Mendagri Tito akan Tindak Tegas Siapa pun Pelaku Kekerasan di IPDN

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian —foto kemendagri

JAYAKARTA NEWS— Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menegaskan bahwa budaya kekerasan harus dihilangkan di lingkungan pendidikan. Menurutnya, budaya tersebut tidak relevan dan tidak memiliki asas manfaat.

Hal itu diungkapkannya saat menjadi inspektur upacara dalam Pelantikan Muda Praja IPDN Angkatan XXX Tahun 2019 di Lapangan Parade IPDN Kampus Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. “Ingat bahwa anda ini Civil in Uniform,” kata Mendagri.

Ia juga memandang budaya kekerasan di lingkungan pendidikan sebagai bagian dari kekeliruan yang tak patut dicontoh dan diteruskan.

“Saya merasakan, seperti adik-adik untuk sekolah kepolisian di berbagai negara, tidak ada yang namanya budaya kekerasan, untuk itu budaya tersebut harus dihilangkan karena tidak ada gunanya. Apapun alasan pembinaan, itu tidak ada gunanya dan hanya ajang balas dendam,” tegas Mendagri.

Ia juga akan memberikan tindakan yang tegas terhadap siapa saja pelaku tindak kekerasan di lingkungan IPDN. Tak hanya itu, ia juga akan memidanakan oknum yang melakukan kekerasan yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain.

“Di Akpol, lebih dari sepuluh orang sudah saya keluarkan bahkan dipidana karena melakukan kekerasan. Saya akan memberikan tindakan yang keras dan tegas kalau sampai terjadi kekerasan, apalagi sampai mengalami luka hingga meninggal dunia, saya akan pidanakan,” tegasnya lagi.

Meski demikian, pendidikan kedisiplinan tetap Mendagri tekankan pada seluruh Muda Praja IPDN yang dilantik. Penegakan kedisiplinan juga dilakukan apabila ada Praja yang terbukti melanggar aturan. “Namun tetap dengan catatan tidak melakukan kekerasan,” ujarnya. ***jpp/ebn

Menag Facrul Razi Peringatkan Ormas Pendukung Khilafah

Menteri Agama Fachrul Razi (Kemenag)

JAYAKARTA NEWS— Menteri Agama Jenderal (Purn) Fachrul Razi menegaskan bahwa negara tidak mentolerir keberadaan khilafah. “Kalau khilafah, kita tidak ada pilihan. Tidak ada khilafah di Indonesia,” ujar Menag, Kamis (31/10/2019).

Pernyataan ini disampaikan Menag usai menghadiri Konsolidasi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) di Kantor Kementerian Koordinator Bidang PMK di Jakarta. Untuk itu, dirinya pun menegaskan akan merekomendasikan penghentian perizinan ormas mana pun yang mengusung tentang khilafah.

“Kita tidak menyebut satu persatu. Tapi bila mengusung khilafah, kami rekomendasikan untuk mencabut izinnya,” tegas Menag Fachrul Razi.

Kehadiran Menag di Kantor Kemenko PMK untuk menghadiri rapat konsolidasi perdana bidang PMK Kabinet Indonesia Maju ini juga turut didampingi oleh  Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid serta jajaran pejabat Eselon I Kemenag. Dalam rapat konsolidasi perdana ini, masing-masing menteri diminta menyampaikan paparan singkat. Menag Fachrul Razi, dalam paparannya mengingatkan kembali tentang komitmen terhadap penangkalan radikalisme di Indonesia.

“Saat ini diperlukan kesamaan sikap kita untuk penangkalan radikalisme. Seperti telah disampaikan Presiden, masalah radikalisme adalah prioritas bagi kita semua. Bukan hanya jadi prioritas Kementerian Agama, tapi seluruh kementerian dan lembaga yang ada. Maka kita mesti punya kesamaan sikap untuk ini,” kata Menag.

Menag mencontohkan, komitmen kebangsaan dapat ditunjukkan oleh para aparat negara. Misalnya saat menyanyikan Indonesia Raya di dalam suatu acara, maka sikap yang harus ditunjukkan para aparat harus sesuai. “Jangan sampai kita lihat ada aparat yang tidak bersikap siap saat menyanyikan Indonesia Raya. Ini harus punya komitmen bersama. Perlu ketegasan bersama,” ujar Menag Fachrul Razi.

Rapat konsolidas kali ini mengambil tema ‘Percepatan Pencapaian Visi dan Misi Presiden serta Sasaran dan Target Indikator Bidang PMK dalam RPJMN 2020-2024. Konsolidasi ini dihadiri tujuh Kementerian yang berada di bawah koordinator PMK, yakni: Kementerian Agama; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; Kementerian Kesehatan; Kementerian Sosial; Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi; Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; dan Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Menko PMK Muhadjir Effendy menyampaikan, rapat konsolidasi ini memiliki peran penting dalam pencapaian visi misi Presiden 2020-2024. “Pembangunan PMK tidak bisa hanya dilakukan oleh satu kementerian/lembaga saja. Presiden menyampaikan, terlalu besar Indonesia ini jika masalah pembangunan manusia dan kebudayaan diselesaikan oleh sendiri-sendiri. Oleh karena itu kita harus fokus untuk bekerja sama sehingga apa yang menjadi cita-cita bersama dapat dilakukan,” ujar Menko PMK Muhadjir Effendy.***jpp/ebn

14 Mahasiswa Asal Papua Dapat Beasiswa dari Pemerintah Rusia

Sebanyak 14 Mahasiswa asal Papua yang mmperoleh beasiswa dari Pemerintah Rusia disambut Staf KBRI Moskow saat tiba di Moskow, Rusia, Minggu (27/10) lalu. (Foto: KBRI Moskow)

JAYAKARTA NEWS— Sebanyak 14 mahasiswa baru Indonesia asal Papua telah tiba di Rusia untuk belajar melalui program beasiswa Pemerintah Rusia. Kedatangan mereka disambut oleh KBRI Moskow dan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (Permira) di Moskow, Rusia.

Perjalanan panjang dari Papua ke Jakarta, dan selanjutnya ke Moskow tidak menyurutkan semangat para mahasiswa tersebut. Dari Moskow 11 mahasiswa di antaranya masih harus melanjutkan perjalanan ke kota atau perguruan tinggi masing-masing di luar kota Moskow.

Suhu udara dingin Rusia di awal musim dingin turut menyambut kedatangan mereka. Para mahasiswa ini akan belajar di berbagai kota dan perguruan tinggi di Rusia. Selain Moskow, di antara mereka ada yang belajar di Kaliningrad, Tula, St. Petersburg, Kazan, Orel, Voronezh, Volgograd, Petrozavodsk, Cherepovetsk, dan Tomsk di Siberia barat Rusia.

Jurusan yang diambil mereka beraneka ragam, baik program S1 maupun S2, seperti Teknik Lingkungan, Kimia, Hubungan Internasional, Ilmu Politik, Ilmu Pendidikan, Teologi, Psikologi, Museum dan Budaya, dan Antropologi.

Pada tahun pertama mereka akan memperdalam bahasa Rusia di fakultas persiapan sesuai dengan jurusan masing-masing. Sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan masing-masing, mereka singgah di KBRI Moskow dan bertemu dengan Wakil Kepala Perwakilan RI di Rusia merangkap Belarus, Azis Nurwahyudi.

Hadir juga para perwakilan Permira, antara lain Ferlito Arnold Sauw, mahasiswa jurusan Aircraft Engieering di Moscow Aviation Institute sebagai salah satu penanggung jawab kedatangan mahasiswa baru.

Resina Lokbere, salah satu mahasiswi yang akan belajar di Orel State University mengatakan sangat terkesan dengan sambutan KBRI Moskow dan juga mahasiswa Indonesia di Rusia. “Kami sangat berterima kasih karena kami disambut dengan ciri khas orang Indonesia, kekeluargaan,” kata Resine saat berada di KBRI Moskow.

Resina menyampaikan kegembiraannya bisa bertemu dengan para mahasiswa Indonesia di Rusia dan juga pihak KBRI Moskow yang telah membantu memfasilitasi kedatangan. Resina dan juga kawan-kawannya mengharapkan dukungan dan doa dari KBRI Moskow dan mahasiswa Indonesia di Rusia untuk proses belajar ke depannya selama di Rusia, termasuk dukungan jika mengalami kesulitan.

“Kami berharap untuk ke depannya tidak dibiarkan, tapi kami sudah jadi anak-anak dari keluarga besar KBRI atau keluarga besar Indonesia di Rusia,” ujar Resina.

Azis Nurwahyudi menyampaikan kegembiraan dan kebanggaan atas kedatangan mahasiswa Indonesia asal Papua ini di Rusia. Dalam pertemuan dengan para mahasiswa tersebut, Azis mengemukakan bahwa para mahasiswa ini adalah juga sebagai diplomat yang mempromosikan bangsa dan negara Indonesia di luar negeri, khususnya Rusia.

Lebih lanjut Azis berpesan agar mahasiswa Indonesia di Rusia senantiasa menjaga nama baik bangsa dan negara Indonesia, serta menjaga persatuan dan persaudaraan. Diharapkan pula agar para mahasiswa baru dapat segera beradaptasi dengan lingkungan baru dan berpesan agar memperhatikan belajar sebagai tugas dan tujuan utama.

“Kami berharap mahasiswa Indonesia dapat sukses belajar di Rusia dan suatu saat kembali ke Tanah Air turut membangun bangsa Indonesia, serta mempererat hubungan antara bangsa Indonesia dengan Rusia,” kata Azis.

Setiap tahun pemerintah Rusia memberikan 160 beasiswa kepada Warga Negara Indonesia untuk belajar di perguruan tingg Rusia baik program S1, S2, maupun S3. Jumlah mahasiswa Indonesia di Rusia terus meningkat setiap tahunnya.

Tahun ini sekitar 650 orang mahasiswa Indonesia termasuk mahasiswa baru belajar di Rusia yang tersebar di seluruh wilayah Rusia, mulai dari Kalingrad di bagian paling barat, Moskow, St. Petersburg, Irkutsk, hingga Khabarovsk dan Vladivostok di bagian paling timur Rusia. Mahasiswa baru dari berbagai daerah Indonesia yang merupakan penerima beasiswa pemerintah Rusia sudah berdatangan di Rusia secara bertahap sejak bulan September 2019. Sementara itu, masih terdapat juga sejumlah mahasiswa baru lainnya yang akan tiba di Rusia. KBRI Moskow dan Permira turut membantu kedatangan mahasiswa baru. ***setkab/ebn

Inilah Tarif Baru Iuran BPJS Kesehatan yang Berlaku per 1 Januari 2020

Ilustrasi BPJS Kesehatan–foto setkab go id

JAYAKARTA NEWS— Dengan pertimbangan untuk meningkatkan kualitas dan kesinambungan program jaminan kesehatan, pemerintah memandang perlu dilakukan penyesuaian beberapa ketentuan dalam Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan.

Atas pertimbangan tersebut, pada 24 Oktober 2019, Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan.

Perpres ini mengubah Pasal 29 sehingga menjadi berbunyi: 1) Iuran bagi Peserta PBI (Penerima Bantuan Iuran) Jaminan Kesehatan dan penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah Daerah yaitu sebesar Rp42.000,00 (empat puluh dua ribu rupiah) per orang per bulan. 2) Besaran Iuran sebagaimana dimaksud mulai berlaku pada tanggal 1 Agustus 2019.

Adapun iuran bagi Peserta PPU (Pekerja Penerima Upah) yang terdiri atas Pejabat Negara, pimpinan dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, PNS, Prajurit, Anggota Polri, kepala desa dan perangkat desa, dan Pekerja/pegawai sebagaimana dimaksud yaitu sebesar 5% (lima persen) dari Gaji atau Upah per bulan.

“Iuran sebagaimana dimaksud dibayar dengan ketentuan sebagai berikut: a. 4% (empat persen) dibayar oleh Pemberi Kerja; dan b. 1% (satu persen) dibayar oleh Peserta,” bunyi Pasal 30 ayat (2) Perpres No. 75/2019.

Kewajiban Pemberi Kerja dalam membayar Iuran sebagaimana dimaksud, menurut Perpres ini, dilaksanakan oleh: a. Pemerintah Pusat untuk Iuran bagi Pejabat Negara, PNS pusat, Prajurit, Anggota Polri, dan Pekerja/pegawai instansi pusat; dan b. Pemerintah Daerah untuk Iuran bagi kepala daerah dan wakil kepala daerah, pimpinan dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, PNS daerah, kepala desa dan perangkat desa ,dan Pekerja/pegawai instansi daerah.

“Iuran sebagaimana dimaksud dibayarkan secara langsung oleh Pemberi Kerja kepada BPJS Kesehatan melalui kas negara kecuali bagi kepala desa dan perangkat desa,” bunyi Pasal 30 ayat (4) Perpres ini.

Dijelaskan dalam Perpres ini, Gaji atau Upah yang digunakan sebagai dasar perhitungan Iuran bagi Peserta PPU untuk Pejabat Negara, pimpinan dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, PNS, Prajurit, atau Anggota Polri sebagaimana dimaksud terdiri atas Gaji atau Upah pokok, tunjangan keluarga, tunjangan jabatan atau tunjangan umum, tunjangan profesi, dan tunjangan kinerja atau tambahan penghasilan bagi PNS daerah.

 Sementara Gaji atau Upah yang digunakan sebagai dasar perhitungan Iuran bagi Peserta PPU untuk kepala desa dan perangkat desa serta Pekerja/pegawai sebagaimana dimaksud dihitung berdasarkan penghasilan tetap.

“Gaji atau Upah yang digunakan sebagai dasar perhitungan Iuran bagi Peserta PPU selain Peserta sebagaimana dimaksud terdiri atas Gaji atau Upah pokok dan tunjangan tetap, yang merupakan tunjangan yang dibayarkan kepada Pekerja tanpa memperhitungkan kehadiran Pekerja,” bunyi Pasal 33 ayat (3,4) Perpres ini.

Ketentuan mengenai komposisi persentase, batas paling tinggi Gaji atau Upah per bulan, dan dasar perhitungan Iuran bagi Peserta PPU untuk Pejabat Negara, PNS pusat, Prajurit, Anggota Polri sebagaimana dimaksud, dan Pekerja/pegawai sebagaimana dimaksud pada instansi pusat, menurut Perpres ini, mulai berlaku pada tanggal 1 Oktober 2019.

Sementara ketentuan mengenai: a. komposisi persentase, batas paling tinggi Gaji atau Upah per bulan, dan dasar perhitungan Iuran bagi Peserta PPU untuk kepala daerah dan wakil kepala daerah, pimpinan dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, PNS daerah, kepala desa dan perangkat desa sebagaimana dimaksud, dan Pekerja/pegawai pada instansi daerah; dan b. batas paling tinggi Gaji atau Upah per bulan bagi Peserta PPU untuk pegawai swasta sebagaimana dimaksud mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2020.

Peserta Bukan Penerima Upah

Menurut Perpres ini, Iuran bagi Peserta PBPU (Peserta Bukan Penerima Upah) dan Peserta BP (Bukan Pekerja) yaitu sebesar: a. Rp42.000,00 (empat puluh dua ribu rupiah) per orang per bulan dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas III; b. Rp110.000,00 (seratus sepuluh ribu rupiah) per orang per bulan dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas II; atau c. Rp160.000,00 (seratus enam puluh ribu rupiah) per orang per bulan dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas I.

“Besaran Iuran sebagaimana dimaksud mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2020,” bunyi Pasal 34 ayat (2) Perpres ini. Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan, yaitu pada 24 Oktober 2019, oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly. ***pusdatin/setkab/ebn


Tiru NTB, Pembangunan Rumah Korban Gempa Maluku Agar Segera Dilakukan

Presiden Joko Widodo menjawab wartawan seusai mengunjungi korban terdampak gempa Maluku di Universitas Darussalam Maluku Tengah, Selasa (29/10/2019) — foto setkab

JAYAKARTA NEWS— Pembangunan rumah tahan gempa untuk korban terdampak gempa di Nusa Tenggara Barat hampir selesai. Cepatnya pengerjaan pembangunan rumah-rumah anti gempa itu selain karena dukungan dari pemerintah pusat juga karena pemerintah daerah yang didukung intansi-instansi terkait melakukan gerak cepat pemulihan pemukiman masyarakat.

Presiden Joko Widodo berharap hal yang sama juga dilaksanakan di Ambon, Maluku. Pembangunan kembali rumah warga terdampak gempa agar bisa segera dikerjakan oleh masyarakat karena sistemnya memang nanti swakelola, sebagaimana dilakukan pemeritah di Nusa Tenggara Barat (NTB).

”Yang jelas konstruksinya akan diarahkan oleh Kementerian PU konstruksi yang tahan gempa, ya,” ujarnya.

Menurut Jokowi,, dirinya  sudah mendapatkan laporan komplet dari Gubernur Maluku, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengenai jumlah rumah dan fasilitas umum yang rusak yang akibat gempa di provinsi Maluku.

“Kurang lebih 12.300an rumah yang rusak dan rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan, ini yang telah teridentifikasi,” kata Presiden Jokowi kepada wartawan usai berdialog dengan pengungsi warga terdampak gempa di Provinsi Maluku, Universitas Darussalam, Maluku Tengah, Selasa (29/10) pagi.

Mengenai transfer dana bantuan bagi warga terdampak gempa, Presiden Jokowi meyakinkan akan segera dilakukan. Namun seperti yang dilakukan pemerintah di NTB, Presiden Jokowi mengingatkan tahapan-tahapannya. “Memang tidak mudah dalam pengerjaan di lapangan tetapi model seperti di Nusa Tenggara Barat saya kira bisa kita pakai di sini,” pungkasnya. ***setkab/ebn

Kunjungi Korban Gempa Ambon, Jokowi: Yang Rusak Berat Dibantu Rp50 Juta

Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana mengunjungi pengungsi terdampak gempa Maluku di Ambon, Selasa (29/10/2019)—foto humas setkab

JAYAKARTA NEWS— Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, pemerintah akan memberikan bantuan kepada masyarakat korban gempa di Maluku, yang rumahnya rusak berat, rusak sedang maupun rusak ringan.

“Nanti yang rusak berat akan dibantu Rp50 juta, yang rusak sedang Rp25 juta, yang rusak ringan hanya retak dikit-dikit Rp10 juta,” kata Presien Jokowi saat berdialog dengan pengungsi warga terdampak gempa di Provinsi Maluku, Universitas Darussalam, Maluku Tengah, Selasa (29/10) pagi.

Tampak mendampingi Presiden Jokowi dalam kesempatan itu antara lain Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Kepala BNPB Doni Monardo, dan Gubernur Maluku Murad Ismail.

Menurut Presiden, besaran bantuan yang diberikan pemerintah itu sama dengan yang di daerah lain, seperti Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Palu (Sulawesi Tengah).

“Kalau ditanya cukup atau tidak cukup, ini terserah bapak-ibu semuanya. Yang penting yang kita lihat di NTB, di Palu dengan anggaran yang ada, ini rumah saya lihat di NTB itu sudah hampir selesai,” terang Presiden Jokowi.

Karena anggarannya dari Pemerintah Pusat, Presiden meminta nanti Pak camat, Pak lurah untuk ikut memantau dan mengawasi. “Karena nanti anggaran itu akan langsung diberikan kepada masyarakat yang terkena dampak gempa,” ungkapnya.

Presiden Jokowi juga minta supaya diinformasikan ke masyarakat, pembangunan rumah-rumah yang ada adalah rumah-rumah yang tahan gempa. Konstruksinya nanti akan diarahkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Tunggu Gempa Reda Sesuai laporan Gubernur Maluku dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencaa (BNPB), menurut Presiden, ada kurang lebih 12.000 lebih rumah yang rusak berat, rumah yang rusak ringan, rumah yang rusaknya sedang. 2.000, 3.000, 6.000. 2.000 yang berat, 3000-an yang sedang. 6000-an yang ringan.

Presiden menjelaskan, sebetulnya dari sisi keuangan anggarannya sudah ada, uangnya sudah ada, tapi perlu prosedur. Yang pertama. “Yang kedua, kita juga sedikit menunggu agar gempanya itu reda. Ya,” terang Presiden Jokowi.

Kepala Negara berharap gempa yang kecil-kecil itu cepat hilang sehingga pembangunan rumah itu bisa dikerjakan oleh masyarakat yang nanti dikoordinasi oleh pemerintah.

Sebelumnya Presiden Jokowi menyampaikan, bahwa negara kita Indonesia ini adalah negara yang berada di kawasan cincin api.  Artinya,  yang namanya tsunami, yang namanya gempa itu berada di lingkungan kita. Tidak hanya di Maluku Tengah, tidak hanya di Maluku tapi dari sejarah yang ada kita tahu di Aceh pernah, di Padang pernah, di Bengkulu pernah, di Lampung pernah, di Banten pernah, di Jogja pernah.

“Kita memang tidak ingin dan selalu memohon kepada Allah SWT agar kita selalu dihindarkan dari yang namanya Gempa dan Tsunami. Tetapi kalau memang Allah sudah berkehendak, ya kita harus menerima dan siap,” tutur Kepala Negara. ***setkab/ebn

Insyaallah, 2045 Indonesia Menjadi Negara Maju

Ilustrasi–sumber foto jamilazzaini.com

JAYAKARTA NEWS— Presiden RI terpilih periode 2019-2024, Joko Widodo, optimistis mimpi dan cita-cita bangsa ini menjadi bangsa yang besar pada tahun 2045, yakni saat Indonesia menginjak usia satu abad, dapat terwujud dan tercapai.

Hal tersebut Kepala Negara sampaikan saat memberikan pidato pertamanya usai dilantik sebagai Presiden RI dalam acara pelantikan yang berlangsung di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10/2019).

“Mimpi kita, cita-cita kita di tahun 2045, pada satu abad Indonesia merdeka, mestinya, Insyaallah, Indonesia telah keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah. Indonesia telah menjadi negara maju dengan pendapatan, menurut hitung-hitungan, Rp320 juta per kapita per tahun atau Rp27 juta per kapita per bulan. Itulah target kita. Target kita bersama,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Presiden, mimpi lain pada tahun 2045 adalah Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai USD7 triliun dan sudah masuk negara lima besar ekonomi dunia dengan kemiskinan mendekati nol persen.

“Kita harus menuju ke sana. Kita sudah hitung, sudah kalkulasi, target tersebut sangat masuk akal dan sangat memungkinkan untuk kita capai. Namun, semua itu tidak datang otomatis, tidak datang dengan mudah. Harus disertai kerja keras, dan kita harus kerja cepat, harus disertai kerja-kerja bangsa kita yang produktif,” ujarnya.

Untuk mencapai itu, maka salah satu syarat yang disebut Presiden adalah dengan berinovasi, yakni terus mengembangkan cara-cara baru dan nilai-nilai baru, sehingga tidak terjebak dalam rutinitas yang monoton.

“Sekali lagi, mendobrak rutinitas adalah satu hal. Meningkatkan produktivitas adalah hal lain yang menjadi prioritas. Jangan lagi kerja kita berorientasi proses, tapi harus berorientasi pada hasil-hasil yang nyata. Saya sering ingatkan ke para menteri, tugas kita bukan hanya membuat dan melaksanakan kebijakan, tetapi tugas kita adalah membuat masyarakat menikmati pelayanan, menikmati hasil pembangunan,” tegasnya.

Seringkali, menurutnya, birokrasi melaporkan bahwa program sudah dijalankan, anggaran telah dibelanjakan, dan laporan akuntabilitas telah selesai.

“Kalau ditanya, jawabnya ‘Program sudah terlaksana Pak’. Tetapi, setelah dicek di lapangan, setelah saya tanya ke rakyat, ternyata masyarakat belum menerima manfaat. Ternyata rakyat belum merasakan hasilnya. Sekali lagi, yang utama itu bukan prosesnya, yang utama itu hasilnya,” kata Presiden sekali lagi menegaskan.

Pada kesempatan tersebut ia pun menganalogikan tugas Pemerintah berorientasi hasil tersebut seperti mengirimkan pesan dalam aplikasi berbagi pesan.

“Seperti lihat saja ketika kita mengirim pesan melalui SMS atau WA. Ada sent, artinya telah terkirim. Ada delivered, artinya telah diterima. Tugas kita itu menjamin delivered, bukan hanya menjamin sent. Saya tidak mau birokrasi pekerjaannya hanya sending-sending saja. Saya minta dan akan saya paksa bahwa tugas birokrasi adalah making delivered. Tugas birokrasi itu menjamin agar manfaat program dirasakan oleh masyarakat,” tandasnya. ***jpp/ebn

Presiden Jokowi: Tak Ada Ampun bagi Menteri dan Pejabat yang tak Serius, Saya Copot!

Presiden Joko Widodo–foto instagram jokowi

JAYAKARTA NEWS Presiden Joko Widodo meyakini bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah dengan sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Oleh karena itulah Presiden menyebut lima hal besar yang harus dilakukan pemerintahannya lima tahun mendatang.

Potensi Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah sangat besar. Pasalnya saat ini, Presiden Jokowi menegaskan, Indonesia sedang berada di puncak bonus demografi, di mana penduduk usia produktif jauh lebih tinggi dibandingkan usia tidak produktif.

“Ini adalah tantangan besar dan sekaligus juga sebuah kesempatan besar. Ini menjadi masalah besar jika kita tidak mampu menyediakan kesempatan kerja. Tapi akan menjadi kesempatan besar jika kita mampu membangun SDM yang unggul. Dengan didukung oleh ekosistem politik yang kondusif dan dengan ekosistem ekonomi yang kondusif,” papar Presiden Jokowi dalam pidatonya di Paripurna MPR RI dengan agenda Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2019-2024, yang berlangsung di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10/2019).

picture create: jpp.go.id

Lantaran itulah, Presiden Jokowi mengatakan, untuk mencapainya, dalam lima tahun ke depan pemerintah akan melakukan sejumlah hal. Pada kesempatan itu, Presiden menyebut lima hal besar yang akan dilakukan.  

“Pertama, pembangunan SDM akan menjadi prioritas utama kita. Membangun SDM yang pekerja keras, yang dinamis. Membangun SDM yang terampil, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Mengundang talenta-talenta global bekerja sama dengan kita,” tuturnya.

Itu semua, Presiden mengingatkan, tidak bisa diraih dengan cara-cara lama, cara-cara baru harus dikembangkan. “Kita perlu endowment fund yang besar untuk manajemen SDM kita,” katanya.

Presiden mengingatkan, kerja sama dengan industri juga penting dioptimalkan. Dan juga, sambung dia, penggunaan teknologi yang mempermudah jangkauan ke seluruh pelosok negeri.

Hal kedua, Jokowi mengatakan, melanjutkan pembangunan infrastruktur. “Infrastruktur yang menghubungkan kawasan produksi dengan kawasan distribusi, yang mempermudah akses ke kawasan wisata, yang mendongkrak lapangan kerja baru, yang mengakselerasi nilai tambah perekonomian rakyat,” katanya.

Ketiga, Presiden Jokowi menegaskan akan menyederhanakan segala bentuk kendala regulasi. “Harus kita potong, harus kita pangkas,” tandasnya.

Terkait itu, Presiden menyampaikan, pemerintah akan mengajak DPR untuk menerbitkan 2 undang-undang besar. Yakni, kata dia, UU Cipta Lapangan Kerja dan UU Pemberdayaan UMKM.

“Masing-masing UU tersebut akan menjadi Omnibus law, yaitu satu UU yang sekaligus merevisi beberapa UU, bahkan puluhan UU. Puluhan UU yang menghambat penciptaan lapangan kerja langsung direvisi sekaligus. Puluhan UU yang menghambat pengembangan UMKM juga akan langsung direvisi,” tegasnya.

Hal keempat, menurut Presiden, adalah penyederhanaan birokrasi yang akan terus dilakukan secara besar-besaran. Dia mengingatkan, investasi untuk penciptaan lapangan kerja harus diprioritaskan.

“Prosedur yang panjang harus dipotong. Birokrasi yang panjang harus kita pangkas. Eselonisasi harus disederhanakan. Eselon I, eselon II, eselon III, eselon IV, apa tidak kebanyakan? Saya minta untuk disederhanakan menjadi 2 level saja, diganti dengan jabatan fungsional yang menghargai keahlian, menghargai kompetensi,” ujarnya.

Seiring itu, Presiden juga menyampaikan permintaan kepada para menteri, para pejabat dan birokrat, agar serius menjamin tercapainya tujuan program pembangunan. “Bagi yang tidak serius, saya tidak akan memberi ampun. Saya pastikan, pasti saya copot,” tegasnya.

Pada akhirnya, yang kelima, Presiden mengatakan, akan melakukan transformasi ekonomi. “Kita harus bertransformasi dari ketergantungan pada sumber daya alam menjadi daya saing manufaktur dan jasa modern yang mempunyai nilai tambah tinggi bagi kemakmuran bangsa demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” katanya.

Tampak hadir pula dalam acara pelantikan tersebut, para kepala negara dan kepala pemerintahan dari sejumlah negara sahabat. Di antaranya, dari Australia, Malaysia, Myanmar, RRC, Singapura, Kamboja, Vietnam, Brunei Dariussalam, dan Eswatini. ***jpp/ebn

Presiden Diminta Punya Kebijakan yang Jelas Dalam Lindungi Hutan Kita

Koalisi Golongan Hutan–foto fien

JAYAKARTA NEWS— Presiden seyogyanya bisa tanpa beban menyatakan perlindungan total hutan alam tersisa dan menghukum para perusak hutan. Harapan tersebut disampaikan oleh Koalisai Golongan Hutan saat konferensi pers Jumat 18 Oktober 2019 di Jakarta.

Koalisi Golongan Hutan menghadirkan pihak-pihak yang juga menuntut komitmen pemerintah terhadap perlindungan hutan alam juga seperti Walhi, Green Peace Indonesia, Yayasan Madani Berkelanjutan dan Kemitraan (Partnership for Governance Reform).

Edo Rakhman dari Koalisi Golongan Hutan menyebut jika Presiden Joko Widodo terus membiarkan pembukaan hutan alam dan gambut maka ia menjadi penerus rezim kebakaran hutan dan mencederai kehidupan jutaan rakyat Indonesia.

Untuk lebih mengajak kepedulian masyarakat terhadap hutan Indonesia Koali Golongan Hutan sejak September 2019 mengajak masyarakat luas mengisi petisi di laman change.org yang berjudul ‘Minta Presiden Berjanji Untuk Menjaga Hutan Kita di Pidato Pelantikannya.

“Hingga saat ini petisi telah didukung 32.800. Kami ingin Presiden punya kebijakan dan komitmen yang sungguh-sungguh. Sampai saat ini dampak kebakaran hutan dan lahan masih dirasakan masyarakat. Dan kebakaran hutan ini tidak bisa diatasi pemerintah,” beber Edo Rakhman.

Sementara Direktur Eksekutif Nasional Walhi Nur Hidayati menyatakan pelantikan Presiden-Wakil Presiden 2019-2024 menjadi tidak krusial bagi pemerintahan ke depan untuk menjalankan komitmen politiknya dalam memastikan agenda penyelematan hutan.

Nur Hidayati mengharapkan seharusnya Presiden ke depan mendengarkan suara rakyat dan tidak tersandera dengan kepentingan lain yang justru akan semakin menghancurkan hutan dan ruang hidup rakyat. 

“Presiden Joko Widodo harus melindungi hutan yang tersisa dan hak 59-70 juta jiwa masyarakat lokal dan atau masyarakat adat yang hidup di hutan. Presiden juga membuka ruang demokrasi seluas-luasnya bagi masyarakat sipil ahar rakyat dapat mengambil peran dalam menyelamatkan hutan Indonesia,” tutur Nur Hidayati.

Pemerintah hingga saat ini juga dinilai Leo Simanjuntak Kepala Greenpeace Indonesia lemah dalam penegakan hukum terhadap oknum pengrusakan hutan. Pemerintah juga tidak menerapkan sanksi dengan pembayaran denda sehingga tidak menimbulkan efek jera.

“Ini berkaitan dengan aktor ekonomi di balik korporasi. Ada kepentingan yang bekerja yang menghalangi penegakan hukum. Tolong babak baru ini pemerintah memihak kepada rakyat, tidak ragu hukum pihak yangg merusak hutan Indonesia. Kita harus tagih janji penurunan kebakaran hutan. Karena penurunan kebakaran hutan ternyata hanya semu.  Perbaikan struktural juga tidak terjadi.  Sementara korporasi lebih memilih membakar untuk membersihkan lahan,” ujar Leo.

Oleh karena itu Leo menuntut agar pemerintah membuka data pemilik izin konsesi dan petanya agar semua warga negara dapat melakukan pengawasan bersama. “Greenpeace akan menagih janji-janji presiden yang lalu dan mendatang termasuk penyelesaian masalah kebakaran hutan,” ujarnya.***fien

Bamsoet Minta Mahasiswa Jaga Kekhidmatan Pelantikan Presiden

Ketua MPR Bambang Soesatyo–foto instagram bambangsoesatyo

JAYAKARTA NEWS— MPR sangat berkepentingan agar acara Pelantikan Presiden RI 2019-2024  berlangsung dengan khidmat tanpa gangguan apapun. “Makanya kami imbau kepada adik mahasiswa pada seluruh rakyat Indonesia untuk menjaga kekhidmatan. Karena suksesnya ini, suksesnya acara pelantikan presiden akan memberi pesan positif bagi dunia internasional,” kata Ketua MPR Bambang Soesatyo kepada pers di Istana Merdeka, Rabu (16/10/2019).

“Jadi message-nya jelas, kami di MPR ingin acara ini berlangsung dengan khidmat dan agung sebagaimana disampaikan oleh Bapak Presiden,” sambung Bamsoet. Pimpinan MPR RI yang diterima Presiden Jokowi itu adalah Bambang Soesatyo, Ahmad Basarah, Ahmad Muzani, Lestari Moerdijat, Jazilul Fawaid, Hidayat Nurwahid, Sjarif Hasan, Zulkifli Hasan, Asrul Sani, dan Fadel Muhammad. Pelantikan Presiden RI 2019-2024 akan dihadiri oleh hampir seluruh pemimpin negara ASEAN, termasuk PM Australia, Wakil PM China, dan beberapa pemimpin negara sahabat.***/setkab/ebn