupa kelenteng.

Peserta 101 Travel Sketch akan ditemani komunitas Sketchwalker, dan  diajak jalan-jalan sambil mengambar sketsa suasana di Bogor. Acara ini diramaikan oleh kehadiran beberapa seniman sketcher seperti Yandi P, Artyan Trihandono,  Motulz Anto, Seto Parama Artho, Iqbal Amirdha, Sheila Rooswitha Putri dan Corentanino.

Peserta yang ikut bisa siapa saja, dari komunitas, umum dan  anak-anak. Di hari pertama akan ada kegiatan workshop yang diisi empat sketcher ternama salah satunya Motulz Anto salah seorang travel sketcher yang sudah go internasional.

Hasil sket terbaik pertama akan diberikan kepada Presiden RI Joko Widodo dan terbaik kedua akan diberikan kepada Wali Kota Bogor Bima Arya. Sementara 50 persen dari jumlah sket akan dilelang yang hasilnya akan disumbangkan ke Pulo Geulis. ***