27 Bus Jakarta City Tour Siap Beroperasi

MUNGKIN Anda dan keluarga, baru sempat mengunjungi beberapa lokasi wisata dan hiburan  yang tersedia di Ibukota Jakarta. Padahal, sebenarnya banyak lokasi wisata yang  yang layak bisa Anda kunjungi.
Untuk menggairahkan denyut wisata di Jakarta,  Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi DKI Jakarta, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), ikut turun tangan  dalam mempromosikan pariwisata di Ibukota.
Untuk itu, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) menargetkan hingga akhir tahun 2017 ini, operator “busway” itu  sudah dapat memiliki 27 bus wisata Jakarta City Tour.
Direktur Utama PT Transjakarta, Budi Kaliwono
Direktur Utama PT Transjakarta, Budi Kaliwono menuturkan, hingga saat ini sudah ada 25 bus dari  hibah dari pihak swasta. “Hingga akhir 2017, kami menargetkan penambahan dua unit bus lagi,” kata Budi, Selasa (17/10).
Ia menambahkan, dirinya merasa sangat senang dengan adanya kepedulian dari pihak swasta untuk memberikan sarana transportasi pariwisata di Ibukota.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Tinia Budiati menambahkan, dengan adanya bus wisata perlu diapresiasi dan didukung. Sebab, masyarakat memang memerlukan adanya bus wisata gratis.
“Ini merupakan bentuk dukungan yang perlu ditingkatkan. Bus ini dapat menjadi sarana promosi wisata dan meningkatkan jumlah wisatawan di Jakarta,” tandasnya.
Memang, keberadaan bus Jakarta City Tour ini sangat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat, yang  membutuhkan angktan yang nyaman dan murah ke tempat-tempat wisata di Jakarta.  Anda akan merasakan keunikannya, manakala  menikmati  wisata dengan fasilitas bus Jakarta City Tour ini. ***

Segarnya Aroma Pinus di Pantai Panjang

Pantai Panjang Bengkulu. Foto: Parasian Sitanggang

BENGKULU terkenal dengan sebagai salah satu tempat bersejarah, dimana presiden pertama Indonesia Bapak Ir. Sukarno, diasingkan. Tidak hanya bangunan bersejarah yang menarik minat wisatawan, tapi juga banyak destinasi wisata menarik di sana. Salah satunya Pantai Panjang.

Nama Panjang tidak hanya digunakan oleh Pantai Panjang Bengkulu, beberapa tempat juga memakai nama yang sama, seperti Pantai Sepanjang di Yogya, Pulau Panjang di Jepara, Pantai Jembatan Panjang di Malang, Jawa Timur, Pantai Pasir Panjang di Singkawang, Pontianak, Kalimantan Barat

Yang ini, Pantai Panjang Bengkulu yang memiliki garis pantai sepanjang 7 km, dan lebar 500 m. Pantai ini tidak terdapat karang, sehingga ketika ombak besar, sangat mudah menjilat daratan. Keindahan pantai ini terlihat ketika air surut karena hamparan pasir putihnya jadi semakin luas. Dan yang paling ditunggu para pengunjung adalah saat menikmati matahari tenggelam. Warna yang berpeda di permukaan air laut, memanjakan mata dan membuat hati merasa terkagum-kagum.

Pantai ini tergolong bersih, namun sangat tidak disarankan untuk berenang atau mandi. Karena pantai ini tergolong memiliki ombak yang cukup besar, hampir menyerupai ombak di Kepulauan Mentawai. Jika di Mentawai banyak wisatawan luar negeri berselancar, di Pantai Panjang, jarang sekali terlihat perselancar baik dari lokal maupun dari luar negeri.

Pantai Panjang ini terletak di 3 kecamatan yakni, Kecamatan Ratu Agung, Kecamatan Teluk Segara dan Kecamatan Ratu Samban. Dari Pusat Kota Bengkulu jaraknya kira-kira mencapai 3-4 Km.

Menikmati makan siang di tengah hutan pinus Pantai Panjang, Foto: Parasian Sitanggang

Banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan di sana, seperti jogging, volly pantai, berjemur, berenang, berkemah dan hingga mencoba berbagai wisata kuliner yang terletak di sepanjang Pantai Panjang.

Pantai panjang ini terletak sejajar dengan Pantai Tapak Paderi dan Pantai Jakat. Di Sepanjang pantai ini terdapat beberapa warga menawarkan transportasi sejenis delman. Para pengunjung dapat menikmati keindahan pemandangan pantai serta menikmati sejuknya udara pantai. Harga yang ditawarkan untuk diantar delman menyisir pantai tersebut tergolong terjangkau, yakni Rp. 30.000.

Beberapa warga menuturkan bahwa pengunjung Pantai Panjang paling ramai pada pagi hari dan sore hari. Biasanya banyak yang melakukan jogging, diarea jogging track yang tersedia pada waktu tersebut.

Fasilitas pantai ini masih banyak perlu ditambah, seperti penambahan pengawas penjaga pantai. Karena disana tidak ditemukan sedikitpun penjaga pantai. Di Sepanjang Pantai Panjang banyak terdapat restoran, café, penginapan, area bermain, dan pusat perbelanjaan.

Pantai ini juga unik, jika pada umumnya banyak pantai ditanami pohon kelapa, tetapi pohon terbanyak ditanami adalah pohon pinus dan pohon cemara. Kesegaran dari aroma pinus dan cemara ini membuat suasana pantai, benar-benar membuai.

Pantai Panjang tidak dikenai harga tiket masuk, alias gratis. Hanya saja ditempat-tempat tertentu ada beberapa area parkir yang dikenakan biaya.

Untuk mancing, di sepanjang pantai tersebut sangat jarang ada pemancing. Warga lokal menuturkan bahwa untuk mendapat ikan, nelayan harus jauh melaut ke arah Samudera Hindia. Lokasi ini memang cocok untuk berekreasi, disarankan agar ke Pantai ini pada pagi hari dan merupakan hari kerja. Jika anda mengunjungi lokasi ini pada sore hari dan pada saat momen hari libur, suasana menjadi sangat tidak nyaman, karena penduduk lokal dan wisatawan ramai sekali, dan siang hingga sore hari disana sangat panas menyengat lebih cocok untuk berjemur.

Karena itu, banyak yang melakukan aktivitas di sepanjang pantai Panjang pada pagi hari adalah, jogging, bersepeda, berswafoto dengan latar belakang matahari terbit hingga bermain pasir. Menjelang siang hari, beberapa akan memilih meneduh di warung makan dan restoran sambil menikmati es kelapa muda, kalaupun ada yang di pinggir pantai saat siang hari, biasanya ingin berjemur. Pada sore hari banyak yang memilih untuk jogging, bersepeda, atau sekedar duduk-duduk menikmati matahari terbenam dan berswafoto dengan latar belakang matahari terbenam.

Untuk menuju lokasi terdapat berbagai macam transportasi seperti angkutan umum, minibus, taksi, atau mobil sewaan. Jika dari pusat kota Bengkulu rute yang baik digunakan adalah dari Jl. Fatmawati lurus hingga menuju Jl. Ratu Agung. Selanjutnya terus melewati Jalan Samudra, kemudian memilih Jalan Pariwisata. Dari pusat kota bengkulu membutuhkan waktu kira-kira 15 menit. Pantai ini memiliki nama asli Pantai Panjang Putri Gading Cempaka. ***

Stop Dreaming, Let’s Explore the World

PERUSAHAAN sektor wisata  PT Bayu Buana Tbk. [IDX: BAYU],  setelah sukses dengan travel fair spektakuler di awal tahun ini,  kembali menghadirkan Bayu Buana Holiday Travel Fair 2017.  Minat masyarakat berlibur dan berpelancong  ke luar negeri kini  semakin meningkat dengan adanya kemudahan  pengurusan dokumen keberangkatan seperti  passport, visa dan lainnya.

“Di tengah perubahan landscape bisnis pariwisata di Indonesia saat ini, terutama dengan terjadinya transformasi digital, Bayu Buana tetap berkomitmen untuk menjadi perusahaan pariwisata terdepan yang memahami kebutuhan pelanggan dan tetap mencapai pertumbuhan dan sustainability perusahaan,” kata Agustinus Pake Seko, Presiden Direktur, PT Bayu Buana Tbk.

“Berbagai inovasi dalam perusahaan harus kami lakukan untuk meraih pertumbuhan dan peningkatan keuntungan yang lebih tinggi. Salah satunya adalah dengan memberikan pengalaman pelanggan yang tak akan terlupakan,” ungkapnya.

Data dari Direktorat Jendral (Ditjen) Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM mencatat peningkatan sebanyak 10,4% atau sekitar 492.523 orang yang berangkat ke luar negeri untuk berlibur. Padahal dibanding taun 2016 hanya tercatat 441.340 orang yang berangkat berlibur ke luar negeri. Selain itu pada semester pertama 2017 perlintasan WNI keluar negeri juga masi sangat besar. Total ada 8.765.486 orang berpergian ke luar negeri. “Tidak dipungkiri demand masyarakat Indonesia ke luar negeri memang masih sangat tinggi,” lanjut Agustinus.

Memasuki masa libur akhir tahun dan menangkap geliat tingginya minat melancong ke luar negeri, Bayu Buana kembali mengadakan Bayu Buana Travel Fair 2017, dengan tema: STOP Dreaming, Let’s Explore the World di Mal Puri,Jakarta beberapa waktu yang lalu.

“Tentu yang menjadi pembeda untuk Bayu Buana Holiday Travel Fair kali ini yang kita promosikan adalah paket-paket musim dingin,” jelas Yunita Widjaya, General Manager, Holidays, PT Bayu Buana Tbk, di sela-sela acara konferensi pers Bayu Buana Holiday Travel Fair 2017. “Bahkan yang lebih menarik adalah promosi tiket penerbangan Business Class ke Eropa seharga IDR 18 jutaan,” ungkap Yunita.

Tema STOP Dreaming, Let’s Explore the World juga memiliki arti khusus untuk Bayu Buana. “Kami ingin masyarakat Indonesia meraih mimpinya untuk dapat merambah dunia dengan paket-paket liburan yang kami tawarkan dengan harga yang terjangkau,” lanjut Yunita.

Tentunya selain tema yang menarik, ada banyak tawaran paket dan diskon khusus yang ditawarkan oleh Bayu Buana. Promo menarik ini meliputi paket tur sampai paket tiket penerbangan. “Khusus buat pelanggan setia kami yang rutin mengikuti program-program yang kami buat akan mendapatkan diskon sampai 45%,” kata Yunita lagi.

Bayu Buana Holiday Travel Fair 2017 ini sendiri menargetkan pembelanjaan terbesar datang dari kalangan keluarga dan mereka yang mencari paket liburan akhir tahun. “Tujuan yang kami tawarkan juga sangat beragam mulai dari Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Korea, China, sampai Turki,” papar Yunita.

Selain promo menarik berupa diskon yang besar dan tujuan perjalanan yang luas, Bayu Buana Holiday Travel Fair 2017 juga bekerja sama dengan beberapa bank nasional untuk mendukung cicilan khusus dan tentunya promo cash back.

 

Blanco Renaissance Museum Menangkan “Hijau Perunggu”

BLANCO Renaissance Museum yang berlokasi di Ubud Bali, kembali mengukir prestasi. Kali ini museum itu sukses menjadi salah satu pemenang penghargaan Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) 2017 dalam ajang bertajuk Apresiasi Pesona Destinasi Pariwisata Indonesia (APDPI) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata.

Ajang tersebut merupakan penghargaan bagi destinasi serta pemangku kepentingan (stakeholder) pariwisata berkelanjutan. Begitu vitalnya peran sektor pariwisata menuntut seluruh pihak untuk mengembangkan sektor ini secara berkelanjutan (sustainable). Dan Blanco Renaissance Museum dinilai sukses berkomitmen menerapkan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan dan secara sistematis.

Dari 96 destinasi di Indonesia yang dikurasi, 24 di antaranya lolos seleksi dan dipilih. Serta kemudian 17 pengelola destinasi ditetapkan sebagai pemenang karena dinilai telah menerapkan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan di bidang budaya, ekonomi, sosial, dan lingkungan.

“Memang perlu penghargaan seperti ini agar kita lebih semangat dan merasa diperhatikan oleh pemerintah. Sekaligus ini adalah tugas kita agar bagaimana kita bisa lebih kreatif melihat ke depan agar kita selalu update, bergerak melangkah dan pemerintah sebagai payung untuk mengawasi dan memberi masukan,” kata sang pemilik Blanco Renaissance Museum, Mario Blanco.

“Penghargaan ini saya didedikasikan kepada Indonesia khususnya Bali, serta kedua almarhum ibu dan ayahanda Don Antonio Blanco,” sambungnya.

Museum Blanco menerima penghargaan sebagai pemenang hijau perunggu kategori pelestarian budaya. Rata-rata pengelolaan pariwisata berskala besar meraih penghargaan ini. Hanya saja, Blanco Renaissance Museum yang mampu menembus penghargaan ini secara perorangan.

Blanco Renaissance Museum mulai dibangun pada tanggal 28 Desember 1998 di Ubud, Bali. Museum yang kini berdiri megah di lingkungan asri tersebut, menyimpan sekitar 300 koleksi lukisan dari maestro lukis ternama, Don Antonio Blanco dan karya-karya putranya Mario Blanco.

Bangunan ini didirikan oleh Antonio Blanco dan dilanjutkan oleh Mario Blanco sebagai penerus dan sekarang sudah diteruskan oleh dua setengah generasi yang meneruskan cita-cita Don Antonio Blanco untuk memiliki museum demi menyimpan karya-karyanya. Keberadaan Museum Blanco yang berkaitan dengan budaya seni lukis dan pelestrian alam serta lingkungan, memang tidak bisa dipisahkan dari sejarah dan juga kebesaran Ubud hari ini. ***

Keelokan Senja di Pantai Pagatan

Jika Anda ingin menyaksikan lukisan abstrak alam nan elok, pergilah ke pantai Pagatan. Coretan awan di  cakrawala  dalam timpahan  sinar mentari senja,  menghadirkan eksotika  panorama yang  membuat mata enggan berkedip. Permainan cahaya pada mega-mega di dinding horison, merambat berubah, antara kuning, jingga dan bercampur bauran kemerahan,  lalu meremang dan kian redup diseling semburat hitam di langit barat. Temaram senja pun berlalu  dan berganti gelap  ketika  matahari seolah nyemplung ke dalam laut.

Esok hari  cahaya semesta itu terbit lagi di ufuk timur,  dan kembali menciptakan lukisan indah saat hendak tenggelam. Pabila cuaca bersahabat, sunset itu bisa kita nikmati sempurna diiringi cericit burung-burung, lebih-lebih dalam kesenyapan suasana.  Namun Pantai Pagatan juga akan sangat riuh ketika berlangsung Mappanretasi atau pesta laut sebagai wujud rasa syukur para nelayan kepada yang Mahakuasa atas limpahan rizeki  di samudra luas.

Keramaian Pantai Pagatan ketika digelar pesta laut tidak hanya dikunjungi masyarakat Kabupaten Tanah Bumbu, melainkan warga lain di Provinsi Kalimantan Selatan. Karena acara adat yang dilakukan secara turun temurun oleh suku Bugis di Tanah Bumbu, Kalsel ini telah menjadi agenda pariwisata nasional. Destinasi pariwisata semacam ini  sangat menarik wisatawan sekaligus upaya melestarikan budaya maritim di Nusantara.

Pantai yang terletak di Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu ini terbentang sekitar 1,5 km dengan luas 1,5 ha. Sepanjang pantai terdapat pepohonan peneduh.  Selain keindahan panorama alam dengan pesona sunset di rembang petang, pasir putihnya yang bersih pun membuat anak-anak betah bermain di sini.    Kebersihan pantai  cukup terjaga dengan diletakkannya tempat pembuangan sampah  yang tertata rapi sepanjang pantai.

Setiap tahun di awal Mei, pelaksanaan ritual Mappanretasi berlangsung di  tengah laut dengan kapal besar berhias umbul-umbul aneka warna   dan bermacam  dekorasi. Kegiatan pesta adat ini dibagi dua, yakni Mappanretasi  sebagai ritual adat masyarakat  Tanah Bumbu, serta berbagai lomba seni budaya dan olahraga, serta kegiatan sosial dan keagamaan, pameran pembangunan, dan pasar kuliner  selama 7 hari. Pada puncak Mappanretasi Mei yang lalu dihadiri Presiden Joko Widodo.

Keunikan pesta adat yang dikunjungi ribuan orang ini dilaksanakan di pinggir  pantai dan di tengah laut.  Selain kapal besar tempat ritual Mappanretasi juga diiringi kapal-kapal nelayan yang penuh hiasan. Karnaval perahu-perahu hias nelayan  pada puncak Mappanretasi merupakan satu-satunya atraksi wisata di tengah laut di Indonesia. Pesta adat Mappanretasi telah masuk dalam kalender event  pariwisata nasional.

Pantai Lainnya

Selain pantai Pagatan, Tanah Bumbu juga memiliki Pantai Rindu Alam.  Meski telah bersolek dengan beberapa fasilitas seperti kolam renang, flying fox, play ground, gazebo, pendopo, dan lainnya, banyaknya pohon pinus yang tinggi dan lebat tetap menghadirkan suasana alami.

Pantai Sungai Cuka di Kecamatan Satui, sekitar 100 km dari ibukota Tanah Bumbu, berbatasan dengan Kab Tanah Laut, juga dapat dikata pantai nan perawan. Karena sangat alami, kontur pantai landai,  pasir berwarna keabuan, air jernih dan tenang. Keunikan pantai ini adalah hamparan terumbu karang yang tumbuh seluas 2 km2. Terumbu karang itu banyak yang menyerupai buaya sehingga masyarakat menjulukinya terumbu karang batu buaya.

Pantai Angsana pun menjadi destinasi unggulan dan favorit di Tanah Bumbu, utamanya bagi yang ingin menikmati senja hari. Di sini ada permainan banana boat dan jet ski, serta keindahan bawah laut.  Terumbu karang  dan biota laut yang beragam  sangat memanjakan pandangan mata.

Lalu pantai yang tak kalah molek dan alami adalah pantai Tanjung Petang. Terletak 3 km dari Kecamatan Kusan Hilir. Tanjung Petang berpasir putih, di lingkup panorama alam nan asri,  berhadapan dengan Gunung Jambangan yang menjulang tinggi dan kokoh.

Kabupaten Tanah Bumbu dengan beberapa pantai yang indah memiliki luas wilayah  sekitar 5.066 km persegi atau 13  persen dari luas Kalimantan Selatan. Jumlah penduduknya  hampir 300 ribu jiwa (th 2013). Tentu ini wilayah yang “senyap” jika dibandingkan Jakarta yang bising. Bayangkan, DKI Jakarta hanya seluas 665 km persegi berpenduduk sekitar 10 juta jiwa. Maka jika menyaksikan keasrian   pantai-pantai di sini , nuansa yang alami  tentu cukup pekat. Hamparan pasir, riak ombak, lambaian nyiur dan desau pohon-pohon pinus,  seakan menghadirkan aroma nan purbawi. ***

“Wisata Pungli” di Curug Bidadari

TERSEBUTLAH objek wisata bernama Curug Bidadari. Lokainya di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat. Relatif mudah dijangkau dari ibu kota maupun dari kota Bogor. Arahkan kendaraan ke tol Jagorawi, keluar tol di pintu Sentul Selatan. Dari sana, belok ke kiri arah Rainbow Hill, sampai menemukan papan petunjuk Curug Bidadari.

Wisata air terjun ini, awalnya bernama Curug Bojong Koneng, karena letaknya di Desa Bojong Koneng. Ia berubah menjadi Curug Bidadari setelah dikelola swasta, Sentul Paradise Park, yang berkantor di Ruko Plaza Amsterdam, Sentul City.

Wisata ke Curug Bidadari, jika tidak longgar hati, pasti berpikir tentang “wisata pungli”. Betapa tidak, untuk menikmati objek wisata air terjun ini, berkali-kali pengunjung haris bersedia dipalak, bahasa kasarnya. Pungli pertama dijumpai di sebuah jalan simpang tiga, tepatnya di jalur yang menuju objek wisata. Sepeda motor dipungut Rp 2.000, mobil Rp 5.000.

Dari pertigaan, jalan menurun dan berbatu. Untuk jarak satu kilometer sebelum mencapai gerbang objek wisata, terdapat dua kelompok pemungut liar, masing-masing memungut sejumlah rupiah dengan nominal yang sama, Rp 2.000 untuk sepeda motor, dan Rp 5.000 untuk kendaraan roda empat.

Itu artinya, sampai di gerbang pintu masuk, sepeda motor sudah dipalak Rp 6.000, dan yang bermobil Rp 15.000. Sedampai di gerbang masuk, pengunjung wajib beli tiket masuk Rp 25.000 per orang untuk hari kerja, dan Rp 30.000 untuk weekend. Bagi turis asing, dikenakan tarif lebih mahal, Rp 50.000 per orang. Ada lagi kriteria “special day” yang memasang tarif Rp 40.000 per orang.

Masih atas nama tarif resmi, sepeda motor dikenakan biaya parkir Rp 5.000, sedangkan mobil Rp 10.000. Nah, lepas dari gerbang, kita masih harus menempuh perjalanan sekitar 1 km.

Tiba di aera air terjun, pengunjung pun memarkir kendaraannya. Apa yang terjadi? Pengunjung masih harus merogoh kocek Rp 10.000 lagi, atas nama “biaya parkir”. Itu artinya, di gerbang dipungut biaya parkir, di lokasi, harus membayar biaya parkir lagi.

Apa lagi yang berbayar di sana? Jangan khawatir. Masih banyak. Sewa pelampung, antara Rp 15.000 – Rp 20.000. Biaya bilas sehabis berenang, Rp 2.000 per orang. Sewa tikar Rp 20.000, sewa saung Rp 60.000.

Dus… Anda bisa googling di internet tentang keindahan Curug Bidadari. Sebab, tulisan ini memang hanya menyoal pungutan liar di sana. Jika akhirnya Anda urung ke sana? Sebaiknya begitu. ***

Yang Mengecewakan dari Objek Wisata Sumut

Huta (desa) Janji Martahan, Kecamatan Harian Boho, Kabupaten Samosir. Foto : Monang Sitohang

DARI pantaun Jayakartanews di sejumlah objek wisata Sumatera Utara, setidaknya ada dua sisi pembuat kecewa para wisatawan. Pertama kualitas pelayanan (service) dan kedua sisi pemberlakuan harga melampui standar kewajaran.

Sejumlah pengunjung yang kecewa karena pelayanan minim, antara lain objek wisata sejarah Istana Maimon di Medan, dimana petugas parkir berprilaku kurang ramah, dan pemandu (guide) kurang begitu merespon ketika para wisatawan bertanya tentang kisah sejarah Istana Maimon.

Selain itu, di tempat objek wisata alam sekitar Danau Toba seperti di Tomok, Ambarita, Prapat dan objek alam Brastagi di Kabupaten Karo, tak sedikit pedagang cendramata, buah-buahan dan makanan-minuman yang marah ketika dagangannya ditawar. Bahkan masih ada pedagang yang menjajakan jualannya bernada memaksa.

Kus Endro, Ketua HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Sumatera Utara (Sumut) mengatakan hal yang sama mengenai sikap pelayanan sebagian penjaja dagangan atau penggiat wisata terhadap wisatawan di tempat-tempat objek wisata tersebut. “Di daerah kualitas SDM-nya sangat kurang, akhirnya mempengaruhi cara pelayanan dan standarnya masih lokal,” ungkap Endro.

Endro mencotohkan, di Prapat standar pelayanan masih belum cukup walaupun sudah ada beberapa hotel yang memadai. Sebenarnya, harga-harga di objek wisata itu masih stabil. Ia menyarankan, perlu ditingkatkan tampilan dan pelayanan. Karenanya, perlu dilakukan pelatihan-pelatihan terhadap pelaku wisata mengenai standar pelayanan.

Sementara itu, H. Omar Jayono MA, staf pengajar Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN Sumut), Dosen Akademi Pariwisata Medan berpendapat bahwa dunia pariwisata tak terpisahkan dari pelayanan, dan pelayanan adalah jasa. Sedangkan tujuan dunia jasa adalah pelayanan prima, dan untuk mencapai pelayanan prima harus bersikap senang dan ikhlas melayani.

Para pelaku wisata haruslah menanamkan semangat jiwa melayani sehingga para wisatawan baik wisatawan mancanegara (Wisman) maupun wisatawan lokal mau berlama-lama menghabiskan waktu dan uang di tempat tujuan wisata.

Jika para pelaku wisata tidak memiliki sikap dan semangat jiwa melayani bisa menimbulkan kekecewaan bagi para wisatawan. Dampaknya, jangan berharap banyak kalau para wisatawan akan datang kembali, dan bahkan bisa berdampak luas atau merembet kepada para calon wisatawan yang mengurungkan niat untuk berkunjung.

Kunci pelayanan prima yang sesuai nilai-nilai sapta pesona utamanya adalah para pelaku pariwisata harus memiliki semangat jiwa melayani yang ikhlas. “Melayani dengan ikhlas akan membuat para wisatawan puas, dan hikmah melayani dengan ikhlas adalah ibadah dan bagian dari beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa,” Omar berpendapat.

Menurut Endro, di samping kualitas pelayanan yang masih perlu ditingkatkan, fasilitas umum sebagai prasarana pendukung menuju dan di tempat tujuan wisata juga perlu diperbaiki. Seperti penunjuk arah yang mudah terlihat dan setidaknya harus dibuat dalam dua bahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris).

Restoran halal di Samosir masih sangat langka sehingga perlu diperbanyak, dan kebersihan di tempat objek wisata Brastagi masih jauh dari harapan pengunjung. Sementara toilet umum di Prapat cukup terjaga kebersihannya.

Di jalur jalan dari Brastagi menuju Prapat tampak kotor, masih banyak tumpukkan sampah dan bahkan tak jarang terlihat truk sampah Pemerintah Kabupaten Karo membuang sampah di jurang sepanjang jalan Kabupaten Simalungun dekat Simarjarunjung. Harapan Endro, ke depan ada perubahan baik di pihak pemerintah, industri pariwisata, maupun masyarakat untuk memperbaiki di semua lingkup sektor wisata.

“Sudah sepatutnya diperbanyak pelatihan dan sosialisasi, juga perlu dibentuk lembaga atau CSR yang khusus untuk pengembangan pariwisata yang sifatnya berbuat langsung ke objek. Selama ini kita hanya sibuk mempromosikkan objek wisata dan  meraup keuntungan untuk pribadi-pribadi. Dalam hal ini HPI siap membantu,” tegas Endro.

Menurut salah seorang anggota Assosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Tengku Feria Aznita, mengenai harga-harga yang ada di sekitar destinasi wisata memang di atas rata-rata. Sedangkan  mengenai pelayanan tentu masih ada yang kurang, tetapi belakangan tampak sudah terjadi peningkatan walaupun belum signifikan.

Dan keluhan lain bagi sebagian wisatawan yang beragama Islam adalah masih sulit menemukan tempat sholat di tempat-tempat wisata. “Kalaupun belum tersedia tempat sholat, tetapi paling tidak dibuatkan petunjuk arah sholat, karena bagi kami yang melaksanakan sholat terkadang bingung arah kiblat,” Lusi menimpali salah seorang pengunjung wisata di Tomok.

Omar menambahkan, mengenai harga-harga di tempat wisata boleh dibilang belum stabil atau belum memiliki standar. Ia mencontohkan, beberapa waktu lalu terjadi komplain harga dari pengunjung di Malioboro, Yogyakarta. Pedagang Kakilima memasang harga nasi goreng, dan minuman di atas standar harga atau tidak sesuai Perda (Peraturan Daerah).

“Setahu saya, pedagang yang bersangkutan ditindak tegas oleh pemerintah setempat. Pemprovsu juga harus demikian, menindak tegas dan memberikan sanksi kepada pelaku pariwisata yang bermain-main dengan harga terhadap wisatawan, sehingga wisatawan merasa nyaman,” imbau Omar.

Menjadi perhatian, dalam tahun 2017, Pemprov Sumatera Utara melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) telah memetakan 100 destinasi wisata meliputi objek wisata alam, sejarah, budaya, seni dan kuliner. Masing-masing objek wisata punya nilai jual yang cukup menjanjikan dan patut diperhitungkan untuk menjadi sumber PAD (pendapatan asli daerah) bagi kabupaten/kota pemilik objek wisata di wilayah masing-masing. ***

Huta (desa) Janji Martahan, Kecamatan Harian Boho, Kabupaten Samosir. Foto : Monang Sitohang

Asyiknya Anak-anak Berselancar di Pantai Bantayan

Pantai Bantatan di  Kecamatan Seunuddon, Aceh Utaraa, adalah satu dari pantai nan indah di Indonesia. Pemerintah Kab Aceh Utara melalui  Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora), menganggarkan  dana sebesar Rp 1 miliar lebih untuk merevitalisasi obyek wisata  Pantai Bantayan

 

Anak-anak menikmati rekreasi di Pantai Bantayan dengan berselacar. [Photo: Xinhua]

Palau Suguhkan Keragaman Maritim nan Luar Biasa

PALAU telah mendorong upayanya untuk melestarikan lingkungan maritimnya yang kaya selama beberapa generasi ke depan, dengan beberapa langkah termasuk pengenalan pajak dan pendidikan perlindungan lingkungan untuk anak-anak. Hal itu disampaikan  oleh seorang pejabat pariwisata  Tokyo  pada sebuah seminar di Ibukota Jepang, belum lama ini. 

Negara kepulauan di Pasifik Barat tersebut, menawarkan Rock Islands Southern Lagoon, yang pada tahun 2012 ditetapkan  sebagai situs Warisan Dunia;  Palau adalah satu di antara  35 situs semacam  di dunia, yang menampilkan unsur-unsur penting dan signifikansi budaya.

“Ini seperti akuarium di laut, mengingat spesies yang ada sangat beragam,” kata koordinator pemasaran dan penjualan Kantor Otoritas Pariwisata Palau di Jepang,  Tsuyoshi Shibamura kepada peserta seminar  di Minato City Eco-Plaza.

Menurut UNESCO , di wilayah tersebut, yang mencakup sekitar 100.000 hektar dengan 445 pulau batu kapur tak berpenghuni yang berasal dari vulkanik, terdapat pula 746 spesies ikan, lebih dari 385 spesies karang, serta setidaknya 13 spesies hiu dan pari manta dapat ditemukan.

Pada seminar bertajuk “Palau with the World Heritage Site” tersebut terungkap adanya sebuah upaya unik oleh negara kecil itu dalam mereka pengembangan pariwisata dan konservasi alam.   “Shibamura memperkenalkan banyak tempat unik, termasuk Danau Jellyfish, Bima Sakti yang terkenal dengan lumpur putihnya, tempat menyelam Blue Corner dan Air Terjun Ngardmau,” kata Shibamura.

“Berbicara tentang ubur-ubur, ada spesies di Palau yang hidup di danau, bukan di laut,” katanya menerangkan. Lingkungan unik ini telah melindungi mereka dari predator, sehingga ubur-ubur di sana memiliki sengatan dan racun yang lemah. Dengan begitu,  memungkinkan bagi pengunjung untuk berenang bersama mereka, tambah Shibamura.

Namun, akibat  hujan yang tidak turun cukup lebat pada tahun lalu, telah membuat danau tersebut lebih asin yang  menaikkan suhu air. Situasi itu  telah menyebabkan ubur-ubur hilang, kata Shibamura. Namun Palau petut bersukur, karena  larva di dasar danau tersebut ternyata berangsur-angsur tumbuh. Menurut Shibamura, tahun depan kemungkinan para pengunjung Palau  bisa melihat ubur-ubur.

Tertarik dengan lautnya yang indah dan situs Warisan Dunia, serta kekayaannya yang tersembunyi, sekitar 30.000 orang Jepang mengunjungi Palau pada tahun 2016. Jumlah itu  mengalami peningkatan  50 persen dari tahun 1997, demikian jelas  Shibamura.

Untuk menjaga lingkungannya yang tak ternilai harganya, sejumlah pihak berwenang, termasuk negara bagian Koror yang menjadi tuan rumah Kepulauan Rock, mengenakan pajak untuk pelancong, menurut Shibamura.

“Kami memiliki filosofi untuk melakukan upaya terus-menerus untuk melestarikan alam ini selama 100 tahun berikutnya, dan bahkan 200, tahun,” katanya.

Izin Rock Island seharga $ 50, berlaku selama 10 hari, perlu untuk dikunjungi, sementara pelancong diminta untuk membayar Biaya Hijau sebesar $ 30 saat mereka meninggalkan negara tersebut, Shibamura menjelaskan.

Selain itu, upaya promosi lebih lanjut diperlukan untuk mendidik masyarakat setempat dengan alasan mengapa alam begitu penting, tegasnya. Dia menambahkan pihak berwenanglah  telah membuat DVD, sehingga anak-anak di Palau pun  bisa mengerti akan hal itu. “Kita perlu memberi tahu mereka bahwa alam itu adalah aset berharga Palau,” kata Shibamura.

Seminar tersebut merupakan yang ketujuh dalam rangkaian memperkenalkan gaya hidup ramah lingkungan yang dipromosikan oleh berbagai negara di seluruh dunia. The Minato City Eco-Plaza dan The Japan Times bersama-sama menyelenggarakan seminar tersebut bekerjasama dengan kedutaan besar di Tokyo.

Pada awal seminar, Duta Besar Palau Francis Mariur Matsutaro berbicara tentang hubungan dekat negara Pasifik dengan Jepang, yang dimulai lebih dari 100 tahun. “Pada bulan April 2015, kami mendapat kehormatan besar untuk menyambut Kaisar  Akihito  dan Permaisuri Michiko  ke Palau, dalam rangkaian peringatan  70 tahun perang di Pasifik.”

Jepang memerintah Palau semenjak  tahun 1920 sampai akhir Perang Dunia II pada tahun 1945. Kala itu, pasukan kekaisaran melawan pasukan Amerika di Pertempuran Peleliu yang sengit dari bulan September sampai November 1944.***

Begini generasi milenial Asia ‘booking’  untuk petualangan mereka

Jeans Street di Kojima (Foto: Okoyama-japan.jp)

 

JEANS telah  membawa Somsri Sukumpantanasan, seorang pekerja kantoran berusia 54 tahun dari Bangkok, sampai ke Kojima, sebuah kota pesisir terpencil di barat daya Jepang, sederhana: Di sanalah celana jeans favoritnya yang sudah berusia 17 tahun berasal.

“Dia ingin tahu cerita di balik jeans Momotaro-nya,” jelasnya, mengacu pada merek premium yang, bersama dengan 34 toko lainnya, merupakan bagian dari “Jeans Street” di pusat kota kecil tersebut.

Kisah ini  mungkin tampak seperti jalan panjang untuk mendapatkan celana jins, tapi Somsri dan keluarganya tampaknya benar-benar mewakili turis Asia yang baru, yang tidak takut untuk keluar menyusuri  jalan setapak dan menuju ke tempat-tempat yang tidak biasa dikunjungi oleh paket-paket wisata lazimnya.  Meningkatnya pendapatan, tarif pesawat udara yang lebih murah dan kekuatan media sosial, membuat mereka lebih mudah melakukannya.

Untuk tempat seperti Kojima, tren yang ada dalam berwisata ini menjadi sebuah berkah. Kota ini menghasilkan jeans Jepang pertama  pada tahun 1960-an dan kemudian dengan cepatnya berkembang menjadi area pembuatan denim utama di negeri Sakura ini. Tapi karena produsen mulai mencari tenaga kerja murah, ekonomi lokal terkalahkan,  dan tidak lama  jalan menuju kawasan perbelanjaan utama tertutup oleh kehadiran  toko-toko, maka tren penurunan wisata  kemudian menambah kesengsaraan kota.

 

Namun kini,  ekspos  di media sosial telah membantu memberi nyawa baru bagi bengkitnya  “kiblat jeans Jepang”. Ada semacam kontrak baru untuk hidup. Gambar jemuran  penuh bluejeans berkibar di jalan kawasan perbelanjaan utama telah terbukti sukses dengan banyaknya yang mem-follow di  Instagram. “Kami sangat ingin membuat tempat ini terlihat lebih menarik, meski hanya memiliki anggaran kecil,” kata Nobuichi Dazai, managing director Kamar Dagang dan Industri Kojima. “Tapi sepertinya kita melakukannya dengan benar.”

Diperkirakan sekitar 150.000 orang sekarang mengunjungi Jeans Street setiap tahunnya. Dengan anggaran 15 juta yen, kota ini berencana membangun toilet umum bertema jins yang diharapkan akan menjadi tempat berselfie yang populer untuk pengunjung kota Kojima.

Dengan smartpone, sekarang separuh dari persoalan yang dihadapi kelompok milenmial, seperti terselesaikan. Agenda pribadi, dapat disusun dan diiingatkan sekaligus oleh smartphone. Dengan bersenjata  smartphone, orang dapat memperoleh  banyak informasi secara online, yang bahkan sangat fleksibel dengan  rencana mereka. Dengan berbekal smartphone, kini  wisatawan dapat menciptakan perjalanan yang sesuai dengan selera mereka.

Dalam kasus Somsri, kota  Kojima adalah bagian dari perjalanan keluarga mereka selama  13 hari di Jepang, yang telah  direncanakannya. Mereka ke Jepang, antara lain karena  ingin mencoba kereta super cepat  shinkansen, dimana Thailand juga  mencoba untuk memiliki  kereta berkecepatan tinggi seperti itu sendiri.

Dia mengetahui tentang transportasi, akomodasi dan tempat makan yang baik di internet dengan menggunakan tip dari situs web seperti TripAdvisor dan Pantip. Ini adalah forum diskusi online paling populer di Thailand.

Pengalaman Xarina David, seorang petenis Filipina juga menggambarkan, betapa smartphone memberi kemudahan. Pegawai negeri  berusia 25 tahun itu, menghabiskan 10 hari pada  April lalu untuk berkeliling Asia Tenggara bersama sekelompok temannya. Mereka memilih untuk mengunjungi kota Luang Prabang kuno Laos, setelah melihat informasinya di  sebuah blog perjalanan dan situs media sosial, yang telah memberi mereka banyak tip untuk mengatur perjalanan mereka sendiri.

Lantas, kemana agenda jalan-jalan Anda bersama keluarga atau kawan-kawan tahun ini akan dilakukan? Jangan risau, semua bisa diatasi dengan smartphone Anda bukan?