AUTOBIOGRAPHY – Jejak Militerisme Penuh Kekejaman

 AUTOBIOGRAPHY – Jejak Militerisme Penuh Kekejaman

Sutradara dan seluruh pemain Autobiography. (foto ipik)

JAYAKARTA NEWS – Film ‘Autobiograph produksi Kawankawan Media ini mempersembahkan masalah kekejaman dan kekejian yang struktural, turun temurun. Hubungan kekuasaan yang brutal dan sadis masih menghinggapi otak seorang pensiunan jenderal yang purnatugas.

“Jejak militerisme pasca Orde Baru masih punya power yang cukup kuat. Primus itu yang saya kemukakan dalam film cerita perdana ini,” kata Makbul Mubarak, sutradara Autobiography, kepada penulis  baru-baru ini. Nilai-nilai kekuasaan yang sudah bobrok dan usang yang sudah dihapus pasca reformasi ternyata hendak dibangkitkan kembali lewat bedil dan kebohongan internal.

Bercerita tentang sosok Rakib (diperankan secara cemerlang oleh Kevin Ardilova) yang bekerja di sebuah rumah kosong milik Purna, Jenderal tua purnatugas (Arswendy Bening Swara).  Rakib melanjutkan titah ayahnya (yang dipenjara) dan keluarganya yang telah mengabdi secara turun temurun.

Dengan pemikiran yang otorian, Purna kembali ke desanya untuk memulai kampanye bupati. Rakib terikat dengan lelaki tua itu yang menjadi mentor dekat dari figur ayahnya. Boleh dikata Rakib adalah asisten spesial dalam pekerjaan dan kehidupan Purna.

Lewat kekejian yang sangat kotor, rantai kekerasan yang panjang mulai meningkat.

“Ini tafsir saya selaku generasi baru atas riwayat panjang kekuasaan yang dibangun lewat kekerasan di republik ini. Ironisnya, Rakib di ujung cerita juga berlaku balas dendam, meneruskan pembunuhan sampai mati kepada boss nya, Jenderal Purna. Rakib menuntut balas atas kematian sahabatnya, Agus, yang ditembak mati di rumah kosong itu,” lontar Makbul Mubarak.

“Kib, tembak mati saya dari depan. Bukan dari belakang,”  teriak Purna yang mengajarkan cara menembak dengan senapan kepada Rakib.

Kebohongan dan kebengisan lain mencuat tatkala Purna diam-diam mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga Agus yang dihabisi oleh dirinya. Adegan penuh kepura-puraan, kesantunan dan kekejian ini sukses ditampilkan Arswendy Bening Swara dengan apik. Tanpa dialog berpanjang-panjang, hanya gesture dan improvisasi yang memukau dari Arswendy pas dan berhasil membetot nurani penonton.

Tanpa penerangan listrikdan hanya genset yang dihidupkan, syuting film dikhususkan di sebuah desa terpencil dari kota di Jawa Timur selama 43 hari. Dari lohor ke menjelang magrib, para pelakon benar-benar memerankan tokoh-tokohnya di panas udara yang menyengat.

“Saya menginginkan keringat yang riil di terik matahari. Biar tubuh bermain dengan sendirinya,” pesan Makbul Mubarak polos, berfalsafah.

Selain Kevin Ardilova dan Arswendy Bening Swara, film ini juga disesaki sederet pemain berbakat yang seluruhnya lelaki, seperti Lukman Sardi, Yusuf Mahardika, Rukman Rosadi, Yudi Ahmad Tajudin, Haru Sandra dan Gunawan Maryanto (almarhum).

Sebuah film yang patut direnungkan ini melibatkan tujuh negara (Polandia, Perancis, Singapura, Jerman  Qatar, Filipina dan Indonesia) yang berkolaborasi dalam hal pendanaan, dan juga di ranah artistik. Beberapa kru  berasal dari luar Indonesia, diantaranya pengarah sinematografi Wojciech Staoh dari Polandia, penyunting film Carlo Franclsco Manatad asal Filipina dan penyunting suara Remy Couze dari Perancis.

Setelah beberapa penghargaan digaet lewat Festival Film di Venice Toronto,,Taipei, Maroko, Stockholm, JAFF Netpac dan beberapa penghargaan lain dari dalam negeri seperti FFI dan FF Tempo, akhirnya Autobiography bisa diputar di negaranya sendiri, Indonesia.

Tabik ! (pik)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.