Dojo Renzo, didirikan oleh Prof (Ros) Hermawan Sulistyo yang akrab disapa “Mas Komisi”. Home of the Champion ini bermarkas di Griya Lembah Depok, Kota Depok, Jawa Barat. Dilatih oleh para mantan atlet nasional, tak heran jika Dojo ini menempati peringkat atas nasional. Tak heran pula jika para karateka binaannya banyak yang menorehkan prestasi juara. Tidak saja di tingkat nasional, tetapi juga tingkat dunia.
Category: Sport
Arumi Beri Semangat di Kejurnas Shorinji Kempo 2020
Jayakarta News – Ketua Pengurus Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) Jatim Arumi Bachsin Emil Dardak menghadiri pembukaan Kejuaraan Nasional Tandoku Shorinji Kempo memperebutkan Piala Menteri Komunikasi dan Informasi RI Tahun 2020 di Graha Postel, Balmon SFR Kelas 1 Surabaya, Kamis (13/8) pagi.
Pembukaan yang digelar secara virtual itu mendapat dukungan penuh istri Wakil Gubernur Jatim tersebut. Dan Arumi pun tak ketinggalan memberi semangat kepada delapan atlet asal Jatim. Dirinya berpesan agar mereka bisa saling menjaga solidaritas walau di tengah pandemi Covid-19.
“Menjadi atlet itu susah selama pandemi. Karena tidak ada pelatih selama pandemi, motivasi diri lama-lama akan kendor. Kalau tidak dibangun bareng-bareng rasa solidaritas satu sama lain, semangatnya nanti bisa protol,” tutur Arumi.
Lebih lanjut Arumi menyampaikan, di tengah kondisi saat ini, para atlet dituntut menjadi lebih kreatif. Jika kondisi normal mereka bisa melakukan latihan bersama dan tatap muka, tapi sekarang kebiasaan itu harus ditunda untuk sementara.
“Tapi saya bangga, di Prov. Jatim, atletnya tetap mampu mempertahankan dari mulai skill, stamina hingga kondisi tubuhnya. Sehingga jika ada turnamen seperti saat ini, mereka sudah siap,” ungkap Arumi yang juga Ketua TP PKK Jatim itu.
Untuk itu, kepada delapan atlet Kempo Jatim, Arumi berpesan agar mereka tidak merasa terbebani akan hasil pertandingan. Dirinya meminta mereka tetap fokus bertanding dan menampilkan yang terbaik untuk Jatim.
“Harapannya, teman-teman atlet di Jatim bisa membawa nama baik Provinsi Jatim sampai ke tingkat nasional,” harapnya.
Pada kesempatan itu, Arumi juga dinobatkan sebagai Ibu Asuh Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (Perkemi) Jatim. Dengan sandangan tersebut, Arumi mengaku senang dan bangga.
Menurutnya, menjadi Ibu Asuh atlet merupakan sebuah amanah dan kebanggaan tersendiri. Pasalnya, atlet merupakan pahlawan dan pejuang bangsa. Jasa-jasa mereka tidak akan pernah dilupakan.
Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informasi RI Johnny Gerard Plate yang membuka Kejurnas Shorinji Kempo Virtual 2020 di Jakarta itu berpesan untuk menjaga kesehatan atlet serta sportifitas selama penyelenggaraan kejuaraan.
“Esensi menjaga kesehatan diri dan sportivitas harus tetap terjaga dalam penyelenggaraan kejuaraan ini,” tuturnya.
Dirinya juga mengaku senang serta mengapresiasi penuh penyelenggaraan turnamen olahraga menjelang HUT Kemerdekaan RI yang ke-75. Melalui turnamen ini diharapkan bisa menghasilkan atlet-atlet Kempo yang tangguh dan bisa diandalkan di kejuaraan nasional maupun internasional.
“Selamat bertanding. Semoga bisa menghasilkan atlet-atlet yang menjadi duta-duta pola hidup sehat dan hidup disiplin untuk memutus mata rantai Covid-19,” pungkasnya.
Turut hadir dalam acara tersebut, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Supratomo, Wakil Ketua IV KONI Jatim M. Nabil, Ketua Pengprov Perkemi Jatim Iswachyu Dhaniarti, Kepala Balmon Surabaya Sensilaus Dore dan para atlet Kempo Jatim yang akan bertanding. (poedji)
Satgas Covid-19 Minta PSSI Taati Protokol Kesehatan
Jayakarta News – Dunia sepakbola baru saja mendapat angin segar, bahwa kompetisi segera diputar kembali. Informasi ini disampaikan Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan usai beraudiensi dengan Ketua Satgas Covid-19, Letjen TNI Doni Monardo, di Graha BNPB, Rabu (22/7/2020).
Salah satu pernyataan Iriawan di laman pssi.org menyatakan, “Dalam konsep kami, tentunya protokol kesehatan nomor satu. Yang kedua karena ini kompetisi pada masa Covid-19 tentunya kita mengikuti beberapa liga yang ada di dunia yaitu tanpa penonton. Pak Doni Monardo menyepakati atau memberikan izin kepada kami untuk itu, namun protokol kesehatan tentunya menjadi yang utama dalam hal ini.”
Beberapa hari kemudian, berita itu sepertinya sudah diluruskan, dan sudah tidak ada lagi pernyataan “Pak Doni menyepakati atau memberikan izin kepada kami….(dst)”.
Pernyataan Mochamad Iriawan (yang sudah dihapus itu), kemudian diluruskan oleh Egy Massadiah, Tenaga Ahli BNPB bidang media, yang juga anggota Satgas Covid-19. “Satgas mendukung, bukan memberi izin. Satgas mendukung dengan syarat protokol kesehatan dijalankan,” ujar Egy kepada Jayakarta News, hari ini (25/7/2020).
Lebih lanjut pria kelahiran Makassar itu menambahkan, bahwa secara umum, pemerintah mendorong pemberlakuan adaptasi kehidupan baru di tengah pandemi Covid-19. Yang terjadi kemudian, sejumlah sektor yang bisa menggerakkan roda ekonomi, perlahan-lahan dipulihkan, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.
Karenanya, jika PSSI berkehendak menggulirkan kompetisi, pun diberlakukan ketentuan tadi. Mengutip pernyataan Doni Monardo, Egy mengatakan, “Satgas mendukung liga bergulir namun dengan syarat menerapkan protokol kesehatan dan akan mendukung dengan memberikan bantuan swab test kepada PSSI. Selain itu pertandingan harus tanpa dihadiri penonton karena tidak ada yang bisa menjamin keselamatan para penonton. Ditakutkan terjadi kontak erat dengan salah satu orang yang terpapar Covid-19 yang hadir di stadion.”
Lebih lanjut, jika kompetisi digelar, Doni berharap kepada PSSI untuk mengajak supporter menyaksikan pertandingan di rumah saja, dan mengajak pemain sepakbola untuk melakukan edukasi kepada masyarakat terkait protokol kesehatan di era Covid-19. Doni meminta kepada komunitas bola menjadi pahlawan kemanusiaan dengan melakukan edukasi kepada semua orang untuk selalu menjalankan protokol kesehatan.
“Jadi sekali lagi, tidak ada kata-kata ‘memberi izin’, tetapi menyetujui. Restu dan izin beda. Sebab, perizinan sebuah event, termasuk sepakbola ada aturan penyelenggaraan yang sudah baku. Jadi mestinya, setelah mendapat persetujuan Satgas, selanjutnya PSSI yang mengurus perizinan,” kata Egy.
Mengingat kondisi satu daerah dengan daerah yang lain berbeda, maka bisa jadi kebijakan perizinan pun akan berbeda. Jika suatu daerah dalam kondisi yang relatif terkendali, ada kemungkinan aparat mengeluarkan izin. Sebaliknya, untuk daerah yang masih sangat tinggi tingkat paparannya, bisa jadi tidak akan diizinkan. “Itulah makna protokol kesehatan dalam era adaptasi kehidupan baru,” tandas Egy.

Sementara itu, dari Surabaya dikabarkan, Persebaya menjadi klub pertama yang bereaksi negatif atas pernyataan PSSI. Presiden Persebaya Azrul Ananda menolak mengikuti kompetisi yang sedia diputar Oktober 2020. Alasannya, belum ada protokol kesehatan dan prosedur-prosedur yang jelas. Sejumlah klub lain juga memberi isyarat sama. Menolak.
Terlebih, kondisi Surabaya yang masih terbilang sangat rawan. “Betapa pun, kesehatan pemain bola dan masyarakat umum, adalah lebih utama. Belum tentu juga pemain-pemain asing, diizinkan datang ke Indonesia,” ujar Azrul, dikutip dari Daily Surabaya TV, hari ini (25/7/2020). (rr)
Jenderal Komar “Manusia Tinju”, Siap Pimpin PB Pertina
Jayakarta News – Minimnya prestasi tinju di Tanah Air, salah satu penyebabnya adalah minimnya turnamen tinju amatir di Tanah Air. Begitu kritik yang pernah dilemparkan pengamat sekaligus mantan atlet tinju Indonesia Syamsul Anwar beberapa waktu lalu.
Karenanya, PB Pertina harus berbenah. Salah satunya dengan memperbaiki kinerja organisasi. Nah, menjelang Munas PB Pertina 2020, sejumlah pengurus sudah mulai melirik-lirik calon Ketum PB Pertina yang digadang-gadang mampu mengangkat prestasi tinju amatir Indonesia.
Sabtu (18/7/2020), sejumlah pengurus cabang Pertina menyepakati munculnya satu sosok yang mereka harapkan berkenan memimpin PB Pertina. Sosok yang dimaksud adalah Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak.
Per Sabtu kemarin, sedikitnya 22 pengurus provinsi sudah menyatakan dukungannya kepada Jenderal Komar. Sedangkan 4 provinsi lagi dikabarkan sudah siap untuk bergabung. Sumber di lingkungan Pertina menyebutkan, hanya satu provinsi yang blm menyatakan bergabung. “Itu kita maklumi, karena mungkin jauh dari Jakarta. Provinsi itu adalah Nusa Tenggara Timur,” ujar seorang pengurus Pertina.
Ketika dikonfirmasi hal itu, Mayjen (Purn) Komaruddin Simanjuntak membenarkan. Dirinya diminta para pengurus provinsi Pertina untuk duduk menjadi Ketua PB Pertina periode 2020 – 2024. Termasuk, ia membenarkan juga ihwal 22 pengurus, ditambah menyusul 4 pengurus provinsi lain yang sudah mendukungnya menjadi Ketua PB Pertina.
“Saya juga mendapat informasi yang sama. Bahwa pengurus Pertina NTT belum menyatakan dukungannya kepada saya. Saya maklum, dan saya akui belum pernah bertegur sapa. Kalau sudah bertegur sapa, setidaknya menjadi lebih kenal,” ujar pria berkumis lebat itu.
Ditanya kesiapannya memimpin PB Pertina, secara diplomatis Komaruddin Simanjuntak menjawab, “Tidak ada istilah tidak siap, jika itu merupakan kehendak mayoritas pengurus daerah. Terlebih ini untuk kemajuan tinju amatir di Indonesia,” ujarnya.
Dari penelusuran rekam jejaknya, Jenderal Komar adalah “Manusia Tinju” sejati. Ia memiliki gagasan yang luar biasa ketika menggelar pertandingan tinju pro di atas kapal tongkang di Siring Martapura, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 9 Oktober 2011.
“Tinju di atas kapal tongkang adalah tinju pro. Waktu itu terbuka di atas sungai. Petinju Jakarta datang dan main,” katanya.
Itu merupakan kejuaraan Indonesia kelas terbang di atas kapal tongkang yang pertama dan satu-satunya di dunia. Belum pernah ada pertandingan tinju di atas kapal tongkang.
Boxing in the Martapura Riverside ditangani oleh Non-M Promotion yang berkantor di Kebon Jeruk, Tamansari, Jakarta. Penata tanding Syaripudin Lado. Juara Indonesia Espnus Sabu (R.E. Boxing Minahasa Utara) mempertahankan gelar melalui pertarungan 12 ronde melawan penantang Ruben Manakane (Nelson Nainggolan Jakarta). Wasit dan hakimnya adalah anggota Marinir dari Cilandak, Jakarta.
Bagi Komaruddin Simanjuntak, tinju pro dan tinju amatir sama senangnya. Mantan Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) II/Sriwijaya ini sangat mengenal sejumlah mantan petinju top amatir seperti Ferry Moniaga, Frans van Bronskhorst.
Komaruddin Simanjuntak dikenal dengan ciri “pukul dulu urusan belakang” atau PDU, dalam kata arti positif. Urusan dukungan (finansial) dipikirkan kemudian.
Jenderal bintang dua purnawirawan ini selama pengabdiannya selalu siap melaksanakan perintah pimpinan dan tidak pernah menolak atau membantah.
Komaruddin Simanjuntak dengan tegas mengatakan ”tidak boleh mati berkali-kali”. “Artinya, dalam melaksanakan pengadian ini tidak pernah mengatakan ”aduh mati aku, aduh dari mana dananya, aduh mati aku”. Saya tidak pernah mengeluh, tapi mencari solusi bagaimana melakukan yang terbaik.”
Komaruddin Simanjuntak adalah mantan Ketua Pengprov Pertina Kalimantan Selatan. Komaruddin pernah Komandan Korem 101/Antasari dan terakhir Panglima Komando Daerah Militer IX/Udayana.
Jenderal bintang dua purnawirawan ini telah didorong oleh sejumlah provinsi untuk maju dalam pemilihan Ketua Umum PP Pertina 2020-2024. “Lantaran sudah diminta aku siap maju,” kata pria rendah hati ini.
Komaruddin Simanjuntak adalah kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara, 10 Januari 1960. Sejak kecil sudah suka dengan olahraga tinju. “Aku bukan petinju tapi pengemar tinju,” kata Komaruddin Simanjuntak di Cijantung, Jakarta, dihubungi melalui ponselnya, Minggu (19/7/2020) siang.
Pematang Siantar, kota kelahiran Komaruddin Simanjuntak, memang dikenal banyak melahirkan atlet tinju ternama. Dulu ada petinju kelas menengah bernama Jonathan Silitonga dan yang paling melegenda sudah tentu Syamsul Anwar Harahap, yang berhasil merebut medali emas kelas welter ringan Piala Presiden pertama pada 1976 sekaligus petinju terbaik. Satu tahun kemudian Syamsul merebut medali emas kelas welter ringan melalui Kejuaraan Asia VII/1977. (rr)
SOS: Sepakbola Perlu Stimulus Pemerintah
Jayakarta News – Di tengah pandemi Covid-19 yang sulit diprediksi dan belum ditemukan vaksinnya, perlu langkah-langkah strategis untuk menghidupkan kembali sendi kehidupan berbangsa. Termasuk di dalamnya sepakbola yang merupakan gambaran umum kehidupan masyarakat Indonesia.
Di sepakbola ada interaksi, kerja sama, persaingan, kegembiraan, bahkan kesedihan yang tertuang dalam pertandingan selama 90 menit. Sepakbola merupakan media paling efektif untuk mengembalikan psikologis dan sosial kultural bangsa paska pandemic dalam proses adaptasi menuju New Normal.
“Covid-19 merupakan momentum untuk menuju era baru sepakbola Indonesia. Bila sektor budaya mendapatkan stimulus untuk bangkit paska pandemi, sepakbola perlu juga diberikan perhatian. Karena sepakbola melibatkan banyak sektor. Mulai dari ekonomi, sosial, dan budaya. Dari level makro dan mikro. Dari kalangan berada sampai rakyat jelata,” kata Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer #SOS yang disampaikan dalam acara Webinar yang digelar Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) dan Program Studi Kajian Wilayah Eropa, Sekolah Kajian Stratejik dan Global, Universitas Indonesia (SKSG UI), Kamis, 11 Juni 2020.

Stimulus dari pemerintah selain memberlakukan protokoler kesehatan, juga bisa berupa kemudahan pemeriksaan dan rapid test sebelum dan sesudah pertandingan berlangsung. Menggerakkan kehidupan perekonomian di sekitar stadion dengan protokoler kesehatan yang jelas dan tegas. “Kita akan jadi tuan rumah Piala Dunia U-20 yang tentunya akan mendapatkan perhatian masyarakat dunia. Ini bisa jadi momentum untuk pemerintah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa sendi kehidupan bangsa sudah pulih seteah dihajar Covid-19,” kata Akmal.
Tentunya, New Normal sepakbola nasional bukan sekedar hidup kembali setelah “mati suri”. Harus ada perubahan fundamental yang dilakukan utamanya reformasi tata kelola sepakbola nasional agar lebih sehat, kompetitif, berkualitas, profesional dan bermartabat. Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Persepakbolaan Nasional harus dijadikan pijakan.
“Semua elemen sepakbola harus mengambil hikmah dari Covid-19. Sepakbola Indonesia harus leih disiplin mulai dari pengurus, pemain, wasit, sampai suporter. Taat aturan dan tentunya meningkatkan kualitas agar bisa berprestasi dan mengharumkan nama bangsa. Perlu komitmen bersama bahwa football is our hope, not our job (sepakbola adalah harapan kita, bukan proyek kita),” Akmal menegaskan dalam webinar lebih dari 2 jam bertemakan Sepakbola Nasional Paska Covid-19 Sudah Siapkah Bergulir Kembali? yang diikuti lebih dari 500 peserta yang mayoritas stakeholder sepakbola nasional.
Seminar virtual yang dimoderatori presenter Tio Nugroho ini juga menghadirkan pembicara antara lain Ketua Umum PSSI, Komjen Pol (Pur) H. Mochammad Iriawan, Duta Besar RI untuk Jerman Dr. Arif Havas Oegroseno, Kasatgas Anti Mafia Sepak Bola Brigjen. Pol. Hendro Pandowo, Kaprodi Kajian Wilayah Eropa Sekolah Kajian Stratejik dan Global UI Dr. Henny Saptatia Drajati Nugrahani, Komisi X DPR RI Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, dan General Manager Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) Ponaryo Astaman. (bam)

Kemenpora Gelar Lomba Senam Stay At Home
JAYAKARTA NEWS— Olahraga menjadi hal yang penting dan harus dilakukan masyarakat di tengah pandemi Covid19. Sebab aktivitas olahraga dapat meningkatkan kebugaran dan meningkatkan daya tahan tubuh sehingga dapat dipastikan bahwa imunitas menjadi kuat sebagai pertahanan melawan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid19.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali mengungkapkan bahwa dalam rangka memutus rantai penularan COVID-19 dengan cara peningkatan daya tahan tubuh dan menjaga imunitas melalui aktivitas olahraga, pihaknya telah meluncurkan “Lomba Senam Stay At Home” sejak tanggal 1 Mei hingga Agustus 2020.
“Supaya masyarakat tetap bergerak (olahraga), karena dengan bergerak akan terjadi kebugaran fisik,” jelas Zainudin, sebagaimana dikutip dari laman covid19.go.id
Di samping itu, dalam rangka pembinaan prestasi olahraga bagi kalangan atlet, Menpora juga mengumpulkan para stakeholder seperti KONI maupun cabang olahraga dan pelaksana kompetisi kegiatan olahraga profesional pada 13 Maret 2020 untuk merundingkan mengenai bagaimana langkah yang harus diambil untuk tetap menggerakkan kegiatan olahraga di tengah pandemi Covid19.
Dalam hal ini, Menpora dan para stakeholder telah menyepakati dengan mentaati aturan yang sudah dibuat oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid19 untuk menjalankan protokol kesehatan dengan meniadakan segala aktivitas kompetisi olahraga sementara waktu karena berpotensi memicu adanya kerumunan sehingga anjuran physical distancing menjadi terkendala.
Kemudian pihaknya juga melakukan pemantauan terhadap beberapa kegiatan pelatihan nasional para atlet yang berhubungan dengan agenda kompetisi olahraga di Tanah Air seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) yang rencananya akan digelar di Papua pada 20 Oktober hingga 2 November 2020 namun ditunda hingga Oktober 2021 dan Olimpiade Jepang yang juga akan diundur pelaksanaannya.
“Kepada para atlet dan pelatih tetap kita anjurkan berlatih secara mandiri,” jelas Zainudin.
Hal itu dilakukan semata-mata untuk mendukung upaya pemerintah dalam memutus rantai penularan Covid19, khususnya menjaga para atlet tetap bugar dan siap untuk bertanding pada waktu yang sudah ditentukan.
“Kami berpandangan bahwa kami lebih mengutamakan kesehatan dan keselamatan atlet dan pelatih dibanding yang lain-lain,” kata Zainuddin.
Di samping itu Menpora juga meminta kepada masyarakat agar lebih bijak dan mengerti dengan kondisi yang seperti sekarang ini bahwa protokol kesehatan dan anjuran pemerintah melalui Gugus Tugas harus dipatuhi sebagai pencegahan penularan Covid19.
“Masyarakat tentu bisa melihat sendiri kegiatan-kegiatan keolahragaan sekarang ini, tetapi sekali lagi saya ingin menyampaikan bahwa kita tidak akan dimulai sebelum Gugus Tugas memberikan aba-aba untuk kita mulai,” pungkas Zainuddin.***/non
PON ke-20 Papua Ditunda Jadi Oktober 2021
Akhirnya Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-20 yang sedianya akan dilaksanakan di Papua pada bulan Oktober 2020 diputuskan ditunda menjadi bulan Oktober 2021. Keputusan penundaan PON ke-20 ini disampaikan Menteri Pemuda dan Olahraga Zainuddin Amali.
Menurutnya, Presiden Joko Widodo telah memutuskan bahwa pelaksaan PON ke-20 di Papua ditunda menjadi Oktober 2021. ”Beberapa pertimbangan yang mendasari penundaan itu adalah pertama, penyelesaian pekerjaan fisik venue yang masih berlangsung sampai dengan sebelum Covid-19, akhirnya harus tertunda,” ujar Menpora menyampaikan hasil Rapat tentang kelanjutan pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-20 dan Peparnas (Pekan Paralimpik Nasional) yang rencananya dilakukan pada bulan Oktober tahun 2020 di Papua, Kamis (23/4). Demikian dikutip dari laman setkab.go.id
Lebih lanjut, Menpora menjelaskan bahwa dengan kondisi tersebut belum semua venue yang direncanakan akan digunakan untuk seluruh pertandingan cabang-cabang olahraga yang akan dipertandingkan pada PON ke-20 tahun 2020 ini tidak bisa diteruskan pelaksanaannya.
”Yang pertama karena bahan-bahan sekarang ini sudah kurang tersedia, kemudian pendistribusian bahan-bahan untuk pembangunan itu yang didatangkan dari luar Papua juga mengalami hambatan,” imbuh Menpora.
Sebagaimana diketahui, Menpora menjelaskan bahwa sekarang di Provinsi Papua memberlakukan penutupan. ia menambahkan bahwa kondisi lainnya adalah tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di sana sebagian juga didatangkan dari luar Papua.
”Selanjutnya juga hal-hal yang menjadi pertimbangan kami tentang pengadaan peralatan dengan situasi Covid-19 ini yang bukan hanya saja di Indonesia, tetapi melanda dunia. Maka tentu pengadaan peralatannya kami mengalami kesulitan,” ungkap Menpora.
Menurut Menpora, negara-negara produsen yang tadinya diharapkan bisa diminta untuk mensuplai peralatan-peralatan olahraga yang akan digunakan pada PON ke-20 itu ternyata juga mengalami kondisi yang sama, sehingga mereka juga dalam produksinya terkendala.
”Belum lagi kalau kita bicara tentang distribusi dan pengirimannya dan berbagai hal yang juga menyangkut itu. Di samping itu, usulan dari cabang-cabang olahraga dan diskusi kami dari dengan KONI Pusat, ada surat dari Gubernur Papua, kemudian rekomendasi dari hasil rapat kerja dengan Komisi X DPR RI Saya minta ditunda. Maka juga itu menjadi pertimbangan yang kami laporkan kepada Bapak Presiden,” kata Menpora.
Selanjutnya, Menpora juga menjelaskan bahwa dari sisi kesehatan kontingen dengan kondisi dan situasi Covid-19 ini, maka seluruh pelatihan-pelatihan yang terpusat di daerah-daerah atau pelatda itu terhenti dan sekarang ini peserta melakukan latihan secara mandiri untuk menjaga kebugaran saja.
”Untuk prestasi yang maksimal tidak bisa kita harapkan. Padahal kita tahu persis bahwa tujuan dari PON itu adalah puncak prestasi olahraga tingkat nasional. Nah ini tidak akan tercapai, apalagi kalau kita bicara tentang cabang-cabang olahraga yang tim. Maka kerja sama tim tidak bisa dilatih hanya dalam waktu 1-2 hari. Nah, demikian juga dengan yang lain-lain,” jelas Menpora.
Dengan berbagai pertimbangan ini, menurut Menpora, Presiden mengambil keputusan untuk menunda pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional yang XX dan Peparnas yang XVI tahun 2021. ***/ebn
SSB Baraya Gelar Latihan Sepakbola Online
Jayakarta News – Terbatas jarak tidak menghalangi siswa SSB (Sekolah Sepak Bola) Baraya Bhayangkara Kresna Bandung Selatan menggelar latihan. Di tengah wabah virus corona (Covid-19), Kepala Sekolah SSB Baraya Aipda Maman Darmansyah mengakali keterbatasan itu dengan menggelar latihan secara online di rumah masing masing.

Menurut Aipda Maman, setelah pemerintah memberikan imbauan agar masyarakat tetap di rumah,, pengurus dan tim pelatih sepakat per 17 Maret 2020 meliburkan latihan rutin. Sebelumnya, latihan rutin digelar di lapangan Bumi Kresna setiap hari Selasa, dan di lapangan Andika Katapang setiap Kamis dan Minggu.
Meski di rumah, latihan tetap dilaksanakan di rumah masing-masing, setiap hari Selasa, Kamis, dan Minggu. Mereka melakukan materi yang diberikan coach, dan wajib mengirimkan foto dan video kepada coach masing-masing sesuai kelompok umur. Dengan cara itu, skill tetap terasah, sekaligus menghindari Covid-19.
“Kita masih punya PR ke depan mengikuti Turnamen BGC (Bandung Grassroot Championship) Arcamanik yang tertunda karena wabah virus corona,” ujar Maman. Dengan pola latihan di rumah seperti itu, diharapkan SSB Baraya tetap bisa tampil prima. (agus s)

Dari pada Bosan di Rumah, Ayo Ikut Kompetisi Daya Ingat Via Online
JAYAKARTA NEWS— Imbauan untuk bekerja, belajar, beribadah, dan berkegiatan di rumah saja membuat sebahagian besar orang mulai merasa bosan. Khususnya para pelajar, pada umumnya mereka kehilangan waktu berinteraksi dan bermain bersama teman-teman yang biasa ditemui di sekolahnya.
Terlalu lama berada di kondisi ruang yang sama dan rutinitas yang monoton membuat otak kita mengalami penurunan fungsi khususnya daya ingat dan konsentrasi. Melihat permasalahan ini, IMSC (Indonesia Memory Sports Council) berinisiatif menjalankan kompetisi yang menguji kecepatan dan ketepatan daya ingat secara daring yang dapat diikuti oleh pelajar maupun masyarakat umum di Indonesia.
Ketua Umum IMSC Yudi Lesmana menjelaskan, untuk mengikuti kompetisi tersebut kita sebelumnya harus mendownload aplikasi MindX Memory Games yang dapat diinstall melalui Playstore. “IMSC mengadakan kompetisi yang dinamakan Mindx Online Memory Championship (MOMC) 2020. Kompetisi ini akan mempertandingkan 3 disiplin daya ingat yaitu : Random Images, mengingat urutan gambar acak dalam waktu 5 menit, Random Words, mengingat urutan kata acak dalam waktu 5 menit, dan Random Numbers, mengingat urutam angka acak dalam waktu 5 menit,” jelas Yudi.
Peserta diharuskan mengaktifkan 1 gadget/laptop tambahan agar panitia dapat mengawasi jalannya kompetisi melalui aplikasi video conference supaya peserta tidak mencatat selama kompetisi berlangsung dan hanya fokus menyelesaikan tantangan daya ingat di Aplikasi MindX.
Kompetisi ini dibagi atas 3 kategori sesuai umur yaitu adult, junior, dan kids dimana pemenang dari kompetisi daya ingat daring ini akan mendapatkan uang tunai, voucher belajar, badge pin juara, dan sertifikat. Babak final kompetisi ini akan diadakan pada 12 April 2020, dimana saat ini peserta secara bergantian menjalani babak penyisihan.
IMSC merupakan salah satu penyelenggara kompetisi daya ingat berpengalaman dimana pada tahun 2017 telah menjadi tuan rumah World Memory Championship di Jakarta yang medatangkan 21 negara dan terakhir menyelenggarakan Asia Open Memory Championship 2019 di Bali yang diikuti 16 Negara. Kegiatan Memory Sports Indonesia dapat dilihat pada Instagramnya @memorysportsid dan websitenya di www.memorysports.id. ***ebn
“Selamat Jalan Bob Hasan….”
Jayakarta News – Mohammad Bob Hasan – manusia tanpa batas – itu, telah pergi. Dada ini terasa sesak mendengar kabar kepergiannya. Tadi siang, Selasa (31/2), pukul 11.00, Bob pergi. Ia pergi tak hanya meninggalkan dunia atletik Indonesia, tapi orang-orang yang mencintainya. Saya sedih dan seketika kembali mengingat saat-saat indah bersamanya.
Siang itu, yang ada di ruangan itu, terdiam tak berdaya. Bob Hasan sedang marah yang, terasa seperti gempa bumi, meledak-ledak, dan bisa membuat jantung sejenak berhenti berdetak. “Kalian tahu itu artinya apa? Mampus … ,” kata Bob.
Bob rupanya tak berkenan dengan judul “Gone With The Wind” yang saya tulis di Majalah Sportif hasil liputan olahraga terbang layang di kawasan puncak. Novel fenomenal karya Margaret Mitchell – dia juga peraih penghargaan Pulitzer pada 1937 – itu, buat saya sangat menarik tuk judul tulisan. Sebelum atlet-atlet terbang layang itu menari-nari di udara sambil menikmati kebun teh, mereka meluncur dari ketinggian sambil meneriakkan judul novel itu.
Bob yang saya kenal adalah manusia tanpa batas. Terbuka, apa adanya, dan bisa segera cair. Soal judul itu, saya kira Bob tidak ingin wartawan-wartawannya berlagak memakai bahasa Inggris. Duduk satu meja di Edogin, restoran Jepang di Hotel Mulia, Jakarta, saya merasakan benar tawa dan canda Bob; lepas, pedas, kadang menyakitkan, tapi tetap saja menyenangkan.
“Gue kan yang dulu pertama kali sediakan hadiah 1 juta dolar di Bob Hasan 10 K,” kata Bob. “Eh, masih hidup lo,” canda Bob. “Dia gak pernah menang adu lari sama gue,” gurau Bob. “Gue pernah tinggal di tiga pesantren, Cipinang, Salemba, dan Nusakambangan,” kata Bob dengan nada bercanda, padahal apa yang dia katakan ini adalah pengalaman yang pahit dalam hidupnya.
Bob – lahir di Semarang dengan nama The Kian Seng – telah menghabiskan separuh hidupnya untuk olahraga Indonesia, terutama cabang atletik. Dia telah melahirkan banyak atlet dan membawa ratusan medali ke Indonesia. Pelari jarak jauh Ali Sofyan Siregar, sprinter Purnomo, Mardi Lestari, Christian Nenepath, Henny Maspaitella, dan Emma Tahapari lahir diawal-awal kepengurusan Bob.
Semua tidak lepas dari buah pembinaan yang dia lakukan di Stadion Madya. Bob juga telah memberangkatkan ratusan atlet berlatih di sejumlah negara, di antaranya Jerman dan Amerika Serikat. Dia juga telah mengirim ratusan atlet ke berbagai event internasional. Bob mengantar Purnomo (nomo 100 meter, nomor paling bergengsi di lintasan atletik) dan empat pelari Indonesia –
Johanes Kardiono, Purnomo, Christian Nenepath, dan Ernawan Witarsa (nomor 4 x 100 meter) – tampil di semifinal Olimpiade Los Angeles 1984.
Bob pernah menjadi Ketua Umum PB PABBSI, Percasi, Persani, Presiden Asosiasi Atletik Amatir Asia (AAAA), anggota kehormatan Komite Olimpiade Internasional (IOC), dan Wakil Presiden Komite Olimpiade Asia (OCA). Di KONI Pusat, Bob empat periode menjadi pengurus teras. Di era Wismoyo Arismunandar, ia duduk sebagai wakil ketua umum. Bob juga pernah menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan di masa Kabinet Pembangunan VII (1998).
Pada 1980 dan 1984, Bob menerima penghargaan sebagai Pembina Olahraga terbaik versi SIWO/PWI Jaya, penghargaan Kalpataru pada 1997, dan penghargaan “Goldene Ehren Packeten” dari Persatuan Atletik Jerman untuk jasa-jasanya meningkatkan atletik Indonesia dengan Jerman. Sebelumnya, pada 1985, dia menerima penghargaan dari pemerintah sebagai Pembina OlahragaTerbaik. Sungguh prestasi-prestasi yang tidak akan pernah bisa disamai siapa pun.
Saya mengenal Bob pada 1983 ketika ikut mengelola majalah Sportif miliknya. Dari sini kemudian saya mengenal orang yang bernama Mohammad Bob Hasan sebagai manusia yang ingin sempurna, mengabdi untuk negeri ini, dan kelak bakal dikenang. Tapi jalan lain harus ditempuh Bob. Dia dinyatakan bersalah dalam kasus korupsi proyek pemetaan hutan senilai Rp 2,4 triliun dan harus mendekam di LP Nusakambangan.
“Pengorbanan dan sumbangsih beliau di dunia atletik sangat luar biasa dan belum tentu ada orang yang bisa melakukan itu,” kata Purnomo, salah satu anak didiknya yang telah lebih dahulu berpulang pada Jumat, 15 Februari 2019.
Buat saya Bob adalah manusia tanpa batas. Dia terbuka, apa adanya, dan tidak ada yang harus dia sembunyikan. Dia adalah tokoh olahraga di negeri ini yang berdedikasi tinggi, setia, dan progresif.
“Pak Bob, selamat jalan. Tidur Nyenyak di sana. Saya akan selalu merindukan Bapak …. “. (YON MOEIS)