Baju Organik untuk Bayi Tersayang

 Baju Organik untuk Bayi Tersayang

 

Baju-baju bayi organik Imochi.

ORIENTASI masyarakat  yang konsisten terhadap produk organik tidak hanya pada makanan, namun barang apapun yang organik kini menjadi pilihan. Ini tidak hanya terkait dengan  kesehatan dan rasa aman, melainkan  juga tuntutan  gaya hidup  modern  yang lebih mendekatkan pada alam, back to nature.

Batik dan pelbagai tenun Indonesia misalnya, sangat dikenal ramah lingkungan. Proses produksi dari hulu hingga hilir memenuhi/ sesuai harapan kebijakan global tentang pembangunan berkelanjutan. Karena itu untuk yang lebih urgen, yakni baju-baju bayi dengan bahan-bahan yang seluruhnya  organik, sekarang banyak digemari kaum ibu, terutama kalangan menengah atas.Beberapa alasan itulah yang menjadi tekad Maureen Yunizar membuka usaha baju organik untuk bayi.

Antusias ibu-ibu, apalagi mereka yang baru berstatus ibu, tentulah akan memilih yang terbaik bagi buah hatinya.  “Kebanyakan memang kalangan menengah atas yang menyukai baju-baju organik ini,“ kata Maureen Yunizar (38), wirausaha muda yang memproduksi baju-baju bayi organik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor..

Menurut Maureen yang memulai usaha baju-baju organik untuk bayi sejak 2009 ini, semua unsur produknya menggunakan bahan alami.“Mulai dari kapasnya menggunakan bahan alami, sampai pada proses pewarnaan bahan hingga jadi produk tidak menggunakan bahan kimia yang berbahaya,“  urai Maureen yang memberi brand produknya Imochi Baby

Mencari bahan baku organik ini diakuinya tidak mudah karena harus mengikuti standar internasional bahwa produk tersebut 100 persen certified organic cotton. Sertifikat organiknya dikeluarkan oleh global organic textile standard (GOTS).

Baju-baju bayi yang organik dibuat dengan mengutamakan kesehatan, karena kulit bayi masih sensitif,apalagi yang memiliki alergi kulit. Bahkan tag/label tidak ditaruh di dalam karena khawatir membuat iritasi kulit bayi.  Kalau dari segi desain, bisa dikatakan biasa-biasa saja. Karena baju bayi organik ini  lebih mengutamakan  kenyamanan. Jadi bukan pada desain yang umumnya  mengesankan lucu. Jenis yang diproduksi pun standar seperti baju lengan panjang dan lengan pendek,celana panjang dan celana pendek, dan lainnya untuk bayi baru lahir hingga usia 3 tahun.

Ketertarikan Maureen pada baju-baju bayi organik berawal ketika dia bepergian ke negeri Cina. Di sana ia menjumpai selain banyak bahan-bahan murah yang tidak ramah lingkungan, ada pula dijual bahan organik. Khusus bahan organik, tentunya dapat membuat peluang  usaha, begitu pikirnya saat itu. Apalagi untuk bayi, sebaiknya memang diberikan baju-baju berbahan organik. Kalau hanya baju-baju bayi dan bukan organik, sudah banyak  pesaingnya, pikirnya pula

Ia pun memiliki gambaran akan pangsa pasar yang disasar. “Harganya masih  relatif terjangkau dibanding produk impor yang sama-sama organik,“ tambah Maureen.

Kini usahanya yang berpusat di wilayah Tanah Abang Jakarta Pusat mengalami pertumbuhan walau diakuinya masih ada kendala, terutama ketergantungan bahan baku. Bahan baku kapas organik yang digunakan untuk kain katun semuanya masih Impor  karena  belum adanya supply kapas organik di dalam negeri. Selanjutnya proses pemintalan, dan seterusnya sampai menjadi baju jadi semuanya dikerjakan di dalam negeri.

Ketergantungan pada bahan baku impor merupakan salah satu kendala, lebih-lebih yang organik harus benar-benar didapatkan dari perusahaan yang memiliki sertifikat internasional. Fluktuasi harga bahan baku pun menggunakan USD. Ini berpengaruh terhadap permintan pasar, yang  terus meningkat. “Poduk kami harganya terjangkau namun dengan kualitas yang sangat baik,“ ujarnya berpromosi, “

Baju bayi organik buatannya dapat ditemukan di beberapa toko di Jakarta, Bandung, Malang, Batam, Makassar, dll. Pasar ekspor baru ke Singapura dan Australia. Selain itu produk ini dijual pula secara online. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *