Jokowi Minta Pelantikan Presiden Dilakukan Sederhana, Relawan Boleh Arak-arakan

Presiden Joko Widodo–foto humas setkab

JAYAKARTA NEWS— Pelantikan Joko Widodo-Ma’aruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden semakin dekat. Jokowi meminta agar penyelenggaraan upacara pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2019-2024, pada Rapat Paripurna MPR RI, di Jakarta, Minggu (20/10), dan perayaannya dilakukan sederhana.

“Dilakukan sederhana tanpa mengurangi kekhidmatan dan keagungan acara itu,” kata Jokowi dalam keterangan pers usai menerima pimpinan MPR RI 2019-2024, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (16/10) siang.

Menurut Presiden Jokowi kedatangan pimpinan MPR RI yang dipimpin ketuanya Bambang Soesatyo itu untuk menyampaikan undangan untuk pelantikan 20 Oktober nanti. “Tadi saya menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh pimpinan MPR periode 2019-2024,” ungkap Presiden Jokowi.

Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi tidak mempersoalkan jika ada relawan yang melakukan syukuran atau arak-arakan atas pelantikan dirinya sebagai Presiden RI 2019-2024. “Kalau mau arak-arakan enggak apa-apa. Arak-arakan saja,” ucap Presiden.

Terkait susunan kabinet periode 2019-2024, Jokowi memberi  bocoran membocorkan bahwa akan mempertahankan beberapa menteri Kabibet Kerja periode 2014-2019. “Ya, ada yang lama. Yang baru, banyak,” ucap Jokowi. Mengenai berapa prosentase perbandingan (yang lama dan baru, red), Presiden tidak menjawab secara langsung.

“Belum dihitung persentasenya,” kata Presiden. Adapun mengenai kapan nama-nama menteri itu diumumkan, Presiden Jokowi mengatakan, akan dilakukan secepatnya setelah pelantikan (presiden, red), yang akan dilakukan pada 20 Oktobet 2019 pukul 14.00 WIB. ***/setkab/ebn

Obat Lambung Ranitidin Ditarik, Ini Daftar Obat Penggantinya

Ilustrasi–sumber foto thestar.com.my

JAYAKARTA NEWS— Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merilis sejumlah obat tukak lambung dan tukak usus selain sediaan farmasi yang mengandung Ranitidin.

Dari laman resmi BPOM yang diakses di Jakarta, Selasa (15/10/2019), menyebut obat dengan Ranitidin saat ini ditarik secara sementara karena diduga mengandung cemaran N-Nitrosodimethylamine (NDMA) yang memicu kanker (karsinogenik).

Sebelumnya, Kepala BPOM Penny Lukito juga menyarankan agar masyarakat berkonsultasi dengan dokter soal obat tukak lambung dan tukak usus selain yang mengandung Ranitidin. Terdapat 67 merk obat yang menggunakan materi generik Ranitidin.

Penny mengatakan penarikan distribusi dan peredaran obat ber-Ranitidin dilakukan untuk alasan keamanan. Selama masa penarikan sementara, dilakukan pengujian laboratorium meneliti cemaran NDMA terhadap Ranitidin.

Adapun daftar obat pengganti itu di antaranya sebagai berikut:

Sediaan obat minum atau oral 1. Antasida yang terdiri dari Alumunium hydroxide/ Magnesium hydroxide/simethicone dalam bentuk sediaan tablet kunyah dan suspensi. 2. Penghambat Pompa Proton (kapsul lepas tunda lansoprazol, kapsul lepas tunda omeprazol, tablet salut enterik Pantoprazole, tablet salut enterik Esomeprazol dan tablet salut enterik Natrium Rabeprazole). 3. Antagonis Reseptor-H2 (tablet dan tablet salut Simetidin serta tablet salut selaput Famotidin. 4. Sitoprotektif (tablet Sukralfat) 5. Analog Prostaglandin (tablet salut selaput Rebamipid)

Sediaan injeksi 1. Penghambat Pompa Proton (serbuk injeksi Esomeprazol, serbuk injeksi Lansoprazol, serbuk injeksi Omeprazol dan serbuk injeksi Pantoprazol).***/jpp/ebn

Kepala BNPB Terima Medali Tokoh Standarisasi Nasional 2019

Kepala BNPB Doni Monardo mendapat penghargaan ‘Tokoh Standarisasi 2019’ dari Badan Standarisasi Nasional di Semarang, Kamis (10/10/2019)–foto humas bnpb

JAYAKARTA NEWS— Kepala BNPB Doni Monardo menerima penghargaan Tokoh Standarisasi 2019 dari Badan Standaridasi Nasional. “Kepala BNPB mendapatkan medali karena berkontribusi besar dalam pengembangan dan memperjuangkan SPK melalui kebijakan pemerintah, serta berkolaborasi dengan BSN mempromosikan SNI 8357:2017,” ujar Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan yang menerima penghargaan tersebut mewakili Kepala BNPB Doni Monardo.

Penghargaan yang diberikan dalam acara ‘Bulan Mutu Nasional 2019’ di Semarang, tidak bisa diterima langsung oleh Ketua BNPB lantaran tengah berada di Maluku guna melihat penanganan darurat pascagempa.

Lilik juga menyampaikan bahwa SNI tersebut diimplementasikan pada 584 desa rawan tsunami di sepanjang selatan Pulau Jawa dan 24 kabupaten/kota melalui ekspedisi desa tangguh bencana tsunami. Selain itu, sejak 2013, BNPB telah memiliki Komtek 13-08 Penanggulangan Bencana. Kontek ini telah menghasilkan 17 SNI tentang penanggulangan bencana dan dua ISO, yaitu ISO tentang communities based landslide early warning system dan ISO tentang EWS lainnya yang masuk dalam tahapan FDIS 22328-1.

Lilik juga menyampaikan bahwa keberpihakan BNPB pada standarisasi dan sertifikasi ditujukan untuk melengkapi sistem penanggulangam bencana yang makin baik di Indonesia. Standarisasi untuk ketangguhan bangsa menghadapi bencana.***/jpp/ebn

Jokowi Tegur Keras Perhutani: Jangan Sampai Lebih Kolonial dari Kolonial

Ilustrasi hutan— foto youtube

JAYAKARTA NEWS— Program perhutanan sosial belum berjalan lancar. Ada yang sudah banyak menerima manfaat tetapi ada juga yang sudah dikasih Surat Keputusan (SK) tapi di bawah belum jalan, karena belum sambungnya antara Kementerian Kehutanan dan juga mungkin Perhutani tapi yang ada di bawah. Demikian disampaikan Presiden Joko Widodo saat menerima perwakilan Masyarakat Perhutanan Sosial, di Istana Negara, Jakarta, Kamis (10/10) siang.

“Ada beberapa SK yang dikembalikan langsung ke tangan saya. Waktu saya ke daerah, Pak ini Pak, SK-nya ini  Pak, enggak bisa jalan Pak di lapangan,” kata Jokowi.

Kepala Negara mengakui memang itulah kadang-kadang persoalan-persoalan besar negara kita yang sebesar ini. Karena yang perhutanan sosial yang telah diberikan kepada masyarakat itu bukan hanya satu hektar, dua hektar.

Presiden Joko Widodo berfoto bersama perwakilan Masyarakat Perhutanan Sosial di Istana Merdeka, Kamis (10/10/2019)—foto humas setkab

“Ini data yang ada di saya, sampai 1 Oktober 2019 ini pemberian pemanfaatan hutan perhutanan sosial itu yang di Jawa sudah mencapai 25…, 25.000 hektar. Ditambah yang untuk perlindungan kemitraan, itu 150.000,” ungkap Presiden Jokowi.

Menurut Presiden, target pemerintah memang bukan angka yang kecil, karena telah dibuat peta indikatif untuk alokasi perhutanan sosial sebesar 12,7 juta hektar. “Ini kan bukan… bukan angka yang kecil. Angka yang gede banget tetapi untuk melaksanakan hal seperti ini dalam praktek di lapangannya yang tidak segampang itu. “

“Di bawah juga ada birokrasi kita, perhutani, yang ada yang bisa menerima, ada yang tidak bisa terima. Karena apa? Terganggu, terganggu oleh program ini,” jelas Presiden Jokowi.

LEBIH KOLONIAL

Presiden berjanji akan menyelesaikan itu nanti khusus Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanahan dan Perhutani.  “Harus selesai, ini harus selesai, harus bisa selesai,” tegasnya.

Secara khusus Presiden Jokowi menyentil Dirut Perhutani. “Ini sudah jamannya kayak gini jangan sampai lagunya masih lagu lama. Dirutnya mungkin enggak, tapi yang di bawahnya itu  yang mesti  selesaikan. Jangan sampai Perhutani itu lebih kolonial dari kolonial,” tegas Presiden Jokowi seraya menambahkan, dirinya merasakan apa yang disampaikan perwakilan Masyarakat Perhutanan Sosial.

“Suara itu saya dengar, jangan dipikir saya tidak tahu, enggak dengar. Saya dengar. Saya mau bicara banyak nanti dengan Pak Dirut plus jajaran, karena yang saya lihat berbeda dengan kita yang bicarakan di sini, berbeda,” kata Presiden.

Untuk itu, Presiden Jokowi memberi waktu sebelum 2 tahun konflik itu harus rampung semuanya, sudah.

“Enggak ada konflik lagi dalam PTPN, di Perhutani. Semuanya harus selesaikanlah. Ini sudah bertahun-tahun, bisa kita selesaikan,” pinta Presiden seraya menunjuk contoh keberhasilan menyelesaikan konflik di Riau dimana 2.400 hektar akhirnya bisa diserahkan kepada masyarakat.

Presiden menegaskan, pemerintah terus berkomitmen untuk menyelesaikan secepat-cepatnya perhutanan sosial reforma agrarian. Tetapi ia mengingatkan juga masih banyak sekali persoalan-persoalan hukum yang ada di lapangan, yang juga tidak semuanya bisa diselesaikan karena ada, misalnya ada di luar Jawa kita dibawa ke pengadilan, pemerintah kalah.

“Pemerintah saja kalah, lah ini fakta. Karena dari dilihat dari sisi hukum kalah. Inilah kenyataan-kenyataan yang saya beberkan apa adanya dan sekali lagi, kita berkomitmen untuk menyelesaikan 12,7 itu dan reforma agraria kurang lebih 9 juta hektar,” pungkas Presiden Jokowi. Tampak mendampingi Presiden Jokowi dalam kesempatan itu antara lain Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sofyan Jalil, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, dan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko.***setkab/ebn  

Koperasi Perlu Berkoordinasi dengan Humas Pemerintah

Para peserta Forum Bakohumas mengunjungi Koperasi Catra Gemilang, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (10/9/2019)–foto humas setkab

JAYAKARTA NEWS— Staf Ahli Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) Teguh Budiono meyakini, koperasi bisa menjadi ujung tombak perekonomian. Caranya, dengan melakukan koordinasi di antara humas-humas pemerintah.

Pernyataan tersebut disampaikan Teguh Budiono dalam pembukaan Forum Badan Koordinasi Humas Pemerintah (Bakohumas)  “5 Tahun Reformasi Total Koperasi”, di Grand Keisha Hotel, Sleman, D.I. Yogyakarta (DIY), Rabu (9/10).

“Humas pemerintah tidak hanya bicara untuk program sendiri, tapi juga harus membahas bagaimana suksesnya Kementerian/Lembaga (K/L) lain,” pesan Teguh.

Sebelumnya Kapala Bagian Humas dan Advokasi Hukum Kementerian Koperasi dan UKM, Darmono, dalam laporannya mengingatkan, koperasi harus siap menghadapi perubahan dan mengubah pola pikir. Ia menyampaikan pentingnya melakukan Program Reformasi Total Koperasi, yang meliputi: 1. Reorientasi, 2. Rehabilitasi, 3. Pengembangan. “Bakohumas ini diharapkan dapat menunjukkan keberhasilan Reformasi Total Koperasi, sebagai keberhasilan bersama,” kata Darmono. Forum Bakohumas Kemenkop UKM itu diikuti oleh 70 perserta dari insan kehumasan pemerintah dan pelaku koperasi. Dalam acara tersebut ditampilkan diskusi dengan nara sumber: 1.Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY; 2. Pengamat Koperasi, Suroto: dan 3. Pelaku Koperasi, Ketua Kopma UGM Ika Rizky Fauziah, Dalam Forum Bakohumas itu juga dilakukan kunjungan ke Koperasi Catra Gemilang, Borubudur, Magelang, Jawa Tengah.***setkab/ebn

Tim Ahli Wapres Hadiri Upacara Ngaben Istri Tokoh Bali

Tim Ahli Wakil Presiden Jusuf Kalla, Iskandar Mandji—foto istimewa

JAYAKARTA NEWS— Tim Ahli Wakil Presiden Jusuf Kalla, Iskandar Mandji menghadiri upacara ngaben istri dari Gde Sumarjaya Linggih di Denpasar Bali pada 10 Oktober 2019. Iskandar Mandji yang juga mantan Wakil Sekjen Golkar era Jusuf Kalla menjadi utusan khusus Jusuf Kalla guna memberi penghormatan terakhir kepada Oni istri anggota DPR RI Gde Sumarjaya Linggih yang berpulang akibat sakit.

“Karena kepadatan waktu beliau, sehingga Pak Wapres tidak sempat menghadiri acara ngaben ini. Semula beliau sudah merencanakannya,” ujar Iskandar Mandji kepada wartawan di Bali.

Amarhumah Ida Ayu Ketut Onik Mindawati adalah istri Plt Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali Gde Sumarjaya Linggih.

Menurut rencana upacara pengabenan ini akan berlangsung di Yayasan Krematorium Bebalang, Bangli, Kabupaten Bangli, Bali.

“Pak Wapres dan Ibu Mufidah menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya ibu Onik. Keluarga pak JK mengenal dan bersahabat dengan baik dengan keluarga Pak Demer,” ungkap Iskandar Mandji, politisi senior kelahiran Parepare Sulawesi Selatan ini.

Diketahui, Ayu Onik Mindawati meninggal dunia di RS Bros Denpasar, Senin pada tangga 16 September 2019 pagi. Istri Plt Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali Gde Sumarjaya Linggih alias Demer ini menghembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan kanker usus stadium 4.

Almarhum sempat dirawat di sebuah rumah sakit di Singapura, sebelum mendapatkan perawatan di RS Bros Denpasar hingga akhirnya tutup usia.

Ayu Onik Mindawati lahir pada 25 Mei 1971. Ia menikah dengan Sumarjaya Linggih, yang saat ini tercatat sebagai anggota DPR RI. Dari pernikahan tersebut mereka  dikaruniai empat anak, masing-masing Ayu Denisa Linggih, Ayu Karina Linggih, AB Pratiksa Linggih, dan AB Arsadhana Linggih.***ebn

Ini Penjelasan Dirut BPJS Kesehatan Soal Penyesuaian Iuran

Dirut BPJS Kesehatan Fachmi Idris– foto jpp

JAYAKARTA NEWS— Berbagai informasi marak beredar seiring rencana pemerintah penyesuaikan iuran BPJS. Direktur Utama BPJS Fachmi Idris pun secara tegas memberikan penjelasan sebagai tanggapan atas informasi-informasi yang beredar di tengah masyarakat.

Penjelasan itu disampaikan langsung Fachmi saat memberikan simpula atas pernyataannya selaku salah satu narasumber alam acara diskusi media FMB 9 dengan mengusung tema “Tarif Iuran BPJS” yang diselenggarakan di Kantor Kemenkominfo pada Senin (7/10/2019), Jakarta.

“Pertama, beredar di masyarakat bahwa DPR menolak kenaikan iuran PBJS. Itu saya tegaskan tidak benar. Disebutkan oleh DPR bahwa untuk penyesuaian tarif kelas 3 dapat diberlakukan dengan syarat cleansing data beres. Jadi menurut saya, kalimat tepatnya ya DPR menerima kenaikan iuran dengan syarat,” tuturnya. Demikian dikutip dari laman jaringan pemberitaan pemerintah.

Kemudian kedua, terkait informasi yang juga beredar luas di masyarakat, yakni bahwa penyesuaian iuran untuk kelas 1 bakal membebani, Fachmi mengatakan, bahwa itu sama sekali tidak tepat.

“Tidak ada maksud untuk membebani masyarakat. Bila dengan penyesuaian itu, peserta Kelas 1 harus menyisihkan 5.000 rupiah per hari. Kalau itu dirasa memberatkan, maka bisa 3.000 rupiah per hari, atau kalau masih terasa berat, maka bisa 1.800 rupiah per hari untuk Kelas 3,” tuturnya.

Lantaran itulah, Fachmi meminta, jangan dinarasikan kenaikan iuran 2 x lipat atau 100 persen. Sebab sebenarnya, dari penyesuaian itupun 73,63 persen sudah dialokasikan oleh pemerintah. “Sebab untuk Kelas 1 harusnya penyesuaian 270 ribu,” katanya.

Sementara itu yang ketiga, Fachmi menampik penyesuaian tarif akan memunculkan penurunan daya beli buruh. Sebab senyatanya, dia menjelaskan, hanya buruh yang memiliki pendapatan sekitar 8 juta hingga 12 juta, atau hanya 3 persen dari total, yang memiliki kewajiban untuk membayar iuran BPJS. Penjelasan keempat adalah soal terjadinya fraud masif yang mengakibatkan defisit BPJS. Menurut Fachmi, hal itu juga tidak tepat. Sebab, kata dia, nyatanya fraud yang terjadi kurang dari 1 persen.

Selanjutnya Fachmi juga menyampaikan bahwa penyesuaian iuran BPJS tidak memberikan pengaruh tersendiri bagi masyarakat miskin. Hal itu, menurut dia, karena masyarakat miskin yang jumlahnya sekitar 133 juta orang ditanggung oleh pemerintah. “Jadi dari 133 masyarakat miskisn, yang terdiri dari 95,38 juta, dan 37 juta di daerah, semuanya ditanggung oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah,” tandasnya.

Sementara dalam kesempatan diskusi tersebut  Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo juga memberi penjelasan. Menurutnya, Kementerian Keuangan telah menyiapkan sejumlah peraturan menteri untuk membantu BPJS menutup defisit, tanpa harus membebani rakyat. 

“Ada sekitar enam atau tujuh peraturan menteri keuangan (PMK) yang sudah disiapkan, bilamana perpres diterbitkan. InsyaAllah itu bisa membantu tutup defisit 2019 dan tidak membebani rakyat. Karena sudah dianggarkan di APBN dan APBD,” ujarnya.

Agar JKN terus berjalan dengan baik, katanya, ada dua pilihan utama lain yang juga harus dilakukan yakni perbaikan sistem dan manajemen JKN. Dan lainnya adalah penguatan peran kerja sama dengan pemerintah daerah. ***jpp/ebn

Pengamat Kesehatan: Hindari Defisit, Solusi Pembayaran Iuran BPJS harus Sistemik

Pengamat kesehatan Budi Hidayat (paling kanan) dalam diskusi Media Forum Merdeka Barat bertema ‘Tarif Iuran BPJS’ di gedung Kementerian Komunikasi dan Informatikan, Jakarta, Senin (7/10/2019)–foto humas

JAYAKARTA NEWS — Di dunia ini tidak ada makan siang yangg gratis. Demikian pula untuk bidang pelayanan kesehatan. Di negara manapun tidak ada pelayanan kesehatan yang gratis. Untuk itu, yang paling utama adalah bagaimana bentuk pelayanan kesehatannya.

Demikian disampaikan Pengamat Kesehatan Budi Hidayat dalam acara Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 (Dismed FMB’9) dengan tema “Tarif Iuran BPJS” yang diselenggarakan di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Jakarta, Senin (7/10/2019), sebagaimana dikutip dari laman jaringan pemberitaan pemerintah.

“Saat ini, untuk pendanaan kesehatan, kalau kita tidak punya asuransi sosial atau komersial, akan mengalami persoalan sendiri. Karena, sakit bisa menimpa semua orang,” ujar Budi.

Melihat perkembangan yang ada di dunia jaminan sosial kesehatan di Indonesia, menurut Budi, kalau dicermati mekanisme asuransi ada dua hal. Ada yang wajib, yakni asuransi sosial yang merupakan program pemerintah terkait asuransi nasional yang bersifat wajib. Wajib untuk seluruh warga negara Indonesia.

“Berikutnya adalah asuransi yang sifatnya sukarela, yakni asuransi komersial. Pertanyaanya bagaimana pemerintah menitikberatkan apakah akan menitikberatkan jaminan sosial yang sifatnya wajib atau asuransi komersial yang tidak wajib,” jelas Budi.

Budi menjelaskan, dalam asuransi sosial dan komersial, sumber pendanaan berasal dari peserta. Intinya, besaran nilai kontribusi harus cukup mendanai janji asuransi tersebut. Karena itu, harus bisa menghitung berapa angka yang dibutuhkan untuk pengeluaran kesehatan.

“Ada kompenen biaya yang masih kurang. Sejak 2014 hingga saat ini, semua dana yang masuk dipakai untuk biaya pelayanan kesehatan. Besaran iuran yang ditetapkan meleset jauh dari angka yang dihitung secara awal,” ungkap Budi.

Semestinya, Budi menjelaskan, hitung-hitungan sudah ada tapi tidak diakomodir. Sehingga defisit sudah ketahuan, sudah kelihatan. Angka-angka yang disampaikan sebagai contoh bahwa kita sudah tahu besaran manfaat yang dijanjikan JKN.

“Butuh X rupiah yang harus dishare bersama. Karena asuransi sifatnya wajib, maka semua pendiduk bisa masuk ke sana,” ucap Budi.

Maka, apa yang harus dilakukan pemerintah? Menurut Budi, yang pasti solusinya harus sistemik. “Benahi dulu manajerialnya. Itu wajib hukumnya. Benahi nilai iuran sesuai dengan janji. Kalau listnya sudah tahu, angka itu sesungguhnya sudah tahu sebelumnya,” ujarnya.

Hadir pula sebagai narasumber Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Mardiasmo, Kepala Pusat Pemberdayaan dan Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Kalsum Komaryani, dan Direktur Umum Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Fachmi Idris.

Kegiatan FMB 9 juga bisa diikuti secara langsung di www.fmb9.go.id, FMB9ID_ (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID_IKP (Youtube). ***jpp/ebn

World Cleanup Day 2019: Lions Club Berantas Sampah Plastik

Lion Club Indonesia lakukan bersih-bersih sampah plastik, Sabtu (21/9/2019)–foto istimewa

JAYAKARTA NEWS— Sedikitnya 157 negara termasuk Indonesia mengadakan bersih bersih bersama guna memberantas sampah Plastik  yang mengancam kehidupan manusia. Bersih-bersih Lingkungan khususnya dari sampah plastik yang sulit di daur ulang ini merupakan concern negara-negara di dunia ini menuju zero waste.

‘’Program aksi  bersih bersih bersama atau World Clean Up Day tahun ini dijadikan momentum bagi  negara di dunia termasuk Indonesia dalam memberantas sampah plastik yang mengancam kehidupan manusia. Indonesia melakukannya di seluruh provinsi, khususnya DKI Jakarta digelar Lions Club Indonesia di lima wilayah Jakarta, Sabtu(21/9) kemarin’’ucap Erma Zein, Presiden Lions Club Magnolia.

Aksi Bersih-Bersih Dunia atau World Cleanup Day 2019 digelar di Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur, Sabtu (21/9)/2019). Sedikitnya ada  1.000 orang ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang digelar serentak di lima wilayah kota di Jakarta ini.

Presiden Lions Club Magnolia Erma Zein mengatakan Aksi Bersih-Bersih Dunia itu tidak hanya digelar secara serentak di lima wilayah kota di Jakarta tapi juga di seluruh dunia.

Pada kesempatan itu masyarakat dari seluruh lapisan seperti komunitas, anak sekolah hingga anggota Lions Club yang turut berpartisipasi, jumlah mencapai hampir 1.000 orang. Selain memberikan edukasi masyarakat yang ada di sekitar lokasi, mereka juga mengajak mencari sampah dan memilahnya untuk kemudian dikumpulkan sesuai jenisnya.

“Kita mengajak teman-teman cari sampah, yang mana sampah plastik yang mana organik. Jadi ada penimbangan juga setelah kita ambil, setelah itu diberikan ke lingkungan kebersihan setempat,” ujar Erma Zein.

Hasilnya ada ratusan kilogram sampah yang dikumpulkan dari masyarakat saat kegiatan itu. Kedepan adanya kegiatan itu diharapkan bisa mengurangi penggunaan sampah plastik. “(Sampah) yang dihasilkan cukup banyak ratusan kilo, persisnya saya lupa, ada sampah plastik, ada sampah kertas, rumah tangga karena kita datangi rumah tangga sekalian edukasi,” katanya. 

Sementara itu, di wilayah Jakarta selatan misalnya,  terlihat beberapa warga Negara asing beserta keluarganya bergabung dengan sekitar 800 orang lainnya  turut memungut sampah,  memilahnya sesuai kategori yang ditetapkan,  melakukan pengumpulan dan penimbangan untuk kemudian dikirim ke bank sampah  supaya bisa dipilah pilah kembali  dan didaur ulang agar menghasilkan zero waste.

Peringatan World Clean Up Day-2019, kata Humas Lions Club Ernawati Siahaan, merupakan aksi bersih-bersih terbesar d dunia yang diharapkan mampu membawa perubahan  signifikan bagi lingkungan, sehingga  apa yang menjadi program pemerintah apapun bentuknya bisa terwujud dan terlaksana dengan baik apabila dilakukan secara bersama-sama. Bersinergi dengan  lembaga ataupun organisasi sosial kemasyarakatan lainnya. Tahun  lalu Indonesia telah mendapatkan  penghargaan tingkat dunia terkait masalah  kebersihan  lingkungan.

Kegiatan  bersama  membersihkan lingkungan bahkan penghijauan dengan penanaman  pohon dilakukan   berbagai organisasi yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan  dan relawan serta perorangan yang jumlahnya mencapai 13 juta orang di seluruh Indonesia. Untuk ini, Lions Club   bergandengan tangan  dengan  pemerintah setempat guna  menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.

Wali Kota Jakarta Selatan, Marullah Matali yang ikut dalam aksi ini mengaku sangat mengapresiasi seluruh pihak.  Dirinya berharap ke depan kegiatan seperti ini rutin dilakukan. “Kebersihan itu sebagian dari iman,  maka kita harus menjaga kebersihan. Makanya pada aksi bersih-bersih ini kami bahagia sekali bisa berkumpul dengan 600 orang dalam satu titik ini, untuk sebuah acara Cleanup Day,  bersih-bersih Jakarta,” kata Marullah.

Menurutnya, banyaknya masyarakat yang terlibat dalam kegiatan bersih-bersih ini, menunjukkan bahwa banyak yang peduli dengan lingkungan.

“Dulu paradigma di masyarakat , ‘buang lah sampah pada tempatnya’. Sekarang harus diubah menjadi ‘jangan nyampah, atau bawalah sampah mu ke rumah mu’. Dengan begitu, orang akan semakin enggan menyampah,” tambah Walikota Jakarta Selatan itu.

Sementara itu Vice District Governor 307A1 Lions Clubs Indonesia, Evi Pohan menyampaikan, hari ini adalah hari yang tepat sekali bagi member Lions Club International terutama Indonesia untuk bersama dengan seluruh dunia melakukan protect enviroment dengan aksi bersih-bersih.

“Kami berharap kegiatan yang dilakukan  para Lions ini bisa menjadi contoh bagi warga Jakarta, terutama mengenai bagaimana harus memelihara lingkungan hidup sekitar masing-masing.  Jika wilayah bersih tentu segala penyakit akan terhindar, “kata Evi Pohan.

Brian, salah seorang turis dari Australia, mengaku senang dengan kegiatan ini.  Ia menilai kegiatan bersih-bersih, harus bisa diterapkan setiap saat. “Kami sangat mendukung sekali kegiatan ini, karena bagus sekali, terutama untuk mengurangi sampah plastiknya. Makanya saat saat melintas ada aksi ini saya ikut sambil membawa kantong,” kata Brian. ***ks

Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto: Politik Jalan Kebudayaan

Sekjen PDI P Hasto Kristiyanto–foto istimewa

JAYAKARTA NEWS— Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto menegaskan sejatinya politik adalah jalan kebudayaan. Perjuangan politik dan jalan kebudayaan harus berdiri tegak pada jalan ideologi.

Hasto Kristiyanto menegaskan hal tersebut saat memberikan materi pembekalan pada  kegiatan Pembekalan struktural DPD PDI Perjuangan DIY,  DPC PDI Perjuangan dan Fraksi PDI Perjuangan Kota Yogyakarta,  Sleman,  Bantul, Gunungkidul dan Kulonprogo, Minggu,  22/9/2019.

“Jogja punya tempat terhormat, dalam sejarah memiliki kontribusi besar pada perjuangan kemerdekaan, termasuk saat menjadi ibukota RI,” kata Hasto Kristiyanto.

Politik sebagai jalan kebudayaan punya makna bahwa kader harus tegak berdiri pada jalan ideologi. Setiap kader PDI Perjuangan harus sadar tugas ideologi.

Ada tantangan dan ancaman intoleransi cikal bakal radikalisme dan terorisme yang harus diselesaikan.

Hasto Kristiyanto menambahkan dalam bekerja berjuang untuk membawa kesejahteraan rakyat kader partai harus sadar tugas ideologi.

“Menjadi partai pemenang menuntut kita jauh lebih disiplin dan tertib, jadilah pelopor dalam berjuang,” kata Hasto Kristiyanto.

Jadi bagian dari partai pelopor  jelas menuntut tiap kader partai untuk berdisiplin, disiplin ideologi. Kerja politik yang dijalankan orientasi politik utamanya kesejahteraan rakyat.

“Itulah sebabnya PDI Perjuangan berpihak pada wong cilik. PDI Perjuangan selalu hadir, menangis dan tertawa bersama rakyat,” kata Hasto Kristiyanto.

Secara khusus, Hasto Kristiyanto dalam pembekalan kader partai ini menegaskan pentingnya bagi semua untuk disiplin teori.

Kader harus mau membaca, disiplin organisasi, disiplin gerakan, disiplin tindakan dan disiplin perilaku.

Di dalam merawat kepercayaan rakyat maka ke depan partai harus memperkuat struktur dan kader partai PDI Perjuangan harus mengikuti perkembangan jaman termasuk harus melek ideologi.

“Kemenangan pemilu harus bawa partai menjadi obor penerang, partai memimpin, partai yang selalu hadir di ruang rakyat. Tanggung jawab menyelesaikab masalah rakyat, menjadi orientasi kader PDI perjuangan,” kata Hasto Kristiyanto.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta Eko Suwanto yang turut hadir dalam acara tersebut menyatakan dalam rangkaian konsolidasi partai,  seluruh kader partai selalu diajak untuk berkomitmen bergerak dalam satu tarikan nafas dengan rakyat.

Sebagai langkah perkuat konsolidasi SDM dan organisasi, DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta beserta anggota Fraksi PDI Perjuangan di DPRD Kota Yogyakarta telah lakukan kunjungan ke DPC PDI Perjuangan Solo untuk saling belajar dan berdialog.

“Struktur partai dan jajaran pengurus berkomitmen konsolidasikan partai, berjuang dan bergerak satu tarikan nafas dengan rakyat. PDI Perjuangan Kota Yogyakarta kita dorong selalu berkomitmen mempraktekkan Pancasila dalam kebijakan publik untuk wujudkan kesejahteraan rakyat,” kata Eko Suwanto, politisi muda PDI Perjuangan. ***/ebn