Bedog Arts Festival #11 Sajikan Pertunjukan Virtual Sinematis

 Bedog Arts Festival #11 Sajikan Pertunjukan Virtual Sinematis

JAYAKARTA NEWS – Konsep baru yang diusung Bedog Arts Festival (BAF) #11 “MEMAYU SEMESTA” di tahun ini sedikit berbeda. Hantaman pandemik yang merajai seluruh permukaan bumi, tidak membuat para penyelenggara putus asa lalu memutuskan berhenti.

Satu tahun Bedog Arts Festival mengambil nafas dan memberi waktu untuk berpikir teknik baru dalam menyajikan karya seni di dunia yang menyajikan konsep baru NEW NORMAL. Hal tersebut dipikirkan dengan matang oleh Direktur BAF, dan beberapa kurator, hingga mendapatkan tema “MEMAYU SEMESTA” dengan konsep “Garap Pertunjukan Virtual Sinematis”.

Garap pertunjukan virtual sinematis adalah konsep yang mengusung garap penyutradaraan dalam pertunjukan, bukan sekadar memindahkan pertunjukan ke dalam video. Garap pertunjukan virtual sinematis merupakan hybrid dari seni pertunjukan, & sinematografi.

Aspek sinematografi dalam konteks ini sejajar dengan aspek seni pertunjukannya, keduanya saling memberikan kekuatan untuk melahirkan suatu pendekatan media baru dalam seni pertunjukan virtual di era sekarang. Istilah tersebut digunakan oleh Direktur BAF untuk mencoba membedakan dengan kecenderungan pertunjukan virtual seperti umumnya, yang kurang memperhatikan aspek sinematografinya.

Kecenderungan pertunjukan virtual selama ini memiliki arti seni pertunjukan yang dipentaskan di atas panggung, atau dimana pun, tetapi lebih mengunakan teknik pemanggungan seni pentas. Sedangkan garap pertunjukan sinematis ini berbeda, antara lain karena mengunakan teknis tata cahaya sinematografis yang sesunguhnya berbeda dari tata teknis pencahayaan panggung.

Dalam konteks garap pertunjukan virtual sinematografis, kita perlu mencoba mengembangkan ekosistem tari virtual kedalam ekosistem tari media baru yang sangat luas termasuk pengabungan seni pertunjukan dengan dunia film.

Bedog Arts Festival #11 tetap mempertimbangkan struktur dramaturgi, yang didasari oleh tema “Memayu Semesta”, maka klimaks yang disuguhkan adalah karya Tirta Nopa (Suara Tari Production) yang mengungkapkan filosofi keseimbangan dalam kehidupan dengan simbul jembatan dari bambu. Memayu Semesta itu sesungguhnya berkaitan dengan bagaimana mengelola keseimbangan, hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan Tuhan, relasi ini perlu seimbang untuk menjaga semesta.

Sedangkan garap sinematis tersebut dipimpin oleh seorang sutradara film lulusan IKJ, Indra Tirtana yang berperan sebagai direktur visual, yang menyutradarai ketersambungan antara penampil satu dengan yang lainnya, yang membuat festival virtual ini berbeda dari festival lain. Pengarapan angle pengambilan gambar, garap visual, garap tata cahaya, dan editing yang sinematis, membuat Bedog Arts Fetival #11 istimewa. Demikian siaran pers bagian Publikasi BAF #11, Richa Amalia Putri. (PR)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *