Didatangi Bobotoh, KH Ma’ruf Amin Ngaku Penggemar Persib Bandung

KH Ma’ruf Amin dan Bobotoh–foto istiemwa

Cawapres nomor urut 01, KH Ma’ruf Amin, mengaku sebagai penggemar klub Persib Bandung. Pengakuan inipun membuat para Bobotoh, sapaan akrab pendukung klub yang bermarkas di ibukota Propinsi Jawa Barat itu tertawa kegirangan.

Bertempat di Rumah Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (2/1), sejumlah perwakilan dari Bobotoh dan Viking, kelompok suporter Persib Bandung, menemui KH Ma’ruf Amin. Bersama Bobotoh, hadir juga kelompok penggemar sepeda motor, The Brotherhood.

Pertemuannya sendiri berlangsung tertutup. Namun awak media sempat diberi kesempatan mengambil gambar saat pertemuan hendak dimulai.

Perwakilan delegasi tampak menyerahkan sebuah selempang bertuliskan ‘Bobotoh Jokowi’. Kiai Ma’ruf yang diserahi selempang itu lalu membalas dengan memberikan sebuah bola yang sudah dibubuhi tandatangannya.

“Ada tandatangan, dan KMA,” kata Kiai Ma’ruf.

Sebelum sesi foto, seorang perwakilan lalu nekat bertanya.

“Apa klub kegemaran Abah? Persebaya?” tanya dia.

“Ya Persib lah,” kata Abah Ma’ruf, pria asal Banten yang menjadi Pendiri Ponpes An Nawawi Tanara Banten itu.

Pernyataan itu langsung disambut tawa para anak muda yang berkunjung ke rumah Kiai Ma’ruf itu.***/ebn

 

 

Duh! Ternyata Salah Satu Tersangka Pengatur Skor Pertandingan Adalah Perempuan

Anik Yuni Artikasari-salah satu tersangka pengatur skor pertandingan Liga Tiga Indonesia–sumber gambar metrotv

Satgas Antimafia Bola Polri terus memburu para pelaku pengatur skor pertandingan olah raga. Setidaknya sampai saat ini sudah empat orang ditetapkan sebagai tersangka. Salah satunya adalah Dwi Irianto atau akrab disapa Mbah Putih. Hal yang juga menarik adalah ternyata dari tersangka yang ditangkap, satu orang di antaranya adalah wanita muda. Namanya, Anik Yuni Artikasari. Dia adalah anak dari Priyanto yang juga telah ditetapkan sebagai tersangka pengatur skors Liga Tiga Indonesia. Anik ditangkap di Kecamatan Trangkil, Pati, Jawa Tengah.

Kepada wartawan Ketua Tim Media Satgas Antimafia Bola Kombes Argo Yuwono mengatakan masing-masing tersangka memiliki peran dalam kasus pengaturan skor tersebut. “Misalnya delapan klub ada empat grup, dia (J) bisa menentukan. Yang dia pilih, yang sudah komunikasi dengan dia ditaruh di grup yang ringan. Dia bisa juga menentukan hari apa mainnya, jam berapa mainnya, ada semua dia,” jelas Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, (28/12)

Sementara itu, Anik selaku wasit futsal dan juga anak dari Priyanto, berperan menerima uang dari manager klub. “Intinya, setiap pertandingan mengeluarkan uang, Rp100 juta sampai Rp200 juta di sana dibagi yang terima si A, nanti dia kirim ke P, nanti ngirim ke J,” jelas Argo.

Sebagaimana diberitakan, sejauh ini sudah empat orang yang disangka terlibat dalam pengaturan skor sepak bola Liga Tiga Indonesia. Mereka adalah Johan Ling Eng (Komite Eksekutif PSSI), Dwi Irianto (Anggota Komite Disiplin PSSI), Priyanto dan Anik Yuni Artikasari.

Priyanto diringkus di Semarang, Jawa Tengah, pada Senin, 24 Desember 2018. Pada hari yang sama, polisi menangkap Anik di Pati, Jawa Tengah. Johar lalu ditangkap pada Kamis, 27 Desember 2018, pukul 10.12 WIB di Bandara Halim Perdanakusuma. Mereka dikenakan Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 372 KUHP dan atau Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap dan atau Pasal 3, 4, 5, UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).***/ebn/metrotv

Ma’ruf Amin Kecewa Berat: Sepak Bola tidak Semestinya Jadi Alat Judi

KH Ma’ruf Amin–foto istimewa

K.H. Ma’ruf Amin ternyata memberikan perhatian terhadap berita terjadinya pengaturan skor di sepakbola Indonesia. “Wah mengecewakan betul kalau pengaturan skor itu benar-benar terjadi. Tidak akan maju sepakbola nasional kita kalau benar terjadi pengaturan skor,” ujar Kiai Ma’ruf di kediamannya, Jumat (28/12).

Kiai Ma’ruf mengaku prihatin dan kecewa karena dunia sepakbola tidak semestinya dijadikan alat judi. Seharusnya bagaimana sepakbola membangun prestasi dan menjadi bisnis seperti di Benua Amerika Latin dan Eropa.

“Kalau kita amati di Amerika Latin dan Eropa selain mengejar prestasi, sepakbola juga menjadi bisnis yang tanpa merusak mutu permainan,” beber Kiai Ma’ruf.

Oleh karena itu, mengambil hikmah dari terjadinya dugaan pengaturan skor di sepakbola nasional, Kiai Ma’ruf meminta dan mengajak semua pihak untuk kembali memikirkan mengharumkan sepakbola Indonesia yang berprestasi.

“Harapan saya jangan ada lagi pengaturan skor. Kalau bisa sepakbola Indonesia dimulai dengan pemilihan pemain berbakat secara baik. Ditambah dengan pelatih yang pintar dan berkualitas yang bisa memberikan metode pelatihan bola yang baik. Mari jadikan sepakbola Indonesia menarik,” pungkas Kiai Ma’ruf yang di saat mudanya mengaku suka bermain di posisi striker atau penyerang. ***/ebn

Saktiawan Sinaga Tutup Futsal Bumantara Cup I

Juara Turnamen Futsal Bumantara Cup 1 2018. (foto: tribun-medan)

Turnamen futsal Bumantara cup I sudah memainkan pertandingan terakhir. Di laga final, Minggu (23/12/2018), di Lapangan Pras Gang. Tape, tim BEBAS berhasil mengandaskan perlawanan Solokot FC.

Di laga final yang turut disaksikan Mantan Striker Timnas Indonesia Saktiawan Sinaga, BEBAS keluar sebagai juara melalui adu pinalti. Di babak tos-tosan, BEBAS mengalahkan Solokot dengan skor 4-3.

Di sesi pembagian hadiah, Saktiawan Sinaga berpesan bahwa futsal tidak hanya sekadar hobi. “Olahraga juga harus ditekuni sebagai profesi yang bisa membawa kesejahteraan bagi atlet dengan cara-cara sportivitas,” kata legenda PSMS Medan tersebut.

Di tempat yang sama, Founder Bumantara Muhammad Asril menyampaikan pentingnya kepedulian stakeholder terhadap atlet. “Peduli bukan hanya di momen tertentu. Ini menjadi dorongan tersendiri bagi saya pribadi untuk tidak mengurangi kepedulian terhadap olahragawan saat duduk di parlemen nanti,” terang Asril yang juga Caleg DPRD Medan Dapil II Medan Partai Golkar tersebut.

Asril menyampaikan terimakasihnya kepada seluruh pihak yang membantu. “Terima kasih kepada 32 peserta yang mampu menjaga sportivitas dan kekeluargaan selama turnamen. Apresiasi juga kepada wasit dari STOK Bina Guna Medan. Kepada seluruh pemain, saya berharap untuk terus menjauhi narkoba,” tegas Asril.

Tokoh muda Sumut Irham Buana Nasution menekankan bahwa turnamen futsal Bumantara merupakan ajang silaturahmi generasi Kota Medan. “Insha Allah silaturahmi bisa terus dibuat di tahun depan,” kata Irham Buana.

Di perebutan tempat ketiga dan empat, BARATA FC berhasil menumbangkan Asyik FC dengan skor 3-1. (red)

Tanpa Rexach, Messi Tidak Akan Jadi Bintang Barca

Lionel Messi

KATA-KATA “ace Argentina” diambil dari kutipan film dokumenter ‘Take the Ball, Pass the Ball‘. Dapatkah Anda membayangkan bagaimana hal-hal yang bisa terjadi bagi Barcelona, jika mereka memilih untuk melecehkan  Lionel Messi? Menurut ace Argentina, hal tersebut sesungguhnya lebih dari sekedar kemungkinan.

Berbicara dalam film dokumenter Take the Ball, Pass the Ball, Messi berbagi pandangannya  tentang kemunculannya menjadi bintang, yang sebenarnya bisa saja terjadi di tempat lain apabila  saran dari pelatih yang tidak ia disebutkan namanya,   diikuti oleh Barcelona.

“Benar-benar rumit untuk menandatangani pemain muda seperti itu dari luar negeri dan harus membawanya ke Barcelona. Charly Rexach lah yang membuatnya terjadi kembali pada hari itu,” kata Messi.

“Setelah dia bertemu dengan saya, dia memutuskan bahwa Barcelona  memang menginginkan saya. Meskipun ada satu pelatih yang tidak menginginkan saya, keputusan itu didukung oleh sebagian besar pelatih  tim muda. Mereka adalah kunci untuk kedatangan saya ke Barcelona,” tambah pemain itu.

 

Carles Rexach dan Messi

Carles Rexach, yang mantan pelatih kepala tim yunior,  mengungkapkan bagaimana dia memaksa para eksekutif Barcelona untuk bergabung dan menerima kedatangan  Messi, yang ketika itu  dia baru berusia 13 tahun.

“Saya berhasil, karena saya tidak mau menerima jawaban. Mereka terus mengatakan kepada saya untuk bersikap mudah dan mencoba untuk menyepakati  orang lain, tetapi saya mengatakan kepada mereka, bahwa Messi luar biasa, bahwa kami perlu mengontraknya,” kata Rexach.

Akhirnya, Barcelona sepakat  memutuskan untuk membayar kedatangan  Messi, dengan memberikan dana untuk segala keperluan Messi termasuk perawatan medis yang membantunya terkait dengan masalah pertumbuhannya. Sisanya, sebagaimana yang mereka katakan, adalah sejarah.***

Kejuaraan Dunia Pencak Silat 2018: Indonesia Raih 5 Emas 5 Perak 5 Perunggu

2018 World Pencak Silat Championship – Tanding – Female Category C, above 55-60kg – Prelims- Singapore Sports Hub, OCBC Arena, Singapore – December 14, 2018 – Mrunal Nitin Kamble (IND) v. Della Kurnia (INA) Photo by Lawrence Ang/SportSG

Tim Pencak Silat Indonesia meraih 5 medali emas, 5 perak dan 5 perunggu pada Kejuaraan Dunia Pencak Silat 2018 yang berlangsung di Singapura. Dengan perolehan tersebut, Tim Pencak Silat Indonesia menempati posisi ketiga klasemen umum. Sementara Tim Singapura muncul sebagai Juara Umum dengan 7 medali Emas, 6 Perak & 7 Perunggu.

Indonesia menempati posisi ketiga dalam Kejuaraan Dunia Pencak Silat 2018 di Singapura–foto instagram imam nahrawi
Indonesia menempati posisi ketiga dalam Kejuaraan Dunia Pencak Silat 2018 di Singapura–foto instagram imam nahrawi

Sebelumnya Menpora Imam Nahrawi meminta doa kepada seluruh masyarakat agar para pendekat silat Indonesia bisa berjaya di Kejuaraan Dunia 18 th World Pencak Silat Championships 2018. “Mohon doanya kepada seluruh masyarakat. Untuk yang sudah mendapat medali, saya ucapkan selamat,” ungkap Nahrawi lewat akun instagramnya.

Kejuaraan dunia yang berlangsu dari  13 hingga 16 Desember 2018 ini diikuti oleh 400 atlet dari 44 negara. Ini adalah yang ketigakalinya Singapura menjadi tuan rumah kejuaraan silat tingkat dunia. Sebelumnya adalah tahun 1998 dan 2004.***ebn

 

Polri akan Buru Mafia Pengatur Skor Sepak Bola

ILustrasi–foto dailymail co uk

Kasus pengaturan skor pertandingan sepak bola memang bukan barang baru lagi. Itu sudah lama terjadi bagkan bukan hanya di Indonesia tapi juga sepak bola internasional. Selama ini kasus-kasus semacam itu seolah kurang ditangani secara serius. Buktinya, oknum mafia pengatur skor masih bisa bebas beraksi. Salah satunya adalah kasus yang menghebohkan baru-baru ini terkait pengakuan manajemen klub Madura FC soal tawaran uang untuk kesepakatan pengaturan skor.

Dalam wawancara dengan BBC News Indonesia baru-baru ini, Januar Herwanto, Manajer Madura FC menyebut, sebenarnya sudah beberapa kali menerima tawaran uang untuk pengaturan skor. Namun tawaran tersebut tidak melibatkan oknum pengurus PSSI. “Tawaran bukan datang kali ini saja. Tapi karena ini menyangkut orang PSSI itulah mengapa kami laporkan,” ungkap Januar sebagaimana dikutip dari BBC News. “Selama ini tawaran ada dari teman-teman, kami tolak dan biarkan. Tapi ini petinggi PSSI yang bermain dengan makelar. Menjijikan sekali,” tambahnya.

Nah terkait dengan masalah pengaturan skor sepak bola, dikabarkan Mabes Polri bakal membentuk tim satuan tugas (satgas) untuk mengantisipasi pengaturan skor pada setiap pertandingan Liga Indonesia. Untuk itu Polri akan bekerja sama dengan PSSI..

“Nantinya akan ada semacam satgas untuk memberantas pengaturan skor di dalam persebakbolaan (Indonesia),” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Markas Besar (Mabes) Polri, Jakarta Selatan, Selasa (18/12/2018), sebagaimana dikutip dari kompas.com. Dedi menyatakan, oknum mafia pengaturan skor pertandingan sepak bola di Indonesia harus diberantas. Pasalnya, mafia sepak bola membuat prestasi sepak bola Indonesia tidak maju.

“Harus betul-betul memberantas, mafia-mafia bola betul mengganggu sportifitas maupun club nanti. Bisa membuat persepak bolaan Indonesia tidak maju, karena dirusak (mafia) tersebut,” tutur Dedi.
Menurutnya, pihak Polri tengah mendalami pasal yang akan digunakan, apakah itu pidana, penipuan, dll. “Nanti akan didalami bersama dengan PSSI,” ujar Dedi.***/ebn

Aki Dynex Tangguh di Arena Bogor Off Road 4×4

Aki Dynex produksi Exide, India, berteknologi mutakhir dan berdaya tahan tinggi, ternyata terbukti tahan banting,tangguh dan kuat. Hal ini terbukti saat aki produksi India itu ikut berpartisipasi dan sponsor pada ajang arena “Bogor Off Road 4×4 ” pada 29 November-2 Desember 2018 lalu

” Aki Dybex ikut berpartisipasi dan dipakai untuk “Bogor Off Road 4×4”. Ternyata banyak peserta mobil Jeep yang memakai aki Dynex menjadi Juara,” ujar Ronny dari Aki Dynex, ketika memberikan keterangan pers, Senin (17/12), di Jakarta.

Dia mengakui, aki Dynex masih relatif baru 3 tahun memasuki pasaran di Tanah Air. Meski demikian, lanjut Ronny, kepercayaan masyarakat terlihat makin meningkat untuk menggunakan aki Dynex.

“Ini terbukti pada arena “Bogor Off Road 4×4 tahun ini, dimana banyak peserta yang memakai aki Dynex dan menjadi juara,” tuturnya. Rinny menjamin aki Dynex ini paling tangguh dan kuat dibandingkan aki lainnya. “Kalau soal ketangguhan dan kekuatannya saya jamin,” tandasnya. (Cmg)

Peserta Bogor Off Road 4×4 sedang melintas di medan berat. (Cmg)

Wow!! Ternyata Kiai Ma’ruf Adalah Milanisti dan Red Army

KH Ma’ruf Amin penggemar sepak bola—foto istimewa

Ternyata, Cawapres nomor urut 01, KH Ma’ruf Amin, adalah juga Red Army dan Milanisti. Dua terminologi itu adalah sebutan untuk penggemar klub Inggris Manchester United dan klub Italia AC Milan. Hal itu diungkapkannya saat berbincang santai dengan wartawan di kediamannya di Rumah Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (12/12).

“Saya memang senang bola kaki sejak zaman AC Milan. Zaman namanya Trio Belanda, ada Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan Van Basten,” kata Kiai Ma’ruf.

Ketiga nama itu memang menjadi kunci sukses AC Milan di akhir dekade 80-an dan awal 90-an. Di timnas, ketiganya menjadi pilar Belanda menjuarai Piala Eropa 1988.

Saat itu, trio Belanda itu dianggap berprestasi dan setara dengan bintang lainnya seperti Johan Cruyff dan Franz Beckenbauer dari Jerman.

“Wah saat itu luar biasa,” imbuh pendamping Jokowi sebagai paslon di Pilpres 2019 itu.

Abah Ma’ruf, sapaan akrabnya, pun sadar benar bahwa kini prestasi AC Milan sedang meredup. Dia mengaku kini agak kecewa karena Milanisti belum bisa merayakan gelar juara lagi di Lega Calcio.

Di Liga Premier Inggris, Kiai Ma’ruf mengaku kini senang menonton Manchester City. Yang disukainya adalah sang pelatih, Josep ‘Pep’ Guardiola. “Itu loh, yang kepalanya botak,” ujar Abah Ma’ruf.

Namun, dia tak bisa membohongi. Jauh di dasar hati, dirinya adalah seorang Red Army, sebutan bagi penggemar Manchester United.

“Saat MU, waktu pelatihnya Sir Alex Ferguson, masih ada Ronaldo di MU kan, ada strikernya Wayne Rooney,” kata Kiai Ma’ruf.

Namun, sama seperti puluhan juta penggemar MU di Indonesia, Kiai Ma’ruf juga belum bisa tertawa gembira melihat prestasi MU yang kini melorot paska Sir Alex. “Belakangan melorot lagi,” ujarnya.***/ebn

Liga dengan Atraksinya

sumber: twitter persija jakarta

Oleh: Dahlan Iskan

Hilanglah Medan.

Muncul Sleman.

Hilanglah Palembang.

Muncul lagi Padang.

Itulah hasil kompetisi sepakbola kasta tertinggi kita. Liga 1. Selama setahun. Yang berakhir tadi malam.

Tentu sayang sekali. PSMS Medan harus harus turun kasta. Sebenarnya saya berdoa agar Medan bertahan. Tapi kalah 1-5 atas PSM Makassar. Kemarin sore. Tidak ada gunanya Persebaya kalah 0-4 di Medan. Minggu lalu.

Sayang juga. Palembang turun tahta. Begitu baik prestasi Sriwijaya FC di awal musim. Tapi begitu buruk di paro kedua. Penyebabnya jelas: Pilkada. Pendukung dana utama Sriwijaya FC gagal terpilih sebagai Gubernur Sumsel.

Pemain-pemain terbaiknya dijual. Salah satu pembeli utamanya Arema, Malang. Aremalah yang mengalahkan Sriwijaya FC. Kemarin sore. Dengan skor 1-2. Menyebabkan Palembang turun tahta.

Saya mencatat begitu banyak kemajuan di sepakbola kita. Kompetisi Liga 1 tahun ini relatif lancar. Jumlah penonton meningkat drastis. Setidaknya di klub-klub favorit. Persebaya, Bandung, Makassar, Semarang. Bahkan Persija. Lihatlah pertandingan tadi malam. Gelora Bung Karno penuh: 90.000 orang. Memang tadi malam menentukan. Tapi pertandingan sebelumnya juga begitu.

Jumlah penonton terbanyak memang masih dipegang Bonek. Total 500.000 orang. Nyaris. Tapi bisa saja peta berubah musim depan. Yang konon baru dimulai lagi April.

Saya tidak perlu mengulangi. Kompetisi musim ini memang seru. Sampai menjelang pertandingan terakhir pun belum diketahui siapa juaranya. Persaingan di papan atas begitu sengitnya: antara Persija dan PSM. Persaingan di papan bawah begitu menegangkan: siapa tiga klub yang harus turun tahta.

Persib sebenarnya kandidat juara. Sebelum ada kasus kematian supporter Persija. Di Bandung. Yang menyebabkan Persib terkena sanksi berat. Tidak boleh bermain di kandang. Sampai akhir musim. Itulah yang justru membuahkan Persija juara. Dengan pengorbanan salah seorang supporternya.

Musim ini sanksi diberikan dengan sangat tegas. Dan berat. Persebaya, misalnya, begitu sering didenda. Akibat Bonek melakukan pelanggaran. Misalnya menyalakan flair. Atau meneriakkan kata-kata yang dilarang.

Pernah Bonek mencoba ini: memasang spanduk besar dengan tulisan huruf Jawa. Maksudnya agar petugas dari Jakarta tidak bisa membaca isinya: pelungker-pelungker. Eh, kena denda juga. Rupanya ada yang bisa membaca huruf Jawa. Kabarnya Persebaya terkena denda Rp 1,2 miliar. Selama satu musim ini. Persib mungkin lebih besar lagi.

Yang juga harus dipuji adalah Indosiar. Yang mau menyiarkan langsung. Sampai mengorbankan acara populernya: dangdut Academy. Peran siaran langsung itu besar: dalam mengontrol kejujuran wasit. Saya tidak berani memastikan urusan sogok-menyogok sudah tidak ada. Tapi saya bisa memastikan pasti turun drastis. Dengan siaran langsung itu seluruh masyarakat bisa ikut menilai. Indosiar telah ikut mengatasi problem mendasar sepakbola kita.

Sikap wasit kita juga banyak majunya. Sudah lebih banyak senyum. Menghadapi protes pemain. Seberingas apa pun. Mengacungkan kartu kuning pun sudah sambil senyum. Sudah mirip wasit di liga Eropa.

Dulu, wasit sepakbola kita galak. Wajahnya seperti pemarah. Kalau memberi kartu kuning sikapnya seperti menghukum. Akibatnya: menambah ketegangan permainan.

Akhirnya agak sulit menyalahkan Medan. Yang harus kembali  turun tahta ke Liga 2. Waktu naik tahta tahun lalu waktunya mepet. Ibaratnya: minggu ini keputusan naik tahta, dua minggu lagi laga Liga 1 dimulai. Tidak sempat cari pemain. Tidak cukup waktu cari uang.

Itu pula problem Persebaya. Yang baru naik tahta bersamaan dengan Medan. Sulit cari pemain baru. Pemain baik sudah terikat kontrak semua. Karena itu Azrul Ananda, presidennya, tidak manargetkan juara. HANYA cukup papan tengah. Hasilnya, ternyata papan atas. Ranking lima. Meski sempat hampir terdegradasi juga.

Selamat datang Sleman. Anda tidak akan senasib Persebaya, PSIS atau PSMS. Anda punya waktu cukup untuk cari pemain berkualitas. Empat bulan lagi kompetisi baru dimulai. Demikian juga dua pendatang baru: Kalteng Putra dan Semen Padang.

Yang juga kemajuan: siaran langsung tidak mengurangi jumlah penonton di stadion. Saya masih ingat dulu: sedih sekali. Kalau pertandingan Persebaya disiarkan TV secara langsung. Sedikit sekali yang mau datang ke stadion.

Stadion kini sudah berubah menjadi teater. Begitu banyak lagu supporter. Begitu banyak spanduk. Dengan bunyi menghibur. Begitu banyak bendera. Raksasa ukurannya. Atraktif kibarannya.

Di kalangan Bonek muncul pula atraksi-atraksi tiga dimensi. Banyak juga lagu-lagu yang cara menyanyikannya sahut-sahutan. Antara tribun selatan, utara, timur dan barat.

Saya begitu suka lagu “rek aku teko rek” itu. Di samping lagu “song for pride”.

Dalam pertandingan penutupan dua hari lalu bahkan ada hujan salju. Di stadion Bung Tomo Surabaya. Menjelang babak dua dimulai. Di tribun selatan. Saya telat memvideokannya. Benar-benar seperti salju sedang turun. Rupanya seluruh penonton melemparkan tisu panjang. Dari atas. Dalam jumlah masif. Bersamaan.

Stadion sudah seperti Fift  Evenue di New York. Atau Time Square. Orang pengin nonton orang. Bukan hanya ingin nonton sepakbola.

Itu yang tidak bisa dinikmati dalam siaran langsung di televisi.

Saya begitu gembira. Sepakbola sudah lebih banyak ditonton. Sudah lebih banyak untuk mengekspresikan eksistensi. Semoga bukan sekedar karena sudah bosan politik. Atau karena lagi sumpek ekonomi.***